SELAMAT DATANG DIBLOG BEJOSENTOSO

Loading...

Rabu, 23 November 2011

koleksi bunga




























Jika seorang manusia sudah memiliki dua lembah yang penuh berisi dengan harta, maka pasti ia akan menemukan lembah yang ketiga. Dan tidak akan pernah manusia merasa kenyang hingga tanah sudah kena pada perutnya. " - Al-Hadits - Dalam kehidupan di era teknologi digital yang serba canggih dewasa ini, kecenderungan yang merasuki banyak manusia adalah hidup mengejar kesuksessan dalam karier, hidup dan bisnis setinggi-tingginya . Menjadi sukses dalam karier, hidup dan bisnis telah menjadi tujuan utama banyak manusia, apapun paradigma kesuksesan itu baginya. Kebanyakan manusia - apa pun suku bangsa, posisi, jabatan, maupun agamanya-menempatkan ukuran kesuksesan hidupnya melalui ukuran penguasaan materi atau harta benda. Keinginan kuat setiap individu untuk menjadi sukses dan berhasil meraih kekayaan materi atau harta adalah sesuatu yang penting. Begitu pentingnya memiliki kekayaan harta atau materi ini, maka Imam Al-Ghazali mengibaratkan, "orang yang mencari kebaikan tanpa harta ibarat orang pergi ke hutan tanpa membawa senjata atau ibarat burung elang tak bersayap". Karena materi merupakan sarana penting dalam mencapai berbagai tujuan kebaikan. Materi ini memiliki peranan penting pula dalam upaya manusia meningkatkan kualitas hidup maupun dalam upaya manusia meningkatkan amalan ibadahnya. Yang menjadi masalah adalah, begitu sibuknya manusia mengejar kekekayaan materi duniawi ini, seringkali menjadikan mereka melupakan hakekat kehidupan dan hakekat kekayaan sejati yang abadi. Mereka menempatkan pusat orientasi hidupnya pada kesuksesan penguasaan materi, bahkan sampai mendewakan materi. Mereka mengejar keberhasilan materi dengan tidak memperdulikan hukum alam dan cenderung memutarbalikan hukum alam. Kecenderungan seperti inilah yang salah dan harus diluruskan kembali. Manusia yang hanya menempatkan orientasi hidup pada nilai-nilai duniawi semata, mereka akan menjadi manusia yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang dikuasainya. Mereka ingin menambah dan menambah terus. Ini sama halnya dengan jabatan atau kekuasaan yang telah mereka dapatkan. Ketika mereka memiliki kekuasaan atau jabatan maka cenderung selalu ingin dipertahankan, meskipun, misalnya, sudah tidak memiliki kemampuan melaksanakannya atau sudah terlalu banyak kesalahan yang pernah dilakukannya. Lantas bagaimana agar kita tidak terjebak dalam jeratan orientasi salah dalam hidup yang hanya berbasis pada materi duniawi? Bagaimana kita menyikapi kehidupan yang penuh persaingan tanpa terjebak dalam kesalahan paradigma tentang kekayaan materi? Berikut ini beberapa tips yang dapat membantu kita agar tidak tergelincir dalam kesalahan melawan aturan hukum alam. 1. Hakekat Hidup Sejati Begitu sibuknya manusia modern mengejar kekayaan materi duniawi seringkali salah dalam memahami hakekat hidup sejati. Ada hukum alam yang mengatur tentang hakekat "hidup sejati" dengan "akibat yang diterima" dari hidup sejati. Apa itu hakekat hidup sejati dan akibat yang diterima dari kehidupan? Hidup sejati adalah inti, yang seharusnya dikerjar lebih dulu oleh manusia. Sedangkan akibat yang diterima adalah hasil yang akan datang dengan sendirinya. Ilustrasi sederhananya adalah, kalau Anda seorang karyawan maka berusahalah menjadi "karyawan sejati" yang menjunjung tinggi profesionalisme dan nilai-nilai spiritual kebenaran lebih dulu. Kekayaan uang atau materi adalah "akibat" dari hasil menjadi karyawan sejati. Kalau Anda menjalankan usaha, maka berusahalah menjadi pengusaha sejati yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran lebih dulu. Sedangkan profit atau keuntungan materi berlimpah adalah akibat yang akan didapatkan dengan menjadi pengusaha sejati. Demikian juga dengan profesi lainnya. Dahulukan menjalani hakekat hidup sejati. Janganlah lebih dulu mengejar kekayaan uang, lebih dulu menginginkan gaji yang tinggi, tanpa berusaha menjalani hidup sejati. Ini namanya memutarbalikan aturan hukum alam yang berarti hukum Allah. Inilah yang menyebabkan banyak orang melakukan berbagai penyimpangan, penyelewengan, korupsi, penipuan demi mendapatkan tujuannya untuk keberhasilan materi dan kekayaan, yang harusnya adalah akibat yang diperoleh kemudian dari hidup sejati. Akibatnya tatanan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa menjadi rusak dan dilanggar begitu saja, seperti apa yang kita rasakan sekarang ini. 2. Imbangi Dengan kekayaan Spiritual Dalam mengejar kekayaan materi, keberhasilan duniawi sebaiknya selalu mengimbangi dengan kekayaan spiritual. Berusahalah terus meningkatkan diri dalam mengisi kekayaan spiritual diri kita. Karena kekayaan spiritual ini akan mampu menangani dan mengisi setiap kehidupan manusia dengan sifat senantiasa bersyukur dan merasa puas. Dalam pengertian sederhana, bisa mensyukuri terhadap apa yang sudah diperolehnya. Sifat syukur ini merupakan manifestasi dari suara hati spiritual, sehingga dapat menjadikan terminimalisasinya keserakahan, tamak, rakus dan merusakan tatatan hukum kehidupan. Hakikat kekayaan itu bukanlah semata-mata banyak harta yang dikuasai, akan tetapi terletak pada kekayaan spiritual yang dimiliki. Orang yang memiliki kekayaan spiritual tidak akan pernah dikendalikan dan dikuasai oleh materi, jabatan, dan posisi, akan tetapi justru hal-hal tersebutlah yang dikendalikan dan dikuasainya. Semuanya itu hanyalah merupakan alat untuk mengaktualisasikan fungsi kekhalifahannya yang memberikan kebaikan dan kemanfaatan untuk masyarakat banyak. 3. Berdamai Dengan Ketentuan Allah Berdamai dengan ketentuan Allah artinya, dalam mengejar keberhasilan hidup dunia dan kekayaan materi senantiasa mengikuti hukum Allah. Tidak melanggar ketentuan-ketentuan Allah yang sudah dituangkan dalam kitab suci-NYA serta dapat berdamai menerima segala ketentuan-Nya. Kemampuan berdamai dengan ketentuan Allah dapat mengarahkan manusia untuk merasa puas atas rahmat Allah. Ini adalah sikap spiritual dan perilaku rohaniah yang menjadi kekayaan sejati yang tidak akan pernah habis. Manusia yang mampu memiliki sifat mampu menerima ketentuan Allah, dapat berpuas diri dengan hasil perjuangannya, dapat melahirkan pribadi yang tenang, memiliki sikap yang cerdas dan tentu saja pandai bersyukur terhadap segala nikmat Allah SWT yang diberikan kepadanya. Alangkah indahnya kalau hidup dapat mengikuti aturan hukum alam , memiliki kekayaan materi yang disertai dengan kekayaan spiritual, serta dapat menerima ketentuan Allah yang menjadikannya memiliki kekayaan sejati yang abadi.


Masing-masing dari diri kita memiliki kehendak dan peran dalam kehidupan menjadi manusia yang hebat dan penuh keagungan. Karena manusia diciptakan dengan potensi keistimewaan memiliki kecerdasan, bakat, ketrampilan dan hati nurani, yang dapat membawa manusia pada keberhasilan dan keagungan. Namun manusia juga dilengkapi dengan nafsu atau ego pribadi. Yaitu, nafsu pada kehidupan dunia. Oleh karena itu, untuk memenuhi keinginan ego dan nafsunya pribadinya, ssungguhnya Allah telah menyediakan aturan "rules" atau ketentuan-ketentuan melalui kitab suci-Nya. Ketentuan inilah yang harus ditaati oleh manusia. Kebanyakan manusia sadar atau tidak sadar seringkali terjebak memperturutkan nafsu dan ego pribadi untuk dunia semata, dengan mengabaikan "rules" atau aturan Tuhan. Mereka sibuk memenuhi keinginan memiliki harta kekayaan berlimpah, rumah megah dengan perabotan yang serba wah, kendaraan model terbaru yang mewah, wanita-wanita cantik di sekelilingnya, kursi jabatan atau posisi yang tinggi, dan lain sebagainya. Semua yang diinginkannya berusaha untuk dia dapatkan. Mereka merasa hebat dan berhasil dalam kehidupannya kalau sudah memiliki itu semua. Itulah ego manusia yang dikendalikan nafsunya. Inilah yang mengakibatkan terjadinya banyak penyelewengan, penyimpangan, korupsi, penyalah gunaan kekuasaan dan lain sebagainya. Karena pada hakikatnya nafsu itu tidak akan pernah merasa puas. Ego pribadi dalam tataran yang wajar sebenarnya akan menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri "self-esteem" dan memiliki kepercayaan diri "self-confidence '. Keduanya merupakan faktor positif dalam meningkatkan kualitas pribadi setiap individu menjadi lebih tinggi. Namun, kalau keduanya berlebihan dalam diri kita, itu akan berubah menjadi kebanggaan "pride" yang sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara kebanggan dan kesombongan ini sangat tipis sekali. Ketika berubah menjadi kesombongan, maka akan melahirkan ego pribadi yang merugikan. Akan melahirkan nafsu dunia yang dapayt menyesatkan. Disinilah manusia perlu hati-hati dalam menyikapi ego dan nafsu dirinya. Kesalahan dalam mengelola hati nurani seringkali mengakibatkan manusia terjebak dalam kehidupan dengan hati yang buta dan mati. Sungguh sengsara mereka yang hidupnya tanpa diterangi cahaya hati nurani ini. Bagaikan orang yang buta mata indranya, sehingga tidak dapat melihat apa yang ada di depannya. Memiliki hati nurani yang buta tertutup oleh ego pribadi, berarti mereka yang tidak dapat melihat arah kehidupannya kedepan dengan jernih dan tajam. Mereka menjalani kehidupan dengan dikendalikan nafsu dan ego pribadinya kepada dunia yang berlebihan. Mereka yang nuraninya tertutup, hidupnya menjadi penuh prasangka negatif, merasakan kehidupan begitu berat dan merasakan serba kekurangan. Hati nurani yang dikalahkan oleh nafsu dan ego pribadi mengendalikan pikiran seseorang menjadi buta. Hari-harinya menjadi tidak nyaman, pikirannya menjadi keruh, penuh dengan prasangka negatif. Waktu demi waktu yang dilalui sering kali diwarnai kondisi kegelisahan hati. Hati dan pikirannya sangat dikendalikan oleh nafsu duniawi, sehingga hidup menjadi sangat melelahkan. Mengejar sesuatu yang seolah-olah tidak ada hentinya, tidak ada habisnya dan merasa serba kekurangan. Sahabat, marilah kita bertanya kembali kedalam diri pribadi masing-masing, apakah selama ini tanpa sadar atau dengan kesadaran kita telah dikendalikan oleh nafsu dan ego pribadi untuk kepentingan dunia semata? Apakah selama ini sadar atau tanpa kita sadari kita telah terjebak dalam rutinitas kehidupan yang membutakan hati nurani? Apakah selama ini kita sudah mendengarkan suara hati kita, ataukah kita cenderung mengabaikan suara hati demi meraih tujuan kehidupan dunia? Bagaimana agar diri kita dapat menghidupkan hati nurani sehingga mampu mengendalikan nafsu dan ego pribadi? Berikut ini beberapa cara yang perlu dipertimbangkan untuk kita lakukan: 1. Tanamankan kembali kesadaran akan kembali kepada jati diri nan Fitri. Kesadaran akan jati diri akan mengantarkan kita memahamai siapa diri kita sebenarnya, mamahami hakekat kehidupan kita, siapa Tuhan kita sebenarnya dan kemana tujuan akhir kehidupan kita. Hal ini diharapkan akan menjadi semacam pengawasan yang melekat dan bahkan spirit dari dalam diri yang kuat untuk menjaganya dan menjauhkannya dari hal yang mengotori hati nurani. 2. Memandang kehidupan dunia secara seimbang. Tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, melainkan menempatkan dunia sebagai sarana dan dimanfaatkan secara terbatas dan terkendali untuk tujuan kehidupan selanjutnya. Paradigma seperti ini akan mengantarkan kita pada pemahaman bahwa kebahagiaan bukan hanya terletak pada hal-hal material, tetapi juga pada dataran spiritual. Janganlah sampai kesibukan mencari harta benda, kesibukan mengejar kekuasaan, popularitas dan semua aksesories dunia membuat kita lalai untuk beribadah kepada-Nya. Karena kita sesungguhnya hanyalah abdi atau hamba dari Allah. 3. Dzikir atau mengagungkan asma Allah merupakan makanan rohani yang paling bergizi serta membangkitkan selera ibadah dan akhlak mulia. Dzikir juga menjadi benteng dari gangguan nafsu dan ego pribadi yang berlebihan. Dengan berdzikir, peluang kita untuk mendapatkan kebersihan hati semakin terbuka. Dengan hati yang bersih, kita akan mudah untuk mengakses hidayah Allah SWT, sehingga dapat mengendalikan nafsu dan ego pribadi.


Berinvestasi Kebaikan Ada sebuah nasehat bijak dari almarhumah Ibu saya dan selalu tertanam dalam hati saya sampai kini adalah, agar selalu "menanamkan kebaikan" dalam hidup ini. Saya yakin, sebagian besar manusia sudah menerima nasehat bijak seperti ini dari para orang tua atau ibu mereka. Inti dari nasehat itu adalah agar kita menempatkan cita-cita paling penting dalam hidup adalah selalu "menanamkan kebaikan." Kalau kita menelaah dari nilai-nilai kehidupan keagamaan, nasehat ini sangat relevan dengan apa yang secara tegas disampaikan oleh Allah Tuhan Yang Maha Esa dalam kitab suci-Nya yang menyatakan, "Tidak ada yang dapat diunggulkan untuk manusia, kecuali apa yang dia usahakan untuk kebaikan secara individu". Kebaikan secara individu menjadi panjatan dalam menata diri untuk menjadi pribadi yang berkualitas dalam meraih kehidupan yang penuh potensi dan keagungan. Kebaikan secara individu menjadi landasan penting dalam pembangun kualitas pribadi kita. Apakah dalam keluarga, dalam organisasi, dalam pekerjaan maupun dalam bisnis, hubungan antar manusia akan semakin meningkat dan semakin mendalam, bila senantiasa dilandasi kebaikan individu dan kesedian berbagi kebaikan dengan orang lain. Kebaikan dari masing-masing individu ini dapat menjadikan kebaikan dalam masyarakat, sehingga terbangun kehidupan yang damai dan bahagia. Dimata seorang ibu, "menanamkan kebaikan" dalam hidup merupakan nasehat paling penting. Menaburkan kebaikan hendaknya menjadi cita-cita terpenting dalam hidup ini. Karena menaburkan kebaikan berarti menghidupkan sumber energi positif dari dalam diri untuk orang lain dan alam semesta. Energi ini akan kembali kepada kita dan memberikan berbagai fasilitas dalam kehidupan. Menjadi apapun kita saat ini, apakah presiden, menteri, konglomerat, direktur utama, manager atau pegawai biasa, memiliki pangkat apapun kita, apakah jenderal, kolonel, kapten atau prajurit biasa, memiliki gelar apapun diri kita, apakah profesor, doktor, master, sarjana atau lainnya, yang terpenting adalah "menanamkan kebaikan" kepada orang lain. Semua pangkat, gelar dan jabatan itu, tidak akan memberikan makna bagi kualitas pribadi seseorang bahkan hanya akan berakhir dengan kesia-siaan kalau tidak digunakannya untuk menanamkan kebaikan. Banyak pintu-pintu kebaikan yang dapat dilakukan dan menjadi sumber energi positif keberhasilan, seperti: Kalau memiliki ilmu, gunakanlah untuk mencerdaskan orang lain Kalau memiliki harta, gunakan untuk kebaikan banyak orang Kalau memiliki kekuasaan, gunakanlah untuk mensejahterakan banyak orang Kalau memiliki tenaga, gunakan untuk membantu banyak orang Kalau menjadi penegak hukum, berikanlah perlindungan dan keadilan kepada banyak orang Kalau menjadi pengusaha, jalankan usaha untuk memberiakn manfaat dan kebaikan banyak orang dan lainnya Intinya mulailah dengan hal-hal sederhana dan mudah dilakukan sesuai dengan kemampuan diri kita. Mulailah dari lingkungan terdekat, seperti orang-orang yang Anda temui setiap hari, lingkungan rumah sekitar Anda, lingkungan kerja. Dan yang penting sekecil apapun kebaikan itu, mulailah sekarang ini juga. Semakin banyak menaburkan benih-benih kebaikan berarti semakin banyak melepaskan energi positif dari dalam diri. Orang yang pertama merasakan manfaat dari berbuat kebaikan adalah mereka yang melakukannya. Mereka akan merasakan "buah" nya seketika itu dalam jiwa, akhlak, dan hati nuraninya. Sehingga hatinya akan terjaga kejernihannya. Hidup akan terasa lebih mudah, merasakan lapang dada, tenang, tenteram dan damai. Mereka yang dapat menggunakan potensi dirinya untuk menaburkan benih-benih kebaikan, maka akan memberikan fasilitas dalam hidup. Inilah prinsip menjadikan setiap kehadiran kita adalah rahmat untuk orang lain dan alam semesta atau "rahmatan lil alamin


Pandai Memilih Hubungan Dikisahkan tentang seseorang yang ingin bertobat, padahal ia sudah membunuh 99 kali dan belum pernah melakukan kebaikan. Ketika bertanya kepada seorang rahib tentang peluang tobatnya, sang rahib mengatakan tidak ada lagi peluang untuk tobat, maka kemudian dibunuhlah rahib itu dan genaplah 100 nyawa yang melayang melalui tangannya. Lalu, dia mendatangi seorang alim, kemudian orang alim itu memberikan kabar gembira bahwa Allah akan menerima tobat hamba yang bersungguh-sungguh. Hingga akhirnya, orang alim itu menyuruh laki-laki tersebut untuk meninggalkan kampung halaman dan lingkungan pergaulannya yang dahulu, lalu berhijrah menuju perkampungan orang-orang saleh. Tetapi, Allah berkehendak lain. Di tengah-tengah perjalanan malaikat maut mencabut nyawanya. Akhirnya malaikat rahmat dan malaikat azab saling berebut tentang urusan laki-laki tersebut. Kemudian, malaikat rahmat diperkenankan membawanya. Karena, setelah diukur, ternyata jasad laki-laki itu lebih dekat jaraknya dengan perkampungan orang-orang yang saleh dibanding dengan lingkungannya yang dulu. Apa makna yang dapat kita ambil dari kisah diatas ? Kisah di atas hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi kita bahwa lingkungan yang baik dan bergaul dengan orang-orang positif, berakhlak mulia dan saleh sangat mutlak kita butuhkan untuk menjaga eksistensi kualitas kehidupan dan keimanan kita. Ketika manusia hidup menjadi bagian dari koloni yang sangat besar di dunia ini, pasti akan dihadapkan pada beragam hubungan dengan sesama kehidupan lainnya. Kemanapun kaki melangkah, pasti sudah menunggu hubungan dengan manusia lainnya. Bahkan seberapapun kerasnya Anda berusaha untuk mengasingkan diri misalnya, pasti akan berhubungan dengan orang lain. Setiap individu pasti berhubungan dengan berbagai ragam manusia, mulai dari bentuk rupa, warna kulit dan lidah yang berbeda-beda. Perbedaan dan keragaman manusia tidak terbatas pada hal-hal tersebut, tetapi juga karakter dan budayanya. Bahkan perbedaan dalam tingkatan kehidupan, dari mulai yang elit sampai yang alit, dari mulai jendral sampai kopral, dari yang kelas atas sampai kelas bawah, dari orang sukses sampai orang gagal, demikianlah biasanya kita menyebutnya. Semuanya lengkap dengan pemikiran, budaya, dan tradisi masing-masing. Perbedaan dan kebergaman ini seringkali menjadikan terasa sangat sulit untuk mencari pergaulan yang baik, lingkungan yang sejuk, dan tempat yang aman dan damai. Padahal, lingkungan hidup mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam membentuk kepribadian seseorang. Persaingan kehidupan yang semakin ketat, gemerlapnya kehidupan dunia, pengaruh lingkungan kehidupan, juga banyak menjadikan manusia keliru dalam memilih lingkungan persahatan dan pergaulannya. Padahal, keliru dalam hal ini bisa berakibat fatal. Salah satu contoh misalnya, sebagian orang ada yang membatasi pergaulannya hanya dengan orang-orang tertentu yang dianggap selevel dengan mereka, atau memilih orang-orang tertentu yang cocok untuk mereka. Sayangnya, seringnya pertimbangan mereka dalam menentukan siapa yang cocok untuk persahabatan dan pergaulan adalah keliru. Yakni biasanya, pertimbangan mereka itu hanya berdasarkan kepentingan dan kesenangan dunia. Hanya berdarkan orientasi keuntungan dunia semata, yang notabene seringkali sangat dipengaruhi oleh nafsu dan ego pribadi. Memilih Hubungan Sejati Lantas bagaimana memilih persahabatan yang benar ? Bagaimana memilih hubungan yang baik, ditengah banyaknya kepentingan dan ego pribadi ? Apa saja yang menjadi pertimbangan dalam memilih hubungan yang baik ? Berikut ini berapa tips, yang dapat menjadi pertimbangan bagi kita dalam mengembangkan persahabatan dan pergaulan yang baik, yakni: 1. Perbedaan Adalah Hikmah. Setiap individu dari manusia haruslah menyadari dirinya, menyadari posisinya dan peka terhadap apa yang ada di sekelilingnya, sehingga dia tampil sebagai sosok yang professional dan proporsional, dan mampu mengambil langkah yang tepat dalam menjalani kehidupannya. Sesungguhnya banyak sekali Hikmah dari adanya berbagai perbedaan manusia, di antaranya adalah agar manusia mengetahui sebagian tanda-tanda kebesaran Allah. Dengan kata lain, perbedaan tersebut tidak perlu menjadi penghalang dalam membina hubungan dengan orang lain. 2. Mengedepankan nilai-nilai kebaikan. Ibnu Katsir mengatakan mengenai persahabatan, “Janganlah mengikuti orang yang mengabaikan agama dan ibadah karena sibuk dengan urusan dunia. Sedang amal dan perbuatannya sebagai bentuk kebodohan, tindakan melampaui batas, dan sia-sia. Dan janganlah kamu taat kepadanya, jangan menyukai jalannya, dan jangan iri dengan keadaannya.” Hal ini menganjurkan kita untuk duduk bergaul dengan orang-orang yang memiliki semangat positif, berakhlak mulia, mengedepankan nilai-nilai spiritual, agama dan ibadah, tanpa pandang bulu, baik itu dari kalangan atas, kalangan menengah, ataupun arus bawah yang miskin, yang kedudukannya tidak dihiraukan oleh masyarakat sekalipun. Orang yang mengedepankan nilai-nilai spiritual sesuai suara hatinya, pada umumnya adalah orang-orang yang baik. Maka dari itu, hendaknya kita hanya membatasi pergaulannya dengan orang-orang yang baik, siapa pun dia. Jika kita bergaul dengan orang-orang yang baik, banyak sekali manfaat dan faedah yang didapatkan. 3. Kemuliaan Akhlak Adalah Yang Utama Banyak orang, hanya karena mengejar kesenangan di dunia, mereka rela mengorbankan kesenangan yang hakiki, yaitu ketika mereka salah dalam memilih teman dan lingkungan pergaulan. Kebanyakan manusia lebih memilih teman yang bisa diajak bersenang-senang, hura-hura, dan menyia-nyiakan usia mereka, ketimbang berhubungan dengan orang yang berpikiran positif, memiliki kekayaan emosional dan spiritual, perilaku baik dan orang-orang yang takut kepada Allah. Karena, memang orang yang berpikiran positif, orang-orang saleh, orang-orang berakhlak mulia, di mata masyarakat umum kurang disenangi, atau bahkan dianggap asing. Pandangan ini timbul karena masyarakat sudah mengalami krisis multidimensi, dan terutama adalah dekadensi moral yang sangat parah. Sehingga, orang yang seharusnya dijadikan teman justru dijauhi. Padahal, syarat untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan hakiki adalah selalu memiliki sikap positif, mengedepankan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran, mempertahankan keimanan dan memiliki motivasi yang tinggi dalam kehidupan. Dengan selalu bergaul dengan orang-orang yang bersikap positif, memiliki motivasi untuk berprestasi, memiliki akhklak mulia, akan mendorong kita untuk memiliki kualitas kehidupan yang baik. Disinilah pentingnya setiap individu pandai dalam memilih teman dan lingkungan. Kita harus selektif, yaitu memilih orang-orang yang berpikiran positif, memiliki motivasi berprestasi dan memebrikan manfaat bagi kehidupan, mengedepankan nilai-nilai spiritual seperti kejujuran, kebersamaan, kasih saying, kebaikan, keadilan, dll. Memiliki motivasi tinggi dalam meraih prestasi kehidupan. Mereka yang dapat menjaga keseimbangan dalam kehidupan dunia tanpa mengabaikan nilai-nilai spiritual dan keimanan. Mereka itulah yang hendaknya kita jadikan teman sejati. Agar efek samping yang kita dapatkan adalah kebaikan, kesuksesan dan kebahagiaan sejati. Jangan sampai kita memilih teman dan lingkungan yang tidak baik, karena lambat laun dikhawatirkan kita akan tertular atau paling tidak ikut terkena getahnya. Ada pepatah Arab yang mengatakan, “Akhlak yang buruk itu akan menular.” “Sesungguhnya, perumpamaan teman duduk yang baik dengan teman duduk yang jahat adalah bagaikan penjual (pembawa) minyak wangi dan tukang (peniup) pandai besi. Penjual minyak wangi, mungkin akan memberimu, atau engkau bisa membeli darinya, atau paling tidak engkau akan mendapat aroma yang enak. Sedangkan tukang pandai besi, kalau tidak membakar bajumu, paling tidak engkau akan mendapatkan bau busuk (tak sedap) darinya.” - Al-Hadits -.


KELUARKAN POTENSI SPIRITUALMU Kalau waktu hidup ibarat modal uang yang dipinjamkan Tuhan kepada kita, bagaimana pilihan kita? Apakah menghabiskan modal waktu kehidupan yang diberikan tanpa hasil, ataukah menginvestasikan modal waktu hidup untuk memberikan hasil yang maksimal?. Saya yakin banyak diantara Anda akan memilih menginvestasikannya waktu hidup untuk memberikan hasil yang maksimal. Namun dalam realitas kehidupan, banyak kita saksikan orang-orang yang dengan sadar atau tanpa disadarinya telah memboroskan waktu hidupnya dengan sia-sia. Membuang-buang waktu hidupnya untuk kegiatan yang tidak memberikan makna bagi kehidupannya yang panjang kedepan. Mereka adalah orang-orang yang menggunakan waktu hidupnya tanpa memahami kemana sesungguhnya arah kehidupanya. Tanpa memahami kemana sesungguhnya tujuan tertinggi kehidupannya. Mungkin mereka terlihat sangat sibuk, penuh aktivitas, tetapi sesungguhnya aktivitasnya tidak memberikan arti bagi makna kehidupan yang jauh kedepan. Mereka ini adalah manusia yang berorientasi pada "kekinian" semata, dengan mengabaikan tujuan dasar spiritualnya (core purposes) dalam kehidupannya. Yang lahir kemudian adalah manusia yang menyenangi hal-hal yang serba instan, serba mudah dan cepat dalam menggapai tujuan kekinian hidupnya, dengan mengabaikan nilai-nilai dasar spiritual (core values). Inilah penyakit kronis manusia modern di abad digital dewasa ini, yang menghabiskan waktu hidupnya hanya untuk tujuan harta, kekuasaan, uang, jabatan, popularitas, yang bersifat asesories dunia semata, dengan mengabaikan nilai-nilai spiritual yang menjadi tujuan dasar hidupnya. Tujuan dasar spiritual ( core purposes) manusia adalah pengabdian hidup hanya kepada Allah Tuhan Yang Memiliki Kehidupan. Semua yang berhubungan dengan tujuan kepada jabatan, uang, harta, popularitas, kekayaan, dan berbagai prestasi kehidupan dunia lainnya, bukanlah tujuan utama, melainkan merupakan bagian dari pengabdian kepada Allah. Dengan demikian dalam usaha mencapai hal itu semua, harus dilandasi oleh nilai-nilai dasar spiritual (core values) yang sudah ada dalam hati manusia. Nilai-nilai dasar spiritual manusia yang sudah "built in" dalam hati itu diantaranya adalah, kasih sayang, kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kebersamaan, keadilan, dll. Marilah bertanya kedalam hati kita terdalam, sudahkah waktu hidup kita gunakan untuk investasi yang dilandasi nilai -nilai spiritual ini? Kalau belum, marilah memulai meng-investasikan setiap waktu hidup yang dipinjamkan Tuhan untuk mengeluarkan nilai-nilai dasar spiritual itu dalam setiap langkah kehidupan kita. Marilah melandasi setiap keputusan waktu hidup dengan nilai-nilai dasar spiritual yang bersumber dari suara hati Illahiah dalam diri manusia. Keluarkan nilai-nilai dasar spiritual ini dalam langkah-langkah nyata kehidupan, bukan hanya dalam nilai yang dianut, namun dalam tindakan. Hal ini yang akan dapat mengarahkan waktu hidup kita menjadi investasi yang berlipatganda bagi tujuan kehidupan selanjutnya yang abadi. Jadi substansinya, mulailah mengenali seluruh potensi spiritual dalam hati, kemudian mengeluarkannya dalam langkah-langkah nyata kehidupan melalui tindakan dengan tujuan hanya pengabdian kepada Allah. Kalau Anda seorang karyawan, pertajam potensi dirimu dan lindungi diri dengan integritas dan kejujuran Kalau Anda seorang pengusaha, keluarkan potensi usahamu dilandasi azas manfaat bagi kebaikan banyak manusia Kalau Anda seorang guru, keluarkan potensi ilmumu untuk mencerdasakan banyak orang Kalau Anda seorang insinyur, keluarkan kreativitasmu untuk kesejahteraan kehidupan banyak orang Kalau Anda seorang dokter, keluarkan pengobatanmu dilandasi kasih sayang Kalau Anda seorang hakim, keluarkan keadilanmu untuk mereka yang membutuhkan Kalau Anda seorang kebijakan, keluarkan perlindunganmu dilandasi keadilan Dll ... ... Intinya, gunakan waktu hidup yang kita miliki untuk berbagai bidang kehidupan seperti kesehatan, keluarga, finansial, pekerjaan / bisnis, sosial senantiasa dilandasi nilai-nilai dasar spiritual dalam hati. Semua bidang ini penting dan harus seimbang, dengan tujuan untuk pengabdian tertinggi kepada Allah Tuhan Yang Maha Memiliki Kehidupan. Inilah makna tertinggi dalam kehidupan.


pernahkan Anda menyadari apa sesungguhnya salah satu kebodohan paling besar dalam hidup ini? Jawabanya adalah memelihara kebencian. Ya, kebenciaan adalah sebuah kebodohan hidup yang paling besar di dunia. Karena kebencian hanya akan membunuh waktu kehidupan dan mengorbankan benih cinta, sehingga tidak bisa berkembang dalam kehidupan. Orang yang menanam dan memelihara kebenciaan dalam hatinya, ia hanya akan menuai hasil ketidaknyamanan, sakit hati dan permusuhan. Sehingga harumnya wangi bunga cinta yang ada dalam dirinya tidak dirasakan dalam kehidupan. Namun masih banyak orang yang tidak menyadarinya kalau hatinya dikuasai oleh benih kebenciaan. Manusia yang hatinya penuh kebenciaan pada hakekatnya adalah manusia yang gagal dalam hidup, karena tidak mampu mencintai dirinya sendiri. Maka ucapkan selamat tinggal kepada benci mulai saat ini juga. Tinggalkan jauh-jauh benih kebenciaan yang akan merusak benih cinta dan Kalau ada yang membenci diri Anda, berusahalah untuk tidak membalas kebencian itu dengan kebenciaan. Kalau Anda membalas kebencian itu dengan kebencian, maka Andapun akan termasuk kedalam golongan orang yang membenci. Kalaupun Anda harus membalas kebencian itu, berusahalan membalasnya dengan cinta, kasih saying dan kebaikan. Mungkin Anda akan mengatakan bahwa ini adalah hal yang mudah dituliskan, tetapi sangat sulit untuk dilakukan. Benar dan memang demikian adanya. Tetapi yakinlah kalau Anda mampu mengendalikan emosi kemarahan yang ada dalam diri Anda, maka ini bukanlah hal yang tidak mungkin untuk dilakukan. Bahkan akan menjadi hal yang mudal dilakukan. Anda akan mampu membalas kebencian dengan cinta, kasih saying dan kebaikan. Bagaimana cara meninggalkan kebencian? Salah satu cara meninggalkan kebencian adalah dengan berusaha bertindak dengan tindakan orang-orang yang berjiwa besar dan agung. Mereka yang memiliki keagungan jiwa mampu mengendalikan emosi amarah dan sakit hati atas kebenciaan orang lain. Bagaimana cara memulainya? Kita bisa memulainya dengan membiasakan diri selalu memuji keagungan dan kebesaran Allah SWT yang telah memberikan keagungan jiwa bagi kita. Dengan sering memuji kebesaran Allah SWT, kita akan memiliki semangat jiwa yang luhur, tinggi dan mulia. Semangat jiwa yang agung dan mulia inilah yang akan mampu mengendalikan emosi dari dalam diri Anda, sehingga tidak membiarkan kebenciaan hidup dalam diri Anda. Dengan tidak membiarkan benih kebencian tumbuh dalam diri Anda, maka benih ketulusan cinta akan semakin tumbuh subur dalam diri Anda.


MENGHIDUPKAN CAHAYA HATI Pernahkah Anda merasakan kegelisahan hati dan jiwa? Seperti, Anda tidak tahu apa yang harus Anda kerjakan, sedangkan pekerjaan sebenarnya menumpuk dihadapan Anda?. Pernahkah Anda merasakan beban hidup yang terasa berat dan menumpuk dipundak Anda, sedangkan Anda merasakan tidak tahu harus dari mana menguranginya? Pernahkah Anda merasakan tekanan dan himpitan ekonomi yang menghadang setiap langkah kehidupan Anda, tubuh Anda terasa gontai dan lunglai, tidak tahu harus melangkah kemana? Pernahkan Anda merasakan kegelisahan hati yang mendalam, tubuh bergetar dan semuanya menjadi serba tak berarturan dan serba salah? Kalau hal itu menimpa Anda, berarti Anda dalam kegelapan cahaya hati. Sekarang bayangkan orang yang hidup dalam kegelapan tanpa disinari cahaya, tentu saja semuanya serba gelap, Anda hanya berputar-putar dan menyibukan diri sendiri, tetapi sebenarnya tidak melangkah kemanapun. Anda merasakan setiap langkah terantuk sandungan dan serba tidak beraturan. Inilah Perumpaan untuk manusia yang sedang dalam kegelapan hidup. Hal yang sama kalau Anda tidak menemukan cahaya hati dalam diri Anda. Mereka yang hidup dalam kegelapan cahaya hati bagaikan berada dalam gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya masih dipenuhi ombak-ombak lautan, di atasnya lagi awan gelap gulita yang bertindih-tindih an. Bagaimana caranya menemukan cahaya hati? . Cahaya hati sesungguhnya bersumber dari cahaya Illahi yang akan menerangi hati kita. Menemukan cahaya hati berarti kembali kepada jati diri kita sebagai manusia yang jernih dan bersih. Kembali ke hati yang tanpa tertutupi berbagai belenggu yang menutup cahaya hati. Karena sesungguhnya dalam hati ini sudah ditiupkan sifat-sifat mulia Allah pada saat proses penciptaannya. Cobalah bercermin danb lihatlahi kita ke dalam cermin, berapa banyak pakaian kesombongan, pakaian riya ', pakaian dengki, pakaian takabur, yang kita kenakan?. Berapa banyak pengalaman masa lalu yang negatif, pakaian ego pribadi, pakain pengaruh sudut pandang yang salah yang menyesatkan dalam diri?. Mari kita tanggalkan pakaian-pakain itu yang menyelimuti hati kita dari cahaya hati yang jenrih dan tajam. Lepaskan pakaian kesombongan hati dengan sikap rendah hati. Tidak ada yang cepat disomboingkan manusia dalam hidup ini. Lepaskan pakaian dengki dan gantikan dengan cinta dan kasih sayang. Lepaskan pakaian takabur dan gantikan dengan kesadaran diri sebagai hamba dan abdi Allah semata. Buanglah pakain prasangka negatif dengan mengembangkan sikap positif dalam setiap langkah kaki kedepan. Kendalikan ego pribadi dengan menumbuhkan sikap empti kepada orang lain Buanglah pengaruh sudut pandang negative maupun pengalaman negative Hindarilah prinsip hidup yang salah dengan kembali dalam kejernihan jati diri yang bersumberd ari hati. Kesuksesan dan keagungan dalam hidup tidak akan dapat dirah hanya dari potensi fisik dan kecerdasan akal pikiran. Lebih dari itu diperlukan kecerdasan hati dan kemampuan menemukan cahaya hatio yang bersumber dari cahaya Illahi. Berbahagialah mereka yang dapat menghidupkan cahaya hatinya, mereka yang dapat mengenali cahaya hatinya akan dapat menggapai kehidupan yang penuh keagungan yang memandang kehidupan jauh kedepan dengan hati jernih. Hidupnya akan dipenuhi cahaya terang dengan berbagai fasilitas-fasilitas.


Perenungan akan arti sebuah 'kehilangan' Baru merasa kehilangan ketika sesuatu sudah tidak berada dalam genggaman Banyak hal yang tidak kita sadari begitu berharga dalam hidup ini, sampai saat dia sudah tidak mungkin diraih, atau pada saat hanya sedikit sekali kemungkinan itu ada. Barulah penyesalan begitu terasa berat ...... Sebagai contoh, ada seorang bapak yang sangat tidak peduli dengan anaknya ketika anak itu masih dalam naungannya. Ketika terjadi perceraian dengan sang istri, yang menyebabkan anaknya 'dibawa pergi' istri. Barulah perasaan kehilangan, cinta kasih dan tangis penyesalan mengharu biru. Dan baru disadarinya bahwa dia begitu mencintai anaknya. Atau, ketika kita kehilangan sedikit saja waktu yang ternyata sangat penting dan pada saat itu kita berharap waktu bisa di tambah sedikit saja. Tapi semua hanya sia-sia saja ... karna dia telah berlalu. Atau ketika kita sering bersiteru dengan saudara sendiri untuk hal sangat sepele dan menjadi sangat besar karna sudah melibatkan ego dan kepentingan pribadi. Ketika dia (saudara kita itu) sudah pergi menjauh dari kita, barulah hal yang kita lalui dulu menjadi kenangan pahit yang sangat ingin kita lupakan.


Hedonisme Masyarakat Modern Hedonisme adalah istilah yang menunjukkan faham mementingkan kesenangan dan kemewahan fisik. Dalam kamus Collins Gem dinyatakan bahwa hedonisme adalah doktrin yang menyatakan bahwa kesenangan adalah hal yang paling penting dalam hidup. Atau hedonisme adalah paham yang dianut oleh orang-orang yang mencari kesenangan hidup semata-mata. Budaya modern saat ini memang cenderung hedonis, perkembangan teknologi selalu disajikan dengan fasilitas dan kemegahan. Keinginan punya harta melimpah, rumah mewah, mobil banyak, deposito di bank, punya tanah kebun dan sawah di mana-mana, mengejar semua itu memang tidak dilarang. Dalam Surat al-Qassash ayat 77 disebutkan, "Carilah negeri akhirat tapi jangan lupakan bagian duniawi . "Karena menemukan kehidupan dunia merupakan bagian dari kebutuhan hidup dan sisanya untuk membuat amal kebaikan menemukan pahala akhirat. Tapi harus diakui dengan jujur ​​bahwa banyak di antara kita yang sehari-hari pikirannya hanya pada dunia. Setiap bertemu orang yang dibicarakan hanya materi, pekerjaan, rumah, mobil, tabungan, atau kekuasaan. Berita-berita yang disiarkan setiap hari hanya menyediakan sajian yang penuh dengan gemerlap materi dunia. Hal demikian tidak dapat ditolak, dan diakui memang ada, tetapi dunia materi itu tidak ada artinya sama sekali. Allah berfirman: Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanya kemenangan yang menipu (al-Hadid: 20). Rasulullah menambahkan, alangkah mengherankan untuk orang yang mengizinkan rumah akhirat tetapi berusaha dengan sekuat tenaga untuk mendapatkan rumah tipuan (dunia). gemerlapnya dunia akan menimbulkan penyakit -penyakit hati yang kronis seperti timbul penyakit munafik, sombong, pelit, senang dengan pujian, suka berfoya-foya dan sebagainya. Rasulullah beserta para sahabatnya hidup sangat sederhana, meskipun mereka menguasai wilayah yang luas. Umar bin Khattab pernah melihat Rasulullah berbaring di atas tikar dan melihat bekas tikar di pinggang Rasulullah, dan Umar pun menangis melihat kondisi itu. Kemudian Rasulullah bertanya, mengapa engkau menangis wahai Umar? Umar menjawab: saya teringat pada raja dan pemimpin dengan kemegahan dunia, sedangkan engkau seorang utusan Allah tidur dengan seadanya dan terlihat bekas tikar di badan. Maka Rasulullah berkata: mereka adalah orang-orang yang langsung diberi kesenangan dunia tapi kita adalah orang-orang yang ditunda kesenangannya di akhirat. Isa As pernah berkata, perumpamaan dunia seperti orang yang minum air laut, ketika banyak minum maka dia bertambah haus sehingga mematikan dirinya. Orang yang mencintai dunia tidak berpikir panjang dan akalnya tidak sampai kepada hakikat kehidupan, orientasinya jangka pendek karena tidak memikirkan kehidupan setelah mati. Rasulullah mengatakan bahwa suatu saat ummatku akan terkena penyakit al-wahn, al-wahn itu adalah cinta dunia dan takut kematian, tentu hal ini sudah kita lihat pada masa sekarang. Apakah Hedonisme terkait dengan gangguan kejiwaan? Gangguan jiwa siap memangsa para hedonis, karena jiwa yang stabil adalah jiwa yang mengenal dirinya sendiri, mengenal orang lain, mengenal lingkungan dan mengenal kehidupan. Tanpa sebuah konsep yang benar tentang kehidupan maka kehidupan akan dimaknai secara berbeda, kehidupan akan menjadi sebuah ajang perlombaan, kehidupan menjadi sebuah kompetisi untuk mengungguli orang lain dalam berbagai hal. Sehat jiwa adalah sebuah perjalanan panjang kedewasaan psikologis untuk mencapai tataran nyaman secara psikologis. Semua masalah berawal dari pikiran, jika merasa memiliki masalah maka lepaskan masalah dari genggaman. Lepaskan keserakahan, lepaskan artikel untuk menyakiti orang lain, lepaskan semua keinginan jahat untuk melanggar hak orang lain, lepaskan diri dari keinginan korupsi, menipu orang lain, merusak alam lingkungan, kembali ke jalan yang benar, kembali ke fitrah manusia sebagai hamba Allah. Sehat jiwa adalah kombinasi fisik, psikologis, sosial dan spiritual, mencapai kesehatan jiwa adalah kunci menggapai kebahagiaan. Jika kita menggabungkan kombinasi tersebut maka semua hal dalam kehidupan akan membawa kita ke sebuah muara , yang wajib disadari 'dari mana kita berasal dan kemana kita akan kembali'. Apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Menghilangkan sama sekali dorongan ke arah pemuasan kebutuhan jasmani adalah tidak mungkin. Karena jasmani merupakan landasan untuk kesempurnaan hidup manusia. Hanya segelintir orang yang bahagia tanpa dipenuhi dengan kepuasan materi, dan segelintir orang yang sadar bahwa kesenangan jasmani tidak punya arti jika tidak diiringi kebahagian ruhani. Dalam Islam harta yang kita miliki hanya titipan dari Allah, ada amanah dan ada sebagian hak orang lain yang harus kita berikan. Dan yang tidak kalah penting harta adalah tes untuk yang memilikinya digunakan untuk apa saja harta tersebut. Harta ini adalah hiasan hidup yang harus diwaspadai agar tidak menyilaukan sampai membutakan hati dan membuat manusia lupa kepada Allah. Dan harta adalah bekal beribadah kepada Allah, sebab itu semua perangkat duniawi, baik meteril maupun nonmateril, tercipta sebagai sarana yang bisa digunakan manusia untuk beribadah. kekayaan adalah salah satu sarana ibadah. Ia bukan hanya menjadi ibadah ketika dinafkahkan di jalan Allah, ia bahkan sudah bernilai ibadah kala manusia dengan ikhlas mencari nafkah untuk keluarganya dan selebihnya untuk kemaslahatan umat, membantu masyarakat miskin. Harta bukan untuk disimpan saja dan dinikmati sendiri dan dihambur-hamburkan untuk memenuhi nafsu jasmani , jika harta dipergunakan sebaik-baiknya, pahala yang amat besar menanti. Namun jika tidak, siksa Allah amatlah pedih.


Ketika Allah bilang tidak ..! Ketika manusia berdoa, "Ya Allah ambillah kesombonganku dariku." Allah berkata, "Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya. " Ketika manusia berdoa, "Ya Allah sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat." Allah berkata, "Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara. " Ketika manusia berdoa, "Ya Allah beri aku kesabaran." Allah berkata, "Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan, tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri. " Ketika manusia berdoa, "Ya Allah beri aku kebahagiaan." Allah berkata, "Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri untuk menghargai keberkahan itu. " Ketika manusia berdoa, "Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan." Allah berkata, "Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada-Ku. " Ketika manusia berdoa, "Ya Allah beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat." Allah berkata, "Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal. " Ketika manusia berdoa, "Ya Allah bantu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cinta-Mu padaku. Allah berkata ... "Akhirnya kau mengerti ..!!" Kadang kala kita berpikir bahwa Allah tidak adil , kita telah susah payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak ada hasilnya. Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan-bahkan ratusan lamaran telah kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali, sementara orang lain dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan. kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya tanpa susah payah. Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir dengan penolakan dan kegagalan. orang lain dengan mudah berganti pasangan. Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun kebutuhanlah yang terus meningkat. Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang demam dan pilek lalu kita melihat tukang es. Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat mengobati rasa demam (maklum anak kecil). Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti kita berdoa memohon pada Allah) dan merengek agar dibelikan es. Orangtua kita tentu lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit kita. Tentu dengan segala dalih kita tidak dibelikan es. Orangtua kita tentu ingin kita sembuh dulu baru bisa minum es yang lezat itu. Begitu pula dengan Allah, segala yang kita minta Allah tahu apa yang paling baik untuk kita. Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini Allah mengabulkannya. Karena Allah tahu yang terbaik yang kita tidak tahu. Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari "pilek" dan "demam" .... dan terus berdoa.


Golongan yang selamat: Menjauhi Perdukunan قل لا يعلم من في السموات والأرض الغيب إلا الله وما يشعرون أيان يبعثون Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (QS An Naml 27: 65) Istilah dukun yang kita pakai di Indonesia sering dipergunakan untuk menerjemahkan arraf dan kahin dari bahasa Arab. Arraf adalah orang yang dianggap mengetahui secara ghoib sesuatu yang sedang terjadi, sehingga dia sering dimintai pertolongan untuk mencarikan barang ata orang yang hilang. Sedang kahin mirip dengan arraf tetapi dianggap pula mampu mengetahui secara ghoib apa yang akan terjadi di masa mendatang. Orang yang mempercayainya, menganggap kemampuan itu diperoleh karena kerja sama antara dukun tersebut dengan setan. Rasulullah saw melarang umatnya mendatangi arraf dan menanyakan sesuatu kepadanya. Beliau memberitahukan bahwa bila seseorang datang kepada arraf dan menanyakan sesuatu kepadanya maka sholatnya tidak akan diterima selama 40 hari (HR Muslim). Beliau sangat berhati-hati dalam membentengi umatnya agar tidak tertipu dan terjatuh ke dalam jurang syirik. Arraf yang mengaku mengetahui secara ghoib apa yang sedang terjadi di tempat lain itu jelas berbohong, karena Allah sendiri berfirman bahwa tidak ada seorangpun di langit dan di bumi ini yang mengetahui yang ghoib kecuali Allah (QS An Naml 27: 65). Maka orang yang yang mengaku mengetahui yang ghoib, pasti dia telah bohong. Orang beriman tidak layak menjadi bulan-bulanan para pembohong, maka mereka yang datang kepada arraf diancam sholatnya tidak akan diterima selama 40 hari. Terhadap orang yang mendatangi kahin ancamannya lebih berat lagi. Mereka yang datang ke kahin dan membenarkan ucapannya, maka dia dianggap telah kafir terhadap Al Qur'an (HR Ahmad). Kahin membohongi orang yang mempercayainya dengan memberikan kesan bahwa dirinya mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang. Dia mengeluarkan banyak ramalan-ramalan dan kalau ada satu saja ramalannya yang benar lalu dia blow up di media masa. Juga dengan menggunakan antek-anteknya yang banyak dia menyebarkan berita bohong tentang kehebatannya. Padahal semua itu bohong dan palsu. Rasulullah saw sebagai kekasih Allahpun tidak mengetahui yang ghoib. Kalau aku mengetahui yang ghoib niscaya aku akan berbuat kebajikan yang banyak dan tidak akan ditimpa kemadlorotan (QS Al An'am 6: 188). Padahal beliau pernah terluka cukup parah dalam perang Uhud. Lebih berbahaya lagi selain mengandung resiko tertipu oleh para dukun maka orang yang mendatangi dukun juga menanggung resiko berbuat syirik. Allah sendiri berfirman bahwa yang mengetahui yang ghoib itu hanya Allah (QS An Naml 27: 65) dan tidak akan memperlihatkan yang ghoib kepada seorangpun kecuali kepada rasul yang diridloinya (QS Al Jin 72: 26-27). Maka kalau kita percaya ada orang yang mengetahui yang ghoib padahal dia bukan rasulullah, berarti dia telah berbuat syirik. Padahal dosa syirik itu termasuk dosa besar dan dosa ini tidak akan diampuni (QS An Nisa 4: 48), bahkan dosa itu menghapus semua amal sholeh yang telah kita lakukan (QS Al An'am 6: 88). Selain itu di negeri kita berkembang adanya orang yang mengaku sebagai dukun tenung, dukun santet dan sejenisnya. Mereka dianggap dapat mengirimkan tenung atau santet yang dapat mencelakakan fisik orang lain. Bahkan dipercaya dapat membunuh jarak jauh. Semua pengakuan dan anggapan itu tidak ada benarnya sama sekali. Al Qur'an dan As Sunnah tidak pernah memberitakan adanya santet dan tenung seperti itu. Memang Allah memberitakan adanya sihir, tetapi yang dimaksud sihir itu tidak seperti tenung dan santet. Namun lebih dekat kepada sulap. Sahara yasharu artinya membelokkan. Segala sesuatu yang membelokkan dengan konotasi negatif termasuk sihir. Dalam konteks sulap ketrampilan tangan pesulap menjadikan kita memandang sesuatu yang di luar perkiraan. Begitu pula kata-kata fitnah yang dilemparkan kepada seorang suami pada istrinya yang dituduh serong dapat menghancurkan rumah tangga. Kata-kata fitnah itu termasuk sihir. Disamping arraf, kahin, dan penyihir Rasulullah saw juga menentang munajim atau ahli sihir yang menghubungkan antara gerakan benda-benda angkasa seperti bulan, bintang, dan matahari dengan perintiwa yang terjadi di bumi. Padahal anak-anak muda saat ini sangat getol dengan ramalan bintang (astrologi / kosmologi) yang dikaitkan dengan perjodohan, keberuntungan dan sejenisnya. Semua itu tidak ada benarnya sama sekali. Ketika nabi Isa as lahir menurut keyakinan orang-orang nasrani kelahirannya ditandai oleh munculnya bintang timur. Tentu saja keyakinan yang demikian itu tidak bisa diterima oleh ajaran Islam. Suatu saat putra Rasulullah yang bernama Ibrahim meninggal dunia. Saat itu terjadi gerhana matahari. Maka para sahabat menghubung-hubungkan antara ke dua peristiwa itu dan Rasulullah saw mendengarnya. Segera beliau berpidato di atas mimbar. Setelah memuji dan menyanjung Allah beliau mengatakan bahwa: "Sesungguhnya matahari dan bulan itu termasuk tanda-tanda kebesaran Allah. Tidak akan terjadi gerhana pada keduanya karena hidup dan matinya seseorang "(HR Bukhori - Muslim). Betapa modern dan logisnya pernyataan beliau. Padahal pernyataan ini pernyataan kuno yang dikeluarkan sekitar 1400 tahun yang lalu. Mengapa kita yang hidup di jaman ultra modern ini banyak yang masih berpikiran kuno? Masih percaya kepada ahli sihir? Na'udzubillah


Alkisah di zaman saat islam masih merintis sayapnya, suatu malam yang telah larut, ketika seorang pemuda bernama Sa'ad bin Abi Waqqash terbangun dari tidurnya. Baru saja ia bermimpi yang sangat mencemaskan. Ia merasa terbenam dalam kegelapan, kerongkongannya terasa sesak, nafasnya terengah-engah, keringatnya bercucuran, keadaan sekelilingnya gelap-gulita. Dalam kondisi yang demikian dahsyat itu, tiba-tiba dia melihat seberkas cahaya dari langit yang terang-benderang.Maka dalam sekejap, berubahlah dunia yang gelap-gulita menjadi terang benderang dengan cahaya tadi. Cahaya itu menyinari seluruh rumah penjuru bumi. Bersaman dengan sinar yang cemerlang itu, Sa'ad bin Abi Waqqash melihat tiga orang pria, yang setelah diamati tidak lain adalah Ali bin Abi Thalib ra, Abu Bakar bin Abi Quhafah dan Zaid bin Haritsh. Sejak ia bermimpi yang demikian itu, mata Sa ' ad bin Abi Waqqash tidak mau terpejam lagi. Kini Sa'ad bin Abi Waqqash duduk merenung untuk memikirkan arti mimpi yang baginya sangat aneh. Sampai sinar matahari mulai meninggi, rahasia mimpi yang aneh tersebut masih belum terjawab. Hatinya kini bertanya-tanya, berita apakah gerangan yang hendak saya peroleh. Seperti biasa, di waktu pagi, Sa'ad dan ibunya selalu makan bersama-sama. Dalam menghadapi hidangan pagi ini, Sa'ad lebih banyak berdiam diri. Sa'ad adalah seorang pemuda yang sangat patuh dan taat kepada ibunya. Namun, mimpi dashyat semalam dirahasiakannya, tidak diceritakan kepada ibu yang sangat dicintai dan dihormatinya. Sedemikian dalam sayangnya Sa'ad pada ibunya, sehingga seolah-olah cinta Sa'ad hanya untuk ibunya yang telah memelihara dirinya sejak kecil sampai dewasa dengan penuh kelembutan dan berbagai pengorbanan. Pekerjan Sa'ad adalah membuat tombak dan lembing yang diruncingkan untuk dijual kepada pemuda-pemuda Makkah yang senang berburu, meskipun ibunya terkadang melarangnya melakukan usaha ini. Ibu Sa'ad yang bernama Hamnah binti Suyan bin Abu Umayyah adalah seorang wanita hartawan keturunan bangsawan Quraisy, yang memiliki wajah cantik dan anggun. Disamping itu, Hamnah juga seorang wanita yang terkenal cerdik dan memiliki pandangan yang jauh. Hamnah sangat setia kepada agama nenek moyangnya, yaitu penyembah berhala. Pada suatu hari tabir mimpi Sa'ad mulai terbuka, ketika Abu Bakar mendatangi Sa'ad di tempat pekerjaannya dengan membawa berita dari langit tentang diutusnya Muhammad Saw, sebagai Rasul Allah. Ketika Sa'ad bertanya, siapakah orang-orang yang telah beriman kepada Muhammad Saw, dijawab oleh Abu Bakar: dirinya sendiri, Ali bin Abi Thalib ra, dan Zaid bin Haritsh. II.Antara Iman dan Ibu Muhammad Saw, mengajak manusia menyembah Allah Yang Esa, Pencipta langit dan bumi. Seruan ini telah mengetuk pintu hati Sa'ad untuk menemui Rasul Allah Saw, untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Kalbu Sa'ad telah disinari cahaya iman, meskipun usianya waktu itu baru menginjak tujuh belas tahun. Sa'ad termasuk dalam deretan pria pertama yang memeluk Islam selain Ali bin Abi Thalib ra, Abu Bakar dan Zaid bin Haritsh. Cahaya agama Allah yang memancar ke dalam kalbu Sa'ad, sudah demikian kuat, meskipun ia mengalami tes yang tidak ringan dalam memeluk agama Allah ini. Diantara tes yang dirasa paling berat adalah, karena ibunya yang paling dikasihi dan disayanginya itu tidak rela ketika mengetahui Sa'ad memeluk Islam. Sejak memeluk Islam, Sa'ad telah melaksanakan shalat dengan sembunyi-sembunyi di kamarnya. Sampai pada suatu saat, ketika ia sedang bersujud kepada Allah, secara tidak sengaja, ibu yang belum mendapat hidayah dari Allah ini melihatnya. Dengan nada sedikit marah, Hamnah bertanya: "Sa'ad, apakah yang sedang kau lakukan?" Rupanya Sa'ad sedang berdialog dengan Tuhannya; ia tampak tenang dan khusyu 'sekali. Setelah selesai menunaikan Shalat, ia berbalik menghadap ibunya seraya berkata lembut. "Ibuku sayang, anakmu tadi bersujud kepada Allah Yang Esa, Pencipta langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya." Mendengar jawaban anaknya, sang ibu mulai naik darah dan berkata: "Rupanya engkau telah meninggalkan agama nenek moyang kita, Tuhan Lata, Manata dan Uzza. Ibu tidak rela wahai anakku. Tinggalkanlah agama Oleh karena itu, Hamnah berjanji tak akan makan dan minum sampai Sa'ad kembali taat memeluk agamanya semula. Sehari telah berlalu, ibu ini tetap tidak mau makan dan minum. Hati Sa'ad merintih melihat ibunya, tetapi keyakinannya terlalu mahal untuk dikorbankan. Sa'ad datang membujuk ibunya dengan mengajaknya makan dan minum bersama, tapi ibunya menolak dengan harapan agar Sa'ad kembali kepada agama nenek moyangnya. Kini Sa'ad makan sendirian tanpa ditemani ibunya. Hari keduapun telah berlalu, ibunya tampak letih, wajahnya pucat-pasi dan matanya cekung, ia terlihat lemah sekali. Tidak ada sedikitpun makanan dan minuman yang dijamahnya. Sa'ad sebagai seorang anak yang mencintai ibunya bertambah sedih dan terharu sekali melihat kondisi Hamnah yang demikian. Malam berikutnya, Sa'ad kembali membujuk ibunya, agar mau makan dan minum. Namun ibunya adalah seorang wanita yang berpendirian keras, ia tetap menolak ajakan Sa'ad untuk makan, bahkan ia kembali merayu Sa'ad agar menuruti perintahnya semula. Tetapi Sa'ad tetap pada pendiriannya, ia tak ingin menjual agama dan keimanannya kepada Allah dengan sesuatu, sekalipun dengan nyawa ibu yang dicintainya. Imannya telah membara, cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya telah sedemikian dalam. Di depan matanya ia menyaksikan keadaan ibunya yang meluluhkan hatinya, namun dari lidahnya keluar kata-kata pasti yang membingungkan lbunya; Demi Allah, ketahuilah wahai ibunda sayang, seandainya ibunda memiliki seratus nyawa lalu ia keluar satu persatu, tidaklah nanda akan meninggalkan agama ini walau ditebus dengan apa pun juga. Maka sekarang, terserah kepada ibunda, apakah ibunda akan makan atau tidak ". Kata kepastian yang diucapkan anaknya dengan tegas membuat ibu Sa'ad bin Abi Waqqash tertegun sesaat. Akhirnya ia mulai mengerti dan sadar, bahwa anaknya telah memegang teguh keyakinannya. Untuk menghormati ibunya , Sa'ad kembali mengajaknya untuk makan dengannya, karena ibu ini telah merasakan kelaparan yang amat sangat dan ia telah memaklumi pula bahwa anak yang dicintainya tidak akan mundur setapakpun dari agama yang dianutnya, maka ibu Sa'ad mundur dari pendiriannya dan memenuhi ajakan anaknya untuk makan bersama. Alangkah gembiranya hati Sa'ad bin Abi Waqqash. Ujian iman ternyata dapat diatasinya dengan ketabahan dan memohon pertolongan Allah. Keesokan paginya, Sa'ad pergi menuju ke rumah Nabi Saw. Sewaktu ia berada di tengah majelis Nabi Saw, turunlah firman Allah yang mendukung pendirian Sa'ad bin Abi Waqqash: "Dan Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu-bapakmu; hanya kepada-Ku-lah tempat kamu kembali. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu turuti keduanya, dan bergaullah dengan keduanya didunia dengan baik dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku , kemudian hanya kepada-kulah tempat kembalimu. Maka Kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan ". (QS Luqman: 14-15) III.Singa yang menyembunyikan kukunya dan Anggota surga Demikianlah, keimanan Sa'ad bin Abi Waqqash kepada Allah dan Rasul-Nya telah mendapat keridhaan Ilahi. Al-Qur'an telah mengabadikan peristiwa itu menjadi pedoman buat kaum Muslimin. Terkadang Sa'ad mencucurkan air matanya apabila ia sedang berada di dekat Nabi Saw. Ia adalah seorang sahabat Rasul Allah Saw, yang diterima amal ibadahnya dan diberi nikmat dengan doa Rasul Allah Saw, agar doanya kepada Allah dikabulkan. Bila Sa'ad bermohon diberi kemenangan oleh Allah pastilah Allah akan mengabulkan doanya. Pada suatu hari, ketika Rasul Allah Saw, sedang duduk bersama para sahabat, tiba-tiba ia menatap ke langit seolah mendengar bisikan malaikat. Kemudian Rasul kembali menatap kepada sahabatnya dengan berkata: "Sekarang akan ada di depan kalian seorang laki-laki dari penduduk surga". Mendengar ucapan Rasul Allah Saw, para sahabat menengok ke kanan dan ke kiri pada setiap arah, untuk melihat siapakah gerangan lelaki berbahagia yang menjadi penduduk surga. Tidak lama berselang datanglah laki-laki yang ditunggu itu, dialah Sa'ad bin Abi Waqqash. Disamping terkenal sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, Sa'ad bin Abi Waqash juga terkenal karena keberaniannya dalam perang membela agama Allah. Ketika tentara muslimin lari kocar-kacir dalam perang Uhud, Rasulullah saw. tinggal di medan tempur dengan kelompok kecil tentara muslimin tidak lebih dari sepuluh orang. Satu diantaranya adalah Sa'ad bin Abi Waqqash. Sa'ad berdiri melindungi Rasulullah saw. dengan panahnya. Tidak satupun panah yang dilepaskan Sa'ad dari busur melainkan mengenai sasaran dengan jitu, dan orang musyrik yang terkena, langsung tewas seketika. Tatkala Rasulullah saw. melihat Sa'ad seorang pemanah jitu, beliau berkata memberinya semangat, "Panahlah hai Sa'ad! Ayah-ibuku menjadi jaminan bagimu ". Sa'ad bin Abi Waqqash, hampir selalu bergabung Nabi Saw dalam setiap pertempuran. IV.Doa saad selalu dikabulkan Hadits dari Qais, bahwa Sa'ad menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, "Ya Allah, kabulkanlah Sa'ad jika dia berdoa. " Setelah didoakan seperti itu, maka setiap doanya senantiasa dikabulkan oleh Allah. Hadits dari Jabir bin Samurah, dia berkata, "Suatu ketika penduduk Mekkah mengadukan Sa'ad bin Abi Waqqash kepada Umar bin Khattab, mereka mengatakan bahwa shalatnya tidak baik. Sa'ad kemudian membantah, 'Aku mengerjakan shalat sesuai dengan shalatnya Rasulullah saw. Shalatku pada waktu isya, aku lakukan dengan lama pada dua rakaat pertama sedangkan pada dua rakaat terakhir aku lakukan dengan singkat. ' Mendengar itu Umar bin Khattab berkata, "Berarti itu hanya prasangka terhadapmu wahai Abu Ishaq. ' Dia kemudian mengutus beberapa orang untuk bertanya tentang dirinya di Kufah, ternyata ketika mereka mendatangi masjid-masjid di Kuffah, mereka mendapat informasi yang baik, sampai ketika mereka datang ke masjid Bani Isa, seorang pria bernama Abu Sa'dah berkata, 'Demi Allah, dia tidak adil dalam menetapkan hukum, tidak membagi secara adil dan tidak berjalan (untuk melakukan pemeriksaan) di waktu malam. Setelah itu Sa'ad bin Abi Waqqash berkata, 'Ya Allah, jika dia bohong maka butakanlah matanya, panjangkanlah usianya dan timpakanlah fitnah kepadanya.' " Abdul Malik berkata, "Pada saat itu aku melihat Abu Sa'dah menderita penyakit tuli dan jika ditanya bagaimana keadaanmu, dia menjawab, 'Orang tua yang terkena fitnah, aku terkutuk oleh doa Sa'ad. "(HR. Muttafaq' Alaihi). Hadits dari Ibnu Al Musayyib, bahwa suatu ketika seorang pria mencela Ali bin Abu Thalib, Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam. Mendengar itu, Sa'ad menegurnya, "Janganlah kamu mencela sahabat-sahabatku. ' Tetapi pria itu tidak mau menerima. Setelah itu Sa'ad berdiri, lalu mengerjakan shalat dua rakaat dan berdoa. Tiba-tiba seekor unta bukhti (peranakan unta Arab dan Dakhil) muncul menyeruduk pria tersebut sampai jatuh tersungkur di atas tanah, lantas meletakkannya di antara dada dan lantai sampai akhirnya ia terbunuh. Aku melihat orang-orang mengikuti Sa'ad dan berkata, 'Selamat kamu wahai Abu Ishaq, doamu terkabulkan.' " Sejarah mencatat, hari-hari terakhir Panglima Sa'ad bin Abi Waqqash adalah ketika ia memasuki usia delapan puluh tahun. Dalam kondisi sakit Sa'ad bin Abi Waqqash berpesan kepada para sahabatnya, agar ia dikafani dengan Jubah yang digunakannya dalam perang Badr, sebagai perang kemenangan pertama untuk kaum muslimin. Pahlawan perkasa yang telah menghembuskan nafas yang terakhir dengan meningalkan kenangan indah dan nama yang harum. Ada dua hal penting yang dikenang orang tentang kesatriaannya. Pertama, Sa'ad adalah orang yang pertama melepaskan anak panah dalam membela agama Allah dan juga orang yang pertama terkena panah. Dan yang kedua, Sa'ad adalah satu-satunya orang yang dijamin oleh Rasul Saw dengan jaminan kedua orang tua Nabi Saw. Ia dimakamkan di pemakaman Baqi ', makamnya para Syuhada.


Rakyat Korban Kenduri Kapitalis Asing Meski Indonesia telah merdeka dari penjajah, namun perampokan terhadap kekayaan Indonesia hingga kini masih terjadi. Bentuk penjajah model baru ini dilakukan oleh VOC baru yang berwujud korporasi asing, terutama penjajahan secara ekonomi, pelayaran, telekomunikasi, dan pertambangan, tetapi juga menjamah ke dunia pendidikan dan kesehatan. Pengamat ekonomi dari Econit Advisory Group Hendri Saparini menengarai pihak asing berusaha menguasai perekonomian Indonesia dengan cara membelokkan arah kebijakan ekonomi nasional agar penguasaan asing dapat menguras kekayaan alam di Indonesia lebih mudah. Menurut Hendri salah satu modusnya adalah dengan menyuap para pejabat dan politisi agar membuat aturan perundangan yang pro-asing. Hendri Saparini menjelaskan dengan diberlakukannya undang-undang yang pro-asing maka terjadi pembelokan arah kebijakan ekonomi di Indonesia. Menurutnya banyak UU pro-asing yang merugikan bangsa Indonesia untuk jangka panjang. Hendri menyontohkan UU No 30 tahun 2007 tentang Energi yang di dalamnya menyebutkan sektor pertambangan boleh dikuasai asing hingga 95 persen. Menurut dia, klausul tersebut harus diubah karena merugikan bangsa Indonesia untuk jangka panjang. Hendri juga menambahkan, pengusaha juga sering menyuap pejabat untuk mendapatkan izin usaha pertambangan. Hal yang menyedihkan, parahnya izin yang sudah diperoleh dengan cara menyuap, dijual lagi kepada pengusaha lain dengan harga lebih mahal. Oleh karena itu, ketika dilakukan evaluasi terhadap usaha pertambangan, ada sekitar 6.000 izin usaha pertambangan yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Senada dengan Hendri, Guru Besar Universitas Indonesia, Prof. Sri Edi Swasono mengaku prihatin atas perampokan kekayaan alam Indonesia yang hingga saat ini masih berlangsung. Justru, perampokan itu dilakukan oleh pihak-pihak yang mestinya bertanggung jawab untuk memakmurkan negeri yang kaya raya ini. Menurutnya, bagaimana mungkin sebuah lembaga wakil rakyat bisa menggolkan delapan undang-undang yang isinya menjual kekayaan negara. Pembangunan selama ini hanya pembangunan di Indonesia, bukan pembangunan Indonesia. Itu artinya, pembangunan yang terlihat gemerlap tak lebih dari pembangunan properti milik asing yang numpang di Indonesia. Dengan kata lain, Indonesia tidak menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Ia menambahkan betapa kekayaan alam negeri ini dikuras habis oleh asing. Ia mencontohkan, dalam satu tahun, 250 juta ton batubara digali dari perut bumi Indonesia. Dan hanya 65 juta ton saja yang diperuntukkan buat dalam negeri. Sisanya, dijual ke asing. Anehnya, dari sekian banyak kekayaan alam yang dikeruk, pemerintah Indonesia akan menurunkan royalti dari 13,5 persen menjadi hanya 9 persen dengan alasan memberikan daya tarik untuk datangnya investor baru. Dari tahun ke tahun, menurutnya, kebijakan pemerintah tidak pernah berubah, dan selalu anti domestik. Bagaimana mungkin Pertamina yang merupakan perusahaan milik negara bisa dikalahkan dengan Exxon di Blok Cepu. Belum lagi selama ini banyak korporasi asing yang sudah menjadi “negara di atas negara”, yang memiliki kekuasaan terhadap pemimpin, sementara rakyat tidak berhak mengetahui tentang pengelolaan Sumber Daya Indonesia yang dimiliki. Misalnya, tanpa sepengetahuan kita, Exxon mobil di Natuna membangun pipa gas di laut yang berujung di Singapura dan menjual hasil alam kita langsung ke sana. Rakyat Korban Kenduri Kapitalis Asing Asing untung, rakyat buntung bahkan hiduppun mutung. Inilah penderitaan sejadi-jadinya, realitas yang dihadapi rakyat kecil. Sementara korporasi dan pembuat kebijakan berpesta pora rakyat menjadi bancakan atau kenduri kapitalis asing, artinya rakyat hanya menjadi pesakitan disaat korporasi asing berpesta besar menguras semua kekayaan rakyat Indonesia. Bagaimana tidak, sebuah ironi terjadi di negeri yang subur dan sejatinya kaya sumber daya: Indonesia. Krisis pangan merenggut enam warga Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, sebulan terakhir ini. Enam warga yang tewas antara lain berasal dari Amanuban Timur dan Amanuban Selatan. Anggota DPRD TTS, Arifin Betty membenarkan sejumlah daerah di wilayah itu mengalami kelaparan. Di beberapa desa, stok makanan tidak ada sama sekali. Saat saya berkunjung ke desa-desa, warga mengatakan bahwa stok pangan lokal seperti pisang, kacang-kacangan maupun umbi-umbian sudah habis, kata Arifin saat dihubungi oleh media, Kamis 13 Oktober 2011. Karena putus asa, sejumlah warga bahkan mengaku berniat mencuri untuk membeli bahan makanan. Tapi tidak ada yang bisa dicuri karena hampir semua aset warga sudah dijual untuk membeli bahan makanan. Sejak Agustus 2011 lalu, sebanyak 150 desa yang tersebar di 32 kecamatan di daerah itu dilaporkan terancam rawan pangan serius. Lain halnya dengan penderitaan yang dialami oleh Munadi (60), buruh tani yang tinggal di Blok Cikuya RT 001 RW 09, tepatnya di belakang kawasan kompleks perkantoran Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, di Desa Sumber, Kecamatan Sumber, semakin lengkap. Ayah tujuh putra tersebut nyaris kehilangan semua miliknya. Munadi telah kehilangan dua anaknya beberapa tahun lalu setelah mereka sakit keras. Sepetak tanah di depan rumahnya pun digadaikan untuk pengobatan. Sayangnya, utang tak terbayar dan tanah pun telah dijual. Kini, anaknya yang lain, Mulyadi (35), menderita stres. ”Anak saya tertekan batinnya karena sembilan tahun bekerja di Pemkab Cirebon tak diangkat-angkat. Akhirnya, ia stres. Apalagi, ia pernah jatuh dari motor,” ungkap Munadi, yang juga pernah jadi pegawai honorer di kantor yang sama. Akibat stresnya itu, Mulyadi sering menyerang sang ayah sampai Munadi harus mengungsi. ”Kalau melihat saya, Mulyadi seperti memendam kebencian,” ucap Munadi dengan getir. Kegetiran hidup petani juga dirasakan Adun (40), warga Kampung Pintu Air, Desa Wadas, Kecamatan Teluk Jambe Timur, Karawang, Jawa Barat. Meskipun ia harus bekerja keras dari subuh hingga sore selama satu musim tanam atau 115 hari, sejak mulai tandur (tanam) hingga memotong, hasilnya rata-rata per hari Rp 2.000. Itulah hasil bersih setelah dikurangi biaya sebelum tanam hingga panen. Menuju Negara Pariah? Ada pepatah yang berasal dari satu negara di Eropa: “Pada saat hari mulai senja, orang kecil jadi terlihat panjang.” Peribahasa ini menggambarkan keadaan suatu masyarakat yang mengalami penurunan standar nilai dan norma, ketrampilan, dan praktik-praktik pengaturan publik yang berjalan secara berkepanjangan, sehingga apa yang sesungguhnya buruk, korup, dan tidak bermutu bisa terpakai. Anggota masyarakat mulai terbiasa dengan kemandegan, ketidakpedulian akibat dari ketidakterurusan terus-menerus (ignorance). Peribahasa tersebut rasanya tepat untuk memecut kesadaran kita atas apa yang terjadi di Indonesia. Adalah ketidakmampuan institusi negara – pemerintah, DPR, penegak hukum – tidak berfungsi sebagaimana seharusnya untuk mensejahterakan rakyat, alih-alih menjadi fasilitator menjual asset dan kekayaan negara. Pemerintah selalu mengatakan telah berhasil memperbaiki kondisi Indonesia dengan menunjuk pada angka-angka pertumbuhan. Namun, tumbuh dari apa dan apa artinya buat rakyat? Mengapa kenyataannya rakyat masih hidup dalam keadaan yang semakin sulit? Kenapa negeri ini menjadi sangat miskin, mempunyai hutang sampai Juli 2011 sebesar Rp 1.733,64 triliun? Konon utang tersebut apabila dibayarkan bunganya saja tidak akan lunas sampai pada tahun 2040. Betapa tragis nasib bangsa ini, tenggelam di antara kekayaan alam dan baru menyadari saat maut utang membelenggu.


Negeri Maling Digarong Asing Indonesia bangkrut karena korupsi dan kolonialisme. Pergantian rezim harus dilakukan secepatnya untuk menyelamatkan negeri ini. Yang tidak kalah pentingnya adalah menyiapkan sistem penggantinya. Pada akhir Mei 2009, Gerakan Pro SBY (GPS) menggelar pesta makan tempe massal di Parkir Timur Senayan, Jakarta. Acara diikuti beberapa ribu orang yang antreannya mengular sepanjang 700 meter. GPS ogah dibilang bahwa acara itu merupakan bentuk kampanye calon presiden, melainkan gerakan cinta produk dalam negeri. Ironisnya, tempe Indonesia ternyata bukan lagi 100% buatan dalam negeri. Menurut temuan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), 50% lebih tempe dan tahu yang beredar di Tanah Air merupakan hasil rekayasa genetik. "Kalau sudah rekayasa genetik, sudah pasti bahannya impor. Makanya rasa tempe dan tahu tidak seperti rasa yang dibuat dari kedelai," ungkap Ketua Umum YLKI, Sudaryatmo, dalam rapat dengar pendapat umum dengan Komisi IV DPR RI, 26 Januari 2011. Benny Kusbini, Ketua Dewan Kedelai Indonesia, mengungkapkan, produksi kedelai tahun 2010 diperkirakan hanya mencapai 700.000 ton. Padahal, kebutuhan konsumsi kedelai nasional 2,4 juta ton. Itu artinya, lebih 70% kebutuhan kedelai nasional dipasok dari luar negeri terutama Amerika. Belakangan pemerintah bahkan membebaskan bea masuk impor kedelai. Selain itu, kebangsaan tempe ternyata bukan hanya Indonesia. Amerika misalnya, sudah mematenkan tempe anti kolesterol. Sedang Jepang mematenkan tempe yang diperkaya senyawa antioksidan. Menurut praktisi bisnis Forum Umat Islam (FUI), Sudadi, fenomena tempe tersebut mencerminkan ironisme tata kelola pemerintah Indonesia. Dengan ‘’semangat 45’’, Pemerintah Indonesia menggeber jargon “100% Cinta Produk Indonesia”. Konyolnya, kata Sudadi, semboyan ini diserukan setelah Indonesia menjerumuskan diri dalam pusaran liberalisme perdagangan yang diatur kaum kapitalis dunia. Selain turut meratifikasi WTO (World Trade Organization), pemerintah juga menandatangani perjanjian perdagangan bebas antara negara-negara ASEAN dengan Korea (ASEAN Korea Free Trade Agreement/AKFTA), Australia (ASEAN Australia New Zeland FTA), ASEAN China (ACFTA), serta negara Uni Eropa dan Amerika Serikat. Akibatnya, kini pasar Indonesia telah dibanjiri produk impor baik barang maupun jasa. Asset Indonesia pun dicaploki asing. Sudadi menyebut contoh lain misalnya air mineral Aqua. ‘’Bahan baku utama Aqua adalah mata air pegunungan di Indonesia. Tapi 100 persen kepemilikan saham produsennya adalah perusahaan Prancis Danone,’’ bebernya. Demikian juga rokok Djisamsoe. Produsen rokok ini, PT HM Sampoerna, memang berada di Sidoarjo, Jawa Timur. Tapi, seluruh saham PT HM Sampoerna dimiliki PT Philip Morris Internasional, Amerika Serikat. Produk-produk legendaris nasional juga sudah milik asing, seperti Kecap ABC yang 65% sahamnya dikuasai HJ Henz dari Amerika, lalu teh Sari Wangi dan Kecap Bango yang 100% dikuasai Unilever, Inggris. Semen Tiga Roda bikinan Indocement maupun Semen Gresik, semuanya sudah dikuasai asing. Indocement dipegang Heidelberg Jerman, sedangkan Semen Gresik oleh Cemex Meksiko. Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Hadi Soesastro (Globalization: Challenge for Indonesia) pernah mengatakan, kebijakan pemerintah Indonesia menghadapi globalisasi tidak didasarkan pada pertimbangan ideologis, tapi pragmatis. Akibatnya, Indonesia tergilas arus globalisasi, hanya menjadi tukang jahit dan buruh. Sedang penguasa Indonesia, lebih suka menjadi pemburu rente atau komisi. Sumberdaya Alam Nusantara yang kaya raya, dipasrahkan pada asing. Sebuah harian nasional membeberkan, pada sektor pertambangan, penguasaan asing mencapai 75%. Pada industri minyak, 75% pengelolaannya adalah modal asing, melibatkan 16 perusahaan asing sebagai operator. Pada industri batu bara, ada perusahaan pengelola yang sahamnya antara 55% dan 100%. Pada sektor perbankan, konsentrasi kepemilikan asing juga makin meningkat, dari 47,02% pada 2008 menjadi 50,06% pada 2010. Di sektor jasa telekomunikasi, penguasaan asing juga besar. Yang ”terendah” adalah pada Smart Fren Telecom yakni 23,9%, kemudian Telkomsel 35%, Hutchinson 60 %, Indosat 70,14%, XL Axiata 80 %, dan Natrindo 95 %. Pada sektor agroindustri terdapat beberapa perusahaan yang menguasai produk yang familiar bagi konsumen nasional. Amien Rais dalam bukunya yang berjudul ‘’Agenda Mendesak Bangsa, Selamatkan Indonesia!’’, menyebut keputusan politik dan undang-undang selama ini lebih menguntungkan kepentingan luar dan merugikan kepentingan bangsa sendiri. Sampai sekarang, setidaknya berlaku 118 undang-undang yang tak berpihak pada kepentingan rakyat banyak. Hal ini diungkap anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi PDI Perjuangan, Eva Kusuma Sundari, tahun 2010. ‘’Kita bodoh-bodoh saja membuat undang-undang yang merugikan,” ujar Eva waktu itu. Bahkan, 76 dari UU itu langsung diintervensi oleh asing. "Pasca reformasi, berdasarkan hasil laporan BIN, 76 UU kita dikonsep oleh konsultan asing," beber Eva. Ke-76 legislasi usulan pemerintah yang akhirnya diundangkan itu misalnya UU Migas, Kelistrikan, Perbankan dan Keuangan, Pertanian, Penanaman Modal, UU Sumber Daya Air, UU Pendidikan Nasional, UU BUMN, serta UU Pemilu. Mantan Presiden BJ Habibie, dalam pidatonya pada peringatan Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni di Gedung MPR, menyatakan, pengalihan kekayaan alam Indonesia ke pihak asing di era globalisasi ini merupakan bentuk kolonialisme VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) gaya baru. Hasilnya, “Indonesia kini dikuasai oleh asing, kekuasaan ekonomi apalagi. Saham saham penting milik negara dan sumber daya alam sudah lebih dari setengah telah beralih kepemilikan oleh koorporasi asing,” simpul Kwik Kian Gie. Menurut perhitungannya, kekuatan ekonomi Indonesia saat ini tak lebih dari 2 hingga 8 persen saja. Itu pun banyak yang dicaploki koruptor lokal. Menurut Indonesia Corruption Watch (ICW), birokrasi kementrian memang salah satu ‘’trio macan’’ korupsi. “Menurut kajian kami yang menjadi sumber pokok korupsi politik ada pada politikus, pengusaha, dan birokrat. Mereka menjadi trio macan korupsi,” papar Kepala Divisi Monitoring Pelayanan Publik ICW, Ade Irawan, dalam diskusi bertajuk ‘Indonesiaku Dibelenggu Koruptor’ di Jakarta Selatan, Sabtu (4/6/2011). ‘’Demokrasi ternyata gagal menghasilkan kepala daerah yang jujur, bersih, dan tahu malu,” demikian kutipan editorial Media Indonesia edisi 10/1/2011. Sepanjang 2010, tercatat 148 dari 244 kepala daerah menjadi tersangka, umumnya terlibat kasus korupsi. Bahkan sebagian dari pemenang Pilkada 2010 berstatus tersangka dan meringkuk di penjara. Misalnya, Jefferson Soleiman Montesqiu Rumajar, yang terpilih menjadi Walikota Tomohon-Sulut periode 2010-2015 dan dilantik oleh Gubernur Sulawesi Utara, Sinyo Harry Sarundajang, pada rapat paripurna istimewa DPRD Tomohon, di Jakarta, Jumat (7/1). Padahal, Jefferson berstatus pesakitan. Ia dijadikan tersangka oleh KPK karena tindak pidana korupsi. Toh, tanpa urat malu, Jeferson melantik sejumlah pejabat Kota Tomohon di LP Cipinang. Di jajaran elite birokrasi pemerintahan, Koordinator Divisi Hukum dan Monitoring Peradilan ICW, Febri Diansyah, menyebut, sedikitnya 16 kementrian diduga tersangkut kasus korupsi. “Ada 16 kementerian yang patut diduga terlibat korupsi. Sebagian kementerian itu berada di era pemerintahan SBY karena SBY menjabat sejak 2004,” kata Febri dalam diskusi bertema ‘Kementerian Sarang Koruptor’ di gedung DPD RI, Jakarta, Jumat (16/9). Mengutip pejabat KPK, Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Amanat Nasional Teguh Juwarno menyatakan, kalau KPK menangkap semua koruptor, maka 60 persen pejabat eksekutif, legislatif dan yudikatif harus masuk penjara. Padahal, birokrasi pemerintahan sudah menghabiskan sebagian besar anggaran belanja negara. Menurut Deputi Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah, Max Pohan di Kantor Bappenas, 19 Juli 2010, APBN yang berjumlah Rp219 triliun (tahun 1999) sampai Rp1,200 triliun (tahun 2011) strukturnya tidak banyak berubah: sekitar 60% habis untuk anggaran rutin biaya/gaji pegawai/ pejabat,belanja barang, dan ongkos-ongkos kegiatan birokrasi lainnya; 15%-19% untuk mencicil hutang; dan 20% untuk pembangunan. Pembangunan inipun sebagian besar gedung-gedung untuk birokrasi dan lembaga negara. Sedang Badan Perencanaan Pembangunan Nasional menyebut total anggaran pemerintah daerah yang dikeluarkan untuk biaya birokrasi mencapai 70 persen dari total anggaran. Berdasarkan catatan Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Belanja pegawai pada APBN 2011 membengkak hingga 233% atau Rp 126,5 trilyun dibandingkan 2005. Peningkatan belanja ini tak berdampak positif pada layanan birokrasi. “Kita mencatat ada sekitar 10 penyebab borosnya ongkos birokrasi. Ini sekaligus menunjukkan indikasi kegagalan reformasi birokrasi. Karena itu guna memaksimalkan efisiensi anggaran, maka tak cukup hanya dengan moratorium PNS,” kata Koordinator Advokasi dan Investigasi Fitra, Uchok Sky Khadafi. Untuk menutupi tekor APBN, pemerintah getol berutang pada asing. Total utang pemerintah Indonesia hingga April 2011 mencapai Rp 1.697,44 triliun. Rincian pinjaman yang diperoleh pemerintah pusat hingga akhir April 2011 adalah: Bilateral: US$ 42,98 miliar, Multilateral: US$ 23,18 miliar; Komersial: US$ 3,21 miliar; Supplier: US$ 60 juta dan Pinjaman dalam negeri US$ 60 juta (detikfinance.com, 12/5/2011). Pemerintah juga menggadaikan negara melalu penjualan Surat Utang Negara (SUN). Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, per 5 Oktober 2011, nilai kepemilikan asing di SUN sebesar Rp 214,10 triliun atau 34%. Dalam diskusi “Mengapa Perlu Pergantian Rezim Secepatnya” di Rumah Perubahan, di Jakarta, Kamis (29/9), para tokoh kritis yang menjadi peserta sepakat, mengganti rezim pemerintahan SBY secepatnya memang harus dilakukan untuk menyelamatkan negeri ini. Para pembicara juga sepakat, perombakan kabinet sama sekali bukanlah jawaban atas masalah yang dialami Indonesia. Isu reshuffle hanyalah strategi SBY untuk menaikkan citra dirinya. Namun, Herdi Sahrasad dan kawan-kawan juga mengingatkan, yang tidak kalah pentingnya adalah menyiapkan sistem penggantinya. ‘’Demokrasi kriminal harus dihentikan secepatnya,’’ ujar pengamat politik Universitas Paramadina itu. Di bidang ekonomi, menurut Jeffrey Winters, yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah tim ekonomi yang tidak hanya bersikap ‘’go to hell’’ dengan IMF dan Bank Dunia. Tetapi juga punya rencana yang nyata dan independen agar Indonesia bisa segera loncat dari kategori negara miskin. Secara fundamental Prof Hassan Hanafi, guru besar filsafat Universitas Kairo, Mesir, pernah menyatakan, ‘’Indonesia memerlukan revolusi pemikiran. Minal 'aqidah ilal tsaurah’’ (Gatra.com, 05-06-2001). Yakni, bagaimana iman pada Allah, pada penciptaan alam, pada penciptaan manusia, pada kenabian, dan pada alam akhirat, mampu men-drive kekuatan revolusi. Lebih dari sekadar sikap nrimo pada keterbelakangan dan kezaliman. Bagaimanapun, generasi kiwari yang sudah ‘’karatan’’ dimabuk dunia, pasti akan berlalu. Seperti disebut Al Qur’an, setiap kaum atau bangsa punya umurnya sendiri (QS 7:34). Mereka akan menemui ajalnya secara sunatullah, atau bila kelakuannya sudah kelewatan Allah langsung ‘’turun tangan’’ memusnahkannya, digantikan oleh kaum yang lebih baik (QS 5:54). Seperti dialami kaum Nabi Nuh, Luth, Bangsa ‘Ad, dan Tsamud. ‘’Sungguh, kebatilan pasti musnah’’ (QS 17: 81). Menurut Profesor Quraish Shihab, kehancuran satu masyarakat tidak secara otomatis mengakibatkan kematian seluruh penduduknya. Bahkan boleh jadi mereka semua secara individual tetap hidup. Namun, kekuasaan, pandangan, dan kebijaksanaan masyarakat berubah total, digantikan oleh kekuasaan, pandangan, dan kebijakan yang berbeda dengan sebelumnya. Apa itu? Hasil survey Pusat Kajian Strategis Universitas Yordania tahun 2005 yang bertajuk “Revisiting the Arab Street”, melaporkan: dua pertiga dari responden di negara-negara Arab menyatakan bahwa Syari’at islam harus menjadi sumber legislasi tunggal, dan sepertiga sisanya merasa bahwa Syari’at Islam harus menjadi sumber hukum. Hasil senada diperoleh dari jajak pendapat Universitas Maryland di 4 negara: Maroko, Pakistan, Mesir, dan Indonesia pada April 2007. Dalam laporan berjudul ‘’Muslim Public Opinion on US Policy, Attacks on Civilians and al-Qaeda’’ tersebut dipaparkan: “Mayoritas (70%) responden mendukung penerapan Syari’at dengan ketat, menolak nilai-nilai Barat, dan bahkan menyatukan seluruh negeri Islam.”


Jaman Edan di Negeri Bedebah Berbagai kasus korupsi terjadi dari tingkat RT hingga ke pusat pemerintahan. Kalaupun diproses hukum, vonisnya teramat ringan. Negeri ini tinggal menunggu keruntuhan? “Jaman edan,” kata pujangga terakhir Mataram, Raden Ngabehi Ronggowarsito, saat menggambarkan akan datangnya massa yang penuh kerusakan, kejahatan, korupsi dan fitnah di negeri ini. Meski telah diprediksi pujangga sekaligus santri utama Kiai Haji Kasan Besari dari Pesantren Tegalsari sejak abad ke-18, kini dua abad kemudian, gambaran tentang zaman edan seolah menjadi kenyataan di negeri ini. Betapa tidak, jika kini kejahatan, kecurangan, kerusakan tatanan dan fitnah merebak di segenap penjuru negeri. Diantara berbagai kejahatan, kecurangan dan kerusakan tata nilai yang paling parah terjadi di negeri ini adalah korupsi. Maklumlah, penyakit ini telah menjangkiti seluruh lapisan masyarakat, mulai dari tingkat RT RW, kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga pemerintah pusat. Bahkan lembaga perwakilan rakyat, hamba hukum, aparat pemerintah dan pusat kekuasaan telah terjangkiti penyakit masyarakat ini dalam taraf akut. Tak heran jika dalam laporan Political and Economic Risk Consultancy 2010, Indonesia dinobatkan sebagai negara terkorup dari 16 negara Asia Pasifik. Besarnya angka korupsi memang terkait dengan strata masyarakat. Di tingkat paling rendah, korupsi berkisar pada penyelewengan iuran kampung, penyalahgunaan bantuan pedesaan, hingga kutipan atas bantuan dan sumbangan. Angkanya memang baru mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Misalnya dalam penjatahan raskin, rekayasa penerima bantuan langsung tunai (BLT) hingga penyalahgunaan bantuan desa dan kelurahan. Pada strata pemerintahan yang lebih atas, angka semakin membengkak. Menurut catatan Indonesia Corruption Watch (ICW), sampai paruh pertama 2010, sedikitnya 1.800 kasus korupsi terungkap dan melibatkan 1.243 anggota DPRD pada 2004-2009. Menurut catatan Pusat Kajian Antikorupsi Universitas Gadjah Mada, 1.891 kasus korupsi terjadi di daerah hasil pemekaran. Padahal, dalam 10 tahun terakhir telah lahir 205 daerah baru, terdiri dari 7 provinsi, 164 kabupaten, dan 34 kota. Angkanya berkisar sampai milyaran rupiah. Angka yang lebih mencengangkan tentu saja berada di ibu kota. Korupsi aparat legislatif, yudikatif, dan eksekutif konon mencapai angka ratusan milyar hingga trilyunan rupiah. Tak hanya memotong anggaran negara, mereka bahkan tega merekayasa anggaran dan menjajakannya kepada daerah agar mereka mendapat keuntungan dari proyek makelar mereka. “Rata-rata mereka meminta imbalan tujuh persen dari proyek daerah yang mereka golkan,” kata seorang fungsionaris Partai Golkar kepada Suara Islam. Praktek mafia anggaran ini juga diungkap oleh anggota Badan Anggaran DPR La Ode Nurhayati. Bahkan ia sempat mengungkapkan bahwa para pimpinan DPR terlibat dalam praktek makelar anggaran ini. Maka Ketua DPR Marzuki Alie pun sempat tersinggung. Akibatnya, La Ode Nurhayati dikucilkan dan diserang balik para sejawat anggota DPR lainnya, bahwa sebenarnya La Ode Nurhayati adalah seorang makelar anggaran. Atas permintaan Badan Kehormatan DPR, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) lalu menyidik 21 transaksi mencurigakan yang konon melibatkan La Ode Nurhayati. Ketua PPATK Yunus Husein mengaku sudah menyampaikan temuan itu ke DPR. “Ada permintaan pimpinan DPR,” kata Yunus pekan lalu. Meski permintaan ini berbau balas dendam, namun berbagai pihak sebenarnya juga telah melaporkan praktek makelar anggaran itu ke kotak pengaduan yang dibuka anggota DPD Zainal Bintang dan La Ode Ida. Kasus korupsi yang melibatkan Badan Anggaran DPR dan pihak legislatif tak sedikit. Dalam kasus terakhir seperti korupsi di Kementrian Negara Pemuda dan Olah Raga yang melibatkan Sekretaris Menteri Wafid Muharram serta korupsi di Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang melibatkan staf khusus Menteri Ali Mudhori dan Jazilul Fawaid, juga didalangi beberapa anggota Badan Anggaran, terutama bekas Bendahara Partai Demokrat M Nazaruddin. “Tidak mungkin Menteri tidak tahu sepak terjang Sekretaris Menteri dan orang dekatnya,” kata seorang mantan Sekretaris Menteri Pemuda dan Olah Raga. Seorang mantan aktifis mahasiswa dari Kelompok Cipayung bahkan mengungkapkan kenyataan bahwa sebenarnya Nazaruddin menguasai pengelolaan APBN hingga Rp 42 trilyun. “Sepuluh persen, atau 4,2 trilyun fee untuk Nazar. Sisanya dibagi-bagi secara merata ke semua fraksi, tapi Demokrat sendiri dapat 1,3 trilyun,” kata mantan aktifis mahasiswa yang kini menjadi staf khusus seorang Menteri itu. Pusat kekuasaan tentu saja tak tak kebal penyakit. Mantan Ketua MPR Amien Rais bahkan menilai pusat korupsi justru berada di Istana. “Namun tidak pernah tersentuh, mana mungkin KPK dan Kejaksaan Agung berani,” ujarnya dalam sebuah diskusi tentang evaluasi pemerintahan SBY beberapa waktu lalu. Sinyalemen Amien bukan tanpa bukti. Beberapa kasus yang melibatkan orang istana, seperti kasus penyelewengan dana pembangunan Kedubes RI di Korea Selatan, penyelewengan dana perjalanan dinas luar negeri Sekretariat Negara dan sebagainya hingga kini tak jelas juntrungannya. Belum lagi file Wikileaks yang dibongkar Koran Australia The Ages dan The Sydney Morning Herald, Maret lalu. The Age mengungkap bahwa Kristiani Herrawati dan keluarga besarnya sangat mempengaruhi SBY. TSMH bahkan menulis, karena pengaruh sang first lady di belakang layar, Kedubes Amerika Serikat menggambarkan bahwa Ani adalah “salah satu anggota kabinet” dan “penasehat utama Presiden yang tak terbantahkan.” “Dialah yang menentukan siapa yang bakal diangkat menjadi pejabat, setelah koper-koper upeti diterima,” kata seorang perwira tinggi Polri. Repotnya, para mantan aktifis pun kini ikut-ikut ketularan penyakit korupsi. Tak hanya para mantan anggota HMI seperti M Nazaruddin dan Anas Urbaningrum yang diduga bermain di tempat kotor itu, beberapa mantan aktifis PRD, aktifis mahasiswa dan buruh yang dulu getol berdemo dan anti korupsi, juga terlibat dalam skandal-skandal besar di negeri ini. “Lihat saja tongkrongan mereka sekarang, ada yang ke mana-mana pakai mobil mewah,” kata seorang mantan aktifis PRD kepada Suara Islam. Tak pelak, korupsi kian merajalela. Salah satu penyebabnya karena hukuman yang sangat ringan. Menurut catatan ICW, perkara korupsi rata-rata divonis di bawah dua tahun. Menurut laporan tahunan Mahkamah Agung pada 2010, dari total kasus yang diputus MA, 269 kasus (60,68 persen) hanya dijatuhi hukuman 1 dan 2 tahun. Sisanya, 87 kasus (19,68 persen) divonis 3-5 tahun. Hanya 13 kasus (2,94 persen) divonis 6-10 tahun. Adapun yang dihukum lebih dari 10 tahun hanya dua kasus atau 0,45 persen. Kenyataan ini sangat bertolak belakang dengan vonis yang dijatuhkan kepada para tersangka teroris. Mereka umumnya dijatuhi hukuman maksimal sampai 10 tahun lebih. Padahal kerusakan yang ditimbulkan korupsi bisa lebih buruk dari sekadar ledakan bom low eksplosif. "Tersangka teroris tidak mungkin 'bermain' membeli hukum. Sementara tersangka koruptor dari mulai penyusunan dakwaan atau tuntutan sudah bermain," kata Anggota Komisi III Bambang Soesatyo. Karena vonis yang ringan itulah para koruptor tak pernah jera. Penjara justru jadi tempat untuk belajar korupsi yang lebih canggih. Apalagi mereka ditahan di penjara yang penuh fasilitas. Di rutan koruptor di Cipinang, Jakarta Timur misalnya ada ratusan anggota DPR, Bupati dan Gubernur, Menteri dan Eselon 1 dan 2. Namun mereka justru mendapat kemudahan mulai dari menggelar rapat perusahaan mingguan, menu makanan dari restoran mewah, hingga urusan cewek. “Tentu saja mereka harus bayar ke LP, rata-rata 25 sampai 100 juta,” kata seorang sumber Suara Islam. Korupsi bukan uruan besar kecilnya angka yang dirampok. Sebab, dampak korupsi jauh lebih parah dibandingkan sekadar pencurian uang. Apalagi korupsi di tingkat struktural, kelembagaan, dan individual sering kali mengabaikan keselamatan manusia, dan ruang hidupnya dari kepengurusan publik. “Kalau koruptor hanya mendapat hukuman ringan, korupsi bakal terus menggila dari lingkaran istana sampai ke desa-desa,” kata Ray Rangkuti, aktivis antikorupsi. Nah, jika hukum positif bikinan Barat tak bisa menyelesaikan masalah korupsi, Insya Allah hukum Islam akan mengikis penyakit akut Indonesia di jaman edan ini.


CENTURY CONECTION: KISRUH KPK-POLRI-KEJAKSAAN Kotak Pandora itu akhirnya terbuka sudah. Rekayasa dalam proses pembuatan BAP yang selama ini tertutup rapat akhirnya terang benderang menjadi konsumsi publik. Selama ini masyarakat hanya mendengar rumor semata perihal proses pembuatan BAP yang penuh rekayasa. Bagi orang awam, prosedur hukum dan proses hukum yang terjadi di kantor polisi dan kejaksaan adalah misteri dan hantu yang menakutkan. Bahkan seorang perwira menengah kepolisian dan pernah menjabat sebagai Kepala Polres, bisa dengan mudahnya ditelikung oleh korpsnya sendiri dalam proses pembuatan BAP. Dalam persidangan yang dilaksanakan di PN Jaksel, Selasa (10/11), Williardi mengatakan ia didatangi Direktur Reskrim, Wadir Reskrim serta beberapa Kepala Satuan Polda Metro Jaya yang menyatakan bahwa Antasari Azhar adalah sasaran pihak kepolisian. Rekayasa itu bermula saat ia dijemput pada satu hari dari rumahnya ke kantor polisi pukul 00.30. Pada dini hari itu Williardi didatangi dan diperiksa Direktur Reserse Kepolisian Daerah Metro Jaya, Wakil Direktur Reserse, dan tiga orang kepala satuan. Menurut Williardi, para petinggi polri memintanya membuat BAP yang harus menjerat Antasari sebagai pelaku utama pembunuhan Nasrudin. “Waktu itu dikondisikan sasaran kita cuman Antasari. (Lalu BAP saya) disamakan dengan BAP Sigid (Haryo Wibisono), dibacakan kepada saya,” ujar Williardi tanpa wajah takut. Dalam kesaksian berikutnya, Williardi pun menyebut nama Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Irjen Adiatmoko. Menurut dia, Adiatmoko juga memintanya membuat BAP demi kepentingan menjebloskan Antasari. BAP yang dibuat Williardi pada tanggal 29-30 April ditolak penyidik karena Antasari tidak tersangkut. “Udah bikin apa saja yang terbaik untuk menjerat Pak Antasari. Dijamin besok pulang. Kami dijamin oleh pimpinan Polri tidak akan ditahan. Paling sanksi indisipliner,” kata Williardi mengulang perkataan Adiatmoko. Karena jaminan itu, lanjut Williardi, ia bersedia menandatangani BAP yang sudah dibuat penyidik. Namun, yang terjadi keesokan harinya dalam berita televisi, Williardi diplot polisi sebagai salah satu pelaku pembunuhan Nasrudin. Ia pun protes kepada Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Muhammad Iriawan yang turut memeriksanya. “Janji mana? Tolong diklarifikasi. Kami tidak sejahat itu,” ujar Williardi. Protes Willardi ini menuai reaksi dari teman sejawatnya. Kembali ia dijemput Brigjen (Pol) Irawan Dahlan dan langsung dibawa ke kantor Adiatmoko. Sambil minum kopi, ia ditanya apakah kenal dengan Edo, Jerry Hermawan Lo, Antasari Azhar, dan Sigid Haryo Wibisono. Ia juga ditanya apakah pernah menyerahkan uang Rp 500 juta kepada Edo dari Sigid. Williardi mengiyakan semua pertanyaan, tanpa tahu ia sedang disidik. Mendengar pengakuan Williardi, Adiatmoko meminta bawahannya untuk langsung menahan Williardi. “Lho kok cuma nyerahin uang ditahan?” ujar Williardi kepada Adiatmoko. Sejak saat itu sampai sekarang Williardi mendekam dalam tahanan. Ia memutuskan mencabut keterangannya di BAP karena apa yang ia katakan telah dibuat oleh penyidik, dan ia tinggal tanda tangan. Alasan lain, pihak penyidik tidak memenuhi janjinya untuk tidak menahannya jika menurut pada penyidik. Penahanan terhadap Wiliiardi ini kemudian berlanjut ke penahanan terhadap Ketua KPK Antasari Azhar dalam kasus pembunuhan. Bermula dari proses hukum terhadap Antasari inilah, kemudian muncul kasus Bibit-Chandra yang dituduh melakukan penyalahgunaan wewenang, menerima suap dan memeras. Lagi-lagi, BAP yang dijadikan dasar untuk melakukan proses hukum terhadap Bibit-Chandra adalah Bap yang dihasilkan dari proses yang direkayasa. Informasi berupa pengakuan Anggoro kepada Antasari di Singapura kemudian dijadikan laporan awal bagi Polisi untuk menjerumuskan Bibit-Chandra ke sel tahanan. Untuk memuluskan rekayasa dalam menjerumuskan Bibit-Chandra ini, Polisi kemudian meminta Ary Muladi, seorang makelar kasus, membuat Bap seolah-olah ia menyerahkan uang kepada Bibit-Chandra. Sungguh diluar perkiraan Polisi, belakangan hari Ary Muladi mencabut keterangan dalam BAP tersebut dan mengungkapkan bahwa dirinya diancam bila mencabut BAP tersebut. Benang kusut yang terjadi dalam kasus KPK versus Polri perlu dilihat secara menyeluruh. Konstruksi konflik antara dua lembaga ini, bukan semata persoalan yang bersifat yuridis, akan tetapi lebih merupakan skandal politik. Pendekatan komprehensif dalam melihat konflik yang terjadi antara KPK dan Polri plus Kejaksaan akan sangat membantu kita memahami persoalan tersebut dengan lebih utuh. Dan yang penting diingat, kita jangan terjebak untuk melakukan penilaian yang bersifat personal atas karakter individu yang ditempatkan sebagai victim dalam konflik ini. Dari kacamata yuridis, fakta hukum dan dasar hukum yang dijadikan alasan oleh Polri untuk memproses kasus Bibit-Chandra masih banyak kelemahan dan kekurangan. Dari segi fakta hukum, rangkaian peristiwa yang dijadikan fakta oleh Polri banyak missing link. Bila kita lihat secara kronologi, peristiwa pokok yang dijadikan Polri sebagai fakta untuk memproses kasus ini ada 2 peristiwa, yaitu : (1) Pencekalan yang dilakukan oleh KPK terhadap Anggoro dan Joko Chandra, ini yang disebut Polri sebagai penyalahgunaan wewenang, dan (2) Aliran uang dari pihak Anggodo kepada Bibit dan Chandra. Terhadap peristiwa pertama, yaitu tuduhan penyalahgunaan wewenang, maka Polri tidak punya kewenangan untuk mempersoalkan hal tersebut. Karena Polri bukanlah lembaga yang diberikan wewenang oleh Undang-Undang untuk mengawasi KPK, justru sebaliknya, KPK adalah lembaga yang diberi mandat oleh UU untuk mensupervisi Polri dan Kejaksaan dalam menjalankan kewenangannya. Terhadap peristiwa kedua, mengenai tuduhan adanya aliran uang dari pihak Anggodo kepada Bibit-Chandra, maka sebagaimana kita saksikan berdasarkan pengakuan Ary Muladi sebagai pihak yang menyalurkan dana, dia tidak pernah memberikan uang tersebut secara langsung kepada Bibit ataupun Chandra. Bahkan menurut pengakuan Ary Muladi, uang tersebut diserahkan kepada orang yang bernama Yulianto dan menurut keterangan Yulianto kepada Ary Muladi, uang tersebut diserahkan kepada M Jassin. Bila berdasarkan keterangan Yulianto tersebut, maka menjadi keanehan besar bila Polri justru menjadikan Bibit-Chandra sebagai tersangka. Oleh karenanya dari segi yuridis formil maka sesungguhnya tidak ada kasus yang perlu diusut dan diproses oleh Polri terkait KPK dan personilnya. Lebih lanjut, kita perlu melihat dari pendekatan politis. Bila kita lihat secara kronologis politis, kasus KPK terkuak, bermula dari testemony Antasari. Dalam testemony tersebut ternyata belakangan Antasari menyatakan bahwa informasi yang didapatkannya tersebut baru merupakan pengakuan sepihak dari Anggoro. Akan tetapi pihak Polri memaksakan informasi tersebut untuk dijadikan dasar laporan polisi untuk memproses kasus KPK. Dari segi strategi penanganan perkara, maka posisi Antasari membuat testemony tersebut dalam keadaan tertekan, karena Antasari berstatus sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan. Yang menarik adalah, kasus pembunuhan yang melibatkan Antasari ini bermula dari jebakan terhadap diri Antasari melalui seorang perempuan yang diumpankan oleh suaminya sendiri. Belakangan, berdasarkan pengakuan saksi Williardi, ternyata Antasari memang sejak awal dijadikan target oleh Polri untuk dijadikan tersangka dalam kasus pembunuhan. Yang menarik adalah, simpul dari benang kusut perseteruan KPK – Polri dan rekayasa kasus Antasari ini adalah sebuah mega skandal yang tengah diusut oleh KPK yaitu Skandal Bank Century. Perlu diketahui bersama bahwa Skandal Bank Century ini adalah skandal yang melibatkan secara langsung RI-2 pada saat dia menjadi Gubuernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan, dimana peran mereka berdua dalam persetujuan untuk memberikan bailout kepada Bank Century sangat vital. Berdasarkan hasil audit sementara BPK, bahwa rapat Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) yang diketuai oleh Menteri Keuangan, berlangsung semalam suntuk, yaitu dimulai dari pukul 23.00 wib 20 November 2008 hingga 04.00 wib keesokan harinya dengan rekomendasi untuk menutup Bank Century, akan tetapi ketika Gubernur BI dan Menkeu datang ketempat rapat pada pukul 04.30 wib 21 November 2008 dan melanjutkan rapat KSSK, maka akhirnya KSSK setuju memberikan dana bailout kepada Bank Century. Dan secara teknis keperluan dana untuk memulihkan neraca Bank Century dari minus 3,5% menjadi positif 8% hanya diperlukan dana sebesar Rp.600-an milyar, akan tetapi dalam proses berikutnya dana bailout ini membengkak menjadi Rp.6,7 Triliyun. Diduga kuat dana bailout ini digunakan untuk mengganti dana nasabah kakap Bank Century yang merupakan lingkaran dekat penguasa dan juga diduga digunakan untuk kegiatan politik yang melibatkan penguasa. Oleh karena KPK terus menyelidiki skandal Bank Century ini, maka membuat penguasa republik ini khawatir akan terungkapnya skandal ini. Untuk menutup mulut KPK agar tidak menyelidiki Skandal Bank Century, maka secara politik dibuat skenario untuk melumpuhkan KPK dengan kriminalisasi pimpinan KPK. Tentu kita masih ingat bahwa sebelum proses Pilpres, Presiden mengeluarkan statemen yang dikutip semua media, bahwa "di republik ini tidak boleh ada lembaga yang bersifat super body dan memiliki kewenangan tanpa batas". Pernyataan Presiden yang dikeluarkan menjelang Pilpres ini terkait dengan dimulainya proses hukum terhadap Antasari yang mengungkap juga rekaman pembicaraan yang dilakukan oleh KPK terhadap Rhani dan Nasrudin. Merespon pernyataan Presiden ini, maka dengan sigap BPKP langsung bertindak melakukan audit terhadap KPK. Akan tetapi karena KPK telah diaudit oleh BPK, dan BPKP tidak memiliki kewenangan untuk melakukan audit terhadap KPK, maka rencana ini gagal. Maka dibuatlah sebuah skenario baru, yaitu dengan memunculkan kasus penyalahgunaan wewenang, penyuapan dan pemerasan terhadap personil pimpinan KPK. Ceritanya berawal dari pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat bertemu dengan pimpinan Harian Kompas (24/6). Saat itu, SBY ditanya tentang penegakan hukum dan pemberantasan korupsi dan bagaimana jika UU Tipikor tidak hadir sebelum 19 Desember dan masa depan KPK. Dari sekian banyak jawabannya itu, SBY menyatakan, "Terkait KPK, saya wanti-wanti benar `power must not go unchecked`. KPK ini sudah `powerholder` yang luar biasa. Pertanggungjawabannya hanya kepada Allah. Hati-hati". Pernyataan ini kemudian dimuat Harian Kompas pada terbitan 25 Juni. Sehari setelah pernyataan SBY ini, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) menyatakan akan mengaudit kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dari penggunaan keuangan yang bersumber dari negara yang meliputi penggunaan keuangan langsung dan manfaat peralatan kerja yang dibeli. "Apalagi saat ini sedang ramai kontroversi soal penyadapan telepon yang dilakukan oleh KPK. Jangan sampai lembaga yang seharusnya bekerja secara profesional ini juga masuk ke wilayah politik," kata Ketua BPKP Didi Widayadi di Jakarta (25/6). Menurut dia, audit BPKP terhahap KPK ini adalah perintah tak tertulis dari Presiden. Apalagi Presiden sudah mewanti-wanti keberadaan lembaga KPK yang dinilai sebagai lembaga yang tidak terkontrol dan bisa berbahaya. Pernyataan SBY dan niat BPKP mengaudit KPK itu kemudian menjadi polemik dan menuai kecaman dari banyak kalangan. Pasalnya, BPKP tak mempunyai kewenangan untuk melakukan audit terhadap KPK. Lembaga tersebut adalah pengawas internal yang berada di bawah eksekutif, tetapi dalam melakukan tugasnya atas permintaan kepala instansi di bawah eksekutif. Melihat hal ini, pengamat Hukum Tata Negara yang juga aktivis antikorupsi, Saldi Isra, mengatakan, Didi harus membuka, dari mana mendapatkan perintah tersebut. "Didi Widayadi harus terbuka, siapa yang memerintahkan dia. BPKP itu lembaga tinggi negara yang tidak mungkin bekerja kalau tidak ada yang mengorder. Yang harus dicari, siapa yang mengorder?" ujar Saldi, pada sebuah diskusi mingguan, di Jakarta, Sabtu (27/6). Tindakan BPKP, menurutnya, sangat janggal dan patut diusut latar belakangnya. KPK, sudah berdiri sejak 2003. Selama ini, audit sudah dilakukan lembaga yang berwenang, yaitu BPK. "Lalu, kenapa BPKP baru muncul saat ini dan mau melakukan audit, apalagi katanya ada perintah presiden, meski kemudian dibantah. Didi harus menjelaskan, kalau bukan presiden, siapa yang menyampaikan perintah itu. Kalau tidak, berarti dia punya skenario sendiri dan itu bahaya sekali," ujarnya. Sekadar informasi, sebelumnya, BPKP sudah meminta untuk menarik orang-orang BPKP yang ada di KPK. Namun, permintaan ini tidak begitu saja diloloskan karena harus memenuhi sejumlah syarat. Sedangkan penasihat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abdullah Hehamahua menilai, KPK tidak sepenuhnya memiliki kekuasaan yang sangat besar. Abdullah mencontohkan, untuk melakukan penggeledahan, KPK juga tak bisa bertindak semaunya dan harus mengantongi izin. Ia juga menyatakan keheranannya atas pernyataan Didi Widayadi, yang mengaku mendapatkan perintah dari Presiden untuk mengaudit KPK. Padahal, BPKP tidak memiliki wewenang untuk mengaudit lembaga pemberantasan korupsi tersebut. Pendapat senada diungkapkan Guru Besar Hukum UI Hikmahanto Juwana. Menurutnya masih ada lembaga yang lebih superbody yaitu Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Dalam lembaga itu semua fungsi polisi, penuntutan dan pengadilan ada di sana. KPK hanya menggabungkan fungsi polisi dan kejaksaan saja sedangkan fungsi peradilan ada di Tipikor. Sehingga KPK tidak super secara struktural. Ia juga menambahkan kalau kontrol terhadap KPK itu tetap ada, bisa dilakukan DPR, pers dan masyarakat. Sedangkan Koordinator Badan Pekerja Indonesian Corruption Watch (ICW) Danang Widoyoko, Minggu (28/6), mengatakan, bila memang audit ini dilakukan BPKP terhadap KPK setelah pernyataan kontroversial Presiden, ini menunjukkan SBY tak mendukung upaya pemberantasan korupsi di negeri ini. "Audit yang akan dilakukan oleh BPKP tidak lepas dari kebijakan Presiden untuk mengontrol dan mengurangi kewenangan KPK sebagai lembaga independen yang tidak berada di bawah eksekutif," katanya. Bila kita perhatikan secara cermat, jelas terlihat rangkaian antara kasus Antasari, kasus Bibit-Chandra dan kasus bank Century yang melibatkan sang mastermind. Tidaklah mungkin Kapolri, Kejaksaan, Kepala BPKP yang notabene birokrat semata, berani menggunakan kekuasaan secara sembrono tanpa ada back up dari kekuasaan yang ada diatasnya. Dan terbukti sekarang ini, bahwa baik kasus penyalahgunaan wewenang, penyuapan maupun pemerasan, tidak memiliki bukti yang kuat untuk dijadikan dasar bagi proses hukum terhadap pimpinan KPK. Bahkan kasus pembunuhan yang dituduhkan kepada Antasari juga merupakan skenario yang telah disiapkan oleh pimpinan Polri, sebagaimana pengakuan Williardi Wizard. Dari kacamata Islam, apa yang terjadi sekarang ini adalah akibat dari kebohongan yang terus menerus diproduksi oleh kekuasaan. Pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh pelaku terorisme dan berbagai rekayasa dalam kasus terorisme menggunakan cara kerja yang sama persis dengan apa yang terjadi dalam kasus Bibit-Chandra dan Antasari. Akan tetapi rekayasa dan sandiwara yang terjadi dalam drama kasus terorisme tenggelam dalam puja dan puji terhadap Polisi dan Presiden. Begitu juga dengan citra sebagai presiden yang memberantas korupsi, dalam kenyataanya, indeks pemberantasan korupsi di Indonesia justru menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Maka aroma busuk dari skandal Bank Century, Kriminalisasi KPK, dan rekayasa kasus pembunuhan terhadap Antasari ini melibatkan sang mastermind yang berlindung dibalik citra dan image, demi memperoleh kekuaasaan mutlak. Masihkah umat Islam percaya pada sistem zholim yang ada...?


ANDA INGIN SEMBUH? Bersedekahlah! Pada zaman ini berbagai penyakit semakin menyebar dan banyak macamnya. Bahkan beberapa penyakit tidak bisa ditangani oleh dokter dan belum ditemukan obatnya, seperti Aids (HIV) dan semisalnya, meskipun sebenarnya obat penyakit tersebut ada. Allah Ta'ala tidak menciptakan suatu penyakit, melainkan ada obatnya. Namun obat tersebut belum diketahui, karena suatu hikmah tertentu yang dikehendaki oleh Allah Ta'ala. Salah satu penyebab utama banyaknya penyakit adalah merebaknya kemaksiatan yang dilakukan dengan terang-terangan tanpa malu. Kemaksiatan yang menyebar di tengah masyarakat dapat membinasakan mereka. Allah Ta'ala berfirman yang artinya, "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri". (QS. asy-Syura: 30). Di antara hikmah penyakit yang diderita seorang hamba adalah sebagai ujian dari Allah SWT kepadanya. Dunia merupakan tempat berseminya berbagai musibah, kesedihan, kepedihan, dan penyakit. Ketika saya melihat orang sakit bergulat dengan rasa sakitnya dan menyaksikan orang yang membutuhkan pertolongan dengan menahan rasa perihnya, mereka telah melakukan berbagai macam ikhtiar namun mereka melewatkan sebab penyembuhan yang hakekatnya dari Allah ' Azza wa Jalla, maka saya tergerak menulis risalah ini untuk semua orang yang sedang sakit, agar rasa duka dan sedihnya lenyap, dan penyakitnya dapat terobati (insya Allah). Ya Anda yang sedang sakit menahan lara, yang sedang gelisah menanggung duka, yang tertimpa musibah dan bala, semoga keselamatan selalu tercurah kepadamu, sebanyak kesedihan yang menimpamu, sebanyak duka nestapa yang kau rasakan. penyakitmu telah memutuskan hubunganmu dengan manusia, menggantikan kesehatanmu dengan penderitaan. Orang lain bisa tertawa sedang engkau menangis. Sakitmu tidak kunjung reda, tidurmu tidak nyenyak, engkau berharap kesembuhan walau harus membayar dengan semua yang engkau punya. Saudaraku yang sedang sakit! Saya tidak ingin memperparah lukamu, namun saya akan memberimu obat mujarab dan membuatmu terlepas dari derita yang menahun. Obat ini didapat dari sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, "Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah". (HR. Abu Dawud, dihasankan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami '). Benar saudaraku, obatnya adalah sedekah dengan niat mencari kesembuhan. Mungkin engkau telah banyak sedekah, namun tidak engkau niatkan agar Allah Ta'ala menyembuhkanmu dari penyakit. Cobalah sekarang dan hendaknya engkau yakin bahwasanya Allah Ta'ala akan menyembuhkanmu. Berilah makan orang fakir, atau tanggunglah beban anak yatim, atau wakafkanlah hartamu, atau keluarkanlah sedekah jariahmu. Sungguh sedekah dapat menghilangkan penyakit dan kesulitan, musibah atau cobaan. Mereka yang diberi taufik oleh Allah Ta'ala telah mencoba resep ini. Akhirnya mereka mendapatkan obat ruhiyah yang lebih mujarab dari obat jasmani. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga mengobati dengan obat ruhiyah sekaligus obat ilahiyah. Para salafush shalih juga mengeluarkan sedekah yang sepadan dengan penyakit dan musibah yang menimpa mereka. Mereka mengeluarkan harta mereka yang paling mereka cintai. Jangan kikir untuk dirimu sendiri, jika engkau memang memiliki harta dan fasilitas. Inilah kesempatannya telah datang! Dikisahkan bahwa Abdullah bin Mubarak pernah ditanya oleh seorang laki-laki pada penyakit yang menimpa lututnya semenjak tujuh tahun. Ia telah mengobati lututnya dengan berbagai macam obat. Ia telah bertanya kepada para dokter, namun tidak menghasilkan apa-apa. Ibnu al-Mubarak pun berkata kepadanya, "Pergi dan Galilah sumur, karena manusia sedang membutuhkan air. Saya harap akan ada mata air dalam sumur yang engkau gali dan dapat menyembuhkan sakit di lututmu. Laki-laki itu lalu menggali sumur dan ia pun sembuh ". (Kisah ini terdapat dalam "Shahih at-Targhib"). Kisah lain, orang yang mengalami peristiwa ini menceritakan kepadaku, "Anak perempuan saya yang masih kecil menderita penyakit di tenggorokan. Saya membawanya ke beberapa rumah sakit. Saya menceritakan panyakitnya ke banyak dokter, namun tidak ada hasilnya. Dia belum juga sembuh, bahkan sakitnya bertambah parah. Hampir saja saya ikut jatuh sakit karena sakit anak perempuan saya yang mengundang iba semua keluarga. Akhirnya dokter memberinya suntikan untuk mengurangi rasa sakit, sampai kami putus asa dari semuanya kecuali dari rahmat Allah Ta'ala. Hal itu bertahan sampai datangnya sebuah harapan dan dibukanya pintu kelapangan. Seorang shalih menghubungi saya dan menyampaikan sebuah hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, "Obatilah orang sakit di antara kalian dengan sedekah". (HR. Abu Dawud, dihasankan oleh al-Albani). Saya berkata, "Saya telah banyak bersedekah". Ia pun menjawab, "Bersedekahlah kali ini dengan niat untuk kesembuhan anak perempuanmu". Saya pun mengeluarkan sedekah sekedarnya untuk seorang fakir, namun tidak ada perubahan. Saya kemudian mengabarinya dan ia berkata, "Engkau adalah orang yang banyak mendapatkan nikmat dan karunia Allah Ta'ala, bersedekahlah sebanding dengan banyaknya hartamu". Saya pun pergi pada kesempatan kedua, saya penuhi isi mobil saya dengan beras, ayam dan bahan-bahan sembako dan makanan lainnya dengan menghabiskan uang yang cukup banyak. Saya lalu membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan dan mereka senang dengan sedekah saya. Demi Allah saya tidak pernah menyangka bahwa setelah saya mengeluarkan sedekah itu, anak saya tidak perlu disuntik lagi, anak saya sembuh total, walhamdulillah. Saya yakin bahwa faktor (yang menjadi seba paling besar yang dapat menyembuhkan penyakit adalah sedekah. Sekarang sudah berlalu tiga tahun, ia tidak merasakan penyakit apapun. Sejak itu saya banyak mengeluarkan sedekah khususnya berupa wakaf. Setiap saat saya merasakan hidup penuh kenikmatan, keberkahan, dan sehat sejahtera baik pada diri pribadi maupun keluarga saya. Saya mewasiatkan kepada semua orang sakit agar bersedekah dengan harta mereka yang paling mereka cintai, dan mengeluarkan sedekah terus menerus, niscaya Allah Ta'ala akan menyembuhkannya walaupun hanya sebagian penyakit. Saya yakin kepada Allah Ta ' ala dengan apa yang saya ceritakan. Sungguh Allah Ta'ala tidak melalaikan balasan untuk orang yang berbuat baik. Marilah saudaraku, pintu telah terbuka, tanda kesembuhan telah tampak di depanmu, bersedekahlah dengan sungguh-sungguh dan percayalah kepada Allah Ta'ala. Jangan seperti orang yang melalaikan resep yang mujarab ini, hingga ia tidak mengeluarkan sebagian hartanya untuk bersedekah lagi. Padahal bertahun-tahun ia menderita sakit dan mondar-mandir ke dokter untuk mengobati panyakitnya, dengan merogoh banyak uang dari sakunya. Jika kamu telah mencoba resep ini dan engkau sembuh, jadilah orang yang selalu menolong orang lain dengan harta dan usahamu. Jangan engkau membatasi diri dengan sedekah untuk dirimu sendiri, namun obatilah penyakit orang-orang yang sakit dari keluargamu dengan sedekah. Jika engkau tidak sembuh total, maka ketahuilah bahwa engkau sebenarnya telah disembuhkan meskipun sedikit. Keluarkan sedekah lagi, perbanyak sedekah semampumu. Jika engkau masih belum sembuh, mungkin Allah Ta'ala memperpanjang sakitmu untuk sebuah hikmah yang dikehendaki-Nya atau karena kemaksiatan yang menghalangi kesembuhanmu. Jika demikian cepatlah bertaubat dan perbanyak doa di sepertiga malam terakhir. Sedangkan untuk Anda yang diberikan nikmat sehat oleh Allah Ta'ala, jangan tinggalkan sedekah dengan alasan engkau sehat. Seperti halnya orang yang sakit bisa sembuh maka orang yang sehat pun bisa sakit. Sebuah pepatah mengatakan, "Mencegah lebih baik dari mengobati". Apakah engkau akan menunggu penyakit sampai engkau berobat dengan sedekah? Jawablah ..! kalau begitu bersegeralah bersedekah ..!


"Sex Before Marriage" Bukan Cinta Sejati Dua sejoli itu duduk berdampingan di sebuah taman yang rindang yang penuh pepohonan. Mereka berdua sebenarnya tidak sendirian. Karena tak jauh dari tempat mereka bercengkerama, belasan pasangan laki perempuan yang lain juga duduk menyepi. Apakah yang duduk-duduk ini pasangan suami istri? Bukan. Mereka adalah pasangan muda-mudi yang menumpahkan perasaan kasmarannya. Sayangnya, cara yang mereka tempuh adalah cara yang keliru. Pemandangan seperti itu bukan lagi hal yang asing ditemukan. Bahkan tak jarang aktivitas pacaran tersebut dilakukan di rumah Allah, yaitu di masjid. Kebanyakan muda-mudi yang belum punya status nikah tetap nekad bermaksiat di tempat mulia seperti itu. Pacaran Sudah Jelas Jalan Menuju Zina Wahai muda-mudi ... Jalan manakah lagi yang lebih dekat pada zina selain pacaran? Bukankah banyak kasus zina berawal dari tindak tanduk perkenalan diri lewat pacaran? Hal ini tidak bisa disangkal lagi, apalagi untuk sekarang ini. Sudah banyak berita yang kita saksikan. Hanya karena kontak lewat media FB, sampai suka sama suka, dua sejoli dan yang satunya masih duduk di bangku kelas 2 SMP (14 tahun) akhirnya jalan berdua dengan kontak sampai si gadis kecil dibawa lari jauh dari ortunya. Terjadilah apa yang terjadi. Si gadis kecil pun dirayu-rayu oleh si laki-laki sampai akhirnya mau melepaskan keperawanannya hanya karena rayuan gombal. Lihatlah adik-adikku ... Bukankah pacaran ini benar-benar jalan menuju zina? Awalnya dari kontak. Lalu beranjak janjian kencan. Lalu dibawa ke tempat sepi. Setelah itu beranjak ke yang lebih parah. Maka terjadilah zina yang tidak disangka-sangka dari awal, hanya karena alasan true love, membuktikan cinta yang sebenarnya. Semoga kita bisa merenungkan ayat yang mulia, ولا تقربوا الزنا إنه كان فاحشة وساء سبيلا "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu kejahatan. Dan suatu jalan yang buruk. "(QS. Al Isro ': 32). Ulama terkemuka yaitu Muhammad bin 'Ali Asy Syaukani rahimahullah menjelaskan, "Allah melarang mendekati zina. Oleh karenanya, sekedar mencium lawan jenis saja otomatis terlarang. Karena segala jalan menuju sesuatu yang haram, maka jalan tersebut juga menjadi haram. Itulah yang dimaksud dengan ayat ini. "[1] Coba perhatikan penjelasan di atas wahai adikku ... Kita dapat suatu pelajaran bahwa setiap hal yang dapat mengantarkan pada yang haram atau dosa besar, maka itu semua menjadi terlarang. Ingatlah bahwa ayat di atas bukan hanya memperingatkan perbuatan zina yang merupakan dosa besar. Namun ayat yang mulia di atas juga memperingatkan segala jalan yang dapat mengantarkan pada zina. Segala jalan menuju zina saja dilarang karena kita dilarang mendekati zina, maka melakukan zina lebih-lebih terlarang lagi. Namun banyak muda-mudi yang kami sayangkan belum memahami ayat tersebut. Allah Ta'ala sebenarnya cukup menyampaikan ayat yang singkat saja, namun cakupannya luas untuk melarang hal-hal lainnya. Dari sini, maka aktivitas berduaan antara lawan jenis itu terlarang dan aktivitas menyentuh lawan jenis ini terlarang. Apalagi dua aktivitas yang kami sebutkan ini ada larangan khususnya. Untuk aktivitas berduaan antara lawan jenis, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ألا لا يخلون رجل بامرأة لا تحل له, فإن ثالثهما الشيطان, إلا محرم "Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya. "[2] Ini menunjukkan terlarangnya kholwat (berdua-duaan antara lawan jenis). Untuk aktivitas menyentuh lawan jenis, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tunjukkan larangannya dalam sabdanya, كتب على ابن آدم نصيبه من الزنى مدرك ذلك لا محالة فالعينان زناهما النظر والأذنان زناهما الاستماع واللسان زناه الكلام واليد زناها البطش والرجل زناها الخطا والقلب يهوى ويتمنى ويصدق ذلك الفرج ويكذبه "Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan mengizinkan atau mengingkari yang demikian. "[3] Artinya, menyentuh lawan jenis yang bukan mahrom termasuk keharaman karena dinamakan dengan zina yang juga haram. Penjelasan di atas sebenarnya sudah cukup menyatakan bahwa pacaran itu terlarang. Jika ada yang masih mengatakan bahwa ada pacaran yang halal yaitu pacaran Islami, maka cukup kami jawab, "Bagaimana mau dikatakan halal sedangkan pelanggaran pada masih ditemukan? Jika kita nekat mengatakan ada pacaran Islami, maka kita juga seharusnya berani mengatakan ada zina Islami, khomr Islami, judi Islami dan sebagainya. "Hanya Allah yang beri taufik. Lebih Parah Dari Itu Kalau duduk merapat, berangkulan, berciuman dan sejenisnya yang dilakukan oleh laki perempuan non mahrom yang tak diikat tali pernikahan saja sudah tidak bisa dan dilarang oleh ajaran Islam, bagaimana jika lebih dari itu? Namun inilah yang disayangkan tersebar luas di kalangan muda-mudi. Mereka begitu mudahnya membuktikan cinta, namun dengan jalan yang keliru yaitu dengan "sex before marriage (SBM)", atau istilah kerennya adalah dengan "making love". Sekeren apapun namanya namun hakekatnya tetap sama yaitu menerjang larangan Allah dengan melakukan dosa besar zina. Inilah yang dikatakan oleh mereka-mereka sebagai pembuktian cinta. Inilah yang katanya true love, cinta sebenarnya. Bagaimana mungkin zina disebut true love sedangkan di sana menerjang larangan Allah yang termasuk dosa besar? Bukankah Allah Ta'ala telah menyebutkan dalam kitabnya yang mulia, ولا تقربوا الزنا إنه كان فاحشة وساء سبيلا "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. "(QS. Al Isro ': 32)? Lihatlah bahwa zina di sini disebut dengan kejahatan dan sejelek-jelek jalan. Dalam ayat lainnya, Allah Ta'ala berfirman, والذين لا يدعون مع الله إلها آخر ولا يقتلون النفس التي حرم الله إلا بالحق ولا يزنون ومن يفعل ذلك يلق أثاما "Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya ). "(QS. Al Furqon: 68). Artinya, orang yang melakukan salah satu dosa yang disebutkan dalam ayat ini akan mendapatkan siksa dari perbuatan dosa yang ia lakukan. Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar di sisi Allah?" Beliau bersabda, "Engkau menjadikan bagi Allah tandingan, padahal Dia-lah yang menciptakanmu." Kemudian ia bertanya lagi, "Terus apa lagi?" Beliau bersabda, "Engkau membunuh anakmu yang dia makan bersamamu." Kemudian ia bertanya lagi, "Terus apa lagi ? "Beliau bersabda, ثم أن تزانى بحليلة جارك "Kemudian engkau berzina dengan istri tetanggamu." Kemudian akhirnya Allah turunkan surat Al Furqon ayat 68 di atas. [4] Di sini menunjukkan besarnya dosa zina, apalagi berzina dengan istri tetangga. Dalam hadits lainnya , Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, إذا زنى الرجل خرج منه الإيمان كان عليه كالظلة فإذا انقطع رجع إليه الإيمان "Jika seseorang itu berzina, maka iman itu keluar dari dirinya seakan-akan dirinya sedang diliputi oleh gumpalan awan (pada kepalanya). Jika dia lalu dari zina, maka iman itu akan kembali padanya. "[5] Meski larangan-larangan zina dalam berbagai dalil di atas begitu tegas dan ancamannya begitu berat ternyata banyak remaja yang terjebak dalam perbuatan keji tersebut. Survey, data yang diperoleh dan dipublikasikan oleh banyak kalangan semakin membuat hati miris. Kadang timbul pertanyaan setelah membacanya? Sudah benar-benar rusakkah pemuda Islam kita? Haruskah Membuktikan True Love Lewat Making Love? Mereka yang melakukan aktivitas pacaran, memberikan alasan bahwa seks sebelum nikah (sex before marriage) adalah bukti cinta sejati. Logika mereka, yang namanya cinta itu butuh pengorbanan. Nah, kalau wanita yang diajak pacaran, maka ia harus mau berkorban. Apa bentuk pengorbanannya? Tak lain dan tak bukan adalah mengorbankan kesucian mereka. Naudzu billah. Tentu ini adalah alasan yang dibuat-buat untuk memperturutkan hawa nafsu rendahan. Yang benar adalah bila seseorang cinta pada seseorang pasti ia akan berusaha memberikan kebaikan kepada orang yang dicintainya dan tak rela bila kekasihnya terjerumus dalam kesengsaraan. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, والذى نفسى بيده لا يؤمن عبد حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه من الخير "Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, seorang hamba tidak beriman (dengan iman yang sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya mendapat kebaikan. "[6] Kapan kita benar-benar cinta kepada seorang wanita dan sebaliknya, maka kita akan sungguh-sungguh menjaga kesuciannya karena itu adalah suatu kebaikan sebagaimana kita pula ingin memperolehnya. Tentu hal itu tidak ditempuh lewat jalan pacaran dan berhubungan seks di luar jalan yang benar. Pengorbanan yang benar dalam cinta bukan berkorban untuk maksiat, namun berkorban dengan mengerahkan seluruh kemampuan menjaga kesucian diri dan orang yang dicinta dan berusaha meraih hubungan yang dihalalkan oleh Allah. Yakinlah adikku, jika kita benar-benar tulus ingin menjaga kesucian diri dan meraih yang halal, Allah pasti akan menolong. Ingatlah selalu sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, ثلاثة حق على الله عونهم المجاهد فى سبيل الله والمكاتب الذى يريد الأداء والناكح الذى يريد العفاف "Tiga orang yang berhak mendapatkan pertolongan Allah, yaitu orang yang berjihad di jalan Allah, budak mukatab yang ingin membebaskan dirinya , dan orang yang menikah yang ingin menjaga kehormatan dirinya. "[7] Oleh karenanya, jika seseorang benar-benar ingin menjaga kesucian dirinya, maka tempuhlah jalan yang benar yaitu melalui jenjang pernikahan, niscaya pertolongan Allah akan terus datang. Yakinlah! Jadi cinta sejati dibuktikan lewat jalan yang benar yaitu lewat jalan menikah. Jika belum mampu, maka bersabarlah. Sibukkanlah diri dengan hal-hal yang baik. Jauhi pergaulan dengan lawan jenis kecuali jika darurat. Banyak memohon kepada Allah agar diberikan fasilitas untuk terlepas dari zina dan segala jalan menuju kejahatan tersebut. Semoga Allah senantiasa memberi taufik kepada setiap muda-mudi yang membaca risalah ini.


Surat Dari Setan Hai manusia yang tersayang, Tadi malam waktu akan tidur, aku lihat engkau tidak memuji Tuhan, tidak membaca Do'a, tidak sholat. Ini bagus sekali karena waktu akan tidur adalah waktu untuk tidur, bukan untuk mengingat Tuhan. Sesungguhnya engkau tidak membuang-buang waktu. Pagi ini aku lihat engkau tidak berdoa setelah bangun. Bagus sekali!!! Engkau telah membuktikan bahwa engkau adalah sahabatku yang budiman. Janganlah engkau susah-susah bangun dan memendekkan tidur. Tidurlah dengan nyenyak dan nyaman. Jangan hiraukan suara ayam berkokok yang mengejutkan engkau dari tidurmu. Bila subuh datang menjelang, udara masih dingin, tariklah selimutmu dan tidurlah sayangku seperti puteri kayangan. Aku lihat engkau jarang-jarang mengambil air Wudhlu dan bangun tengah malam untuk bermunajat pada Tuhan. Ini bagus sekali karena engkau tidak membuang pikiran dan tidak mengurangi waktumu. Aku lihat engkau tak pernah mengucap do'a waktu mau makan n mengucap syukur saat selesai makan. Ini bagus, karena engkau tidak memenatkan mulutmu. Dan bila sudah kenyang, engkau tak pernah menyebut "thanks God, Alhamdulillah". Ini bagus juga .. Semalam ada seorang peminta sedekah datang ke rumahmu. Engkau mengusir dia suruh pergi tanpa engkau memberikan uang sesen atau seteguk air. Ini sangat bagus dan terpuji, karena engkau tidak membuang-buang uang dan tak membuang rezekimu yang melimpah-ruah yang diberi Allah kepadamu. Engkau seorang yang cerdas mengatur keuangan. Biarlah rezeki engkau untuk kegunaan engkau seorang, berholiday dan membeli kemewahan-kemewahan dunia. Aku lihat bila engkau bertemu dengan sahabat handaimu, engkau tidak mengucapkan salam. Engkau mengucapkan "What 's up brow!" Ini bagus juga karena engkau menunjukkan bahwa engkau mengerti bahasa Inggris. Engkau telah membuktikan bahwa engkau dan aku adalah sahabat sejati. Sudah tentu engkau adalah seorang yang budiman kepada kaumku. Di akhirat nanti, engkau dan aku dapat berjalan bersama-sama .... kita berpegang-tangan ... menuju Neraka. wkkk wkk hahaaaahaaaaa NB: Jangan beritahukan surat ini pada siapapun jika kamu masih menyayangiku dan bersedia selamanya menjadi sahabatku. Kita akan hidup abadi di akhirat bersama-sama, menyelami neraka. ttd Sahabatmu Yang Tercinta. Devil from Hell


Kejamnya Khadafi Tak Sekejam yg kita kira Muammar Khadafi Menarik Fakta yang diungkap oleh Saudara Iswahyudi Sondi terkait Freeport. Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa Kontrak Freeprot dimulai tahun 1967 dan baru akan berakhir tahun 2041. Saya mencoba melihat dari sisi hitungan yang dihasilkan oleh Freeport dan dampak yang seharusnya terjadi di Indonesia. Beberapa sumber menghitung bahwa sejak 1967 sampai 2010 (43 tahun) Freeport sudah menghasilkan 7,3 juta ton tembaga dan 724,7 juta ton emas atau pertahunnya mencapai 16,8372 Ton Emas Nah, jika kita diuangkan dengan patokan harga emas saat ini senilai Rp 500.000,- saja, maka jumlah uang yang dihasilkan kurang lebih adalah sekitar Rp.8.426.744 Trilyun/Pertahun atau sama dengan Rp.362.350 Trilyun dalam 43 tahun. Katakanlah uang Rp.8.426.744 Trilyun setelah dipotongh-potong maka hasil bersihnya Rp. 8.000.000 trilyun / tahun, coba Anda bandingkan dengan APBN tahun ini yang cuma Rp 1.202 trilyun. Artinya, dari jumlah ini, Indonesia hanya mendapat 1% (satu persen) atau sekitar Rp 80 trilyun/tahun (Jika merujuk media massa jumlahnya malah hanya Rp.15 sd Rp.20 trilyun pertahun alias 1/4 cukai rokok yang tahun 2010 menyumbang devisa sebesar Rp. 66 trilyun). Sementara sisanya yang 99% masuk ke perusahaan di AS. Nah, Sekarang mari kita bayangkan, kalau saja pemerintah berani menuntut perubahan kontrak karya (KK) dan minta bagian 30% saja, maka tiap tahun kita bisa memperoleh minimal Rp 2.400 trilyun (dua kali lipat APBN tahun ini), Itu baru dihitung dari nilai emas, belum lagi dari hasil tambang lainnya. Meski demikian, baru dari emas yang dihasilkan saja, kita sudah bisa menghitung bahwa pada dasarnya INDONESIA tidak perlu lagi punya hutang kepada Negara manapun di Dunia termasuk kepada IMF dan Bank Dunia, rakyat juga akan sejahtera, bisa memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan gratis. Bukan cuma Papua yang akan sejahtera dan bermartabat, tapi seluruh Indonesia. Apalagi sekarang ditemukan uranium yang harganya 100 kali harga emas. Bahkan menurut para ahli, bila dipakai untuk PLTN, kandungan uranium disana mampu dipakai utuk menerangi seluruh dunia. Faktanya, INDONESIA tidak berdaya sama sekali. Dari Soekarno hingga Yudhoyono membiarkan harta kekayaan Negeri ini dirampas Imperialisme Barat. Sekarang kita bandingkan apa yang sudah dilakukan Khadafi untuk rakyatnya dengan sedikit mengenyampingkan pembantaiannya terhadap lawan-lawan politiknya. Kediktatoran sesorang pemimpin selalu di besar-besarkan, Soal kediktatoran Baik Soekarno maupun Soeharto dikenal sama-sama “diktator” walau tidak sekejam Khadafi, tetapi apa yang diperbuat Khadafi untuk rakyatnya : - Seluruh rakyat Libya menerima bagian dari penjualan minyak Libya yang langsung ditransfer ke rekening bank mereka masing-masing - Pajak penghasilan bagi rakyat Libya maximal 12%, bandingkan dengan Indonesia yang max 30%. - Seluruh warga libya memiliki rumah, Khadafi bersumpah bahwa orang tuanya tidak akan mendapatkan rumah sampai semua orang di Libya memiliki rumah. - Rumah-rumah di Libya tidak dikenakan hipotek. - Jika seseorang ingin bertani, mereka menerima tanah, bibit dan hewan secara gratis. - Listrik dan biaya pendidikan digratiskan! - Setiap orang mendapatkan medis secara gratis-bahkan untuk demonstran sekalipun. - Setiap pasangan pengantin baru menerima hadiah 60.000 dinar dari pemerintah. - Gas di Libya di jual dengan harga 0,12 sen per liter (Bandingkan dengan harga GAS di Indonesia) - Sebelum khadafi, penduduk Libya yang melek huruf hanya 25%, sekarang 83% bebas buta huruf. - DiLibya jika warga ingin membeli mobil, pemerintah memberikan subsidi 50% dari harga mobil. - Libya tidak memiliki hutang luar negeri, jumlah cadangan sampai 150 milyar dollar, dan sekarang dibekukan oleh imperialisme barat (Kalau Indonesia tidak usah dibekukan lagi, secara sukarela kekayaan Negerinya diberikan pada Impreliasme barat) - Seorang lulusan sarjana yang belum mendapatkan kerja di Libya, Negara menggajinya dengan rata-rata gaji profesional sampai dia bekerja. - Sejahat-jahatnya KHADAFI sebagai salah satu Presiden Muslim di Dunia tetap lebih baik karena Khadafi adalah seorang Presiden yang HAFAL AL-QUR’AN (di dunia baru 2 Presiden yang Hafal Qur’an Ismail Haniyya salah satunya). Melihat kondisi Khadafi tidak mengizinkan Barat mengambil kekayaan Negaranyalah membuat Barat menjadikan Khadafi sebagai musuh utama setelah Saddam Hussein. Para imperialisme barat (AS dan sekutunya) sangat “pintar” mempengaruhi rakyat Dunia utk membenci Khadafi & para pemimpin Negara-negara Muslim lainnya . Inilah Faktanya yang terjadi Kawan, Memprihatinkan!


Berita Nyata Tentang Perjalanan Ruh Pernahkah Anda hadir di sisi seseorang yang tengah menghadapi sakaratul maut, sampai jasadnya dingin, terbujur kaku, tak bergerak, karena ruhnya telah berpisah dengan badan? Lalu apa perasaan Anda saat itu? Apakah Anda mengambil pelajaran darinya? Apakah terpikir bahwa Anda juga pasti akan mengalami saat-saat seperti itu? Kemudian, pernahkah terlintas tanya di benak Anda, ke mana ruh itu pergi setelah berpisah dengan jasad? Hadits yang panjang dari Rasul yang mulia Shallallahu 'alaihi wa sallam di bawah ini memberi ilmu kepada kita tentang hal itu. Sungguh ini suatu berita yang shahih (benar) dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan setiap berita yang datang darinya pasti benar adanya karena: "Tidaklah beliau berbicara dari hawa nafsunya, hanyalah yang beliau sampaikan adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya." (An- Najm: 3-4) Simaklah ...! Sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Al-Bara `bin' Azib radhiyallahu 'anhu berkisah, "Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengantar jenazah seorang dari kalangan Anshar. Kami tiba di pemakaman dan ketika itu lahadnya sedang dipersiapkan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam duduk. Kami pun ikut duduk di sekitar beliau dalam keadaan terdiam, tak bergerak. Seakan-akan pada kepala kami ada burung yang kami khawatirkan terbang. Di tangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika itu ada sebuah ranting yang digunakannya untuk mencocok-cocok tanah. Mulailah beliau melihat ke langit dan melihat ke bumi, mengangkat pandangannya dan menundukkannya sebanyak tiga kali. Kemudian bersabda, "Hendaklah kalian meminta perlindungan kepada Allah SWT dari adzab kubur," diucapkannya sebanyak dua atau tiga kali, lalu beliau berdoa, "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur," pinta beliau sebanyak tiga kali . Setelahnya beliau bersabda, "Sesungguhnya seorang hamba yang mukmin apabila akan meninggalkan dunia dan menuju ke alam akhirat, turun kepadanya para malaikat dari langit. Wajah-wajah mereka putih laksana mentari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari surga. Mereka duduk dekat si mukmin sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut 'alaihissalam sampai duduk di sisi kepala si mukmin seraya berkata, "Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan keridhaan dari Allah SWT." Ruh yang baik itu pun mengalir keluar sebagaimana mengalirnya tetesan air dari mulut wadah kulit. Malaikat maut mengambilnya. (Dalam satu riwayat disebutkan: Hingga ketika keluar ruhnya dari jasadnya, seluruh malaikat di antara langit dan bumi serta seluruh malaikat yang ada di langit mendoakannya. Lalu dibukakan untuknya pintu-pintu langit. Tidak ada seorang pun malaikat yang menjaga pintu malaikat kecuali mesti berdoa kepada Allah SWT agar ruh si mukmin diangkat melewati mereka). Ketika ruh tersebut telah diambil oleh malaikat maut, tidak dibiarkan sekejap matapun berada di tangannya melainkan segera diambil oleh para malaikat yang berwajah putih. Mereka meletakkan / membungkus ruh tersebut di dalam kafan dan wangi-wangian yang mereka bawa. Dan keluarlah dari ruh tersebut wangi yang paling semerbak dari aroma wewangian yang pernah tercium di muka bumi. Kemudian para malaikat membawa ruh tersebut naik. Tidaklah mereka melewati sekelompok malaikat kecuali mesti ditanya, "Siapakah ruh yang baik ini?" Para malaikat yang membawanya menjawab, "Fulan bin Fulan," disebut namanya yang paling bagus yang dulunya ketika di dunia orang-orang menamakannya dengan nama tersebut. Demikian, sampai rombongan itu sampai ke langit dunia. Mereka pun meminta dibukakan pintu langit untuk membawa ruh tersebut. Lalu dibukakanlah pintu langit. Penghuni setiap langit turut mengantarkan ruh tersebut sampai ke langit berikutnya, sampai mereka sampai ke langit ke tujuh. Allah SWT berfirman, "Tulislah catatan amal hamba-Ku ini di 'Illiyin dan kembalikanlah ia ke bumi karena dari tanah mereka Aku ciptakan , ke dalam tanah mereka akan Aku kembalikan, dan dari dalam tanah mereka akan Aku keluarkan pada kali yang lain. " Si ruh pun dikembalikan ke dalam jasadnya yang dikubur dalam bumi / tanah. Maka sungguh ia mendengar suara sandal orang-orang yang mengantarnya ke kuburnya ketika mereka pergi meninggalkannya. Lalu datanglah dua orang malaikat yang sangat keras hardikannya, keduanya menghardiknya, mendudukkannya lalu menanyakan padanya, "Siapakah Rabbmu?" Ia menjawab, "Rabbku adalah Allah SWT." Ditanya lagi, "Apa agamamu?" "Agamaku Islam, "jawabnya. "Siapakah pria yang diutus di tengah kalian?" tanya dua malaikat lagi "Dia adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam," jawabnya "Apa amalmu?" pertanyaan berikutnya "Aku membaca Kitabullah, lalu aku beriman dan membenarkannya," jawabnya. ini adalah fitnah / tes yang akhir yang diperhadapkan kepada seorang mukmin. Dan Allah SWT mengokohkannya sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: "Allah menguatkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang tsabit / kokoh dalam kehidupan dunia dan dalam kehidupan akhirat." (Ibrahim: 27) Terdengarlah suara seorang penyeru dari langit yang menyerukan, "Telah benar hamba-Ku. Maka bentangkanlah untuknya permadani dari surga. Pakaikanlah ia pakaian dari surga, dan bukakan untuknya sebuah pintu ke surga! "Lalu datanglah kepada si mukmin ini wangi dan semerbaknya surga serta dilapangkan baginya kuburnya sejauh mata memandang. Kemudian ia didatangi oleh seseorang yang berwajah bagus, berpakaian bagus dan harum baunya, seraya berkata , "Bergembiralah dengan apa menggembirakan. Inilah harimu yang pernah dijanjikan kepadamu. "Si mukmin bertanya dengan heran," Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kebaikan. "" Aku adalah amal shalihmu. Demi Allah, aku tidak mengetahui dirimu melainkan seorang yang bersegera menaati Allah SWT dan lambat dalam bermaksiat kepada Allah SWT. Semoga Allah SWT membalasmu dengan kebaikan, "jawab yang ditanya Kemudian dibukakan untuknya sebuah pintu surga dan sebuah pintu neraka, lalu dikatakan, "Ini adalah tempatmu seandainya engkau dulunya bermaksiat kepada Allah SWT, lalu Allah Subhanahu wa Ta 'ala mengganti bagimu dengan surga ini. "Maka bila si mukmin melihat apa yang ada dalam surga, ia pun berdoa," Wahai Rabbku, segerakanlah datangnya hari kiamat agar aku dapat kembali ke keluarga dan hartaku. "Dikatakan kepadanya," Tinggallah engkau. " Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melanjutkan penuturan beliau tentang perjalanan ruh. Beliau bersabda, "Sesungguhnya seorang hamba yang kafir (dalam satu riwayat: hamba yang fajir) apabila akan meninggalkan dunia dan menuju ke alam akhirat, turun kepadanya dari langit para malaikat yang keras, kaku, dan berwajah hitam. Mereka membawa kain yang kasar dari neraka. Mereka duduk dekat si kafir sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut hingga duduk di sisi kepala si kafir seraya berkata, "Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan dari Allah SWT." Ruh yang buruk itu pun terpisah- pisah / berserakan dalam jasadnya, lalu ditarik oleh malaikat maut sebagaimana dicabutnya besi yang banyak cabangnya dari wol yang basah, sampai tercabik-cabik urat dan sarafnya. Seluruh malaikat di antara langit dan bumi dan seluruh malaikat yang ada di langit melaknatnya. Pintu-pintu langit ditutup. Tidak ada seorang pun malaikat penjaga pintu kecuali berdoa kepada Allah SWT agar ruh si kafir jangan diangkat melewati mereka. Kemudian malaikat maut mengambil ruh yang telah berpisah dengan jasad tersebut, namun tidak dibiarkan sekejap mata pun berada di tangan malaikat maut melainkan segera diambil oleh para malaikat yang berwajah hitam lalu dibungkus dalam kain yang kasar. Dan keluarlah dari ruh tersebut bau bangkai yang paling busuk yang pernah didapatkan di muka bumi. Kemudian para malaikat membawa ruh tersebut naik. Tidaklah mereka melewati sekelompok malaikat kecuali mesti ditanya, "Siapakah ruh yang buruk ini?" Para malaikat yang membawanya menjawab, "Fulan bin Fulan," disebut namanya yang paling jelek yang dulunya ketika di dunia ia dinamakan dengannya. Demikian, sampai rombongan itu sampai ke langit dunia, mereka pun meminta dibukakan pintu langit untuk membawa ruh tersebut, namun tidak dibukakan. " Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian membaca ayat: "Tidak dibukakan untuk mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk ke dalam surga sampai unta bisa masuk ke lubang jarum. "(Al-A'raf: 40) Allah SWT berfirman, 'Tulislah catatan amalnya di Sijjin, di bumi yang paling bawah.' Lalu ruhnya dilemparkan begitu saja. " Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian membaca ayat: "Dan siapa yang menyekutukan Allah maka seakan-akan ia jatuh tersungkur dari langit lalu ia disambar oleh burung atau diempaskan oleh angin ke tempat yang jauh lagi membinasakan." ( Al-Hajj: 31) Si ruh pun dikembalikan ke dalam jasadnya yang dikubur dalam bumi / tanah. Lalu datanglah dua orang malaikat yang sangat keras hardikannya. Keduanya menghardiknya, mendudukkannya dan menanyakan kepadanya, "Siapakah Rabbmu?" Ia menjawab, "Hah ... hah ... Aku tidak tahu." Ditanya lagi, "Apa agamamu?" "Hah ... hah ... Aku tidak tahu," jawabnya. "Siapakah pria yang diutus di tengah kalian? "tanya dua malaikat lagi. Kembali ia menjawab, "Hah ... hah ... aku tidak tahu." Terdengarlah suara seorang penyeru dari langit yang menyerukan, "Telah dusta orang itu. Maka bentangkanlah untuknya hamparan dari neraka dan bukakan untuknya sebuah pintu ke neraka! " Lalu datanglah udara panasnya neraka dan disempitkan kuburnya sampai bertumpuk-tumpuk/tumpang tindih tulang rusuknya (karena sesaknya kuburnya). Kemudian seorang yang buruk rupa, berpakaian jelek dan berbau busuk mendatanginya seraya berkata, "Bergembiralah dengan apa yang menjelekkanmu. Inilah harimu yang pernah dijanjikan kepadamu. " Si kafir bertanya dengan heran, "Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kejelekan. "" Aku adalah amalmu yang jelek. Demi Allah, aku tidak mengetahui dirimu ini melainkan sebagai orang yang lambat untuk menaati Allah SWT, namun sangat bersegera dalam bermaksiat kepada Allah SWT. Semoga Allah SWT membalasmu dengan kejelekan, "jawab yang ditanya. Kemudian didatangkan kepadanya seorang yang buta, bisu lagi tuli. Di tangannya ada sebuah tongkat dari besi yang bila dipukulkan ke sebuah gunung niscaya gunung itu akan hancur menjadi debu. Lalu orang yang buta, bisu dan tuli itu memukul si kafir dengan satu pukulan hingga ia menjadi debu. Kemudian Allah SWT mengembalikan jasadnya sebagaimana semula, lalu ia dipukul lagi dengan pukulan berikutnya. Ia pun menjerit dengan jeritan yang dapat didengar oleh seluruh makhluk, kecuali jin dan manusia. Kemudian dibukakan untuknya sebuah pintu neraka dan disajikan hamparan neraka, maka ia pun berdoa, "Wahai Rabbku! Janganlah engkau datangkan hari kiamat. "(HR. Ahmad 4 / 287, 288, 295, 296, Abu Dawud no. 3212, 4753, dll, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud dan Ahkamul Jana` iz hal. 202) Pembaca yang mulia, maka setelah membaca pengabaran beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam di atas, masihkah tersisa angan yang panjang dalam kehidupan dunia ini? Apakah jiwa masih berani bermaksiat kepada Rabbul 'Izzah dan enggan untuk taat kepada-Nya? Manakah yang menjadi pilihan saat harus menghadapi kenyataan datangnya maut menjemput: ruh diangkat dengan penuh kemuliaan ke atas langit lalu beroleh kenikmatan kekal, ataukah diempaskan dengan hina-dina lalu beroleh adzab yang pedih? Bagi hati yang lalai, bangkit dan berbenah dirilah untuk menghadapi "hari esok" yang pasti datangnya. Adapun hati yang ingat, istiqamah-lah sampai akhir ... Sungguh hati seorang mukmin akan dicekam rasa takut disertai harap dengan berita pada, air mata mengalir tak terasa, tangan pun tengadah memohon kepada Dzat Yang Maha Pengasih lagi Penyayang, "Ya Allah, berilah kami taufik kepada kebaikan dan istiqamah di atasnya sampai akhir hidup kami. Jangan jadikan kami silau dan tertipu dengan kehidupan dunia yang fana sampai melupakan pertemuan dengan-Mu. Wafatkanlah kami dalam keadaan husnul khatimah. Lindungi kami dari adzab kubur dan dari siksa neraka yang sangat pedih. Ya Arhamar RAHIMIN, berilah nikmat kepada kami dengan surga-Mu yang seluas langit dan bumi. Amin ... Ya Rabbal 'Alamin.


Rasa Aman Yang Hakiki Banyak manusia di zaman ini hidup dalam kecemasan, ketakutan ... kengerian ... was-was, hati tak tenang ... merasa selalu kekurangan ... tak pernah puas ... Sayangnya mereka tidak mengetahui sebab yang pasti dari semua ini. Perasaan itu menghantui mereka, baik di rumah atau benteng mereka, apalagi saat diluar rumah, dalam perjalanan atau di lingkungan pekerjaan mereka. Sesungguhnya jauhnya mereka dari rasa aman (keamanan) merupakan komitmen (konsekwen) dari hilangnya keimanan dalam diri mereka. Allah telah memperingatkan hal ini dalam firman-Nya: "Artinya: Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik) , mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk "[QS, Al-An'am: 82] Rasa Aman (Keamanan) Sekaligus Hidayah (Petunjuk Yang Lurus) Dari ayat tersebut diatas terlihat bahwa keamanan ... dan petunjuk ... adalah dua hal yang terdekat (satu paket) yang tidak dapat dipisahkan jika lenyap salah satu dari keduanya maka lenyaplah yang lain ... bahkan jika salah satu dari keduanya tipis maka tipislah yang lain. Rasa Aman Hanya Ada Pada Orang Yang Beriman Ayat diatas terdaftar untuk ".. Orang-orang yang beriman ..." Dengan demikian keamanan yang hakiki hanyalah timbul karena jiwanya telah mutma'innah (jiwa yang tenang). Jiwa ini beriman, meridhai Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul. Rasa aman merupakan buah dari keimanan. Keamanan yang hakiki adalah rasa aman dari hal-hal yang menakutkan, aman dari siksa, dan kesengsaraan, sekaligus ia dikaruniai hidayah, mendapatkan petunjuk kepada jalan yang lurus. Berbagai permasalahan dunia ia hadapi dengan tenang dan penuh fasilitas. Ia tidak resah ketika miskin, tidak khawatir hartanya dirampas, tidak takut nyawanya hilang di jalan Allah. Rasa tenang yang timbul karena jalan ikhlas yang ia tempuh, yang dijamin 'rasa aman akhirat' yang tak terbayangkan indahnya. Jadi keamanan yang hakiki bukanlah dengan banyaknya pasukan dan tentara ... dan bukan pula dengan harta dan teman ... Syaratnya Ia Tidak Mengotori Keimanannya Dengan Kesyirikan "... dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik) ..." Rasa aman yang hakiki akan diperoleh orang-orang yang beriman bila ia tidak mengotori keimanannya dengan perbuatan syirik. Kapan terjadi sedikit kotoran maka semakin tipislah rasa amannya, sekaligus semakin tipis pula hidayah yang akan ia nikmati. Disisi lain, jika mereka tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kesyirikan saja, akan tetapi mereka melakukan perbuatan buruk, maka mereka masih memperoleh dasar-dasar keamanan dan hidayah, namun mereka tidak mampu mendapatkan kesempurnaan rasa aman dan nikmatnya hidayah. Rasa Tidak Aman Pada Sebagian Umat Islam Tak dapat dipungkiri sebagian dari umat Islam juga memiliki berbagai bentuk rasa tidak aman, padahal ia merasa telah beriman. Muslim seperti ini hendaknya ia melakukan evaluasi diri, lebih giat menuntut ilmu Islam dan menjaga kualitas ibadahnya. Hendaknya ia kembali pada makna surat Al-An'am ayat 82 tersebut diatas, bahwa rasa aman pada dirinya hanya bisa ditimbulkan dan ditingkatkan bila ia meningkatkan kualitas keimanannya dan menjaga dirinya dari kemungkinan melakukan kesyirikan yang tidak ia sadari. Dengan menuntut ilmu, ia akan menyadari persyaratan yang diperlukan untuk meningkatkan keimanan, dan ia akan lebih memahami bentuk-bentuk kesyirikan yang dapat menurunkan bahkan membatalkan timbulnya rasa aman pada dirinya, dunia dan akhirat. Rasa Takut Di Dunia Pada Orang-orang Yang Tidak beriman Sebaliknya, jika mereka tidak beriman dan (biasanya) sekaligus mencampurkan iman mereka dengan berbagai kesyirikan, maka mereka ini bukan saja tidak memperoleh hidayah dan keamanan, bahkan mereka akan berada dalam kesesatan dan rasa takut (di dunia dan akhirat). Dan ayat yang agung ini (Al-An'am: 82) menjelaskan kepada kita pemahaman yang nyata pada firman Allah. "Artinya: Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu "[Ali-Imran: 151] Rasa takut (tidak pernah tenang dan puas, was was, perasaan terancam jiwa dan harta bendanya) ini terjadi di dunia, meskipun mereka (orang-orang kafir) memiliki benteng yang sangat tinggi lagi kokoh serta terjaga, dan memiliki harta benda, persenjataan, tentara, para server dan kekuasaan yang berlimpah .... Rasa Takut Di Akhirat Pada Orang-orang Yang Tidak Beriman "Artinya: Tempat kembali mereka adalah neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang lalim" [Ali-Imran: 151] Rasa Aman Di Akhirat Bagi Orang-orang Yang Beriman Dan janji yang benar datangnya dari Allah yang Haq maka bagi orang-orang yang beriltizam (berpegang teguh) untuk mendapat keamanan yang hakiki. "Artinya: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengganti (kondisi) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku "[An-Nur: 55]


Sara Bokker, Mantan Model Amerika Itu Kini Mengenakan Cadar "Barang siapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya) niscaya disesatkan-Nya. Dan, barang siapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk) niscaya Dia menjadikan-Nya berada di atas jalan yang lurus. "(QS Al-An'am: 39). Ayat serupa juga dapat ditemukan pada surah Alqashash ayat 56, Albaqarah ayat 142 dan 272, serta Ali Imran ayat 73. Ayat ini rupanya tepat disematkan pada Sara Bokker, seorang model, aktris, sekaligus aktivis dan instruktur fitnes yang sempat menjalani kehidupan gemerlap di negerinya, Amerika Serikat. Allah memberikan hidayah dan petunjuk padanya untuk menerima kedamaian agama Islam. Kehidupannya sebagai seorang model, aktris, dan pelatih fitnes mulai dirasakannya sebagai sebuah rutinitas yang membosankan dan hanya gaya hidup semata. Seperti umumnya gadis remaja Amerika yang tinggal di kota besar, Bokker menikmati kehidupan yang serbagemerlap. Ia pernah tinggal di Florida dan South Beach, Miami, yang dikenal sebagai tempat yang glamor di Amerika. Kehidupan Bokker ketika itu hanya terfokus pada bagaimana ia menjaga penampilannya agar menarik di mata orang banyak. Setelah bertahun-tahun, Bokker mulai merasakan bahwa selama ini dirinya sudah menjadi budak mode. Dirinya menjadi tawanan penampilannya sendiri. Rasa ingin memuaskan ambisi dan kebahagian diri sendiri sudah mengungkungnya dalam kehidupan yang serbaglamor. Dunia hiburan yang telah membesarkan namanya itu tak membuat hidupnya menjadi lebih tenang, damai, dan nyaman. Sering kali, ia mengalami ketegangan dan kebingungan dalam menjalani hidup. Bokker pun mulai mengalihkan kegiatannya dari pesta ke pesta dan alkohol menuju ke meditasi, mengikuti aktivitas sosial, dan mempelajari berbagai agama. Perkenalannya dengan Islam justru diawali ketika banyak orang menganggap agama yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasalaam ini sebagai agama yang mengajarkan kekerasan, terorisme, pedang, dan lain sebagainya. Apalagi, saat terjadinya peristiwa pengeboman World Trade Center (WTC) di Amerika Serikat yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan jaringan Islam. Peristiwa yang menewaskan sekian ribu orang itu begitu membekas di benaknya. Namun, di balik upaya sekelompok orang mendiskreditkan Islam, Sara Bokker menemukan hidayah Allah. Ia mulai menaruh perhatian besar pada agama Islam. Benarkah agama Islam sebagai tempat teroris? "Pada titik itu, saya masih mengasosiasikan Islam dengan perempuan-perempuan yang hidup di tenda-tenda, pemukulan terhadap istri, dan dunia teroris. Sebagai seorang feminis dan aktivis, saya menginginkan dunia yang lebih baik untuk seluruh umat manusia, "papar Sara. Pandangannya tentang Islam belum berubah. Namun, keinginannya untuk mengenal agama ini begitu kuat. Sampai akhirnya ia pun menemukan sebuah Alquran yang dikemas secara apik. Ia pun kemudian berusaha untuk membaca (terjemahannya-Red) dan mempelajari isinya. Ia mempelajari kehidupan, penciptaan, dan hubungan antara Pencipta (Khalik) dan yang diciptakan (makhluk). "Isi Alquran sangat menyentuh hati dan jiwa saya yang paling dalam, tanpa perlu saya menginterpretasikan atau menanyakannya pada pastor," tambahnya. Inilah kebenaran firman Allah yang tertuang dalam surat al-An'am ayat 125. "Barang siapa yang dikehendaki Allah untuk diberi petunjuk niscaya Dia akan melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan, barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatan niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. " Sara Bokker pun mulai menemukan jati dirinya kembali. Jiwanya yang dulu labil, goyah, dan gampang putus asa secara perlahan bangkit kembali. Ia benar-benar menemukan kedamaian ketika memahami kitab suci Alquran yang selama ini dipandang negatif oleh sekelompok orang Barat. Baginya, Alquran telah memberikan petunjuk dan pencerahan dalam mengarungi kehidupan yang lebih baik. Maka, tanpa ragu dan khawatir, Sara Bokker, seorang sang model, pelatih kebugaran, dan aktris yang telah menjadi salah satu public figure, akhirnya mendeklarasikan diri menjadi seorang Muslimah. Asyhadu an Lailaha Illallah, Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah. Kedamaian berjilbab ini pun memeluk Islam. Ia telah menemukan jalan kebenaran. Dan, Sara Bokker mendapatkan kedamaian dalam Islam. Karena itu, ia pun langsung menunjukkan kecintaannya pada Islam dan berusaha menjalankan segala perintah agama Islam dengan baik dan benar. Ia lalu mengganti dan mengubah penampilannya, dari yang sebelumnya seksi dan memakai baju superketat berganti menjadi pakaian yang bersahaja dengan pakaian yang longgar dan jilbab. Ia menutupi seluruh auratnya. "Saya membeli gaun panjang yang bagus dan kerudung seperti layaknya busana Muslimah dan saya berjalan di jalan dan lingkungan yang sama, di mana beberapa hari sebelumnya saya berjalan hanya dengan celana pendek, bikini, atau pakaian kerja yang elegan," tutur Bokker. Setelah mengenakan busana Muslimah, terang Bokker, untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar menjadi seorang perempuan. Ia merasakan rantai yang selama ini membelenggunya sudah terlepas dan akhirnya menjadi orang yang bebas. Tak lama berselang, setahun setelah mengikrarkan diri menjadi Muslimah, Allah menganugerahinya seorang suami yang baik dan bisa mengajak dirinya menjadi Muslimah yang taat beribadah. Dengan dukungan suaminya, ia pun menggunakan jilbab lengkap dengan cadarnya (burqa). Kendati suaminya telah menyampaikan bahwa jilbab hukumnya wajib, sedangkan cadar dianggapnya tidak wajib, namun Sara Bokker yakin dengan bercadar, dirinya akan makin nyaman. Karena itu, ia pun memutuskan menjadi Muslimah yang sesungguhnya. "Alasannya, saya merasa Allah akan lebih senang dan saya merasa lebih damai dari cuma mengenakan jilbab saja," kata Bokker. Perjuangkan Kebebasan Berbusana Muslimah Tak lama setelah ia mengenakan pakaian Muslimah lengkap dengan cadarnya , media massa setempat banyak memberitakan pernyataan dari para politisi, pejabat Vatikan, dan kelompok aktivis kebebasan dan hak asasi manusia yang mengatakan bahwa cadar (niqab atau burqa) adalah penindasan terhadap perempuan, hambatan bagi integrasi sosial, dan belakangan seorang pejabat Mesir menyebut jilbab sebagai pertanda keterbelakangan. Sara tak mau ambil peduli. Ia menganggap pernyataan sang pejabat tersebut sangat munafik. "Pemerintah dan kelompok-kelompok yang katanya memperjuangkan hak asasi manusia berlomba-lomba membela hak perempuan ketika ada pemerintah yang menerapkan kebijakan cara berbusana, tapi para pejuang kebebasan itu bersikap sebaliknya ketika kaum perempuan kehilangan haknya di kantor atau sektor pendidikan hanya karena mereka ingin melakukan haknya mengenakan jilbab atau cadar, "kritiknya. Sara Bokker yang kini berganti menjadi Muslimah berjanji akan terus aktif di dunia perempuan dan feminis. Ia sebagai seorang feminis Muslim yang berseru kepada para Muslimah untuk tetap menunaikan tanggung jawabnya dan memberikan dukungan penuh kepada suami-suami mereka agar menjadi seorang Muslim yang baik. Selain itu, mereka juga membesarkan dan mendidik anak-anak mereka agar menjadi Muslim yang berkualitas sehingga mereka bisa menjadi penerang dan berguna bagi seluruh umat manusia. Selain itu, Sara Bokker juga menyerukan kaum perempuan untuk berbuat kebaikan dan menjauhkan kemunkaran, menyebarkan kebaikan dan menentang kebatilan, memperjuangkan hak berjilbab atau bercadar, serta berbagi pengalaman tentang jilbab dan cadar bagi Muslimah lainnya yang belum pernah mengenakannya. Ia mengungkapkan, banyak mengenal muslimah yang mengenakan cadar dari kaum perempuan Barat yang lebih dulu menjadi mualaf. Beberapa di antaranya, kata Sara Bokker, bahkan belum menikah. Kendati sebagian keluarga dan lingkungan mereka menentang penggunaan cadar, "Mereka tetap menganggap bahwa mengenakan cadar adalah pilihan pribadi dan tak seorang pun bisa menyerah pada pilihan pribadinya sendiri," tegasnya. Jika sebelumnya bikini Mulai saat ini, kedua simbol kebebasan tersebut telah diganti dengan busana Muslimah lengkap beserta cadar, yang menurutnya, adalah sebuah simbol baru untuk kebebasan perempuan dalam mencari jati dirinya dan yang berhubungan dengan sang Pencipta. "Kepada kaum perempuan, janganlah mudah menyerah pada stereotipe negatif yang ditujukan kepada pakaian Muslimah ini. Karena, Anda (sekalian) tidak akan mengetahuinya ada yang hilang dari diri Anda. "


Kematian Sebagai Peringatan Banyak manusia yang tidak memahami arti kehidupan. Mereka hanya berlomba-lomba untuk mendapatkan kesenangan-kesenangan hidup duniawi. Slogan-slogan mereka adalah memuaskan hawa nafsunya, "Yang Penting Puas". Prinsip dan misi mereka adalah bagaimana mereka dapat menikmati kehidupan, seakan-akan mereka tumbuh dari biji-bijian, kemudian menguning dan mati tanpa ada kebangkitan, perhitungan dan hisab. Milik siapakah mereka? Apakah mereka tercipta begitu saja? Ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu ataukah mereka yang menciptakan?" (Al Qur'an, surat Ath-Thuur: 35) Allah menciptakan kita, memberikan kepada kita kehidupan adalah untuk suatu tujuan dan tidak sia-sia : Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan sia-sia? (Al-Qiyamah: 36) Berkata Imam Syafi'i (ketika menafsirkan ayat ini): "Makna sia-sia adalah tanpa ada perintah, tanpa ada larangan." (Tafsirul Qur `anil 'Azhim, Ibnu Katsir, jilid 4, cet. Maktabah Aceh Darussalam, 1413 H hal. 478) Jadi manusia hidup tidak sia-sia, mereka memiliki aturan, hukum-hukum, syariat, perintah dan larangan, tidak bebas begitu saja apa yang dia suka dia lakukan, apa yang dia tidak suka dia tinggalkan . Hidup dan Mati Adalah Ujian Setiap yang hidup pasti akan merasakan kematian. Allah jalla jalaaluh membuat kehidupan dan kematian sebagai ujian. Siapa di antara manusia yang terbaik amalannya? (Dialah) yang menjadikan mati dan hidup, agar Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Al-Mulk: 2) Fudhail bin Iyadh berkata: "Amalan yang paling baik adalah yang paling ikhlas dan paling sesuai dengan sunnah". (Iqadhul Himam al-Muntaqa min Jami'il Ulum wal Hikam, Syaikh Salim 'Ied al-Hilali, hal. 35). Kita hidup di dunia adalah untuk diuji, siapa yang paling ikhlas amalannya hanya murni untuk Allah semata dan siapa yang paling sesuai dengan sunnah rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh karena itu kita harus memperhatikan apa makna kehidupan dan apa makna kematian? Sesungguhnya Allah menciptakan kita untuk satu tugas yang mulia yaitu beribadah hanya kepada-Nya. Allah turunkan kitab-kitabnya, Allah mengutus rasul-rasul? Nya adalah untuk misi ini. Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku. (Adz-Dzariyat: 56) Sehingga hidup kita ini tidaklah sia-sia, melainkan kehidupan sementara yang sarat akan makna dan kelak akan ditanya tentang apa yang kita perbuat di dunia ini. Kehidupan di dunia hanya sementara Ingatlah, kehidupan ini hanya sebentar. Pada saatnya nanti kita akan memasuki alam kubur (alam barzakh) sampai datangnya hari kebangkitan. Lalu kita akan dikumpulkan di padang mahsyar, setelah itu kita mengalami hari perhitungan (hisa . Dan kita akan menerima keputusan dari Allah, apakah kita akan bahagia dalam surga ataukah akan sengsara dalam neraka. Kehidupan setelah mati ini merupakan kehidupan panjang yang tidak terhingga. Sehari dalam kehidupan akhirat adalah lima puluh ribu tahun kehidupan di dunia. Maka kita bisa lihat betapa pendeknya kehidupan manusia yang tidak ada sepersekian puluh ribu dari hari kehidupan akhirat. Berapa umur manusia yang terpanjang dan berapa yang sudah kita jalani? Itu pun kalau kita anggap umur yang terpanjang , sedangkan ajal kita tidak tahu, mungkin esok atau lusa. Oleh karena itu seorang yang berakal sehat akan lebih mementingkan kehidupan yang panjang ini. Seorang yang cerdas akan membuat kehidupan dunia sebagai kesempatan untuk meraih kebahagiaan hidup di akhirat yang abadi. Dan carilah dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari duniawi ... (al-Qashash: 77) Namun kebanyakan manusia lalai dari peringatan Allah di atas. Mereka lebih mementingkan kenikmatan dunia yang hanya sesaat dan lupa terhadap kehidupan akhirat yang kekal . Tetapi kalian memilih kehidupan duniawi, padahal kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (al-A'laa: 16-17) Allah hanya meminta kepada kita dalam kehidupan yang singkat ini untuk beribadah kepada-Nya semata dengan cara yang diajarkan oleh Rasul -Nya. Hanya itu. Kemudian Allah akan berikan kepada kita kebaikan yang besar di kehidupan yang panjang yaitu kehidupan akhirat Kematian adalah pasti Alangkah bodohnya kalau kita lebih mementingkan kesenangan sesaat dengan melupakan kehidupan abadi di akhirat nanti. Alangkah bodohnya manusia yang membuang kesempatan kehidupannya di dunia sampai kematian menjemputnya. Padahal Allah selalu memperingatkan dalam berbagai ayat-Nya bahwa kematian pasti akan datang dan tak tentu waktunya. Jika ia datang tidak akan bisa dimajukan dan dimundurkan. Allah 'azza wa jalla berfirman: Tiap-tiap umat memiliki ajal (batas waktu) ; maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak akan dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat pula memajukannya. (al-A'raaf: 34) Setiap yang memiliki jiwa akan merasakan kematian. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Ali Imran: 185) Untuk itu Allah dan rasul-Nya memberikan wasiat kepada kita agar jangan sampai mati kecuali dalam kondisi muslim ( berserah diri). Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah kalian mati melainkan kalian mati dalam keadaan Islam. (Ali Imran: 102) Dengan demikian berarti kita harus selalu meningkatkan ketaqwaan dan keimanan kita , sehingga ketika datang kematian kita dalam keadaan Islam. Ibnu Katsir berkata: "Beribadah kepada Allah adalah dengan taat menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Inilah agama Islam karena makna Islam adalah pasrah dan menyerah diri kepada Allah ... yang tentunya mengandung setinggi- tingginya keterikatan, merendahkan diri dan ketundukan ". (lihat Fathul Majid, Abdurrahman bin Hasan Alu Syaih hal 14) Yakni kita diperintahkan untuk pasrah dan menyerah kepada Allah. Diri kita dan seluruh anggota badan kita adalah milik Allah, maka serahkanlah kepada-Nya. "Ya Allah kami hamba-Mu, milik-Mu, Engkau yang menciptakan kami dan memberikan segala kebutuhan kami. Kami menyerahkan diri kami kepada-Mu, kami pasrah dan menyerah untuk diatur, dihukumi, diperintah dan dilarang. Kami taat, tunduk, patuh karena kami adalah milikmu. " Inilah makna Islam sebagaimana terkandung secara makna dalam sayyidul istighfar: Ya Allah Engkau adalah Rabb-ku, tidak ada ilah (yang patut disembah) kecuali Engkau, Engkau yang menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku pada janjiku kepada -Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa yang aku perbuat. Aku mengakui untuk-Mu dengan kenikmatan-Mu atasku. Dan aku mengakui dosa-dosaku terhadap-Mu, maka ampunilah aku. Karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. (HR. Bukhari, juz 7 / 150) Tidaklah seseorang meminta ampun kepada Allah dengan doa ini kecuali akan diampuni. Dengan ikrar dan pernyataan kita tersebut, kita sadar bahwa semua anggota badan kita adalah milik Allah. Untuk itu harus digunakan sesuai dengan kehendak pemiliknya. Kita harus menggunakan tangan kita sesuai dengan kehendak Allah. Kita harus menggunakan kaki kita untuk berjalan di jalan yang diridhai Allah. Mata, lisan dan telinga kita harus dipakai pada apa yang dibolehkan oleh Allah karena pada hakekatnya semua itu milik Allah. Siapakah yang lebih jahat dari orang yang menggunakan milik Allah untuk melawan Allah? Sungguh semua itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah dan akan ditanyakan langsung pada anggota badan tersebut. Mereka (anggota badan tersebut) akan menjawab dengan jujur ​​di hadapan Allah untuk apa mereka digunakan. Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya. (al-Isra ': 36) Kematian sebagai peringatan Ayat-ayat dalam Alqur `an yang menceritakan tentang kematian terlalu banyak. Dan tidak ada seorang pun yang mengingkari akan terjadinya kematian ini. Namun mengapa kebanyakan mereka tidak menjadikan kematian sebagai peringatan agar bersiap-siap menuju kehidupan abadi dengan kebahagiaan di dalam surga. Sesungguhnya manusia yang paling bodoh adalah manusia yang tidak dapat menjadikan kematian sebagai peringatan. Dikatakan dalam sebuah nasehat : Barangsiapa yang menginginkan pelindung, maka Allah cukup baginya. Barangsiapa yang menginginkan teladan, maka Rasulullah cukup baginya. Barangsiapa yang menginginkan pedoman hidup, maka al-Qur `an cukup baginya. Barangsiapa yang menginginkan peringatan maka kematian cukup baginya. Dan barangsiapa tidak cukup dengan semua itu, maka neraka cukup baginya. Saat ini wahai kaum muslimin, kita masih memiliki peluang dan kesempatan, maka sekarang ini kita harus memanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk taat kepada rabb kita. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Dua kenikmatan yang kebanyakan manusia default dari: nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan. (HR. Bukhari) Kesempatan adalah suatu kenikmatan besar yang Allah berikan kepada manusia. Namun sayang, kebanyakan manusia lalai darinya dan tidak menggunakan kenikmatan tersebut untuk taat kepada Allah, sampai kesempatan itu hilang dengan datangnya kematian.


Godaan harta Ketahuilah, bahwa pemberian-pemberian Allah SWT yang berupa makanan, harta benda, anak, dan semisalnya merupakan tes untuk manusia. Allah SWT berfirman (artinya): "Dan ketahuilah bahwa harta-harta kalian dan anak-anak kalian itu tidak lain hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (Al-Anfal: 28) Disamping itu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah dan fitnah umat-Ku adalah harta." (HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani) Godaan Dari Cara Mencari Harta Godaan harta ini akan datang dari berbagai sisi. Di antaranya adalah dari cara mencarinya. Dari sisi ini, sebenarnya Allah SWT telah mensyariatkan berbagai cara dalam mendapatkan harta, yang semuanya dibangun di atas keadilan dan jauh dari perbuatan lalim, jahat, atau menyakiti orang lain. Maka orang-orang yang bertakwa kepada Allah SWT tentu akan senantiasa memperhatikan batasan-batasan syariat dalam mendapatkannya. Jauh dari unsur riba, judi, dan bentuk-bentuk kezaliman lainnya, yang semuanya termasuk dalam bentuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Mereka mengetahui bahwa hal ini dilarang oleh Allah SWT, di antaranya dalam firman-Nya: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan bisnis yang dilakukan dengan suka sama suka di antara kalian. "(An-Nisa ': 29) Karena perhatian terhadap batas dan aturan-aturan Allah SWT dalam mencarinya, maka harta yang diperoleh pun menjadi berkah. Harta yang diperolehnya akan menjadi sebab kebaikan untuk yang memilikinya, baik saat diinfakkan, disedekahkan maupun di saat hartanya nanti menjadi warisan untuk ahli warisnya. Sehingga hartanya menjadi kebaikan bagi dirinya di dunia dan akhirat. Sedangkan orang-orang yang tidak bertakwa, mereka tidak memedulikan halal atau tidaknya mata pencaharian mereka. Yang halal untuk mereka adalah segala cara yang bisa mereka lakukan, meskipun di dalamnya ada unsur penipuan, riba, judi maupun menzalimi orang lain. Sehingga hartanya pun tidak barakah dan tidak ada manfaatnya. Bila dimakan atau diinfakkan maka dia telah memakan atau menafkahi dengan harta yang haram. Bila disedekahkan tidak akan diterima oleh Allah SWT. Bila meninggal, maka hartanya akan menjadi sebab masuknya dia ke dalam neraka. Nas'alullaha as-salamah (Mudah-mudahan Allah SWT menyelamatkan kita dari siksa neraka). Godaan Harta Dari Cara Mencintainya Godaan karena harta ini juga bisa datang dari sisi perhatian dan keinginan seseorang terhadapnya. Sehingga sebagian orang ada yang keinginannya terhadap harta membuat dirinya berambisi terhadapnya. Hal ini membuat kesibukannya hanyalah untuk mencari dunia. Dari saat memulai aktivitasnya setelah bangun tidur sampai dia kembali ke rumahnya untuk beristirahat, yang dipikirkannya hanyalah dunia. Di saat duduk, berdiri, maupun berjalan, yang di hatinya hanya mencari dunia. Bahkan saat tidurnya pun yang diimpikan adalah menemukan dunia. Lebih dari itu, saat shalat pun pikirannya dipenuhi dengan dunia. Seakan-akan dirinya diciptakan untuk sekedar mencari dunia. Padahal dengan perhatian dan keinginan yang berlebihan sampai melalaikan akhirat seperti itu, seseorang tidak akan mendapatkan rezeki kecuali yang telah Allah SWT tetapkan untuk dirinya. Maka orang yang demikian keadaannya, tentunya adalah orang yang tertipu dan terjatuh pada godaan dunia. Sehingga dia memusatkan seluruh pikiran dan kesibukannya untuk dunia. Dia menjadikan dunia bersemayam di hatinya sehingga melalaikan dia dari beribadah kepada Allah SWT. Godaan Harta Dari Cara Menggunakannya Godaan harta ini akan muncul dari sisi penggunaannya. Dari sisi ini, kita dapatkan sebagian orang yang berharta memiliki sifat pelit sehingga tidak mau mengeluarkan zakatnya, tidak mau menjalankan kewajiban berinfak kepada kerabatnya yang wajib untuk dibantu, dan yang semisalnya. Sedangkan sebagian yang lainnya atau pada sisi lainnya, justru mengeluarkan hartanya tanpa ada perhitungan dan dihambur-hamburkan sia-sia. Padahal Allah SWT menyebutkan di dalam firman-Nya: "Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat haknya (mereka), (begitu pula) kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) sia -sia. Sesungguhnya orang-orang yang menghambur-hamburkan hartanya sia-sia adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya. "(Al-Isra ': 26-27) Terkait dengan ayat ini, sebagaimana dinukilkan oleh Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu dalam tafsirnya, sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: "menghambur-hamburkan harta adalah mengeluarkannya tidak pada tempatnya." Al-Imam Mujahid rahimahullahu berkata: "Seandainya seseorang mengeluarkan seluruh hartanya pada tempat yang benar, maka dia bukanlah seorang yang menghambur-hamburkan harta. Namun seandainya seseorang mengeluarkan satu mud / cakupan tangan (dari hartanya) untuk sesuatu yang tidak pada tempatnya, maka dia telah menghambur-hamburkan hartanya dengan sia-sia. " Cara Menyelamatkan Diri Dari Godaan Harta Oleh karena itu, siapa pun di antara kita harus hati -hati dan senantiasa takut terkena godaan harta ini. Betapa banyak orang yang lebih berilmu dari kita telah terjatuh pada penyimpangan-penyimpangan karena godaan ini. Bahkan ada pula orang yang sebelumnya istiqamah membela As-Sunnah dan melawan kebatilan dan bid'ah, namun kala tergoda dengan harta, kemudian terjatuh pada penyimpangan-penyimpangan. Hal itu di antaranya disebabkan oleh ketidakhati-hatian dan perasaan aman dari bahaya godaan harta. Padahal harta secara umum akan menarik pemiliknya untuk memenuhi keinginan-keinginan syahwatnya. Maka akibat adanya kemampuan untuk memenuhi keinginannya, seseorang akan terseret untuk hidup bermewah-mewah yang kemudian membuat dirinya sombong dan angkuh, dan akhirnya membuat dirinya tidak peduli dengan kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, kita harus senantiasa memohon pertolongan kepada Allah SWT dan berupaya untuk senantiasa takut dari bahaya fitnah yang ada di depan kita. Sikap hati-hati dan rasa takut ini, insya Allah akan menjadi sebab yang mendorong seseorang untuk berusaha mencari jalan keluar dari fitnah yang ada di hadapannya. Dengan sebab itu, dia pun akan senantiasa mengharapkan datangnya pertolongan Allah SWT. Adapun orang-orang yang lalai dari mengingat Allah SWT dan merasa aman dari ancaman dan bahaya godaan, sangat besar kemungkinannya untuk terjatuh dan terbawa oleh godaan sehingga semakin jauh dari petunjuk Allah SWT. Maka seseorang yang ingin selamat dari godaan, dia harus berpegang teguh dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Yaitu hendaknya dia senantiasa bersemangat dalam membaca dan mempelajarinya dan menerapkan apa yang terkandung di dalamnya. Dengan kembali dan berpegang teguh kepada keduanya, seseorang akan mengetahui bagaimana dia harus mencari harta dan bagaimana pula dia cara menginfakkannya. Dengan kembali kepada keduanya, seseorang akan tahu apa akibat dari pelanggaran terhadap batas-batas syariat Allah SWT dan apa prioritas orang yang senantiasa memperhatikan syariat dalam mendapatkan maupun menginfakkan hartanya. Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memberikan pertolongan-Nya dan memudahkan kita untuk senantiasa berada di atas syariat-Nya.


Orang-orang yang Menyesatkan Manusia di Masa Kini Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits: "Masa saling berdekatan, ilmu berkurang, kepelitan tersebar, berbagai fitnah muncul, dan banyak kekacauan." Mereka bertanya: "wahai Rasulullah, apakah kekacauan itu? ' Beliau menjawab: "pembunuhan demi pembunuhan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu) Disini Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah memberitakan tentang sebuah masa yang sangat buruk. Di mana ilmu berkurang, kepelitan tersebar, serta muncul berbagai fitnah, dan kekecauan. Masa kita ini adalah saat yang tepat untuk kita memahami hadits diatas. Di zaman ini, ilmu telah sedemikian berkurang, sehingga sangat langka untuk kita temui di tengah masyarakat muslimin, seorang yang bisa disebut sebagai ulama. Kondisi ini semakin diperparah dengan munculnya berbagai fitnah dan kekacauan di tengah-tengah mereka. Termasuk yang perlu kita waspadai di masa ini dari sekian fitnah dan keributan yang terjadi adalah para tokoh penyesat umat. Di dalam hadits Tsauban radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu' alaihi wasallam bersabda: "Hanya saja yang aku khawatirkan atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan." (HR. Ahmad dan Ad-Darimi dengan sanad yang shahih sesuai dengan persyaratan Al Imam Muslim, sebagaimana yang dikatakan oleh syaikh Al Albani rahimahullah dalam As-Shahihah 4 / 110) Dalam hadits diatas, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menggunakan kata' hanya saja 'menunjukkan bahwa kekhawatiran beliau terhadap para pemimpin yang menyesatkan sedemikian kuat. Karena mereka adalah bahaya laten bagi kaum muslimin. Mereka sangat mampu untuk menyesat umat ini dari jalan Allah. Allah berfirman tentang orang-orang yang binasa: "Dan mereka berkata:" Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah menta'ati pemimpin dan pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). "(Al-Ahzab: 67) Maka kita harus berhati-hati dari bahaya laten para tokoh yang menyesatkan. Mereka memiliki lisan yang mampu untuk menyesatkan umat dengan mengolah kata dan bersilat lidah. Demikianlah kondisi mereka. Maka 'Umar bin Khaththab radhiyallahu' anhu pernah ditanya oleh Ziyad bin Fudhail: "Apa yang dapat menghancurkan Islam?" 'Umar bin Khaththab radhiyallahu' anhu menjawab: "Yang menghancurkan Islam adalah ketergelinciran seorang yang 'alim (yang berilmu) , dan seorang munafik yang berdebat dengan menggunakan al-kitab. " Ini adalah bahaya laten bagi kaum muslimin. Mereka akan menyesatkan kaum muslimin dari jalan Allah SWT dengan menggunakan dalil-dalil syar'i namun bukan pada tempatnya. Ulama Yang Jahat (Ulama Su ') Demi Allah, pada masa ini, masyarakat kita dikepung oleh tipikal-tipikal pemimpin maupun tokoh yang seperti itu. Menyeruak di sekitar mereka, para ulama su `(jahat) yang dengan segala kelihain dan kelicikan, menyesatkan umat dengan berbagai syubhat dan kerancuan pemikiran. Oleh karena itu, kita dituntut untuk mewaspadai suasana genting ini, dengan mempelajari agama Allah SWT dari para ulama yang mengamalkan dan memperjuangkan agama Allah dengan segala yang mereka miliki. Inilah satu-satunya penanganan yang paling efektif dalam menanggulangi gejolak fitnah yang sedahsyat itu. Berapa banyak orang yang menyuarakan kebenaran, namun sedikit diantara mereka yang bisa menunjukkan bahwa yang benar itu adalah benar, dan dia benar-benar di atas yang benar. Karena itu, Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu menegaskan: "Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi dia tidak mendapatkannya." Para pemimpin atau tokoh penyesat umat lebih berbahaya bagi kaum muslimin dari musuh-musuh Allah yang menyerang dari luar lingkup kaum muslimin. Apakah mereka dari kalangan Yahudi maupun Nashara. Kalau mereka dari kalangan orang-orang yang kafir, tentunya kebanyakan kaum muslimin waspada terhadap berbagai makar mereka. Namun bagaimana dengan musuh dalam selimut yang berbaju sama, berkopiah sama, dan berpenampilan sama seperti kaum muslimin, bahkan beramal pada sebagian praktek, sama seperti kaum muslimin. Mereka shalat seperti kaum muslimin, dan berbicara dengan lisan / bahasa kaum muslimin. Akan tetapi mereka adalah para penyeru kepada neraka jahannam. Di dalam hadits Hudzaifah bin Al Yamaan radhiyallahu 'anhu disebutkan: "Ya, para da'i yang mengajak kepada pintu-pintu neraka jahannam. Barangsiapa yang memehuhi panggilan mereka, mereka akan melemparkannya ke dalam neraka jahanam itu. "Aku bertanya:" wahai Rasulullah! Sebutkan fitur-fitur mereka ke kami ". Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Mereka dari jenis kita dan berbicara dengan lisan-lisan (bahasa-bahasa) kita." (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Inilah bahaya laten yang sangat kejam dalam membinasakan kaum muslimin. Allah SWT berfirman: "Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar ingin menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa ilmu." (Al-An'am: 119) "Tetapi orang-orang yang dzalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan, maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan oleh Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun. "(Ar-Rum: 29) Semoga Allah SWT menyelamatkan kita dari kejahatan para tokoh penyesat umat. Wallahu a'lam bish shawab


Tidak Sama Pria dengan Wanita Secara fitrah, wanita jelas berbeda dengan pria. Namun dengan mengatasnamakan "hak wanita", sejumlah pihak bersuara nyaring mengampanyekan kesetaraan pria dan wanita. Mereka dan orang-orang tak berilmu menyangka bahwa mereka sedang memperbaiki tata kehidupan, padahal yang mereka lakukan tak lain adalah merusak fitrah dan kehormatan wanita. Sungguh ini bahaya besar, karena rusaknya akhlak seorang wanita merupakan awal kerusakan tatanan kehidupan keluarga dan masyarakat. (Lihat Hadits pada catatan kaki) Al-Qur'anul Karim sebagai pedoman hidup kita telah menegaskan: "Dan tidaklah pria itu sama dengan wanita ...." (Ali 'Imran: 36) Allah SWT berfirman: "Hai manusia , bertakwalah kalian kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan dari jiwa yang satu itu Dia ciptakan pasangannya. Dan dari keduanya, Allah mengembangbiakkan pria dan wanita yang banyak. Bertakwalah kalian kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian. "(An-Nisa ': 1) Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Terimalah wasiat untuk berbuat baik terhadap para wanita." (HR. At-Tirmidzi no. 1173, dihasankan Al-Imam Al-Albani, dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi). Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda: "Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah (ujian) yang lebih berbahaya bagi kaum pria dari fitnah (ujian) wanita." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Menjadi tugas pria untuk menjaga wanita karena Allah SWT telah menjadikan pria sebagai pemimpin atas mereka. Wanita itu kurang dari sisi fisiknya dibanding pria dan secara tabiat mereka lemah, sehingga mereka butuh pemimpin yang dapat membimbing mereka. Akal yang lurus yang bisa mengetahui hikmah dan rahasia-rahasia akan memutuskan bahwa makhluk yang kurang fisiknya lagi lemah tabiatnya harus berada di bawah pengaturan makhluk yang sempurna fisiknya dan kuat dalam tabiat. Dengan begitu, yang kurang lagi lemah tadi dapat memperoleh manfaat yang kembali tak dapat diperolehnya dengan sendirinya dan mudarat pun dapat terhindarkan. Pria diharuskan memberikan infak kepada para wanitanya, disamping mengurusi kebutuhan mereka dalam kehidupan ini. Sehingga si wanita dapat terjaga dalam rumahnya, mencurahkan waktunya untuk mendidik anak-anaknya dan mengatur urusan rumahnya. Masing-masing dari pria dan wanita memiliki lingkup pekerjaan yang sesuai dengan fisik mereka. Pria bekerja di luar rumah sementara wanita memiliki tugas di dalam rumah. Dengan seperti ini, akan sempurnalah kerjasama di antara mereka dalam kehidupan ini. Karena Allah SWT telah membedakan fisik pria dan wanita, di mana masing-masingnya memiliki fisik yang sesuai dan cocok dengan tanggung jawabnya dalam kehidupan ini, maka datang larangan yang tegas dari perbuatan tasyabbuh (meniru / menyerupai) salah satunya terhadap yang lain. Dalam Shahih Al-Bukhari dari Ibnu 'Abbas, ia berkata: "Rasulullah Shallallahu' alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki." Oleh karena itu, tidak bisa pria menyerupai wanita dalam hal yang merupakan kekhususan wanita. Demikian pula sebaliknya. Pria yang meniru wanita dalam sifat dan kelembutannya, dan wanita yang menyerupai pria dalam pekerjaannya, berarti masing-masingnya telah berupaya mengubah ciptaan Allah SWT, dan masing-masingnya terlaknat lewat lisan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan dilaknat dalam Kitabullah. "Siapa yang dilaknat oleh Allah maka kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan penolong baginya." (An-Nisa ': 52) Pada hari ini, sering kita saksikan seruan orang-orang tak berilmu atau kaum munafik yang menuntut persamaan wanita dengan pria. Sungguh suara-suara yang jelek dan propaganda yang beracun itu menginginkan agar wanita muslimah sama dengan wanita kafir, yang biasa keluar untuk bekerja bersisian bersama pria ajnabi (non-mahram) dalam kondisi si wanita terbuka kepala dan wajahnya, tersingkap dua betisnya, dan dua lengan bawahnya. Bahkan lebih jauh dari itu, terbuka dua pahanya dan lengan atasnya. Mereka ini meneriakkan ucapan, "Separuh dari masyarakat ini menganggur. Kami menginginkan agar semua individu masyarakat ini bekerja. " Dengan ucapan pada seakan-akan mereka memberikan gambaran bahwa wanita dalam masyarakat Islam terhitung barang yang tidak bernilai atau kayu yang disandarkan tanpa ada manfaatnya. Mata mereka buta untuk memandang bahwa tugas yang diemban wanita dalam rumahnya adalah pekerjaan yang mulia, sesuai dengan fisiknya serta sesuai dengan tabiatnya. Karena, Allah SWT dengan hikmah-Nya menjadikan wanita dengan sifatnya yang khusus cepat atau sesuai untuk ikut andil dalam membangun masyarakat manusia dengan menunaikan suatu pekerjaan / tugas yang tidak dapat diemban oleh selain wanita, seperti mengandung, melahirkan dan menyusui, mendidik anak, mengurusi rumah dan menunaikan tugas-tugas rumah tangga berupa memasak, menyapu, dan sebagainya. Pengabdian wanita di dalam rumahnya ini dilakukan dalam kondisi si wanita tertutup dari pandangan yang tidak halal untuk memandangnya. Ia terjaga dan memiliki iffah (kehormatan diri). Ia terjaga pada kemuliaan, keutamaan, dan nilai kemanusiaan. Pengabdian ini tidak bisa dianggap kecil bila dibandingkan dengan pengabdiaan kaum pria dalam mencari penghidupan. Seandainya seorang wanita sampai keluar dari rumahnya guna berserikat dengan kaum pria dalam pekerjaan-sebagaimana klaim mereka itu-niscaya akan telantarlah tugas-tugasnya di rumah. Akibatnya, masyarakat manusia pun menuai kerugian yang sangat besar. bergabungnya wanita di bidang pria akan berdampak kerusakan, karena wanita akan menjadi pajangan untuk mata-mata khianat dan tangan-tangan yang merusak. Jadilah ia sebagai hidangan yang terbuka di hadapan para pengkhianat yang memiliki hati berpenyakit. Allah SWT menyebutkan mata yang suka memandang apa yang tidak halal baginya sebagai mata yang khianat, sebagaimana dalam ayat: "Dia (Allah) mengetahui pandangan mata-mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh dada-dada." (Ghafir: 19). ... Apakah mungkin seorang pria yang memiliki sedikit saja dari sifat kejantanan-terlebih lagi bila memiliki iman-akan ridha membiarkan putrinya, istrinya, atau saudara perempuannya, menjadi santapan lezat untuk mata-mata orang fasik dan barang jamahan untuk tangan-tangan pengkhianat ? .... Apakah tidak cukup sebagai peringatan, musibah yang telah menimpa masyarakat-masyarakat yang melepaskan diri dari bimbingan Islam, di mana mereka terjerembab dalam lembah kehinaan? Ketika mereka membiarkan wanita mereka yang kembali terjaga di dalam rumah untuk keluar dari 'istana' nya dalam kondisi ber-tabarruj, mempertontonkan tubuh yang 'telanjang' (sedangkan orang-orang masa kini menganggap pakaiannya hanya terbuka sedikit, red). Ingatlah bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: "Ada dua golongan penduduk neraka yang saat ini aku belum melihat mereka, (yang pertama) suatu kaum yang memiliki cambuk-cambuk seperti ekor-ekor sapi, dengan cambuk tersebut mereka memukul manusia. (Yang kedua) para wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang ... "(HR. Muslim). .... Allah SWT pun mencabut dari kaum lelakinya sifat rujulah / kejantanan dan ghirah / kecemburuan terhadap wanita-wanita mereka. Akibatnya, jadilah masyarakat tersebut tak beda dengan masyarakat binatang, yang membiarkan dan menganggap wajar bila istri atau putrinya bergaul bebas dengan pria-pria lain di kantor atau di tempat-tempat umum lainnya, bahkan di tempat-tempat sepi. .... Allah Subhanahu wa Ta 'ala, Dialah yang menciptakan alam ini dan mengatur segenap urusannya. Dia mengetahui hal-hal yang samar / tersembunyi, dan mengetahui apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi. Allah SWT telah menempatkan pagar-pagar yang kokoh dalam kitab-Nya yang mulia untuk melindungi kaum muslimin dan menjaga wanita-wanita mereka. Sudah seharusnya manusia mentaati bila Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk menundukkan pandangan dari melihat apa yang tidak halal dilihat. Allah SWT berfirman: "Katakanlah kepada kaum mukminin," Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. "Katakanlah kepada kaum mukminat," Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka ... "(An-Nur: 30-31) .... Allah SWT melarang wanita menghentakkan kakinya yang memakai gelang kaki untuk memperdengarkan suara gelang kakinya ke para pria. Allah SWT berirman: "Dan janganlah mereka (para wanita beriman) menghentakkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan ..." (An-Nur: 31) .... Allah SWT melarang kaum wanita melembutkan suaranya ketika berbicara dengan pria ajnabi, agar jangan sampai orang-orang jahat berkeinginan jelek terhadap mereka. Allah SWT berfirman: "Maka janganlah kalian melembutkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik." (Al-Ahzab: 32) .... Allah SWT melarang wanita melakukan safar kecuali bila ditemani mahramnya. Allah SWT juga melarang pria berdua-duaan dengan wanita ajnabiyah. Allah SWT melarang para wanita mempertontonkan perhiasannya kepada pria yang tidak berhak melihatnya. Allah SWT menjadikan shalat wanita di rumahnya lebih utama dibanding shalatnya di masjid. Semua ini dalam rangka menjaga dan memelihara wanita dan membersihkan masyarakat Islam dari akhlak yang rusak. Bila umat ini berpegang dengan pengajaran dan bimbingan ilahiyah, niscaya mereka akan sukses dalam membangun masyarakat yang kuat, berpegang dengan perintah agama sekaligus bersih dari hal yang tidak pantas. Sebaliknya, bila umat ini melepaskan diri / tidak peduli dengan pengajaran dan bimbingan ilahiyah, niscaya mereka akan jatuh dalam lembah kehinaan, hilang kehormatan / kemuliaan mereka, dan hilang pula posisi mereka di kalangan umat-umat yang lain. Orang-orang bodoh yang menyerukan propaganda kesetaraan gender yang didasari kebodohan atau kemunafikan harus dicekal tangannya, dibungkam suaranya, dan dipatahkan penanya. Karena, kita-alhamdulillah-pada bashirah (ilmu yang jelas) dari hal kita dan pada ketsiqahan (keteguhan) terhadap agama kita. Tidak samar bagi kita propaganda orang-orang yang sesat dan hawa nafsu orang-orang yang punya ambisi tertentu. Sungguh, orang-orang bodoh yang menulis makalah-makalah beracun yang menyerukan agar wanita melepaskan diri dari posisi yang diberikan Islam, berarti telah mengupayakan penghancuran masyarakat mereka. Telah mendahului mereka dengan seruan busuk ini, suatu kaum yang akhir kesudahannya adalah penyesalan. Kelak, mereka yang belakangan ini akan menemukan kebaikan sama. "Dan orang-orang yang lalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali." (Asy-Syu'ara: 227) Dengan pertolongan Allah SWT, akan terus ada kaum muslimin yang berpegang dengan pengajaran agama mereka. Orang-orang yang menghinakan dan menyelisihi mereka tidak akan membahayakan mereka, sampai kelak datang hal Allah SWT sementara mereka dalam kondisi demikian. Kita mohon kepada Allah SWT agar menolong agama-Nya dan meninggikan kalimat-Nya, agar Dia menjaga pemimpin kaum muslimin dan membantu agama-Nya dengan pimpinan tersebut. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian dia mengutus bala tentaranya. Yang paling dekat posisinya dengan Iblis adalah yang paling besar fitnahnya. Datang kepadanya seorang tentaranya lalu berkata: 'Aku telah melakukannya-demikian.' Iblis berkata: 'Engkau belum berbuat sesuatu.' Dan kemudian salah seorang dari mereka datang lalu berkata: 'Aku tidak meninggalkan orang tersebut bersama istrinya melainkan aku pecah belah keduanya.' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata:' Lalu iblis mendekatkan prajurit itu kepadanya dan berkata: 'Sebaik-baik pasukan adalah kamu.' Al-A'masy berkata: 'Aku kira, (Nabi Shallallahu' alaihi wa sallam) berkata: 'Lalu iblis memeluknya. "(HR. Muslim no. 5302). Hadits ini menggambarkan betapa pentingnya posisi sebuah keluarga dalam membentuk anggota keluarga yang saleh dan bertaqwa. Karena besarnya peranan keluarga maka iblis memprioritaskan program penghancuran keluarga dibanding program kejahatan iblis lainnya dalam mengajak umat manusia ke neraka bersamanya.


Memakan harta Sesama, Dosa Yang Sering Tak Disadari "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil." (An-Nisa ': 29) Allah SWT melarang hamba-hamba-Nya kaum mukminin untuk memakan harta sebagian mereka terhadap sebagian lainnya dengan cara yang batil. Yaitu dengan segala jenis penghasilan yang tidak syar'i, seperti berbagai jenis transaksi riba, judi, mencuri, dan lainnya, yang berupa berbagai jenis tindakan penipuan dan kezaliman. Bahkan termasuk pula orang yang memakan harta sendiri dengan penuh kesombongan dan kecongkakan. (Tafsir Ibnu Katsir, Taisir Al-Karim Ar-Rahman) Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat "Jangan kalian memakan" - Yang dimaksud 'makan' di sini adalah segala bentuk tindakan, baik mengambil atau meng "Harta-harta kalian" - yaitu meliputi seluruh jenis harta, semuanya termasuk kecuali bila ada dalil syar'i yang menunjukkan kemampuannya. Maka segala hal yang tidak dibolehkan mengambilnya dalam syariat berarti harta tersebut dimakan dengan cara yang batil. (Fathul Qadir) "Dengan cara yang batil." - Yaitu segala hal yang diharamkan Allah SWT. Termasuk di dalamnya hasil riba, pencurian, perjudian, dan lain sebagainya. Al-Jashshash rahimahullahu mengatakan: "Memiliki harta dengan cara terlarang." (Ahkamul Qur'an, 4 / 300) Penjelasan Makna Ayat Allah SWT melarang hamba-hamba-Nya kaum mukminin untuk memakan harta sebagian mereka terhadap sebagian lainnya dengan cara yang batil. Yaitu dengan segala jenis penghasilan yang tidak syar'i, seperti berbagai jenis transaksi riba, judi, mencuri, dan lainnya, yang berupa berbagai jenis tindakan penipuan dan kezaliman. Bahkan termasuk pula orang yang memakan harta sendiri dengan penuh kesombongan dan kecongkakan. (Tafsir Ibnu Katsir, Taisir Al-Karim Ar-Rahman) Ibnu Jarir rahimahullahu mengatakan: "Ayat ini mencakup seluruh umat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Maknanya adalah: 'Janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain tanpa hak.' Termasuk dalam hal ini adalah perjudian, penipuan, menguasai (milik orang lain), mengingkari hak-hak (orang lain), apa-apa yang pemiliknya tidak ridha, atau yang diharamkan oleh syariat meskipun pemiliknya ridha. "(Tafsir Ath-Thabari dalam menjelaskan surat Al-Baqarah ayat 188) Dari penjelasan para ulama tentang hal ini, kita bisa memberi kesimpulan bahwa memakan harta dengan cara yang batil terbagi menjadi dua bagian: Pertama: mengambilnya dengan cara lalim seperti mencuri, berkhianat, suap, dan yang lainnya. Kedua: apa yang diharamkan oleh syariat meskipun pemilik harta itu ridha. (Ahkamul Qur'an, Al-Jashshash 1 / 312) Selain dalam surat An-Nisa ayat 29, ayat-ayat yang menyebutkan haramnya memakan harta manusia dengan cara batil juga ada pada surat Al-Baqarah ayat 188, An-Nisa ayat 161, dan At-Taubah ayat 34. Beberapa bentuk memakan harta dengan cara batil Banyak cara manusia dalam memperoleh harta, namun tidak semua cara tersebut dihalalkan di dalam Islam. "Tujuan menghalalkan segala cara" bukanlah termasuk kaidah di dalam Islam. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Perbaikilah dalam mencari rezeki, dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram." (HR. Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Baihaqi dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu. Lihat Silsilah Ash-Shahihah , Al-Albani, 6 / 2607) Memakan harta manusia dengan cara yang batil memiliki banyak bentuk. Namun di sini akan kami sebutkan beberapa contoh yang mungkin sering terjadi di kalangan manusia. Di antaranya adalah: a. Memakan hasil riba (bunga bank / kredit) Allah SWT berfirman: "Maka disebabkan kelaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih. "(An-Nisa ': 160-161) Al-'Aini rahimahullahu menjelaskan: "Bahwa pelaku riba tidak ridha dengan apa yang telah menjadi pembagian Allah Subhanahu wa Ta'ala dari (hal) yang halal dan tidak merasa cukup dengan apa yang disyariatkan berupa penghasilan yang dibolehkan. Alhasil, dia menempuh cara batil memakan harta manusia dengan berbagai usaha yang buruk. Artinya, dia mengingkari apa yang telah Allah SWT berikan kepadanya berupa kenikmatan. Dia berbuat lalim dan berdosa karena memakan harta manusia dengan cara yang batil. "('Umdatul Qari, Al-Aini, 8 / 269) Segala yang terkait dengan pertumbuhan dan perkembangan riba tersebut, termasuk yang menanamkan modal ke dalamnya, dan menghasilkan keuntungan, termasuk dalam memakan harta dengan cara batil. Al-Lajnah Ad-Da'imah ditanya: "Apakah orang-orang yang ikut serta menanamkan modal ke bank manapun yang bermuamalah dengan cara demikian (riba), keuntungannya termasuk riba?" Mereka menjawab: "Iya. Setiap yang ikut serta menanam modal pada bank yang bermuamalah dengan cara riba, maka keuntungannya adalah riba, dan (ini artinya) memakan harta manusia dengan cara yang batil. "(Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah, 2256) b. Mengambil harta dengan cara menipu Al-Lajnah Ad-Da'imah ditanya: "Acap terjadi dalam usaha bengkel mobil. Jika salah seorang dari mereka ingin memperbaiki mobil konsumen di mana mobil ini membutuhkan pergantian suku cadang, maka mekanik ini membeli suku cadang tersebut dan meminta penjual suku cadang menuliskan dalam catatan jumlah yang melebihi harga sebenarnya. Sehingga dia mengambil kelebihan tersebut secara menyeluruh dari pemilik mobil. Apakah hukum syar'i terhadap perbuatan ini? " Mereka menjawab: "Wajib atas setiap muslim untuk berbuat jujur ​​dalam setiap muamalah. Tidak diperbolehkan baginya berdusta dan mengambil harta manusia tanpa hak. Termasuk di antaranya adalah siapa yang berwenang / mewakili saudaranya untuk membeli sesuatu, tidak bisa baginya mengambil tambahan harga dari apa yang telah dibelinya. Sebagaimana tidak bisa pula yang menjual barang kepadanya menulis di catatan harga yang bukan sebenarnya, untuk menipu orang yang memberi kekuatan, sehingga dia membayar melebihi harga sebenarnya dan diambil oleh yang diwakilkan. Sebab ini termasuk tolong-menolong pada dosa dan permusuhan, serta memakan harta manusia dengan cara batil. Tidak halal harta seorang muslim kecuali dengan kerelaan dari dirinya. Wabillahit taufiq. Shalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. (Fatawa Al-Lajnah, 14/275-276, no. 15376, dengan Kepala: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, Wakil Ketua: Abdurrazzaq Afifi, Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Shalih Al-Fauzan, Abdul Aziz Alusy Syaikh) c. Memungut pajak diterapkannya perpajakan di sekian banyak negara, termasuk pula negeri-negeri kaum muslimin, merupakan bentuk mengambil harta manusia dengan cara yang batil dan lalim. Sebab tidak diperbolehkan mewajibkan sesuatu atas manusia, baik muslim maupun kafir pada harta mereka, kecuali apa yang telah diwajibkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam. Asy-Syaukani rahimahullahu mengatakan: "Kesimpulannya bahwa hukum asal harta manusia, baik muslim maupun kafir adalah haram (untuk diambil)."-Ia lalu menyebutkan ayat di atas-kemudian berkata: "Maka harus ada dalil yang menunjukkan dihalalkannya sesuatu yang dituntut tersebut. "(Dinukil oleh Shiddiq Hasan Khan dalam Ar-Raudhah An-Nadiyyah, 1/278-280) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengancam para pemungut pajak dalam beberapa haditsnya. Di antaranya adalah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam: "Sesungguhnya pemungut pajak dalam neraka. "(HR. Ahmad, 4 / 109, Ath-Thabarani, 5 / 29, dari hadits Ruwaifi 'bin Tsabit radhiyallahu' anhu. Lihat Ash-Shahihah, Al-Albani, 7 / 3405) Dalam riwayat lain dari hadits 'Uqbah bin Amir radhiyallahu' anhu secara marfu ': "Tidak masuk surga pemungut pajak." (HR. Ibnu Khuzaimah no. 2333, Ad-Darimi no. 1666, dengan sanad hasan lighairihi) Adapun makna 'al-maks', dijelaskan Ibnul Atsir rahimahullahu: "Al-Maks adalah pajak yang diambil oleh pemungutnya dari para pedagang." (An-Nihayah, 4 / 349. Lihat pula yang semakna dalam Lisanul 'Arab, 13/160) Dalam Al-Qamus disebutkan: jika dia mengambil harta , dan maks; mengurangi dan menzalimi beberapa dirham yang diambil dari penjual barang di pasar pada waktu jahiliyah. " Dalam Al-Mu'jam Al-Wasith: "Al-Maks adalah pajak yang diambil oleh pemungutnya dari para pedagang yang masuk ke dalam negeri. "(semacam pajak impor, red.). Al-Maks ini juga kadang diistilahkan dengan 'dharibah' atau 'jamrak.' Di antara yang menunjukkan bahwa perpajakan merupakan dosa yang sanga "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah berzina maka sucikanlah aku." Maka beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menolaknya. Lalu ia datang keesokan harinya dan berkata: "Wahai Rasulullah, mengapa engkau menolakku? Jangan sampai engkau menolakku sebagaimana engkau menolak Ma'iz. Demi Allah, sesungguhnya aku dalam kondisi hamil. "Maka beliau menjawab:" Tidak. Pergilah engkau sampai engkau melahirkan anakmu. "Ketika telah melahirkan, wanita ini pun datang membawa bayinya pada kemasan kain, lalu berkata:" Ini anaknya. Aku telah melahirkannya. "Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata:" Pergilah dan susuilah dia sampai dia disapih. "Tatkala dia telah menyapihnya maka dia pun datang membawa anak tersebut dan di tangannya ada sepotong roti. Lalu berkata: "Ini wahai Nabi Allah, aku telah menyapihnya. Dia telah memakan makanan. "Maka anak tersebut diserahkan kepada seorang pria dari kaum muslimin. Lalu beliau memerintahkan (wanita tersebut) untuk ditanam sampai ke dadanya, dan memerintahkan manusia untuk merajamnya. Maka mereka pun merajam wanita tersebut. Datanglah Khalid bin Walid radhiyallahu 'anhu dengan membawa batu lalu melempar kepalanya sampai darahnya memercik ke wajah Khalid, spontan dia mencacinya. Mendengar cacian tersebut, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pun bersabda: "Perlahan wahai Khalid. Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya. Sungguh dia telah bertobat dengan tobat yang kalau jika taubat itu ada pada pemungut pajak, maka dia pasti diampuni. "Lalu beliau memerintahkan untuk menyalatinya dan dikuburkan. (HR. Muslim no. 1695) An-Nawawi rahimahullahu menjelaskan ketika menjelaskan hadits ini: "Hadits ini menunjukkan bahwa memungut pajak merupakan kemaksiatan yang paling jelek dan dosa yang membinasakan. Karena hal tersebut akan menyebabkan banyaknya tuntutan manusia pada dirinya, perbuatan zalimnya dan berulangnya hal tersebut, merusak kehormatan manusia, serta mengambil harta mereka dengan tanpa hak dan mengarahkannya bukan pada tempatnya. "(Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi, 11/203) Al -Lajnah Ad-Da'imah ditanya tentang hukum perpajakan, maka mereka menjawab: "Memungut biaya / pajak terhadap barang-barang ekspor maupun impor termasuk lendir, dan lendir adalah haram. Seseorang bekerja (pada instansi yang bertugas demikian) adalah haram, meskipun pajak yang dihimpun nantinya digunakan pemerintah untuk membiayai berbagai proyek, seperti membangun sarana / prasarana negara. Berdasarkan larangan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk memungut pajak dan sikap tegas beliau terhadapnya .... " Lalu mereka menyebutkan kedua hadits di atas dan melanjutkan: "Adz-Dzahabi rahimahullahu menegaskan dalam kitabnya Al-Kaba'ir: 'Pemungut pajak termasuk dalam keumuman firman Allah SWT: "Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat lalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. "(Asy-Syura: 42) Pemungut pajak termasuk pembantu terbesar orang-orang lalim, bahkan mereka sendiri termasuk orang-orang yang lalim. Karena dia mengambil apa yang bukan haknya dan memberi kepada yang bukan haknya. Beliau (Adz-Dzahabi) juga berdalil dengan hadits Buraidah dan hadits 'Uqbah radhiyallahu' anhuma yang telah disebutkan. Beliau lalu berkata: 'Pemungut pajak menyerupai penyamun jalanan dan termasuk dalam kategori pencurian. Yang mengambil pajak, penulisnya, saksinya, yang mengambilnya dari kalangan staf maupun atasan semuanya ikut serta dalam dosa, memakan harta yang haram. " Selesai ucapan Adz-Dzahabi rahimahullahu. Hal itu termasuk memakan harta manusia dengan cara yang batil. Allah SWT berfirman: "Dan jangan kalian memakan harta di antara kalian dengan cara yang batil." (Al-Baqarah: 188) Juga berdasarkan (hadits) yang shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda dalam khutbahnya di Mina pada hari 'ied pada hajjatul wada': "Sesungguhnya darah-darah kalian, harta-harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian seperti haramnya negeri kalian ini, pada bulan kalian ini." Maka seorang muslim harus bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan meninggalkan sumber penghasilan yang haram dan menempuh cara mendapatkan penghasilan yang halal, dan itu banyak, walhamdulillah. Barangsiapa yang merasa cukup, maka Allah SWT akan mencukupinya. Allah SWT berfirman: "Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. "(Ath-Thalaq: 2-3) Allah SWT juga berfirman: "Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (Ath-Thalaq: 4)


Islam Memuliakan Wanita, dan Perlunya Berhati-hati pada Selubung Emansipasi Dalam hadits Mu’awiyah ibnul Hakam As-Sulami radhiyallahu ‘anhu, diungkapkan sebuah dialog antara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan seorang budak wanita: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: ‘Di mana Allah?’ Budak wanita itu menjawab: ‘Di (atas) langit.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kembali: ‘Siapa saya?’ ‘Anda Rasulullah,’ jawab budak wanita itu. Kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Bebaskan dia. Karena sesungguhnya dia seorang wanita yang beriman’.” (HR. Abu Dawud. Dishahihkan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu dalam Sunan Abi Dawud, no. 930) Kemuliaan Manusia Karena Ilmunya, Bukan Karena Gendernya Kisah hadits di atas membeberkan demikian gamblang, betapa keimanan yang kokoh menyembul di kalbu mampu mengantarkan seseorang memperoleh kemuliaan. Keimanan dan ilmu yang dimiliki jariyah (budak wanita) itu telah melepaskan kedudukan budak yang ada pada dirinya. Kenapa ia mampu menjawab pertanyaan Rasulullah? Tak lain karena ilmu yang ia miliki. Melalui keimanan dan ilmu, maka akan terangkatlah martabat dan harkat seseorang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadilah: 11) Karenanya, sungguh teramat tidak santun bila ada seorang muslimah menyuarakan bahwa kemuliaan wanita bisa tergapai manakala keseteraan jender terpenuhi. Kesempatan Yang Sama Untuk Mendapatkan Surga Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97) Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzab: 35) Hijab (Jilba Ditujukan Untuk Memuliakan Wanita Hijab adalah menutup seluruh aurat wanita yang tak boleh dilihat laki-laki kecuali mahramnya. Menutup anggota tubuh bagi wanita merupakan kewajiban yang ditentukan syariat. Ini salah satu aturan kesusilaan dalam Islam. Hikmah adanya ketentuan menutup seluruh anggota tubuh wanita adalah sebagai bukti perlindungan dan pemeliharaan dari hal-hal yang tidak diinginkan. Kaum wanita diperintah menutup tubuh agar mereka mudah dikenal sebagai mukminah (wanita beriman). Sehingga, orang-orang yang munafik atau fasik tidak mengganggunya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَحِيمًا “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab: 59) Timbul suara sumbang dari kalangan pengusung emansipasi. Mereka katakan, tak ada kaitan antara liberalisasi (kebebasan) berpakaian seorang wanita dengan tindak pelecehan terhadap wanita. Pernyataan ini sebagai wujud pembelaan terhadap para wanita yang berbusana tanpa menutup aurat. Pembelaan ini diberikan mengingat ide-ide emansipasi memberi kebebasan pada kaum wanita untuk berpakaian sesuai selera mereka. Karena itu, bisa dimafhumi bila memperjuangkan emansipasi setali tiga uang dengan memperjuangkan terlucutinya hijab dari kaum wanita. Maka, bagi seorang muslimah, ada atau tidak ada kaitan antara liberalisasi berpakaian dengan tindak pelecehan terhadap kaum wanita, tak begitu urgen. Sebab bagi seorang muslimah, dikenakannya busana yang menutup tubuh merupakan implementasi syariat. Meski tak menampik kenyataan, busana yang menutupi sekujur tubuhnya dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala bisa meminimkan bangkitnya birahi kaum pria. Ini merupakan bentuk kontribusi sosial yang tak ternilai dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang bersusila. Bandingkan dengan apa yang diusung para pengikut emansipasi wanita. Dengan ide-ide kebebasan bagi kaum wanita, termasuk kebebasan berpakaian, maka apa yang disumbangkan kepada masyarakat? Tak lain, sebuah masyarakat dengan konstruksi yang melecehkan wanita, mengumbar syahwat, pornografi dan berbagai kerusakan lainnya. Masyarakat menjadi ‘sakit’. Maka ketentuan syariat yang mewajibkan setiap wanita menutup sekujur tubuhnya adalah rahmat. وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al-Anbiya`: 107) Larangan Bepergian Bagi Wanita Tanpa Mahramnya Merupakan Perlindungan Terhadap Wanita Melalui ketentuan safar (bepergian) bagi kaum wanita, akan nampak bahwa Islam begitu memuliakan martabat dan kehormatan wanita. Siapa saja yang mengetahui ihwal safar (keluar rumah dan pergaulan) pada masa kini, serta mengetahui betapa dahsyatnya kerusakan pola gaul pria dan wanita, niscaya akan bisa memahami hikmah larangan bepergian sendirian bagi wanita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لَا تُسَافِرْ الْمَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ وَلاَ يَدْخُلُ عَلَيْهَا رَجُلٌ إِلاَّ وَمَعَهَا مَحْرَمٌ. فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَخْرُجَ فِي جَيْشِ كَذَا وَكَذَا، وَامْرَأَتِي تُرِيدُ الْحَجَّ. فَقَالَ: اخْرُجْ مَعَهَا “Tidak boleh seorang wanita melakukan safar kecuali disertai mahramnya. Dan tidak boleh pula seorang laki-laki bersama dengan seorang wanita kecuali ada bersamanya mahram.” Maka seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya menginginkan keluar bersama pasukan (untuk) begini dan begini, sementara istri saya menginginkan berhaji.” Kemudian kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Pergilah bersama istrimu.” (HR. Al-Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Bab Hajjin Nisa`, no. 1862, dan Muslim, Bab Safar Al-Mar`ah ma’a Mahramin ila Hajj wa ghairih, no. 1341) Maka bepergian sendirian tanpa mahram, bergaul dengan pria yang bukan mahram, berada di tempat sepi bersama pria bukan mahram, semua itu merupakan tradisi yang bakal mengantarkan kaum wanita pada malapetaka, kehancuran moral, kerendahan martabat, dan kehormatan sebagai wanita. Demikian pula, apa yang akan berdampak pada pria pun sama. Namun ketahuilah, bahwa akibat yang akan ditanggung wanita di dunia jauh lebih buruk. Karena ini menyangkut kehormatan diri, kesehatan, dan status sosial kemanusiaan. Sedangkan apa yang kelak ditanggung di akhirat tentu lebih dahsyat lagi bagi wanita maupun pria yang bersangkutan. Kita memohon keselamatan dari itu semua. Bisa jadi ada yang berpendapat bahwa bepergian haji bagi wanita pada masa sekarang ini tak mengapa. Zaman sudah berubah, keamanan bisa terjaga. Kalau ini yang dijadikan alasan, maka akan timbul pertanyaan: di manakah letak ketaatan terhadap larangan yang disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Para ulama sendiri telah sepakat bahwa seorang wanita bepergian sendirian adalah terlarang. Seperti diungkapkan Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu, bahwa tiap sesuatu yang disebut safar (bepergian) adalah terlarang bagi wanita kecuali disertai mahram atau suaminya. Disebutkan pula oleh Asy-Syaikh Yahya bin Ali Al-Hajuri hafizhahullah, banyak kalangan ulama yang tidak membolehkan wanita tanpa mahram safar (bepergian) untuk berhaji. Bila tidak didapati mahram yang menyertainya berhaji, maka dia tergolong orang yang belum mampu berhaji. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (Ali ‘Imran: 97) Maka, tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan haji kecuali kepada yang mampu. Sedangkan pada wanita, apabila tidak ada mahram yang menyertainya berarti dirinya termasuk orang yang tidak memiliki kemampuan tersebut. Ini adalah pendapat yang rajih (unggul, kuat) berdasar keumuman dalil-dalil dalam masalah larangan safar bagi wanita tanpa mahram. Tak ada pula dalil yang mengkhususkan kebolehan safar bagi wanita tanpa mahram untuk berhaji. Adapun dalil yang berbunyi: “Seorang wanita bertanya (kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam): ‘Sesungguhnya ayahku tak mampu haji dan umrah. Apakah aku boleh menghajikan baginya?’ Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Hajikanlah olehmu ayahmu’.” Ini tidaklah mengandung pengertian telah diizinkan bagi wanita tersebut untuk safar tanpa mahram. Akan tetapi, sesungguhnya hal itu merupakan bentuk izin bagi wanita tersebut untuk menghajikan ayahnya. Adalah sesuatu yang sudah maklum bahwa untuk bisa menghajikan itu perlu syarat adanya mahram bersamanya. Ini sebagaimana telah ditunjukkan dalam dalil-dalil yang ada. (Kasyful Wa’tsa`, hal. 53-54) Maka, hayati dan pikirkanlah! Jika bepergian untuk menunaikan suatu hal yang wajib, yang merupakan rukun Islam kelima yaitu haji, seorang wanita tetap tidak diperkenankan, maka apatah lagi jika bepergian tersebut sesuatu yang bersifat mengisi waktu senggang. Cuma sekadar tamasya dan bersenang-senang. Emansipasi Wanita Merupakan Upaya Terselubung Untuk Melepaskan Manusia Dari Ikatan Agama Paham emansipasi telah mewabah. Tak sedikit muslimah yang benaknya terjangkiti paham ini. Tentunya, keadaan nyaris sama terjadi pula pada kaum pria. Emansipasi dijadikan alasan untuk melampiaskan ekspresi kebebasan yang tiada batas. Menggelandang tanpa terukur dan terkendali, melabrak nilai-nilai agama. Melalui alasan emansipasi ini, ketentuan syariat seperti poligami, talak, pembagian warisan, hijab, hingga masalah khatib Jum’at pun coba didongkel untuk dipermasalahkan. Beberapa masalah yang disebutkan tadi hanya sebagian saja yang mencuat. Masih banyak agenda lainnya dari kalangan wanita –dengan alasan emansipasi– yang akan atau sedang ‘diperjuangkan’. Dengan bahasa ‘ilmiah’ mereka kemas dengan ungkapan ‘rekonstruksi nilai-nilai Islam dalam masalah jender’ atau yang semakna. Intinya, ingin memuaskan hawa nafsunya melepaskan diri dari ikatan agama. Atau, bisa juga lantaran ingin mengubah tatanan beragama hingga selaras dengan pemikiran-pemikirannya yang telah terwarnai pemikiran kufur. Wallahu ta’ala a’lam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ “Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (Ash-Shaff:


Risau Hari itu, seseorang menemukan Umar bin Abdul Aziz. Khalifah dari Bani Umayyah yang sangat terkenal itu. Didapatinya Umar sedang menangis. Sendirian. "Mengapa engkau menangis wahai Amirul Mukminin?" tanya orang itu dengan hati-hati. "Bukankah engkau telah menghidupkan banyak sunnah dan menegakkan keadilan?" Tanya orang itu lagi dengan nada menghibur. Umar masih terus menangis. Tidak ada tanda-tanda ia akan berhenti dari tangisnya. Beberapa saat kemudian, barulah ia menyahut seraya berkata, "Bukankah aku kelak akan dihadapkan pada pengadilan Allah, kemudian aku ditanya tentang rakyatku. Demi Allah, kalau benar aku telah berbuat adil terhadap mereka, aku masih mengkhawatirkan diri ini. Khawatir kalau diri ini tidak dapat menjawab pertanyaan seandainya banyak hak rakyatku yang aku dzalimi? " Air mata Umar terus mengalir dengan derasnya. Tidak lama berselang setelah hari itu, Umar menghadap Allah SWT. Ia pergi untuk selama-lamanya. Umar bin Abdul Aziz, yang menangis dan terus menangis itu, hanyalah satu contoh dari kisah 'orang-orang khawatir'. Ya, orang-orang yang selalu punya waktu untuk merasa khawatir, gundah, dan khawatir. Bahkan sebagian mereka mengkhususkan waktu-waktu tertentu untuk risau. Risau terhadap dirinya, terhadap orang-orang di sekitarnya, atau terhadap beban dan tanggung jawab yang dipikulnya. Paradigma orang yang menemui Umar, dalam kisah di atas, sangat berbeda dengan paradigma Umar, yang tetap saja menangis. Orang itu bertanya heran mengapa Umar masih menangis, karena dalam pandangan dirinya, Umar sudah sangat terkenal keshalihan dan kebajikannya. Umar telah banyak melakukan kebaikan, berlaku adil kepada rakyat. Dan bahkan mengantarkan mereka ke kehidupan yang makmur dan damai. Tetapi Umar tetap menangis. Tangis kerisauan dari seseorang yang mengerti betul bagaimana ia harus ber-etika di hadapan Tuhannya. Tangis Umar adalah ekspresi kerisauan. Kerisauan seorang penguasa yang memikul tanggung jawab berat. Tanggung jawab memimpin ribuan rakyat. Ia juga tangis seorang yang telah menapaki tangga-tangga hikmah. Yang luas ilmu dan amalnya semakin membuatnya merunduk dan merendah. Kerisauan seorang Umar, adalah bukti bahwa setinggi apapun derajat hidup orang, sesungguhnya Ia bisa risau. Meski kerisauan setiap orang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Bahkan justru di sinilah inti permasalahannya. Adalah bahwa sejarah selalu mencatat, orang-orang besar sepanjang jaman, adalah orang-orang yang punya waktu untuk risau, mengerti mengapa harus risau, dan apa yang mereka risaukan. Sebagian bahkan meniti awal kebesarannya dari awal kerisauannya. Sebab rasa khawatir adalah titik api pertama, yang akan melontarkan sikap-sikap positif berikutnya, lalu membakarnya sampai menjadi matang. Sikap mawas, selalu mengevaluasi diri, tidak besar kepala, bertanggung jawab, tidak mengambil hak orang, dan lain-lainnya. Keseluruhan sikap-sikap itu, pemantiknya adalah risau. Sejarah tidak pernah memberi tempat bagi orang-orang yang tidak pernah risau, selalu merasa aman, enjoy sepanjang hidup, tanpa beban sedikitpun, untuk dicatat dalam daftar orang-orang besar. Karena khawatir tidak saja simbol kesukaan akan tantangan, dinamika dan kompetisi, tapi risau juga kendali dan sumber inspirasi untuk segala sikap kehati-hatian. Dalam pengertian inilah, kita memahami peringatan Allah, bahwa seorang mukmin, dan bahkan setiap manusia, tidak bisa merasa aman dari adzab Allah. Orang-orang yang merasa aman, tidak pernah merasa risau, tidak punya waktu untuk khawatir, dan bahkan tidak mengerti mengapa harus risau, adalah orang-orang yang rugi. Simaklah firman Allah yang artinya, "Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi. "(QS. Al-A'raf: 97 - 99). Ayat tersebut sedemikian jelas menampilkan, bahwa merasa aman dari adzab Allah adalah tindakan yang salah. Kuncinya sangat sederhana. Karena manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Bahkan ia juga tidak bisa memastikan, apa yang akan terjadi beberapa menit kemudian. Bisa jadi besok ia melakukan kesalahan, lalu sesudah itu ia mendapat adzab. Bisa juga ia tidak melakukan kesalahan. Tetapi juga mendapat imbas adzab dari kesalahan yang dilakukan orang lain. Hidup ini seperti hutan belantara yang sangat lebat. Manusia dan keseluruhan makhluk saling berlomba di dalamnya. Berpacu, beradu, berlomba, atau juga saling bekerjasama. lebatnya belantara hidup membuat hidup begitu liat, keras, dan kadang harus saling mengalahkan. Di seluruh denyut kehidupan itu manusia terikat oleh serabut -serabut panjang dan saling berhimpitan. Ujung serabut itu terikat dengan makhluk-makhluk itu. Sedang pangkalnya ada dalam genggaman tangan-tangan Allah. Serabut-serabut itu adalah kekuasaan Allah, yang dari sana lahir takdir-takdir untuk keseluruhan hidup manusia. Maka, rasa risau, dalam tatanan Islam adalah awal dari rasa ketergantungan kepada sumber-sumber yang memberi rasa aman. Dan, sumber utama rasa aman itu adalah Allah. Yang Maha Kuat lagi Maha Melindungi. Karenanya, orang-orang seperti Umar sangat memahami betapa risau haginya adalah sebuah proses produktif seseorang dalam berinteraksi dengan Tuhannya. Ia khawatir dan karenanya ia menangis. Ia menangis dan karenanya ia berharap. Kita, di sini, sekelompok orang-orang yang tak akan sampai menyamai Umar bin Abdul Aziz, apalagi melampaui, semestinya menjadi orang-orang yang akhirnya mengerti darimana sebuah kebesaran dimulai. Bahkan, sebuah harapan, ternyata, pertama adalah segumpal risau. Salah satu kebutuhan penting dalam hidup, adalah merisaukan diri. Ia seperti rumah-rumah kecil untuk persinggahan, untuk keseluruhan alur dan aliran semangat dan gelora hidup kita. Sebuah risau adalah tali penyeimbang antara menengok ke belakang dan berhati-hati menatap ke depan. Maka seperti apakah risau kita hari ini?


Dosa lahir dan dosa batin Kita perlu menumpahkan lebih banyak perhatian terhadap jiwa, batin dan hati. Keliru besar orang yang menganggap bahwa kemaksiatan lahir atau dosa fisik (dzunub al jawarih) lebih berbahaya dari kemaksiatan batin atau dosa hati (dzunub al quluu. Salah besar orang yang mengatakan bahwa keterpelesetan kaki, lebih berbahaya dari keterpelesetan hati. Saudaraku, Ada banyak orang yang diuji melalui kemaksiatan lahir, tapi kemudian batinnya tersadar telah melakukan kemaksiatan lahir tersebut. Ada banyak orang yang khilaf melakukan dosa fisik, tapi setelah itu hatinya terhenyak lantaran telah, melakukan dosa fisik itu. Melalui kesadaran batin dan hati tersebut, ia berusaha melepaskan diri dari dosa dan kemaksiatan lahir. Lalu, keadaannya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tapi, bagaimana bila kita adalah orang yang secara lahir tampak sebagai orang yang shalih. Bila kita secara fisik terlihat dan dikenal orang lain sebagai sosok orang yang tunduk dan taat kepada Allah swt. Sementara dalam hati dan batin kita, tersimpan tumpukan dosa dan kemaksiatan batin yang bisa membinasakan semua kebaikan lahir kita? Ini bukan menyepelekan kemaksiatan fisik dan dosa lahir. Tapi seseorang memang harus mempunyai perhatian besar membersihkan hati dan batinnya, lebih dari yang lainnya. Seseorang harus mampu memegang kendali hati dan batin dirinya, sebelum ia menjadi penanggung jawab persoalan banyak orang. Inilah pesan yang terkandung dalam wasiat terkenal Umar bin Khattab radhiallahu anhu, "tafaqqahuu qabla an tasuuduu" perdalamlah fiqih-mu sebelum kalian memimpin. Kata fiqih dalam ungkapan Umar bin Khattab bukanlah kata fiqih yang diartikan paham ilmu dan hukum agama seperti yang dipahami dalam istilah kita di zaman belakangan. Para salafushalih generasi pertama tidak memahami fiqih dari sisi ilmu pengetahuan yang memuat pada teori dan konsep hukum fiqih yang muncul belakangan. Orang yang faqih atau ahli dalam fiqih, dalam pandangan para salafushalih dahulu, utamanya adalah orang yang mampu memahami dan mempraktekkan keikhlasan, tawakkal, tawadhu’, dan berbagai unsur kendali hati lainnya. Bukan hanya orang yang memahami seluk beluk hukum suatu masalah. Saudaraku, Ibnu Mas’ud ra pernah menyinggung soal pentingnya aspek penguasaan batin ketimbang aspek penguasaan lahir. Suatu ketika dihadapan sejumlah sahabatnya, ia mengatakan, "Kalian pada zaman ini memiliki sedikit khatib (orang yang tampil berbicara di hadapan orang banyak) tapi mempunyai banyak ulama. Kelak akan datang suatu zaman, banyak khatib tapi mereka memiliki sedikit ulama." Karena mengerti mendalam tentang masa lah penguasaan batin seperti inilah, Zaid bin Arqam pun diriwayatkan pernah menolak untuk diangkat menjadi komandan perang pada saat perang Mu’tah. Zaid bin Arqam menolak melanjutkan estafeta kepemimpinan perang setelah tiga orang sahabat yang diamanahkan sebagai pemimpin perang gugur sebagai syahid. Ketika itu, Zaid justru meminta kaum Muslimin waktu itu untuk memilih orang lain menjadi komandan perang. Penolakan Zaid sudah tentu bukan penolakan seorang pejuang yang pengecut dan luruh nyalinya setelah melihat dahsyatnya peperangan ketika itu. Karena catatan sejarah perang Mu’tah menegaskan tak ada lagi sejumput rasa takut yang tersisa bagi pejuang Islam yang terlibat dalam peperangan Mu’tah, di mana satu orang pejuang Muslim harus berhadapan dengan 70 orang musuh. Zaid hanya mengetahui agungnya kepemimpinan itu dibanding keadaan dirinya. Itulah yang menjadikannya merendah, lalu meminta agar ada orang lain yang menerima tugas itu. Saudaraku, Lihatlah juga, bagaimana sikap Khalid bin Walid ra yang dengan tenang meninggalkan posisinya sebagai komandan perang karena perintah khalifah Umar bin Khattab ra. Padahal Khalid telah membukukan kemenangan pasukannya di berbagai kesempatan. Tapi Khalid adalah orang yang faqih dalam urusan hati. Ia sangat mengerti posisi dirinya, dan bagaimana mengemban amanah yang diberikan kepadanya. Mengertilah kita dengan ungkapan singkat dan indah yang disampaikan Ibnu Atha, "Pendamlah wujudmu di bumi ketidakterkenalan. Tak ada sesuatu yang tumbuh dari yang belum dipendam." Maksudnya, pohon yang tumbuh besar itu pasti bermula dari benih yang awalnya di tanam dan dipendam di bawah tanah. Maka, selama kita belum bisa mengubur dan memendam wujud keinginan kita, selama kita belum mampu mengikhlaskan secara total seluruh amal kepada Allah, selama kita belum bisa menyamakan keadaan diri antara diingat dan disebut orang dengan tidak diingat dan tidak disebut orang lain, mustahil kita bisa menumbuhkan pohon amal yang besar dan memberi buah yang berguna bagi orang lain. Saudaraku, Semoga Allah swt mengkaruniai kita rasa malu kita terhadap-Nya. Rasa malu karena Ia selalu mengetahui perbuatan hamba-Nya. Rasa malu karena Ia selalu mengawasi dan memperhatikan kita, baik kita dalam kesendirian atau berada di tengah-tengah orang banyak. Baik dilihat oleh orang atau tidak dilihat. Agar kita tetap lekat merasakan bahwa Allah selalu berada di samping kita, melihat dan mengawasi kita. Apa yang dilakukan banyak salafushalih, merupakan isyarat kuat tentang masalah ini. Mereka, apabila ingat mati, kerap menangis. Jika mengingat kuburan, mereka juga kerap menangis. Dan bila mengingat hari kebangkitan, mereka juga menangis. Jika mengingat surga dan neraka, mereka gemetar ketakutan, dan jika mereka ingat bahwa amalnya kelak akan ditampakkan di hadapan orang banyak, tidak sedikit dari mereka yang pingsan. Saudaraku, Mari tatap bersama jalan yang terhampar di hadapan. Ketika kita menatap ke depan, ketika itu pula kesempatan hidup kita pun terus berjalan dan memperpendek jarak hidup kita yang ada batasnya itu. Apa yang sudah kita lakukan saat ini saudaraku?


Antara mata dan hati ”Mata adalah panglima hati. Hampir semua perasaan dan perilaku awalnya dipicu oleh pandangan mata. Bila dibiarkan mata memandang yang dibenci dan dilarang, maka pemiliknya berada di tepi jurang bahaya. Meskipun ia tidak sungguh-sungguh jatuh ke dalam jurang". Demikian potongan nasihat Imam Ghazali rahimahullah dalam kitab Ihya Ulumuddin. Beliau memberi wasiat agar tidak menganggap ringan masalah pandangan. Ia juga mengutip bunyi sebuah sya’ir, "Semua peristiwa besar awalnya adalah mata. Lihatlah api besar yang awalnya berasal dari percikan api." Hampir sama dengan bunyi sya’ir tersebut, sebagian salafushalih mengatakan, "Banyak makanan haram yang bisa menghalangi orang melakukan shalat tahajjud di malam hari. Banyak juga pandangan kepada yang haram sampai menghalanginya dari membaca Kitabullah." Saudaraku, Semoga Allah memberi naungan barakahNya kepada kita semua. Fitnah dan ujian tak pernah berhenti. Sangat mungkin, kita kerap mendengar bahkan mengkaji masalah mata. Tapi belum tentu kita termasuk dalam kelompok orang yang bisa memelihara pandangan mata. Padahal, seperti diungkapkan oleh Imam Ghazali tadi, orang yang keliru menggunakan pandangan, berarti ia terancam bahaya besar karena mata adalah pintu paling luas yang bisa memberi banyak pengaruh pada hati. Menurut Imam Ibnul Qayyim, mata adalah penuntun, sementara hati adalah pendorong dan pengikut. Yang pertama, mata, memiliki kenikmatan pandangan. Sedang yang kedua, hati, memiliki kenikmatan pencapaian. "Dalam dunia nafsu keduanya adalah sekutu yang mesra. Jika terpuruk dalam kesulitan, maka masing-masing akan saling mecela dan mencerai," jelas Ibnul Qayyim. Pemenuhan hasrat pencapaian seringkali menjadi dasar motivasi yang menggebu-gebu untuk mendapatkan atau menikahi seseorang. Padahal siap nikah dan siap jadi suami/istri adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama, nuansa nafsu lebih dominan; sedangkan yang kedua, sarat dengan nuansa amanah, tanggung-jawab dan kematangan. Saudaraku, Simak juga dialog imajiner yang beliau tulis dalam kitab Raudhatul Muhibbin: "Kata hati kepada mata, "kaulah yang telah menyeretku pada kebinasaan dan mengakibatkan penyesalan karena aku mengikutimu beberapa saat saja. Kau lemparkan kerlingan matamu ke taman dan kebun yang tak sehat. Kau salahi firman Allah, "Hendaklah mereka menahan pandangannya". Kau salahi sabda Rasulullah saw, "Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut pada Allah, maka Allah akan memberi balasan iman padanya, yang akan didapati kelezatan dalam hatinya." (HR.Ahmad) Tapi mata berkata kepada hati, "Kau zalimi aku sejak awal hingga akhir. Kau kukuhkan dosaku lahir dan batin. Padahal aku hanyalah utusanmu yang selalu taat dan mengikuti jalan yang engkau tunjukkan. Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya dalam tubuh itu ada segumpal darah. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik pula. Dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal darah itu adalah hati " (HR. Bukhari dan Muslim). Hati adalah raja. Dan seluruh tubuh adalah pasukannya. Jika rajanya baik maka baik pula pasukannya. Jika rajanya buruk, buruk pula pasukannya. Wahai hati, jika engkau dianugerahi pandangan, tentu engkau tahu bahwa rusaknya pengikutmu adalah karena kerusakan dirimu, dan kebaikan mereka adalah kebaikanmu . Sumber bencana yang menimpamu adalah karena engkau tidak memiliki cinta pada Allah, tidak suka dzikir kepada-Nya, tidak menyukai firman, asma dan sifat-sifatNya. Allah berfirman, "Sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada". (QS.AI-Hajj:46) Saudaraku, Banyak sekali kenikmatan yang menjadi buah memelihara mata. Coba perhatikan tingkat-tingkat manfaat yang diuraikan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Jawabul Kafi Liman Saala Anid Dawa’i Syafi. "Memelihara pandangan mata, menjamin kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhirat. Memelihara pandangan, memberi nuansa kedekatan seorang hamba kepada Allah, menahan pandangan juga bisa menguatkan hati dan membuat seseorang lebih merasa bahagia, menahan pandangan juga akan menghalangi pintu masuk syaithan ke dalam hati. Mengosongkan hati untuk berpikir pada sesuatu yang akan, Allah akan meliputinya dengan cahaya. Itu sebabnya, setelah firmanNya tentang perintah untuk mengendalikan pandangan mata dari yang haram, Allah segera menyambungnya dengan ayat tentang "nur", cahaya. (Al-Jawabul Kafi, 215-217) Saudaraku, Perilaku mata dan hati adalah sikap tersembunyi yang sulit diketahui oleh orang lain, kedipan mata apalagi kecenderungan hati, merupakan rahasia diri yang tak diketahui oleh siapapun, kecuali Allah, "Dia (Allah ) mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati ". (QS. Al-mukmin: l9). Itu artinya, memelihara pandangan mata yang akan menuntun suasana hati, sangat tergantung dengan tingkat keimanan dan kesadaran penuh akan ilmuLlah (pengetahuan Allah). Pemeliharaan mata dan hati, bisa identik dengan tingkat keimanan seseorang. Saudaraku, Dalam sebuah hadits dikisahkan, pada hari kiamat ada sekelompok orang yang membawa hasanat (kebaikan) yang sangat banyak. Bahkan Rasul menyebutnya, kebaikan itu bak sebuah gunung. Tapi ternyata, Allah tak memandang apa-apa terhadap prestasi kebaikan itu. Allah menjadikan kebaikan itu tak berbobot, seperti debu yang beterbangan. Tak ada artinya. Rasul mengatakan, bahwa kondisi seperi itu adalah karena mereka adalah kelompok manusia yang melakukan kebaikan ketika berada bersama manusia yang lain. Tapi tatkala dalam kondisi sendiri dan tak ada manusia lain yang melihatnya, ia melanggar larangan-larangan Allah (HR. Ibnu Majah) Kesendirian, kesepian, kala tak ada orang yang melihat perbuatan salah, adalah ujian yang akan membuktikan kualitas iman. Di sinilah peran mengendalikan mata dan kecondongan hati termasuk dalam situasi kesendirian, karena ia menjadi bagian dari suasana yang tak diketahui oleh orang lain, "Hendaklah engaku menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya yakinilah bahwa Ia melihatmu ". Begitu pesan Rasulullah saw. Wallahu'alam.


Dengarkan suara hati! Apakah yang lebih bening dari suara hati, kala ia menegur kita tanpa suara. Apakah yang lebih jujur ​​dari nurani, saat ia menyadarkan kita tanpa kata-kata. Apakah yang lebih tajam dari mata hati, ketika ia menghentak kita dari beragam kesalahan dan alpa. Ya, sebenarnya saat yang paling indah dari seluruh putaran kehidupan ini adalah saat kita mampu secara jujur ​​dan tulus mendengar suara hati. Sebab, dari sanalah banyak tindakan dan perilaku kita menemukan arahnya yang benar. Dari sana amal-amal dan segala proses kehidupan kita memiliki pijakannya yang kokoh: niat dan orientasi yang lurus. Begitulah Rasulullah menggambarkan, bahwa hati adalah panglima. Kapan ia benar dan sehat, sehat pula seluruh aktifitas fisik pemiliknya. Sebaliknya, bila ia rusak, rusak pula segala tingkah laku fisiknya. Di dalam hati kita, di dasar sanubari kita yang paling dalam, ada kekuatan yang sangat perkasa, sekaligus sumber kedamaian yang tiada tara. Di sanalah bersemayam fitrah dan jati diri ketundukan kita - juga setiap manusia - kepada Allah. Setiap manusia sejak kali pertama ditakdirkan ada, telah diikat dengan kepatuhan kepada tauhid, mengesakan Allah yang Maha Esa. Allah berfirman, "Dan (ingat-lah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):" Bukankah Aku ini Tuhanmu? "Mereka menjawab:" Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. "(Qs. Al-A'raf: 172). Fitrah kemusliman atau ketundukan itu merupakan warna asli dari keseluruhan tabiat fisik dan psikis kita. Fitrah, yang dengannya rnanusia dititahkan, memberi kita sensor diri dan pelita penerang jalan. Dalam batasan kemanusiaan, petunjuk itu diberikan oleh suara hati nurani yang jujur. Dalam suatu kesempatan, Rasulullah pernah mengajarkan kepada seorang sahabat bagaimana cara sederhana menentukan sesuatu itu baik atau buruk; "istafti qalbaka", mintalah fatwa pada hatimu. Atau dalam kesempatan yang lain ia mengatakan, bahwa barangsiapa yang amal baiknya membuat hatinya suka, dan amal buruknya membuat ia gelisah maka dia itu muslim. Artinya, dalam banyak hal, semestinya orang bisa bertanya kepada hati nuraninya apakah sesuatu itu baik atau buruk. Manusia diberi kemampuan untuk mengetahui secara standar apa saja yang layak atau tidak untuk dijalani. Manusia punya ukuran kepatutan kemanusiaan-nya. "Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya." (Qs. Asy-Syams:, Karenanya, manusia bila pun tidak mengerti banyak tentang ajaran wahyu Allah, semestinya ia masih bisa mendengar secara tulus apa suara hati nuraninya. Tetapi kebesaran dan sekaligus kesulitan manusia terletak pada haknya untuk memilih antara benar dan salah, berdasarkan ilham itu. Maka Allah tidak saja mencukupkan kita dengan hati nurani. Pada saat yang sama Ia menurunkan wahyu serta mengutus para Rasul untuk mengajari manusia bagaimana mengelola insting-insting dasarnya, sekaligus mempertajam hati nuraninya. Di sanalah berpadu antara kelurusan tujuan, dengan dasar-dasar tabiat kemanusiaan. Melalui Al-Qur'an, Islam membimbing manusia bagaimana menitik-beratkan pada hasrat hidup bermakna (the will to meaning) sebagai motif dasar. Dengan kata lain, kita harus menjalani hidup ini dengan makna yang jelas, dengan rasa berarti yang sebenarnya. Teori ini amat berlawanan arab dengan teori "hasrat untuk hidup senang" (the will to pleasure) model Freudian, maupun teori "hasrat hidup berkuasa" (the will to power) yang digaungkan Alfred Adler. Konsistensi, stabilitas, ketenangan, kedamaian, juga kebahagiaan manusia, berbanding lurus dengan sejauh mana ia mengkoordinasikan diri dengan fitrahnya dan menghadapkan wajahnya ke jalan Islam. Kapan manusia menyalahinya, akan menjadikan banyak unsur dalam kehidupan ini tidak bisa berfungsi dengan baik. Akan ada banyak ketimpangan dan kejanggalan. Kehidupan tidak berjalan di atas rel yang semestinya. Allah berfirman, "Dan barang-siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada Buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. "(Qs. Luqman: 22). Fitrah yang telah ditetapkan pada diri manusia itu tidak akan berubah. Apapun peradaban dan kemajuan yang telah dicapai manusia. "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah Allah itu. Tidak ada penambahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. "(Qs. Ar-Ruum; 30) . Seringkali suara hati nyaris tak terdengar, lantaran tersumbat oleh daki-daki hawa nafsu. Atau terselimuti dosa-dosa dan kemaksiatan. Mungkin, di antara kita pernah menemukan hari-hari yang terasa gersang, kering, dan tak ada setetes pun kesegaran. Hidup seperti tak berdenyut dan nyaris tanpa gairah. Begitulah hati menjadi air muka kita, pahit atau manisnya. Ia juga menjadi ruh kehidupan kita, redup atau terangnya. Dalam makna ini, barangkali, kita menghayati penjelasan Rasulullah, bahwa Allah tidak melihat kepada tampilan lahiriah manusia, tetapi melihat ke isi hati mereka. Maka, mengotori hati dengan dosa, sama artinya dengan menghapus cahayanya, mengacaukan jernih suaranya, dan memandulkan ketajamannya. Seperti ditegaskan Rasulullah saw, "Sesungguhnya, dosa-dosa itu bila terus menerus menimpa hati, maka ia akan menutupinya. dan bila hati telah tertutup, akan datang kunci dan cap dari Allah. Kapan sudah demikian, tak ada lagi baginya jalan, tidak ada jalan keimanan untuk masuk ke dalamnya, tidak juga jalan kekafiran untuk keluar darinya. " Tidak semua orang bisa mendengar suara hatinya . Banyak orang silau dengan kehidupan yang kian berwarna. Padahal, kebersihan hati tidak saja pelita di dunia, tapi juga bekal menghadap Allah. Kelak, ketika manusia diadili di hadapan Allah, pada hari ketika anak dan harta tidak berguna, hanya hati yang bersihlah yang bisa mengantarkan manusia menghadap Allah, "Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (Qs. Asy-Syu'ara: 89). Saatnya kita sesering mungkin mendengarkan suara hati, dengan tulus, jujur ​​dan penuh kelapangan. Suara hati kita, nurani kita, kata hati kita, adalah jati diri keaslian kita. Akankah kita mengkhianatinya?-wallahu 'alam-


Bergeraklah Di balik segala kemajuan, kesuksesan, dan kejayaan selalu tersimpan banyak rahasia. Salah satu rahasia itu adalah peran orang-orang yang tak henti bergerak, menyambung satu kerja dengan kerja lainnya. Banyak hal penting layak dicatat, sejauh mana dinamika dan gerak hidup membuahkan tonggak-tonggak kebesaran, dalam bermacam bidang, Berikut sebagiannya. 1. Bergerak akan melahirkan perubahan. Titik pertama setiap kesuksesan dimulai dari perubahaan. Artinya seseorang harus mau berubah, dari “apa adanya menjadi ada apa-apanya”, Dan, titik awal perubahan itu ada pada kehendak dan kemauan untuk bergerak. Siapa yang mengingkari peran gerakan jilbab anak-anak SMA pada era 1980-an. Betapa mereka telah menjadi tonggak penting perubahan. Tidak saja dalam bingkai moral dan keyakinan. Tapi juga bagi perubahan kebijakan penting di dunia pendidikan. Seperti dicatat oleh Alwi Alatas dan Fifrida Desliyanti, dalam buku mereka Revolusi Jilbab, bahwa di Jakarta berturut-turut mulai dari SMUN 30, SMUN 8, SMUN 31, dan SMUN 68 muncul tindakan yang sangat buruk terhadap para pemakai jilbab. Ada yang tidak boleh memasuki kelas, tidak boleh mengikuti ujian kenaikan kelas, diberikan nilai 2 dirapornya atau bahkan dikeluarkan dari sekolahnya. Salah satu catatan harian dari siswi berjilbab itu mengisahkan, bahwa ia sempat dituduh bahwa pakaian mereka “mewakili aliran tertentu." Namun ketika ditanya aliran apa yang dimaksud, sang guru itu pun diam tidak bisa menjawab. Dalam buku itu, secara jelas juga digambarkan bagaimana para siswi pemberani itu bergerak, melawan sistem sosial dan sistem politik yang bertentangan dengan keyakinan dan keimanan mereka. Perlawanan ini dimulai dari semangat kebangkitan Islam yang berhembus dari berbagai belahan penjuru dunia Islam. Kasus pelarangan berjilbab itu tetap terus berlangsung hingga tahun 1985. Pada tahun 1988 dan 1989 kasus ini merebak lagi. Seperti yang terjadi di SMUN 1, AMKK, APG Kendari, dan SMUN Mandonga, semuanya di Sulawesi Utara. Kemudian di SMUN 30 Jakarta, dan SMPN Arga Makmur Bengkulu. Bahkan, pada Agustus 1988, empat orang siswi SMUN Jakarta dikembalikan kepada orang tua masing-masing. Gigihnya mereka untuk berjilbab akhirnya mengantarkan gerakan perlawan mereka masuk ke pangadilan. Ada dua kasus yang sempat membesar di pengadilan, yaitu kasus di SMUN 1 Bogor, dan SMUN 68 jakarta. Kasus di Bogor ini bermula ketika 6 orang siswi berjilbab mendapat perlakuan diskriminatif dari pihak sekolah. Mereka tidak dianggap hadir walaupun mereka datang ke sekolah. Akhirnya mereka sepakat untuk menggugat pihak sekolah. Perjuangan mereka dimenangkan oleh pihak pengadilan. Dan untuk SMUN 68, walaupun kasus ini sangat panjang prosesnya dipengadilan, dari tahun 1989, akhirnya tahun 1995 kasus ini pun akhirnya dimenangkan oleh pihak pengadilan. Memang, sebuah gerakan untuk melawan ketidakadilan butuh pengorbanan dan waktu yang panjang. Tapi jalan yang telah dirintis dan dilalui para pelajar putri di tahun 1980-an itu telah memberikan banyak pelajaran dan manfaat. Sekarang kalau ada yang ingin memakai jilbab tidak perlu khawatir dipersulit oleh pihak sekolah, karena memang ada SK Menteri yang membolehkan Jilbab. Anak-anak korban pelarangan jilbab itu telah menorehkan sejarahnya sendiri. Tetapi segalanya diawali pada detik ketika mereka bergerak untuk. melawan. 2. Bergerak akan melahirkan sesuatu yang baru. Penemuan-penemuan baru dalam perjalanan intelektual manusia, berawal dari gerak. Ketika orang-orang yang dikaruniai Allah itu terus menerus meneliti dan mengkaji. Islam sendiri memiliki tokoh yang sangat banyak. Mereka para pionir dalam penemuan-penemuan baru, di dunia ilmiah, yang di kemudian hari menjadi landasan penting bagi penemuan baru yang melengkapinya. Sebagaimana dilakukan eksperimentalis yang berpengetahuan lengkap serta obyektif, Al Biruni. Ilmuwan yang lahir pada tahun 362 H (973M) dengan tekun menimba ilmu pada ilmuwan di kampung halamannya Amu Darya, Krakal, Pakistan, hingga umur 24 tahun. Namun, kehausan akan ilmu, membuat sahabat Ibnu Sina ini memutuskan untuk terus bergerak mengembara ke Jurja, Laut Caspia, India, dan Rayy, Teheran. Dari pengembaran itulah Al-Biruni menelurkan karya besarnya dalam bidang tarikh, berupa kitab sejarah India. Isinya, pengalaman pengembaraannya ke seluruh pelosok India. Sejarah, adat istiadat, pengetahuan dan kepurbaan India ini ditulis dalam Kitab Al-Atsar Al-Bakkiyyan. Selain itu, kesulitan-kesulitan menentukan arah kiblat dan arah perjalanan, mengantarkan Al-Biruni bersama Abul Fida dan Ibnu Hubal berhasil mengembangkan matematika geografi yang terkenal dengan penentuan koordinat geodetik untuk penentu titik ordinat bumi. Akhirnya dengan penggabungan ilmu astrologi, Al Biruni menjadi orang pertama yang menetapkan arah kiblat dengan sistern matematika-astronomi. Dengan cara yang sama ia pun berhasil menentukan jarak keliling bumi. Pada tahun 421 H (1030 M), Al Biruni terus bergerak, mengembara ke Ghazna, Afghanistan. Ia ditugaskan oleh Sultan Mahmud untuk menyertainya dalam ekspedisi militer. Ekspedisi itu tak disia-siakannya. Selain menyebarkan Islam, Al-Biruni berhasil menguasai tipologi-geografi India, seluruh dialek India dan bahasa Sanksekerta. Ia juga punya karya lain, seperti kitab “At-tahfim li awail Sinaat at-Tanjim” serta “Al-qanun al-Masudi fi al-Haya wa an-Nuum”. Dimana kitab tersebut merupakan buku ensiklopedi terlengkap bidang astronomi, astrologi, geografi dan matematika dari bangsa Yunani, India, Babylonia dan Persia. Selain itu, dari berbagai perjalanannya, Al-Biruni juga menghasilkan karya tentang berbagai jenis ramuan obat, sistim obat bius, menemukan berbagai rumus trigonometri yang hingga kini dipakai dalam dasar rumus-rumus matematika serta ensiklopedi tentang ilmu hewan dan berbagai macam jenis batu-batu permata. Semuanya ia capai dalam pengembaraan-nya. Ditambah komitmennya untuk terus bergerak menuntut pengetahuan dari berbagai masyarakat, yang kemudian dikumpulkan, dianalisis dan disimpulkan menjadi sebuah ilmu yang sangat bermanfaat hingga kini. 3. Bergerak dapat melipat gandakan bobot hidup amal kebaikan Karena setiap gerak memakan tenaga, maka setiap gerak dalam hidup akan mendapat imbalan yang semestinya. Bahkan bisa lebih. Begitulah sunnatullah mengajarkan, kecuali bila manusia merusak sunnatullah itu. Di Indonesia sendiri banyak orang-orang menuai sukses dalam berbagai bidang, lantaran ia tidak berhenti hanya pada satu kreasi. Mereka terus berpacu, memburu sumber-sumber kebaikan itu, kalau perlu ke luar negeri. Salah satu dari mereka adalah DR. Mulyanto, M.Eng. Ia tamat dari dari Fisika UI tahun 1987, ia mengikuti test untuk program Science Technology and Human Resources Development. Dan, pada 1989 ia berangkat ke Jepang untuk mengambil program S-2 dan S-3 di Tokyo Institute of Technology, program Teknik Nuklir. Bagi Mulyanto, hari-hari di Jepang benar-benar beda. Ada bobot yang lebih dari segi tuntutan jerih payah, maupun kerja dan amal. Selain tugas-tugas di Lab yang banyak, kendala paling utama yang ia rasakan adalah soal bahasa dan budaya. Apalagi berada di lingkungan Jepang, yang dapat dikatakan sekuler. Pertama kali datang, diadakan jamuan di Lab, pesta Selamat Datang. Disediakan makanan tidak halal, daging babi, termasuk sake. “Itu-lah pertama kali saya menjelaskan, kami Muslim tidak minum sake, tidak makan babi, tidak memakan (umumnya) hewan yang tidak disembelih,” kenang Mulyanto. Mereka kan bertanya-tanya, kenapa. Karena dibenak mereka, orang yang minum sake atau alkohol sambil mabuk dalam pesta, itu orang yang baik karena dia menikmati pesta itu. Itu juga penghormatan bagi yang menjamu. Perlu waktu yang cukup lama untuk menjelaskannya. Itu sendiri sudah perjuangan. Namun, mereka akhirnya menghargai. Sikap mereka pada prinsipnya baik. “Cuma saja, saya perlu menjelaskan dengan baik dan detail alasan-alasannya, karena mereka tidak mengerti," ujar Mulyanto. Dr. Mulyanto, dan orang-orang sepertinya, tentu sangat menyadari betapa keputusan untuk bergerak terus dalam jenjang-jenjang akademis dan intelektual itu memang tidak ringan. Tetapi pada setiap amal yang berat, tentu tersedia balasan yang berat pula. Karena Allah Maha Adil. Karenanya, justru di negeri yang penduduk muslimnya kurang dari 1 persen itu, Mulyanto justru dapat merasakan berharganya da’wah dan aktifitas keislaman lainnya. Ia aktif di ICMI Orwil Jepang dan Pasifik, sebagai ketua Divisi Pembinaan Umat pada 1994. Juga di Moslem Student Association. "Bersama teman-teman kami berusaha da’wah di sana. Banyak tantangannya. Misalnya beberapa kali kami mengadakan seminar keislaman, juga kegiatan semacam dauroh untuk mahasiswa muslim dari Indonesia. Di Tokyo, Nagoya, dan kota-kota lain. Pernah suatu kali, dalam acara yang seharusnya menginap, sewaktu qiyamul-lail, peserta yang menginap hanya satu orang. Jadi peserta yang dikader satu orang. Panitianya yang banyak,” kenangnya sambil tertawa. Ia menambahkan, ”Itulah tantangannya, kalau acara da’wah relatif sepi. Jadi harus membangun motivasi antar sesama pelajar." Untuk shalat pada hari-hari biasa, bersama teman-teman, ia melakukan negosiasi dengan pihak kampus supaya bisa sholat wajib di Lab. “Perlu menjelaskan dengan baik, dan Alhamdulillah, kami akhirnya bisa sholat lima waktu di Lab," ujarnya. Namun, semua kondisi itu tidak menghalanginya untuk menyelesaikan studi dengan sukses. Ia menyelesaikan program Master 2 tahun dan Doktor juga tepat 3 tahun. Ia juga menulis paper di beberapa Journal International. Tesisnya tentang bagaimana mentransfutasi unsur radioaktif limbah. Ia juga berkisah tentang hikmah dari mempelajari teknik nuklir. Ia semakin merasakan bahwa ilmu Allah itu sangat luas, dan manusia hanya mempelajari hal yang sangat kecil saja. “Ilmu Allah itu luas sekali, dan kita tahu sangat sedikit sekali. Selama hayatnya, manusia tidak akan dapat menjawab seluruh pertanyaan yang muncul dalam dirinya,” ujarnya. Kini, sekembalinya ke Indonesia, selain melakukan riset di BATAN di Puspitek Serpong, Mulyanto bersama rekan-rekannya di ISTECS meneliti bagaimana upaya mengembangkan studi science dan teknologi Indonesia, supaya sejajar dengan negara-negara lain. “Agar kaum Muslimin Indonesia maju teknologinya, kira-kira dimana persoalan yang harus diselesaikan,” terang Mulyanto. Hasil riset ia teruskan kepada lembaga yang berkepentingan, diantaranya DPR dan Menristek. Apa yang dirasakan Mulyanto, dan orang-orang sepertinya, tentu tidak sama dengan mereka yang berhenti belajar. Masalahnya memang tidak selalu harus di luar negeri. Tetapi setidaknya, pengalaman hidup Mulyanto, menegaskan sisi lain, betapa dalam gerak ada pelipatan amal, peningkatan bobot karya. Karena ruang lingkup yang berbeda, akan memberi arti yang berbeda. Karena sebesar apa kesusahan dan usaha seseorang sebesar itu pula tingkat kepuasannya. Tiga hal diatas, hanya sedikit gambaran dari manfaat bergerak. Demikian pula orang-orang yang disebutkan dalam contoh itu. Masih banyak manfaat lain. Masih banyak pula orang-orang sukses di pentas sejarah, lantaran mereka tak pemah berhenti bergerak. Ada satu aksioma dari semua kisah diatas, bahwa siapa yang bergerak, berbuat, dan menabung jerih payah, akhirnya akan memetik buah kepayahan itu. Wallahu’alam.


Mencari kesegaran hati "Agama ini kokoh dan kuat. Masukilah dengan lunak, dan jangan sampai timbul kejenuhan dalam beribadah kepada Rabbmu. "(Al-Baihaqi) Maha Suci Allah yang mempergilirkan siang dan malam. Kehidupan pun menjadi dinamis, seimbang, dan berkesinambungan. Ada hamba-hamba Allah yang menghidupkan siang dan malamnya untuk senantiasa dekat dengan Yang Maha Rahman dan Rahim. Tapi, tidak sedikit yang akhirnya menjauh, dan terus menjauh. Seperti halnya tanaman, ruhani butuh siraman Sekuat apa pun sebatang pohon, tidak akan pernah bisa lepas dari ketergantungan dengan air. Siraman air menjadi energi baru buat pohon. Dari energi itulah pohon mengokohkan pijakan akar, meninggikan batang, memperbanyak cabang, menumbuhkan daun baru, dan memproduksi buah. Seperti itu pula siraman ruhani buat hati manusia. Tanpa kesegaran ruhani, manusia cuma sebatang pohon kering yang berjalan. Tak ada keteduhan, apalagi buah yang bisa dimanfaatkan. Hati menjadi begitu kering. Persis seperti ranting-ranting kering yang mudah terbakar. Allah. memberikan teguran khusus buat mereka yang beriman. Dalam surat Al-Hadid ayat 16, Yang Maha Rahman dan Rahim berfirman, "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka. Lalu, hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. " Hati buat orang-orang yang beriman adalah ladang yang harus dirawat dan disiram dengan dzikir. Dari zikirlah, ladang hati menjadi hijau segar dan tumbuh subur. Akan banyak buah yang bisa dihasilkan. Sebaliknya, jika hati jauh dari dzikir; ia akan tumbuh liar. Jangankan buah, ladang hati seperti itu akan menjadi sarang ular, Kelabang dan sebagainya. Hamba-hamba Allah yang beriman akan senantiasa menjaga kesegaran hatinya dengan lantunan zikrullah. Seperti itulah firman Allah. dalam surat Ar-Ra'd ayat 28. "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram. " Rasulullah saw. pernah memberi nasihat, "Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dan yang tidak, seperti orang hidup dan orang mati." (Bukhari dan Muslim) Siapapun kita, ada masa lengahnya Manusia bukan makhluk tanpa khilaf dan dosa. Selalu saja ada lupa. Ketika ruhani dan jasad berjalan tidak seimbang, di situlah berbagai kealpaan terjadi. Saat itulah, pengawasan terhadap nafsu menjadi lemah. Imam Ghazali mengumpamakan nafsu seperti anak kecil. Apa saja ingin diraih dan dikuasai. Ia akan terus menuntut. Jika dituruti, nafsu tidak akan pernah berhenti. Pada titik tertentu, nafsu bisa menjadi dominan. Bahkan sangat dominan. Nafsu pun akhirnya memegang kendali hidup seseorang. Nalar dan hatinya menjadi lumpuh. Saat itu, seorang manusia sedang menuhankan nafsunya. Allah. berfirman, "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya." (Al-Jatsiyah: 23) Seburuk apapun seorang muslim, ada pintu kebaikannya Seperti halnya manusia lain, seorang muslim pun punya nafsu. Bedanya, nafsu orang yang beriman lebih terkendali dan terawat. Namun, kelengahan bisa memberikan peluang buat nafsu untuk bisa tampil dominan. Dan seorang hamba Allah pun melakukan dosa. Dosa buat seorang mukmin seperti kotoran busuk. Dan shalat serta istighfar adalah di antara pencuci. Kian banyak upaya pencucian, kotoran pun bisa lenyap: warna dan baunya. Allah. berfirman dalam surat Ali Imran ayat 133 hingga135. "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa .... Dan (juga) orang-orang yang mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah. Lalu, memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah? Dan mereka tidak melanjutkan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. " Khilaf buat hamba Allah seperti mata air yang tersumbat. Dan zikrullah adalah pengangkat sumbat. Ketika mengingat terlantun dan tersiram dalam hati, air jernih pun mengalir, menyegarkan wadah hati yang pernah kering. Sekecil Apapun kebaikan dan keburukan, ada ganjarannya Satu hal yang bisa menyegarkan kesadaran ruhani adalah pemahaman bahwa apa pun yang dilakukan manusia akan punya balasan. Di dunia dan akhirat. Dan di akhirat ada balasan yang jauh lebih dahsyat. Firman Allah., "Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula. "(Al-Zilzaal: 7-8) Pemahaman inilah yang senantiasa membimbing hamba Allah untuk senantiasa beramal. Keimanannya terpancar melalui perbuatan nyata. Lantunan zikirnya hidup dalam segala kondisi. "(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia- sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. "(Ali Imran: 191)


Terbanglah ke tempat yang tinggi Tak ada yang tidak berubah dalam hidup ini. Tak ada kondisi yang tetap. Bumi ini berputar, alam bergerak, manusia, hewan, dan tumbuhan semuanya hidup. Perubahan merupakan sunnatullah yang tidak akan pernah berubah. Kondisi suatu bangsa juga pasti mengalami perubahan. Peta kesuksesan dan kekalahan suatu umat pasti bergilir, seperti silih bergantinya malam, seperti perputaran roda. Itulah siklus perubahan yang tunduk pada sunatullah. Apa rahasia di balik sunnatullah tersebut? Al-Qur'an mengajarkan, bahwa semua itu agar kita tidak jatuh dalam kubang kekecewaan dan keputusasaan. Supaya kita tidak terjerembab dan terlibas arus yang tak menentu dalam berjuang menegakkan kebenaran dan menjalani kenyataan hidup. Saudaraku, Saat ini adalah masa-masa genting. Rentang waktu yang banyak membuat kita resah, sedih, prihatin dan gelisah. Resah akan ketidakberdayaan dunia dan umat Islam di depan kepongahan orang-orang yang pongah. Kesedihan dan keprihatinan karena ketidakmampuan dunia dan umat Islam mengalami kezaliman orang-orang yang lalim. Benar, tak ada yang tak berubah dalam hidup ini. Tapi yang lebih penting kita renungi sekarang adalah petunjuk Allah, bahwa perubahan itu tidak berdiri sendiri. Perubahan nasib dan kondisi bukan hadiah. "Allah tidak mengubah kondisi atau nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah keadaannya," begitu firman Allah. Saudaraku, Ada dua unsur terpenting dari perubahan menurut Al-Bukhturi: Hati yang berkilau dan semangat yang bergelora. Ia menyebutnya dalam ungkapan, "nafsun tadhi 'wa himmah tatawaqqad" (Diwan al Bukhturi 1 / 269). Hati yang berkilau adalah kiasan dari niat yang bersih dari beban noda dan kotoran. Niat yang bersih dari hawa nafsu, ambisi dan kepentingan pribadi, apapun bentuknya. Itulah yang menjadi prinsip dan pegangan Umar bin Abdul Aziz-Khalifatul mu'minin yang dijuluki khulafa ur rasyidin kelima. Hisyam bin Abdul Malik menggambarkan hal itu dalam ungkapannya, "Aku tak menemukan Umar melangkah, satu langkah sekalipun, kecuali Umar telah meneguhkan niatnya." (Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam, 30/29) Kuat dan lurusnya niat Umar lah yang menjadi berhasil dalam waktu lebih sedikit dari dua tahun, melakukan perbaikan besar yang menyeluruh ke semua wilayah Islam. Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang sangat kita rindu dan dambakan itu, memang pernah mengatakan niat dan tekadnya saat ia menggantikan posisi khalifah yang sebelumnya dipegang oleh Sulaiman bin Abdul Malik. Ketika itu Umar mengatakan, "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit tempat untuk setan." (Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam). Itulah niat dan tekad Umar. Bersih, tulus dan kokoh. Itulah jiwa yang berkilau. Saudaraku, Niat yang bersih juga menjadi indikator kinerja dan kualitas amal yang dilakukan pemiliknya. Abdullah bin Mubarak menyebutkan "Berapa banyak amal yang kecil tapi dibesarkan oleh niat, berapa banyak amal yang banyak namun dikecilkan karena niat ...." Juga ungkapan tokoh Tabi'in Mutharrif bin Jalil Abdullah, "Baiknya amal tergantung baiknya hati. Baiknya hati tergantung dengan baiknya niat. Siapa yang niatnya baik maka ia akan baik, dan siapa yang niatnya bercampur dan kotor, maka ia menjadi kotor dan bercampur. " Mari bersama, tanamkan keyakinan bahwa niat dan kebersihan hati ini harusnya kita letakkan pada tempat paling tinggi yang paling kita perhatikan. Jangan sampai, berbagai aktivitas lain menjadikan kita lupa dari memelihara niat dan kesucian hati. Inilah yang disinggung oleh Mushthofa Shadiq ar Rafi'i, "Kesalahan terbesar adalah bila engkau berusaha meluruskan dan membenahi kehidupan yang ada di sekitarmu, tapi engkau meninggalkan kekacauan dalam hatimu." (Wahyul Qalam, 2 / 44) Saudaraku, Persyaratan perubahan yang kedua, adalah himmah tatawaqqadu, semangat yang tinggi. Niat yang bersih akan menjadi kekuatan dahsyat bila bersanding dengan ketinggian dan kekuatan semangat. Menurut Ibnul Qoyyim, hati itu seperti burung, bila terbang meninggi maka ia akan jauh dari bahaya, tapi bila ia semakin dekat ke bumi, ia semakin terancam oleh bahaya, "(Al-Jawabul Kafi, 80, Ibnul Qoyyim). Kekuatan burung untuk terbang lebih tinggi harus didukung dengan kekuatan niat dan semangat. Korelasinya begini, setiap kali jiwa seseorang meninggi semangatnya maka hati pun akan bersih dari berbagai kontaminasi dan selalu sibuk dengan urusan yang besar. Sekaligus semangat itu pula yang akan membuat hati dilindungi dari penyakit dan panah syaithan. Saudaraku, Semangat dan obsesi yang tinggi ini yang menjadikan seorang salafussalih di hadapan murid-muridnya mengatakan, "Demi Allah aku tidak menyukai kehidupan dunia untuk mencari uang atau untuk berdagang, tapi untuk dzikir kepada Allah dan membacakan kepada kalian hadits Rasulullah. "(Tanggal Baghdad, 1 / 352). Ini pula yang menjadikan Hasan Al Banna mendefinisikan pejuang Islam adalah orang yang "Memberikan seluruh hartanya, seluruh darahnya, seluruh jiwanya, di jalan akidahnya yang ia yakini kebenarannya dan ia lakukan hidup untuknya." (Mudazkkiratu dakwah wa da'iyah, 233) . Saudaraku, Tak ada jiwa yang tak disibukkan dengan hal besar, kecuali ia akan disibukkan oleh hal kecil. Tak ada jiwa yang tidak disibukkan dengan kebaikan, kecuali ia pasti disibukkan dengan keburukan. "Jiwa itu selalu cenderung pada yang enak dan santai. Tidak berselera kepada sesuatu yang tidak disukai dan berat. Maka angkatlah jiwamu sejauh engkau bisa mengangkatnya ke tempat yang tinggi, "begitu pesan Muhammad Ahmad Rasyid dalam ar-Raqaiq. Begitulah indah dan idealnya kekuatan iman. Tapi ingat, semangat yang tinggi, mempersembahkan hidup untuk urusan urusan besar, berjuang untuk kepentingan akhirat, bukan berarti tak menapakkan kaki di bumi. Bukan berarti menolak segala kebutuhan sarana dan prasarana hidup. Sebab justru bekal ketinggian semangat untuk mengarungi perjuangan panjang, harus juga ditopang dengan perbekalan hidup yang cukup. Saudaraku, Jiwa ini perlu tantangan dan perlu benturan. Dalam suasana ada tantangan dan benturan yang memunculkan mujahadah atau upaya keraslah akan muncul kualitas iman yang baik. Sayyid Quthb, pejuang da'wah Islam yang syahid di tiang gantung mengerti sekali tentang hal ini. Katanya, "Hakikat iman tidak akan terbukti kesempurnaannya dalam hati seseorang sampai ia menghadapi benturan dengan upaya orang lain-yang berlawanan dengan imannya. Karena di sinilah, seseorang akan melakukan mujahadah sebagaimana orang lain melakukan mujahadah kepadanya untuk menghalanginya dari keimanan. Di sinilah cakrawala iman akan tersingkap dan terbuka. Keterbukaan yang tidak pernah terjadi pada jiwa orang yang merasakan iman secara datar. (Sayyid Quthb, Haadza diin, 10). Wallahu'alam


Biduk kebersamaan "Jika engkau menghadapi dunia dengan jiwa lapang, engkau akan memperoleh banyak kegembiraan yang semakin lama semakin bertambah, semakin luas, duka yang makin mengecil dan menyempit. Engkau harus tahu bahwa bila duniamu terasa sempit, sebenarnya jiwamulah yang sempit, bukan dunianya. " (Ar-Rafi'i) Biduk kebersamaan kita terus berjalan. Dia telah menembus belukar, naik tebing, membelah laut. Apakah di antara kita yang tersayat atau terluka? Sayatan luka, rasa sakit, air mata adalah bagian dari tabiat jalan yang sedang kita lalui. Dan kita tak pernah berhenti menyusurinya, mengikuti arus waktu yang juga tak pernah berhenti. Kita tak pernah berhenti karena menderita oleh kondisi seperti itu. Di jalan ini, "rasa sakit telah menjadi kenikmatan, pengorbanan menjadi indah dan jiwa menjadi tidak berharga." Kata itu yang pernah diucapkan seorang pejuang Palestina terkenal yang telah gugur, Mahmud Abu Hanud. Inilah perjalanan yang kita pilih untuk kita lalui bersama menuju keridhaan-Nya. Tujuan yang kita tetapkan dalam kebersamaan terbukti telah menjadikan kita lebih kuat, tabah, kokoh, menghadapi rintangan apapun juga. Saudaraku, Dalam perjalanan panjang seperti ini, kita membutuhkan satu bekal, yaitu sikap lapang dada, nafas panjang dan mudah memaafkan. Seperti orang-orang shalih dahulu, yang tak peduli dengan suasana getir yang mereka terima dalam menjalankan ketaatan. Seperti para pejuang yang tak pernah tersengal-sengal oleh kejaran musuh-musuhnya di jalan Allah. Seperti Rasulullah saw yang tak merasa tertekan dengan penghinaan atau cacian orang-orang sekitarnya, dalam menjalani misi kenabiannya. Saudaraku, Sungguh luar biasa sikap orang-orang shalih dalam memandang dan mengukur penghinaan orang lain terhadap dirinya. Ibrahim An Nakh'i, suatu hari berjalan bersama sahabatnya, seorang buta. Setelah beberapa lama menyusuri jalan, orang buta itu mengatakan, "Ya Ibrahim, orangorang yang melihat kita mengatakan," Itu orang buta dan orang pincang ... itu orang buta dan orang pincang. "Ibrahim dengan tenang lalu mengatakan," Kenapa engkau begitu terbebani memikirkannya? Jika mereka berdosa karena menghina kita sedangkan kita mendapat pahala, lalu kenapa? " Fudhail bin Iyadh, tokoh ulama yang terkenal ketakwaannya di zaman generasi tabi'in bercerita bahwa suatu ketika, saat berada di Masjidil Haram, ia didatangi seseorang yang menangis. Fudhail bertanya, "Kenapa engkau menangis?" Orang itu menjawab, "Aku kehilangan beberapa dinar dan aku tahu ternyata uangku dicuri." Fudhail mengatakan, "Apakah engkau menangis hanya karena dinar?" Sungguh mengejutkan jawaban orang itu. Ia menjawab, "Tidak, aku menangis karena aku tahu bahwa kelak aku akan berada di depan Allah, dengan pencuri itu. Aku kasihan dengan pencuri itu, itulah yang menyebabkan aku menangis ... " Saudaraku, Banyak sekali kisah-kisah kelapangan dada dan fasilitas memaafkan yang dicatat dari perjalanan hidup para salafushalih. Misalnya saja, ketika Rabi 'bin Khaitsam kudanya dicuri, tapi Fudhail malah memberi uang dua puluh ribu dinar kepada Rabi'. Ia lalu mengatakan, "Berdo'alah kepada Allah untuk yang mencuri itu." Rabi 'kemudian berdo'a, "Ya Allah jika ia orang kaya maka ampunilah dosanya, dan jika ia orang miskin maka jadikanlah ia orang kaya." mereka yang dirahmati Allah itu, menyikapi berbagai persoalan dengan lapang dada. Mungkin saja mereka berduka, bersedih, kecewa, atau barangkali tersulut sedikit kemarahannya. Tetapi mereka berhasil menguasai hatinya kembali. Hati mereka tetap ridha, mata mereka tetap teduh, ketenangan mereka sama sekali tidak terusik. Betapa indahnya. Kisah-kisah itu harusnya membuat kita mengerti bahwa, jika kita tidak lapang dada dan tidak mudah bersabar, kita pasti akan menjadi orang yang paling menderita di dunia ini. Sebab penderitaan terbesar adalah jiwa yang cepat goyah dan khawatir saat menghadapi sesuatu yang sebenarnya sepele. Penderitaan paling berbahaya adalah ketika tujuan hidup kita yang demikian agung, terbentur oleh kondisi hidup yang sesungguhnya sepele. Persoalan sepele, yang kita lihat secara keliru, kemudian mengakibatkan sempitnya dada, nafas tersengal, kesal hati, murung wajah, hati yang bergemuruh duka cita, bahkan air mata dan dendam. Sampai istirahat terganggu, pikiran tidak tentu arah. Jika itu yang terjadi, takkan ada amal-amal besar yang bisa dilakukan. Karena amal-amal besar itu, hanya lahir dari jiwa yang tenang, hati yang lapang, penuh ridha, pikiran yang jernih. Itu sebabnya, da'i Syaikh Mushtafa Masyhur mensyaratkan sifat 'nafasun thawiil "atau nafas panjang, yang harus ada dalam diri para pejuang Islam . Baginya, jalan perjuangan yang terjal dan panjang tak mungkin bisa dilewati oleh orang-orang yang ber 'nafas pendek' alias mudah goyah, dan tidak sabar. Saudaraku, Apa rahasia lapang dada yang dimiliki para salafushalih itu? Kenapa mereka tetap memiliki bashirah yang terang dalam menghadapi persoalan hidup? Salah satunya adalah karena wawasan ilmu mereka yang luas. Orang yang sempit wawasan adalah orang yang takut dengan hal-hal kecil, sangat takut dengan pristiwa yang remeh dan mudah marah dengan kata-kata yang tidak berkenan di hatinya. Seseorang bahkan bisa sampai terbakar puncak kemarahannya disebabkan peristiwa yang sebenarnya bisa dilewati dengan memejamkan mata. Bahkan bisa dilewati dengan senyum bila dibarengi dengan sedikit berpikir lapang dada. Itulah yang dikatakan oleh Ar Rafi'i dalam Wahyul Qalam, "Jika engkau menghadapi dunia dengan jiwa lapang, engkau akan memperoleh banyak kegembiraan yang semakin lama semakin bertambah, semakin luas, duka yang makin mengecil dan menyempit. Engkau harus tahu bahwa bila duniamu terasa sempit, sebenarnya jiwa mulah yang sempit, bukan dunianya. "(Wahyul Qalam, 1 / 50) Saudaraku dalam perjalanan, Kita bisa seperti mereka. Jika kita tahu dan sadar, ada sasaran besar dan tujuan maha agung yang akan kita capai bersama di ujung jalan ini. Ada yang maha penting dari peristiwa-peristiwa apapun di jalan ini. Ada yang maha mulia dari berbagai kejadian-kejadian apapun di jalan ini. Saudaraku, Tak ada artinya aral apapun di jalan ini. Karena, kita sedang berjuang menuju Allah.


Menyoal dampak selingkuh Dewasa ini dunia diguncang oleh gelombang demoralisasi yang dahsyat. Demoralisasi ini semakin hari semakin merambah dan merasuki jantung kehidupan serta—tidak ketinggalan—panggung sosial kita. Panggung ini telah diwarnai kisah klasik pemerkosaan, perzinaan, perselingkuhan, dan drama pergaulan bebas. Akhirnya, anak-anak tidak berdosa yang lahir tanpa ayah semakin banyak. Mereka banyak yang telantar karena ayah mereka mengikuti “pendatang baru” (wanita idaman lain) yang dikaguminya. Banyak problem yang berkaitan dengan dekadensi moral lainnya. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya perceraian, perzinaan, dan perselingkuhan. Sepanjang tahun 1986 saja telah tercatat angka perceraian yang diakibatkan perzinaan, yaitu mencapai angka dua persen dari 140 ribu-an kasus perceraian di Indonesia (2.800 perceraian). Hal yang perlu diingat: jika dari 2.800-an orang yang melakukan perceraian ini, tiap lima orangnya membuahkan seorang anak, maka dalam setahun terdapat lebih dari 500-an anak lahir akibat perzinaan. Meskipun demikian, angka ini masih relatif kecil bila dibandingkan dengan yang terjadi di beberapa negara. Misalnya, di Prancis, jumlah anak-anak yang lahir tanpa kejelasan orang tua mereka mencapai 30%, Austria 50% dan di Belgia 60% (Saksi, No.7, tahun III, hlm.24, 19 Desember 2000). Ditambah lagi, gelombang aborsi melanda pula kehidupan sosial kita saat ini. Hampir setiap tahun, bahkan bisa dikatakan setiap bulan, masalah aborsi selalu mencuat menghiasi halaman-halaman media cetak kita. Iblis aborsi yang dilakukan sebagian anak manusia ini sulit dipisahkan dengan yang namanya setan perselingkuhan dan pergaulan bebas. Hal itu disebabkan melalui dua muara inilah muncul saluran aborsi yang sangat deras, seolah-olah tidak mampu terbendung oleh kantong-kantong perasaan takut akan dosa. Aborsilah yang senantiasa menambah deretan angka dosa yang dilakukan anak Adam karena pihak keluarga tidak mau menanggung malu dan gunjingan orang lain. Terlebih lagi hal ini didukung oleh klinik-klinik yang telah melakukan praktik haram, seperti klinik Hermina yang berada di kawasan Tanah Tinggi, Jakata Pusat, beberapa tahun lalu. Begitu juga klinik lain atau rumah berkedok tempat pelayanan jasa atau pelayaanan sosial dan kesehatan, sebagaimana yang tejadi di daerah Kelapa Gading. Sebuah rumah telah berubah fungsi sebagai tempat melakukan praktik haram tersebut. Meskipun demikian, di negeri kita angka tersebut masih relatif kecil dibanding negara-negara lain. Misalnya, di Amerika, angka aborsi mencapai 29%, Denmark 27%, Italia 25,7%, Swedia 24,9%, dan Jepang 27%. Namun, bisa dipastikan gerakan aborsi ini akan meningkat terus seiring bermunculannya multimedia yang mendukung lahirnya akar permasalahan aborsi, yaitu perselingkuhan dan pergaulan bebas. Begitulah wajah dunia kita sekarang. Dunia yang gegap-gempita dengan ribuan jenis demoralisasi yang mewarnai setiap dimensi kehidupan. B. SELINGKUH: HUKUM, SEBAB, DAN DAMPAKNYA Selingkuh identik dengan affair. Selingkuh juga bisa diartikan hubungan intim atau penyelewengan yang dilakukan istri dengan PIL (pria idaman lain) atau suami dengan WIL (wanita idaman lain). Perselingkuhan yang mencapai fase berhubungan intim adalah sama dengan perzinaan yang diharamkan dan dilarang, meskipun itu dilakukan dengan “suka sama suka”. Masalahnya, pada sebagian negara di dunia ini, termasuk negara kita, perselingkuhan masih belum dianggap problem yang membahayakan sebelum berdampak langsung kepada keluarga. Beda halnya dengan pemerkosaan. Semua orang menganggap bahwa yang disebut pemerkosaan adalah perbuatan bejat, hina, dan amoral yang membahayakan serta membuat obyeknya mengalami depresi yang berat. Lebih aneh jika ada suami-istri yang melegalkan perselingkuhan selama tidak menganggu keharmonisan dan keutuhan keluarga alias saling rela. Perselingkuhan telah mewabah dalam kehidupan sosial kita. Perselingkuhan tidak pernah mengenal status sosial, tingkat pendidikan, taraf hidup, usia, kelamin, ataupun profesi. Oleh karena itu, hasil penelitian yang dilakukan “Frontier” menunjukkan bahwa 4 dari 5 eksekutif melakukan penyelewengan atau perselingkuhan. Berbeda dengan yang dikatakan Dokter Boyke Dian Nugraha. Ia mengakui bahwa tingkat perselingkuhan di kalangan orang bekerja lebih tinggi. Dokter ini menyitir dari sebuah survai yang dilakukan di Jakarta, diperoleh data bahwa 2 dari 5 wanita bekerja yang disurvai pernah terlibat perselingkuhan sampai tahapan berhubungan intim (zina/making love). Sementara itu, di kalangan pria bekerja didapatkan data bahwa 4 dari 5 pria yang disurvai pernah berselingkuh hingga tahapan zina (SWA 20/XVI/5-18 Oktober 2000, hlm. 24). Majalah SWA menuliskan sebagai berikut. “Adri (bukan nama sebenarnya), 45 tahun, manajer bank swasta nasional di Jalan Kebon Sirih, berputra tiga orang. Sudah lima tahun ini ia mengaku berbuat selingkuh tanpa sepengetahuan istrinya. Pasangannya adalah teman dekatnya atau wanita karir yang dikenalnya lewat pertemuan bisnis. Pria yang menghabiskan 2-3 juta rupiah per bulan untuk biaya selingkuh ini mengaku membutuhkan pasangan yang serasi dan sesuai, mulai dari obrolan, penampilan, dan kebutuhannya. Lain lagi dengan Mira (bukan nama sebenarnya), 35 tahun, periset di lembaga riset pemasaran terkemuka, yang sedang dalam situasi kecanduan seks. Awalnya, diakui Mira, ia dan pria pasangan intimnya—kebetulan atasannya—sering bersama-sama bertugas ke luar kota. “Karena saking kulino dan merasa kesepian, maka kami melakukannya.” Akhirnya, Mira merasa seks bak candu yang membuatnya ketagihan hingga merasa perlu mempunyai dua pasangan tetap, seorang sudah berkeluarga dan seorang lagi masih bujangan. Masih banyak Adri dan Mira lain yang kita temukan dalam lingkungan kerja atau bisnis di sekitar kita. Lebih-lebih bagi yang memiliki banyak uang dan memiliki kesempatan, yang disertai lemahnya iman. Orang ini akan sangat mudah terperangkap dalam jaring iblis perselingkuhan. Itulah gambaran perbuatan selingkuh yang telah membudaya di kalangan eksekutif kita dan yang telah menjadi nafas sehari-hari kehidupan sosial kita. C. ISLAM MEMANDANG SELINGKUH Selingkuh, baik yang masih dalam taraf coba-coba atau yang sudah sampai tahap hubungan intim, hukumnya haram. Islam tidak saja melarang perzinaan, melainkan lebih jauh melarang umatnya mendekati perzinaan itu sendiri. Artinya, Islam menganjurkan umatnya untuk menjauhi perangkap-perangkap setan sebelum perzinaan. Maka, kita dilarang memandang wanita ajnabiah, ber-khalwat (berduaan), berjabat tangan, dan lain-lain yang menggiring manusia ke jurang kenistaan dan kehinaan zina. Perhatikan ayat-ayat Allah SWT dan hadits–hadits Nabi berikut ini. “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan hijab ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (an-Nuur: 30-31) “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (al-Israa`: 32) “Ya, Ali, janganlah kamu mengikuti pandangan dengan pandangan yang lain, sesungguhnya bagimu pandangan pertama bukan pandangan yang terakhir.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi) “Sesungguhnya pandangan itu (memandang wanita lain) adalah anak panah iblis yang beracun. Maka, barangsiapa yang meninggalkannya karena takut pada-Ku niscaya Aku akan menggantinya dengan keimanan yang mampu mendatangkan kelezatan dalam hatinya.” (HR at-Thabrani) “Setiap mata melakukan zina, dan wanita apabila memakai wewangian dan lewat di depan majelis (tempat berkumpulnya laki-laki) niscaya ia melakukan yang demikian dan yang demikian itu (zina).” (HR at-Tirmidzi) “Janganlah laki-laki berduaan dengan wanita yang tidak halal baginya kecuali dengan mahramnya, karena yang ketiga adalah setan.” (HR Ahmad dan Syaikhan) Beberapa ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk menjauhi hal-hal atau langkah-langkah yang mendekati perzinaan. Ibarat kata pepatah “gunung yang besar itu dari kerikil kecil, api besar yang membara itu dari api kecil.” Maka, perbuatan zina itu juga lahir dari proses yang panjang, yang terkadang sebagian orang menganggap sesuatu yang biasa, seperti memandang, bercanda, makan malam, dan seterusnya. Untuk jelasnya, perzinaan lahir dari sebuah proses perilaku dengan urutan-urutan sebagai berikut. “Pandangan akan berubah menjadi lintasan pikiran; lintasan pikiran ini akan meningkat menjadi endapan-endapan yang melahirkan keinginan untuk menyapa, berbicara, kemudian perjanjian dan selanjutnya kencan. Ketika hati sedang jauh dari nilai-nilai kebenaran, maka kehendak yang melebihi kencan akan diputuskan oleh hati yang sedang galau dan jauh dari nilai Islam. Akhirnya, apa yang dirindukan setan akan terealisasi.” D. SEBAB-SEBAB SELINGKUH Secara singkat, kita dapat mengkonklusikan bahwa faktor-faktor atau sebab-sebab yang mempengaruhi perselingkuhan ada dua macam: sebab-sebab internal dan eksternal. 1. Sebab-sebab Internal Petama, lemahnya iman. Keimanan seseorang merupakan benteng yang kokoh antara dirinya dan nilai-nilai negatif yang akan mempengaruhinya. Ketika iman tidak bekerja dalam ruang kehidupan seseorang, maka akan muncul keinginan-keinginan dan kehendak-kehendak negatif yang akan diputuskan oleh hati yang sedang sakit. Sabda Rasulullah saw., “…Ingatlah, sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging. Apabila ia baik maka jasad (tindakan) semua akan baik, (sebaliknya) apabila ia rusak maka seluruh jasad (tindakan) akan rusak. Itulah hati.” (HR Muslim) Artinya, hati yang didominasi nilai keimanan dan ketakwaan akan berbanding lurus dengan kebaikan-kebaikan yang ada. Ia tidak akan penah memutuskan kehendak hewani, pikiran yang jorok, dan syahwat untuk menikmati hal-hal yang diharamkan Islam. Oleh karena itu, seorang muslim yang memiliki ketahanan iman yang kuat niscaya akan menahan gejolak nafsu berahi di luar bingkai Islam, kapan pun dan di mana pun. Inilah muslim yang cerdas dalam menyikapi kehidupan yang telah digambarkan Rasul kita. “(Siapa orang yang cerdas dan kuat itu Beliau menjawab, ‘Orang yang cerdas (al-Kaiyis) itu adalah orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya dan selalu beramal untuk hari kematiannya, sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berandai-andai kepada Allah SWT.” (HR at-Tirmidzi, ia berkata, ‘Hadits hasan sahih’) Kedua, upaya coba-coba. Ada sebagian pria dan wanita yang melakukan perselingkuhan hanya karena ingin mencobanya. Hal ini seperti yang diungkapkan Dokter Boyke, “Dari kasus selingkuh yang terjadi, banyak yang awalnya coba-coba, meskipun faktor kebosanan terhadap pasangan tetap ikut berperan.” Namun, kalau kita kembali kepada masalah iman dan ketakwaan, mustahil orang melakukan hal itu selagi cahaya iman masih memancar dalam lubuk hatinya. Sesungguhnya, seorang muslim tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak memberikan faedah, apalagi yang berhubungan dengan dosa-dosa besar. Rasulullah saw. bersabda, “Termasuk kebaikan seorang muslim apabila ia meninggalkan hal-hal yang tidak befaedah.” (HR at-Tirmidzi) Ketiga, ketidakcocokan dan kebosanan terhadap pasangan. Keharmonisan, ketenteraman, dan kedamaian merupakan sesuatu yang asasi harus dimiliki oleh sebuah rumah tangga. Hal ini ditujukan bagi suami-istri yang menginginkan bahtera keluarga berlayar tanpa menghadapi gelombang-gelombang besar yang membahayakan mereka. Keharmonisan tidak akan ada jika ketidakcocokan selalu mewarnai rumah tangga. Lebih-lebih yang berkaitan dengan visi dan misi rumah tangga atau yang berkaitan dengan gaya hidup. Cahaya ketenteraman dan kedamaian sedikit demi sedikit mulai redup tatkala kebosanan mulai menutupinya. Selanjutnya, kecintaan dan kasih sayang pasti perlahan-lahan akan meninggalkan ruang keharmonisan keluarga. Akhirnya, pasangan suami-istri ini masing-masing akan mencari suasana baru meskipun diharamkan dalam agama. Dari sinilah mereka mulai melampiaskan keinginan dan hasratnya ke tempat-tempat hiburan untuk menghilangkan kejenuhan dan kebosanan yang ada dalam diri masing-masing. Maka, lahirlah gelombang perselingkuhan dan pergaulan bebas melalui proses panjang yang diawali dengan ketidakcocokan dan kebosanan dalam mahligai rumah tangga. 2. Sebab-sebab Eksternal Sebab-sebab eksternal yang dominan adalah lingkungan yang kondusif untuk melakukan selingkuh—selingan indah keluarga runtuh—serta ajakan teman yang telah menikmati budaya perselingkuhan ini. Dokter Boyke berkomentar, “Faktor yang paling sering menjadi penyebab terjadinya penyelewengan seks adalah lingkungan, termasuk lingkungan kerja. Pengaruh lingkungan masih sangat kuat, seperti yang dialami oleh eksekutif wanita yang memiliki tujuh rekan wanita, yang semuanya berselingkuh. Ia pun didorong-dorong melakukannya, malahan kalau tidak bersedia ia dilecehkan.” E. DAMPAK SELINGKUH Secara garis besar, selingkuh memberikan dampak-dampak negatif sebagai berikut: - Budaya zina akan meningkat; - Gelombang aborsi makin membesar; - Angka perceraian akan meningkat; - Keluarga berantakan; - Anak-anak tanpa kasih sayang orang tua dan bisa telantar; dan - Dendam yang mengakibatkan pembunuhan kekasih gelap (PIL/WIL) Solusi Dari uraian di atas, kita dapat mengkonklusikan bahwa perselingkuhan yang sedang membudaya di tengah-tengah kehidupan sosial kita ini bisa diobati melalui solusi sebagai berikut. - Meningkatkan keimanan dan ketakwaan dengan berbagai bentuk ibadah yang terdapat dalam Islam. Selain itu, ia harus meyakini bahaya yang akan ditimbulkan akibat perbuatan ini, yang tidak hanya berdampak kepada dirinya sendiri. Ia pun harus takut akan ancaman Allah di akhirat kelak. - Bergaul dengan orang-orang yang saleh. - Untuk mengantipasi ajakan teman melakukan perbuatan haram ini, ia harus mencari teman yang baik, teman yang mampu memberikan nilai kebaikan selama ia bersamanya. Allah berfirman, “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (al-Kahfi: 28) - Mencari pasangan dengan cara islami. Adalah sebuah fenomena di kalangan wanita: ada yang lebih suka melihat suaminya melakukan zina atau “jajan” di luar daripada berpoligami, atau ada suami yang merelakan istrinya melakukan hubungan intim dengan orang lain. Ini adalah fenomena yang tidak pernah tercatat dalam kamus kehidupan muslim. Tentunya, dalam hal ini suami harus mampu menegakkan nilai keadilan atau pinsip-pinsip dasar yang dituntut dalam berpoligami. Allah SWT berfirman, “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (an-Nisaa`: 3) Maka, dengan langkah-langkah seperti ini, kita berharap masyarakat semakin bersih dari budaya-budaya negatif, mulai dari budaya pacaran, pergaulan bebas, perselingkuhan, hingga perzinaan.


Berbakti Kepada Orang Tua Berbicara tentang berbakti kepada orang tua tidak lepas dari permasalahan berbuat baik dan mendurhakainya. Mungkin, sebagian orang merasa lebih ‘tertusuk’ hatinya bila disebut ‘anak durhaka’, ketimbang digelari ‘hamba durhaka’. Bisa jadi, itu karena ‘kedurhakaan’ terhadap Allah, lebih bernuansa abstrak, dan kebanyakannya, hanya diketahui oleh si pelaku dan Allah saja. Lain halnya dengan kedurhakaan terhadap orang tua, yang jelas amat kelihatan, gampang dideteksi, diperiksa dan ditelaah,sehingga lebih mudah mengubah sosok pelakunya di tengah masyarakat, dari status sebagai orang baik menjadi orang jahat. Pola berpikir seperti itu, jelas tidak benar, karena Allah menegaskan dalam firman-Nya, (yang artinya) : “Allah telah menetapkan agar kalian tidak beribadah melainkan kepada-Nya; dan hendaklah kalian berbakti kepada kedua orang tua.” (Al-Israa : 23) Penghambaan diri kepada Allah, jelas harus lebih diutamakan. Karena manusia diciptakan memang hanya untuk tujuan itu. Namun, ketika Allah ‘menggandengkan’ antara kewajibanmenghamba kepada-Nya, dengan kewajiban berbakti kepada orang tua, hal itu menunjukkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua memang memiliki tingkat urgensi yang demikian tinggi, dalam Islam. Kewajiban itu demikian ditekankan, sampai-sampai Allah menggandengkannya dengan kewajiban menyempurnakan ibadah kepada-Nya. Urgensi Berbakti kepada Dua orang Tua Ada setumpuk bukti, bahwa berbakti kepada kedua orang tua –dalam wacana Islam- adalah persoalan utama, dalam jejeran hukum-hukum yang terkait dengan berbuat baik terhadap sesama manusia. Allah sudah cukup mengentalkan wacana ‘berbakti’ itu, dalam banyak firman-Nya, demikian juga Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, dalam banyak sabdanya, dengan memberikan ‘bingkai-bingkai’ khusus, agar dapat diperhatikan secara lebih saksama. Di antara tumpukan bukti tersebut adalah sebagai berikut: 1. Allah ‘menggandengkan’ antara perintah untuk beribadah kepada-Nya, dengan perintah berbuat baik kepada orang tua: “Allah telah menetapkan agar kalian tidak beribadah melainkan kepada-Nya; dan hendaklah kalian berbakti kepada kedua orang tua.” (Al-Israa : 23) 2. Allah memerintahkan setiap muslim untuk berbuat baik kepada orang tuanya, meskipun mereka kafir: “Kalau mereka berupaya mengajakmu berbuat kemusyrikan yang jelas-jelas tidak ada pengetahuanmu tentang hal itu, jangan turuti; namun perlakukanlah keduanya secara baik di dunia ini.” (Luqmaan : 15) Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Ayat di atas menunjukkan diharuskannya memelihara hubungan baik dengan orang tua, meskipun dia kafir. Yakni dengan memberikan apa yang mereka butuhkan. Bila mereka tidak membutuhkan harta, bisa dengan cara mengajak mereka masuk Islam..[1]“ 3. Berbakti kepada kedua orang tua adalah jihad. Abdullah bin Amru bin Ash meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki meminta ijin berjihad kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Beliau bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Lelaki itu menjawab, “Masih.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, berjihadlah dengan berbuat baik terhadap keduanya.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim) 4. Taat kepada orang tua adalah salah satu penyebab masuk Surga. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh kasihan, sungguh kasihan, sungguh kasihan.” Salah seorang Sahabat bertanya, “Siapa yang kasihan, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang sempat berjumpa dengan orang tuanya, kedua-duanya, atau salah seorang di antara keduanya, saat umur mereka sudah menua, namun tidak bisa membuatnya masuk Surga.” (Riwayat Muslim) Beliau juga pernah bersabda: “Orang tua adalah ‘pintu pertengahan’ menuju Surga. Bila engkau mau, silakan engkau pelihara. Bila tidak mau, silakan untuk tidak memperdulikannya.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan beliau berkomentar, “Hadits ini shahih.” Riwayat ini juga dinyatakan shahih, oleh Al-Albani.) Menurut para ulama, arti ‘pintu pertengahan’, yakni pintu terbaik. 5. Keridhaan Allah, berada di balik keridhaan orang tua. “Keridhaan Allah bergantung pada keridhaan kedua orang tua. Kemurkaan Allah, bergantung pada kemurkaan kedua orang tua[2].” 6. Berbakti kepada kedua orang tua membantu meraih pengampunan dosa. Ada seorang lelaki datang menemui Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sambil mengadu, “Wahai Rasulullah! Aku telah melakukan sebuah perbuatan dosa.” Beliau bertanya, “Engkau masih mempunyai seorang ibu?” Lelaki itu menjawab, “Tidak.” “Bibi?” Tanya Rasulullah lagi. “Masih.” Jawabnya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Kalau begitu, berbuat baiklah kepadanya.” Dalam pengertian yang ‘lebih kuat’, riwayat ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada kedua orang tua, terutama kepada ibu, dapat membantu proses taubat dan pengampunan dosa. Mengingat, bakti kepada orang tua adalah amal ibadah yang paling utama. 7. Berbakti kepada orang tua, membantu menolak musibah. Hal itu dapat dipahami melalui kisah ‘tiga orang’ yang terkurung dalam sebuah gua. Masing-masing berdoa kepada Allah dengan menyebutkan satu amalan yang dianggapnya terbaik dalam hidupnya, agar menjadi wasilah (sarana) terkabulnya doa. Salah seorang di antara mereka bertiga, mengisahkan tentang salah satu perbuatan baiknya terhadap kedua orang tuanya, yang akhirnya, menyebabkan pintu gua terkuak, batu yang menutupi pintunya bergeser, sehingga mereka bisa keluar dari gua tersebut. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim) 8. Berbakti kepada orang tua, dapat memperluas rezki. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa yang ingin rezkinya diperluas, dan agar usianya diperpanjang (dipenuhi berkah), hendaknya ia menjaga tali silaturahim.” (Al-Bukhari dan Muslim) Berbakti kepada kedua orang tua adalah bentuk aplikasi silaturahim yang paling afdhal yang bisa dilakukan seorang muslim, karena keduanya adalah orang terdekat dengan kehidupannya. 9. Doa orang tua selalu lebih mustajab. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Ada tiga bentuk doa yang amat mustajab, tidak diragukan lagi: Doa orang tua untuk anaknya, doa seorang musafir dan orang yang yang terzhalimi.” 10. Harta anak adalah milik orang tuanya. Saat ada seorang anak mengadu kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, “Wahai Rasulullah! Ayahku telah merampas hartaku.” Rasulullah bersabda, “Engkau dan juga hartamu, kesemuanya adalah milik ayahmu[3].” 11. Jasa orang tua, tidak mungkin terbalas. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Seorang anak tidak akan bisa membalas budi baik ayahnya, kecuali bila ia mendapatkan ayahnya sebagai budak, lalu dia merdekakan.” (Dikeluarkan oleh Muslim) 12. Durhaka kepada orang tua, termasuk dosa besar yang terbesar. Dari Abu Bakrah diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Maukah kalian kuberitahukan dosa besar yang terbesar?” Para Sahabat menjawab, “Tentu mau, wahai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.” Beliau bersabda, “Berbuat syirik kepada Allah, dan durhaka terhadap orang tua.” Kemudian, sambil bersandar, beliau bersabda lagi, “..ucapan dusta, persaksian palsu..” Beliau terus meneruskan mengulang sabdanya itu, sampai kami (para Sahabat) berharap beliau segera terdiam. (Al-Bukhari dan Muslim) 13. Orang yang durhaka terhadap orang tua, akan mendapatkan balasan ‘cepat’ di dunia, selain ancaman siksa di akhirat[4]. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Ada dua bentuk perbuatan dosa yang pasti mendapatkan hukuman awal di dunia: Memberontak terhadap pemerintahan Islam yang sah, dan durhaka terhadab orang tua[5].” Alhamdulillah. Kesemua bukti tersebut –dan masih banyak lagi bukti-bukti ilmiah lainnya, termasuk konsensus umat Islam terhadap urgensi berbakti kepada orang tua yang sama sekali tidak boleh terabaikan–, kesemuanya, menunjukkan betapa bakti kepada orang tua adalah kebajikan maha penting, bahkan yang terpenting dari sekian banyak perbuatan baik yang diperuntukkan terhadap sesama makhluk ciptaan Allah. Sedemikian pentingnya, hingga riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang adab, prilaku dan sikap seorang anak terhadap orang tuanya, bertaburan dalam banyak hadits-hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, bahkan juga dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Memuliakan Orang Tua Pemuliaan Islam terhadap sosok orang tua, amat lugas. Wujud pemuliaan itu sudah beberapa langkah mendahului gemuruh propaganda sejenis, yang baru-baru saja muncul belakangan ini, dari kalangan Barat. Sebut saja contohnya: jaminan untuk kaum manula, perhatian terhadap kaum jompo dan lain sebagainya. Kenapa demikian? Karena Islam sudah jauh-jauh hari langsung menghadirkan ‘perintah tegas’ bagi seorang mukmin, untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. “Telah kami pesankan seorang manusia untuk senantiasa berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (Al-Ahqaaf : 15) Ibnu Katsier menjelaskan, “Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, sekaligus juga melimpahkan kasih sayang kita kepada mereka[6].” “Beribadahlah kepada Allah, jangan menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (An-Nisaa : 36) Perintah itu, bahkan diseiringkan dengan perintah untukmengesakan Allah sebagai kewajiban utama seorang mukmin. Sehingga amatlah jelas, perintah itu mengandung ‘tekanan’ yang demikian kuat. Sekarang, bandingkanlah substansi ajaran Islam itu dengan realitas yang berkembang di berbagai negara di dunia, termasuk di Indonesia sekarang ini. Banyak anak yang enggan menyisihkan sebagian waktunya, mengucurkan keringat atau sekadar berlelah-lelah sedikit, untuk merawat orang tuanya yang sudah ‘uzur’. Terutama sekali, bila anak tersebut sudah berkedudukan tinggi, sangat sibuk dan punya segudang aktivitas. Akhirnya, ia merasa sudah berbuat segalanya dengan mengeluarkan biaya secukupnya, lalu memasukkan si orang tua ke panti jompo!! Berbuat Baik Kepada Orang Tua “..dan hendaklah kalian berbuat baik kepada kedua orang tua.” (Al-Israa : 23) Berbuat baik dalam katagori umum, dalam bahasa Arabnya disebut ihsaan. Sementara bila ditujukan secara khusus kepada orang tua, lebih dikenal dengan istilah birr. Dalam segala bentuk hubungan interaktif, Islam sangatlah menganjurkan ihsan atau kebaikan. “Sesungguhnya Allah menetapkan kebaikan, untuk dilakukan dalam segala hal. Bila kalian membunuh, lakukanlah dengan cara yang baik. Bila kalian menyembelih hewan, lakukanlah dengan cara baik. Oleh sebab itu, hendaknya seorang muslim menyiapkan pisau yang tajam, dan upayakan agar hewan sembelihan itu merasa lebih nyaman[7].” Ibnu Jarir Ath-Thabari menjelaskan, “Allah berpesan agar setiap orang melakukan bakti kepada orang tua dengan berbagai bentuk perbuatan baik. Namun kepada selain orang tua, Allah hanya memesankan ’sebagian’ bentuk kebaikan itu saja. “Katakanlah yang baik, kepada manusia.” (Al-Baqarah : 83) Orang tua adalah manusia yang paling berhak mendapatkan danmerasakan ‘budi baik’ seorang anak, dan lebih pantas diperlakukan secara baik oleh si anak, ketimbang orang lain. Ada beragam cara yang bisa dilakukan seorang muslim, untuk ‘mengejawantahkan’ perbuatan baiknya kepada kedua orang tuanya secara optimal. Beberapa hal berikut, adalah langkah-langkah dan tindakan praktis yang memang sudah ’seharusnya’ kita lakukan, bila kita ingin disebut ‘telah berbuat baik’ kepada orang tua: 1. Bersikaplah secara baik, pergauli mereka dengan cara yang baik pula, yakni dalam berkata-kata, berbuat, memberi sesuatu, meminta sesuatu atau melarang orang tua melakukan suatu hal tertentu. 2. Jangan mengungkapkan kekecewaan atau kekesalan, meski hanya sekadar dengan ucapan ‘uh’. Sebaliknya, bersikaplah rendah hati, dan jangan angkuh. 3. Jangan bersuara lebih keras dari suara mereka, jangan memutus pembicaraan mereka, jangan berhohong saat beraduargumentasi dengan mereka, jangan pula mengejutkan mereka saat sedang tidur, selain itu,jangan sekali-kali meremehkan mereka. 4. Berterima kasih atau bersyukurlah kepada keduanya, utamakan keridhaan keduanya, dibandingkan keridhaan kita diri sendiri, keridhaan istri atau anak-anak kita. 5. Lakukanlah perbuatan baik terhadap mereka, dahulukan kepentingan mereka dan berusahalah ‘memaksa diri’ untuk mencari keridhaan mereka. 6. Rawatlah mereka bila sudah tua, bersikaplah lemahlembut dan berupayalah membuat mereka berbahagia, menjaga mereka dari hal-hal yang buruk, serta menyuguhkan hal-hal yang mereka sukai. 7. Berikanlah nafkah kepada mereka, bila memang dibutuhkan. Allah berfirman: “Dan apabila kalian menafkahkan harta, yang paling berhak menerimanya adalah orang tua, lalu karib kerabat yang terdekat.” (Al-Baqarah : 215) 8. Mintalah ijin kepada keduanya, bila hendak bepergian, termasuk untuk melaksanakan haji, kalau bukan haji wajib, demikian juga untuk berjihad, bila hukumnya fardhu kifayah. 9. Mendoakan mereka, seperti disebutkan dalam Al-Qur’an: “Dan ucapanlah, “Ya Rabbi, berikanlah kasih sayang kepada mereka berdua, sebagaimana menyayangiku di masa kecil.” (Al-Isra : 24)[8] Semua hal di atas bukanlah ’segalanya’ dalam upaya berbuat baik terhadap orang tua. Kita teramat sadar, bahwa ‘hak-hak’ orang tua, jauh lebih besar dari kemampuan kita membalas kebaikan mereka. Mungkin lebih baik kita tidak usah terlalu berbangga diri, kalaupun segala hal diatas telah dapat kita wujudkan dalam kehidupan nyata. Karena orang tua adalah manusia yang pertama kali berbuat baik kepada kita, karena dorongan kasih sayang dan –terlebih-lebih– penghambaan dirinya kepada Allah. Sementara kita hanya memberi balasan, setelah terlebih dahulu kita menerima kebaikan dari mereka. Sehingga, bagaimanapun, nilainya jelas akan berbeda. Arti Birrul Waalidain Perlu ditegaskan kembali, bahwa birrul waalidain (berbakti kepada kedua orang tua), lebih dari sekadar berbuat ihsan (baik) kepada keduanya. Namun birrul walidain memiliki nilai-nilai tambah yang semakin ‘melejitkan’ makna kebaikan tersebut, sehingga menjadi sebuah ‘bakti’. Dan sekali lagi, bakti itu sendiripun bukanlah balasan yang setara yang dapat mengimbangi kebaikan orang tua. Namun setidaknya, sudah dapat menggolongkan pelakunya sebagai orang yang bersyukur. Imam An-Nawaawi menjelaskan, “Arti birrul waalidain yaitu berbuat baik terhadap kedua orang tua, bersikap baik kepada keduanya, melakukan berbagai hal yang dapat membuat mereka bergembira, serta berbuat baik kepada teman-teman mereka.” Al-Imam Adz-Dzahabi menjelaskan bahwa birrul waalidain atau bakti kepada orang tua, hanya dapat direalisasikan dengan memenuhi tidak bentuk kewajiban: Pertama: Menaati segala perintah orang tua, kecuali dalam maksiat. Kedua: Menjaga amanah harta yang dititipkan orang tua, atau diberikan oleh orang tua. Ketiga: Membantu atau menolong orang tua, bila mereka membutuhkan. Bila salah satu dari ketiga kriteria itu terabaikan, niscaya seseorang belum layak disebut telah berbakti kepada orang tuanya. Karena berbakti kepada kedua orang tua lebih merupakan perjanjian, antara sikap kita dengan keyakinan kita. Kita tahu, bahwa menaati perintah orang tua adalah wajib, selama bukan untuk maksiat. Bahkan perintah melakukan yang mubah, bila itu keluar dari mulut orang tua, berubah menjadi wajib hukumnya. Kita juga tahu, bahwa harta orang tua harus dijaga, tidak boleh dihamburkan secara percuma, atau bahkan untuk berbuat maksiat. Kita juga meyakini, bahwa bila orang tua kita kekurangan atau membutuhkan pertolongan, kitalah orang pertama yang wajib menolong mereka. Namun itu hanya sebatas keyakinan. Bila tidak ada ‘ikatan janji’ dengan sikap kita, semua itu hanya terwujud dalam bentuk wacana saja, tidak bisa terbentuk menjadi ‘bakti’ terhadap orang tua. Oleh sebab itu, Allah menyebut kewajiban bakti itu sebagai ‘ketetapan’, bukan sekadar ‘perintah’. “Allah telah menetapkan agar kalian tidak beribadah melainkan kepada-Nya; dan hendaklah kalian berbakti kepada kedua orang tua.” (Al-Israa : 23) Jangan Mendurhakainya! Mendurhakai orang tua adalah dosa besar. Dan berbuat durhaka terhadap ibu adalah dosa yang jauh lebih besar lagi. Melalui pelbagai penjelasan Islam tentang ‘kewajiban kita’ terhadap sang ibunda, kita dapat menyadari bahwa berbuat durhaka terhadapnya adalah sebuah tindakan paling memalukan yang dilakukan seorang anak berakal. Imam An-Nawawi menjelaskan, “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyebutkan keharusan berbuat baik kepada ibu sebanyak tiga kali, baru pada kali yang keempat untuk sang ayah, karena kebanyakan sikap durhaka dilakukan seorang anak, justru terhadap ibunya[9].” Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan sikap durhaka terhadap ibu danmelarang mengabaikan orang yang hendak berhutang. Allah juga melarang menyebar kabar burung, terlalu banyak bertanya dan membuang-buang harta[10].” Ibnu Hajar memberi penjelasan sebagai berikut, “Dalam hadits ini disebutkan ’sikap durhaka’ terhadap ibu, karena perbuatan itu lebih mudah dilakukan terhadap seorang ibu. Sebab, ibu adalah wanita yang lemah. Selain itu, hadits ini juga memberi penekanan, bahwa berbuat baik kepada itu harus lebih didahulukan daripada berbuat baik kepada seorang ayah, baik itu melalui tutur kata yang lembut, atau limpahan cinta kasih yang mendalam[11].” Sementara, Imam Nawawi menjelaskan, “Di sini, disebutkan kata ‘durhaka’ terhadap ibu, karena kemuliaannya yang melebihi kemuliaan seorang ayah[12].” Kapan seseorang disebut durhaka? Imam Ash-Shan’aani menjelaskan, “Imam Al-Bulqaini menerangkan bahwa arti kata durhaka yaitu: apabila seseorang melakukan sesuatu yang tidak remeh menurut kebiasaan, yang menyakiti orang tuanya atau salah satu dari keduanya. Dengan demikian, berdasarkan definisi itu, bila seorang anak tidak mematuhi perintah atau larangan dalam urusan yang sangat sepele yang menurut hukum kebiasaan itu tidak dianggap ‘durhaka’, maka itu bukan termasuk kategori perbuatan durhaka yang diharamkan. Namun bila seseorang melakukan pelanggaran terhadap larangan orang tua dengan melakukan perbuatan dosa kecil, maka yang dilakukannya menjadi dosa besar, karena kehormatan larangan orang tua. Demikian juga, disebut durhaka, bila seorang anak melanggar larangan orang tua yang bertujuan menyelamatkan si anak dari kesulitan[13].” Ibnu Hajar Al-Haitsami menjelaskan, “Kalau seseorang melakukan perbuatan yang kurang adab dalam pandangan umum, yang menyinggung orang tuanya, maka ia telah melakukan dosa besar, meskipun bila dilakukan terhadap selain orang tua, tidaklah dosa. Seperti memberikan sesuatu dengan dilempar, atau saat orang tuanya menemuinya di tengah orang ramai, ia tidak segera menyambutnya, dan berbagai tindakan lain yang di kalangan orang berakal dianggap ‘kurang ajar’, dapat sangat menyinggung perasaan orang tua[14].” Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan, “Arti durhaka kepada orang tua yaitu melakukan perbuatan yang menyebabkan orang tua terganggu atau terusik, baik dalam bentuk ucapan ataupun amalan..[15]“ Imam Al-Ghazali menjelaskan, “Kebanyakan ulama berpendapat bahwa taat kepada orang tua wajib, termasuk dalam hal-hal yang masih syubhat, namun tidak boleh dilakukan dalam hal-hal haram. Bahkan, seandainya keduanya merasa tidak nyaman bila makan sendirian, kita harus makan bersamamereka. Kenapa demikian? Karena menghindari syubhat termasuk perbuatanwara’ yang bersifat keutamaan, sementara mentaati kedua orang tua adalah wajib. Seorang anak juga haram bepergian untuk tujuan mubah ataupun sunnah, kecuali dengan ijin kedua orang tua. Melakukan haji secepat-cepatnya bahkan menjadi sunnah, bila orang tua tidak menghendaki. Karena melaksanakan haji bisa ditunda, dan perintah orang tua tidak bisa ditunda. Pergi untuk menuntut ilmu juga hanya menjadi anjuran, bila orang tua membutuhkan kita, kecuali, untuk mempelajari hal-hal yang wajib, seperti shalat dan puasa, sementara di daerah kita tidak ada orang yang mampu mengajarkannya..[16]“ Seringkali seorang anak membela diri saat dikecam sebagai anak yang durhaka terhadap ibunya, dengan pelbagai alasan yang dibuat-buat, atau sekadar mengalihkan perhatian kepada soal lain. ‘Seharusnya kan orang tua itu lebih tahu,’ ‘Seharusnya seorang ibu mengerti perasaan anak,’ ‘Seharusnya seorang ibu itu lebih bijaksana daripada anaknya,’ ‘Seharusnya seorang ibu tidak boleh memaksakan kehendak,’ dan berbagai alasan kosong lainnya. Yah, taruhlah, dalam suatu kasus, si ibu memang melakukan kesalahan, dengan memaksakan kehendaknya, atau bersikap kurang bijaksana. Namun saat si anak membantah perintah atau larangan ibunya, apalagi dia mengerti bahwa yang dikehendaki oleh ibunya itu adalah baik, meski kurang tepat, tidak pelak lagi, si anak telah berbuat durhaka. Di sinilah seharusnya ‘kunci kesabaran’ dan tingkat ‘kesadaran’ terhadap syariat Allah, juga penghormatan terhadap orang tua, dapat menggeret seseorang mengambil jalan mengalah, meskipun ia harus mengorbankan banyak hal, termasuk harta, dan juga cita-citanya. Selama hal itu dapat membahagiakan sang ibu, seharusnya ia berusaha untuk memenuhi kehendaknya. Abdullah bin Ali Al-Ju’aitsan menegaskan, “Apabila kita sudah menyadari betapa besar hak seorang ibu terhadap anaknya, dan betapa besar dosa perbuatan durhaka terhadapnya, atau dosa sekadar lalai memperhatikannya,cobalah, segera berbakti kepadanya, maafkan segala kekeliruannya di masa lampau, berusaha dan berusahalah untuk selalu menjalin hubungan baik dengannya. Berusahalah untuk menyenangkannya, dan dahulukan upaya memperhatikannya daripada segala hal yang kita sukai. Berupayalah untuk memenuhi kebutuhannya selekas mungkin, jangan sampai menyusahkannya. Ingatlah firman Allah: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, “Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Al-Israa : 24) Ketika orang tua telah berusia senja. Pada saatnya, usia juga yang membatasi kepawaian seorang ibu mengasuh anaknya. Kasih ibu, memang tak dapat dihentikan sang waktu. Namun sebagai manusia, kekuatannya tidak pernah abadi. Akhirnya, sang ibu harus melalui juga masa-masa yang belum pernah dibayangkan selama ini. Kulitnya mulai keriput, tenaganya mulai jauh berkurang, tulang-tulangnyapun mulai terasa rapuh, suaranya berubah menjadi sengau, tak mampu menyetabilkan nada yang keluar. Saat itulah, ia mulai sangat membutuhkan belaian kasih sang anak. Ia mulai memerlukan adanya orang lain di sisinya, untuk menyelesaikan segala hal, termasuk pekerjaan-pekerjaan ringan sekalipun, yang selama ini bisa dia selesaikan seorang diri. Saat itulah, bakti seorang anak menjadi suatu hal yang teramat dibutuhkan: “ Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:”Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Al-Isra : 23-24) Saat usia semakin tua, bisa jadi kepekaan seorang ibu bertambah. Ia lebih mudah tersinggung, lebih mudah melampiaskan amarahnya, lebih mudah tersentuh hatinya hanya oleh kata-kata atau ucapan, yang bila itu diucapkan seorang anak di waktu mudanya, tidak akan diperdulikan sama sekali. Oleh sebab itu, Al-Qur’an memberikan bimbingan yang demikian santun, agar seorang anak membiasakan diri berbicara dan bersikap secara mulai, santun dan terpuji, terhadap kedua orang tuanya, terutama sekali ibunya. Suatu hari, Rasulullah naik ke atas mimbar, lalu beliau berkata: “Amin, amin, amin.” Kontan, seorang Sahabat bertanya: “Kenapa engkau mengucapkan amin, amin dan amin, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tadi datang Jibril menemuiku, lalu ia berkata: “Barangsiapa yang menjumpai bulan Ramadhan, lalu ia tidak mendapatkan ampunan Allah, maka ia pasti masuk Neraka. Jauhilah hamba-Mu ini dari siksa Neraka.” Akupun berkata: ‘Amin.’ Lalu Jibril berkata lagi: “Barangsiapa yang mendapatkan salah seorang dari kedua orang tuanya, atau keduanya, pada saat mereka sudah berusia lanjut, namun ia tidak berkesempatan berbakti kepada mereka, maka ia pasti masuk Neraka. Jauhilah hamba-Mu ini dari siksa Neraka.” Akupun berkata: ‘Amin.’ Lalu Jibril berkata lagi: “Barangsiapa yang mendengar namaku (Nabi Muhammad) disebutkan, lalu ia tidak membaca shalawat untukku, maka bila ia mati, ia pasti masuk Neraka. Jauhilah hamba-Mu ini dari siksa Neraka.” Akupun berkata: ‘Amin.[17]‘ Saat Ibunda Telah Wafat Ada beberapa wujud manefestasi cinta kasih kepada sang bunda, yang masih dapat kita lakukan saat sang bunda sudah terlebih dahulu meninggalkan dunia ini. Semua bentuk implementasi cinta kasih itu pada dasarnya lebih bersifat tugas dan kewajiban kita. Dengan atau tanpa muatan cinta kasih, semua tugas itu harus kita pikul. Namun adalah kenistaan, bila kita melaksanakan semuanya tanpa landasan cinta kepadanya. Berikut ini, penulis paparkan beberapa di antaranya: Pertama: Melaksanakan perjanjian dan pesan sang bunda. Diriwayatkan dari Syaried bin Suwaid Ats-Tsaqafi, bahwa ia menuturkan, “Wahai Rasulullah! Ibuku pernah berpesan kepadaku untuk memerdekakan seorang budak wanita yang beriman. Aku memiliki seorang budah wanita berkulit hitam. Apakah aku harus memerdekakannya?” “Panggil dia.” Sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Saat wanita itu datang, beliau bertanya, “Siapa Rabbmu?” Budak wanita itu menjawab, “Allah.” “Lalu, siapa aku?” Tanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lagi. Wanita itu menjawab, “Engkau adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.” Beliaupun bersabda, “Merdekakan dia. Karena dia adalah wanita mukminah[18].” Kedua: Mendoakan sang ibu, membacakah shalawat dan memohonkan ampunan baginya. Ibnu Rabi’ah meriwayatkan: Saat kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, tiba-tiba datanglah seorang lelaki dari kalangan Bani Salamah bertanya, “Wahai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam! Apakah masih tersisa bakti kepada kedua orang tuaku setelah mereka meninggal dunia?” Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab, “Ya. Bacakanlah shalat untuk mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, tunaikan perjanjian mereka, peliharalah silaturahim yang biasa dipelihara kala mereka masih hidup, juga, hormati teman-teman mereka[19].” Abu Hurairah meriwayatkan: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya, Allah Azza wa Jalla bisa saja mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di Surga kelak. Si hamba itu akan bertanya, “Ya Rabbi, bagaimana aku bisa mendapatkan derajat sehebat ini?” Allah berfirman, “Karena permohonan ampun dari anakmu[20].” Salah satu dari tanda cinta kasih kita kepada ibu adalah munculnya pengharapan agar si ibu selalu hidup berbahagia. Bila ia sudah meninggal dunia, kita juga senantiasa mendoakannya, membacakan shalat untuknya serta memohonkan ampunan untuknya. Semua perbuatan tersebut bukanlah hal-hal yang remeh. Dan juga, amat jarang anak yang mampu secara telaten melakukan semua kebajikan tersebut. Padahal, ditinjau dari segi kelayakan, dan segi kesempatan serta kemampuan, sudah seyogyanya setiap anak berusaha melakukannya. Dari kwantitas, semua amalan tersebut tidak membutuhkan banyak waktu. Sekadar perhatian dan kesadaran, yang memang sangat dituntut. Bila seorang anak merasa sangat kurang berbakti kepada kedua orang tuanya, inilah kesempatan yang masih terbuka lebar, untuk menutupi kekurangan tersebut, selama hayat masih dikandung badan. Ketiga: Memelihara hubungan baik, dengan teman dan kerabat ibu. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa yang tetap ingin menjaga hubungan silaturahim dengan ayahnya yang sudah wafat, hendaknya ia menjaga hubungan baik dengan teman-teman ayahnya yang masih hidup[21].” Keempat: Melaksanakan beberapa ibadah untuk kebaikan sang ibu. Sa’ad bin Ubadah pernah bertanya, “Ibuku sudah meninggal dunia. Sedekah apa yang terbaik, yang bisa kulakukan untuknya?” Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab, “Air. Gali saja sumur. Lalu katakan: ‘pahala penggunaan sumur ini, untuk ibu Saad[22].”


Jilbab Gaul: Berpakaian Tapi Telanjang Pernahkah kita berpikir mengapa begitu banyak perempuan dan wanita muslim yang mengenakan 'jilbab', namun berpakaian sangat 'provokatif,' misalnya menampakkan lekuk-lekuk kemolekan tubuhnya? Fungsi jilbab yang semestinya diarahkan untuk menutupi aurat, seperti dada dan pinggul, justru malah diabaikan. Sejatinya, penutup kepala seperti itu bukanlah jilbab dalam perspektif hijab yang disyariatkan Islam. Orang-orang lebih menyebutnya dengan "kerudung gaul". Atau diistilahkan Milasari Astuti-dalam artikelnya di sebuah situs Islam-dengan istilah "jilbab cekek", karena memang benar-benar hanya sebatas nyekek leher. Maksudnya, seorang perempuan muslim mengenakan kerudung yang menutupi kepala dan rambutnya, namun berpakaian tipis, transparan, atau ketat sehingga menampakkan lekuk tubuhnya. Semisal, kepala dibalut kerudung atau jilbab, namun berbaju atau kaos ketat, bercelana jean atau legging yang full pressed body, dan lain sebagainya. Fenomena kerudung gaul atau jilbab cekek adalah fenomena yang sangat membingungkan bagi setiap muslim atau muslimah yang memahami ajaran Islam dengan benar. Ini mengingat, seorang perempuan atau wanita muslim yang mengenakan kerudung gaul, dalam benaknya dia ingin menutup aurat, namun juga ingin tampil pamer modis dan cantik. Beberapa gelintir perempuan berkomentar, "Lho, masih mending memakai kerudung atau jilbab gaul, dari tidak sama sekali? ! "Yang lainnya mengatakan," Ini kan masih belajar untuk menutup aurat. "Ya, kerudung gaul selalu dianggap lebih baik dari tidak menutup aurat sama sekali. Atau juga dianggap sebagai sebuah proses belajar menutup aurat. Pernyataan-pernyataan tersebut sekilas tampak benar, namun sejatinya sungguh keliru. Karena seorang muslim diharuskan untuk menjalani setiap perintah syariat secara total atau kaffah. Alih-alih menggunakan kerudung gaul untuk proses belajar menutup aurat, namun setelah itu terkadang lupa akan aturan syariat yang sebenarnya. Meskipun kemudian mereka sadar akan aturan yang sesungguhnya, namun kemudian sulit untuk berubah. Alih-alih dipandang sebagai sebuah kebaikan dari tidak menutup aurat sama sekali, mereka justru beriman setengah-setengah. .... kerudung gaul tak ubahnya melecehkan syariat Islam dan sebagai bentuk penyaluran selera pribadinya semata. Mereka mengenakan simbol islami, tapi juga nggak mau meninggalkan mode yang sedang booming .... Bagi para muslimah yang memahami benar ketentuan jilbab sesuai perintah teks Al-Qur'an dan hadits, mengenakan kerudung gaul tak ubahnya melecehkan syariat Islam dan sebagai bentuk penyaluran selera pribadinya semata . "Maksudnya pengen mengenakan simbol islami, tapi juga nggak mau meninggalkan mode yang sedang booming saat ini. Akibatnya, dalam masalah kerudung aja mesti ada aturan main yang dibuatnya sendiri, "tulis salah seorang akhwat dengan id facebook Hilya Jae-hee, ketika mengomentari topik kerudung gaul. Begitulah, bisa jadi, para wanita muslim berkerudung gaul berniat ingin menutup aurat, namun memiliki paradigma bahwa perempuan harus 'mensyukuri' keindahan tubuh yang telah Allah anugerahi, lalu memamerkannya kepada orang lain. Paradigma 'bersyukur' ini semakin luas di negara-negara yang dikenal ketat menjaga tradisi keagamaan seperti di Timur-Tengah (TimTeng). Lihat saja, sekarang sudah banyak majalah di negara-negara TimTeng yang sampulnya memamerkan pose perempuan yang memperlihatkan perut dan bagian-bagian tubuh lainnya. Di luar negara-negara TimTeng lainnya, sudah lebih parah dan berani lagi. Bahkan lucunya, kini seperti ada pandangan yang menyatakan bahwa perempuan yang memilih untuk berjilbab panjang dan mengenakan gamis rapih, maka mereka akan kehilangan respek dari kaum pria. Padahal, ditilik dari sudut pandang Islam, perempuan dewasa yang tidak menutup aurat, justru merekalah yang akan kehilangan respek dari setiap muslim dan muslimah, dan kehilangan respek dari Allah tentunya. Maraknya fenomena penggunaan kerudung gaul atau jilbab nyekek oleh para remaja putri dan wanita muslim, bisa jadi disebabkan pengetahuan mereka yang minim tentang hijab (JilbÄ . Sehingga mereka hanya ikut-ikutan saja, sebab pemahaman keislamannya belum mumpuni. Atau mereka termakan berbagai propaganda musuh-musuh Islam yang ingin menggiring kaum muslimah keluar rumah dalam kondisi 'telanjang'. Propaganda- propaganda yang menyimpulkan bahwa jilbab adalah pakaian adat wanita Arab saja, sampai pada pelecehan dengan istilah pakaian tradisional. Hingga banyak dari kalangan kaum muslimah termakan olehnya dan meninggalkan jilbab yang syar'i. Padahal, jilbab yang diinginkan syariat berarti milhafah, berarti baju kurung atau semacam abaya yang longgar dan tidak tipis, atau kain (kisaa ') apa saja yang dapat menutupi, atau pakaian (tsau yang dapat menutupi seluruh bagian tubuh. Di dalam kamus Al-Muhith dinyatakan bahwa ilbab itu laksana sirdab (terowongan) atau sinmar (lorong) , yakni baju atau pakaian yang longgar untuk wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutupi pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung. .... jilbab yang diinginkan syariat berarti milhafah, berarti baju kurung atau semacam abaya yang longgar dan tidak tipis yang dapat menutupi seluruh bagian tubuh .... Dalam kamus Ash-Shahhah, Al-Jauhari menyatakan, "Jilbab adalah kain panjang dan longgar (milhafah) yang sering disebut mula'ah (baju kurung). Makna jilbab seperti inilah yang diinginkan Allah ketika berfirman," Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. "(Al-Ahzab: 59) Para ulama ahli tafsir pun sepakat, jilbab syar'i berarti sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada. Hal ini membuat seorang muslimah tampak elegan, santun, bermartabat, dan tentunya berkepribadian islami. Jika seorang wanita muslimah memakai hijab (JilbÄ , secara tidak langsung dia berkata kepada semua kaum laki-laki, "tundukkanlah pandanganmu, aku bukan milikmu serta kamu juga bukan milikku, tetapi aku hanya milik orang yang dihalalkan Allah bagiku. Aku orang yang merdeka dan tidak terikat dengan siapa pun, dan aku tidak tertarik kepada siapa pun, karena aku jauh lebih tinggi dan terhormat dibanding mereka yang sengaja mengumbar auratnya supaya dinikmati oleh banyak orang. " Sementara seorang wanita muslim yang mengenakan kerudung gaul atau jilbab nyekek, ber-tabarruj atau pamer aurat dan menampakkan keindahan tubuh di depan kaum laki-laki lain, akan mengundang perhatian laki-laki hidung belang dan serigala berbulu domba. Secara tidak langsung dia berkata, "Silahkan kalian menikmati keindahan tubuhku dan kecantikan wajahku. Apakah orang yang mau mendekatiku? Apakah orang yang mau memandangiku? Apakah orang yang mau memberi senyuman kepadaku? Atau manakah orang yang berseloroh "Aduhai betapa cantiknya?" .... Wanita yang mengenakan kerudung gaul itu pamer aurat dan keindahan tubuh di depan kaum laki-laki lain. Mereka mengundang perhatian laki-laki hidung belang dan serigala berbulu domba .... Setiap laki-laki pun sontak berebut menikmati keindahan tubuhnya dan kecantikan wajahnya. Mata mereka akan menelanjanginya dari pada sampai mata kaki. Sehingga membuat laki-laki terfitnah, maka jadilah dia sasaran empuk laki -laki penggoda dan suka mempermainkan wanita. Inilah mengapa para pengguna kerudung gaul diibaratkan berpakaian namun telanjang. Hal ini sebagaimana disinyalir Rasulullah dalam sabda beliau, "Dua golongan dari ahli neraka yang tidak pernah aku lihat: seorang yang membawa cemeti seperti ekor sapi yang dia memukul orang-orang, dan perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, berlenggok-lenggok, kepalanya bagaikan punuk onta yang bergoyang. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan baunya, sekalipun ia bisa didapatkan sejak perjalanan sekian dan sekian. (HR. Muslim) Ketika ditanya tentang sabda Nabi: "Berpakaian tapi telanjang", Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin menjawab, "Yakni wanita-wanita tersebut memakai pakaian, akan tetapi pakaian mereka tidak tertutup rapat (menutup seluruh tubuhnya atau auratnya)." Ibnu 'Abdil Barr mengatakan , "Makna kasiyatun 'ariyatun (berpakaian namun telanjang) adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang." ( Lihat: Jilbab Al-Mar'ah Muslimah, 125-126). .... Rasulullah bersabda bahwa wanita berpakaian tapi telanjang (kasiyatun 'ariyatun) itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan baunya .... Al-Munawi, dalam Faidh Al-Qadir , mengatakan tentang makna 'berpakaian namun telanjang', "senyatanya memang wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya dia telanjang. Karena wanita tersebut mengenakan pakaian yang tipis sehingga dapat menampakkan kulitnya. Makna lainnya adalah dia menampakkan perhiasannya, namun tidak mau mengenakan pakaian takwa. Makna lainnya adalah dia mendapatkan nikmat, namun enggan untuk bersyukur pada Allah. Makna lainnya lagi adalah dia berpakaian, namun kosong dari amalan kebaikan. Makna lainnya lagi adalah dia menutup sebagian badannya, namun dia membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutupi) untuk menampakkan keindahan dirinya. " Hal senada juga dikatakan oleh Ibnul Jauzi yang berpendapat bahwa makna kasiyatun 'ariyatun ada tiga makna. Pertama, wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita seperti ini memang memakai jilbab, namun sebenarnya dia telanjang. Kedua, wanita yang membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutup). Wanita ini sebenarnya telanjang. Ketiga wanita yang mendapatkan nikmat Allah, namun kosong dari syukur kepada-Nya. Kesimpulannya, wanita berpakaian telanjang adalah wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga nampak bagian dalam tubuhnya, atau memakai pakaian ketat, sehingga terlihat lekuk tubuhnya, dan wanita yang membuka sebagian aurat yang wajib dia tutup. PAKAIAN ISLAMI UNTUK WANITA (TIGA SYARAT HIJA Ada beberapa persyaratan yang harus dipahami remaja putri dan wanita muslim ketika hendak mengenakan hijab atau jilbab syar'i, sebagaimana dilansir situs Islam www.alsofwah.or.id . PERTAMA, hendaknya menutup seluruh tubuh dan tidak menampakkan anggota tubuh sedikit pun, selain yang dikecualikan karena Allah berfirman, "Dan harus mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa nampak . "(An-Nur: 31) KEDUA, hendaknya hijab tidak menarik perhatian pandangan laki-laki bukan mahram. Agar hijab tidak memancing pandangan kaum laki-laki, maka harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1. Hendaknya hijab terbuat dari kain yang tebal, tidak menampakkan warna kulit tubuh (transfaran). 2. Hendaknya hijab tersebut longgar dan tidak menampakkan bentuk anggota tubuh. 3. Hendaknya hijab tersebut tidak berwarna-warni dan tidak bermotif. Hijab bukan merupakan pakaian kebanggaan dan kesombongan, karena Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang mengenakan pakaian kesombongan (kebanggaan) di dunia maka Allah akan mengenakan pakaian kehinaan nanti pada hari kiamat kemudian dibakar dengan Neraka. "(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, dan hadits ini hasan). Hendaknya hijab tersebut tidak diberi parfum atau wewangian berdasarkan hadits dari Abu Musa Al-Asy'ari, dia berkata bahwa Rasulullah bersabda, "Siapa pun wanita yang mengenakan wewangian, lalu melewati segolongan orang agar mereka mencium baunya, maka dia adalah wanita pezina." (HR. Abu Dawud, An-Nasa'i dan at-Tirmidzi, dan hadits ini Hasan). .... Hendaknya pakaian atau hijab yang dikenakan tidak menyerupai pakaian laki-laki atau pakaian kaum wanita kafir .... Ketiga, hendaknya pakaian atau hijab yang dikenakan tidak menyerupai pakaian laki-laki atau pakaian kaum wanita kafir , karena Rasulullah bersabda, sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud dan Ahmad, "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk bagian dari mereka." Rasulullah juga mengutuk seorang laki-laki yang mengenakan pakaian wanita dan mengutuk seorang wanita yang mengenakan pakaian laki-laki. Wallahu ' alam.


Pemuda dengan SeorDialog Ringanang Kiai Ada seorang pemuda yang lama sekolah di negeri paman Sam kembali ke tanah air. Sesampainya dirumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang Guru agama, kiai atau siapapun yang bisa menjawab 3 pertanyaannya. Orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut. Pemuda : Anda siapa? Dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya? Kyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda. Pemuda : Anda yakin? sedang Profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya. Kyai : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya Pemuda : Saya punya 3 buah pertanyaan 1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya 2. Apakah yang dinamakan takdir 3. Kalau syetan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syetan, sebab mereka memiliki unsur yang sama Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu? Tiba-tiba Kyai tersebut menampar pipi si Pemuda dengan keras. Pemuda (sambil menahan sakit) : Kenapa anda marah kepada saya? Kyai : Saya tidak marah…Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 buah pertanyaan yang anda ajukan kepada saya Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti Kyai : Bagaimana rasanya tamparan saya? Pemuda : Tentu saja saya merasakan sakit Kyai : Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada? Pemuda : Ya Kyai : Tunjukan pada saya wujud sakit itu ! Pemuda : Saya tidak bisa Kyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama: kita semua merasakan keberadaan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya. Kyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya? Pemuda : Tidak Kyai : Apakah pernah terpikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini? Pemuda : Tidak Kyai : Itulah yang dinamakan Takdir Kyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda? Pemuda : Kulit Kyai : Terbuat dari apa pipi anda? Pemuda : kulit Kyai : Bagaimana rasanya tamparan saya? Pemuda : Sakit Kyai : Walaupun Syeitan terbuat dari api dan Neraka terbuat dari api, Jika Tuhan berkehendak maka Neraka akan menjadi tempat menyakitkan untuk syeitan


Akhir Hidup Penyembah Berhala Abdul Wahid bin Zaid berkata, "Ketika itu kami naik perahu, angin kencang berhembus menerpa perahu kami, sehingga kami terdampar di suatu pulau. Kami turun ke pulau itu dan mendapat seorang laki-laki sedang terdiam menyembah patung. " Kami berkata kepadanya, 'Di antara kami, para penumpang perahu ini tidak ada yang melakukan seperti yang kamu perbuat.' Dia bertanya, 'Kalau demikian, apa yang kalian sembah? ' Kami menjawab, 'Kami menyembah Allah.' Dia bertanya, 'Siapakah Allah?' Kami menjawab, 'Dzat yang memiliki istana di langit dan kekuasaan di muka bumi.' Dia bertanya, 'Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?' Kami jawab, 'Dzat tersebut mengutus seorang rasul kepada kami dengan membawa mukjizat yang jelas, maka rasul itulah yang menerangkan kepada kami tentang hal itu.' Dia bertanya, 'Apa yang dilakukan rasul kalian?' Kami menjawab, 'Ketika beliau telah tuntas menyampaikan risalah-Nya, Allah SWT mencabut ruhnya. Kini utusan itu telah meninggal. ' Dia bertanya, 'Apakah dia tidak meninggalkan sesuatu tanda kepada kalian?' Kami menjawab, 'Dia meninggalkan kitabullah untuk kami.' Dia berkata, 'Coba kalian perlihatkan kitab suci itu kepadaku!' Kemudian kami memberikan mushaf kepadanya . Dia berkata, 'Alangkah bagusnya bacaan yang ada dalam mushaf itu.' Lalu kami membacakan beberapa ayat untuknya. Tiba-tiba ia menangis, dan berkata, 'Tidak pantas Dzat yang memiliki firman ini didurhakai.' Kemudian ia masuk Islam dan menjadi seorang muslim yang baik. ' Selanjutnya, dia meminta agar diizinkan ikut serta dalam perahu. Kami pun menyetujuinya lalu kami mengajarkan beberapa surat Al-Quran. Ketika malam tiba, sementara kami semua berangkat tidur, tiba-tiba dia bertanya, 'Wahai kalian, apakah Dzat yang kalian beritahukan kepadaku itu juga tidur?' Kami menjawab, 'Dia Hidup terus, Maha Mengawasi dan tidak pernah ngantuk atau tidur.' Dia berkata, 'Ketahuilah, adalah termasuk akhlak yang tercela bilamana seorang hamba tidur nyenyak di depan tuannya.' Dia lalu melompat, berdiri untuk mengerjakan shalat. Demikianlah, kemudian ia qiyamullail sambil menangis hingga datang waktu subuh. Ketika sampai di suatu daerah, aku berkata kepada teman-temanku, 'Laki-laki ini orang asing, dia baru saja memeluk Islam, sangat cepat jika kita membantunya.' Mereka pun siap mengumpulkan beberapa barang untuk diberikan kepadaya, lalu kami menyerahkan bantuan itu kepadanya. Seketika saja ia bertanya, 'Apakah ini?' Kami menjawab, 'Sekadar infak, kami berikan kepadamu.' Dia berkata, 'Subhanallah. Kalian telah menunjukkan kepadaku suatu jalan yang kalian sendiri belum mengerti. Selama ini aku hidup di suatu pulau yang dikelilingi lautan, aku menyembah dzat lain (bukan Allah SWT). Sekalipun demikian, dia tidak pernah menyia-nyiakan aku .... Maka bagaimana mungkin dan apakah pantas Dzat yang aku sembah sekarang ini, Dzat Yang Maha Mencipta dan Dzat Maha Memberi rizki akan menelantarkan aku? ' Setelah itu, dia pergi meninggalkan kami. Beberapa hari kemudian, aku mendapat kabar bahwa ia dalam kondisi sakaratul maut. Kami segera menemukannya, dan ia sedang dalam detik-detik kematian. Setiba di sana, aku ucapkan salam kepadanya, lalu bertanya, 'Apa yang kamu inginkan?' Dia menjawab, 'Keinginan dan harapanku telah tercapai pada saat kalian datang ke pulau itu, sementara ketika aku tidak mengerti kepada siapa aku harus menyembah.' Kemudian aku bersandar pada salah satu ujung kainnya untuk menenangkan hatinya, tiba-tiba saja aku tertidur. Dalam tidurku aku bermimpi melihat taman yang di atasnya terdapat kubah di sebuah kuburan seorang ahli ibadah. Di bawah kubah terdapat tempat tidur sedang di atasnya tampak seorang gadis sangat cantik. Gadis itu berkata, 'Demi Allah, segeralah mengurus jenazah ini, aku sangat rindu kepadanya.' Maka aku terbangun dan aku dapati orang tersebut telah mati. Lalu aku mandikan jenazah itu dan aku kafani. Pada malam harinya, saat aku tidur, aku memimpikannya lagi. Aku lihat ia sangat berbahagia, didampingi seorang gadis di atas tepat tidur di bawah kubah sambil menyenandungkan firman Allah. "(Sambil mengucapkan), 'Salamu' alaikum bima shabartum.''Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (QS. Ar-Ra 'd: 24)


Negeri Kaya Raya, Rakyatnya Terlunta-lunta Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. As-Syura [42] : 30). Sampai 2009 konon Freeport sudah berhasil mengeruk lebih dari 7 juta ton tembaga dan sekitar 725 juta ton emas. Harganya setara dengan Rp 290.000.000 triliun. Bila belanja Negara (Indonesia) per tahun sekitar Rp 1.000 triliun, maka dari hasil emas Papua itu saja (belum yang lain-lain) sudah bisa memenuhi kebutuhan belanja negara selama 290.000 tahun alias 2.900 abad. Diperkirakan, hingga tahun 2041 masih terdapat cadangan tembaga sebanyak 18 juta ton, dan cadangan emas sekitar 1.430 ton. Belum lagi kekayaan hutan dan laut. Namun kekayaan yang melimpah ruah itu semua kenyataannya berbeda dengan kondisi warga. Warga belum tentu tercukupi sandang-pangan-papan dan lapangan kerja. Sehingga, banyak yang mencari kerja ke luar negeri sebagai babu. Di negeri orang, ratusan ribu babu berasal dari negeri yang kekayaan alamnya melimpah ruah ini ada yang mendapat perlakuan tidak manusiawi disamping tidak memperoleh upah, sebagaimana terjadi pada Sumiati, Husna, Rohani, Kikim Komalasari dan sebagainya (lihat Derita Korban Kejahatan Pengiriman Babu-babu, nahimunkar.com, edisi December 1, 2010 10:14 pm). Pepatah lama mengatakan: Ayam bertelur di lumbung padi, mati kelaparan. Kata-kata itu dulu hanya dianggap biasa, bahkan seakan mengada-ada, namun kini bagi yang arif dan tidak mati rasa tentu akan mampu menyerap maknanya bahwa itu adalah sindiran yang luar biasa terhadap keadaan yang aneh tapi nyata ini. Beberapa waktu lalu sejumlah harian nasional mempublikasikan jalinan kerja sama antara PT Pertamina dengan Exxon Mobil Corporation untuk mengelola Blok Natuna Timur (sebelumnya bernama Blok Natuna D Alpha), yang memiliki kandungan gas alam terbesar di dunia. Yaitu, sebesar 222 triliun kaki kubik potensi gas alam senilai Rp 6.287,25 triliun. Posisi Blok Natuna Timur yang ditemukan sejak 1973 ini, berada pada kilometer 225 sebelah timur laut Pulau Natuna. Sedangkan Pulau Natuna sendiri terletak di kilometer 600 sebelah timur laut Singapura dan di kilometer 1.100 sebelah utara Jakarta. Cadangan gas alam di sini diperkirakan dapat dieksplorasi selama 30 tahun ke depan. (Republika online edisi Sabtu, 04 Desember 2010) Dalam hal ini, Pertamina merasa tidak dapat mengelola kekayaan alam itu sendirian, karena memerlukan investasi besar (sekitar 52 miliar dolar AS) dan membutuhkan penerapan teknologi tinggi. Sebelum akhirnya diputuskan Exxon Mobil Corporation dari Amerika Serikat sebagai mitra yang pas, ada tujuh peminat lain yang berasal dari berbagai negara, yaitu Shell (Belanda), Statoil (Norwegia), Total (Prancis), Chevron (Amerika), Eni SpA (Italia), China National Petrolium Corporation (Cina), Petronas (Malaysia). Sebelum bernama Pertamina, perusahaan minyak dan gas bumi yang dimiliki Pemerintah Indonesia ini, pada awal berdirinya (sejak tanggal 10 Desember 1957) bernama PT PERMINA. Barulah pada tahun 1971 bernama PERTAMINA. Perusahaan ini didirikan dengan maksud untuk menyelenggarakan usaha di bidang minyak dan gas bumi, baik di dalam maupun di luar negeri serta kegiatan usaha lain yang terkait atau menunjang kegiatan usaha di bidang minyak dan gas bumi tersebut. Sehingga, dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan kegiatan ekonomi untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Sedangkan Exxon Mobil Corporation, didirikan sejak 1911 dengan nama EXXON. Barulah pada 30 November 1999, perusahaan penghasil dan pengecer minyak ini bernama EXXONMOBIL setelah terjadinya penggabungan antara Exxon dan Mobil. Penghasilan ExxonMobil pada tahun 2005 mencapai 371 milyar dolar Amerika, dengan jumlah karyawan di seluruh dunia mencapai 88.300 orang. Di Indonesia, kehadiran ExxonMobil sudah lebih dari seratus tahun, khususnya dalam melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi ladang gas dan minyak di sini, terutama di Aceh, Sumatera Utara, dan Blok Cepu (Jawa Tengah dan Jawa Timur). Dalam upayanya itu, Exxon bekerja sama dengan PT Arun dan PT Pertamina. Di Blok Cepu cadangan minyak di kawasan ini diperkirakan mencapai lebih dari 600 juta barrel, dan kandungan gas alam yang signifikan. (Kompas, Selasa, 26 Januari 2010) Selain memiliki kekayaan gas alam, Indonesia juga memiliki kekayaan lain berupa emas, tembaga, perak, molybdenum, rhenium. Kesemuanya berada di tanah Papua, dan dikelola oleh Freeport, sebuah perusahaan pertambangan asal Amerika Serikat dan penghasil emas terbesar di dunia. Di Indonesia, khususnya di tanah Papua, Freeport melakukan eksplorasi di dua tempat, yaitu kawasan tambang Erstberg (sejak 1967) dan kawasan tambang Grasberg (sejak 1988). Selain itu, Freeport juga mengeksplorasi tembaga di kawasan Tembaga Pura, Kabupaten Mimika. Sampai 2009 konon Freeport sudah berhasil mengeruk lebih dari 7 juta ton tembaga dan sekitar 725 juta ton emas. Setara dengan Rp 290.000.000 triliun bila dikalikan dengan harga emas saat ni yang mencapai Rp 400.000 per gram (725.000.000.000.000.000 X 400.000 = 290.000.000.000.000.000.000). Bila belanja negara per tahun sekitar Rp 1.000 triliun, maka dari hasil emas Papua bisa memenuhi kebutuhan belanja negara selama 290.000 tahun. Diperkirakan, hingga tahun 2041 masih terdapat cadangan tembaga sebanyak 18 juta ton, dan cadangan emas sekitar 1.430 ton. Belum lagi kekayaan hutan dan laut. Namun itu semua tidak membuat rakyatnya tercukupi sandang-pangan-papan dan lapangan kerja. Sehingga, banyak yang mencari kerja ke luar negeri sebagai babu. Di negeri orang, para babu ini ada yang mendapat perlakuan tidak manusiawi disamping tidak memperoleh upah, sebagaimana terjadi pada Sumiati, Husna, Rohani, Kikim Komalasari dan sebagainya (lihat Derita Korban Kejahatan Pengiriman Babu-babu, nahimunkar.com, edisi December 1, 2010 10:14 pm). TKI Terlantar Ada juga, yang dalam upayanya mencari kerja di negeri orang, mereka terlunta-lunta, terlantar, atau ditelantarkan oleh bangsanya sendiri yang bertindak sebagai penyalur tenaga kerja, meski sudah membayar sejumlah rupiah dalam jumlah yang sangat besar untuk ukuran rakyat biasa. Sebagaimana pernah terjadi pada Ardi alias Ardi Rumekso alias Ardi Spanyol, warga Jalan Jatiluhur RT 001 RW 005 no. 297, Kelurahan Ngesrep, Kecamatan Banyumanik, Kodya Semarang, Jawa Tengah. Pada suatu hari, 15 September 2007, Ardi mendapat informasi tentang adanya peluang bekerja di luar negeri melalui perusahaan pengerah tenaga kerja Anugerah Presidian. Nama Anugerah Presidian diambil dari nama salah satu anak Pak Koesno, mantan pejabat Depnaker Semarang, yang ketika masih aktif berdinas, konon ia mengurus penempatan tenaga kerja Indonesia untuk magang kerja ke Jepang. Selain itu, Koesno juga dikenal sebagai salah satu tenaga pengajar di sebuah perguruan tinggi. Dorongan ingin memperbaiki taraf hidup, dan tumbuhnya kepercayaan kepada sosok Koesno di atas, membuat Ardi tidak ragu-ragu mentransfer sejumlah uang, agar ia bisa ditempatkan di luar negeri untuk bekerja dengan penghasilan yang diharapkannya tinggi. Maka, pada tanggal 24 September 2007 Ardi pun mentransfer uang pembayaran via BNI sebesar Rp 40 juta ke rekening Anugerah Presidian di Bank Mandiri. Sekitar dua belas hari kemudian (06 Oktober 2007), Ardi melakukan pembayaran lagi untuk keperluan notaris. Hampir sebulan kemudian (tanggal 05 November 2007), Ardi kembali menstransfer uang sebesar Rp 20 juta ke sebuah rekening bernomor 135.000517 6530. Meski demikian, Ardi baru diberangkatkan pada 24 Maret 2008 menuju Prancis. Ia dan Kasmuri tiba di Prancis pada tanggal 25 Maret 2008. Sehari kemudian, tanggal 26 Maret 2008, Ardi dan Kasmuri sudah tiba di Spanyol. Harapan mendapatkan pekerjaan yang layak, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup, buyar sudah. Kondisi hidup di Spanyol justru lebih buruk dibanding saat ia masih berada di tanah air. Ardi dan Kasmuri ditempatkan di sebuah penampungan di Caspe, sekitar 100 kilometer arah timur dari provinsi Zaragoza, Spanyol. Di Caspe ini Ardi dan kasmuri ditampung di garasi. Di tempat ini semua aktivitas seperti makan, mandi, mencuci dan menjemur pakain, serta memasak dilakukan. Di garasi ini terdapat 15 orang asal Indoneisa, termasuk Ardi dan Kasmuri, hidup berdesakan tanpa penghangat. Bahkan, perlengkapan tidur pun tidak disediakan, sehingga Ardi dan Kasmuri harus mengais-ngais dari tempat sampah. Urusan makan juga bermasalah. Sehari hanya diberi makan dua kali, itu pun sering terlambat. Bahkan, kadang makanan tak tersedia, sehingga Ardi dan kawan-kawan harus ngemis-ngemis bahan makanan kepada orang Spanyol, atau mencuri-curi di kebun dan mencari sisa-sisa makanan orang Spanyol. Tak tahan berada dalam kondisi di bawah garis kemanusiaan, akhirnya Ardi dan Kasmuri memutuskan untuk kembali ke tanah air. Tanggal 15 Mei 2008, Ardi dan kasmuri akhirnya bisa pulang ke Indonesia, berkat perjuangan keluarga di tanah air. Sekitar jam 10:25 waktu setempat, Ardi dan kasmuri bertolak dari bandara Spanyol dengan penerbangan SQ377. Keesokan harinya, tanggal 16 Mei 2008, mereka tiba di Singapura sekitar pukul 07:35 pagi, dan pada pukul 09:25 wib mereka sudah mendarat di Jakarta dengan SQ 954. Ardi menyimpulkan, praktik yang dilakukan Koesno dan anak-anaknya adalah penipuan dan pelecehan terhadap bangsa sendiri. Sebelum berangkat, Ardi dijanjikan mendapat handphone dan uang saku 500 Euro. Itu semua merupakan paket yang layak diterimanya setelah membayar biaya sebesar Rp 60 juta lebih. Ternyata, janji itu palsu. Ardi sama sekali tidak dibekali handphone, bahkan uang saku yang ia terima hanya sebesar 250 Euro, itu pun setelah Ardi ngotot. Begitu juga dengan masalah penginapan, yang dijanjikan gratis, ternyata diharuskan membayar sebesar 80 Euro setiap bulannya. Masih ditambah biaya makan sebesar 1 Euro per hari untuk dua kali makan saja. Bila sudah mendapatkan pekerjaan, dikenai biaya sebesar 5 Euro (ongkos transport) per hari. Masih ada lagi. Bagi yang sudah bekerja, dikenakan biaya sewa papael (surat kerja resmi) sebesar 3 Euro per hari. Padahal, para pekerja tidak selalu mendapat upah. Ada kalanya meski sudah bekerja selama dua minggu, upah yang seharusnya dibayarkan sama sekali tidak diterima. Dokumen keimigrasian seperti paspor juga tidak diurus. Begitu juga dengan surat kesehatan dan dokumen lainnya, tidak gratis tetapi dikenakan biaya sebesar 100 Euro. Ardi adalah salah satu rakyat Indonesia yang kaya. Namun ia harus mengais rezeki di negeri orang. Itu pun tidak berhasil, meski ia sudah keluar modal sebanyak Rp 60 juta lebih. Ia tidak dianiaya oleh majikannya yang orang asing, tetapi ditipu oleh bangsanya sendiri. Bagaimana bangsa lain mau menghargai bangsa Indonesia, bila orang semacam Ardi tidak dihargai oleh bangsanya sendiri, bahkan diperlakukan lebih rendah dari pembantu. Nasib serupa Ardi juga dialami Winanto (24 tahun), warga Desa Ngadirejo, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Uang yang disetorkan Winanto untuk bisa bekerja di Malaysia, tidak sebesar Ardi, tetapi ‘hanya’ Rp 4,5 juta saja. Uang sebanyak itu ia setorkan pada bulan Mei 2008 kepada M (38 tahun) warga Desa Blemben, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, yang selama ini dikenal sebagai calo TKI. Kepada Winanto, sang calo TKI menjanjikan akan memberangkatkan Winanto dengan pesawat udara ke Malaysia. Ternyata, pada Juni 2008 Winanto dan lima calon tenaga kerja asal Ponorogo lainnya, diberangkatkan ke Dumai (Kepulauan Riau) dengan bus antar kota. Di Dumai, Winanto dan kawan-kawan ditempatkan di sebuah ruko, dan ditelantarkan, tanpa ada kejelasan kapan akan berangkat ke Malaysia. Selama dua minggu lebih tanpa ada kejelasan. Tiba-tiba, calo TKI berinisial I meminta uang sebesar Rp 2 juta per orang dengan alasan untuk membeli tiket kapal laut menuju Malaysia. Konon, sang calo di Dumai ini sama sekali tidak menerima uang dari M (calo TKI asal Ponorogo). Winanto tak punya uang sebanyak itu. Akhirnya ia berhasil menghubungi kerabatnya di Pekanbaru, minta bantuan dana agar bisa kembali ke Madiun. Pertengahan Agustus 2008 Winanto berhasil kembali ke kampung halamannya. Peristiwa tersebut ia laporkan ke Polwil Madiun. Nasib Winanto masih lebih beruntung, bila dibandingkan dengan nasib Sri Harini asal Kendal, Jawa Tengah. Gadis kelahiran tahun 1983 ini sudah bekerja sejak September 2006 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA). Pada pertengahan September 2008, keluarga sang majikan mengajak Sri berlibur ke Muenchen, Jerman. Ternyata, upaya itu bagian dari rencana sang majikan menelantarkan Sri Harini. Ketika sedang asyik berbelanja di pusat perbelanjaan tiba-tiba mereka meninggalkan Sri begitu saja. Sri Harini ditinggalkan begitu saja di Jerman, tanpa uang dan tanpa dokumen. Sang majikan yang tergolong kasar, mudah marah, dan emosional untuk hal-hal sepele, menyimpan dokumen keimigrasian Sri Harini. Berada di negeri asing tanpa uang dan dokumen, membuat Sri hanya bisa menangis, dan menangis, sampai akhirnya ia ditolong laki-laki budiman bernama Shafiq, warga Jerman keturunan Turki. Selama dua bulan Sri ikut membantu dua toko yang dimiliki Shafiq. Sementara itu Shafiq berusaha terus mencari nomor telepon kantor perwakilan RI yang bisa dihubungi. Akhirnya, Sri mendapat pertolongan dari Konjen RI di Frankfurt. Dari Grobogan, Jawa Tengah, pernah terbetik kabar tentang tujuh calon tenaga kerja Indonesia yang ditelantarkan meski sudah menyetorkan uang puluhan juta ke perusahan pengerah tenaga kerja PT Avco Jaya Manunggal, yang sejak dua setengah tahun sebelumnya berjanji akan memberangkatkan mereka paling lambat Desember 2009 ke Korea, namun hingga pertengahan Januari 2010 tak kunjung terlaksana. Ketujuh calon TKI ini adalah Pujianto (29 tahun), telah menyerahkan uang sebesar Rp 22,5 juta. Purnami (36 tahun), warga Desa Gundi, Godong, telah menyerahkan uang sebesar Rp 21 juta. Sumini (32 tahun), warga Desa Rajek, Godong, telah menyerahkan uang sebesar Rp 22,5 juta. Sri Wahyuni (31 tahun), warga Desa Bugel, Godong, telah menyerahkan uang sebesar Rp 28 juta. Lainnya, yaitu Nuryanto (25 tahun) warga Desa Nambuhan, Purwodadi, telah menyerahkan uang sebesar Rp 21,5 juta. Sedangkan Juni (29 tahun) warga Jatisono, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak, telah menyerahkan uang sebesar Rp 24,5 juta. Yang paling banyak menyetor uang adalah, Kartini (30 tahun), warga Desa Werdoyo, Kecamatan Kebongagung, Kabupaten Demak, sudah menyerahkan uang senilai Rp 35 juta. PT Avco Jaya Manunggal yang berkantor di Dusun Deresan, Desa Beringin, Kecamatan Godong ini untuk meyakinkan korbannya, membekali mereka dengan sejumlah pendidikan, setelah korban menyetor uang dalam jumlah banyak. Nasib Serli, TKI asal NTT lain lagi. Serli sudah sejak tahun 2007 lalu bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga di Malaysia. Setiap hari Serli harus bekerja dari pukul 07.00 WIB hingga pukul 02.00 WIB dini hari tanpa istirahat, dan hanya diberi makan 2 kali sehari, dengan makan malam berupa mie instan, dan tidak dibayarkan gajinya sejak awal bekerja. Selain itu, Serli kerap disiksa serta dipukuli majikannya. Pada April 2010, majikannya mengirm Serli pulang, tanpa alasan yang jelas. Serli hanya dibekali uang sebesar Rp 1 juta, dan disuruh naik pesawat jurusan Padang. Di Padang, Serli terlantar. Akhrnya ia dipulangkan oleh Disnakertrans Sumatera Barat dan LSM Nurani Perempuan ke kampung halamannya pada 4 Mei 2010. Bila Serli terlantar di Padang, Sumatera Barat, yang masih bagian dari negerinya sendiri, nasib yang lebih pahit dialami Jumiati (26 tahun), tenaga kerja asal Desa Larangan, Kecamatan Larangan, Brebes, Jawa Tengah. Ia ditelantarkan di Sri Langka, setelah sebelumnya menjadi korban kekerasan majikannya saat bekerja di Arab Saudi. Jumiati berangkat ke Riyadh, Arab Saudi pada 9 November 2009. Karena tak tahan diperlakukan majikannya, Jumiati akhirnya kabur ke KBRI di Arab Saudi. Gaji dua bulan Jumiati habis digunakan untuk mengurus permasalahannya. Namun, Jumiati justru dikembalikan ke majikannya oleh pihak KBRI dan agensi yang mengirimnya kerja ke Riyadh. Sekitar Juli 2010, sang majikan berkunjung ke rumah adiknya di Sri Langka. Jumiati dibawa serta, kemudian dipekerjakan untuk merawat anak adik sang majikan yang masih bayi. Di sinilah Jumiati terlantar. Ia ingin pulang karena kondisinya sakit-sakitan, sebagaimana diceritakan Nurcholis (30 tahun) suami Jumiati. Kasus TKI terlantar akibat ditipu tekong (calo) dialami oleh Mita Marwati (30 tahun) asal Semarang dan Salmi (45 tahun) TKW asal Boyoli Jawa Tengah. Mita dijanjikan bekerja di sebuah perusahaan di Malaysia dengan gaji 600 ringgit per bulan ditambah tips dan bonus tiap hari. Ternyata, setelah membayar sejumlah uang, Mita hanya sampai di tempat penampungan di pantai impian, Tanjungpinang. Selama berada di penampungan singgah, Mita dua kali dipukul Asni salah seorang tekong yang menampungnya. Beruntung Mita bisa meloloskan diri hingga sampai di rumah singgah Engku Putri Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Hampir sama dengan Mita, Salmi mengaku ditipu tekong dengan cara ditinggalkan di atas kapal Bukit Raya, sesaat setelah tiba di pelabuhan Kijang-Bintan. Sebelumnya, Salmi mengaku dijanjikan akan dipekerjakan di luar negeri dengan gaji Rp 1,5 juta per bulan. Untuk itu, Salmi dimintai uang Rp 1 juta. Sebelum sampai di rumah singgah Engku Putri, Salmi sempat tidur selama berhari-hari di pelabuhan Kijang, kadang di semak atau di gubuk yang ditemuinya. Salmi akhirnya ditolong seorang tukang ojek setelah sebelumnya berjalan bebeberapa hari tanpa tujuan. Oleh tukang ojek, Salmi diantar ke kantor polisi di Kijang. Polisi kemudian merujuk Salmi ke rumah singgah Engku Putri. Akhirnya, Mita dan Salmi pada tanggal 04 Oktober 2010 dipulangkan ke kampung halaman masing-masing, setelah pihak pengelola rumah singgah Engku Putri menghubungi Pemda Jawa Tengah. Seharusnya, rakyat Indonesia tidak perlu sampai repot-repot mencari kerja ke luar negeri, karena dengan kekayaan alamnya yang sedemikian melimpah, bila dikelola dengan baik mampu memberikan lapangan pekerjaan bagi sebagian besar rakyatnya. Dengan kekayaan alam yang melimpah, kesejahteraan rakyat dapat dijamin berada pada tingkatan yang membanggakan. Fakta tentang kekayaan alam Indonesia yang melimpah berhadapan dengan fakta tentang rakyatnya yang harus cari kerja ke luar negeri, menunjukkan bahwa keberkahan telah sedemikian jauh dari bangsa kita. Mungkin, karena syari’at Islam yang seharusnya dijadikan landasan hidup berbangsa dan bernegara hanya dijadikan komoditas politik semata. Itu semua salah siapa? Jawabannya adalah benarlah firman Allah Ta’ala, وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. As-Syura [42] : 30). Wujud kesalahan itu di antaranya apa? Dari Abdullah bin Umar, ia berkata, Rasulullah saw menghadapi kami lalu bersabda: Wahai orang-orang Muhajirin, lima perkara jika kamu ditimpa lima perkara ini (maka keadaanmu mengalami bermacam-macam adza aku mohon kepada Allah agar kamu tidak mendapatinya. (1) tidaklah perbuatan keji (zina) yang dilakukan secara nampak hingga terang-terangan di suatu kaum kecuali akan tersebar wabah penyakit tho’un dan penyakit-penyakit lainnya yang tidak ada pada orang-orang terdahulu mereka yang telah lalu. (2) tidaklah orang-orang mengurangi takaran dan timbangan kecuali mereka akan disiksa dengan paceklik, sulitnya (bahan) kebutuhan, dan dhalimnya penguasa atas mereka. (3) tidaklah mereka menahan zakat harta mereka kecuali akan ditahan pula untuk mereka hujandari langit, dan seandainya bukan karena (adanya) hewan-hewan maka mereka (manusia tak bayar zakat harta itu) tidak dihujani. (4) dan tidaklah orang-orang membatalkan janji Allah dan janji Rasul-Nya kecuali Allah akan menjadikan musuh dari selain mereka (yakni orang-orang kafir) maka mereka (musuh) itu mengambil sebagian apa yang ada di tangan mereka (pembatal janji itu). (5) dan selagi pemimpin-pemimpin (pemerintahan, bangsa, masyarakat) mereka tidak berhukum dengan kitab Allah, dan mereka memilih-milih dari apa yang diturunkan Allah (maka tiada lain) kecuali Allah menjadikan keganasan satu sama lain di antara mereka. (HR Ibnu Majah no 4019, hasan menurut Al-Albani dalam As-Silisilah As-Shohihah 106/ 4009). Bagaimana mau tidak diadzab dengan aneka derita, semua dari lima keburukan itu sudah dilanggar seluruhnya. Zina bukan lagi terang-terangan, malah dijadikan bisnis. Hingga Gubernur Jawa Timur memerintahkan agar pusat pelacuran di Surabaya ditutup saja walikotanya padahal perempuan justru ngeyel, menolak dengan alasan yang dibuat-buat. Itu belum masalah zina di seantero negeri dengan aneka kasusnya dari pembantu rumah tangga sampai tingkat aparat dan anggota dewan yang terhormat, apalagi artis, jangan dikata lagi! Pembaca yang kami hormati, bagaimana zina telah dipersilakan di negeri ini, sampai seorang ibu pun ada yang mempersilakan anaknya yang masih umur 13 tahun untuk berzina. Nia Dinata, sineas (orang yang ahli tentang cara dan teknik pembuatan film) yang kerap mengangkat tema perempuan menyatakan kepada anaknya (ABG lelaki 13 tahun), untuk melakukan seks tidak harus pergi jauh-jauh dari Indonesia. Silakan kamu lakukan di Tanah Air tapi kamu harus tahu tentang bagaimana penyakit menular, HIV/AIDS dan lain sebagainya. "Silakan kamu melakukan itu dengan pacarmu tapi dengan syarat sama-samamau. Tapi kamu tahu dulu tentang sex education. Tentunya, satu sama lain harus bisa bertanggung jawab atas perbuatannya," katanya. (okezone, ABG Impikan ke Belanda Demi Seks Bebas, Senin, 6 Desember 2010 - 08:51 wi Benarlah firman Allah Ta’ala dalam surat An-Nas, untuk berlindung kepada Allah dari bisikan syetan di dada-dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. Nia Dinata juga dikenal membela pornografi dengan bukti gigihnya memprotes rancangan undang-undang anti pornografi. Pembelaannya terhadap pornografi itu dapat dibaca di (http://www.nahimunkar.com/cewek-cewek-penentan... dapat juga dibaca di buku Pangkal Kekeliruan Golongan Sesat, oleh Hartono Ahmad jaiz dkk). Dan itu bukan hanya dalam hal bermaksiat, tetapi sudah sampai pada cara berfikir, sehingga ketika ada artis yang ditolak masyarakat ketika mau mencalonkan diri sebagai kepala daerah karena telah dikenal sebagai wanita yang berpenampilan seronok alias umbar aurat, tahu-tahu ada yang mengqiyaskannya dengan Nabi. Sama-sama semula ditolak warga, kata seorang artis yang dikenal sebagai pengacara. Astaghfirulloh… Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditolak karena mentauhidkan Allah, penolaknya itu orang-orang kafirin musyrikin yang memang benci kepada aturan Allah. ha kalau artis seronok, ditolaknya itu karena mengumbar aurat alias pengusung maksiat, sedang yang menolaknya itu masyarakat yang justru taat kepada Allah. Itulah cara berfikir seorang pembela yang sangat dungu, menyamakan antara emas dengan kotoran manusia hanya karena sama-sama kuningnya. Keburukan yang kedua, curang dalam takaran dan timbangan. Di mana di negeri ini yang orang-orangnya bersih dari itu. Dari penujual barang di pinggir jalan sampai di tempat yang mewah banyak sekali pelaku-pelaku curangnya. Penulis pernah naik taksi menuju ke satu pergedungan. Tukang taksi bertanya, Pak di gedung itu isinya yang paling banyak apa Pak? Saya jawab, ya orang bekerja dan sebagainya. Dia bantah dengan perkataan: Bukan Pak. Isinya paling banyak ya maling. Astaghfirullah… tukang taksi itu masih saja ngoceh dan saya mengelus dada sambil senyum kecut. Ketika isinya seperti itu, maka apabila yang memimpin negeri itu dhalim, maka sudah sesuai dengan hadits tersebut. Ini bukan menjustifikasi pemimpin yang dhalim, ini hanya analisis kenyataan. Keburukan lainnya, membatalkan janji Allah dan janji Rasul-Nya, sudah tidak dapat dihitung lagi. Mulutnya bersyahadat, bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang haq disembah selain Allah. Namun betapa banyaknya orang yang rajin meminta-minta mengenai nasib hidupnya ke dukun, ke isi kubur –malahan dipimpin oleh orang-orang bersorban atau perempuan berjilbab rapat dan perginya itu dengan istilah yang seolah Islami, yakni tour ziarah, tour religi dan sebagainya. Kesesatan tentang ini dapat dibaca di buku Pendangkalan Akidah Berkedok Ziarah. Di samping itu juga banyak yang berdoa atau menyembah, atau minta berkah atau minta dihindarkan dari mala petaka ke batu, gunung, laut, bahkan kerbau dan sebagainya dengan aneka upacara dan cara. Aneka kemusyrikan pun merajalela. Tidak dapat dihitung lagi, dan itu sering justru disponsori penguasa. Itu berarti membatalkan janji Allah dengan dipimpin oleh penguasa setempat. Juga membatalkan janji Rasul, untuk mengikuti Rasul dalam ibadah kepada Allah, tetapi betapa banyaknya bid’ah-bid’ah yang mereka buat. Ada shalawat bikinan yang tidak disyari’atkan seperti apa yang disebut Shalawat Nariyah. Shalawat Nariyah telah dikenal oleh banyak orang. Mereka beranggapan, barangsiapa membacanya sebanyak 4.444 kali dengan niat agar kesusahan dihilangkan, niscaya akan terpenuhi. Ini adalah anggapan batil yang tidak berdasar sama sekali. Apalagi jika kita mengetahui lafadh bacaannya, serta kandungan syirik yang ada di dalamnya. Mengandung kemusyrikan menurut Syaikh Jamil Zainu, karena ada lafal ... محمد، الذي تنحل به العقد وتنفرج به الكرب، وتقضى به الحوائج …Muhammad, yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan,… Bagaimana mungkin Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam akan rela, jika dikatakan bahwa beliau kuasa menguraikan segala ikatan dan menghilangkan segala kesedihan. Padahal Al-Qur’an menyeru kepada beliau untuk memaklumkan: قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ “Katakanlah, ‘Aku tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-A’raf [7] : 188) (Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Minhajul Firqah An-Najiyah wat Thaifah Al-Manshurah, diterjemahkan Ainul Haris Umar Arifin Thayib Lc, Jalan Golongan Selamat, Darul Haq, Jakarta, cet. I, 1419 H, hlm. 173-176. Lihat pula di buku Hartono Ahmad Jaiz, Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, cetakan 7, 2004M, halaman 266-268). Ada juga shalat bikinan yang tidak disyari’atkan seperti shalat Raghaib di awal bulan Rajab, dan ada juga perayaan-perayaan atau upacara-upacara bikinan atas nama agama yang tidak disyari’atkan. Itu yang mereka semarakkan dan dibela mati-matian. Padahal sudah ada ancaman dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam: عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَا مِنْ نَبِىٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِى أُمَّةٍ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لاَ يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لاَ يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ Dari Abdullah bin Mas'ud bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah seorang nabi yang diutus oleh Allah pada suatu umat sebelumnya melainkan dia memiliki pembela dan sahabat yang memegang teguh sunnah-sunnah dan mengikuti perintah-perintahnya, kemudian datanglah setelah mereka suatu kaum yang mengatakan sesuatu yang tidak mereka lakukan, dan melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan. Barangsiapa yang berjihad dengan tangan melawan mereka maka dia seorang mukmin, barangsiapa yang berjihad dengan lisan melawan mereka maka dia seorang mukmin, barangsiapa yang berjihad dengan hati melawan mereka maka dia seorang mukmin, dan setelah itu tidak ada keimanan sebiji sawi." (Hadits Shahih Riwayat Muslim, No. 71) Ketika negerinya kaya raya, penduduknya adalah Ummat Islam yang jumlahnya terbesar se-dunia, tetapi ternyata hidupnya tidak berkah, maka tentu ada yang salah. Kesalahannya tidak jauh dari apa yang sudah dituturkan dalam ayat dan Hadits. Yaitu masyarakat yang curang, membatalkan janji Allah dan janji Rasul-Nya, mengatakan apa-apa yang tidak mereka kerjakan (pidatonya dan ucapannya bagus-bagus, tetapi pelaksanaannya nol besar atau bahkan sebaliknya, misalnya. Ucapannya melarang kemusyrikan dan bid’ah tetapi lakonnya penuh dengan keburukan sampai yang menyerempet itu, misalnya.) dan mereka mengerjakan apa-apa yang tidak diperintahkan. Misalnya tidak ada perintah untuk merayakan ini dan itu tetapi mereka rayakan. Tidak ada suruhan untuk upacara ini dan itu (mengenai orang mati, misalnya) tetapi mereka adakan upacara ini dan itu. Bahkan kadang mereka bela mati-matian, malahan ormas terbesar atas nama Islam pun di barisan depan dalam membela yang tidak diperintahkan itu. Lha kalau kenyataannya seperti itu, ya wajar. Negerinya kaya raya, warganya terlunta-lunta. Salah siapa? Ya salah para ulamanya, pemimpinnya, tokohnya, pendidiknya (bahkan atas nama pendidikan Tinggi Islam tetapi isinya menyesatkan –baca buku Ada Pemurtadan di IAIN), dan kesalahan mereka itu menyeret Ummat dan warganya. Akibatnya Allah menjadikan musuh dari selain mereka (yakni orang-orang kafir) maka mereka (musuh) itu mengambil sebagian apa yang ada di tangan mereka (pembatal janji itu). Dalam hal yang sudah diketahui secara umum, apa yang disebut “kerjasama” pengelolaan bahan-bahan tambang: emas, tembaga, minyak bumi, gas alam dan sebagainya di mana-mana itu adalah ungkapan eufemisme dari isi hadits tersebut. Yaitu orang kafir yang sejatinya adalah musuh mengambil sebagian apa yang ada di tangan Muslimin yang membatalkan janji Allah dan janji Rasul. Dalam kasus Indonesia, yang diambil oleh kafir musuh itu justru bukan sekadar sebagian, tetapi ada yang menyebutnya bagian terbesar. Akibatnya, untuk menutupi kebutuhan Negara maka warga lah yang diperas dengan apa yang disebut pajak, yang tampaknya semakin menggila, hingga kini sudah dirancang, sampai orang yang makan di warteg (warung tegal) yakni warung kelas rakyat saja akan dipungut pajak. Bahasa gampangnya, kekayaan yang melimpah itu direlakan untuk orang-orang kafir yang dalam hadits disebut musuh, sedang anak sendiri diperas habis-habisan. Padahal kekayaan yang melimpah itu sebagaimana di awal tulisan ini dari satu sumbernya saja hitungannya sudah mencukupi anggaran Negara selama 2.900 abad. Tetapi justru yang dikeruk adalah apa-apa yang ada di tangan warga, dengan cara memungut pajak. Perlu diketahui, 70 persen penerimaan negara berasal dari pajak, yang petugasnya adalah para pegawai pajak yang total jumlah karyawan Ditjen Pajak seluruh Indonesia sebanyak 32 ribu orang. Padahal harta orang Muslim itu dilindungi, makanya pemungut pajak itu sangat diancam dalam Islam. Dalam sebuah hadits yang shahih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لَا يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إلَّا بِطِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ “Tidak halal harta seseorang muslim kecuali dengan kerelaan dari pemiliknya.” Adapun dalil secara khusus, ada beberapa hadits yang menjelaskan keharaman pajak dan ancaman bagi para penariknya, di antaranya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّ صَاحِبَ الْمَكْسِ فِى النَّارِ “Sesungguhnya pelaku/pemungut pajak (diadza di neraka.” [HR Ahmad 4/109, Abu Dawud kitab Al-Imarah : 7] Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dan beliau berkata, ”Sanadnya bagus, para perawinya adalah perawi (yang dipakai oleh) Bukhari-Muslim, kecuali Ibnu Lahi’ah; kendati demikian, hadits ini shahih karena yang meriwayatkan dari Abu Lahi’ah adalah Qutaibah bin Sa’id Al-Mishri”. Dan hadits tersebut dikuatkan oleh hadits lain, seperti. عَنْ أَبِي الْخَيْرِ ، قَالَ : عَرَضَ مَسْلَمَةُ بْنُ مُخَلَّدٍ - وَكَانَ أَمِيرًا عَلَى مِصْرَ - عَلَى رُوَيْفِعِ بْنِ ثَابِتٍ ، أَنْ يُوَلِّيَهُ الْعُشُورَ ، فَقَالَ : إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : إِنَّ صَاحِبَ الْمَكْسِ فِي النَّارِ “Dari Abu Khair Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata ; “Maslamah bin Makhlad (gubernur di negeri Mesir saat itu) menawarkankan tugas penarikan pajak kepada Ruwafi bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu, maka ia berkata : ‘Sesungguhnya para penarik/pemungut pajak (diadza di neraka.” (HR Ahmad 4/143, Abu Dawud 2930) Berkata Syaikh Al-Albani rahimahullah, “(Karena telah jelas keabsahan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Lahi’ah dari Qutaibah) maka aku tetapkan untuk memindahkan hadits ini dari kitab Dha’if Al-Jami’ah Ash-Shaghir kepada kitab Shahih Al-Jami, dan dari kitab Dha’if At-Targhib kepada kitab Shahih At-Targhib.” Hadits-hadits yang semakna juga dishahihkan oleh Dr Rabi Al-Madkhali hafidzahulllah dalam kitabnya, Al-Awashim wal Qawashim hal. 45. (lihat Pajak dalam Islam (Nasehat untuk Para Pemungut Pajak) Oleh: Abu Ibrahim Muhammad Ali, Majalah Al-Furqon, Edisi I, Tahun VI/Sya'ban 1427/2006.) nahimunkar.com, April 8, 2010 3:43 am, http://www.nahimunkar.com/pajak-dalam-islam. Setelah jelas duduk soalnya, bahwa semua kesengsaraan di negeri yang kaya raya itu akibat kejahatan manusia itu sendiri, mungkin masih ada pertanyaan: kenapa yang kena sengasaranya kok hanya yang kecil-kecil? Sedang yang gede-gede justru makin senang dan kenyang? Hal itu ada penjelasan, orang-orang jahat atau aqidahnya rusak tidak diadzab padahal jelas jahat. Karena di lingkungannya ada orang-orang yang beristighfar, minta ampun kepada Allah Ta’ala. وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun [*] (QS. Al-Anfal [8] : 33). [*]. Di antara mufassirin mengartikan yastagfiruuna dengan bertaubat dan ada pula yang mengartikan bahwa di antara orang-orang kafir itu ada orang muslim yang minta ampun kepada Allah. Dari sisi lain, orang jahat pun ada yang justru sukses dalam kejahatannya. Itulah yang disebut istidraj. Ada keterangannya dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Dari Uqbah bin Amir dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Jika kalian melihat Allah memberikan dunia kepada seorang hamba pelaku maksiat dengan sesuatu yang ia sukai, maka sesungguhnya itu hanyalah merupakan istidraj." Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membacakan ayat: '(Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang Telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa) '. (QS. Al An'am [6] : 44). (HR Ahmad No. 16673 , komentar Syu’aib al-Arnauth: hadits hasan, dan riwayat At-Thabrani dan Al-Baihaqi). Semoga hal ini menjadi peringatan bagi kita semua. Amien ya Rabbal ‘alamien.


Negeri Gigolo, Pelacur, Germo, dan Preman Bejatnya moral sampah masyarakat yang menyebarkan penyakit berbahaya, yakni gigolo, pelacur, germo, dan preman yang tersebar di mana-mana telah meresahkan masyarakat. Lebih meresahkan lagi ketika mereka ini beroperasinya di alun-alun depan masjid hampir di setiap kota. Semua orang tahu, namun gejala yang sangat meresahkan itu tetap berlangsung. Dibiarkan tingkah busuk itu menyengat perasaan bagi setiap orang yang beriman. Entah kenapa, apakah memang ada yang memelihara, kadang sampah-sampah masyarakat itu justru tampak berani sekali. Gejala buruk itu telah meresahkan masyarakat. Bila dibiarkan, maka akan menghancurkan kehidupan masyarakat. Secara akal pun telah tampak bahayanya. Sedang secara agama, maka ada ancaman keras dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam: Apabila zina dan riba telah tampak nyata di suatu kampung (negeri) maka sungguh mereka telah menghalalkan adzab Allah untuk diri-diri mereka. (Hadits Riwayat Al-Hakim dengan menshahihkannya dan lafadh olehnya, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi, dishahihkan oleh Al-Albani dan Adz-Dzahabi). Rusaknya masyarakat akibat “dipeliharanya” gigolo dan pelacur di antaranya tergambar seperti ini: Seorang gigolo (lelaki pelacur) di Surabaya mengaku, ia lebih sering mendapat klien perempuan yang berstatus PNS (pegawai negeri sipil) dan wanita karir, berusia 30 hingga 45 tahun, sudah berumah tangga, dan sudah punya anak. Isteri gigolo di Bali yang diwawancarai pada film dokumenter Cowboys in Paradise mengaku, sang suami ada kalanya membawa ‘klien’ khususnya ke rumah. Bila hal itu terjadi, maka sang istri mengalah, sama sekali tidak sekamar dengan sang suami yang sedang menjalankan profesinya sebagai gigolo. Hal tersebut bisa berlangsung berhari-hari. Dari 1.500 wanita pelacur yang tercatat di kota Denpasar Bali, seperlimanya atau 20 persen di antaranya terindikasi mengidap HIV/AIDS. Selain mengidap HIV/AIDS, ada beberapa pelacur itu terserang penyakit infeksi menular seksual (IMS), kata Sri Mulyanti, asisten koordinator KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) Kota Denpasar, Selasa (23/11) 2010 sebagaimana diberitakan hidayatullah.com, Wednesday, 24 November 2010 08:27) Tidak sedikit wanita yang berzina kemudian hamil, lalu mereka nekat meneruskan dengan kejahatan baru lagi yakni aborsi (pengguguran kandungan). Penelitian di 10 kota besar dan enam kabupaten di Indonesia memperkirakan sekitar 2 juta kasus aborsi, 50 persennya terjadi di perkotaan. Padahal pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi ada sembilan belas resiko kesehatan dan keselamatan fisik yang akan dihadapi seorang wanita. Kampung gigolo Sebutan Gigolo tak lain dan tak bukan tertuju kepada sosok pelacur pria yang melayani bukan hanya wanita, tetapi juga pria pengidap homoseks (gay). Heboh film dokumenter Cowboys in Paradise, tentang gigolo yang berkeliaran di pantai Kuta (Bali), rupanya menutup fakta lain tentang keberadaan kampung gigolo di kawasan Boyolali, Jawa Tengah. Boyolali adalah sebuah kabupaten di provinsi Jawa Tengah, yang memiliki 262 desa. Dua desa di antaranya, Cabean dan Bakalan, dikenal sebagai ‘produsen’ gigolo. Sehari-hari, dari pagi hingga siang, para gigolo beraktivitas sebagaimana biasanya, seperti membuat keranjang ayam untuk dijual ke pasar. Namun, begitu senja menjelang, mereka berganti profesi menjadi gigolo. Pada umumnya, para gigolo ini merupakan pelajar putus sekolah. Mereka menjalankan aktivitas gigolo melalui mucikari atau independen dengan cara langsung terjun menjajakan diri di pinggir jalan. Targetnya, tante girang dan om senang. Di kawasan ini mudah ditemukan sejumlah salon yang berperan ganda sebagai tempat memoles para gigolo. Karena pagi hingga siang hari para pemeran ganda ini bekerja sebagaimana layaknya pemuda desa, maka keberadaan mereka sebagai gigolo pada malam hari tidak terlalu disadari oleh masyarakat sekitarnya, termasuk aparat desa. Para pemuda belasan yang sudah terlanjur terjerembab ke lembah nista ini umumnya enggan beranjak dari kubangan zina karena sudah terlanjur menikmati mudahnya mendapat uang ratusan ribu rupiah dari ‘klien’ mereka. Di kedua desa tersebut juga mudah ditemukan sejumlah makelar gigolo, yang peranannya persis mucikari alias germo. Sang germo ini salah satu peranannya adalah memberikan arahan kepada calon gigolo di dalam menghadapi ‘klien’ mereka kelak. Bila sudah dianggap siap, gigolo tersebut tidak hanya dipasarkan di sekitar Boyolali, tetapi hingga ke luar kota, antara lain Semarang. Sebelum menjalankan praktik, para gigolo ini diperkenalkan dengan dunia perkotaan, diajak ke pusat perbelajaan dan sebagainya, sebelum akhirnya terjun ke dunia penuh nista sebagai gigolo. Di Semarang, misalnya, terdapat sebuah tempat transit para gigolo, yaitu daerah Pos Ponjolo. Keberadaan kampung gigolo Boyolali, meski pernah diungkap Tim Sigi SCTV pada 24 Maret 2010, namun sepertinya tidak menarik perhatian media massa lainnya, bahkan cenderung ditenggelamkan oleh kampung gigolo Bali. Apalagi, setelah kehadiran film dokumenter berjudul Cowboys in Paradise (sekitar April 2010), yang menggambarkan kehidupan dan aktivitas gigolo di sekitar Pantai Kuta, Bali. Keberadaan kampung gigolo Boyolali boleh jadi lebih disebabkan oleh faktor kemiskinan semata. Sedangkan di Bali, selain didorong oleh kemiskinan juga disuburkan oleh industri pariwisata yang liberal, permissif, dan tentu saja jauh dari misi menawarkan keindahan alam dan budaya Bali. Di Boyolali, sosok gigolo pada siang hari tampil sebagaimana pemuda desa umumnya. Barulah pada malam hari, ia bermetamorfosa menjadi penjaja maksiat sebagai gigolo. Terkesan masih ada sikap malu-malu. Berbeda dengan di Boyolali, gigolo di Bali karena dikemas ke dalam paket industri pariwisata, kiprah para gigolo ini hadir dengan terang benderang. Apalagi, ada media penyamaran yang cukup efektif berupa keberadaan komunitas anak pantai yang tidak mencurigakan. Para gigolo ini tampil bagai anak pantai biasa. Atau, mereka yang semula hanya anak pantai kemudian tergiur materi dengan terjun ke lembah nista gigolo. Lebih memprihatinkan, oleh pihak keluarganya aktivitas penuh maksiat ini diakui sebagai profesi yang setara dengan profesi lain dalam rangka menghidupi keluarga. Antara lain sebagaimana bisa dilihat pada sikap seorang istri gigolo yang diwawancarai pada film dokumenter Cowboys in Paradise. Sang suami ada kalanya membawa ‘klien’ khususnya ke rumah. Bila hal itu terjadi, maka sang istri mengalah, sama sekali tidak sekamar dengan sang suami yang sedang menjalankan profesinya sebagai gigolo. Hal tersebut bisa berlangsung berhari-hari. Di Bali, terutama di Pantai Kuta, praktik gigolo konon sudah berlangsung sejak 20 tahun lalu. Ciri-ciri gigolo Pantai Kuta ini selain berbadan atletis dan berkulit gelap, juga berambut gondrong. Penampilan mereka khas anak pantai yang jago berselancar, dan mempunyai kemampuan berbahasa asing yang lumayan, terutama bahasa Inggris. Gigolo Pantai Kuta mempunyai perbedaan dengan gigolo yang mencari mangsa di berbagai café atau tempat hiburan lainnya. Gigolo Pantai Kuta tidak selalu memandu syahwat tetapi juga memandu perjalanan selama ‘klien’ mereka berlibur di Bali atau ke tempat wisata lain di luar Bali. Biasanya, gigolo Pantai Kuta sudah dikontak sebelum ‘klien’ mereka tiba di Bali. Sedangkan gigolo yang mencari mangsa di café dan tempat hiburan lainnya di Bali, umumnya mereka berinteraksi dalam jangka waktu terbatas, sebagaimana pelacur biasa, dan sama sekali tidak membawa misi pariwisata. Juga, tidak menjalankan fungsi memandu turis mengunjungi objek wisata selain memandu syahwat semata. Menurut Asana Viebeke Lengkong, tokoh masyarakat Kuta, ada tiga kategori yang dapat menggambarkan sosok gigolo Pantai Kuta. Pertama, gigolo sebagai profesi permanen untuk mendapatkan uang. Gigolo ini bekerja secara profesional untuk memenuhi hasrat para turis. Kedua, gigolo kontemporer. Awalnya, mereka masuk ke dunia gigolo hanya untuk mencoba-coba. Selanjutnya, ada yang menekuni gigolo sebagai profesi, namun ada juga yang tidak. Ketiga, gigolo musiman. Gigolo kelompok ini semata-mata mencari duit dan tidak menjadikan aktivitasnya sebagai profesi. Dari kelompok ini ada yang suka berbuat nekat dan membahayakan, sebagaimana pernah terjadi pada serangkaian kasus terbunuhnya wanita Jepang di Kuta beberapa waktu lalu. Gigolo Surabaya Pada hari Selasa tanggal 16 November 2010, di Surabaya aparat kepolisian setempat menangkap Ahmad Mas’ud alias Vino alias Daud (21 tahun) yang berprofesi sebagai germo gigolo. Ia mengelola praktik prostitusi gigolo berusia belasan tahun, umumnya masih menyandang status sebagai pelajar SMA. Ahmad Mas’ud adalah warga Semamper, Surabaya, Jawa Timur, dan bagian dari jaringan gigolo yang dikendalikan oleh Ahmad Sidik alias Ujang (35 tahun), warga Desa Kamojing Timur, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Praktik prostitusi gigolo ini dikemas Ahmad dalam bentuk layanan pijat 24 jam yang diiklankan melalui media lokal. Pada iklan tersebut, disertakan nomor telepon untuk memudahkan kontak. Saat tertangkap, Ahmad Mas’ud sedang membawa serta dua gigolo binaannya, yaitu IWG (17 tahun) dan RST (18 tahun). Keduanya masih duduk di bangku SMA kelas XII, dan sudah menjalani praktik prostitusi (pelacuran) ini sejak dua bulan lalu, dengan bayaran antara Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu. Separuh dari tarif itu, masuk ke kantong Ahmad Mas’ud. Berdasarkan Undang Undang Perdagangan Manusia, Ahmad Mas’ud bisa dikenai ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. Berbeda dengan gigolo Boyolali yang hampir semuanya terjerumus karena faktor ekonomi, gigolo Surabaya ada pengecualian. Selain faktor ekonomi, juga ada yang didorong oleh desakan kebutuhan seksual yang besar (hiperseks). Menurut Yanto, salah satu germo gigolo Surabaya, sebagian gigolo binaannya ada yang berasal dari keluarga mampu, namun karena mengidap hiperseks, ia terjun menjadi gigolo. Tipe gigolo ini tidak terlalu memilih perempuan, dan uang bukan faktor utama. Sedangkan gigolo yang berasal dari keluarga tidak mampu, faktor utamanya adalah uang. Biasanya, menurut Yanto, gigolo jenis ini agak rewel dan lebih suka melayani perempuan yang royal. Sebagai germo gigolo Surabaya, Yanto membina gigolo yang belum menikah, masih kuliah, dan berumur antara 20-25 tahun. Salah satu gigolo Surabaya yang cukup berpengalaman, Hero (28 tahun) mengatakan, tidak semua ‘klien’ menjadikan gigolo sebagai pemuas syahwat semata, tetapi ada juga yang menjadikan gigolo sebagai teman curhat (curahan hati). Hero juga mengaku, ia lebih sering mendapat klien perempuan yang berstatus PNS (pegawai negeri sipil) dan wanita karir, berusia 30 hingga 45 tahun, sudah berumah tangga, dan sudah punya anak. Hero yang sudah jadi gigolo sejak tahun 2009 ini, rata-rata dibayar antara Rp 300 hingga 500 ribu. Di Surabaya, salah satu cara mendapatkan gigolo, antara lain ditempuh dengan mendatangi kampus-kampus. Bahkan, ada germo gigolo yang sudah lebih dari 5 tahun beroperasi, dalam rangka mencari calon gigolo ia menyusupkan orang-orang kepercayaannya di kampus-kampus swasta ataupun negeri. Bila ada calon yang dianggap cocok, orang-orang ini akan menghubungi sang germo. Para gigolo Surabaya, agar tetap eksis mereka menempuh berbagai cara, antara lain memanfaatkan internet melalui situs jejaring sosial untuk medapatkan pelanggan. Artinya, mereka bisa medapatkan “klien” yang tidak terbatas dari dalam kota Surabaya saja, tetapi dari kota-kota lain seperti Jakarta, Bali dan sebaganya. Untuk “klien” luar kota, foto gigolo dikirimkan via e-mail. Bila sudah disetujui, gigolo akan diterbangkan ke tempat “klien”. Biaya pesawat ditanggung pemesan. Fenomena gigolo sudah sedemikian mengindustri. Bahkan, para germo gigolo Surabaya menyediakan fasilitas garansi: uang kembali bila “klien” tidak puas. Astaghfirullah, untuk urusan maksiat mereka begitu serius mengelolanya, seperti penjual mobil profesional yang menyediakan garansi. Membahayakan kehidupan Itu masih pula ditambah dengan pelacur dan germo plus preman yang semuanya sangat membahayakan kehidupan. Kasus-kasus dan data berikut ini sebagai bukti nyata. Dari 1.500 wanita pelacur yang tercatat di kotaDenpasar Bali, seperlimanya atau 20 persen di antaranya terindikasi mengidap HIV/AIDS. Selain mengidap HIV/AIDS, ada beberapa pelacur itu terserang penyakit infeksi menular seksual (IMS), kata Sri Mulyanti, asisten koordinator KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) Kota Denpasar, Selasa (23/11) 2010. Dia menjelaskan, para pelacur menjadi salah satu potensi terbesar penyebaran HIV/AIDS di ibu kota Provinsi Bali ini. "Karena perilaku mereka paling beresiko menularkan ataupun sebaliknya tertular virus mematikan tersebut," katanya. Seperti diketahui, ucapnya, penyebab penularan virus HIV/AIDS yang masih tinggi adalah perilaku melakukan hubungan seks berganti-ganti pasangan. Perilaku itulah yang membuat para penjaja seks tersebut, katanya, menjadi salah satu kelompok yang paling beresiko. (lihat hidayatullah.com, Wednesday, 24 November 2010 08:27) Ketika maksiat jadi dagangan Ketika maksiat zina dan semacamnya justru dijadikan barang dagangan, maka seolah kejahatan itu dipelihara. Dan memang kemungkinan ada yang memeliharanya. Oleh karena itu ketika kejahatan --yang cepat atau lambat pasti akan merusak dan meresahkan-- ini diupayakan untuk diberantas, maka kadang para penjahatnya berani mengamuk. Inilah contoh-contoh kasusnya: Puluhan Preman ”Ngamuk” di Stasiun Klender, Sejumlah Petugas Stasiun Luka-luka Fahmi Firdaus - Okezone JAKARTA - Puluhan preman mengamuk, di Stasiun Kereta Api Klender, Jakarta Timur, Sabtu, malam 11 April 2009 dan merusak sejumlah alat-alat pengatur perjalanan kereta api serta mikrofon yang berada di dalam kantor stasiun. Aksi pengerusakan itu dipicu oleh penertiban gubuk-gubuk liar di sekitar Stasiun Klender yang dilakukan petugas PT KA beserta Polsek Pulogadung Sabtu siang. Gubuk-gubuk tersebut dibongkar karena menjadi sarang prostitusi di sekitar wilayah Stasiun Klender. "Tadi malam telah terjadi pengerusakan, penyerangan dan pengroyokan dilakukan oleh puluhan orang yang tidak dikenal dengan senjata kayu balok yang ada paku kepada petugas Stasiun Klender," ujar Achmad Sujadi kepada okezone, Minggu (12/4/2009). Akibat penyerangan tersebut, kaca meja pelayanan Stasiun juga pecah. Tak hanya itu, HP dan dompet petugas loket juga diambil oleh puluhan preman tersebut. Akibat penyerangan tersebut, sejumlah karyawan Stasiun Kereta Api Klender mengalami luka parah, di antaranya Tarsano, Pengatur perjalanan Kereta Api, Arif Setiawan Petugas Loket, Sigit Budiarto, Petugas Loket, serta seorang penumpang bernama Agus Suseno, tidak luput dari penyerangan tersebut. "Semua korban mengalami luka di sekitar kepala, dan dibawa ke Rumah Sakit Persahabatan," ujarnya. Lebih lanjut dia menambahkan, semua korban dipukuli oleh kayu balok yang dipenuhi paku. Okezone, Minggu, 12 April 2009 - 07:48 wib Pelacur dan Germo Perangi Petugas BOGOR (Pos Kota) – Pembongkaran warung remang-remang (warem) tempat mangkal pelacur di Jalan Raya Parung, Bogor, Senin (20/4) bentrok. Pemilik warem, germo dan pelacur bersatu melawan petugas. Perang batu pun tak terhindarkan. Pemilik menolak dibongkar karena tak mempunyai pekerjaan dan keahlian, sedangkan germo protes dan menuding petugas tebang pilih. “Jika dibongkar kita lawan!” teriak seorang pemilik warung . Gertakan ini tak membuat nyali petugas menciut. Mereka tetap membongkarnya pakai beko. Tindakan ratusan petugas gabungan dari Polri, TNI dan Satpol PP Kab. Bogor, membuat marah penguni lokalisai liar ini. Caci maki dilontarkan . Lemparan batu melayang ke arah petugas, disusul lemparan lainnya. Ini yang memicu terjadinya bentrokan. Satu petugas satpol dikeroyok membuat teman-temannya marah. Oknum aparat desa yang dituduh jadi beking nyaris jadi bulan-bulanan. Untung cepat dilerai aparat Polsek Parung dan Kodim. Suasanan memanas ketika Ny Nara,36, menghadang petugas di depan rumahnya yang akan dibongkar. Suaminya, Asep,38, berdiri di atap rumah lalu melempar genteng ke arah petugas. Akibatnya Ny Nisa, ibunda Ny Nara, kepalanya bocor tertimpa genteng. GERMO PROTES Petugas kembali dihadang Santi 43, germo yang panti pijatnya dirobohkan. Wanita ini berteriak, agar petugas jangan tebang pilih. Sebagian pelacur ikut melawan. ”Kalau mau jujur, semua bangunan di sini menyediakan wanita muda yang siap melayani. Saya protes, kenapa warung sate itu yang menyediakan pelacur, tidak dibongkar ini tidak adil,” teriak Santi . Petugas merobohkan 85 bangunan dari ratusan bangunan yang berdiri di lokasi tersebut sampai rata dengan tanah. “Sepanjang jalan di Parung ini berungkali kali kita bongkar, tapi muncul lagi,” jelas Kepala Satpol PP Kab. Bogor, Yasin Zainudin. Warem tempat praktik prostitusi ini berada di Desa Jambon, Parung, dan Desa Pondok Udik, Kec. Kemang, Kabupaten Bogor. Menurut informasi, bisnis esek-esek di lokasi itu keuntungannya sangat besar. Tarif pelacur Rp 150-200 ribu dan germo dapat setengahnya. ”Satu warem dihuni sedikitnya 6 pelacur. Belum dari minuman,” sebut satu warga. (yopi/iwan/ird/ poskota.co.id, Selasa 21 April 2009, Jam: 9:52:00 Terbakarnya 24 gerbong kereta gara-gara pelacur Terbakarnya 24 gerbong kereta api di Stasiun Rangkasbitung, Banten, 11 Oktober 2010 ternyata gara-gara pelacur yang mangkal di gerbong itu dan ulah orang yang mau memakainya. Kenapa gerbong dibiarkan ditempati pelacur ya? Maksiat seharusnya diberantas. Tetapi tampaknya dibiarkan, bahkan dipiara, bahkan dibisniskan. Akibatnya, yang tidak punya modal untuk bermaksiat, berani nekad. Inilah contoh kasusnya. Seharusnya para pejabat atau yang berwenang merasa tertampar mukanya. Ini baru contoh kasus saja: Sang Pembakar Kereta Akhirnya Buka Mulut Liputan 6 -Minggu, 24 Oktober Liputan6.com, Lebak: Tersangka pembakar kereta Hery alias Saeful sudah mulai tenang saat ditemui wartawan di sela-sela pemeriksaan penyidik Kepolisian Resor Lebak, Banten, Sabtu (23/10). Hery yang kejiwaannya dikenal labil, bahkan menjawab sejumlah pertanyaan wartawan. Termasuk, awal mula pembakaran 24 gerbong kereta api di Stasiun Rangkasbitung, 11 Oktober silam [baca: Polisi Tetapkan Tersangka Pembakar Kereta]. Dalam penjelasannya, Hery mengaku pembakaran kereta dilakukannya antara sengaja dan tidak sengaja. Sekitar jam 11 malam, tukang sapu gerbong kereta ini berusaha merayu Nur, pelacur yang biasa mangkal di gerbong stasiun. Namun karena Hery hanya menjanjikan bayaran Rp 5.000, pekerja seks komersial itu menolak ajakannya. Warga Kabupaten Serang, Banten, ini marah lalu membeli bensin, yang awalnya akan digunakan untuk membuat Nur mabuk. Tapi, lagi-lagi Nur menolak. Saat berusaha memaksanya meminum bensin itulah sebagian bahan bakar minyak itu dalam kantong plastik tercecer di gerbong tiga, empat, dan lima. Sadar bahwa usahanya gagal, Hery kemudian menumpahkan bensin tersebut di luar gerbong, kemudian membakarnya. Saat itulah, api langsung menyambar ruang dalam gerbong lima dan menjalar ke gerbong lainnya. Sejauh ini polisi masih belum dapat memastikan motif lain. Namun berdasarkan penyelidikan lanjutan terhadap lebih dari 60 saksi, polisi menduga ada pelaku lain selain Hery. Namun polisi belum mau membuka identitas orang tersebut, yang saat kejadian ada bersama Hery dan berprofesi sebagai preman di Stasiun Rangkasbitung. Pihak kepolisian menjerat Hery dengan Pasal 187 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang pembakaran dengan ancaman hukuman di atas lima tahun. Bangkai 24 gerbong kereta yang terbakar hingga kini masih tersimpan di Stasiun Rangkasbitung, menunggu proses penyelidikan tuntas. (MRQ/ANS) id.news.yahoo.com Pengabdi Syetan Bahaya pelacuran telah sangat nyata. Bahaya yang tidak diperkirakan dan belum pernah terjadi seperti dibakarnya 24 gerbong kereta api pun terjadi gara-gara pelacuran. Gerbong ditempati untuk pelacuran. Namun anehnya, pelacuran dengan aneka sarananya tampak dibiarkan. Bahkan video zina para artis (Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari) yang tersebar ke seantero dunia, sangat memalukan dan mengakibatkan rusaknya moral pun pelaku-pelaku zinanya tidak dihukumi apa-apa mengenai zinanya. Padahal pelakunya mengakui. Astaghfirullah, ini negeri apa? Hanya syetan saja yang tidak mau tahu bahwa zina itu dosa besar dan harus dijatuhi hukuman, serta tidak boleh ada yang membelanya. (Anehnya, Ariel tokoh pezina itu justru dikabarkan ada 10 pembelanya, sedang zinanya pun tidak dipersoalkan). Ketika suatu negeri justru dihuni oleh pengabdi-pengabdi syetan terutama para pemegang kendalinya, (contohnya ketika mereka ingin meraih jabatan ataupun melanggengkan jabatan dan sebagainya maka mereka minta ke wali-wali syetan yakni para dukun yang kini disebut para normal dan berani mengiklankan diri padahal sejatinya menurut Islam adalah wali-wali syetan, atau meminta ke kuburan-kuburan yang dikeramatkan –itu kemusyrikan, dosa terbesar, bisa mengeluarkan dari Islam, dan bila mati dan belum bertaubat maka bisa kekal di neraka), maka bukannya zina itu diberantas tetapi dijadikan bisnis dan dipiara di mana-mana. Benar-benar pengabdi syetan. Sebenarnya hukuman bagi pelaku zina itu sudah jelas dan tegas. Lelaki zina yang belum pernah menikah (ghoiru muhshon) didera 100 kali dan dibuang selama setahun. Sedang perempuan zina ghoiru muhshon (belum pernah nikah) cukup didera 100 kali tanpa diusir dari negerinya. Perkataan Ibnu Umar: Bahwasanya Nabi saw telah mendera dan membuangnya. Abu Bakar telah mendera dan membuangnya. Dan Umar pun mendera dan membuangnya. (HR At-Tirmidzi). Jika pelaku zina itu lelaki atau perempuan muhshon (telah pernah menikah secara sah dan bersetubuh, lalu melakukan zina) maka dirajam yaitu dilempari batu sampai mati. Nabi sawpernah merajam wanita Ghamidiyyah dan Ma’iz serta pernah merajam dua orang Yahudi. (dalam Hadits shahih). (Lihat Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Minhajul Muslim, Darul Fikr, halaman 434). Orang yang melakukan liwath (homoseks atau lesbian, bersetubuhmelalui lubang dubur yang bukan suami isteri) hukumannya dirajamsampai mati, tanpa membedakan muhshon atau ghoiru muhshon. Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa di antara kalian menemukan orang yang melakukanperbuatan kau Luth (homoseks), maka bunuhlah (kedua-duanya)pelaku dan yang diperlakukan homoskes. Dan barangsiapa kalian temukan dia menyetubuhi binatang maka bunuhlah dia dan bunuh pula binatangnya. (HR. Imam Ahmad dan empat Imam, rijalnya tsiqot/ terpercaya, hanya saja ada ikhtilaf, perbedaan pendapat/ Subulus Salam, juz 2). Di samping hukuman di dunia ditegaskan, masih pula ada ancaman: 1. Bencana di dunia Tidaklah merajalela kekejian di suatu kaum sama sekali, lantas mereka melakukan kemaksiatan secara terang-terangan kecuali mereka akan dilanda penyakit wabah tha’un (pes) dan penyakit yang belum pernah terjadi pada umat dahulu-dahulunya yang telah lalu. (HR. Ibnu Majah, Abu Nu’aim, Al-Hakim, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan Ibnu ‘Asakir, hasan-shahih menurut Syaikh Al-Albani). Dari Ibnu Abbas rhadhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila zina dan riba telah tampak nyata di suatu kampung maka sungguh mereka telah menghalalkan adzab Allah untuk diri-diri mereka. (HR. Al-Hakim dengan menshahihkannya dan lafadh olehnya, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi, dishahihkan oleh Al-Albani dan Adz-Dzahabi). 2. Adzab siksa neraka di akharat kelak. Dalam hadits shahih yang panjang riwayat Imam Al-Bukhari, diriwayatkan (kami petik potongan-potongannya mengenai zina): Dari Abi Raja’, telah menceritakan kepada kami Samurah bin Jundab radhiallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam seringkali mengatakan kepada para sahabatnya; "Apakah diantara kalian ada yang bermimpi?" Kata Samurah; maka ada diantara mereka yang menceritakan kisahnya.Suatu saat ketika subuh, beliau berkata: "Semalam aku didatangi dua orang, keduanya mengajakku pergi dan berujar; 'Ayo kita berangkat! ' Aku pun berangkat bersama keduanya,…' Maka kami berangkat, hingga kami mendatangi suatu tempat seperti tungku." Kata Abu Raja, seingatku Samurah mengatakan; "Tungku tersebut mengeluarkan suara gemuruh. Lantas kami melihat isinya, tak tahunya disana ada laki-laki dan wanita telanjang, mereka didatangi oleh sulut api dari bawah mereka, jika sulutan api mengenai mereka, mereka mengerang-ngerang. Maka saya bertanya kepada dua orang yang membawaku; 'apa sebenarnya dengan orang-orang ini? Namun kedua orang yang membawaku hanya berujar; 'Ayo kita berpindah ke tempat lain! '…Adapun laki-laki dan wanita yang telanjang dalam bangunan seperti tungku, mereka adalah laki-laki dan wanita pezina… (Hadits shahih riwayat Al-Bukhari nomor 6525) Semua yang terlibat akan diseret Siksa itu akan menimpa para pezina yang tidak bertaubat, yang sampai matinya belum bertaubat benar-benar. Bahkan bukan hanya para pezina saja yang akan terkena adzab api di dalam bangunan tungku yang penghuninya telanjang, dibakar api dan mengerang-ngerang itu. Siapa saja yang terlibat maka akan mereka seret agar ikut disiksa. Di dunia saja, ketika tempat mesum dirobohkan petugas, maka dalam berita itu ada protes yang menyeret temannya: Germo bernama Santi (43 tahun) berteriak kepada petugas yang merobohkan bangunan tempat mesumnya: ”Kalau mau jujur, semua bangunan di sini menyediakan wanita muda yang siap melayani. Saya protes, kenapa warung sate itu yang menyediakan pelacur, tidak dibongkar, ini tidak adil,” teriak Santi. (poskota.co.id, Selasa 21 April 2009) Ketika mereka menghadapi siksa yang amat keras kelak, tentunya mereka akan menyeret pula siapa saja yang ketika di dunia terlibat. Mereka harus sama-sama masuk neraka dan disiksa. Dari penyelenggara, pemelihara, pelindung, orang-orang yang pura-pura tidak tahu padahal jadi tanggung jawabnya untuk memberantas, dan sebagainya. Tidak perduli, dari masyarakat sampai pejabat, siapa saja yang terlibat akan diseret oleh para pezina itu pula ke neraka. Orang yang punya rumah kost yang tahu bahwa kamar kostnya ditempati untuk zina tapi diam saja, maka akan diseret pula. Demikian pula (lebih-lebih) yang justru menjadikan tempatnya memang sengaja untuk jadi ajang zina, entah itu hotel, motel, losmen, villa rumah sewa maupun lainnya. Demikian pula, tidak perduli, apakah ketika di dunia berjulukan da’i semiliun umat atau apa, bila memang di dunia terlibat maka kelak tidak dapat lagi berkilah. Apalagi kilah dengan istilah yang dibikin-bikin, misalnya islah dan sebagainya.Tidak perduli pula, walau yang terlibat itu tokoh partai berlabel agama sekalipun, ketika bersuara simpati kepada pezina bahkan mau menampungnya.


Kumpulkanlah Kapas-kapas yang Tersebar Dikisahkan, ada seorang pedagang yang kaya raya dan berpengaruh di kalangan masyarakat. Kegiatannya berdagang mengharuskan dia sering keluar kota. Suatu saat, karena pergaulan yang salah, dia mulai berjudi dan bertaruh. Pertama kecil, tetapi karena tidak dapat menahan nafsu untuk menang dan mengembalikan kekalahannya, si pedagang semakin gelap mata, dan akhirnya uang hasil jerih payahnya selama ini banyak terkuras di meja judi. Istri dan anak-anaknya terlantar dan mereka jatuh miskin. Orang luar tidak ada yang tahu tentang kebiasaannya berjudi, maka untuk menutupi hal tersebut, dia mulai menyebar fitnah, bahwa kebangkrutannya karena orang kepercayaan, sahabatnya, mengkhianati dia dan menggelapkan banyak uangnya. Kabar itu semakin hari semakin menyebar, sehingga sahabat yang setia itu, jatuh sakit. Mereka sekeluarga sangat menderita, disorot dengan pandangan curiga oleh masyarakat disekitarnya dan dikucilkan dari pergaulan. Si pedagang tidak pernah mengira, dampak perbuatannya demikian buruk. Dia bergegas datang menengok sekaligus memohon maaf kepada si sahabat "Sobat. Aku mengaku salah! Tidak seharusnya aku menimpakan perbuatan burukku dengan menyebar fitnah kepadamu. Sungguh, aku menyesal dan minta maaf. Apakah ada yang bisa aku kerjakan untuk menebus kesalahan yang telah kuperbuat?" dengan kondisi yang semakin lemah, si sahabat berkata, "Ada dua permintaanku. Pertama, tolong ambillah bantal dan bawalah ke atap rumah. Sesampainya di sana, ambillah kapas dari dalam bantal dan sebarkan keluar sedikit demi sedikit". Meskipun tidak mengerti apa arti permintaan yang aneh itu, demi menebus dosa, segera dilaksanakan permintaan tersebut. Setelah kapas habis di sebar, dia kembali menemui laki-laki yang sekarat itu. "Permintaanmu telah aku lakukan, apa permintaanmu yang kedua?" "Sekarang, kumpulkan kapas-kapas yang telah kau sebarkan tadi", kata si sahabat dengan suara yang semakin lemah. Si pedagang terdiam sejenak dan menjawab dengan sedih, "Maaf sobat, aku tidak sanggup mengabulkan permintaanmu ini. Kapas-kapas telah menyebar kemana- mana, tidak mungkin bisa dikumpulkan lagi ". "Begitu juga dengan berita bohong yang telah kau sebarkan, berita itu takkan berakhir hanya dengan permintaan maaf dan penyesalanmu saja" kata si sakit "Aku tahu. Engkau sungguh sahabat sejatiku. Meskipun aku telah berbuat salah yang begitu besar tetapi engkau tetap mau memberi pelajaran yang sangat berharga untuk diriku. Aku bersumpah, akan berusaha semampuku untuk memperbaiki kerusakan yang telah kuperbuat, sekali lagi maafkan aku dan terima kasih sobat ". Dengan suara terbata-bata dan berlinang air mata, dipeluklah sahabatnya. Seperti kata pepatah mengatakan, fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Kebohongan tidak berakhir dengan penyesalan dan permintaan maaf. Seringkali sulit untuk kita untuk menerima kesalahan yang telah kita perbuat. Kapan mungkin, orang lainlah yang menanggung akibat kesalahan kita. Kalau memang itu yang akan terjadi, lalu untuk apa melakukan fitnah yang hanya membuat orang lain menderita. tentu akan jauh lebih nikmat bisa melakukan sesuatu yang membuat orang lain berbahagia.


Saat Suamiku Dalam Kekurangan ... Menjadi seorang ibu rumah, merangkap manager pribadi dari para suami, memang bukanlah pekerjaan mudah untuk seorang istri. Butuh banyak energi, ketelatenan dan persediaan sabar yang cukup untuk tetap stabil mengatur keuangan apalagi jika memang kenyataan tengah menempatkan kita ditengah kekurangan. Seribu satu pemikiran yaitu campuran dari ketelitian, kreativitas, keuletan, kepuyengan dan rasa syukur di tampilkan demi tetap berputarnya ekonomi keluarga. Memang, siapa yang dapat dengan mudah berkompromi dengan perut yang lapar?. Batin kita pun pasti tidak tega ketika harus mendengar rintihan suara kelaparan dan kekurangan dari anak-anak kita. Namun, marah, protes apalagi sampai memaki suami, tidaklah akan mempermudah jalan keluar, malah akan semakin menambah masalah, dan dosa pun pasti tercatat untuk kita. Bersabar, memang bukan hal yang mudah. Dan akan terasa lebih berat terutama bila seorang istri hanya selalu dan selalu mengingat kekurangan dan kejelekan suami dan alpa ​​nya rasa syukur terhadap apa yang telah susah payah seorang suami perjuangkan. Dan, cukuplah hadits Rasulullah shollallohu 'alaihi wassalam berikut menjadi nasehat untuk kita para istri, "Saya melihat neraka yang tidak pernah aku lihat seperti hari ini. Dan saya melihat penghuni terbanyak dari kalangan wanita." Mereka (para sahabat) bertanya, "Kenapa wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Karena pengingkaran mereka." Beliau ditanya, "Apakah karena ingkar kepada Allah?" Beliau bersabda, "Mereka membangkang dan mengingkari kebaikan suami. Jika engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka sepanjang tahun, lalu ia melihat darimu sesuatu (yang tidak disukai), maka ia berkata, saya belum pernah melihat darimu kebaikan sama sekali." (Riwayat Bukhari) Allah akan tersenyum ketika melihat seorang istri yang selalu mendampingi suami tidak hanya saat suaminya bersuka cita. Mulianya seorang istri justru terlihat ketika dia pun setia mendampingi di saat suaminya berduka atau ditimpa kesusahan. Keteduhan jiwa sang istri akan tampak nyata ketika dia berusaha menghiburnya, dan mendorongnya untuk kembali bersemangat. Kalau bukan Anda, siapa lagi. Itulah sebuah pelajaran berharga yang dicontohkan Ummul Mukminin Khadijah, yang berusaha menghibur dan menenangkan hati Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam ketika pertama kali menerima wahyu. Memanglah seorang laki-laki diciptakan kuat untuk menghadapi tantangan yang lebih berat di luar. Merekapun dilengkapi Allah dengan rahmat logika yang lebih kuat. Namun, mereka tetaplah manusia biasa. Suamipun kadang diuji dalam pekerjaannya. Misalnya usahanya bangkrut, dan orang-orang yang dulu menjalin hubungan kerja sama dengan, banyak yang meninggalkannya. Bisa juga ia diuji dengan suatu penyakit yang cukup parah, sehingga banyak orang meninggalkannya. Sebagai seseorang yang digambarkan sebagai setengah jiwanya, seorang istri yang baik dan setia, akan tetap menemaninya, dan tidak meninggalkannya di saat orang lain melakukannya terhadapnya. Sebagaimana yang dialami Nabi Ayyub alaihis salam Nabi ayub sebelumnya kaya raya, tapi Allah kemudian mengujinya dengan kemiskinan dan penyakit. Namun sang istri tetap setia dan tak kenal penat, meladeni nabi Ayub yang sedang sakit itu dengan segala kasih mesra dan dengan bersusah-payah. Segala kesakitan yang diderita Ayub, seakan-akan dia sendiri ikut menderitanya pula. Ayub tetap dihibur dan diladeninya. Hal ini menunjukkan keimanan seorang istri yang kuat dan teguh. Hari-hari mereka selanjutnya penuh dengan penderitaan, bahkan melonjak lagi, lebih tinggi dan lebih hebat. Penghinaan dan ejekan pun datang dari orang-orang bekas teman dan temannva dahulu ketika Ia masih kaya raya. Mereka bukan kasihan dan datang menolong, tetapi mereka keberatan bila Ayub dan istrinya tetap berada di rumahnya dan bertetangga dengan mereka. Mereka bukan hanya merasa jijik saja melihat Ayub, tetapi juga takut kalau-kalau penyakitnya yang hebat itu dapat menular kepada mereka. Dengan tidak menaruh perasaan sedikitpun, mereka mendatangi istrinya dan berkata: Kami takut kalau penyakitnya Ayub berpindah kepada anak-cucu kami, sebab itu keluarkanlah Ayub dari sini atau kami akan menghapus kalau engkau tidak mau mengeluarkannya. Mendengar ucapan yang kasar dan menyayat perasaan itu, sang istri yang setia itu tetap tabah dalam tangisnya. Dia mengeluarkan segenap energi yang ada padanya, untuk memangku suaminya dan membawanya ke luar desa dan tinggal di sebuah pondok yang sudah ditinggalkan orang. Di sanalah Ayub beserta istrinya menanggungkan derita lahir dan batin, dengan penuh kesabaran dan keimanan yang tidak pernah putus. Untuk penghidupannya, sang istri terpaksa bekerja memotong-motong roti pada seorang pedagang roti. Setiap sore dia pulang menemukan suaminya, dengan membawa beberapa potong roti yang dihadiahkan orang kepadanya. Tetapi setelah orang banyak tahu, bahwa itu adalah istri Ayub, maka pedagang roti itupun tidak mau dia bekerja lagi sebagai tukang potong roti, karena kawatir jika penyakit Ayub itu menulari roti yang akan dijualnya. Karena tidak ada lagi pekerjaan dan makanan, maka beberapa hari lamanya, baik Ayub dan istrinya tidak makan dan minum sedikitpun. Dan ketika mereka sudah tidak tahan menahan lapar dan dahaga, lalu sang istri minta izin kepada Nabi Ayub untuk pergi berikhtiar mencari makanan dan minuman. Tidak lama kemudian dia pulang kembali dengan membawa sepotong roti dan air minum. Setelah Ayub melihat sepotong roti segar yang dibawa istrinya itu, nabi Ayub mengira bahwa istrinya sudah menjual kehormatan dirinya untuk mendapatkan sepotong roti itu. Lalu sang istri menceritakan kepada Ayub, bagaimana caranya ia mendapatkan roti itu: Aku bukan menjual kehormatan diriku, aku berlindung diri kepada Allah dari segala perbuatan yang menodai diriku. Roti ini aku dapat dengan mengubah rambutku yang panjang. Melihat kejadian itu, Ayub sangat sedih hatinya, lalu dia menangis, bukan menangisi nasibnya, tetapi menangisi rambut istrinya, karena diantara yang paling menarik hatinya terhadap istrinya adalah rambutnya yang panjang. Maka Berkatalah sang istri : Janganlah engkau menangisi rambutku yang sudah hilang. Rambut itu akan tumbuh kembali dan mungkin akan lebih indah dari yang sudah hilang itu. Demikianlah katanya menghibur suaminya. Mendengar jawaban istrinya itu, Ayub merasa senang hatinya. Dia kembali bersyukur, bertasbih, bertakbir memuji-muji Allah. Karena keimanannya kepada Allah dan rasulNya, rahmat Ilahiyah pun akhirnya turun kpd Ayyub dan juga kpd istrinya, yg tidak meninggalkan beliau ketika sakit dan tertimpa musibah.Allah mengembalikan kekayaan dan kesejahteraan kepadanya, seperti nama . Sungguh Allah merahmati istri nabi Ayub, dan memuliakannya atas kesabarannya bersama suaminya dan membimbingnya kpd kemanisan taat dibawah naungan keridhoan Allah ta `ala. Sungguh, kisah diatas adalah sarat dengan pelajaran berharga dan ibrah bagi para istri yang memiliki hati nurani, bahwa dunia adalah ladang akhirat . Selain itu, dalam menemani suami tentulah kita harus untuk melatih diri mengendarai kendaraan sabar, tidak berkeluh kesah atas musibah yg menimpanya, bersungguh2 dalam melaksanakan hak Allah pada dirinya, dan tdk marah terhadap qadha dan takdir yg terjadi. Percayalah, ketika para suami kita memiliki kelebihan rejeki, Insyaallah akan diberikan kepada kita nantinya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Lihatlah betapa merekapun telah menghabiskan banyak waktunya untuk keluarga, maka untuk siapa lagi mereka memperjuangkan nafkah keluarga kalau bukan untuk kita para istri dan anak-anak kita? Percayalah bahwa dunia ini memang berputar. Mungkin saat ini kita di bawah, tapi bisa saja suatu saat kita diatas. Dan ketika kita dibawah, itulah justru kesempatan yang diberikan Allah untuk menunjukkan jati diri kita, kualitas kita sebagai seorang istri yang senantiasa mendampinginya. Sehingga kettika tiba waktunya kita harus berada diatas, kepercayaan suami pada kita insyaAllah tidak akan tergantikan. Ketika jiwa kita masih berontak dengan berbagai perasaan was-was, maka yakinlah, bahwa semua di dunia ini, memiliki waktu sendiri-sendiri pada mulai atau berakhirnya sesuatu, pun demikian insyaAllah dengan semua kekurangan yang ada pada kita. Asal kerja keras dan tawakkal tidak kita pangkas, maka Allah akan selalu menolong hamba-hambanya. Banyak-banyak bersyukur, Insyaallah Allah akan menambahkan nikmat-Nya. Sesekali ada baiknya kita melihat ke bawah, karena betapa banyak orang yang hidupnya jauh lebih susah dibandingkan kita sekarang.


Danau Tiga ekor beruang kecil tampak berkumpul di depan ibu mereka. Beruang kakak beradik ini begitu asyik mendengarkan kata-kata wasiat yang disampaikan induk beruang yang mulai tampak tua. ”Anak-anakku, kini saatnya untuk kalian belajar tentang hidup. Tapi, ibu tidak bisa lagi menemani kalian. Ibu yakin, kalian sudah bisa membedakan, mana yang baik dan yang buruk,” jelas induk beruang di hadapan ketiga anaknya. ”Kira-kira, kemana kami bisa belajar tentang hidup, Bu?” tanya salah satu anak beruang. ”Kalian bisa pergi ke lembah hijau yang bersebelahan dengan hutan ini. Tapi...,” suara induk beruang terhenti. ”Tapi apa, Bu?” sergah si sulung kemudian. ”Kalian harus hati-hati, di sana ada danau yang punya pengaruh buruk. Jangan sekali-kali merasa nyaman di sana,” ungkap sang induk begitu serius. Selepas perpisahan, ketiganya pun berangkat. Dari kejauhan, sang induk hanya mampu melambaikan tangan demi memunculkan kemandirian tiga puteranya. Berbagai hal di perjalanan mereka alami. Mulai dari bertemu penghuni-penghuni hutan yang baik, hingga yang sangat sangar. Inilah mungkin yang dimaksud sang induk sebagai belajar tentang hidup. Perjalanan mereka pun terhenti ketika sebuah danau membentang di hadapan mereka. Airnya begitu jernih, ikan-ikan segar melompat-lompat dari balik permukaan air danau. Tapi anehnya, hampir tak satu pun hewan darat yang berada di tepian danau. Dan sontak saja, ketiga beruang cilik ini pun merasa haus. Genangan air danau yang tampak begitu segar, kian menghentak rasa dahaga mereka. Ketiganya pun menghambur ke arah tepian danau dan langsung mencicipi air yang tampak begitu segar. Kian dicicipi, rasa dahaga kian besar. Dan, dahaga pun berubah menjadi lapar yang luar biasa. Tiba-tiba salah satu dari mereka seperti menyadari sesuatu. ”Hei tunggu. Bukankah ini danau buruk yang dimaksud ibu?” teriak si bungsu kepada dua kakaknya yang tampak sudah berada di tengah danau sambil memangsa ikan-ikan yang ada. Si bungsu pun beranjak menjauh dari air danau. Teriakannya berkali-kali seperti tak terdengar kedua kakaknya. Tapi, si bungsu tak mau menyerah. Hingga, di luar dugaannya, kedua kakaknya tampak beringas. Mereka melempari si bungsu dengan sampah ikan yang sudah mereka makan. Si bungsu pun tertegun ketika dari kejauhan, ia menangkap warna merah menyala dari sorot mata kakak-kakaknya. Sontak, ia pun berlari secepat yang ia bisa. ** Allah yang Maha Sayang, melebihi sayangnya seorang ibu kepada anak-anaknya, kerap mengingatkan kita melalui ayat-ayat Alquran tentang ’danau’ indah yang punya pengaruh sangat buruk untuk manusia. ’Danau’ indah itu bisa menenggelamkan kesadaran bahwa hidup ini hanya perhentian sejenak. ’Danau’ indah itu juga mampu membolak-balikkan mata batin kita hingga yang baik menjadi buruk, yang buruk menjadi baik, dan yang mestinya disayang menjadi harus dibuang. ’Danau’ yang tampak indah itu adalah perhiasan dunia yang mungkin selalu membuat kita nyaman.


Monyet Seorang pemburu junior tampak kesulitan ingin menangkap monyet berekor panjang dalam keadaan hidup. Walau di hutan yang begitu banyak kelompok monyet berekor panjang, tetap saja si junior kehabisan akal. Pasalnya, monyet-monyet itu begitu gesit dan cekatan. Seorang pemburu senior pun akhirnya menghampiri pemburu junior untuk memberikan trik khusus. “Sebenarnya, menangkap monyet jenis itu dalam keadaan hidup sangat mudah,” ucapnya memecah kebingungan sang junior. Sang pemburu senior pun mengambil sebuah toples yang mirip sebuah botol. Bedanya, leher toples itu lebih besar sedikit dan lebih panjang dari leher botol. “Untuk apa toples aneh ini?” ucap sang pemburu junior masih dalam keadaan bingung. “Kamu tinggal meletakkan sebutir kacang ke dalam toples, dan memendam toples ini dalam tanah,” ucap sang pemburu senior sambil memberikan toples berisi kacang itu kepada si junior. Setelah toples dipendam, mereka pun mengintip dari kejauhan. Benar saja, tak lama kemudian seekor monyet tampak mengendap-endap membaui kacang yang ada dalam toples. Setelah tangannya masuk ke toples, sang monyet menjerit-jerit. Sang monyet sudah masuk perangkap pemburu. Mendapati itu, sang junior benar-benar keheranan dengan cara kerja perangkap monyet itu. ”Lho, kenapa monyet tidak bisa melepaskan tangannya, padahal sebelumnya ia bisa memasukkan tangannya ke dalam toples?” tanya sang junior. ”Itulah sifat monyet, saudaraku. Tangannya tidak bisa ia keluarkan dari toples, karena sang monyet tidak mau kehilangan sebutir kacang yang ada di genggamannya,” jelas sang pemburu senior. ** Kalau kita mau bercermin dengan tingkah dan perilaku alam di sekitar kita, begitu banyak pelajaran yang bisa diambil. Boleh jadi, tidak sedikit dari kita yang kehilangan rasionalitas demi ingin tetap menggenggam sesuatu yang sebenarnya kecil. Juga, tidak sedikit dari kita yang sulit menemukan luasnya akal sehat karena terkungkung dalam kerdilnya kebencian dan dendam.


BANTULAH PALESTINA DENGAN TAQWAMU وإن تصبروا وتتقوا لا يضركم كيدهم شيئا إن الله بما يعملون محيط "... Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka (Yahudi) sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan." [QS. Ali 'Imran: 120] Kalimat-kalimat ini kami tulis saat Zionis Yahudi kembali dirasuki Iblis dalam kezhalimannya, tatakala mereka seolah kesetanan dalam membantai, melumuri Palestina dengan darah-darah mukminin, bahkan dengan pongahnya mereka menyiapkan Gaza sebagai kuburan masal untuk rakyatnya yang mati kelaparan karena bantuan kemanusiaan yang senantiasa mereka gerayangi di tengah jalan. Lalu, apakah yang bisa kita perbuat untuk saudara-saudara kita di sana? Bukankah janji Allah benar adanya? Bukankah Dia pasti menolong orang-orang yang beriman, apalagi jika mereka dalam kondisi tertindas dan terzhalimi? Bukankah pelaku kezhaliman tersebut adalah suatu kaum yang mana al-Qur-an dipenuhi dengan gambaran buruk tentang sifat mereka? Hendaknya kita merenung akan kehinaan ini, yang silih berganti senantiasa menjadikan kita (kaum muslimin) sebagai pecundang. Namun seorang mukmin sejati tak akan berprasangka buruk kepada al-Khaaliq dengan meragukan kejujuran janji-Nya. Maka jari tuduhan-sebagai biangkerok dari keterpurukan ini-, tidak cepat diarahkan kepada siapapun sebelum kepada diri kita sendiri (kaum muslimin). Dikarenakan banyaknya dosa yang kita perbuat, karena jauhnya kita dari JALAN TAQWA dan KESABARAN di atasnya. Hendaknya kita pahami, bahwa kita semua-tidak terkecuali yang tidak memiliki kemampuan untuk membantu Palestina secara fisik dan materi-memiliki kewajiban yang sama untuk menolong kaum muslimin Palestina dengan ketaqwaan dan munajat kita kepada Allah. kata kuncinya; "TAQWA" & "SABAR DI ATAS TAQWA" Allah menjanjikan kepada kita: وإن تصبروا وتتقوا لا يضركم كيدهم شيئا إن الله بما يعملون محيط "... Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. " [QS. Ali 'Imran: 120] Imam Ibnu Jarir ath-Thobari dalam tafsirnya (Tafsir ath-Thobari: 7 / 159, Cet. Maktabah Ibnu Taimiyah) menegaskan bahwa yang dimaksud "tipu daya mereka" dalam ayat di atas adalah "tipu daya Yahudi". Selanjutnya dalam tafsir ayat berikutnya, beliau mengucapkan kalimat emas yang memperjelas makna "bersabar" dan "bertaqwa": وإن تصبروا وتتقوا لا يضركم, أيها المؤمنون, كيد هؤلاء الكفار من اليهود شيئا, ولكن الله ينصركم عليهم إن صبرتم على طاعتي واتباع أمر رسولي, كما نصرتكم ببدر وأنتم أذلة. وإن أنتم خالفتم, أيها المؤمنون, أمري ولم تصبروا على ما كلفتكم من فرائضي, ولم تتقوا ما نهيتكم عنه وخالفتم أمري وأمر رسولي, فإنه نازل بكم ما نزل بكم بأحد "Jika kalian bersabar dan bertakwa wahai orang-orang mukmin, niscaya tidak akan memudharatkan kalian sedikitpun, tipu daya mereka orang-orang kafir dari kalangan Yahudi. Hanya saja Allah akan menolong kalian pada mereka, jika kalian tetap bersabar pada ketaatan kepada-Ku dan mengikuti perintah Rasul-Ku, sebagaimana Aku telah menolong kalian di Perang Badr padahal saat itu kalian dalam kondisi lemah (sedikit). Namun jika kalian, wahai orang-orang yang beriman, menyelisihi perintah-Ku dan kalian tidak bersabar pada apa-apa yang telah Aku wajibkan atas kalian, dan kalian tidak bertaqwa dari apa-apa yang Aku larang, dan kalian menyelisihi perintah-Ku dan perintah Rasul-Ku, maka akan turun ke kalian (bencana kekalahan) sebagaimana yang telah menimpa kalian di Perang Uhud ". Pada Perang Uhud kaum muslimin ditimpa oleh bencana yang memilukan. Allah menegaskan bahwa bencana tersebut disebabkan oleh tergelincirnya sebagian kaum mukminin pada saat itu dari jalan taqwa. Mereka tidak bersabar dalam menaati perintah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam yang menyuruh pasukan pemanah untuk tetap siaga pada Uhud sebagai benteng pertahanan utama dari serangan musuh dari arah belakang. Mereka tidak bisa bersabar melihat kemenangan yang telah di depan mata dan ghanimah yang mulai dikumpulkan. Akibatnya, turunlah teguran Allah berupa pukulan telak dari musuh yang datang menyerbu dari balik punggung mereka. Dalam ayat yang lain Allah menegaskan: بلى إن تصبروا وتتقوا ويأتوكم من فورهم هذا يمددكم ربكم بخمسة آلاف من الملائكة مسومين "Ya. Jika kalian bersabar dan bertakwa, dan mereka menyerang kalian dengan seketika, niscaya Allah akan menolong kalian dengan (menurunkan) lima ribu Malaikat yang memakai tanda. "[QS. Ali 'Imran: 125] Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah mengomentari ayat di atas dengan kalimat yang sungguh-sungguh memberikan optimisme dahsyat untuk kita semua yang mencita-citakan kemenangan Islam: وهؤلاء الخمسة آلاف ردء المؤمنين إلى يوم القيامة "(Pertolongan Allah yang mengutus) Lima ribu (bala tentara) Malaikat ini, merupakan pertolongan untuk orang-orang mukmin (yang akan tetap ada) sampai hari kiamat. "[Dinukil dari tafsir Imam al-Baghowi, Ma'aalimut Tanziil: 1 / 412, Cet. Daarut Thayyibah 2002]. Lebih lanjut Imam al-Baghowi (wafat 516 H) menukil ucapan para ulama yang berpendapat bahwa pertolongan Allah dalam wujud bala tentara malaikat ini merupakan janji Allah untuk kaum muslimin dalam setiap jihad (perang) mereka, dan telah menjadi kenyataan di perang Badr dan Perang Ahzaab. Tentu saja pertolongan dari bala tentara malaikat tersebut mempersyaratkan 2 hal; taqwa dan sabar pada taqwa, sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas. Lebih khusus berbicara tentang pertolongan Allah untuk kaum muslimin terhadap orang-orang Yahudi, adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih -nya (no. 3808) dari 'Aisyah radhiallahu'anha: لما رجع النبي صلى الله عليه وسلم من الخندق ووضع السلاح واغتسل أتاه جبريل عليه السلام فقال قد وضعت السلاح والله ما وضعناه فاخرج إليهم قال فإلى أين قال ها هنا وأشار إلى بني قريظة. .. "Tatkala Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam kembali dari Khandaq (Perang Ahzaab), dan beliau melepas persenjataannya kemudian mandi. Kemudian datanglah Jibril 'alaihissalam kepada beliau seraya berkata:' Engkau telah menempatkan senjata, sementara-demi Allah-kami (para malaikat) tidak meletakkannya. Keluarlah kembali menuju mereka (untuk berperang)! Nabi r berkata: 'Keluar ke mana?' (Karena tentara kafir Quraisy yang mengepung Madinah pada saat itu telah mundur berkat pertolongan Allah melalui para malaikat-Nya-red), Jibril 'alaihissalam menjawab:' Ke sini '. Jibril 'alaihissalam mengisyaratkan ke arah (desa Yahudi) Bani Quraizhoh (karena mereka telah membatalkan perjanjian secara sepihak, dengan bersekutu bersama tentara kafir Quraisy dalam mengepung Madinah-red). TAQWA YANG PALING AGUNG; SENJATA TERAMPUH MELAWAN YAHUDI Bentuk ketaqwaan banyak sekali ragamnya dan bertingkat -tingkat kedudukannya di sisi Allah. Dari sekian banyak ragam ketaqwaan, taqwa yang paling agung nilainya di sisi Allah adalah Tauhidullah, yaitu menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan dan tujuan segenap peribadatan hamba yang disyari'atkan oleh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam. Dalilnya adalah firman Allah tatkala menyifati kesyirikan: إن الشرك لظلم عظيم "... Sungguh kesyirikan merupakan kezhaliman yang teramat besar." [QS. Luqman: 13] Kita tahu bahwa kesyirikan adalah lawan dari Tauhidullah, dan kezhaliman adalah lawan dari ketaqwaan. (Maka mafhum mukholafah-nya adalah) Jika kesyirikan merupakan bentuk kezhaliman yang besar, maka Tauhidullah sudah pasti merupakan ketaqwaan yang besar pula. Jika demikian halnya, maka harus dipahami oleh seluruh kaum muslimin di manapun mereka berada, bahwa Tauhidullah adalah senjata terampuh kita dalam melawan musuh-musuh Islam. Firman Allah adalah bukti mutlak tentang hal ini: سنلقي في قلوب الذين كفروا الرعب بما أشركوا بالله ما لم ينزل به سلطانا ومأواهم النار وبئس مثوى الظالمين "Kami akan campakkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, disebabkan mereka telah berbuat syirik kepada Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak pernah menurunkan keterangan tentangnya. Tempat kembali mereka adalah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zhalim. "[QS. Ali 'Imran: 151] Inilah karomah umat Muhammad r yang sebenarnya telah dijamin oleh Allah melalui lisan Nabi-Nya: نصرت بالرعب على العدو "Aku (Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam) ditolong (oleh Allah dengan dicampakkannya rasa takut di hati) musuh-musuhku . "[Shahih Muslim no. 523, asy-Syamilah] Kesyirikan-sebagaimana ditegaskan dalam ayat tersebut-adalah sumber ketakutan yang sudah barang tentu melahirkan kelemahan. Allah akan berlepas dan tidak akan menolong kaum muslimin jika mereka berbuat syirik kepada-Nya. Kenyataan pahit inilah yang sejak dulu sampai kini menimpa kita kaum muslimin. Sungguh kesyirikan dan kekufuran telah mewabah di tengah-tengah kaum muslimin di seluruh dunia tanpa terkecuali, baik disadari maupun tidak disadari. Penderitaan kaum muslimin di Palestina bisa kita akhiri bersama dengan taqwa, karena Allah telah berfirman: ومن يتق الله يجعل له مخرجا ".. . Barangsiapa bertaqwa, niscaya Allah akan menjadikan baginya jalan keluar. "[QS. ath-Tholaq: ​​2] Taqwa adalah hadiah yang bisa diberikan oleh segenap kaum muslimin untuk membantu Palestina, khususnya untuk mereka yang tidak memiliki kemampuan menolong secara materi maupun fisik. Jangan pernah menyangka bahwa Palestina hanya akan terbebas dari penindasan Yahudi, jika didukung oleh persenjataan dan bantuan materi yang hebat, atau dengan teriakan Unjukrasa yang keras. Bisa jadi Allah akan mengangkat penderitaan Palestina, dikarenakan do'a dari seorang hamba-Nya yang bertaqwa, yang bermunajat dan beribadah penuh ketulusan, demi kebaikan muslimin Palestina.


Suara Hati Seorang Istri Saat Suami Ingin Menikah Lagi Terasa dunia akan runtuh ketika kau meminta izin kepadaku untuk menikah lagi. Membayangkan kau, suamiku tersayang, sedang membagi cinta, perhatian dan segala kesenangan duniawi lainnya dengan wanita lain, bukan hanya sekedar mendatangkan pusing dan mual tapi juga penyakit cemburu dan sakit hati yang mungkin tak akan berkesudahan bagiku. Jangan protes wahai suamiku, Bahkan istri-istri nabi yang muliapun, mereka tak bisa menghindar dari kecemburuan. Semua itu karena cinta yang teramat sangat untukmu. Sejenak akupun buru-buru mengadakan koreksi kilat tentang apa yang kurang dari diriku, atau tentang apa yang selama ini menjadi kelemahanku selama ini. Seakan semua daya upaya akan aku kerahkan ketika menyadari bahwa kenyataan didepan akan sebentar lagi sampai kepadaku. Dan akhir dari usaha itu adalah cara yang aku pikir efektif untuk menghadang kenyataan takdir yang akan diberikan Allah untukku Akhirnya hari itupun datang saat aku harus mengatakan sebuah jawaban untukmu. Ya Allah, wanita mana yang ingin cintanya terbagi. Wanita mana yang kuat melihat suaminya bermesraan dan bahagia bersama suamiku .. suamiku yang sangat aku cintai. Ya Allah, bahkan jika pernyataan ini terbalik, dan dia berada di posisiku, sanggupkah engkau wahai suamiku? Imanku mengatakan aku bisa merelakanmu, namun kecemburuan dan perasaanku mengunci hatiku untuk tetap mengatakan tidak, tidak dan tidak untukmu. Pernikahan kita adalah tentang kita, kau dan aku, sama sekali tidak pada dia. Dan lalu bagaimana mungkin kau tega memasukkan dia kedalam kebahagiaan kita? Apakah selanjutnya kita akan bahagia, suamiku? Sekali lagi, aku tidak bisa lepas dari kodratku sebagai wanita yang identik dengan kecemburuan yang sangat melekat erat. Namun sekuat tenagaku aku mencoba tidak emosional. Sulit .. meskipun semua ini sangat sulit. Namun ... akhirnya kecintaan Allah menyadarkanku. Bukankah menikah adalah ladang amal bagiku untuk menggapai surga?, Walau sekali lagi, Demi Allah sangat sulit merelakan bagian dari diriku masih harus ku untuk dengan orang lain. Namun ... sekali lagi, bahasa iman menggugah kesadaranku kembali. Sekejab kupalingkan egoku untuk menilai maduku. Bukankah situasi ini juga menjadi cobaan bukan hanya untuk aku dan suamiku, tapi terutama adalah baginya. Betapa resiko sosial akan datang kepadanya, merek jelek sebagai perebut suami orang akan dilekatkan kepadanya. MasyaAllah, betapa aku juga mungkin tidak akan sanggup jika menjadi aktor kisah hidupnya. Bukankah jodoh sudah digariskan Allah pada semua manusia. Diapun tak pernah bisa memesan dari mana jodohnya akan datang. Namun ketika jodohnya adalah suamiku sendiri, lalu apakah aku harus menyalahkannya, yang berarti pula menyalahkan Allah sang maha pengatur? Dari pada aku memperburuk kondisi ini dengan prasangka yang menghinakanku sendiri, lebih baik aku menguatkan hati untuk membantu menguatkan suamiku. Suamiku .. seseorang yang telah bertahun-tahun membuat aku satu-satunya ratu dalam hati dan rumahnya, memulyakanku dengan segenap cinta dan kasih sayang, dan orang yang paling mengerti dan mencintaiku. Pantaskah jika akhirnya aku mennyebutnya sebagai pengkhianat atas kasih sayangku? pantaskah aku menyebutnya orang yang tidak tahu terimakasih pada semua pengorbanan dan kasih sayangnya? tidak, sama sekali tidak. Bahkan aku tidak akan rela gelar itu disebutkan kepada suamiku, bahkan oleh diri aku sendiri. Sesuatu akan lebih berharga ketika hal itu telah atau akan meninggalkan kita. Semoga ketika kau telah bersamanya, akan ada penghargaan lebih pada kebersamaan kita. Dan aku pastikan kau tidak akan merasa ditinggalkan olehku, karena aku tahu bebanmu akan terasa lebih berat kedepannya, dan akan sangat sulit bagimu untuk memilih. Maka aku tak akan membawa engkau pada posisi memilih.Seperti yang disabdakan rasul yang mulia bahwa wanita sholihah adalah perhiasan terindah bagi suaminya, dan subhanallah, aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Sekaranglah saatku untuk membuktikan padamu bahwa aku pantas menjadi perhiasan terindah yang pernah kau miliki, dan aku benar-benar menyayangimu. Aku buka pikiranku dengan keikhlasan. Dan keikhlasan itu akhirnya berbuah pikiran bahwa engkau bukanlah milik ku yang abadi. Aku khkawatir ketika cinta itu melekat erat dihatiku, justru kesenangan hidup itu akan menjadikanku mendua terhadap cinta kepada zat yang maha mencinta. Ah ternyata keikhlasan itu tidak selamanya menyakitkan. Menyakitkan hanya untuk mereka yang merelakan diri mereka sakit dan menyia-nyiakan perolehan pahala yang seharusnya bisa menjadi miliknya.Dan sebagai pribadi yang ingin lebih pintar, aku tentu tak akan melakukan hal itu. Ternyata Keikhlasan itu nikmat jika dalam menjalaninya hati condong kepada cinta hanya kepada Allah. Ya Allah semoga surga Mu akan menjadi seindah-indahnya tempat kembaliku kelak, dan semoga kau jadikan aku sangat lebih bahagia bersanding dengan suamiku disana, dalam kehidupan yang abadi. Subhanallah, iman menguatkanku, ikhlas melegakanku, dan Allah memang benar-benar menyejukkan hatiku, bahkan saat aku berada sendiri disini, dan kau berada disana wahai suamiku. Setelah dingin itu memenuhi relung hatiku, untuk selanjutnya aku mohon maaf kepadamu wahai suamiku, bahwa karena cintaku kepada Allah telah mengalahkan cintaku kepadamu. Aku yakin kau bukanlah pribadi yang akan menjadikan Alquran sebagai tameng untuk nafsumu sendiri.Kau dengan tekadmu yang ingin memuliakannya sebagai mana kau memuliakanku sebagai istrimu karena Allah, maka akupun akan merelakanmu pula karena Allah. Semoga kelegaan hatiku dan kemuliaan niatmu bukan hanya sekedar omong kosong, namun akan menjadi bukti nyata pernyataan cinta kita yang hanya karena Allah. Dan kini, aku mempersembahkan wanita itu untukmu. Benar-benar sebuah akhir yang sangat melegakan untuk sebuah kecintaan yang hanya karena Allah ...


Bahkan Para Suami pun Menangis Kehidupan tidak selalunya menawarkan kesenangan. Bagi sebagian orang, mengakrabi hati dan waktu mereka dengan kesedihan karena kesulitan hidup adalah sudah menjadi hal lumrah setiap harinya.Dan mereka membebaskan kepenatan hidup dengan menangis. Semua orang pasti pernah merasakan bagaimana kesedihan menyesakkan dada mereka. Namun masih banyak dari kita yang menilai bahwa menangis itu, apalagi bagi kaum adam, adalah hal tabu. Tabu untuk diperlihatkan apalagi diceritakan. Sisi harga diri mereka mengatakan mereka haruslah kuat, kuat dan kuat. Lucunya lagi ketika dari mereka kedapatan tengah menangis, merekapun meminta maaf. Biasanya masalah pekerjaan tidak akan membuat pria menangis, Pun masalah keuangan. Lalu, apakah yang membuat seorang suami menjadi menangis? justru kekuatan terbesar mereka penyebabnya, yaitu Akal mereka. Karena pria menggunakan akalnya lah yang menyebabkan ia menangis. Ia menangis karena telah lelah dalam berpikir, sel-sel dalam otaknya tidak mampu lagi untuk digunakan berpikir dalam menyelesaikan masalah. Saat ia menangis, jauh dalam pikirannya yang ada hanyalah air mata sebagai solusi. Dalam kondisi tersebut, biasanya justru sang istri dapat bersikap tegar. Kondisi ini berbeda dengan keseharian istri sebagai seorang wanita yang mudah tersentuh meski hanya menonton sinetron picisan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kekuatan para pria sebenarnya wanitalah yang jauh lebih kuat. Terbukti, saat si suami bersedih bahkan sampai menangis hanya istrinyalah lah pelipurnya. Jika akhirnya suami menangis, mungkin itu adalah batas akhir pertahanan hatinya untuk tetap tegar, maka pahamilah. Mereka tak akan membiarkan tetesan air mata mereka jatuh dan menjadi tontonan orang banyak, kecuali hanya dalam pandangan orang- orang yang dia sayangi. Disana akhirnya dia membiarkan dirinya menjadi sedikit lemah, maka bersimpatilah. Lelaki yang menangis karena istrinya adalah karena sangat begitu dalam menyanyang wanitanya itu, maka pahamilah. Bukan rasa kasihan yang dia harapkan, maka hargailah. Koreksi diri harus dihadirkan sang istri bila para suami menangis karena mereka. Tangisan itu mungkin karena menangis diam- diam sudah tidak mungkin lagi. jangan menunggu lebih lama, atau penyesalan yang akan didapat saat kita harus menyampaikan “MAAF”. Seperti halnya seorang istri yang bisa membuat para suami menangis, disisi lain kehadiran separoh jiwanya tersebut di sudut jiwa mereka, mampu meredam kesedihan yang sangat dr sang suami. Dan itu adalah tugas tercantik para kaum hawa. Air mata tidak selalunya menggambarkan kelemahan dan penurunan harga diri seorang suami. Bahkan para suamipun adalah manusia biasa, jangan berikan label apapun atas kemanusiawiannya itu. biarkan mereka membebaskan perasaan mereka dengan menangis. Hanya berikan sedikit interupsi bila air mata itu keluar disaat yang kurang tepat. Mungkin ada baiknya juga untuk para suami, jangan pernah malu untuk menangis, karena keluarnya air mata dapat mengurangi resiko terkena serangan jantung & stroke. Air mata dapat melepaskan segala beban yang selama ini ada di pundak. Disana juga mengandung arti ujian bagi ketulusan hati pasangan anda dalam menyikapi kesedihan anda tersebut. Tapi, tentu saja jangan keterusan menangis karena pasti orang akan bingung anda pria atau wanita.


KETIKA UANG TAK BERARTI APA APA Kalo Bicara uang siapa siy yang ngga mau...pasti mau semua,btull ngga.. di indonesia ada bbrpa macam uang seperti uang giral dan kartal..contoh seperti yang ada dalam gambar,dan seperti cek dan giro yang juga berlaku di indonesia. banyak orang yang meghalalkan segala cara demi mendapatkan uang,dari yang halal sampai yang haram,kalo kata bung rhoma 1001 cara mendapatkannya..ya btul juga siiy...ada yang halal dengan cara menjual dagangan bahkan sampai yang haram menjual kehormatan,apalagi ngga asing lagi kata KORUPSI di negeri tercinta ini..semoga kita selalu terjaga..amiin,itu uang yang sangat berarti di dunia. Orang bisa berwibawa jika memiliki banyak uang, banyak harta bergelimangan mobil dan rumah mewah,itu yang salah satu yang membuat naiknya serajat seseorang didunia.Dan itu hanya di dunia tapi tidak di akhirat...kalo kita melihat dari sudut pandang islam..Allah hanya lihat ibadah kita sholat yang utama kata kang ebiet beat a,kalo Rosul bersabda niy bunyinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, akan tetapi kekayaan itu adalah kaya hati." (HR. Bukhari) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta benda kalian, tetapi Dia hanya memandang kepada amal dan hati kalian.” (HR. Muslim) jadi sudah jelas ya.^_^ Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Kekayaan yang terpuji adalah kayanya jiwa dan sedikitnya ketamakan terhadapnya. Bukanlah yang dimaksud (kekayaan) adalah banyaknya harta dan kerakusan untuk selalu ingin menambahnya. Karena barangsiapa yang selalu meminta tambahan dan tidak pernah merasa cukup dengan apa yang dia miliki, maka sejatinya dia tidak memiliki kekayaan.” [ Shohih Muslim] Itulah qona’ah. Merasa cukup dengan apa yang Allah telah berikan kepadanya. Sebuah akhlak mulia yang terlupakan oleh kebanyakan dari kita. Padahal dialah kunci harta karun yang akan membukakan kebahagiaan kepada pemiliknya. Wallahualam bishowab


SURAT UNTUK PEROKOK “Dari orang yang fakir sampai yang tajir, dari yang murtad sampai yang mengaku ustadz, dari yang mengaku santri sampai bapak mentri, dari orang yang bekerja dengan tangan yang kotor sampai dengan kalangan doktor, dari operator sampai professor dari kalangan pelajar sampai dengan staf pengajar, semua rela diperbudak dengan tuhan 9centi berkepala api, duhai negriku engkau adalah negri muslim, bukan negri kafir. bahkan negri kafir sekalipun mengatur pemuja api ini, oh negriku engkau adalah surga bagi mereka para pemuja, dari ujung desa hingga ujung kota, semua memuja tuhan 9centi berkepala api”. Renungan untukmu wahai para perokok : Jika saja tidak ada aktivitas merokok dalam setahun, bisa dibayangkan berapa banyak dana terkumpul yang bisa digunakan untuk proyek yang jauh lebih bermanfaat, kalo saja kita mau berpikir: orang-orang yang miskin (mungkin) tidak bertambah miskin akibat merokok, para pengusaha rokok tidak akan bertambah kaya akibat tidak ada aktiivitas para perokok, para penumpang dalam angkutan umum yang penuh sesak tidak akan lagi merasa sesak dengan asap rokok, pemerintah bisa menghemat dana untuk penaggulangan penyakit akibat rokok. Pemerintah bisa menggunakan dananya untuk hal yang jauh lebih bermanfaat. Jangan kalian hanya bisa mengkritik pemerintah dengan segala kebijakannya, sementara kalian tidak bisa mengkritik diri kalian sendiri, karena kalian pun sama dengan anggota dewan yang suka menghambur-hamburkan uang. Pertanyaan untukmu wahai para perokok : kemanakah batang-batang rokok yang kalian hisap, yang jika diukur panjangnya melebihi panjangnya jalan yang ada dinegri ini, berfikirlah kalian wahai para perokok, kalian berkata kami tidak dapat berfikir jika kami tidak merokok, lantas apakah kalian masih mau diperbudak dengan ketergantungan terhadap rokok, berpikirlah wahai sang ayah yang sedang merokok didepan putra-putrinya, apakah engkau hendak meracuni keluargamu dengan asap rokokmu, ataukah engkau sedang mengajarkan anak-anakmu untuk bisa merokok seperti dirimu? Berfikirlah wahai para pelajar yang sedang merokok dan belajar merokok, apakah orang tua kalian memberi uang untuk kalian hambur-hamburkan dengan asap rokok yang tiada berguna, Berfikirlah wahai kalian, pikirkanlah tentang harta-harta kalian yang telah kalian belanjakan untuk membeli rokok hanya untuk kalian bakar, tengoklah sebentar tetangga-tetangga kalian yang mungkin tidak dapat makan, karena ia tidak mampu untuk memenuhi kebutuhannya, sementara kalian malah asik-asikkan membakar uang-uang kalian, berfikirlah selagi kalian mampu berfikir, sebelum datangnya waktu bagi kalian untuk tidak dimintakan lagi berfikir, sebelum datangnya waktu bagi kalian dengan sebuah pertanyaan, Darimana engkau dapatkan hartamu dan kemana engkau membelanjakan hartamu?


Hikmah Dari Sebuah Menghargai Menikah, tak selalunya tentang kesamaan. Justru karena banyaknya perbedaan disana, manusia belajar banyak hal yang baru dan membarukan hidup mereka. Banyak dari pasangan suami istri yang setelah beberapa tahun menikah, akhirnya menilai bahwa pasangan mereka bukanlah pasangan hatinya. Dari sana timbul keinginan untuk menyibukkan diri guna sekedar membunuh waktu dan atau malah ada yang menyia- nyiakan diri untuk jatuh dalam dosa demi kesenangan pribadi. Saat hari demi hari rasa manusiawi kita mengharapkan penghargaan dan pembalasan yang lebih baik sudah sedemikian lelah menunggu, selanjutnya ujian atas kesabaran menjadi tahap berikutnya yang harus kita lalui. Disana muncul penggarapan proyek tentang bagaimana mengolah akal untuk meredakan kebosanan dan menegakkan kembali rasa yang sudah lunglai untuk bergairah kembali. Padahal kesediaan menerima teman hidup apa adanya, memberikan cita rasa baru dalam hidup dan membunuh rasa bosan. Bukankah pernikahan adalah ladang amal kita untuk menggapai Ridho Allah? dalam prosesnya pastilah ada cobaan lengkap dengan serba- serbi kesulitannya. Bayangkan ketika kita memiliki seribu pasangan, pastilah hanya satu saja yang kita butuhkan untuk mendamaikan hati kita. Mendapatkan kebahagiaan dengan membahagiakan orang lain adalah yang lebih membahagiakan diri kita. bukan hanya sebatas itu, kemauan membahagiakan pasangan dengan memberikan yang terbaik dari kita karena Allah lah, juga dapat menjadikan diri kita lebih baik dari sebelumnya. karena disana kita belajar ikhlas dan mengikhlaskan diri untuk kesenangan orang lain. Namun bagi para pribadi egois, dari pernikahan pula mereka dapat melakukan pengukuran kilat tentang berapa rata- rata kedangkalan hatinya, jika tidak sedang mendapatkan balasan yang terbaik dari pasangan. Belum lagi rencana pembalasan lebih kejam, dan atau trik perendahan yang sedemikian rapi disusunnya. Padahal jikalau mereka menyadari, kesemuanya itu tidak lebih adalah perendahan atas diri mereka sendiri. manusia yang lainpun akan menilai, pantas saja pasangannya meninggalkannya, karena kenyataan akhlak yang dia realisasikan sendiri. Maka tiada guna membalas kejahatan dengan kejahatan pula. Memang terkadang sangat menyakitkan jika hal itu terjadi. Namun hal itu akan seolah terobati jika kita menillik kembali niat pernikahan yang hanya karena Allah, yang pasti ketika hitungan logika untung dan rugi itu datang, pikiran kita akan tetap mengatakan kita tidak akan rugi. Betapapun tiada penghargaan atas jerih payah dan pengorbanan kita kepada pasangan, namun sesungguhnya Allah yang maha Menghargai hambanya dan paling akurat atas detail perbuatan kita. Tak perlu ragu untuk memberikan senyum, meskipun semua tak terbalas dengan senyum pula. Cukuplah ridho Allah sebagai penyejuk dan sebaik- baik pembalas dari semua itu. Semua orang akan memanen kebaikan dan atau kejahatan mereka sendiri- sendiri. Dan pertangguan jawabpun akan digelar dihadapan Allah atas mereka, sendiri- sendiri. Tidak ada yang gratis, tidak ada yang sia- sia, tidak ada yang terbuang percuma. Semua akan ada konsekuensi dan akibat, serta pertanggungan jawab. Maka jika sudha begitu, mengapa kita mempersiapkan semua dengan baik. Berkatalah dengan baik, dan perlakukanlah pasangan anda dengan baik-baik. karena kebaikan akan menimbulkan rasa malu bagi orang lain, jika dia tidak dapat membalasnya dengan yang baik pula. Benar- benar, pernikahan adalah proyek seumur hidup yang menguras kemampuan manusia habis- habisan. Namun disana terkandung maksud membaikkan manusia tersebut, jika dia mau belajar dan mengambil pelajaran. Disana pula terdapat penghargaan paling tinggi yaitu dari Allah subhanahu wata`ala saat keduanya berhasil tetap merekatkan tangan dan hati mereka kepada jalur yang semestinya. Maka jangan jadikan pernikahan sebagai ajang untuk membentuk pasangan anda menjadi orang yang jahat karena tidak adanya penghargaan atas apapun yang telah dilakukan atau dikorbankan untuk anda. Dia adalah sebatas manusia yang punya rasa, seperti halnya anda. Maka baikkanlah hidupnya dan jadikan dia pribadi yang lebih baik kedepannya dengan menghujani kasih sayang dalam bentuk penghargaan, yang kesemuanya kita lakukan karena Allah subhanahu wata`ala.


Faktor pertama yang memicu salah paham tentang Islam adalah karena kaum muslimin salah dalam mengambil jalan hidup. Wah, ini sih pastinya bukan cuma salah paham, tapi yang jelas udah salah jalan, karena salah mengambil sumber informasinya. Kayak orang mau bepergian ke suatu tempat, tapi peta jalannya salah. Ya, nggak nyampe tujuan. Bukan saja nggak nyampe, tapi tersesat. Tul nggak? Beberapa bukti atas fakta ini adalah, banyaknya kaum muslimin yang memperjuangkan feminisme, demokrasi, sekularisme, kapitalisme, bahkan sosialisme dengan menganggap bahwa paham-paham tersebut lebih relevan untuk saat ini. Waduh, celaka banget tuh. Sebab, sejatinya ide-ide itu bertentangan dengan Islam dan bahkan menentang Islam. Ide yang berbahaya. Akibatnya dalam tataran praktik, nggak sedikit kaum muslimin yang bangga menyandang istilah “Kiri” (baca: kaum sosialis) hingga akhirnya mereka berjuang di masyarakat dengan cara-cara seperti yang dilakukan kaum sosialis (misalnya unjuk rasa anarkis dan menggunakan kekerasan fisik), ideologinya pun ya sosialisme-komunisme. Padahal dirinya muslim, lho. Tulatit abis! Oya, nggak sedikit pula dari kaum muslimin yang merasa sudah menjadi manusia seutuhnya ketika memperjuangkan demokrasi. Maka, seks bebas tumbuh subur, pergaulan bebas antara laki dan perempuan jadi tradisi, pengingakaran terhadap agama juga marak. Menyedihkan sekali bukan? Inilah buah dari salah mengambil informasi jalan hidup, karena menganggap Islam tak mampu menyelesaikan kehidupan hingga akhirnya memilih kapitalisme dan juga sosialisme. Hmm.. kasihan banget! Sobat muda muslim, untuk faktor kedua yang memungkinkan munculnya salah paham terhadap Islam adalah kaum muslimin tidak utuh mempelajari Islam. Setengah-setengah, gitu lho. Kasarnya sih, apa saja dari Islam yang menurutnya baik dan menyenangkan diambil, sementara yang bikin ribet bagi dirinya ditinggalin jauh-jauh. Ini namanya pilah-pilih sesuka nafsunya. Bukan atas pertimbangan akidah dan syariat Islam. Superkacau banget kan pemahamannya? Shalat akan dilaksanakan kalo dengan shalat ia merasa tentram dan tenang. Jadi bukan atas pertimbangan hukum syara dan ketataan kepada Allah Swt. dalam melaksanakan shalat, tapi karena shalat membuat dia tenang. Itu sebabnya, ia akan mengambil ajaran Islam tentang shalat. Tapi jika menurut hawa nafsunya ajaran shalat itu bisa mengganggu aktivitasnya berbisnis, maka ia akan tinggalkan shalat. Karena menganggap waktu shalat itu mengganggu urusan penting yang dia kerjakan. Daripada memilih menghentikan sementara kepentingan bisnisnya untuk shalat, ia malah memilih kepentingan bisnis dan meninggalkan shalat. Itu namanya gegabah wal bahaya! Itu sebabnya, setengah-setengah dalam mempelajari Islam berdampak tidak utuhnya pemahaman tentang Islam. Tanggung, gitu lho. Bukan tak mungkin pula jika akhirnya marak bermunculannya para pelaku malpraktik dalam ajaran Islam. Hukum yang wajib dilakukan malah ditinggalkan, tapi yang sunah dikerjakan seolah menjadi kewajiban. Contohnya, banyak para wanita yang getol shalat sunnah tahajjud, tapi kalo keluar rumah rambutnya dibiarkan bebas tanpa ditutupi kerudung dan bagian tubuhnya dengan sukses dilihat orang lain karena tak menutup aurat dengan sempurna (berjilbab). Inilah yang disebut malpraktik alias salah prosedur dalam menjalankan syariat Islam, Bro. Piye iki? Harusnya kan yang wajib dilakukan, yang sunnah juga dikerjakan semampunya. Nah, mengenai faktor ketiga yang sangat mungkin memicu terjadinya salah paham terhadap Islam adalah banyaknya cendekiawan muslim yang menyampaikan Islam dengan pemahaman yang keliru. Islam yang disampaikan itu sudah dimodifikasi terlebih dahulu, sesuai selera dan keinginan mereka yang dipesankan dari musuh-musuh Islam. Mungkin saja orang yang dianggap sebagai cendekiawan muslim yang menyebarkan pemahaman Islam yang keliru ini nggak nyadar kalo dirinya diperalat oleh musuh-musuh Islam, atau bisa saja mereka tahu bahwa yang disampaikannya itu keliru tapi karena demi jabatan atau harta berlimpah yang dijanjikan kalangan tertentu yang membenci Islam, akhirnya ya mereka lakukan juga tugas salahnya tersebut. Parah! Sobat, bagi cendekiawan yang nggak nyadar kalo mereka udah menyampaikan Islam secara keliru, karena ia mempelajari Islam dari sumber yang salah. Ada semacam penyusup yang seolah-olah tahu dan paham Islam, tapi karena dianggap ulama atau cendekiawan akhirnya omongannya didengar meskipun sebenarnya menebarkan racun. Contohya, paham pluralisme agama. Menganggap bahwa semua agama benar dan nggak boleh ada agama yang mengklaim kebenaran agamanya. Lha, aneh banget kan? So, jangan tuduhkan kesalahan kepada Islam, jika banyak kaum muslimin yang hidupnya setengah Islam dan setengah kufur. Itu karena dirinya telah mengambil ajaran Islam semata yang dia suka sembari mengambil jalan hidup lain untuk yang membuat dia juga merasa nyaman. Pilih-pilih sesuka selera hawa nafsunya. Ini bunglon namanya. Padahal, kalo beriman kepada Allah Swt. ya harus jelas dan sepenuhnya. Nggak boleh nyari aman. Allah Swt. udah ngingetin manusia dalam firmanNya (yang artinya):”Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang (menjadi kafir kembali). Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS al-Hajj [22]: 11) Jadi, kalo diri kita udah menjadi muslim, berarti sepenuhnya kita sadar akan peran kita yang sesungguhnya, yakni bukan hanya sekadar melaksanakan ajaran Islam karena kita muslim, tapi juga menjadi penjaga ajaran Islam dan bahkan menjadi pembela dan pejuang Islam. Itu lebih mantap deh! Sumpah! (ya, daripada Islam KTP gitu lho!). Ih, malu dong, kalo diri kita cuma dianggap beragama Islam yang dituliskan di KTP, tetapi jauh dari ajaran Islam. Jangan sampe deh Islam kita cuma nyangkut di KTP doang. Oya, jangan juga menyalahkan Islam kalo kita hanya mampu menjadi Muslim yang “apa adanya”. Itu kesalahan kita karena nggak mau belajar Islam. Padahal, kita wajib bangga menjadi muslim, karena Islam yang kita peluk adalah agama yang akan menyelamatkan kita di dunia dan di akhirat. Itu sebabnya, yang kita amalkan dan praktikkan BUKAN Islam KTP.


Saat Cinta Lama Bersemi Kembali Perjalanan menuju pernikahan kadang tidak bisa digapai dengan mudah. Seribu satu cerita yang telah diukir sebelum pernikahan terkadang memberikan efek mendalam sehingga sulit untuk terlepaskan. Akhirnya ketika pernikahan sudah terlaksana, tapi waktu mengikis kesakralan dan makna suci pernikahan itu sendiri karena adanya bayang-bayang masa lalu. Yang tersisa hanyalah kebosanan dan pengikat yang justru mengunci mati hatinya. Pasangan di sampingnya hanya terjadi sebagai pelengkap dan pemformal status bahwa dia telah menikah. Sedangkan masalah hati, tentu saja selera mereka telah berubah. Waktu menguji kesungguhan kita akan kata-kata dan niat kita. Saat kenangan indah bersama seseorang yang terkasih dimasa lalu terlihat lebih fresh dan menyenangkan, sesungguhnya belum tentu seperti itu adanya. Allah telah menginstal kita, kini, sekarang ini, dengan pasangan yang terbaik lengkap dengan sepaket pelajaran yang insyaallah menjadikan kita pribadi yang lebih matang kedepannya. Semua yang terbaik menurut Allah adalah pasti terbaik untuk kita, namun yang terbaik dalam pandangan kita belumlah tentu selalu akan meningkatkan hidup kita. Anda telah mengenal dengan baik serangkaian kebaikan dan kekurangan pasangan Anda sekarang. Segenap pengorbanan jiwa raga, waktu dan pikiranpun telah sama-sama dibagi dalam susah dan senang. Dialah kepercayaan, teman hidup sekaligus penasehat yang memberikan kenyamanan batin untuk Anda. Lalu bagaimana bisa Anda menyerahkan cinta yang begitu suci hanya untuk seseorang yang baru Anda kenal beberapa hari saja? Kalau mungkin kesukaan Anda pada waktu lalu itu adalah karena Anda menganggap sangat mengenalnya. Dan begitu pemikiran untuk membandingkan pasangan yang lalu dengan sekarang muncul, Apakah pernah Anda berpikir sesaat bahwa waktu ini mungkin telah banyak mengubah Anda, pun demikian adanya dia. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada hari esok, lebih baik ataukah lebih buruk jika memang saat ini Anda memutuskan untuk bersamanya dan meninggalkan pasangan kita yang lama. Dari pada menebak-nebak sesuatu yang belum jelas dan bertaruh pada kebahagiaan kita, lebih baik kita syukuri yang ada. Dia jugalah manusia biasa seperti pasangan kita.mereka semua memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Maka dari mana kita bisa menilai bahwa yang satu adalah pasti lebih baik dari pada yang lain? Hidup adalah tentang menatap kedepan. bayangkan saja jika kita berjalan dengan selalu menoleh kebelakang, bukan tujuan yang kita dapat, malah kecelakaan yang akan merenggut nasib kita. Pun begitu halnya dengan cara pandang kita menatap sebuah rasa hati. Meskipun memanglah susah untuk mengompromikan rasa bila dia pindah ke lain hati. Namun bukankah manusia dilebihkan atas makhluk yang lain karena keberadaan akalnya?. Berpikir untuk memperbaiki yang ada dan mensyukuri yang telah diberi adalah kebaikan yang tidak akan putus. Saat Anda menyerahkan pilihan untuk tetap menghianati pasangan Anda demi cinta lama yang belum tentu memberikan yang lebih baik untuk hidup Anda, coba renungkan, siapa yang selama ini merawat dan memenuhi kehidupan Anda dengan limpahan kasih sayang? Jawabnya adalah keluarga Anda. Maka apakah demi kesukaan pribadi Anda harus menyakiti mereka?. Sejatinya pernikahan memberikan kesyukuran dan kedamaian hati kepada para pelakunya.Jika Anda telah berniat dalam hati untuk membuat janji sakral itu karena ibadah kepada Allah, maka bagaimana ketika dikatakan bahwa Allah tidak menyukai penghianatan yang Anda lakukan sekarang? masihkah akan tetap diteruskan kekerasan hati itu untuk menjadi jawabannya? pasangan Anda kini adalah cinta lama dan cinta masa depan Anda. Dialah yang turut memberi andil untuk menjadikan diri Anda seperti sekarang ini. Syukurilah, jagalah, dan tatap masa depan Anda. Hanya kedepan, tanpa harus menoleh lagi. Karena sesungguhnya pasangan kita adalah hadiah terindah dari Allah sang Maha Pengasih, yang pasti tahu yang terbaik untuk kita.


Cantikkah Jiwa Kita? “Meninggalkan dunia hitam… helai demi helai rambutku…” Ungkapan hati yang ditulis seorang teman, membuat saya tersenyum, tergelitik, dan kemudian berpikir… Bagaimanakah seharusnya kita, khususnya muslimah, menyikapi kenyataan bahwa kita tak lagi muda? Kulit yang tak lagi elastis, kerutan di wajah semakin jelas, rambut yang tak lagi hitam sempurna… Apakah kita lantas menjadi gundah gulana, resah gelisah, dan takut? Apa yang kita takuti? Takut tak lagi terlihat cantik, menarik, dan juga takut suami berpaling kepada wanita lain yang jauh lebih muda dari kita? Hmmm… Ketakutan yang terakhir ini tentu bukan tanpa alasan, karena survei membuktikan, segelintir laki-laki memang ada yang seperti itu tabiatnya… Berbagai upaya pun kita lakukan demi mencegah penuaan. Sibuk merawat kecantikan lahiriah, memakai berbagai produk kosmetik anti aging, mungkin mendatangi klinik-klinik kecantikan, atau bahkan tak ragu melakukan bedah plastik! Tapi kalau kita berpikir lebih dalam lagi, menjadi tua adalah suatu hal yang patut kita syukuri. Tanda-tanda-tanda penuaan adalah bukti bahwa Allah swt sangat sayang kepada kita! Di balik penuaan ada hikmah luar biasa! Ya, Allah mengingatkan kepada kita bahwa mungkin jatah hidup kita di dunia sudah hampir habis, waktu kita di dunia fana ini semakin sedikit, dan malaikat Izrail telah bersiap menjemput kita… Ah betapa kita selalu memikirkan pandangan orang lain terhadap diri kita. Kita selalu ingin terlihat cantik di mata orang. Kita berpakaian indah nan serasi, memoleskan kosmetik pada wajah, memakai assesori penunjang penampilan… Tapi pernahkah kita berpikir bagaimanakah pandangan Allah terhadap diri kita? Tengoklah kembali hari-hari yang telah kita lewati, betapa sering kita lalai menjalankan perintah Allah… Duhai Allah yang MahaMenatap, apakah kini Engkau tengah menatap hamba dengan penuh kasih? Ataukah Engkau memandang diri ini hina, memandang hamba dengan penuh murka, karena hamba bergelimang dosa… Apakah bekal kita sudah cukup untuk menghadapi Hari Keputusan nanti? Apakah di hari itu wajah kita berseri-seri, atau wajah kita tertunduk terhina? Bagaimanakah nasib kita di Alam Barzakh, di Padang Mahsyar, di shirath-Nya? Dimanakah tempat kembali kita? Akankah pintu Surga terbuka untuk kita? Atau Neraka menjadi tempat kembali kita? Inilah yang seharusnya membuat kita takut! Sibukkan diri kitauntuk mempercantik jiwa, bersegeralah lari kepada Allah, senantiasa dekatkan diri kita kepada Allah, ber-taqarrub kepada-Nya… Gunakan sisa umur kita untuk mempersiapkan masa depan yang terbentang, yaitu kehidupan akhirat. Jangan sia-siakan satu-satunya kesempatan yang Allah berikan kepada kita, yaitu umur kita, karena detik-detik usia sangat berharga, tak akan pernah kembali lagi! Segeralah beramal shaleh! Lalu bagaimana mengenai kecemasan terhadap suami kita? Berbahagialah Saudariku, karena kita telah menyerahkan segala urusan kita kepada Allah Swt. Hanya kepada-Nya lah kita bertawakkal, cukuplah Allah sebagai penolong kita. Allah yang menggenggam hati setiap makhluk-Nya, termasuk hati suami kita ada dalam genggaman-Nya! Ikhtiar yang sungguh-sungguh kita lakukan adalah terus berusaha menjadi istri solehah, istri penyejuk hati suami yang berupaya mewujudkan keluarga asmara… assakinah, mawadah wa rahmah. Tentunya harapan kita semua, saat kelak kita menghadap-Nya, kita dalam keadaan husnul khatimah, dan kalimat terindah menyambut kita, seperti dalam firman-Nya: “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (QS. Al-Fajr [89] : 27-30) “Ya Allah , Yang Maha Membolak-balikkan jiwa, tetapkanlah jiwa ini selalu dalam agama-Mu. Amiin…” Wallahu a’lam bish-shawaab


Hidup tidak selalu berjalan mulus… Butuh ‘batu kerikil’ supaya kita ber-hati2… Butuh ‘semak duri’ supaya kita waspada… Butuh air mata supaya kita tahu merendahkan diri… Butuh masalah supaya kita tahu bersandar kepada Allah… Masalah sebesar apa pun akan terasa ringan bagi hati yg BERSYUKUR… Karena, bukan kebahagiaan yg menjadikan kita bersyukur, tetapi hati yg bersyukur yg menjadikan kita berbahagia…


Mengeluh adalah hal yang sangat mudah dilakukan dan bagi beberapa orang hal ini menjadi suatu kebiasaan dan parahnya lagi mengeluh menjadi suatu kebanggaan. Kapan Anda memiliki dua orang teman, yang pertama selalu berpikiran positif dan yang kedua selalu mengeluh, Anda akan lebih senang berhubungan dengan yang mana? Menjadi seorang yang pengeluh mungkin bisa mendapatkan simpati dari teman kita, tetapi tidak akan membuat kita memiliki lebih banyak teman dan tidak akan menyelesaikan masalah kita, bahkan bisa membuat kita kehilangan teman-teman kita. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kita mengeluh? Kita mengeluh karena kita kecewa bahwa realitas yang terjadi tidak sesuai dengan harapan kita. Bagaimana kita mengatasi hal ini. Caranya sebenarnya gampang-gampang susah, kita hanya perlu bersyukur. Saya percaya bahwa di balik semua hal yang kita keluhkan PASTI ADA hal yang dapat kita syukuri.Sebagai ilustrasi, Anda mengeluh dengan pekerjaan Anda. Tahukah Anda berapa banyak jumlah pengangguran yang ada di Indonesia? Sekarang ini hampir 60% orang pada usia kerja produktif tidak bekerja, jadi bersyukurlah Anda masih memiliki pekerjaan dan penghasilan. Atau Anda mengeluh karena disuruh lembur atau disuruh melakukan kerja ekstra. Tahukah Anda bahwa sebenarnya atasan Anda percaya kepada kemampuan Anda? Kalau Anda tidak mampu tidak mungkin atasan Anda menyuruh Anda lembur atau memberikan pekerjaan tambahan. Bersyukurlah karena Anda telah diberikan kepercayaan oleh atasan Anda, mungkin dengan Anda lebih rajin siapa tahu Anda bisa mendapatkan promosi lebih cepat dari yang Anda harapkan. Bersyukurlah lebih banyak dan percayalah hidup Anda akan lebih mudah dan keberuntungan senantiasa selalu bersama Anda, karena Anda dapat melihat hal-hal yang selama ini mungkin luput dari pandangan Anda karena Anda terlalu sibuk mengeluh. Saya pernah mendengar sebuah hadist yang berbunyi kurang lebih "jika kamu ditimpa masalah dan kamu tidak mengeluh kepada manusia selama tiga hari maka Alloh akan mencarikan jalan keluar untuk permasalahan itu "tentunya hanya kepada Alloh lah kita mengadu baik dalam Sholat atau pun doa. Coba sekarang: 1. Bersyukurlah setiap hari setidaknya satu kali sehari. Bersyukurlah atas pekerjaan Anda, kesehatan Anda, keluarga Anda atau apapun yang dapat Anda syukuri. Ambilah waktu selama 10-30 detik saja untuk bersyukur kemudian lanjutkan kembali kegiatan Anda. 2. Jangan mengeluh bila Anda menghadapi kesulitan tetapi lakukanlah hal berikut ini. Tutuplah mata Anda, tarik nafas panjang, tahan sebentar dan kemudian hembuskan pelan-pelan dari mulut Anda, buka mata Anda, tersenyumlah dan pikirkanlah bahwa suatu saat nanti Anda akan bersyukur atas semua yang terjadi pada saat ini. 3. Biasakan diri untuk tidak ikut-ikutan mengeluh bila Anda sedang bersama teman-teman yang sedang mengeluh dan beri tanggapan yang positif atau tidak sama sekali. Selalu berpikir positif dan lihatlah perubahan dalam hidup Anda. "Semakin banyak Anda bersyukur kepada Alloh atas apa yang Anda miliki, maka semakin banyak hal yang akan Anda miliki untuk disyukuri." Alloh juga berfirman dalam Quran Surat Ibrahim ayat 7, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur , pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih ". Mudah-mudahan kita bisa, Amin ...!


Kalkulasi Kasar Intensitas Dzikir Kasih sayang Allah tak bisa ditakar, ditimbang, dihitung dan diukur. Manusia tidak punya perangkat untuk mengukur keseluruhan karunia dari Yang Maha Pengasih. Manusia hanya diminta bersyukur atas semuanya. Pada akhirnya pun, syukur yang dipersembahkan kepada Tuhan akan kembali kepada dirinya sendiri. Fakta untuk sampai ke syukur pun, teramat banyak untuk dikumpukan. Dari yang "sepele" sampai yang agung dan rumit. Sebarapa kisaran udara yang manusia hirup teramat banyak, meskipun dengan kecanggihan bisa diperkirakan. Konon kapasitas paru-paru seorang laki-laki normal berisi 4-5 liter udara dan pada seorang perempuan 3-4 liter udara. Ketika manusia menghirup udara atau menarik napas (inspirasi) lalu menghembuskannya keluar (ekspirasi) dan istirahat di antara kedua proses tersebut, tidak kurang dari 10-20 kali setiap satu menit terjadi pada manusia dewasa secara mekanis. 24 kali pada usia dua sampai lima tahun. 30 kali pada usia dua belas bulan dan 30-40 pada bayi baru lahir dalam setiap menitnya. Dari sekian tanda, proses ini adalah tanda hidup yang paling kasat mata. Tetapi manusia kadang default berterima kasih kepada Tuhan. Padahal Dia lah yang menyuplai oksigen gratis agar manusia bisa bernafas untuk melanjutkan hidupnya. Berapa liter sudah air yang diminum manusia sepanjang hidup mungkin setara dengan bah. Tetapi metabolisme tubuh buatan Tuhan mampu mengatasinya. Jika rata-rata pria dewasa mengkonsumsi 3 liter air (13 gelas) dan perempuan 2,2 liter (9 gelas) per hari, berapa kubik air yang sudah dimasukkan ke dalam tubuhnya di usianya sekarang?. Tetapi berbahagilah, ada mekanisme Tuhan dalam mengatasi air itu. Allah memperkenalkan urin yang rata-rata keluaran urin orang dewasa 1,5 liter sehari. Air juga dapt keluar melalui pernapasan, keringat dan pergerakan usus. Di sinilah terjadi keseimbangan yang mengagumkan antara air yang masuk dan dibuang. Subhanallah. Intenskah manusia menghitung detail berkedip? Setiap kali berkedip, waktu yang dibutuhkan antara 100 sampai 150 milidetik, karena itulah kadang manusia tidak sadar ketika mereka melakukannya. Manusia biasanya berkedip 10 sampai 15 kali permenit untuk membuat kornea mata tetap terjaga kelembabannya dan tetap terkena oksigen. Selama satu jam berarti hampir 900 kali berkedip. Katakanlah kita terjaga selama 16 jam sehari, berarti selama itu kita tidak kurang dari 14.400 kali kita berkedip. Berarti Allah terus-menerus menyegarkan mata setiap orang sebanyak 14.400 selama terjaga baik ia mukmin maupun kafir. Dari anggota anatomi, manusia menjadi melek, bahwa berkedip merupakan gerakan otomatis untuk melindungi dari benda asing seperti debu atau benda lain yang bisa masuk ke mata. Berkedip juga untuk menjaga agar mata tetap berair, sehingga mata tidak kering dan terasa perih. Saat berkedip, bola mata akan dibasahi air mata yang akan membersihkannya jika ada debu yang menempel. Jadi, kedipan laksana helm untuk mata dan menjaganya tetap bersih. Banyak yang bersyukur atas nikmat berkedip. Banyak pula yang menjadikannya sebagai jerat birahi yang terlarang. Lagi dan teramat banyak nikmat Tuhan yang paling alami untuk dikumpulkan. Tetapi sudahkah setiap manusia membayarnya dengan syukur dan selalu menyebutnya dalam dzikir? Sekarang mari kita gandengkan nikmat Tuhan yang telah disebut di atas dengan intensitas dzikir sebagai wujud rasa syukur. Apakah sudah cukup untuk "membayar" sekedar kedipan mata? Usia hidup rata-rata ummat Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam antara 60 sampai 70 tahun sekitar misalnya. Taruhlah rata-rata sampai usia 65 tahun ia bertahan dalam perjalanan hidup di dunia. Dalam bahasa fiqih, ada batasan seorang muslim terkena taklif yang disebut usia baligh. Maka kalkulasi ibadahnya baru dihitung setelah ia baligh. Rumus sederhananya barangkali demikian: Tutup Usia (65 th) - waktu baligh (15 th) = Panjang usia taklif (50 th). Maka sepanjang usia 50 tahun hidup itulah, pembuktian rasa syukur dan intensitas dzikir seorang muslim dihisab setiap detik. Menarik sekali Al Qur'an mengingatkan agar manusia banyak-banyak berdzikir. Bisa jadi, karena intensitas dzikirnya teramat sedikit ditelan kesibukan yang tak berujung. Cobalah renungkan fakta waktu yang dihabiskan manusia. Waktu berjalan dalam hitungan detik, menit, jam dan hari. Lalu minggu, bulan dan tahun. Sehari semalam berdurasi 24 jam atau setara dengan 1.440 menit atau 86.400 detik. Dalam kungkungan waktu itulah manusia hidup dan bergulat dengan aneka aktivitas. Lalu berapa lama porsi kita berdzikir? Kalau kita ambil 5 waktu sholat wajib saja yang kira-kira hanya memakan waktu 10 menit, hasilnya memang sangat minim, hanya 50 menit dalam sehari. Kurang dari satu jam dari 24 jam waktu tersedia. Bisa kita genapkan saja jadi 1 jam. Bayangkan, dalam seminggu kita hanya menghabiskan waktu untuk sholat setara 5,8 jam saja dari 168 jam tersedia. Sebulan hanya 25 jam, setara dengan sehari semalam lebih satu jam, padahal hitungan jam dalam sebulan tidak kurang dari 720 jam dalam 30 hari. Lalu setahun kurang lebih tersedia waktu 8.760 jam selama sekitar 365 hari. Dalam setahun, sholat menghabiskan waktu tidak lebih hanya 360 jam, setara dengan 15 hari. Berapa waktu yang dihabiskan untuk sholat selama kurun waktu 50 tahun? Jika dirata-ratakan dalam sehari semalam butuh waktu 1 jam untuk sholat, maka akan ditemukan angka 18.250 hari dalam 50 tahun. Ini berarti 18.250 x 1 jam = 18.250 jam. Angka ini setara dengan hanya 2 tahun saja dari kurun waktu 50 tahun. Ini pun belum tentu sholat yang didirikan padat berisi di sisi-Nya. Subhanallaah. Sepadankah untuk "melunasi" rasa syukur atas nikmat bernapas dan berkedip saja? Sekarang mari bandingkan dengan aktifitas lain. Tidur misalnya. Waktu tidur yang sehat dan umum sekitar 8 jam perhari. Berarti dalam 50 tahun, waktu yang habis dipakai tidur setara dengan 18.250 hari dikalikan 8 jam. Hasilnya sama dengan 146.000 jam. Angka ini setara dengan 16 tahun 7 bulan untuk tidur. Aktifitas kerja standar sekitar 9 jam perhari. Dalam 50 tahun berarti 18.250 hari dikalikan 9 jam. Hasilnya 164.250 jam, setara dengan 19 tahun 2 bulan. Waktu aktifitas santai atau relaksasi sekitar 6 jam dengan berbagai kegiatan menyenangkan dalam sehari. Dalam 50 tahun waktu yang dipakai relaksasi berarti 18.250 hari dikali 6 jam. Hasilnya 109.500 jam. Angka ini setara dengan 12 tahun 9 bulan. Cukup fantastis untuk acara santai seperti nonton TV sambil minum kopi, belanja dan hal-hal lain yang sifatnya santai. Ternyata, dibanding dengan aktifitas lain, intensitas dzikir terlalu sedikit. Sementara nikmat yang kita rasakan terlalu banyak. Bahkan terlampau banyak sampai tidak ada angka untuk menjumahnya. Wajarlah Al-Qur'an mengingatkan agar orang beriman tidak putus berdzikir hanya sebatas shalat wajib. Tetapi menambahkannya dengan nafilah. Selain itu, Kanjeng Nabi mengajarkan agar aktifitas positif yang kita geluti selalu harus dibuka dan diakhiri dengan dzikir. Tentu dzikir sebagaimana beliau mencontohkan dalam lafdz dan kaifiahnya. Ya, Rabb ... malu rasanya hamba di hadapan-Mu.


Kalau Hanya Omong, Semua Juga Bisa Jantung saya berdetak lebih cepat. Lebih keras dari biasanya ketika membaca sebuah pesan dari seorang anak muda yang mengatakan bahwa dia tidak lagi percaya dengan omongan, apa itu dari seorang adviser, speaker, motivator dan sejenisnya. Dia pernah tertipu. Omongan-omongan mereka, begitu pengakuannya, penuh dengan kepalsuan. Apa yang diomongkan, tidak sesuai dengan yang dilakukan. Munafik! Katanya. Yang dia simpulkan sebelum menutup 'diskusi' kami, adalah: "Kalau hanya omong, semua orang juga bisa!" Apa benar? Berbicara itu membutuhkan seni dan kiat. Orang-orang besar dalam sejarah, dapat dipercaya dan dianut serta mendapat simpati yang luar biasa dari masyarat luas bahkan untuk ukuran sebuah negara, tidak jarang karena omongannya. Kepandaian dan kelihaiannya dalam berbicara bikin orang terpana. Apa yang dibicarakan bisa membangkitkan semangat, membuat orang lebih bergairah, termotivasi, berubah, terinspirasi, mengembangkan ide-ide besar, meneliti, terharu, sampai menumbuhkan sebuah kebencian. Semua ini bisa muncul hanya karena pembicaraannya. Karena itu, betapa pentingnya arti sebuah pembicaraan atau omongan. Lihatlah bagaimana sikap Rasulullah SAW dalam berbicara, yang sanggup memukau perhatian dan memikat jutaan umat manusia. Jangankan teman, lawan atau musuh beliau SAW, terkesima jika melihat beliau SAW berbicara. Sikap, tidak tanduk, tata cara yang menemani uraian kalimat demi kalimat yang meluncur, bukan sembarangan. Apa yang beliau SAW katakan, jika bukan sebuah Firman Allah SWT, adalah hadits, sunnah. Apa yang diucapkan beliau SAW penuh nuansa ilahiah dan ibadah. Zaman sekarang memang beda. Di zaman yang serba materialistis ini segala sesuatu selalu diukur dengan harta dan uang. Jika tidak menguntungkan dari segi material dan finansial, jangan harap manusia tergoda. Jangankan orang lain yang tidak ada hubungan saudara, orangtua saja, bisa kehilangan wibawa karena tidak lagi dianggap oleh anak-anaknya. Astaghfirullah! Nasihat-nasihat bijak Kiayi dan misionaris di masjid-masjid, hanya nyaring di kala hari-hari besar Islam tiba. Orang sudah tidak lagi menggubris. Mereka selalu beranggapan, bahwa orang-orang yang berada di mimbar sana bisanya hanya ngomong. Mereka selalu mengukur bahwa yang dimaksud kebaikan itu identik dengan harta, material dan uang. Segala sesuatu yang tidak dapat diukur dengan ketiga unsur dunia ini, akan dikesampingkan. Jika mungkin dibuang. Dalam keluarga juga demikian. Orangtua yang tidak kaya dianggap kurang bertanggung jawab. Peran kakak tertua, sedangkan hanya koar-koar, tanpa diikuti tindakan konrit terhadap adik-adiknya, bakal kehilangan wibawa pula. Adik-adik hanya patuh kepada mereka yang punya harta, uang dan material. Mereka sepertinya sudah tidak lagi membutuhkan apa itu tuntunan kebajikan dan nasihat dalam kehidupan. Demikian pula guru-guru di sekolah. Mereka yang miskin dan berdandan kuno, tidak bakalan dapat nama di depan para mahasiswa. Murid-murid sekolah dan mahasiswa acapkali terkesima hanya oleh dunia material ini. Dandanan dan penampilan yang wah. Barangkali kita tidak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya, karena bisa jadi inilah hasil atau buah pendidikan selama ini. Anak-anak di sekolah hanya diajarkan bagaimana agar nanti menjadi orang yang pintar. Insinyur, dokter dan aneka sarjana profesioanal yang dianggap bermartabat. Anak-anak ini tidak diajarkan bagaimana menjadi orang yang bijak, bermartabat, kuat, berbudi pekerti luhur, menjungjung tinggi budaya dan agama, serta tetek-bengek lainnya yang tidak bisa diukur dengan maretial, harta dan uang. Sepertinya kita lupa, betapa negeri ini sudah memiliki jutaan orang pintar. Namun apakah diikuti dengan peningktakan kualitas moral? Maka, jadilah mentalitas generasi muda yang hanya bertumpu kepada benda. Materi adalah cita-cita luhur anak-anak. Cita-cita ini ironisnya, diidentikan dengan besarnya upah. Bukannya tingkat kepuasan batin, kejujuran, kebahagiaan, harmonis serta nilai-nilai luhur lainnya dalam segi sosial dan agama. Generasi muda kita juga lupa, bahwa banyak hal yang tidak dapat diukur dengan uang. Mereka lupa, bahwa banyak unsur kehidupan yang tidak dapat diubah dengan properti. Mereka kurang sadar, bahwa yang membedakan manusia beradab serta tingginya kemuliaan mereka bukanlah lantaran kekayaan yang dimilikinya. Betapa sejarah sudah mencatat, manusia-manusia besar sepanjang perjalannya, diingat, disanjung, diabadikan dan dijadikan panutan, tidak terkecuali Rasulullah Muhammad SAW, bukan karena kekayaan hartanya . Sebaliknya, karena kesederhaan ucapan-ucapan beliau yang penuh teladan dan kebijakan. Yang sanggup menuntun dan membawa manusia ke jenjang tingkat posisi yang tinggi. Kita memang butuh uang guna menunjang klaim kebutuhan hidup ini. Namun uang pada dasarnya akan datang sendiri sedangkan kita mau belajar, misalnya bagaimana cara berbicara yang benar. Ngomong yang benar. Karena omongan atau pembicaraan yang benar membutuhkan teknik dan strategi. Lewat ketrampilan ini, bukankah orang bakal membayar? Seni berbicara ini bisa dipelajari, bukan untuk menipu orang. Sebaliknya, demi kebaikan kualitas umat manusia. Seni berbicara memiliki kekuatan magis yang luar biasa jika mau ditekuni. Kenapa banyak orangtua, guru, pendidik sampai pemimpin tidak mendapatkan 'upah' dari hasil pembicaraanya kepada anak-anak, murid, anak buah, dan masyarakat? Karena satu hal, seni dan strateginya kurang atau tidak dipelajari. Bagaimana seni atau omongan yang baik dan benar? Sebenarnya hanya satu, segala sesuatu yang keluar dari hati nurani terdalam setiap manusia adalah sebuah kebenaran. Sebaliknya, segala keraguan atau lainnya yang bertentangan dengan suara hati kita adalah keburukan. Apakah itu dalam bentuk kemunafikan, kebohongan dan kejahatan lainnya. Jadi, sebenarnya tidak semua orang bisa omong. Karena omongan itu membutuhkan kiat dan seni. Kalaupun kita bisa ngomong dengan baik, belum tentu benar. Sebaliknya, jika kita bisa omong benar, belum tentu baik. Apalagi tentang kebaikan. Wallahu a'lam!


Demokrasi dalam pandangan islam (sistem demokrasi islam apakah?) - Demokrasi tidak sesuai dengan ajaran islam Demokrasi dalam pandangan islam (sistem demokrasi islam apakah?) - demokrasi tidak sesuai dengan ajaran islam - jangan tertipu demokrasi - tidak ada demokrasi islam Diantara tipuan setan terhadap manusia , adalah menghiasi kebatilan dengan kebaikan: Syaithan menamai sesuatu yang haram yang merupakan maksiat terhadap Allah, dengan nama-nama yang disenangi jiwa manusia. Ini dimaksudkan untuk menipu mereka dan memalsukan hakekat sebenarnya. Seperti halnya pohon yang diharamkan itu dinamai dengan khuldi (kekekalan) supaya Adam memandang baik dan mau memakannya, disebutkan dalam Al Qur'an bahwa syaithan berkata: v "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepadamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?" [Thaaha: 120] Ibnu Qoyyim mengatakan: Diantara tipuan syetan adalah bahwa pengikut-pengikutnya mewariskan penamaan sesuatu yang diharamkan dengan nama-nama yang disukai jiwa manusia. Mereka menamai khmar dengan suka ria (al-afrah), sementara makanannya dinamai snack istirahat (luqmah ar rahah). Riba dinamai muamalah dan bea cukai dinamai hak-hak pemerintah " Dan kini riba mereka namai dengan bunga. Tari-tarian, nyanyian, drama dan sandiwara mereka namai dengan kesenian. Di Indonesia gejala ini sangat amat lumrah: Riba disebut bunga, Khamr disebut obat jamu, pelacur disebut WTS dan yang paling anyar PSK, pasangan zina disebut PIL atau WIL (Pria atau Wanita IDAMAN lain); sungguh rusak!!! pasangan zina kok disebut idaman (?) naudzubillahi min dzaalik. Gambar-gambar porno mereka namakan seni estetika, upacara sesaji kemusyrikan dinamai dengan sedekah bumi. Dukun tidak mau lagi disebut dukun kecuali dukun bayi, dukun pijat, mereka lebih sreg digelari paranormal, wong pinter, ajengan, Kiayi, Ki Gede, Metafisi; padahal mereka sejatinya penipu, budak dan memperbudak jin dan penyebar kemusyrikan walaupun berlindung pakai kopiah, pakai ayat -ayat, pakai sorban, berlabel Insya Allah dll, semua adalah tipu daya syaithan agar pembangkangan terhadap Rabbul Alamin ini diterima oleh umat. Variant ini semakin berkembang dengan gagasan sesat yang tidak kalah gencarnya dengan mengawinkan istilah batil dengan kata Islami agar telinga menjadi tentrem menerimanya, hati menjadi tenang terhadapnya, dan tidak sungkan memperdagangkannya. Sebutlah seperti filsafat Islam, sosialisme Islam, musik Islami, liberal Islam, dan lain-lain. Maka demikian pula dengan apa yang disebut demokrasi plus Islam alias sistem demokrasi islam, apalagi demokrasi sekuler seperti yang terjadi di indonesia, tidak beda dengan tipuan klasik pendahulunya agar bentuk kesyirikan demokrasi ini diterima dengan dada legowo, sehingga umat islam ikut berpartisipasi bahkan membela serta berjuang memperdagangkannya, .. kan yang dibela Islam juga,. begitulah alasannya. Dalam risalah bid'ah 559 disebutkan: # Jika dikatakan: samakah demokrasi dengan syura (musyawarah )? Jawab: sama sekali tidak sama karena beberapa sebab: 1. Syura adalah hukum Allah. Sedangkan demokrasi adalah ciptaan manusia kafir, musyrik dan jahil. 2. Syura ditegakkan demi kemaslahatan umat yang diputuskan oleh ahlul hilli wal aqdi, yang terdiri dari para ulama pewaris para Nabi.Sedangkan demokrasi ditegakkan demi kekuasaan dan kefanatikan terhadap golongan yang diputuskan oleh orang-orang kafir, musyrikin, ahli maksiat, laki-laki maupun perempuan meskipun di parlemen itu terdapat kaum muslimin bahkan ahli agama (?) bercampur dan bergabung bersama-sama dalam menentukan pilihan dengan suara terbanyak. 3. Anggota syura dalam Islam tidak menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal, dan tidak mengatakan yang haq itu batil atau yang batil itu haq. Kondisi ini 100% menyalahi para pengikut demokrasi yang telah menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, dan mengatakan yang haq itu batil atau mengatakan yang batil itu haq. (Buktinya di indonesia para pezina tidak dihukum, begitu juga pemabuk, dll, karena para anggota DPR sebagai pembuat hukum telah mengizinkan berbagai kemaksiatan itu) 4. Syura didalam Islam jarang terjadi dan hanya didalam beberapa urusan yang musykil (sulit diputuskan atau dipahami). Adapun dalam hal-hal yang telah ada ketetapannya dari Allah dan RasulNya, maka tidak diadakan Syura, sedangkan demokrasi diletakkan sebagai kekuatan yang mengatur seluruh kehidupan berdasarkan hukum yang telah dibuat, sehingga manusia yang hidup disatu negeri dengan sistem demokrasi tidak bisa keluar atau bertentangan dengan hukum tersebut. Walhasil, demokrasi adalah sistem kufur dan syirik yang sangat bertentangan dengan Islam. Penggerak demokrasi adalah Yahudi untuk melawan Islam dan kaum muslimin.


Meninggalkan Yang Haram Maka Keluarlah Aroma Minyak Kesturi dari Badannya Ada seorang pemuda yang perkerjaannya menjual kain. Setiap hari dia memikul kain-kain dagangannya dan berkeliling dari rumah ke rumah. Kain perdagangan pemuda ini dikenal dengan nama "Faraqna" oleh orang-orang. Meskipun pekerjaannya sebagai pedagang, tetapi pemuda ini sa-ngat tampan dan bertubuh tegap, setiap orang yang melihat pasti menyenanginya. Pada suatu hari, saat dia berkeliling melewati jalan-jalan besar, gang-gang kecil dan rumah-rumah penduduk sambil berteriak menawarkan dagangannya: "faraqna-faraqna", tiba-tiba ada seorang wanita yang melihatnya. Si wanita itu memanggil dan dia pun menghampirinya. Dia dipersila-kan masuk ke dalam rumah. Di sini si wanita terpesona melihat ketampanannya dan tumbuhlah rasa cinta yang begitu besar dalam hatinya. Lalu si wanita ini berkata: "Aku memanggilmu tidak untuk membeli daganganmu., Tetapi aku memanggilmu karena kecintaanku kepadamu. Dan di rumah ini sekarang sedang kosong. "Selanjutnya, si wanita ini membujuk dan merayunya agar mau berbuat 'sesuatu' dengan dirinya. Pemuda itu menolak, bahkan dia mengingatkan si wanita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan menakut-nakutinya dengan adzab yang pedih di sisiNya. Tetapi sayang, nasihat itu tidak berhasil apa-apa, bahkan sebaliknya, si wanita menjadi tambah ber-hasrat. Dan memang biasa, orang itu senang dan penasaran dengan hal-hal yang dilarang ... Akhirnya, karena si pemuda ini tidak mau melakukan yang haram, si wanita malah mengancam, katanya: "Bila engkau tidak mau menuruti perintahku, aku akan berteriak kepada semua orang dan aku akan katakan kepada mereka, bahwa engkau telah masuk ke dalam rumahku dan ingin merenggut kesucianku. Dan mereka akan mempercayaiku karena engkau telah berada dalam rumahku, dan sama sekali mereka tidak akan mencurigaiku. "Setelah si pemuda itu melihat betapa si wanita itu terlalu memaksanya untuk mengikuti keinginannya berbuat dosa, akhirnya dia berkata:" Baiklah, tapi apakah engkau mengizinkan aku untuk ke kamar mandi agar bisa membersihkan diri dulu? "Betapa gembiranya si wanita mendengar jawaban ini, dia mengira bahwa keinginannya sebentar lagi akan terpenuhi. Dengan penuh semangat dia menjawab: "Bagaimana tidak wahai kekasih dan buah hatiku, ini adalah sebuah ide yang bagus." Kemudian masuklah si pemuda ke kamar mandi, sementara tubuhnya gemetar karena takut dirinya terjerumus dalam kubangan maksiat. Sebab, wanita itu adalah perangkap setan dan tidak ada seorang laki-laki yang menyendiri bersama seorang wanita kecuali setan akan menjadi pihak ketiga. "Ya Alah, apa yang harus aku perbuat. Berilah aku petunjukMu, wahai Dzat yang dapat memberi petunjuk untuk orang-orang yang kebingungan. " Tiba-tiba, timbullah ide dalam benaknya. "Aku tahu benar, bahwa termasuk salah satu kelompok yang akan dinaungi oleh Allah dalam naunganNya pada hari yang tidak ada naungan saat itu kecuali naunganNya adalah seorang laki-laki yang diajak berbuat mesum oleh wanita yang memiliki posisi tinggi dan wajah yang cantik, kemudian dia berkata : 'Aku takut kepada Allah.' Dan aku yakin bahwa orang yang meninggalkan sesuatu karena takut kepada, pasti akan mendapat ganti yang lebih baik ... dan seringkali satu keinginan syahwat itu akan melahirkan penyesalan seumur hidup ... Apa yang akan aku dapatkan dari perbuatan maksiat ini selain Allah akan mengangkat cahaya dan nikmatnya iman dari hatiku ... Tidak ... tidak ... Aku tidak akan mengerjakan perbuatan yang haram ... Tapi, apa yang harus aku kerjakan. Apakah aku harus melemparkan diri dari jendela ini? Tidak bisa, jendela itu tertutup rapat dan sulit dibuka. Kalau begitu, aku akan mengolesi tubuhku dengan kotoran-kotoran yang ada di WC ini, dengan harapan, bila nanti dia melihatku dalam keadaan begini, dia akan jijik dan akan membiarkanku pergi. " Ternyata memang benar, ide yang terakhir ini yang dia jalankan. Dia mulai mengolesi tubuhnya dengan kotoran-kotoran yang ada di situ. Memang menjijikkan. Setelah itu dia menangis dan berkata: "Ya Rabbi, hai Tuhanku, perasaan takutku kepadaMu itulah yang mendorongku melakukan hal ini. Oleh karena itu, karuniakan untukku 'kebaikan' sebagai gantinya. "Kemudian dia keluar dari kamar mandi, tatkala melihatnya dalam kondisi demikian, si wanita itu berteriak:" Keluar kau, hai orang gila! "Dia pun cepat-cepat keluar dengan perasaan takut diketahui orang-orang, jika mereka tahu, pasti akan berkomentar macam-macam tentang dirinya. Dia mengambil barang-barang dagangannya kemudian pergi berlalu, sementara orang-orang yang di jalan tertawa melihatnya. Akhirnya dia tiba di rumahnya, di situ dia bernafas lega. Lalu menanggalkan pakaiannya, masuk kamar mandi dan mandi membersihkan tubuhnya dengan sebersih-bersihnya. Kemudian apa yang terjadi? Apakah Allah akan membiarkan hamba dan waliNya begitu saja? Tidak ... Ternyata, ketika dia keluar dari kamar mandi, Allah SWT memberikan untuknya sebuah karunia yang besar, yang tetap melekat di tubuhnya sampai dia meninggal, bahkan sampai setelah dia meninggal. Allah telah memberikan untuknya aroma yang harum semerbak yang tercium dari tubuhnya. Semua orang dapat mencium aroma tersebut dari jarak beberapa meter. Sampai akhirnya dia mendapat julukan "al-miski" (yang harum seperti kasturi). Subhanallah, memang benar, Allah telah memberikan untuknya sebagai ganti dari bau kotoran yang dapat hilang dalam sekejap dengan aroma wangi yang dapat tercium sepanjang masa. Ketika pemuda ini meninggal dan dikuburkan, mereka tulis di atas kuburannya "Ini kuburan Al-Misky", dan banyak orang yang menziarahinya. Demikianlah, Allah SWT tidak akan membiarkan hambaNya yang shalih begitu saja, tapi Allah SWT akan selalu membelanya, Allah SWT senantiasa membela orang-orang yang beriman, Allah SWT berfirman dalam hadits QudsiNya: "Kapan dia (hamba) memohon kepadaKu, pasti akan Aku beri. Mana orang-orang yang ingin meminta?! " Pembaca yang budiman! "Setiap sesuatu yang engkau tinggalkan, pasti ada ganti-nya. Begitu pula larangan yang datang dari Allah, bila engkau tinggalkan, akan ada ganjaran sebagai pengganti-nya. " Allah SWT akan memberikan ganti yang besar untuk sebuah pengorbanan yang kecil. Allahu Akbar. Manakah orang-orang yang mau meninggalkan maksiat dan taat kepada Allah sehingga mereka berhak mendapatkan ganti yang besar untuk pengorbanan kecil yang mereka berikan?? Tidakkah mereka mau menyambut seruan Allah, seruan Rasulullah dan seruan fitrah yang suci?!


Sesungguhnya Habbatus Sauda '(jintan hitam atau Nigella Sativa) adalah obat dari segala penyakit, kecuali kematian " "Sesungguhnya Habbatus Sauda '(jintan hitam atau Nigella Sativa) adalah obat dari segala penyakit, kecuali kematian" Setiap penyakit itu pasti ada obatnya, berdasarkan sabda Rasululloh Shallallahu 'alaihi wa sallam berikut: Dari Jabir radhiyallahu 'anhu, Rasululloh Shallallahu' alaihi wa sallam bersabda: "Setiap penyakit itu pasti ada obatnya. Oleh karena itu, barang siapa yang tepat dalam melakukan pengobatan suatu penyakit, maka dengan izin Allah 'Azza wa Jalla dia akan sembuh. " [HR. Muslim, dalam Kitab as-Salaam, bab Li kulli Daa-in Dawaa wa Istihbabut Tadaawii, Hadits no. 2204] Dan kewajiban kita adalah berkikhtiar dalam mencari obatnya dengan usaha yang maksimal. Dalam usaha kita mengobati penyakit yang diderita, kita harus memperhatikan 2 hal: Pertama, bahwa obat dan dokter hanya sarana kesembuhan, sedangkan yang benar-benar menyembuhkan adalah Allah SWT. Kedua, ikhtiar tersebut tidak bisa dilakukan dengan cara-cara yang haram dan syirik. Yang haram ini seperti; berobat dengan menggunakan obat yang terlarang atau barang-barang yang haram, karena Allah tidak menjadikan penyembuhan dari barang yang haram. Dan tidak bisa pula berobat dengan hal-hal yang syirik, seperti pengobatan alternatif dengan cara mendatangi dukun, tukang sihir, paranormal, orang pintar, menggunakan jin, pengobatan jarak jauh atau yang semisalnya yang tidak sesuai dengan syari'at, sehingga dapat mengakibatkan jatuh ke dalam syirik dan dosa besar yang paling besar. (Do'a & Wirid, karya Ust Yazid Jawas hal. 354) Salah satu metode pengobatan yang dianjurkan oleh Rasululloh Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah dengan Habbatus Sauda', berikut ini adalah pembahasannya: Dari Abu Hurairah rodhiyallahu 'anhu, Rasululloh Shallallahu' alaihi wa sallam bersabda: "Dalam Habbatus Sauda 'ada obat dari segala penyakit, kecuali as-Saam". Ibnu Syihab (seorang rawi hadits ini) mengatakan: "as-Saam adalah kematian, dan Habbatus Sauda 'adalah asy-Syuniz." [HR . Bukhori, dalam Kitab at-Thibb, bab al-Habbatus Sauda ', Hadits no. 5688] Dari 'Aisyah radhiyallahu' anha, Rasululloh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Habbatus Sauda' ini adalah obat dari segala penyakit, kecuali as-Saam". Aku berkata (Perawi hadits ini, yakni Kholid bin Sa'ad): "apa itu as-Saam?" Dijawab (yakni oleh Ibnu Abi Atiq): "Kematian". [HR. Bukhori, dalam Kitab at-Thibb, bab al-Habbatus Sauda ', Hadits no. 5687] Dari Abu Hurairah rodhiyallahu 'anhu, Rasululloh Shallallahu' alaihi wa sallam bersabda: "Tidaklah ada suatu penyakit, kecuali dalam Habbatus Sauda 'ada kesembuhan baginya, kecuali as-Saam (kematian)" [HR. Muslim, dalam Kitab as-Salaam, bab at-Tadawi tagihan Habbatis Sauda '. Hadits no. 2215] Nama lain dari Habbatus Sauda `adalah Nigella Sativa, al-Karawiyyah as-Sauda ', al-Kamoun al-Aswad, asy-Syuniz, black cumin, kerosene, coal oil, carazna. Menurut beberapa hasil penelitian, Habbatus Sauda `memiliki khasiat-dengan izin Allah-: 1. Menguatkan immunity system pada diri manusia. 2. Melawan & menghancurkan sel-sel kanker / tumor. 3. Mengobati reumatik, peradangan serta infeksi. 4. Menghentikan dan menyembuhkan penyakit pilek. 5. Jika digoreng & dibakar kemudian dicium terus-menerus dapat mengeliminasi gas (dalam) perut. 6. Membunuh cacing-cacing parasit jika dimakan sebelum makan pagi dan jika diletakkan di atas perut dari bagian luar sebagai aromaspa atau luluran. 7. Minyaknya akan untuk menyembuhkan gigitan ular, juga bengkak di dubur dan tahi lalat. 8. Menghilangkan sesak nafas & sejenis kesulitan nafas, melonggarkan penyumbatan akibat dahak. 9. Meluncurkan haidh yang tersendat. 10. Jika dibalutkan, bermanfaat untuk menyembuhkan pusing yang parah. 11. Bila dimasak dengan cuka bersama kayu pinus dan kemudian dibuat untuk berkumur, maka hal itu akan menghilangkan sakit gigi yang disebabkan sensitifitas terhadap dingin. 12. Jika diminum, biji ini akan meluncurkan kencing, haidh dan ASI. 13. Menyembuhkan gigitan Laba-laba. 14. Kapan dibakar, asapnya dapat mengusir serangga. 15. Menghilangkan sendawa asam yang berasal dari dahak dan melancholia (gangguan yang disebabkan kesedihan yang terus-menerus/depresi sehingga merusak bagian empedu). 16. Menghilangkan Kusta (lepra). 17. Menghilangkan demam Quartan (yakni demam yang menyerang manusia selama sehari kemudian mereda selama 2 hari kemudian menyerang lagi ketika hari ke-4). 18. Jika ditumbuk dan dibuat adonan dengan madu dan air hangat dapat menghancurkan batu yang muncul dalam ginjal dan kandung kemih serta sifat diuretic (memperlancar air seni). 19. Bila digoreng dan dicium terus-menerus dan dicampur dengan cuka dapat menyembuhkan jerawat dan kudis serta menghilangkan peradangan yang lebih kronis dari jerawat (tumor). 20. Jika digoreng tanpa minyak dan ditumbuk dan dicampur dengan minyak zaitun kemudian diteteskan ke dalam hidung 3 tetes akan menyembuhkan gejala pilek yang disertai bersin-bersin. 21. Jika dibakar dan dicampur dengan lilin dan minyak inai / henna atau minyak bunga iris serta dibalurkan pada borok-borok/koreng yang keluar di betis setelah dibersihkan dengan cuka, maka akan dapat menghilangkannya. 22. Bermanfaat untuk menyembuhkan bekas gigitan anjing (Rabies) dan aman dari kematian akibat rabies. 23. Jika dihirup akan bermanfaat bagi hemiplegia (semiparalysis / lumpuh separuh). 24. Jika enzoat (celak persia) dicampur dengan air & dibalurkan ke lingkaran dubur (lobang dubur / anus) dan juga diminum dengan dosis sekitar 25 gr akan menyembuhkan Bawasir. 25. Jika disedot melalui hidung akan bermanfaat menghentikan air yang keluar pada mata. 26. Dan lain-lain. Aiman ​​bin 'Abdil Fattah mengatakan: "Karena itulah kami dapat menetapkan bahwa dalam Habbatus Sauda' ada kesembuhan untuk segala macam penyakit, karena peranannya yang menguatkan dan memperbaiki sistem immunity, suatu sistem yang di dalamnya ada kesembuhan dari segala macam penyakit , yang bereaksi terhadap segala sebab yang menimbulkan penyakit, yang memiliki kemampuan awal untuk memberikan kesembuhan secara sempurna atau sebagian diantaranya untuk menyembuhkan segala penyakit ". Beliau juga mengatakan: "Begitulah kejelasan hakikat ilmiah tentang hadits yang mulia ini, yang sebelumnya tidak pernah diketahui siapapun, apalagi dinyatakan kepada masyarakat luas. Padahal yang demikian itu sudah dinyatakan sejak 14 abad yang lampau, yang menerima wahyu dari Dzat Yang Maha Mengetahui segala rahasia makhluk-Nya. Benar apa yang difirmankan-Nya: "Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). "(QS An Najm: 3-4). Kemudian beliau (Aiman ​​bin 'Abdil Fattah) mengingatkan: "Investasi kajian dan penelitian tentang pengobatan ala Nabi Shallallahu' alaihi wa sallam seperti ini, dengan menggunakan sarana yang sederhana namun besar manfaatnya, harus bekerja sama dengan para pakar medis dan ahli pengobatan. Kita tidak bisa mengubur kepala di dalam pasir dan mengabaikan penggunaannya, karena terprovokasi pengobatan dengan jenis rerumputan atau para produsen minyak, seperti yang terjadi belakangan ini. Kita juga harus pasang kuda-kuda bahwa harga obat-obat kimiawi di seluruh negara Islam akan melonjak tajam dari harga saat ini, sesuai dengan tata tertib organisasi perdagangan internasional, yang melarang pembuatan obat-obatan kecuali di negara asalnya, yang dimulai tahun 2005 mendatang. Karena itulah kami menghimbau kepada para peneliti orang-orang Muslim agar aktif mengeluarkan simpanan pengobatan ala Nabi, sesuai dengan penelitian ilmiah yang akurat, sebagaimana himbauan kami kepada para investor agar menanamkan modalnya untuk memproduksi obat-obatan berdasarkan petunjuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Janganlah mereka menunggu hingga orang-orang Muslim menjadi santapan obat-obatan kimiawi, sebagaimana kini mereka menjadi santapan berbagai produk makanan. " Demikianlah sedikit tentang pengobatan dengan Habbatus Sauda `, dan masih ada beberapa metode pengobatan Nabawi seperti Bekam, Madu, dan lainnya yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit-bi idznillaahi 'Azza wa Jalla-. Wallaahu a'lam bish-Showaab.


Akibat Buruk Perbuatan Zina Dan Bagaimana Jalan Taubat Dari Zina Kerusakan Yang Diakibatkan Zina Zina merupakan kerusakan besar, keburukan nyata, dan pengaruhnya begitu besar yang mengakibatkan berbagai kerusakan, baik terhadap orang yang melakukan maupun terhadap masyarakat secara umum. Mengingat perbuatan zina ini sudah sering terjadi, demikian juga penyebabnya pun sudah tersebar dimana-mana, maka berikut ini kami akan berusaha menghadirkan beberapa dampak negatif dari perbuatan kotor ini, serta berbagai kemudharatan dan kerusakan yang diakibatkannya. 1. Dalam perbuatan zina tekumpul semua jenis keburukan, seperti lemahnya agama, hilangnya ketakwaan, hancurnya kesopanan, lenyapnya rasa cemburu, dan terkuburnya akhlak terpuji. 2. Perbuatan zina dapat membunuh rasa malu sehingga menjadikan seseorang tebal muka atau tidak tahu malu. 3. Perbuatan zina mempengaruhi keceriaan wajah sehingga menjadi kusam, kelam, dan tampak layu bagaikan orang yang mengalami kesedihan mendalam. Selain itu, zina dapat memicu kebencian yang bisa disaksikan oleh orang yang melihatnya. 4. Perbuatan zina mengakibatkan kegelapan dan hilangnya cahaya hati. 5. Perbuatan zina menjatuhkan bahkan menghilangkan harga diri pelakunya, menjatuhkan derajatnya di hadapan sang Pencipta dan seluruh makhluk-Nya, serta menghilangkan sebutan hamba yang berbakti, 'afif (pemelihara kehormatan diri), dan orang yang adil. Bahkan sebaliknya, orang banyak akan menjulukinya sebagai hamba yang jahat, fasik, pelacur, dan pengkhianat. 6. Sifat liar yang dilemparkan Allah ke dalam hati pezina adalah teman akrab yang tampak jelas pada wajah pelakunya. Pada wajah orang yang 'afif akan terlihat keceriaan, di hatinya ada keramahan, dan semua yang duduk bersamanya akan merasa senang, sedangkan pada wajah pezina malah terlihat sebaliknya. 7. Orang akan melihat seorang pezina dengan pandangan yang meragukan, penuh dengan khianat. Tidak ada seorang pun yang akan percaya pada kehormatan yang diraihnya dan anak yang dimilikinya. 8. Bau busuk yang keluar dari tubuh seorang pezina dapat dicium oleh setiap orang yang berhati bersih dan selamat. Bau busuk tersebut berhembus dari mulut dan badannya. 9. Perbuatan zina akan menyebabkan hati yang sempit dan perasaan tertindas. Para pezina akan diperlakukan dengan perlakuan yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Siapa saja yang menginginkan kenikmatan hidup dengan keindahannya, tetapi ia meraihnya dengan cara bermaksiat kepada Allah, maka Allah pasti akan mengadzabnya dengan kebalikan apa yang diinginkannya. Sesungguhnya, semua kenikmatan yang ada di sisi Allah tidak akan bisa diraih kecuali dengan cara mentaati perintah-Nya. Allah sama sekali tidak pernah membuat suatu kemaksiatan sebagai penyebab untuk memperoleh kebaikan. 10. Orang yang melakukan perbuatan zina berarti telah mengharamkan dirinya untuk menikmati bidadari Surga di tempat-tempat indah dalam surga 'Adn 11. Perbuatan zina dapat membuat orang berani memutuskan tali shilaturahim, durhaka terhadap orang tua, menghasilkan harta yang haram, membuahkan akhlak tercela, serta menelantarkan keluarga dan keturunan. Terkadang zina dapat menyeret pelakunya untuk melakukan pembunuhan. Bisa jadi untuk melakukan niat jahat itu, ia bekerja sama dengan tukang sihir sehingga menyeretnya ke dalam perbuatan syirik baik ia ketahui maupun tidak. Sebab, perbuatan zina tidak akan sempurna kecuali dengan melakukan kemaksiatan lain yang sebelumnya dan yang dilakukan serupa sehingga akan mengakibatkan munculnya berbagai macam maksiat lainnya. Perbuatan ini dikelilingi oleh berbagai kemaksiatan sebelum dan sesudahnya. Maksiat inilah yang paling cepat menyeret seseorang kepada kesengsaraan dunia dan akhirat serta merupakan penghalang yang paling kuat untuk memperoleh kebaikan dunia dan akhirat. 12. Perbuatan zina menghilangkan kehormatan seorang gadis dan menyelimutinya dengan kehinaan, yang tidak hanya di tanggung seorang diri, tapi juga akan mencemari kehormatan keluarganya. Rasa hina itu akan berpengaruh terhadap keluarga, suami dan kerabatnya, sehingga membuat kepala-kepala mereka tertunduk malu di tengah masyarakat. 13. Kehinaan yang dirasakan oleh orang yang dituduh berbuat zina lebih menyayat dan lebih kekal dibandingkan dengan kehinaan yang dirasakan oleh orang yang dituduh berbuat kafir. Sebab jika seorang yang bertobat dari perbuatan kufur, justru akan dapat menghilangkan rasa hina di tengah masyarakat, tidak meninggalkan bekas pada masyarakat yang dapat menjatuhkan derajat orang seperti dirinya di hadapan orang yang dilahirkan dalam kondisi Islam. Lain halnya dengan perbuatan zina, sebab setelah bertobat dari perbuatan ini-meskipun pelakunya secara agama sudah bersih dan dengan taubat itu pula adzab akhirat yang akan diterimanya sudah terangkat-masih meninggalkan bekas yang sangat mendalam di dalam hati, harga dirinya di mata masyarakat yang tidak pernah melakukan perbuatan tersebut jadi berkurang sesuai dengan penilaian perbuatan zina yang ia lakukan. Lihatlah seorang wanita yang disebut sebagai pezina, bagaimana kaum pria menjauh dan tidak mau menikahinya meskipun ia telah bertobat. Demi menghindari aib yang dahulu telah mencoreng harga dirinya, mereka pun lebih mengutamakan menikah dengan wanita kafir yang sudah masuk Islam, dari menikah wanita yang besar dalam agama Islam, namun ia melakukan perbuatan zina. 16. Perbuatan zina merupakan kejahatan moral terhadap anak. Perbuatan zina juga menyebabkan munculnya seorang anak yang miskin kasih sayang yang bisa mengikatnya. Selain merupakan kejahatan terhadap anak yang dilahirkan, zina juga memaksa anak tersebut hidup hina dalam masyarakat dan membuatnya merasa terpojok dari setiap sudut. Perasaan seperti ini muncul karena pada umumnya masyarakat meremehkan anak zina, nurani mereka mengingkarinya, dan mereka tidak memandangnya dari segi kemasyarakatan sebagai pelajaran. Apakah dosa anak ini? hati siapakah yang begitu tega membuatnya seperti ini? 17. Perbuatan zina yang dilakukan seorang pria pezina, dapat menghancurkan wanita baik-baik yang dilindungi dan menjerumuskannya pada jurang kehancuran dan kenistaan. 18. perbuatan zina dapat memicu munculnya berbagai permusuhan dan mengobarkan api balas dendam antara keluarga wanita dengan laki-laki yang menzinainya. Hal itu disebabkan oleh api cemburu terhadap harga diri keluarga. Tatkala seseorang melihat salah seorang pezina telah berbuat lancang terhadap istrinya, api cemburu yang ada dalam dadanya akan membara sehingga dapat memicu terjadinya saling bunuh dan menyebarnya perang. Sebab, pencorengan terhadap harga diri seorang suami dan kerabat lainnya dapat membuat malu dan menodai kehormatan mereka. Seandainya seorang suami mendengar bahwa salah satu keluarganya terbunuh, niscaya kabar itu lebih ringan baginya dari mendengar bahwa istrinya telah berbuat zina. Sa'ad bin 'Ubadah radliyallahu'anhu berkata, "Seandainya aku melihat seorang laki-laki bersama istriku, tentu aka akan memenggal lehernya dengan pedang tanpa kumaafkan ". Kalimat itupun sampai ke Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam, lantas beliau pun bersabda: "Apakah kalian heran dengan kecemburuan Sa'ad? Demi Allah, aku lebih cemburu dari Sa'ad dan Allah lebih cemburu dari aku. Karena kecemburuan Allah tersebutlah, makadi haramkan segala bentuk kekejian yang tampak maupun yang tersembunyi "(HR. Bukhori (5223) dan Muslim (2761)) Lain halnya dengan orang yang membenci perzinahan, menjauhinya, serta tidak rela hal itu terjadi terhadap yang lainnya. Gambaran seperti ini akan memberikan kewibawaan dalam hati anggota keluarganya dan akan membantu menjadikan rumahnya bersih dan terjaga dari hal-hal buruk. 19. perbuatan zina memberi dampak negatif terhadap kesehatan jasmani pelaku yang sulit diobati atau disembuhkan, bahkan dapat mengancam kelangsungan hidup pelakunya. Perbuatan itu akan memicu munculnya berbagai penyakit, seperti AIDS, penyakit sifilis, penyakit herpes, penyakit kelamin, dan penyakit kotor lainnya. Beberapa pihak telah mengklaim bahwa penyebab terbesar mewabahnya penyakita AIDS adalah karena sex bebas atau dengan kata lain zina. Seperti di Subang, di klaim bahwa AIDS 73% disebabkan oleh perilaku sex bebas remaja [2], bahkan di Kupang sampai 98% penyebab mewabahnya AIDS adalah karena sex bebas [3]. 20. Perbuatan zina merupakan penyebab hancurnya suatu ummat. Sudah menjadi sunnatullah terhadap hamba-Nya bahwa ketika perbuatan zina muncul ke permukaan bumi, Allah azza wa jalla marah dan kemarahan-Nya pun semakin besar sehingga pasti akan mengakibatkan terjadinya balasan berupa bencana di atas muka bumi. Ibnu Mas'ud radliyallahu'anhu berkata: "Tidaklah tampak perbuatan memakan riba dan perzinahan dalam suatu negeri, melainkan Allah mengizinkan kehancurannya." Ingatlah, Suatu Perbuatan Akan Dibalas Sesuai Dengan Tipe Perbuatan Tersebut [4] Kalimat judul poin ini adalah suatu kaidah syar'iyyah dan sunnatullah yang tidak akan pernah berganti. Allah ta'ala akan membalas seseorang sesuai dengan perbuatannya. Wahai saudaraku .... apakah Anda mengira bahwa orang yang mengumbar syahwatnya tanpa ada aturan dan tatanan akan selamat dari adzab Allah? Tidak. Minimal ia akan mendapatkan adzab seperti yang terkandung dalam kaidah di atas. Coba Anda dengarkan ungkapan Imam Asy-Syafi'i rahimahullah: Jagalah kehormatan kalian, niscaya istri-istri kalian akan terjaga dari perbuatan haram Hindarilah segala yang tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim Zina adalah hutang, Jika Engkau mengambilnya hutang Maka, Ketahuilah bahwa tebusannya adalah anggota keluargamu Barangsiapa berzina, akan dizinai meskipun di dalam rumahnya Camkanlah, jika engkau termasuk orang yang berakal Barangsiapa yang berusaha mengoyak kehormatan orang lain, maka dimungkinkan ia akan melihat hal serupa menimpa pada anak perempuan atau saudara perempuannya. Barangsiapa yang tidak mempedulikan larangan-larang Allah, bisa saja (berakibat) istrinya mengkhianatinya. Dan wanita mana saja yang melakukan hal itu, maka dimungkinkan ia akan melihat hal serupa menimpa pada anak perempuan atau anak keturunannya-semoga Allah subhanahu wa ta'ala menjauhkan kita semua dari segala bencana-. Menuju Taubat Dari Perbuatan Zina [5] Setelah kita mengetahui besarnya kejahatan dosa zina dan pengaruhnya yang dapat menghancurkan pribadi dan masyarakat, maka perlu sekali diperhatikan kewajiban untuk bertobat dari perbuatan ini. Wajib untuk mereka yang terperosok ke dalam lembah perzinahan, yang menjadi penyebab atau yang membantu terjadinya perbuatan itu, untuk segera bertobat kepada Allah dengan taubat sebenarnya. Berikut ini beberapa poin cara bertobat dari perbuatan zina: 1. Harus mereka menyesali apa yang pernah mereka lakukan dan tidak kembali lagi pada perbuatan tersebut meskipun sangat memungkinkan. 2. Tidak harus untuk mereka yang terperosok dalam lembah perzinaan, baik laki-laki atau perempuan untuk menyerahkan diri dan mengakui perbuatan dosa yang dilakukannya. Bahkan, cukup baginya dengan bertobat kepada Allah dan menutup aib dirinya dengan tabir Allah azza wa jalla. 3. Jika orang yang berzina tadi masih menyimpan gambar pasangannya, rekaman suara, atau fotonya, maka hendaklah ia melepaskan diri dari itu semua. Bila gambar atau rekaman suara tadi sudah diberikan kepada orang lain, maka hendaklah ia tidak memintanya kembali dan segera menyelamatkan diri darinya bagaimanapun caranya. 4. Bila seorang wanita pernah direkam atau difoto, kemudian ia khawatir masalahnya akan tersebar, maka hendaklah ia segera bertaubat kepada Allah ta'aladan tidak menjadikan hal itu sebagai penghalang antara dirinya dengan Allah ta'ala. Bahkan, wajib baginya bertobat kepada Allah. Janganlah ia terpengaruh oleh ancaman dan intimidasi orang lain. Allah subhanahu wata'ala yang akan mencukupi dan menguasai dirinya. Sungguh orang yang mengancamnya hanya pengecut dan penakut. Orang ini akan membongkar kejelekannya sendiri saat menyebarkan gambar-gambar dan rekaman suara yang ada padanya. Lalu apakah yang akan terjadi saat ia melaksanakan ancaman itu? Manakah yang lebih mudah antara terbongkarnya kejelekan di dunia yang disertai dengan taubat nasuha ataukah terbongkarnya kejelekan di depan seluruh ummat yang menyaksikan pada hari kiamat sehingga setelah itu ia masuk neraka yang merupakan sejelek-jelek tempat? 5. Bila perempuan tadi khawatir aibnya akan tersebar, maka salah satu solusi yang dapat dilakukan dalam menggapai taubat adalah meminta bantuan kepada salah seorang keluarga laki-laki yang bisa diandalkan untuk menolongnya agar terlepas dari kemaksiatan yang pernah dilakukannya. Mungkin saja bantuan keluarga itu dapat berguna dan bermanfaat baginya. Kesimpulannya, barangsiapa yang terperosok ke dalam kubangan dosa ini harus segera bertobat dengan sebenar-benar taubat, menyerahkan semuanya kepada Allah, dan memutuskan hubungan dengan semua yang dapat mengingatkannya pada perbuatan itu. Kemudian, harus ia menyesali semua yang telah dilakukannya di hadapan Rabb-nya, dengan penuh tawadlu ', merendahkan diri, dan menyerahkan semuanya kepada-Nya. Semoga dengan begitu, Allah azza wa jalla berkenan menerima taubatnya, mengampuni dosa-dosa yang pernah dilakukannya, dan menggantinya dengan kebaikan-kebaikan. Allah ta'ala berfirman: والذين لايدعون مع الله إلها ءاخر ولايقتلون النفس التي حرم الله إلا بالحق ولايزنون ومن يفعل ذلك يلق أثاما {68} يضاعف له العذاب يوم القيامة ويخلد فيه مهانا {69} إلا من تاب وءامن وعمل عملا صالحا فأولئك يبدل الله سيئاتهم حسنات وكان الله غفورا رحيما {70} "Dan orang-orang yang tidak menyembah Ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam kondisi terhina, kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. "(QS. Al-Furqon: 68-70) -


Catatan Kritis Adian Husaini 1: Film '?', Apa Maunya? "Soal akidah, di antara Tauhid mengesakan Allah, sekali-kali tidaklah dapat dikompromikan atau dicampur-adukkan dengan syirik. Tauhid kalau telah didamaikan dengan syirik, artinya adalah kemenangan syirik. "(Prof. Hamka, dalam Tafsir al-Azhar). Butuh digarisbawahi, saat menonton film "?" (Tanda Tanya) pada tayangan perdana, 6 April 2011 lalu, saya adalah seorang Muslim. Saat memberikan komentar dan memberikan catatan kritis ini, saya juga tetap Muslim, dan saya menggunakan perspektif Islam dalam menganalisis film "?". Sebagai Muslim, saya telah berikrar: Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Dengan syahadat Islam itu, saya bersaksi, saya mengakui, bahwa Tuhan saya adalah Allah. Tuhan saya bukan Yahweh, bukan Yesus, bukan Syiwa. Tuhan saya Satu. Tuhan saya tidak beranak dan tidak diperanakkan. Saya mengenal nama dan sifat Allah bukan dari budaya, bukan dari hasil konsensus, tapi dari al-Quran yang saya yakini sebagai wahyu dari Allah kepada Nabi Muhammad saw. Karena itu, sejak dulu, dan sampai kiamat, saya dan semua orang Muslim memanggil Tuhan dengan nama yang sama, Allah, yang jelas-jelas berasal dari wahyu. Sebagai Muslim, saya yakin, bahwa Nabi Muhammad saw diutus oleh Allah sebagai nabi terakhir. Sebagaimana para nabi sebelumnya - seperti Musa dan Isa as - inti ajaran Nabi Muhammad saw adalah Tauhid, yaitu mensatukan Allah. Nabi Muhammad saw diutus untuk seluruh manusia (QS 34:28), bukan hanya untuk bangsa atau kurun tertentu. Itu artinya, kebenaran Islam, bukan hanya terjadi untuk orang Islam, tetapi terjadi untuk semua manusia. Syariat Nabi Muhammad saw saat ini adalah satu-satunya syariat yang sah untuk seluruh manusia. Cara beribadah kepada Allah - satu-satunya - yang sah hanyalah dengan syariat Nabi Muhammad saw. Jalan yang sah menuju Tuhan hanyalah jalan yang dibawa Nabi Muhammad saw. Akal saya tidak bisa menerima satu logika, yang menyatakan, bahwa Allah telah menurunkan Nabi-Nya yang terakhir, dan kemudian Allah SWT membebaskan manusia untuk memanggil nama-Nya dengan nama apa pun, sesuai dengan selera manusia. Juga, tidak masuk di akal saya, pendapat yang menyatakan, bahwa Allah SWT membebaskan manusia untuk menyembah-Nya dengan cara apa pun, sesuai dengan kreativitas akal dan hasrat nafsu manusia. Saya yakin, sesuai QS 3:19 dan 3:85, bahwa Allah hanya menurunkan satu agama untuk seluruh Nabi-Nya, yakni agama yang mengajarkan Tauhid (QS 16:36). Jika satu agama tidak mengajarkan Tauhid, pasti bukan agama yang diturunkan Allah untuk para Nabinya; dan pasti merupakan agama budaya (cultural religion). Itu keyakinan saya sebagai Muslim. Dan itu konsekuensi logis dari syahadat yang saya ikrarkan! ***** Alkisah, Rika, seorang istri yang kecewa terhadap suami. Rika memutuskan pindah agama, dari Islam menjadi Katolik. Ia berujar, bahwa kepindahan agamanya bukan berarti mengkhianati Tuhan. Meskipun Katolik, Rika sangat toleran. Anaknya, - masih kecil, bernama Abi-dibiarkannya tetap Muslim. Bahkan, ia mengantarjemput anaknya ke masjid, belajar mengaji al-Quran. Di bulan puasa, dia temani dan dia ajar Abi berdoa makan sahur. Di Film "?" (Tanda Tanya), Rika ditampilkan sebagai sosok ideal: murtad dari Islam, tapi toleran dan suka kerukunan. Pada segmen lain, secara verbatim Rika mengatakan, BAHWA agama-agama ibarat jalan setapak yang berbeda-beda tetapi menuju tujuan yang sama, yaitu Tuhan. Kata Rika mengutip ungkapan sebuah buku, "... semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama; mencari satu hal yang sama dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan." Awalnya, kemurtadan Rika tidak direstui ibunya. Anaknya yang Muslim pun awalnya menggugat. Tapi, di ujung film, Rika sudah diterima sebagai "orang murtad" dari Islam. Bahkan, ada juga yang memujinya telah mengambil langkah besar dalam hidupnya. Kisah dan sosok Rika cukup mendominasi alur cerita dalam film "?" garapan Hanung Bramantyo ini. Rika tidak dipertanyakan kemurtadannya. Padahal, dalam pandangan Islam, murtad adalah kesalahan besar. Saat duduk di bangku SMP, saya sudah mengakhiri satu Kitab berjudul Sullamut Tawfiq karya Syaikh Abdullah bin Husain bin Thahir bin Muhammad bin Hasyim. Kitab ini termasuk yang mendapatkan perhatian serius dari Imam Nawawi al-Bantani, sehingga beliau memberikan syarah atas kitab yang biasanya terpasang dengan Kitab Safinatun Najah. Dalam kitab inilah, sebenarnya umat Islam diingatkan agar menjaga Islamnya dari hal-hal yang membatalkannya, yakni murtad (Riddah ). Dijelaskan juga dalam kitab ini, bahwa ada tiga jenis Riddah, yaitu murtad dengan I'tiqad, murtad dengan lisan, dan murtad dengan perbuatan. Contoh murtad dari segi I'tiqad, misalnya, ragu-ragu terhadap wujud Allah, atau ragu terhadap kenabian Muhammad saw, atau ragu terhadap al-Quran, atau ragu terhadap Hari Akhir, sorga, neraka, pahala, siksa, dan sejenisnya. Masalah kemurtadan ini senantiasa mendapatkan perhatian serius dari setiap Muslim, sebab ini sudah menyangkut aspek yang sangat mendasar dalam pandangan Islam, yaitu masalah iman. Dalam pandangan Islam, murtad (batalnya keimanan) seseorang, bukanlah hal yang kecil. Jika iman batal, maka hilanglah pondasi keislamannya. Banyak ayat al-Quran yang menyebutkan bahaya dan resiko pemurtadan untuk seorang Muslim. "Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka , mereka kekal didalamnya. "(QS 2:217). "Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. "(QS 24:39). Jadi, Riddah / kemurtadan adalah masalah besar dalam pandangan Islam. Entahlah dimata kaum Pluralis! Tindakan murtad bukan untuk dipertontonkan dan dibangga-banggakan! Dalam perspektif Islam, apakah seorang bangga dengan kekafirannya? **** Masih menyorot sosok Rika dalam film "?". Rika pindah agama, dari Islam menjadi Katolik. Dalam konsepsi Islam, Rika bisa dikatakan telah melakukan dosa syirik, karena mengakui Yesus sebagai Tuhan atau salah satu Oknum dalam Trinitas. Padahal, dalam al-Quran Nabi Isa as jelas-jelas menegaskan dirinya sebagai Rasul Allah. Isa adalah manusia, dan bukan Tuhan, atau anak Tuhan. Ini pandangan Islam. Tentu, ini bukan pandangan Kristen. Dalam perspektif Islam, menurunkan derajat al-Khaliq ke derajat makhluk adalah tindakan tidak beradab. Begitu juga sebaliknya, menaikkan derajat makhluk ke derajat al-Khaliq juga tidak beradab. Itu musyrik namanya. Seorang presiden saja tidak mau disamakan dengan rakyat biasa. Jika lewat, dia minta diistimewakan. Kita diminta minggir. Binatang ini dibeda-bedakan tempat atau kandangnya. Adab - dalam konsepsi Islam - mewajibkan seorang Muslim menempatkan segala sesuatu sesuai dengan harkat dan martabat yang sebenarnya, sesuai ketentuan Allah. Nabi Isa as adalah utusan Allah. Tugasnya menyampaikan kepada Bani Israel, siapa Tuhan yang sebenarnya, dan bagaimana cara menyembah-Nya. Nabi Isa melanjutkan syariat Musa Menuduh Allah memiliki anak - menurut al-Quran - adalah sebuah kesalahan yang sangat serius. "Dan mereka berkata:" Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (memiliki) anak. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu hal yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu dan bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menuduh Allah Yang Maha Pemurah memiliki anak. "(QS 19: 88-91). Islam memandang keimanan sebagai hal terpenting dan mendasar dalam kehidupan. Iman akan dibawa mati. Iman lebih dari soal suku, bangsa, bahkan hubungan darah. Iman bukan "baju", yang bisa diubah dan dilepas kapan saja si empunya suka. Iman juga tidak harus diperjualbelikan: diubah dengan godaan-godaan duniawi. Ada perbedaan prinsip antara mukmin dan kafir. "Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya." (QS 98:6). Demi mempertahankan iman, Ibrahim rela berpisah dengan ayah dan kaumnya. Melihat tradisi penyembahan berhala di keluarga dan kaumnya, Ibrahim as tidak berpikir sebagai seorang Pluralis yang menyatakan, bahwa semua agama menyembah Tuhan yang sama, dan punya tujuan yang sama. Tapi, Ibrahim berdiri kokoh pada prinsip Tauhid, mengajak kaumnya untuk meningalkan tradisi syirik. "Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar, pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala ini sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaum kamu dalam kesesatan yang nyata. "(QS 6:74). "Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata:" Ya Tuhanku, jadikan negeri ini (Mekkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. "(QS 14:35-36) "Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif dan Muslim, dan dia bukanlah orang musyrik." (QS 3:67). Dan kini, dalam setiap shalat, kaum Muslim membacakan doa untuk Nabi Muhammad saw dan sekaligus dikaitkan dengan doa untuk Ibrahim Itu tentu karena kegigihan Ibrahim dalam menegakkan ajaran Tauhid dan bukan karena Nabi Ibrahim seorang musyrik! Maka, sebagai Muslim, saya tentu bisa merasa heran, dan penuh Tanda Tanya, mengapa dalam film "?" - yang diproduksi dan digarap seorang yang beragama Islam - soal ganti agama, soal keluar dari Islam, soal pergantian mukmin menjadi kafir, dianggap hal kecil dan remeh?


Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di hadapan Allah adalah orang yang paling bertaqwa. "(Qs. Al-Hujurat, 49:13) Dewasa ini, sedikit orang yang menjadikan takwa sebagai agenda hidupnya, yaitu menjalani hidup di bawah naungan syari'at Allah. Kebanyakan manusia, program hidupnya adalah hal-hal duniawiah: bisnisnya lancarnya, anak-anaknya dapat sekolah tingi, deposito bank terus bertambah, rumah dan kendaraan tercukupi dan semacamnya. Tidak bisa, bagaimana membuat hidupnya berarti untuk dunia-akhiratnya, dan menjadikan anak-anaknya hidup dewasa dalam ketaatan pada Allah Swt. Maka marilah kita bersungguh-sungguh di dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, semoga amalan kita di bulan Ramadhan yang baru saja berlalu, kelak menjadi saksi yang menguntungkan dan meringankan beban kita di akhirat. الله اكبر الله اكبر و لله الحمد Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah! Sebagai Muslim, kita sangat merindukan kembalinya kejayaan Islam, agar dapat menciptakan dunia yang penuh kedamaian, kesejahteraan, kasih sayang, keadilan dan persatuan untuk segenap umat manusia. Jutaan umat Islam dewasa ini siap menerima apapun yang sesuai dengan ajaran Islam, demi mendapatkan keridhaan Allah Swt. Akan tetapi keinginan ini cepat berubah sedangkan diseru supaya melaksanakan syari'at Islam dalam urusan pribadi, keluarga, negara, relasi-relasi bisnis, lembaga pendidikan, dan di segala aspek kehidupan. Alasaannya: "Negara kita bukan Negara Islam, lebih baik kita abaikan dulu untuk sementara waktu menunggu momentum yang tepat agar kita tidak dicurigai." Kenyataannya, umat Islam masih suka menonton dirinya sendiri melalui tayangan musuh-musuh Islam. Umat ​​Islam terombang ambing diantara penilaian orang lain. Bahkan, untuk menilai sesama saudara Muslim, apakah termasuk golongan radikal, moderat, ataukah liberal, kita menggunakan kacamata orang kafir. Padahal, selamanya orang-orang kafir tidak pernah menyukai Islam, dan akan terus membuat makar untuk mendiskreditkan dakwah Islam. Baru-baru ini, orang-orang kafir kembali mendiskreditkan ajaran Islam. Pada bulan Juli 2011, parlemen Belanda mengkonfirmasi UU larangan menyembelih hewan sesuai Syari'at Islam, dianggap melanggar hak asasi kehewanan. Penindasan terhadap umat Islam terus berlanjut. Di Prancis, Inggris, wanita muslimah dilarang mengenakan jilbab di tempat umum, dan sebelumnya di Swis dilarang membangun menara masjid. Sebelumnya, di California, AS, warganya dilarang khitan / sunat. Siapa saja yang melakukan sunat akan di denda seribu dollar. Sementara di Indonesia, kaum kesetaraan gender menuntut agar pemerintah memverifikasi UU yang melarang sunat untuk wanita karena dianggap diskriminatif dan mengurangi kenikmatan seksual wanita. Atas nama demokrasi, orang-orang kafir menggunakan otoritas negara untuk mendiskreditkan Islam dan memusuhi kaum Muslim. Diskriminasi seperti ini justru digunakan untuk mengintimaidasi umat Islam, agar tidak menerapkan syari'at Islam. Mereka menggambarkan, seolah-olah Islam adalah agama yang telah kehilangan relevansinya untuk dipertahankan di era globalisasi ini. Anehnya, sikap orang-orang kafir terhadap Islam mempengaruhi sikap umat Islam terhadap agamanya sendiri. Sehingga, tokoh-tokoh Islam melakukan negosiasi kebenaran Islam, atas nama toleransi dan hak asasi. Mereka mengatur manakah di antara ajaran Islam yang bisa dikerjakan dan mana yang harus dinegosiasi dengan orang-orang kafir. Dalam urusan ibadah mereka tidak ikut campur. Tapi jangan bicara jihad, karena itu sumber kekerasan. Jangan ngotot dengan formalisasi syari'at Islam, yang penting substansinya, tidak perlu negara Islam karena Rasulullah tidak pernah menentukan bentuk negara, dllnya. Wahai kaum Muslimin, dengarlah firman Allah ini: "Aku diperintahkan untuk membacakan Al-Qur'an kepada semua manusia: "Siapa saja yang menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidupnya, berarti dia telah mengusahan kebaikan untuk dirinya sendiri. Dan siapa saja yang menolak Al-Qur'an sebagai pedoman hidup, maka katakanlah kepada mereka, "Aku diutus hanya untuk menyampaikan peringatan Allah kepada kalian." (Qs. An-Naml, 27:92). Fenomena yang kini sangat dominan membelenggu kaum muslimin, bahwa menegakkan kehidupan berbasis Islam seakan ancaman bagi keutuhan negara. Ada juga di kalangan umat Islam yang salah paham terhadap ajaran Allah Rabbul Alamin. Kapan Allah Swt memerintahkan suatu perbuatan tertentu, mereka menganggap akan merugikan dan menyusahkan hidupnya, sedang bila dilarang mengerjakan tindakan tertentu, justru melanggar aturan dianggap menguntungkan dirinya. Mengapa keanehan seperti ini menimpa kaum Muslim? Rasulullah Saw telah menubuwahkan akan datangnya suatu zaman setelah beliau, yang menimpa umat manusia sebagaimana sabdanya: يأتي على الناس زمان ما الإسلام إلا اسمه, وما القرآن إلا رسمه, وما المسجد إلا بنيانه يتاباه به الناس [الطبراني] "Akan datang suatu zaman pada manusia tidak tinggal dalam Islam kecuali namanya, tidak tinggal dalam Alqur'an kecuali tulisannya, dan masjid-masjidnya tinggal menjadi bangunan megah. "(ath-Thabrani) Nubuwah Rasulullah Saw berdimensi masa depan. Betapa banyak orang yang mengaku Muslim, bahkan dunia internasional mengenal Negara RI berpenduduk umat Islam terbesar di dunia. Tetapi jumlah mayoritas, tampaknya tidak berpengaruh besar dalam membangun masyarakat yang diridhai Allah, mengangkat harkat dan martabat kemuliaan negeri ini di bawah naungan syari'at-Nya. Penduduk mayoritas justru dijadikan obyek ajaran sesat, sistem hidup jahiliyah dan misi imprilasme Negara-negara asing. Akibatnya, bangsa ini bukan saja kehilangan rasa takutnya kepada Allah, tapi juga kehabisan rasa malunya kepada Rasulullah Saw. Dahulu, Rasulullah Saw berjihad di jalan Allah, untuk mengangkat harkat dan martabat umatnya dengan Al-Qur'an. Tapi kini, memang ada orang Islam yang memahami Al-Qur'an dan mengamalkan isinya. Celakanya, ada orang Islam yang memahami Al-Qur'an tapi tidak mengamalkan isinya. Lebih celaka lagi orang yang mengaku Islam, tapi tidak memahami Al-Qur'an, dan tidak mengamalkan ajaran Al-Qur'an. Kita menyaksikan, ada orang yang menyandang predikat Muslim, tapi dia tidak shalat, tidak puasa, dan tidak mengerjakan ajaran yang diperintahkan Islam. Bahkan tidak sedikit orang yang mengaku beragama Islam, tapi dia tidak malu berbuat zina, tidak malu minum khamer, berjudi, melakukan tindak korupsi dan pecandu narkoba. Para wanita menolak berpakaian jilbab untuk menutup aurat, lalu menggantinya dengan pakaian yoe dapat melihat, pakaian tanktop, tanpa rasa malu. Bergaul bebas pria-perempuan meniru prilaku orang-orang kafir. Pada diri orang seperti itu, Islam hanyalah tinggal nama, menjadi Islam KTP saja. Menyikapi kenyataan ini, agar istiqamah pada kebenaran Islam, ingatlah nasihat Khalifah Umar bin Khathab ra. Beliau pernah mengatakan: "Kebenaranlah yang membuat kamu menjadi kuat, dan bukan kekuatan kamu yang membuat sukses kebenaran." Sedangkan Khalifah Utsman berpesan: "Keberhasilan umat ini akan terpelihara selama Al-Qur'an berdampingan dengan kekuatan. Bilamana kekuatan tanpa Al-Qur'an akan menjadi anarkhis, dan bilamana Al-Qur'an tanpa kekuatan tidak berarti untuk kehidupan. " Gaya Hidup Materialisme Sebagai Pujaan الله اكبر الله اكبر و لله الحمد Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah! Negara kita sudah lama dilanda penyakit, yang disebabkan berbagai penyimpangan agama, moral, politik, ekonomi, dan budaya. Patologi penyakitnya beragam, meliputi korupsi, narkoba, TKW bermasalah, terorisme, tawuran antar warga, perebutan lahan, pendidikan yang kian mahal, dekadensi moral yang parah, ongkos kesehatan yang membumbung tinggi dan harga-harga kebutuhan pokok yang menyengsarakan rakyat. Kesalahan terbesar rakyat Indonesia , karena mewarisi penyakit bawaan dari sejak orde baru, berupa sistem yang korup lengkap dengan kantor korup yang kini semakin berpengalaman. Negara yang sedang sakit dikelola oleh para pemimpin yang juga sakit. Ibarat kata, mungkinkah membersihkan penyakit menggunakan sapu yang penuh bakteri penyakit? Di negeri ini, para pejabat yang makan harta haram hasil korupsi sudah biasa. Contoh kasusnya banyak. Presiden korupsi, ada. Menteri korupsi, banyak yang sudah diadili dan masuk bui. Gubernur korupsi, banyak yang sudah terbukti dan yang masih antri menunggu giliran ditangkap KPK. Menurut survey, 40% dari bupati / walikota di Indonesia terindikasi korupsi. Begitu juga dengan para anggota DPR / DPRD, penegak hukum (hakim, jaksa, kebijakan), dan birokrasi, seolah berlomba ikut terlibat dalam jaringan korupsi; sehingga betapa sulit menemukan kantor Indonesia yang bukan koruptor. Lebih sulit lagi, menemukan kantor Pemberantas korupsi yang steril dari korupsi, sehingga sekadar menutupi kebobrokan mereka, Ketua DPR RI malah mengusulkan pembubaran KPK. Tragisnya, para koruptor di negeri ini tidak malu dan tidak takut tampil terbuka, pamer gaya hidup berklas borjuis. Tidak terbayangkan oleh kita, ada ketua parpol yang memiliki sederet kendaraan super mewah berupa: Toyota Velfire, Range Rover, Land Cruiser, Toyota Alpard, Hammer. Padahal secara kasat mata orang melihat, kekayaan yang dimilikinya tidak sebanding dengan penghasilan resmi mereka. Mengapa para pejabat negeri ini doyan korupsi, dan tidak malu hidup foya-foya pada kesengsaraan rakyatnya? Karena gaya hidup mereka yang memberhalakan harta, sehingga mereka menganggap semakin tinggi jabatan dan semakin banyak harta, mereka akan semakin berwibawa dan terhormat. Nabi Muhammad SAW telah memprediksi prilaku mungkar pemimpin / kantor negara: إذا كان آخر الزمان كان قوام دين الناس ودنياهم الدراهم والدنانير [ رواه الطبراني] "Kelak di akhir zaman agama dan keduniaan mereka dinilai berdasarkan berapa uang dirham dan dinar yang mereka miliki." (ath-Thabrani). Bila parameter martabat seseorang ditentukan oleh harta yang mereka miliki, menunjukkan tidak memiliki prestasi kebajikan yang patut dibanggakan. Setiap orang akan berusaha mencari harta untuk mendapatkan wibawa dan kehormatan, sekalipun harta diperoleh dengan cara haram dan tidak bermoral. Bila keshalihan seseorang diukur dari harta, cepat saja banyak ulama, kyai, ustadz, sama seperti politisi dan kantor negara, berlomba-lomba mendapatkan harta dan jabatan guna memperoleh kehormatan. Tampaknya, bukan hanya kantor dan politisi yang doyan duit. Ulama dan tokoh agama, juga ikut berimprovisasi mencari duit dengan menjual agama. Banyak sudah tokoh agama yang terlibat perebutan kekuasaan dan jabatan yang menggiurkan, terutama dalam Pilkada. Malah ada juga ulama yang menjadi broker kekuasaan dengan mendapatkan imbalan harta. Ulama 'broker, tidak keberatan memperalat umat untuk mendapatkan harta kekayaan, sekalipun dengan menjilat penguasa, menjual jimat, bahkan menjadi pawang jin. Prilaku ini, kian menjauhkan bangsa Indonesia dari rahmat Allah dan semakin dekat dengan musibah. Ketika menyaksikan segala kebobrokan partai politik dan kerakusan kaum politisi di negaranya, Presiden Ke-3 AS, Thomas Jefferson pernah berujar: "If I could not go to Heaven but with a party, I would not go there at all. "(Jika masuk surga harus melalui partai politik, maka saya memilih tidak masuk surga saja). Waspadai Ulama Jahat الله اكبر الله اكبر و لله الحمد Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah! Rasulullah Saw bersabda: يكون في آخر الزمان عباد جهال وقراء فسقة [أبو نعيم والحاكم] "Akan muncul di akhir zaman orang-orang yang tekun beribadah adalah bodoh, sedang para ulama 'rusak moral dan pikirannya." (Abu Nu'aim dan Hakim). Ketika masyarakat menyaksikan ulama tidak konsisten pada kebenaran, menjalin hubungan dengan jamaah koruptor, dan menjalani hidupnya dengan glamour; hal itu merupakan kontribusi besar untuk kerusakan negeri ini. Jika ulama sudah tidak dipercaya, maka kalangan publik akan menjauh dari agama, karena mereka tidak percaya lagi omongan ulama. Hal ini, memberi peluang untuk penguasa untuk menjauhkan agama dari praktek kehidupan masyarakat. Sebab, ulama 'yang rusak akhlaknya dapat diperalat penguasa untuk merusak masyarakat menggunakan dalil-dalil agama. Menjelang Ramadhan kita mendengar kaum ulama dan juga kantor negara, melarang agar ormas Islam tidak melakukan sweeping tempat maksiat. Mengapa bukan maksiatnya yang dilarang, sehingga tidak perlu ada sweeping? Akibatnya, sekelompok orang yang masih komitmen pada agama, tetapi dengan bekal ilmu yang dangkal menempuh cara-cara yang bertentangan dengan Islam untuk melestarikan amar ma'ruf - nahi mungkar . Maraknya radikalisme dan liberalisme di negeri kita sesungguhnya bermuara dari kolaborasi ulama jahat dan penguasa lalim ini. Kolaborasi ulama dengan penguasa yang melawan agama, dapat dibuktikan dengan menelaah sejumlah ayat-ayat Al-Qur'an yang salah terjemah. Di dalam Al-Qur ' an dan Terjemahnya yang diterbitkan Depag RI, sejak 1965, ada 3140 ayat dari jumlah 6326 ayat Al-Qur'an yang salah terjemah. Akibat kesalahan ini, sangat dahsyat, melahirkan aliran sesat, memicu terorisme dan merajalelanya dekadensi moral. Misalnya, terjemah harfiyah Al -Qur 'an Depag terbukti memicu kekerasan dan terorisme: "Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekkah) ...." (Qs. Al-Baqarah, 2:191) Kata bunuhlah dalam terjemah pada berkonotasi perorangan, bukan antar umat Islam dengan kaum kafir. Seolah-olah setiap orang Islam bisa membunuh orang kafir yang memusuhi Islam di mana saja dan kapan saja ditemukan, sekalipun di luar zona perang. Pembunuhan terhadap musuh di luar zone perang sudah pasti menciptakan anarkhisme dan teror; suatu kondisi yang tidak dibenarkan oleh syari'at Islam. Bila terjadi teror atau konflik horizontal, bahkan pembunuhan karena membaca teks terjemahan pada. Maka bukan hanya salah pembaca, tapi juga tanggung jawab ulama dan penguasa negara, karena kalimat terjemahan memang salah, dan menyimpang dari sababun nuzul (sebab turunnya) ayat tersebut. Terjemahkan yang benar dari ayat ini: "Wahai kaum mukmin, perangilah musuh-musuh kalian dimanapun kalian temui mereka di medan perang dan dalam perang ..." Adapun contoh terjemah harfiyah Qur 'an Depag, yang dapat disalahpahami sebagai pembenaran atas perzinahan, Qs. Al-Ahzab, 51: "Kamu bisa menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (istri-istrimu) dan (bisa pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki. Dan siapa -siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu ... " Kalimat 'Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu,' pada terjemah pada sesat dan menyesatkan. Sebagai praktisi Al-Qur'an paling sempurna, Nabi Saw. tidak pernah menceraikan istrinya, maka mustahil ia menggauli perempuan yang telah dicerai, apalagi tanpa lihat pula. Padahal ayat ini terkait dengan kebebasan Nabi Muhammad Saw mengganti giliran bermalam diantara istri-istri beliau. Karena itu, terjemah pada bertentangan dengan fakta sejarah dan akhlak beliau yang sangat terpuji. Terjemahkan harfiyah Qs. An-Nisa 'ayat 20 lebih menyesatkan lagi: "Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain ..." kalimat mengganti istrimu dengan istri yang lain, jelas terjemah yang salah dari ayat tersebut. Dalam bahasa Indonesia, istri adalah perempuan yang bersuami. Kata menggati berarti mengganti dengan yang lain. Mustahil Islam mengizinkan seorang suami mengganti istrinya dengan istri orang lain. Terjemahkan ini menyesatkan, seolah Islam membenarkan para suami saling bertukar istri. Maka terjemah yang benar adalah: "Wahai para suami, jika kalian ingin menceraikan istri kalian, lalu menikah dengan perempuan lain ..." Terjemahkan tafsiriyah seperti ini tidak mungkin mengundang salah paham terhadap Al-Qur'an. ada lagi tarjamah harfiah Depag yang salah, Qs. An-Nur, 24:60: "Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka .... " Dalam bahasa Indonesia, kata menanggalkan pakaian berarti membuka atau melepaskan pakaian tersebut alias telanjang. Padahal maksud ayat ini, adalah melepas kerudung yang menutup kepalanya. Mustahil Islam mengizinkan seorang perempuan menopause melakukan pornoaksi dengan telanjang di depan umum. الله اكبر الله اكبر و لله الحمد Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah Al-Qur'an adalah sumber kebenaran dan pedoman hidup kaum muslimin. Bila pemerintah tidak segera mengoreksi bahkan menarik predaran Al-Qur'an Terjemah Depag ini, patut dicurigai adanya msisi penodaan kitab suci umat Islam. Seperti yang dilakukan pendeta Yahudi dan Nasrani terhadap Taurat dan Injil. Kita menyaksikan, semakin banyak jumlah kaum muslimin yang mengikuti paham sesat dan menolak syari'at Islam di lembaga negara, mengikuti provokasi pengikut agama lain yang memiliki doktrin, 'agama urusan pribadi, sedang urusan sosial, ekonomi, politik terserah pada nafsu masing-masing '. Bila sikap beragama seperti ini terus dipertahankan, berarti penguasa dengan sengaja menjerumuskan bangsa ini ke lembah kebinasan. Melestarikan kejahatan, berarti memfasilitasi turunnya hukuman dari Allah Swt. Allah Swt berfirman: "Jika Kami hendak menghancurkan suatu negeri yang penduduknya zhalim, maka Kami jadikan orang-orang yang suka berbuat sesat di negeri itu sebagai pemimpin, lalu pemimpin itu berbuat durhaka di negerinya. Akibat perbuatan durhaka pemimpin mereka, turunlah adzab kepada mereka dan Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. "(Qs. Al-Isra ', 17:16). Inilah hukum kausalitas, ada sebab pasti diikuti akibat, sehingga berlangsunglah keputusan Allah. Tampilnya ahlul ma'siat, tokoh masyarakat yang durhaka pada Allah sebagai figur pemimpin nasional dan regional, merupakan hukuman untuk negara yang tidak tunduk pada hukum Allah Swt. Munajat: الله اكبر الله اكبر و لله الحمد Wahai kaum Muslimin, di hari yang penuh barakah ini , kita bersimpuh di haribaan Ilahy, untuk membuktikan bahwa umat Nabi Muhammad Saw. masih hidup di negeri ini, dengan menegakkan syari'at Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan Negara. Kita beramal sesuai dengan petujuk Allah dan menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup, agar selamat di dunia dan akhirat Akhirnya, marilah kita memohon kepada Allah, agar kita diberi keselamatan dari segala keburukan, diberi kebaikan yang paling sempurna, kehidupan yang sejahtera, waktu yang paling bahagia. Semoga Allah Swt berkenan memperperbaiki amal-amal kita dan membersihkannya dari kesyirikan dan kemunafikan: اللهم اقسم لنا من خشيتك ما تحول به بيننا وبين معاصيك, ومن طاعتك ماتبلغنا به جنتك, ومن اليقين ماتهون به علينا مصائب الدنيا. اللهم متعنا بأسماعنا, وأبصارنا وقواتنا ماأحييتنا, واجعله الوارث منا, واجعل ثأرنا على من ظلمنا, وانصرنا على من عادانا, ولا تجعل مصيبتنا في ديننا, ولا تجعل الدنيا أكبر همنا, ولا مبلغ علمنا, ولا تسلط علينا من لا يرحمنا. اللهم الف بين قلوبنا واصلح ذات بيننا واهدنا سبل السلام ونجنا من الظلمات الى النور و جنبنا الفواحش ما ظهر منها وما بطن وبارك لنا في اسماعنا و ابصارنا وقلوبنا وازواجنا وذريتنا وتب علينا انك انت التواب الرحيم وصلى الله على نبينا محمد و على اله و صحبه اجمعين و الحمد لله رب العالمين Ya Allah, ya Tuhan kami, untuk-Bagikanlah kepada kami demi takut kepada-Mu apa yang kiranya dapat mencegah antara kami dan maksiat kepada-Mu; dan (untuk-bagikan juga kepada kami) demi ta'at kepada-Mu apa yang jika dapat menyampaikan kami ke surga-Mu; dan (untuk-bagikan juga kepada kami) demi ta'at kepada-Mu; dan demi suatu keyakinan yang dapat meringankan beban musibah dunia kami. Ya Allah, ya Tuhan kami! Senangkanlah pendengaran-pendengaran kami, penglihatan-penglihatan kami dan kekuatan kami pada apa yang Engkau telah menghidupkan kami, dan jadikanlah ia sebagai warisan dari kami, dan jadikanlah pembelaan kami (memukul) orang-orang yang menzhalimi kami serta bantulah kami untuk menghadapi orang-orang yang memusuhi kami; dan jangan kiranya Engkau membuat musibah kami ini mengenai agama kami, jangan pula Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita kami yang paling besar, juga sebagai tujuan akhir dari ilmu pengetahuan kami; dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menaruh sayang kepada kami. pamer gaya hidup berklas borjuis. Tidak terbayangkan oleh kita, ada ketua parpol yang memiliki sederet kendaraan super mewah berupa: Toyota Velfire, Range Rover, Land Cruiser, Toyota Alpard, Hammer. Padahal secara kasat mata orang melihat, kekayaan yang dimilikinya tidak sebanding dengan penghasilan resmi mereka. Mengapa para pejabat negeri ini doyan korupsi, dan tidak malu hidup foya-foya pada kesengsaraan rakyatnya? Karena gaya hidup mereka yang memberhalakan harta, sehingga mereka menganggap semakin tinggi jabatan dan semakin banyak harta, mereka akan semakin berwibawa dan terhormat. Nabi Muhammad SAW telah memprediksi prilaku mungkar pemimpin / kantor negara: إذا كان آخر الزمان كان قوام دين الناس ودنياهم الدراهم والدنانير [ رواه الطبراني] "Kelak di akhir zaman agama dan keduniaan mereka dinilai berdasarkan berapa uang dirham dan dinar yang mereka miliki." (ath-Thabrani). Bila parameter martabat seseorang ditentukan oleh harta yang mereka miliki, menunjukkan tidak memiliki prestasi kebajikan yang patut dibanggakan. Setiap orang akan berusaha mencari harta untuk mendapatkan wibawa dan kehormatan, sekalipun harta diperoleh dengan cara haram dan tidak bermoral. Bila keshalihan seseorang diukur dari harta, cepat saja banyak ulama, kyai, ustadz, sama seperti politisi dan kantor negara, berlomba-lomba mendapatkan harta dan jabatan guna memperoleh kehormatan. Tampaknya, bukan hanya kantor dan politisi yang doyan duit. Ulama dan tokoh agama, juga ikut berimprovisasi mencari duit dengan menjual agama. Banyak sudah tokoh agama yang terlibat perebutan kekuasaan dan jabatan yang menggiurkan, terutama dalam Pilkada. Malah ada juga ulama yang menjadi broker kekuasaan dengan mendapatkan imbalan harta. Ulama 'broker, tidak keberatan memperalat umat untuk mendapatkan harta kekayaan, sekalipun dengan menjilat penguasa, menjual jimat, bahkan menjadi pawang jin. Prilaku ini, kian menjauhkan bangsa Indonesia dari rahmat Allah dan semakin dekat dengan musibah. Ketika menyaksikan segala kebobrokan partai politik dan kerakusan kaum politisi di negaranya, Presiden Ke-3 AS, Thomas Jefferson pernah berujar: "If I could not go to Heaven but with a party, I would not go there at all. "(Jika masuk surga harus melalui partai politik, maka saya memilih tidak masuk surga saja). Waspadai Ulama Jahat الله اكبر الله اكبر و لله الحمد Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah! Rasulullah Saw bersabda: يكون في آخر الزمان عباد جهال وقراء فسقة [أبو نعيم والحاكم] "Akan muncul di akhir zaman orang-orang yang tekun beribadah adalah bodoh, sedang para ulama 'rusak moral dan pikirannya." (Abu Nu'aim dan Hakim). Ketika masyarakat menyaksikan ulama tidak konsisten pada kebenaran, menjalin hubungan dengan jamaah koruptor, dan menjalani hidupnya dengan glamour; hal itu merupakan kontribusi besar untuk kerusakan negeri ini. Jika ulama sudah tidak dipercaya, maka kalangan publik akan menjauh dari agama, karena mereka tidak percaya lagi omongan ulama. Hal ini, memberi peluang untuk penguasa untuk menjauhkan agama dari praktek kehidupan masyarakat. Sebab, ulama 'yang rusak akhlaknya dapat diperalat penguasa untuk merusak masyarakat menggunakan dalil-dalil agama. Menjelang Ramadhan kita mendengar kaum ulama dan juga kantor negara, melarang agar ormas Islam tidak melakukan sweeping tempat maksiat. Mengapa bukan maksiatnya yang dilarang, sehingga tidak perlu ada sweeping? Akibatnya, sekelompok orang yang masih komitmen pada agama, tetapi dengan bekal ilmu yang dangkal menempuh cara-cara yang bertentangan dengan Islam untuk melestarikan amar ma'ruf - nahi mungkar . Maraknya radikalisme dan liberalisme di negeri kita sesungguhnya bermuara dari kolaborasi ulama jahat dan penguasa lalim ini. Kolaborasi ulama dengan penguasa yang melawan agama, dapat dibuktikan dengan menelaah sejumlah ayat-ayat Al-Qur'an yang salah terjemah. Di dalam Al-Qur ' an dan Terjemahnya yang diterbitkan Depag RI, sejak 1965, ada 3140 ayat dari jumlah 6326 ayat Al-Qur'an yang salah terjemah. Akibat kesalahan ini, sangat dahsyat, melahirkan aliran sesat, memicu terorisme dan merajalelanya dekadensi moral. Misalnya, terjemah harfiyah Al -Qur 'an Depag terbukti memicu kekerasan dan terorisme: "Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekkah) ...." (Qs. Al-Baqarah, 2:191) Kata bunuhlah dalam terjemah pada berkonotasi perorangan, bukan antar umat Islam dengan kaum kafir. Seolah-olah setiap orang Islam bisa membunuh orang kafir yang memusuhi Islam di mana saja dan kapan saja ditemukan, sekalipun di luar zona perang. Pembunuhan terhadap musuh di luar zone perang sudah pasti menciptakan anarkhisme dan teror; suatu kondisi yang tidak dibenarkan oleh syari'at Islam. Bila terjadi teror atau konflik horizontal, bahkan pembunuhan karena membaca teks terjemahan pada. Maka bukan hanya salah pembaca, tapi juga tanggung jawab ulama dan penguasa negara, karena kalimat terjemahan memang salah, dan menyimpang dari sababun nuzul (sebab turunnya) ayat tersebut. Terjemahkan yang benar dari ayat ini: "Wahai kaum mukmin, perangilah musuh-musuh kalian dimanapun kalian temui mereka di medan perang dan dalam perang ..." Adapun contoh terjemah harfiyah Qur 'an Depag, yang dapat disalahpahami sebagai pembenaran atas perzinahan, Qs. Al-Ahzab, 51: "Kamu bisa menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (istri-istrimu) dan (bisa pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki. Dan siapa -siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu ... " Kalimat 'Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu,' pada terjemah pada sesat dan menyesatkan. Sebagai praktisi Al-Qur'an paling sempurna, Nabi Saw. tidak pernah menceraikan istrinya, maka mustahil ia menggauli perempuan yang telah dicerai, apalagi tanpa lihat pula. Padahal ayat ini terkait dengan kebebasan Nabi Muhammad Saw mengganti giliran bermalam diantara istri-istri beliau. Karena itu, terjemah pada bertentangan dengan fakta sejarah dan akhlak beliau yang sangat terpuji. Terjemahkan harfiyah Qs. An-Nisa 'ayat 20 lebih menyesatkan lagi: "Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain ..." kalimat mengganti istrimu dengan istri yang lain, jelas terjemah yang salah dari ayat tersebut. Dalam bahasa Indonesia, istri adalah perempuan yang bersuami. Kata menggati berarti mengganti dengan yang lain. Mustahil Islam mengizinkan seorang suami mengganti istrinya dengan istri orang lain. Terjemahkan ini menyesatkan, seolah Islam membenarkan para suami saling bertukar istri. Maka terjemah yang benar adalah: "Wahai para suami, jika kalian ingin menceraikan istri kalian, lalu menikah dengan perempuan lain ..." Terjemahkan tafsiriyah seperti ini tidak mungkin mengundang salah paham terhadap Al-Qur'an. ada lagi tarjamah harfiah Depag yang salah, Qs. An-Nur, 24:60: "Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka .... " Dalam bahasa Indonesia, kata menanggalkan pakaian berarti membuka atau melepaskan pakaian tersebut alias telanjang. Padahal maksud ayat ini, adalah melepas kerudung yang menutup kepalanya. Mustahil Islam mengizinkan seorang perempuan menopause melakukan pornoaksi dengan telanjang di depan umum. الله اكبر الله اكبر و لله الحمد Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah Al-Qur'an adalah sumber kebenaran dan pedoman hidup kaum muslimin. Bila pemerintah tidak segera mengoreksi bahkan menarik predaran Al-Qur'an Terjemah Depag ini, patut dicurigai adanya msisi penodaan kitab suci umat Islam. Seperti yang dilakukan pendeta Yahudi dan Nasrani terhadap Taurat dan Injil. Kita menyaksikan, semakin banyak jumlah kaum muslimin yang mengikuti paham sesat dan menolak syari'at Islam di lembaga negara, mengikuti provokasi pengikut agama lain yang memiliki doktrin, 'agama urusan pribadi, sedang urusan sosial, ekonomi, politik terserah pada nafsu masing-masing '. Bila sikap beragama seperti ini terus dipertahankan, berarti penguasa dengan sengaja menjerumuskan bangsa ini ke lembah kebinasan. Melestarikan kejahatan, berarti memfasilitasi turunnya hukuman dari Allah Swt. Allah Swt berfirman: "Jika Kami hendak menghancurkan suatu negeri yang penduduknya zhalim, maka Kami jadikan orang-orang yang suka berbuat sesat di negeri itu sebagai pemimpin, lalu pemimpin itu berbuat durhaka di negerinya. Akibat perbuatan durhaka pemimpin mereka, turunlah adzab kepada mereka dan Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. "(Qs. Al-Isra ', 17:16). Inilah hukum kausalitas, ada sebab pasti diikuti akibat, sehingga berlangsunglah keputusan Allah. Tampilnya ahlul ma'siat, tokoh masyarakat yang durhaka pada Allah sebagai figur pemimpin nasional dan regional, merupakan hukuman untuk negara yang tidak tunduk pada hukum Allah Swt. Munajat: الله اكبر الله اكبر و لله الحمد Wahai kaum Muslimin, di hari yang penuh barakah ini , kita bersimpuh di haribaan Ilahy, untuk membuktikan bahwa umat Nabi Muhammad Saw. masih hidup di negeri ini, dengan menegakkan syari'at Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan Negara. Kita beramal sesuai dengan petujuk Allah dan menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup, agar selamat di dunia dan akhirat Akhirnya, marilah kita memohon kepada Allah, agar kita diberi keselamatan dari segala keburukan, diberi kebaikan yang paling sempurna, kehidupan yang sejahtera, waktu yang paling bahagia. Semoga Allah Swt berkenan memperperbaiki amal-amal kita dan membersihkannya dari kesyirikan dan kemunafikan: اللهم اقسم لنا من خشيتك ما تحول به بيننا وبين معاصيك, ومن طاعتك ماتبلغنا به جنتك, ومن اليقين ماتهون به علينا مصائب الدنيا. اللهم متعنا بأسماعنا, وأبصارنا وقواتنا ماأحييتنا, واجعله الوارث منا, واجعل ثأرنا على من ظلمنا, وانصرنا على من عادانا, ولا تجعل مصيبتنا في ديننا, ولا تجعل الدنيا أكبر همنا, ولا مبلغ علمنا, ولا تسلط علينا من لا يرحمنا. اللهم الف بين قلوبنا واصلح ذات بيننا واهدنا سبل السلام ونجنا من الظلمات الى النور و جنبنا الفواحش ما ظهر منها وما بطن وبارك لنا في اسماعنا و ابصارنا وقلوبنا وازواجنا وذريتنا وتب علينا انك انت التواب الرحيم وصلى الله على نبينا محمد و على اله و صحبه اجمعين و الحمد لله رب العالمين Ya Allah, ya Tuhan kami, untuk-Bagikanlah kepada kami demi takut kepada-Mu apa yang kiranya dapat mencegah antara kami dan maksiat kepada-Mu; dan (untuk-bagikan juga kepada kami) demi ta'at kepada-Mu apa yang jika dapat menyampaikan kami ke surga-Mu; dan (untuk-bagikan juga kepada kami) demi ta'at kepada-Mu; dan demi suatu keyakinan yang dapat meringankan beban musibah dunia kami. Ya Allah, ya Tuhan kami! Senangkanlah pendengaran-pendengaran kami, penglihatan-penglihatan kami dan kekuatan kami pada apa yang Engkau telah menghidupkan kami, dan jadikanlah ia sebagai warisan dari kami, dan jadikanlah pembelaan kami (memukul) orang-orang yang menzhalimi kami serta bantulah kami untuk menghadapi orang-orang yang memusuhi kami; dan jangan kiranya Engkau membuat musibah kami ini mengenai agama kami, jangan pula Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita kami yang paling besar, juga sebagai tujuan akhir dari ilmu pengetahuan kami; dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menaruh sayang kepada kami. pamer gaya hidup berklas borjuis. Tidak terbayangkan oleh kita, ada ketua parpol yang memiliki sederet kendaraan super mewah berupa: Toyota Velfire, Range Rover, Land Cruiser, Toyota Alpard, Hammer. Padahal secara kasat mata orang melihat, kekayaan yang dimilikinya tidak sebanding dengan penghasilan resmi mereka. Mengapa para pejabat negeri ini doyan korupsi, dan tidak malu hidup foya-foya pada kesengsaraan rakyatnya? Karena gaya hidup mereka yang memberhalakan harta, sehingga mereka menganggap semakin tinggi jabatan dan semakin banyak harta, mereka akan semakin berwibawa dan terhormat. Nabi Muhammad SAW telah memprediksi prilaku mungkar pemimpin / kantor negara: إذا كان آخر الزمان كان قوام دين الناس ودنياهم الدراهم والدنانير [ رواه الطبراني] "Kelak di akhir zaman agama dan keduniaan mereka dinilai berdasarkan berapa uang dirham dan dinar yang mereka miliki." (ath-Thabrani). Bila parameter martabat seseorang ditentukan oleh harta yang mereka miliki, menunjukkan tidak memiliki prestasi kebajikan yang patut dibanggakan. Setiap orang akan berusaha mencari harta untuk mendapatkan wibawa dan kehormatan, sekalipun harta diperoleh dengan cara haram dan tidak bermoral. Bila keshalihan seseorang diukur dari harta, cepat saja banyak ulama, kyai, ustadz, sama seperti politisi dan kantor negara, berlomba-lomba mendapatkan harta dan jabatan guna memperoleh kehormatan. Tampaknya, bukan hanya kantor dan politisi yang doyan duit. Ulama dan tokoh agama, juga ikut berimprovisasi mencari duit dengan menjual agama. Banyak sudah tokoh agama yang terlibat perebutan kekuasaan dan jabatan yang menggiurkan, terutama dalam Pilkada. Malah ada juga ulama yang menjadi broker kekuasaan dengan mendapatkan imbalan harta. Ulama 'broker, tidak keberatan memperalat umat untuk mendapatkan harta kekayaan, sekalipun dengan menjilat penguasa, menjual jimat, bahkan menjadi pawang jin. Prilaku ini, kian menjauhkan bangsa Indonesia dari rahmat Allah dan semakin dekat dengan musibah. Ketika menyaksikan segala kebobrokan partai politik dan kerakusan kaum politisi di negaranya, Presiden Ke-3 AS, Thomas Jefferson pernah berujar: "If I could not go to Heaven but with a party, I would not go there at all. "(Jika masuk surga harus melalui partai politik, maka saya memilih tidak masuk surga saja). Waspadai Ulama Jahat الله اكبر الله اكبر و لله الحمد Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah! Rasulullah Saw bersabda: يكون في آخر الزمان عباد جهال وقراء فسقة [أبو نعيم والحاكم] "Akan muncul di akhir zaman orang-orang yang tekun beribadah adalah bodoh, sedang para ulama 'rusak moral dan pikirannya." (Abu Nu'aim dan Hakim). Ketika masyarakat menyaksikan ulama tidak konsisten pada kebenaran, menjalin hubungan dengan jamaah koruptor, dan menjalani hidupnya dengan glamour; hal itu merupakan kontribusi besar untuk kerusakan negeri ini. Jika ulama sudah tidak dipercaya, maka kalangan publik akan menjauh dari agama, karena mereka tidak percaya lagi omongan ulama. Hal ini, memberi peluang untuk penguasa untuk menjauhkan agama dari praktek kehidupan masyarakat. Sebab, ulama 'yang rusak akhlaknya dapat diperalat penguasa untuk merusak masyarakat menggunakan dalil-dalil agama. Menjelang Ramadhan kita mendengar kaum ulama dan juga kantor negara, melarang agar ormas Islam tidak melakukan sweeping tempat maksiat. Mengapa bukan maksiatnya yang dilarang, sehingga tidak perlu ada sweeping? Akibatnya, sekelompok orang yang masih komitmen pada agama, tetapi dengan bekal ilmu yang dangkal menempuh cara-cara yang bertentangan dengan Islam untuk melestarikan amar ma'ruf - nahi mungkar . Maraknya radikalisme dan liberalisme di negeri kita sesungguhnya bermuara dari kolaborasi ulama jahat dan penguasa lalim ini. Kolaborasi ulama dengan penguasa yang melawan agama, dapat dibuktikan dengan menelaah sejumlah ayat-ayat Al-Qur'an yang salah terjemah. Di dalam Al-Qur ' an dan Terjemahnya yang diterbitkan Depag RI, sejak 1965, ada 3140 ayat dari jumlah 6326 ayat Al-Qur'an yang salah terjemah. Akibat kesalahan ini, sangat dahsyat, melahirkan aliran sesat, memicu terorisme dan merajalelanya dekadensi moral. Misalnya, terjemah harfiyah Al -Qur 'an Depag terbukti memicu kekerasan dan terorisme: "Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekkah) ...." (Qs. Al-Baqarah, 2:191) Kata bunuhlah dalam terjemah pada berkonotasi perorangan, bukan antar umat Islam dengan kaum kafir. Seolah-olah setiap orang Islam bisa membunuh orang kafir yang memusuhi Islam di mana saja dan kapan saja ditemukan, sekalipun di luar zona perang. Pembunuhan terhadap musuh di luar zone perang sudah pasti menciptakan anarkhisme dan teror; suatu kondisi yang tidak dibenarkan oleh syari'at Islam. Bila terjadi teror atau konflik horizontal, bahkan pembunuhan karena membaca teks terjemahan pada. Maka bukan hanya salah pembaca, tapi juga tanggung jawab ulama dan penguasa negara, karena kalimat terjemahan memang salah, dan menyimpang dari sababun nuzul (sebab turunnya) ayat tersebut. Terjemahkan yang benar dari ayat ini: "Wahai kaum mukmin, perangilah musuh-musuh kalian dimanapun kalian temui mereka di medan perang dan dalam perang ..." Adapun contoh terjemah harfiyah Qur 'an Depag, yang dapat disalahpahami sebagai pembenaran atas perzinahan, Qs. Al-Ahzab, 51: "Kamu bisa menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (istri-istrimu) dan (bisa pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki. Dan siapa -siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu ... " Kalimat 'Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu,' pada terjemah pada sesat dan menyesatkan. Sebagai praktisi Al-Qur'an paling sempurna, Nabi Saw. tidak pernah menceraikan istrinya, maka mustahil ia menggauli perempuan yang telah dicerai, apalagi tanpa lihat pula. Padahal ayat ini terkait dengan kebebasan Nabi Muhammad Saw mengganti giliran bermalam diantara istri-istri beliau. Karena itu, terjemah pada bertentangan dengan fakta sejarah dan akhlak beliau yang sangat terpuji. Terjemahkan harfiyah Qs. An-Nisa 'ayat 20 lebih menyesatkan lagi: "Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain ..." kalimat mengganti istrimu dengan istri yang lain, jelas terjemah yang salah dari ayat tersebut. Dalam bahasa Indonesia, istri adalah perempuan yang bersuami. Kata menggati berarti mengganti dengan yang lain. Mustahil Islam mengizinkan seorang suami mengganti istrinya dengan istri orang lain. Terjemahkan ini menyesatkan, seolah Islam membenarkan para suami saling bertukar istri. Maka terjemah yang benar adalah: "Wahai para suami, jika kalian ingin menceraikan istri kalian, lalu menikah dengan perempuan lain ..." Terjemahkan tafsiriyah seperti ini tidak mungkin mengundang salah paham terhadap Al-Qur'an. ada lagi tarjamah harfiah Depag yang salah, Qs. An-Nur, 24:60: "Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka .... " Dalam bahasa Indonesia, kata menanggalkan pakaian berarti membuka atau melepaskan pakaian tersebut alias telanjang. Padahal maksud ayat ini, adalah melepas kerudung yang menutup kepalanya. Mustahil Islam mengizinkan seorang perempuan menopause melakukan pornoaksi dengan telanjang di depan umum. الله اكبر الله اكبر و لله الحمد Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah Al-Qur'an adalah sumber kebenaran dan pedoman hidup kaum muslimin. Bila pemerintah tidak segera mengoreksi bahkan menarik predaran Al-Qur'an Terjemah Depag ini, patut dicurigai adanya msisi penodaan kitab suci umat Islam. Seperti yang dilakukan pendeta Yahudi dan Nasrani terhadap Taurat dan Injil. Kita menyaksikan, semakin banyak jumlah kaum muslimin yang mengikuti paham sesat dan menolak syari'at Islam di lembaga negara, mengikuti provokasi pengikut agama lain yang memiliki doktrin, 'agama urusan pribadi, sedang urusan sosial, ekonomi, politik terserah pada nafsu masing-masing '. Bila sikap beragama seperti ini terus dipertahankan, berarti penguasa dengan sengaja menjerumuskan bangsa ini ke lembah kebinasan. Melestarikan kejahatan, berarti memfasilitasi turunnya hukuman dari Allah Swt. Allah Swt berfirman: "Jika Kami hendak menghancurkan suatu negeri yang penduduknya zhalim, maka Kami jadikan orang-orang yang suka berbuat sesat di negeri itu sebagai pemimpin, lalu pemimpin itu berbuat durhaka di negerinya. Akibat perbuatan durhaka pemimpin mereka, turunlah adzab kepada mereka dan Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. "(Qs. Al-Isra ', 17:16). Inilah hukum kausalitas, ada sebab pasti diikuti akibat, sehingga berlangsunglah keputusan Allah. Tampilnya ahlul ma'siat, tokoh masyarakat yang durhaka pada Allah sebagai figur pemimpin nasional dan regional, merupakan hukuman untuk negara yang tidak tunduk pada hukum Allah Swt. Munajat: الله اكبر الله اكبر و لله الحمد Wahai kaum Muslimin, di hari yang penuh barakah ini , kita bersimpuh di haribaan Ilahy, untuk membuktikan bahwa umat Nabi Muhammad Saw. masih hidup di negeri ini, dengan menegakkan syari'at Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan Negara. Kita beramal sesuai dengan petujuk Allah dan menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup, agar selamat di dunia dan akhirat Akhirnya, marilah kita memohon kepada Allah, agar kita diberi keselamatan dari segala keburukan, diberi kebaikan yang paling sempurna, kehidupan yang sejahtera, waktu yang paling bahagia. Semoga Allah Swt berkenan memperperbaiki amal-amal kita dan membersihkannya dari kesyirikan dan kemunafikan: اللهم اقسم لنا من خشيتك ما تحول به بيننا وبين معاصيك, ومن طاعتك ماتبلغنا به جنتك, ومن اليقين ماتهون به علينا مصائب الدنيا. اللهم متعنا بأسماعنا, وأبصارنا وقواتنا ماأحييتنا, واجعله الوارث منا, واجعل ثأرنا على من ظلمنا, وانصرنا على من عادانا, ولا تجعل مصيبتنا في ديننا, ولا تجعل الدنيا أكبر همنا, ولا مبلغ علمنا, ولا تسلط علينا من لا يرحمنا. اللهم الف بين قلوبنا واصلح ذات بيننا واهدنا سبل السلام ونجنا من الظلمات الى النور و جنبنا الفواحش ما ظهر منها وما بطن وبارك لنا في اسماعنا و ابصارنا وقلوبنا وازواجنا وذريتنا وتب علينا انك انت التواب الرحيم وصلى الله على نبينا محمد و على اله و صحبه اجمعين و الحمد لله رب العالمين Ya Allah, ya Tuhan kami, untuk-Bagikanlah kepada kami demi takut kepada-Mu apa yang kiranya dapat mencegah antara kami dan maksiat kepada-Mu; dan (untuk-bagikan juga kepada kami) demi ta'at kepada-Mu apa yang jika dapat menyampaikan kami ke surga-Mu; dan (untuk-bagikan juga kepada kami) demi ta'at kepada-Mu; dan demi suatu keyakinan yang dapat meringankan beban musibah dunia kami. Ya Allah, ya Tuhan kami! Senangkanlah pendengaran-pendengaran kami, penglihatan-penglihatan kami dan kekuatan kami pada apa yang Engkau telah menghidupkan kami, dan jadikanlah ia sebagai warisan dari kami, dan jadikanlah pembelaan kami (memukul) orang-orang yang menzhalimi kami serta bantulah kami untuk menghadapi orang-orang yang memusuhi kami; dan jangan kiranya Engkau membuat musibah kami ini mengenai agama kami, jangan pula Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita kami yang paling besar, juga sebagai tujuan akhir dari ilmu pengetahuan kami; dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menaruh sayang kepada kami.


Jilbab Saringan Tahu, Tabarruj ala Jahiliyah Alhamdulillah Kita patut bersyukur dengan banyaknya muslimah yang menutup auratnya belakangan ini. Meski masih banyak kita jumpai pemandangan aneh dari muslimah itu sendiri. Ada yang memakai jilbab tapi poni rambutnya ke mana-mana, ada yang pake jilbab tapi pakaian dalamnya terlihat, ada juga yang pakai jilbab tapi masih ikutan konser musik. Miris, kasihan, sedih, marah, campur baur rasanya. Tapi saya juga bersyukur di antara mereka masih ada yang berhijab sempurna. Semoga istiqamah! Pertama banget saya tahu istilah ‘jilbab saringan tahu’ ini di twitter. Ada seorang kawan yang nyeletuk tentang jilbab ini. Mulanya saya nggak tahu jilbab mana yang dimaksud, sampai suatu hari saya diajak tante saya belanja di pasar. Ketika melewati penjual tahu saya sempat berhenti untuk menanyakan bentuk saringan tahu. Barulah saya tahu, jibab saringan tahu ternyata jilbab yang super tipis menerawang itu. Saya pikir modelnya yang mirip saringan tahu, karena biasanya penamaan jilbab sesuai dengan model, tapi rupanya jilbab saringan tahu adalah jilbab yang jenis kain/bahannya setipis saringan tahu. Beberapa waktu lalu saya mengunjungi toko jilbab yang ada di dekat tempat saya kuliah. Kaget juga saya begitu memasuki tempat jilbab segi empat (bukan jilbab instan/bergo), banyak sekali jilbab saringan tahu terpajang di sana. Beuh, saya jadi kehilangan fokus. Mau langsung keluar gak enak juga, soalnya baru masuk. Akhirnya saya memilih membelikan ibu dan tante saya jilbab instan yang modelnya belum beliau punya, alhamdulillah. Di rak-rak tersebut ada banyak macam model jilbab saringan tahu. Ada yang polos tanpa hiasan apa pun, ada yang pakai renda atau manik-manik, ada yang berhias bordiran, ada juga yang model tumpuk. Tapi bahannya sejenis, ada yang tipis ada yang lebih, bahkan sangat tipis, sama-sama bisa digunakan untuk saringan tahu mungkin. Jika dipakai ya menerawang. Ada beberapa kawan saya yang sudah mengerti syarat berhijab syar’i, kalau pakai jilbab saringan tahu ia memakai dua jilbab sekaligus supaya tidak menerawang. Biasanya bagian dalam agak tebal. Masalahnya kan ga semua muslimah berpikiran untuk melapisi bagian dalam jilbab saringan tahu dengan jilbab yag lebih tebal. Fenomena jilbab saringan tahu ini banyak banget kita temui di jalan. Menurut kawan saya, jilbab saringan tahu memang lebih ‘nurut’, lemas, dan adem. Harganya juga lebih murah dari jilbab yang tebal. Warna, model, dan hiasannya lebih variatif, jadi mudah dipadupadankan dengan pakaian yang digunakan. Hmm...! “Dan hendaklah kamu tetap berada di rumahmu, dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti model berhias dan bertingkah lakunya orang-orang jahiliyah dahulu” (Qs Al-Ahzab 33). ...jahiliyah dahulu adalah kekafiran sebelum jaman Nabi Muhammad SAW. Jahiliyah sekarang adalah kemaksiatan setelah datangnya Islam... Dalam keterangan catatan kaki, ‘jahiliyah dahulu’ adalah bentuk kekafiran sebelum jaman Nabi Muhammad SAW, sedangkan ‘jahiliyah sekarang’ adalah bentuk kemaksiatan setelah datangnya Islam. Atau dalam salah satu artikel yang saya baca, maksud dari ayat tersebut adalah bertabarruj ala jahiliyah. Bukankah Islam telah memberikan batasan hijab yang cukup jelas? Bukankah Islam menganjurkan para wanita untuk tidak bertabarruj? Saat ini, banak muslimah yang memakai jilbab dengan melilitkan jilbab di leher mereka, tidak mengulurkannya seperti yang terdapat dalam An-Nur ayat 31 maupun Al-Ahzab ayat 59. …Biarlah kain saringan tahu menjadi saringan tahu, jangan kita rampas haknya dan menjadikannya penutup kepala... Ramadhan adalah merupakan momen yang tepat untuk melakukan perbaikan diri. Sebagai muslimah sudah semestinya kita mulai memperbaiki cara berpakaian kita. Biarlah kain saringan tahu menjadi saringan tahu, jangan kita rampas haknya dan menjadikannya penutup kepala. Allah SWT berfirman dalam surat An-Nur 34: “Dan sungguh, Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.


Ahmadiyah Murtad & Dimusuhi Karena Ajarkan Ada Nabi Lagi Sesudah Muhammad Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang hak. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada penutup para nabi dan rasul yang tidak nabi sesudahnya, Nabi Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabatnya. Bentrokan berdarah antara Jemaat Ahmadiyah dengan warga muslim kembali terjadi di Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten, Minggu ( 6/2/11) kemarin. Dan menurut pemberitaan voa-islam.com, ada beberapa anggota Jemaat Ahmadiyah yang tewas. Salah satu korbannya bernama Mulyadi (Bukan Mulyadi Pemred voa-islam.com). Bentrokan tersebut dipicu oleh sikap Ahmadiyah yang tidak mau mematuhi keputusan SKB 3 Menteri tahun 2008 yang memperingatkan dan memerintahkan kepada penganut, anggota dan / atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI ), sepanjang mengaku beragama Islam, untuk menghentikan penyebaran penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran Agama Islam yaitu penyebaran faham yang mengakui adanya nabi dengan segala ajarannya setelah Nabi Muhammad SAW, (Point kedua dalam SKB tersebut). Selain masih tetap menyebarkan ajaran sesatnya tersebut, Ahmadiyah juga bersikap arogan dan berulah memancing kerusuhan dengan menantang perang dan membacok tangan warga sampai nyaris putus. Akibatnya, wargapun marah sehingga terjadi bentrokan yang memakan korban jiwa. Kenapa Umat Islam Marah Kepada Ahmadiyah? Ahmadiyah telah menyimpang dari ajaran pokok Islam. Yang barangsiapa menyimpang darinya maka dia keluar dari Islam, yaitu meyakini bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah penutup para Nabi dan Rasul. Hal ini dijelaskan dengangambalang oleh nash yang sharih dan shahih sehingga tidak membutuhkan penakwilan lagi. Namun, jemaat Ahmadiyah meyakini masih ada Nabi sesudah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang bernama Mirza Ghulam Ahmad dari India. Dan selanjutnya silahkan simak tulisan yang kami nukil dan terjemahkan dari kitab yang membahas pokok-poko ajaran Islam yang wajib diketahui setiap muslim, yaitu Maa laa Yasa 'al-Muslima Jahluhu, tulisan DR. Abdullah Al-Mushlih dan DR. Shalah Shawi. ___________ Kita bersaksi bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah penutup para Nabi. Maka siapa saja yang berkata ada Nabi sesudahnya, dia murtad (keluar) dari Islam. Karena berarti dia telah mendustakan ayat-ayat Al-Qur'an dan sunnah shahih yang sangat jelas menerangkan bahwa beliau shallallahu 'alaihi wasallam sebagai penutup para nabi. Allah Ta'ala berfirman, ما كان محمد أبا أحد من رجالكم ولكن رسول الله وخاتم النبيين " Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. "(QS. Al-Ahzab: 40) Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, إن مثلي ومثل الأنبياء من قبلي كمثل رجل بنى بيتا فأحسنه وأجمله إلا موضع لبنة من زاوية فجعل الناس يطوفون به ويعجبون له ويقولون هلا وضعت هذه اللبنة قال فأنا اللبنة وأنا خاتم النبيين "Sesungguhnya Perumpamaanku dengan para nabi sebelumku seperti seorang laki-laki yang membangun rumah, ia tata dan percantik rumah itu . Hanya saja ada satu tempat sebesar batu bata di sebelah pojok. Lalu orang-orang berkeliling di sekitarnya dan terpesona dengan keindahannya. Mereka berkata, 'mengapa batu bata ini diletakkan di tempatkan itu.' Beliau bersabda, 'Aku adalah batu bata itu dan aku adalah penutup para nabi'. "(Mutaafaq 'alaih) dan dalam riwayat Muslim," Maka aku adalah tempat batu bata tersebut, aku datang dan menjaid penutup para Nabi. " Siapa saja yang berkata ada Nabi sesudahnya, dia murtad (keluar) dari Islam. Karena berarti dia telah mendustakan ayat-ayat Al-Qur'an dan sunnah shahih yang sangat jelas menerangkan bahwa beliau shallallahu 'alaihi wasallam sebagai penutup para nabi. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda dalam hadits lain, أنا محمد وأنا أحمد وأنا الماحي الذي يمحى بي الكفر وأنا الحاشر الذي يحشر الناس على عقبي وأنا العاقب والعاقب الذي ليس بعده نبي "Aku adalah Muhammad, dan aku adalah Ahmad. Aku juga الماحي "al-Mahi" yang kekufuran terhapus denganku. Aku adalah الحاشر (pengumpul) yang seluruh manusia dikumpulkan sesudahku. Aku juga juga العاقب (yang terakhir) yang tidak ada nabi sesudahnya. "Dan dalam riwayat Muslim lainnya, وأنا العاقب الذي ليس بعده أحد "Dan aku العاقب (yang terakhir) yang tidak ada seorang nabi-pun sesudahnya." فضلت على الأنبياء بست أعطيت جوامع الكلم ونصرت بالرعب وأحلت لي الغنائم وجعلت لي الأرض طهورا ومسجدا وأرسلت إلى الخلق كافة وختم بي النبيون "Aku diistimewakan dari nabi yang lain dengan enam hal: Aku diberi Jawami 'al-kalim (kalimat singkat namun padat maknanya), aku dimenangkan dalam perang dengan masuknya rasa takut pada musuhku, Dihalalkan ghanimah bagiku, dijadikan bumi buatku suci dan tempat sujud, aku diutus untuk seluruh umat manusia, dan para nabi ditutup oleh aku. "(HR. Muslim) Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya, bahwa Rasulullah shallallahu ' alaihi wasallam keluar menuju Tabuk dan menunjuk Ali menggantikannya. Lalu Ali berkata, "Apakah Anda meninggalkanku bersama anak-anak dan kaum wanita?!" Beliau bersabda, ألا ترضى أن تكون مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنه ليس نبي بعدي "Tidakkah kamu ridha menempati poisiku sebagaimana posisi Harun dari Musa, hanya saja tidak ada nabi sesudahku. "(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Dan dalam riwayat Muslim, غير أنه لا نبي بعدي "Hanya saja (bedanya) tidak ada kenabian sesudahku." Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu' alaihi wasallam bersabda, كانت بنو إسرائيل تسوسهم الأنبياء كلما هلك نبي خلفه نبي وإنه لا نبي بعدي وسيكون خلفاء فيكثرون قالوا فما تأمرنا قال فوا ببيعة الأول فالأول أعطوهم حقهم فإن الله سائلهم عما استرعاهم "Bani Israil dahulu dipimpin para Nabi. Setiap meninggal seorang nabi, maka datang nabi lain menggantikannya. Dan sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku, yang akan ada adalah para khalifah. Jumlah mereka banyak. Para sahabat bertanya, 'Apa yang Anda perintahkan kepada kami.' Beliau menjawab, 'Penuhilah bai'at orang paling pertama, kemudian baru orang setelah itu. Berikan hak mereka, maka sungguh Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka dari kepemimpinan mereka '. "(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Orang-orang pertama dan terakhir akan memberikan kesaksian itu kepada beliau. Yaitu di hari saat Allah mengumpulkan mereka di satu tempat pada hari kiamat. Seorang penyeru akan menyerukan mereka dan pandangan menembus mereka. Kemudian mereka tergesa-gesa mendatangi para anbiya 'untuk meminta syafa'at. Ketika sampai kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, mereka bersaksi bahwa ia adalah rasul terakhir. Mereka berkata kepadanya, يا محمد أنت رسول الله وخاتم الأنبياء وقد غفر الله لك ما تقدم من ذنبك وما تأخر اشفع لنا إلى ربك ألا ترى إلى ما نحن فيه "Wahai Muhammad, Anda adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan sungguh Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan akan datang. Berilah kami syafaat (pertolongan) kepada Rabbmu, apakah engkau lihat kondisi kami. "(HR. Al-Bukhari) Berdasarkan semua ini, maka apa yang diklaim oleh sekte Qadiyaniyah (Ahmadiyah) di semenanjung Hindia pada kenabian Mirza Ghulam Ahmad, telah mengeluarkan mereka dari Islam. Apa yang diklaim oleh sekte Qadiyaniyah (Ahmadiyah) di semenanjung Hindia pada kenabian Mirza Ghulam Ahmad, telah mengeluarkan mereka dari Islam. Universitas Al-Azhar di Mesir, Rabithah 'Alam Islami di Mekkah Mukarramah, seminar OKI yang diselenggaran di Rabithah, Lajnah Daimah (Panitia Tetap) untuk penelitian Ilmiah, Fatwa, dan dakwah di Riyadh dan lembaga-lembaga keislaman di seluruh dunia lainnya telah mengeluarkan keputusan bahwa Qadiyaniyah adalah kelompok yang sudah murtad dari Islam. Parlemen Pakistan tahun 1976 juga telah mengeluarkan keputusna yang sama.


BIARKAN MASA DEPAN DATANG SENDIRI (Telah pasti datangnya ketetapan Alloh, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang) nya) QS. An Nahl: 1 Jangan pernah mendahului sesuatu yang belum terjadi! Apakah Anda mau mengeluarkan isi sebelum waktunya lahir, atau memetik buah buahan sebelum masak? Hari esok adalah sesuatu yang belum nyata dan dapat diraba, belum terwujud, dan tidak memiliki rasa dan warna. Jika demikian, mengapa kita harus menyibukkan diri dengan hari esok, mencemaskan kesialan kesialan yang mungkin akan terjadi padanya, memikirkan kejadian kejadian yang akan menimpanya, dan meramalkan bencana bencana yang bakal ada didalamnya? Bukankah kita juga tidak tahu apakah kita akan bertemu dengannya atau tidak, dan apakah hari esok kita itu akan berwujud kesenangan atau kesedihan? Yang jelas, hari esok masih ada dalam alam gaib dan belum turun ke bumi. Maka, tidak sepantasnya kita menyeberangi sebuah jembatan sebelum sampai di atasnya. Sebab, siapa yang tahu bahwa kita akan sampai atau tidak pada jembatan itu. Bisa jadi kita akan terhenti jalan kita sebelum sampai ke jembatan itu, atau mungkin pula jembatan itu hanyut terbawa arus terlebih dahulu sebelum kita sampai di atasnya. Dan bisa jadi pula, kita akan sampai pada jembatan itu dan kemudian menyeberanginya. Dalam syariat, memberi kesempatan kepada pikiran untuk memikirkan masa depan dan membuka buka alam gaib, dan kemudian terhanyut dalam kecemasan kecemasan yang baru di duga darinya, adalah sesuatu yang tidak diizinkan. pasalnya hal itu termasuk thuulul amal (angan angan yang terlalu jauh). Secara nalar, tindakan itu pun tidak masuk akal, karena sama halnya dengan berusaha perang melawan bayang bayang. Namun ironis, kebanyakan manusia di dunia ini justru banyak termakan oleh ramalan ramalan tentang kelaparan, kemiskinan, wabah penyakit dan krisis ekonomi yang kabarnya akan menimpa mereka. Padahal, semua itu hanyalah bagian dari kurikulum yang diajarkan di "sekolah sekolah syetan". (setan menjanjikan (menakut nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedang Alloh menjanjikan untukmu ampunan dari-dan karunia) QS. Al Baqarah: 268 Mereka yang menangis sedih menatap masa depan adalah menyangka diri mereka akan hidup kelaparan, menderita dakit selama setahun, dan memperkirakan umur dunia ini tinggal seratus tahun lagi. Padahal, orang yang sadar bahwa usia hidupnya berada di 'genggaman yang lain' tentu tidak akan menggadaikan untuk sesuatu yang tidak ada. Dan orang yang tidak tahu kapan akan mati, tentu salah besar bila justru menyibukkan diri dengan sesuatu yang belum ada dan tak terwujud. Biarkan hari esok itu datang dengan sendirinya. jangan pernah menanyakan kabar beritanya, dan jangan pula pernah menanti serangan petakanya. Sebab, hari ini Anda sudah sangat sibuk. Jika Anda heran, maka lebih mengherankan lagi orang orang yang berani menebus kesedihan suatu masa yang belum tentu matahari terbit di dalamnya dengan bersedih pada hari ini. Oleh karena itu, hindarilah angan angan yang berlebihan. wallahu'alam


LEBIH HEBAT DARI BERZINA Pada suatu senja yang lenggang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa ia berada dalam duka cita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya. Tanpa rias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah meruyak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa as Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam "Silakan masuk". Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala ia berkata, "Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya, Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya." "Apakah dosamu wahai wanita ayu?" tanya Musa terkejut. "Saya takut mengatakannya." jawab wanita cantik. "Katakanlah jangan ragu-ragu!" desak Nabi Musa. Maka perempuan itupun terpatah bercerita, "Saya ...... telah berzina." Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak. Perempuan itu meneruskan, "Dari perzinaan itu saya pun ...... lantas hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya ....... cekik lehernya sampai ...... tewas ", ucap wanita itu seraya menagis sejadi-jadinya. Nabi musaberapi-api matanya. Dengan muka marah ia menghardik, "Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi !"... teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata karena jijik. Perempuan berewajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu , hancur luluh segera bangkit dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk ke luar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan ia tak tahu mau di bawa kemana lagi kaki-kakinya. Kapan seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, "Mengapa engkau menolak seorang wanita yang ingin bertobat dari dosanya? Tidakkah kamu tahu dosa yang lebih besar dari?" Musa terperanjat. "Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?" Maka Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril. "Betulkah ada dosa yang lebih besar dari pada perempuan yang nista itu?" "Ada!" jawab Jibril dengan tegas. "Dosa apakah itu?" tanya Musa kian penasaran. "Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina". Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut. Musa menyadari, orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sembahyang itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya. Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya. Sedang orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih memiliki iman didadanya dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya. Dikutip dari buku 30 kisah teladan - KH> Abdurrahman Arroisy) Dalam hadist Nabi SAW disebutkan: Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang membakar 70 buah Al-Qur'an, membunuh 70 nabi dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka'bah. Dalam hadist yang lain disebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian ia mengqadanya, maka ia akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 hari, sedangkan satu hari di akherat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia. Demikianlah kisah Nabi Musa dan wanita pezina dan dua hadist Nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi kita dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah. Tolong sebarkan kepada saudara-saudara kita yang belum mengetahui.


Jika Hidup Tidak untuk Dakwah Jika Hidup Tidak untuk Dakwah Terus engkau mau ngapain? Ente pergi pagi Dengan semangat mencari duniawi Jika angkot macet, langsung berganti sewa taksi Agar harta buruan tidak beralih dari sisi Ente pulang malam Dengan jasad yang kelelahan Nyampe di rumah mendekam sampai pagi datang Lupakah engkau Rasulullah saw bagaikan rahib di malam hari Dan menjadi singa di siang hari Sementara kamu Tak peduli siang tak peduli malam Yang penting dunia dalam genggaman Sahabat cobalah engkau renungkan Apa sih yang ingin kugapai sampai harus membanting tulang Apa sih yang ingin kubangun hingga pagi datang apa sih yang ingin kuraih hingga tubuh begitu letih Jujur saja, untuk urusan perutmu bukan Buat beli martabak atau nasi Masuk perut dan kemudian raib menjadi kotoran Jujur saja, untuk urusan rumah tempat kau tinggal bukan Buat beli keramik, AC atau busa Dinikmati, rusak, ganti lagi tak berkesudahan Jujur saja, untuk urusan kesenangan anak-anak yang kau rindukan bukan Buat pakaian, mainan, atau poster-poster idaman Dinikmati, menghilang dari pandangan Jika engkau hidup hanya untuk itu semuanya Maka harga dirimu Nilainya sama dengan apa yang kamu makan Nilainya sama dengan apa yang kamu keluarkan dari perut hitam Nilainya sama dengan apa yang kamu rindukan Karena jasadmu tak ubahnya tembolok karung Tempat penyimpanan semua makan yang kamu makan Karena jasadmu tak ubahnya perekat Tempat semua kesenangan dunia melekat Sepekan, setahun, sewindu kau bangun sejuta pundi uang Engkau lupa bahwa kelak yang kau bangun itu pasti kau tinggalkan Engkau lupa bahwa tempat tinggalmu sesudahnya adalah istana masa depan Tapi sahabat Jika engkau hidup untuk dakwah Tidak ada setitik harapan pun yang kelak dirugikan Tiada seberkas amal pun yang tiada mendapat balasan Tapi di dalamnya penuh ujian dan batu karang dan engkau harus yakin penuh akan janji Allah Tapi di dalamnya tidak lekas kau dapatkan keindahan Dan engkau harus yakin bahwa inilah jalan kebaikan Sahabat Janganlah terlena dengan kesenangan fana Janganlah terlena dengan gemerlapnya dunia Itulah yang Allah berikan sebagai hak para musyrikin di dunia Tiada usah kamu iri dan berpikir tuk hanyut bersamanya Karena kau tahu kehidupan mereka sesudahnya adalah neraka Dan mereka kekal di dalamnya Sahabat Jangan sia-siakan hidup di dunia Bangun rumah dakwah Jika kau diluaskan harta, kembalikan di jalan dakwah Jika kau diluaskan waktu, hibahkan di jalan dakwah Jika kau diluaskan tenaga , berikan untuk lapangnya jalan dakwah Jika kau diluaskan pikiran, gunakan untuk merenungi ayat-ayat-Nya Jika kau diluaskan usia, maksimalkan berikan yang terbaik untuk-Nya Jangan jadikan dakwah sebagai kegiatan sampingan Jangan jadikan dakwah sebagai hiburan Jangan jadikan dakwah sebagai ajang gaul sesama teman Jangan jadikan dakwah sebagai pengisi waktu luang Jangan jadikan dakwah sebagai sarana memburu uang Karena kelak yang kau dapatkan adalah jahanam Sebagai balasan atas kemusyrikan yang kau jalankan Sahabat Jadikan dakwah sebagai ruh kalian di dunia Jadikan dakwah sebagai rumah tinggal kalian di dunia Jadikan dakwah sebagai tugas utama kalian di dunia Jadikan bahwa hanya dengan dakwah diri kalian begitu bahagia Jadikan bahwa tanpa dakwah kalian begitu menderita Sahabat Jalan dakwah inilah yang membedakan kita Dengan para pendusta ayat-ayat-Nya Dan jika engkau hidup di dunia ini tidak untuk tegakkan risalah-Nya Itu artinya engkau pun sama dengan mereka Yang lebih menyukai neraka ketimbang surga Dan jika engkau hidup di dunia ini sebagai tujuan Ingatlah bahwa tak lama lagi ruhmu bakal dicabut dari badan Jika hidup tidak untuk dakwah Trus ente mo ngapain? Mau jadi ayam? Yang pergi pagi pulang petang Kurang petang tambahin nyampe tengah malam Tapi masih mendingan ayam Karena ia rutin bangun sebelum azan Dan teriakkan lagu keindahan Tapi kamu Rutin subuh setengah delapan Apalagi kalo akhir pekan Bisa jadi subuh hengkang dari pikiran Tapi masih mendingan ayam Karena ia berani pilih makanan yang ia inginkan Tapi kamu Elo embat semua yang ada di depan Tidak peduli daging, tumbuhan, atau batu hitam Sementara kamu dikaruniai pikiran


Detik-detik Rasulullah SAW menjelang sakratul maut Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya . Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku. " Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sinyal itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu.Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Dapatkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapus kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah diantaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku" Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim' alaihi * * * Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Kirimkan kepada sahabat-2 muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencinta kita. Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.


BENARKAH RUH ORANG YANG MENINGGAL gentayangan di BUMI, MENJADI HANTU, melebur TUBUH ORANG YANG MASIH HIDUP DLL? Sebagaima kita saran, bahwa sejak dulu sampai kini, di kalangan masyarakat kita, Mmasih banyak yang percaya, bahwa ruh orang yang telah meninggal itu, dapat kembali ke dunia. Ia dapat menjadi hantu, dapat merasuk ke tubuh orang yang masih hidup, ketika sedang sakit atau kesurupan, dapat menjadi jalangkung, dapat memberi kabar kepada orang yang masih hidup melalui mimpi, bisa dimintai tolong, bisa marah ketika kuburnya tidak dibersihkan atau tidak diberikan sesaji dan lain - lain. Kepercayaan itu semakin tebal, dengan adanya berbagai cerita, atau mungkin ada yang pernah mengalami atau melihat berbagai kejadian ghoib, yang terkait dengan ruh orang yang telah meninggal tersebut. Berbagai kejadian ghoib itu antara lain dapat dii sebutkan berikut ini: 1. Ketika ada orang yang meninggal dengan cara yang tidak wajar, seperti: karena gantung diri atau bunuh diri, atau karena kecelakaan, atau karena di bunuh, maka beberapa hari kemudian terdengarlah suara orang menangis dan merintih atau orang yang membunuh dalam mimpinya selalu di kejar - kejar oleh orang yang dibunuh, atau di masyarakat tersebar adanya hantu pocong yang gentayangan dan lain - lain. 2. Ketika baru saja seorang rentenir atau orang yang dalam hidupnya selalu bergelimang dengan perbuatan maksiat dan dosa, maka berkeliaranlah hantu di masyarakat, sehingga timbul suasana yang menyeramkan dan menakutkan di masyarakat itu, ketika malam datang menjelang. 3. Ketika ada orang yang sakit kesurupan, maka melalui lisan orang yang sakit itu, ketika ditanya, ia mengaku bahwa ruh yang masuk ke tubuh orang yang sakit itu adalah orang - orang yang telah meninggal beberapa tahun sebelumnya. 4. Ketika ada orang yang memainkan jalangkung, ketika jalangkung kesurupan dan ditanya ruh siapa yang masuk ke jalangkung tersebut, ia mengaku melalui tulisan, bahwa ia adalah ruh para ulama atau kyai atau para pahlawan yang telah meninggal dunia. 5. Ketika ada orang yang meninggal dengan menyimpan bayak harta yang tidak diketahui oleh ahli warisnya, maka beberapa hari kemudian, salah seorang atau beberapa orang ahli warisnya, diberitahu tempat ia menyimpan hartanya tadi oleh ruh orang yang telah meninggal tadi melalui mimpinya. Dan ternyata ketika keesokan harinya dicek, ternyata benar bahwa di tempat yang ia tunjukkan itu ada harta yang banyak, yang ia simpan! 6. Ketika ada orang yang berbuat gaduh atau main - main di kuburan yang dianggap keramat atau di tempat - tempat angker, maka orang tersebut bisa dilempar batu atau ditampar, oleh seseorang yang tidak nampak ujudnya. 7. Ketika ada orang yang belampah atau menyepi di pekuburan, maka setelah beberapa hari kemudian, ia ditemukan oleh seseorang yang mengaku sebagai ruh orang yang telah meninggal, setelah itu orang yang belampah / menyepi itu meminta sesuatu kepadanya, setelah itu ternyata apa yang dimintanya benar - benar terkabul atau menjadi kenyataan. Dan tentu saja kejadian - kejadian aneh lainnya di dunia ini, yang berhubungan dengan ruh orang yang telah meninggal dunia. Pertanyaannya adalah: 1. Benarkah keyakinan atau kepercayaan sebagian masyarakat bahwa ruh orang yang telah meninggal itu, dapat kembali ke dunia, dapat menjadi hantu, dapat merasuk ke tubuh orang yang masih hidup atau menyebabkan kesurupan, dapat menjadi jalangkung dan lain - lain. itu dipandang dari sudut pandang Islam atau Al - Qur'an dan Sunnah Nabi? 2. Jika benar, mungkin tidak ada masalah, namun jika salah, mengapa berbagai kejadian ghoib terkait dengan ruh orang yang telah meninggal sebagaimana disebutkan di atas benar - benar bisa terjadi di masyarakat? 3. Siapakah penyebabbya? dan Apa Tujuannya? Untuk menjawab pertanyaan pertama di atas, marilah kita perhatikan firman Alloh SWT dalam Alquran dan beberapa Hadits Nabi berikut ini: 1. Firman Alloh SWT dalam QS. Al - Anfal ayat 50, menyatakan: "Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata):" Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar ", (tentulah kamu akan merasa ngeri). 2. Sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Malik dan Imam Nasa'i, menyatakan: "Ruh orang mukmin itu, tidak lain melainkan (menjadi) burung - burung yang menggantung di pohon surga, sampai Alloh mengembalikan dia ke badannya di hari kiamat " 3. Sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majjah dan Imam Thabranie, menyatakan "Sesungguhnya ruh orang mukmin itu berjalan - jalan di surga ke mana saja ia suka dan ruh orang kafir itu disiksa di neraka" 4. Dalam banyak hadits yang menyatakan, bahwa ruh orang yang meninggal itu, di alam kubur akan mengalami dua nasib. Untuk ruh orang - orang mukmin yang baik, maka akan dijembarkan / diluaskan kuburnya dan akan mengalami tidur panjang dengan mimpi - mimpi indah dan penuh kenikmatan, yang diistilahkan dengan mendapatkan nikmat kubur. Sedangkan untuk orang - orang kafir, munafik dan orang - orang jahat, maka ia akan disempitkan kuburnya dan mengalami berbagai siksaan kubur, sampai hari kiamat. Dari ayat Alquran dan beberapa Hadits di atas, maka Para Ulama menyimpulkan, bahwa: Tidak mungkin ruh orang yang telah meninggal itu dapat kembali ke dunia, dapat menjadi hantu, dapat merasuk ke tubuh orang yang masih hidup atau menyebabkan kesurupan, dapat menjadi jalangkung, dapat memberi kabar kepada orang yang masih hidup melalui mimpi, bisa dimintai tolong, bisa marah ketika kuburnya tidak dibersihkan atau diberikan sesaji dan lain - lain. Karena, beberapa alasan sebagai berikut: 1. Kalau orang yang meninggal itu orang yang baik, ngapain dia sudah enak - enak nikmat qubur, kok mau susah - susah gentayangan ke dunia? Sedangkan kalau ia termasuk ruh orang yang jahat, kapan ada kesempatan ke dunia, wong ia selalu disiksa dengan siksa kubur. Dan kalau benar dia bisa kembali ke dunia, tentu tidak mau lagi kembali ke kubur, karena takut disiksa lagi di kuburan. 2. Selain itu, antara alam kubur dan alam dunia itu ada sutu dinding pembatas yang tidak bisa ditembus lagi, yakni alam barzah (dinding yang membatasi). Kalau demikian, mengapa berbagai kejadian ghoib, terkait dengan ruh orang yang telah meninggal, sebagaimana disebutkan di atas benar - benar bisa terjadi? Siapa penyebabnya? Dan Apa Tujuannya? Sebagaimana kita maklum bahwa, adanya makhluk ghoib yang diciptakan Alloh SWT, yang selalu menjadi musuh manusia sejak diusir dari surga brsama - sama Nabi Adam As beserta istrinya, sampai hari kiamat nanti, Mereka dan anak keturunannya, akan selalu menggoda manusia dengan dengan berbagai cara, guna menemukan teman sebanyak - banyaknya di neraka kelak. Siapakah mereka? Tidak lain adalah Iblis dan anak keturunannya yakni para syaithon. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa: berbagai kejadian ghoib seperti: hantu, genderuwo, thuyul, jalangkung, mayat hidup (hantu pocong) yang katanya sering muncul di tempat - temapt yang dianggap angker, termasuk ruh yang masuk ke tubuh orang yang kesurupan, termasuk keramat kuburan orang - orang yang dianggap wali Alloh, semua itu bukanlah disebabkan oleh ruh orang - orang yang telah neninggal. Tetapi, semua itu disebabkan oleh sandiwara atau permainan setan. Lantas apa tujuannya? Tujuannya tidak lain, agar manusia menjadi takut ke masjid atau ke langgar, agar tempat - tempat yang dianggap angker atau keramat menjadi semakin ditakuti dan disegani, agar kuburan para wali semakin banyak dikunjungi dan dimintai berkah dan syafaat atau pertolongan. Dengan demikian keimanan manusia menjadi rusak, karena menjadi syirik atau menyekutukan Alloh karenanya. Sehingga pada akhirnya syaithan itu akan memperoleh teman yang banyak di neraka kelak. Na'udzubillahi mindzalika! mudah - mudahan dapat menjadikan kita lebih waspada terhadap sandiwara dan permainan setan, dengan berbagai ragam gaya dan bentuknya, terutama yang terkait dengan berbagai kejadian ghoib, di mana dalam hal ghoib ini justru syaithan sangat berhasil dalam menggoda dan menjerumuskan manusia. Dengan kewaspadaan itu, mudah - mudahan, diri kita, keluarga kita, anak - anak kita dan saudara kita kaum muslimin dan muslimat di manapun saja berada, dapat terhindar dari berbagai kepercayaan ghoib yang salah, yang tidak berdasarkan ayat - ayat Alquran dan Hadits-Hadts Nabi, yang dapat merusak keimanan kita dan merusak ibadah kita, yang dapat menjerumuskan ke dalam perbuatani syirik atau menyekutukan Alloh, sehingga kita dapat terhindar dari sikas api neraka di akhirat kelak. Aamien Yaa Robbal 'Aalaien. marilah kita perhatikan firman Alloh SWT dalam QS. An-Nisa: 48 "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, untuk siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia Telah berbuat dosa yang besar "


Seorang anak yang memuliakan kedua ibu bapanya walaupun ibu bapa telah bertukar menjadi babi Di zaman Nabi Musa a.s ada seorang pemuda yang memuliakan ibu bapanya. Lalu Nabi Musa a.s pergi ke rumah pemuda itu untuk melihat apakah amalan yang dilakukannya itu. Setelah memberi salam pemuda itu menjemput Nabi Musa a.s masuk ke dalam rumahnya. Baginda pun duduk di ruang tamu rumah pemuda tersebut. Namun pemuda itu tidak melayan Nabi Musa a.s dan heranlah Nabi Musa akan tingkah laku pemuda itu, dia terus masuk ke dalam kamar kemudian membawa seekor babi betina keluar dari kamar itu, dia menggendong dengan hati-hati, kemudian memandikannya. Nabi Musa sekali lagi terheran-heran dan berkata dalam hati ” apakah artinya semua ini?” Babi itu dibersihkan dan dimandikan dengan baik. Setelah itu babi itu dilap hingga kering serta dipeluk dan dicium kemudian dimasukkan lagi ke dalam kamar semula. Selepas itu pemuda itu keluar dengan seekor babi jantan pula dan lebih besar sedikit dari yang tadi. dan diperlakukan seperti babi yang sebelumnya juga. Selepas semua kerja selesai barulah ia melayan Nabi Musa a.s. Lalu Nabi Musa a.s bertanya kepada pemuda itu tadi ” Apakah agama tuan hamba?” . “Islam agamaku” jawab pemuda itu ringkas. ” Habis kenapa kamu membela babi?” tanya Nabi Musa a.s lagi. Wahai tuan hamba kedua-dua babi yang aku bantu, dan aku mandikan itu tadi ialah ibu bapa kandungku, Oleh sebab mereka banyak melakukan dosa besar, Allah telah menukarkan rupa mereka kepada rupa babi yang bodoh. Soal dosa mereka dengan Allah itu soal lain, itu urusannya sama Allah. Aku sebagai anak tetap melaksanakan tanggungjawabku kepada mereka berdua. Hari-hari aku berbakti kepada kedua orang tua ku itu sepertimana yang tuan hamba lihat tadi”. sambungnya Setiap hari aku berdoa semoga Allah berikan rupa ayah dan ibu muka rupa mereka yang asal, tetapi Allah belum lagi mengkabulkannya, tambahnya lagi Maka ketika itu juga Allah berfirman dan menurunkan wahyu kepada Nabi Musa a.s “Wahai Musa inilah orang yang akan bertetangga dengan kamu di syurga nanti hasil baktinya yang sangat tinggi kepada ibu bapanya. Ibu bapanya yang sudah buruk dan bodoh dengan rupa babi pun dia tetap juga berbakti. Oleh itu kami naikkan maqamnya sebagai anak soleh di sisi Kami”. Allah juga berfirman lagi yang bermaksud ” Oleh karena dia telah berada di maqam anak yang soleh di sisi Kami, maka Kami angkat doanya. Tempat ibu bapanya yang Kami sediakan di neraka telah kami tukarkan / pindahkan ke dalam syurga”.


Penghancur Persahabatan Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah. Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya. Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya. Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur - disakiti, diperhatikan - dikecewakan, didengar - diabaikan, dibantu - ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian. Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya. Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah. Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataan kasih dari orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya. Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya, karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis. Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya. Beberapa hal seringkali menjadi penghancur persahabatan antara lain: 1. Masalah bisnis UUD (Ujung-Ujungnya Duit) 2. Ketidakterbukaan 3. Kehilangan kepercayaan 4. Perubahan perasaan antar lawan jenis 5. Ketidaksetiaan. Tetapi penghancur persahabatan ini telah berhasil dipatahkan oleh sahabat-sahabat yang teruji kesejatian motivasinya. Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri. "Dalam masa kejayaan, teman² mengenal kita. Dalam kesengsaraan, kita mengenal teman² kita." Ingatlah kapan terakhir kali anda berada dalam kesulitan. Siapa yang berada di samping anda? Siapa yang mengasihi anda saat anda merasa tidak dicintai? Siapa yang ingin bersama anda pada saat tiada satu pun yang dapat anda berikan? Merekalah sahabat² anda. Hargai dan peliharalah selalu persahabatan anda dengan mereka.


Sakaratul Maut "Kalau sekiranya kamu dapat melihat malaikat-malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka serta berkata," Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar. "(niscaya kamu akan merasa sangat ngeri) (QS. Al-Anfal {8}: 50). "Celakalah jika kamu melihat di waktu orang-orang yang lalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata)," Keluarkanlah nyawamu! " Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Alloh (perkataan) yang tidak benar dan karena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya ". (Qs. Al-An'am: 93). Cara Malaikat Izrail mencabut nyawa tergantung dari amal perbuatan orang yang bersangkutan, bila orang yang akan meninggal itu durhaka kepada Alloh, maka Malaikat Izrail mencabut nyawa secara kasar. Sebaliknya, bila terhadap orang yang saleh, cara mencabutnya dengan lemah lembut dan dengan hati-hati. Namun demikian peristiwa terpisahnya nyawa dengan raga tetap teramat menyakitkan. "Sakitnya sakaratul maut itu, kira-kira tiga ratus kali sakitnya dipukul pedang". (HR Ibnu Abu Dunya). Di dalam kisah Nabi Idris as, beliau adalah seorang ahli ibadah, kuat mengerjakan sholat sampai puluhan raka'at dalam sehari semalam dan selalu berzikir di dalam kesibukannya sehari-hari. Catatan amal Nabi Idris as yang sedemikian banyak, setiap malam naik ke langit. Hal itulah yang sangat menarik perhatian Malaikat Maut, Izrail. Maka bermohonlah ia kepada Alloh swt agar di perkenankan mengunjungi Nabi Idris as di dunia. Alloh Swt, mengabulkan permohonan Malaikat Izrail, maka turunlah ia ke dunia dengan menjelma sebagai seorang pria tampan, dan bertamu kerumah Nabi Idris. "Assalamu'alaikum, yaa Nabi Alloh". Salam Malaikat Izrail , "Wa'alaikum salam wa rahmatulloh". Jawab Nabi Idris as Ia sama sekali tidak mengetahui, bahwa pria yang bertamu ke rumahnya itu adalah Malaikat Izrail. Seperti tamu yang lain, Nabi Idris as melayani Malaikat Izrail, dan ketika tiba saat berbuka puasa, Nabi Idris as mengajaknya makan bersama, namun di tolak oleh Malaikat Izrail. Selesai berbuka puasa, seperti biasanya, Nabi Idris as mengkhususkan waktunya "menghadap". Alloh sampai keesokan harinya. Semua itu tidak lepas dari perhatian Malaikat Izrail. Juga ketika Nabi Idris terus- menerus berzikir dalam melakukan kesibukan sehari-harinya, dan hanya berbicara yang baik-baik saja. Pada suatu hari yang cerah, Nabi Idris as mengajak jalan-jalan "tamunya". Itu ke sebuah perkebunan di mana pohon-pohonnya sedang berbuah, ranum dan menggiurkan . "Izinkanlah saya memetik buah-buahan ini untuk kita". pinta Malaikat Izrail (menguji Nabi Idris as). "Subhanalloh, (Maha Suci Alloh)" kata Nabi Idris as "Kenapa?" Malaikat Izrail pura-pura terkejut. "Buah- buahan ini bukan milik kita ". Ungkap Nabi Idris as Kemudian Beliau berkata:" Semalam Anda menolak makanan yang halal, kini Anda menginginkan makanan yang haram ". Malaikat Izrail tidak menjawab. Nabi Idris as perhatikan wajah tamunya yang tidak merasa bersalah. Diam-diam beliau penasaran tentang tamu yang belum dikenalnya itu. Siapakah gerangan? pikir Nabi Idris as "Siapakah engkau sebenarnya?" tanya Nabi Idris as "Aku Malaikat Izrail". Jawab Malaikat Izrail. Nabi Idris as terkejut, hampir tak percaya, seketika tubuhnya bergetar tak berdaya . "Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku?" selidik Nabi Idris as serius. "Tidak" Senyum Malaikat Izrail penuh hormat. "Atas izin Alloh, aku sekedar berziarah kepadamu". Jawab Malaikat Izrail. Nabi Idris manggut-manggut, beberapa lama kemudian beliau hanya terdiam. "Aku punya keinginan kepadamu". Tutur Nabi Idris as "Apa itu? katakanlah! ". Jawab Malaikat Izrail." Kumohon engkau bersedia mencabut nyawaku sekarang. Lalu mintalah kepada Alloh SWT untuk menghidupkanku kembali, agar bertambah rasa takutku kepada-Nya dan meningkatkan amal ibadahku ". Pinta Nabi Idris as" Tanpa seizin Alloh, aku tak dapat melakukannya ", tolak Malaikat Izrail. Pada saat itu pula Alloh SWT memerintahkan Malaikat Izrail agar mengabulkan permintaan Nabi Idris as Dengan izin Alloh Malaikat Izrail segera mencabut nyawa Nabi Idris as sesudah itu beliau wafat. Malaikat Izrail menangis, memohonlah ia kepada Alloh SWT agar menghidupkan Nabi Idris as kembali. Alloh mengabulkan permohonannya. Setelah dikabulkan Allah Nabi Idris as hidup kembali . "Bagaimana rasa mati itu, sahabatku?" Tanya Malaikat Izrail. "Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti". Jawab Nabi Idris as "Caraku yang lemah lembut itu, baru kulakukan terhadapmu". Kata Malaikat Izrail. MasyaAlloh, lemah-lembutnya Malaikat Maut (Izrail) itu terhadap Nabi Idris as Bagaimana jika sakaratul maut itu, datang kepada kita? Siapkah kita untuk menghadapinya?


Perjalanan Hidup Manusia Manusia hidup dengan jalan hidupnya masing-masing. Ada yang kuliah, ada yang kerja, bahkan ada pula yang pengangguran. Ada yang kaya, ada yang sederhana, bahkan tidak sedikit pula mereka yang miskin. Jalan hidup memang merupakan kapasitas dan kadar kemampuan dari seorang hamba yang telah Allah berikan untuknya. Orang kaya di uji dengan kekayaannya, dan orang miskin di uji dengan kemiskinannya. Dengan segala perbedaan ujian itu, dapat dipastikan bahwa kapasitas dan kadar kemampuan seorang hamba pun juga berbeda-beda. Banyak yang mengira bahwa menjadi kaya itu pasti menyenangkan. Tapi tak sedikit pula orang yang hartanya berlimpah justru kecemasannya berlebih dari orang yang kurang mampu. Cemas akan hartanya yang takut kehilangan, cemas akan kenikmatan duniawi yang dapat membuatnya lalai akan adanya Allah, dan cemas apabila dia mati nanti, dia akan meninggalkan hartanya yang tidak sedikit jumlahnya. Kecemasan-kecemasan seperti itulah yang akhirnya membuat banyak orang kaya menjadi stress. Banyak, atau mungkin hampir semua orang yang kurang mampu, berharap bisa menjadi orang kaya. Bisa kerja, kuliah, mempunyai hand phone terbaru, memiliki banyak uang, selalu punya sepatu dan baju baru, dan segala kenikmatan-kenikmatan duniawi yang sebenarnya semua itu hanyalah teman sesaat kita di kala hidup di dunia ini. Setelah itu, tak dapat lagi mereka menemani kita di kehidupan selanjutnya. Hanyalah sebuah kain kafan berwarna putih, pakaian agung dari yang teragung, yang akan kita gunakan untuk menghadap Allah swt. Jangan mengira memiliki semua kemewahan itu bisa membuat kita bahagia. Biasanya kemewahan itu hanyalah modal utama dari rasa keserakahan kita untuk memonopoli diri kita sendiri. SADARLAH! Mungkin semua itu bukan yang terbaik untuk kita. Bisa saja kemewahan itu akan membuat kita lupa akan adanya Allah, akan adanya alam akhirat, akan adanya surga dan neraka, sehingga kita lalai akan kewajiban-kewajiban kita sebagai umat Nabi Muhammad saw. Jangan pernah mengutuk diri sendiri jika kita terlahir sebagai seorang yang tidak berada. Sebab bisa jadi, yang sedikit itu mungkin bisa membawa kita pada keberkahan, membawa kita pada kebaikan, dan membawa kita pada ketenangan. Bisa jadi yang sedikit itu adalah amal untuk kita sebagai hamba yang selalu berucap syukur pada Allah swt di setiap keadaan. Insya Allah. Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas'ud ra. berkata, Rasulullah bersabda kepada kami, sedang beliau adalah orang jujur dan terpercaya, "Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama empat puluh hari berupa nutfah (sperma) kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama waktu itu juga kemudian menjadi mudghah (segumpal daging) selama waktu itu pula, kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh kepadanya dan mencatat empat perkara yang telah ditentukan yaitu rizki, ajal, amal perbuatan, dan sengsara atau bahagianya. Maka demi Allah yang tiada Tuhan selainNya, sesungguhnya ada seseorang diantara kalian beramal dengan amalan penghuni surga, sehingga tidak ada jarak antara dirinya dengan surga kecuali sehasta saja, namun ketetapan (Allah) mendahuluinya, sehingga ia beramal dengan amalan ahli neraka, maka ia pun masuk neraka. Ada seseorang diantara kalian beramal dengan amalan penghuni neraka, sehingga tidak ada jarak antara dirinya dengan neraka kecuali sehasta saja, namun ketetapan (Allah) mendahuluinya, sehingga ia beramal dengan amalan penghuni surga, maka ia pun masuk surga"(HR. Bukhari dan Muslim) Yakinlah pada diri sendiri. Rizki, jodoh, dan kematian sudah ditentukan oleh Allah. Kita sebagai hambaNya hanya tinggal menjalani tanpa terlepas dari ikhtiar, do'a, dan tawakkal padaNya, sesuai dengan jalan hidup kita masing-masing.


Umur yang mencair seperti es Cepat sekali waktu berlalu. Mengalir tak pernah berhenti. Jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik, bergerak. Waktu tak dapat ditunda, tak dapat ditahan dan tak mungkin ada yang mampu mengulang. Itu artinya, usia kita pun berkurang. Kita... semakin dekat ke liang lahat. Saudaraku, entah, apakah pertambahan dan perguliran waktu itu, berarti mendekatkan diri kita pada kenikmatan surga. Atau mendekatkan kita pada kesengseraan neraka. Nauzubillah.... Rasul saw. Menyifatkan cepatnya perjalanan waktu kehidupan seperti perjalanan seorang musafir yang hanya sejenak berhenti di bawah pohon di tengah perjalanan yang amat panjang. Para ulama juga banyak menguraikan ilustrasi tentang hidup yang amat singkat ini. "Umurmu akan mencair seperti mencairnya es, " kata Imam Ibnul Jauzi. (Luthfu fil Wa'z, 31) Saudaraku, sahabatku, Semoga Allah memberkahi sisa usia kita, Permasalah terbesar setiap orang adalah ketika kecepatan umur dan waktu hidupnya tidak seiring dengan kecepatannya untuk menyelamatkan diri dari penderitaan abadi di akhirat. Ketika, usia yang sangat terbatas itu tidak berfungsi sebagai pelindung diri dari beratnya adzab dan siksa Allah swt. Di saat, banyaknya hembusan dan tarikan nafasnya tak sebanding dengan upaya dan jihadnya untuk terhindar dari lubang kemurkaan Allah. Ketika, jumlah detak jantung dan aliran darah yang di pompa di dalam tubuhnya, tak sebanyak gerak dan tingkahnya untuk menjauhi berbagai kemaksiatan yang dapat memunculkan kesengsaraan akhirat. Saudaraku, Sesungguhnya jiwa kita adalah milik Allah dan kepada-Nya lah jiwa ini akan kembali.... Suasana hati seperti inilah yang perlu kita tumbuhkan. Adakah di antara kita yang tidak mempunyai dosa? Atau merasa mampu menebus kotoran dan dosa yang telah dilakukan selama puluhan tahun usia yang telah lewat? Tentu tidak. Perasaan kurang, merasa banyak melakukan kemaksiatan, lalu menimbulkan penyesalan adalah bagian dari pintu-pintu rahmat Allah yang akan mengantarkan kita pada taubat. Suasana hati seperti inilah yang akan mendorogng pemilikinya bertekad mengisi hari dengan amal yang lebih untuk menebus kesalahan yang lalu. Saurdaraku, mari menangguk pahala, meraih rahmat dan ampunan Allah sebanyak-banyaknya sekarang juga. Perbanyaklah dzikir, bersedekah, berjihad dan beramal shalih.....Tak ada kata terlambat untuk melakukan kebaikan. Sekarang dan jangan tunda-tunda lagi niat baik kita.... Semoga Allah meneguhkan kekuatan kita untuk melakukan kebaikan yang kita niatkan... Amiiin.


Wanita Bisu, Tuli, Buta dan Lumpuh Yang Engkau Cintai Seseorang yang saleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat sebuah apel jatuh ke luar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah terbitlah air liur Tsabit, terlebih-lebih di hari yang sangat panas dan di tengah rasa lapar dan haus yang mendera. Maka tanpa berpikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang terlihat sangat lezat itu. Akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahwa buah apel itu bukan miliknya dan dia belum mendapat ijin pemiliknya. Maka ia segera pergi ke dalam kebun buah-buahan itu dengan maksud ingin menemui pemiliknya agar menghalalkan buah apel yang telah terlanjur dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang pria. Maka langsung saja ia berkata, "Aku sudah memakan setengah dari buah apel ini. Aku harap Anda menghalalkannya". Orang itu menjawab, "Aku bukan pemilik kebun ini. Aku hanya khadamnya yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya". Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, "Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini." Manajer kebun itu memberitahukan, "Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalanan sehari semalam". Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orangtua itu, "Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Rasulullah Saw sudah memperingatkan kita lewat sabdanya:" Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka. " Tsabit pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba disana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata, "Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu sudikah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu? "Pria tua yang ada di depan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba," Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat. "Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu karena takut ia tidak bisa memenuhinya. Maka segera ia bertanya, "Apa Persyaratan itu tuan?" Orang itu menjawab, "Engkau harus mengawini putriku!" Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, "Apakah karena hanya aku makan setengah buah apelmu yang jatuh ke luar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu? "Tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya," Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang gadis yang lumpuh! " Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan seperti itu patut dia persunting sebagai istri gara-gara ia memakan setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, "Selain syarat itu aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan!" Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, "Aku akan menerima pinangannya dan perkawinannya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul 'Alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta'ala ". Maka pernikahanpun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkawinan usai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam, "Assalamu'alaikum ...." Tak dinyana sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi menjadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk akan menghampiri wanita itu, dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya. Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini. "Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada di hadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula ", kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berpikir mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya? Setelah Tsabit duduk disamping istrinya, dia bertanya, "Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta. Mengapa? "Wanita itu kemudian berkata," Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah ". Tsabit bertanya lagi," Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa? "Wanita itu menjawab," Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah. Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan? "Tanya wanita itu pada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan istrinya. Selanjutnya wanita itu berkata," aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya mengunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta'ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta'ala ". Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang ternyata amat saleh dan wanita yang akan memelihara dirinya dan melindungi hak-haknya sebagai suami dengan baik. Dengan bangga ia berkata tentang istrinya, "Ketika kulihat wajahnya ... ... Subhanallah, dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap". Tsabit dan istrinya yang salihah dan cantik rupawan itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke penjuru dunia. Itulah Al Imam Abu Hanifah An Nu'man bin Tsabit.


SUARA YANG DIDENGAR MAYAT Yang Akan Ikut Mayat Adalah Tiga: Keluarga, Hartanya, Dan Amalnya. Ada Dua Yang Kembali Dan Satu Tinggal Bersamanya; Keluarga Dan Hartanya Akan Kembali Sementara Amalnya Akan Tinggal Bersamanya. Ketika Roh Meninggalkan Jasad ... Terdengar Suara Dari Langit Memekik , "Wahai Fulan Anak Si Fulan .. Apakah Kau Yang Telah Meninggalkan Dunia, Atau Dunia Yang Meninggalkanmu Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Harta Kekayaan, Atau Kekayaan Yang Telah Menumpukmu Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Dunia, Atau Dunia Yang Telah Menumpukmu Apakah Kau Yang Telah Mengubur dunia, Atau Dunia Yang Telah Menguburmu. " Ketika Mayat tergeletak akan dimandikan .... Terdengar Dari Langit Suara Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan ... Mana Badanmu yang dulu Kuat Mengapa Kini Terkulai Lemah Mana Lisanmu Yang dahulunya Fasih Mengapa Kini Bungkam tak Bersuara Mana Telingamu Yang dahulunya Mendengar Mengapa Kini Tuli Dari Seribu Bahasa Mana Sahabat-Sahabatmu Yang dahulunya Setia Mengapa Kini Raib Tak Bersuara Ketika Mayat Siap Dikafan ... Suara Dari Langit Terdengar Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan Berbahagialah Apabila Kau Bersahabat Dengan Ridha Allah Celakalah Bila Kau Bersahabat Dengan Murka Allah Wahai Fulan Anak Si Fulan ... Kini Kau Tengah Berada Dalam Sebuah Perjalanan Nun Jauh Tanpa Bekal Kau Telah Keluar Dari Rumahmu Dan Tidak Akan Kembali Selamanya Kini Kau Tengah Safar Pada Sebuah Tujuan Yang Penuh Pertanyaan. " Ketika mayat diusung .... Terdengar Dari Langit Suara Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan .. Berbahagialah Bila amalmu Adalah Kebajikan Berbahagialah Apabila Matimu Diawali Tobat Berbahagialah Apabila Hidupmu Penuh Dengan Taat. " Ketika Mayat Siap dishalatkan .... Terdengar Dari Langit Suara memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan .. Setiap Pekerjaan Yang Kau Lakukan Kelak Kau Lihat Hasilnya Di Akhirat Apabila Baik Maka Kau Akan Melihatnya Baik Apabila Buruk, Kau Akan Melihatnya Buruk. " Ketika Mayat dibaringkan di Liang Lahat .... Terdengar Suara Memekik Dari Langit, "Wahai Fulan Anak Si Fulan. .. Apa Yang Telah Kau Siapkan Dari Rumahmu Yang Luas Di Dunia Untuk Kehidupan Yang Penuh Gelap Gulita Di Sini Wahai Fulan Anak Si Fulan ... Dahulu Kau Tertawa Kini Dalam Perutku Kau Menangis Dahulu Kau Bergembira Kini Dalam Perutku Kau Berduka Dahulu Kau Bertutur Kata Kini dalam Perutku Kau Bungkam Seribu Bahasa. " Ketika Semua Manusia Meninggalkannya Sendirian .... Allah Berkata Kepadanya, "Wahai Hamba-Ku ..... Kini Kau Tinggal Seorang Diri Tiada Teman Dan Tiada Kerabat Di Sebuah Tempat Kecil, Sempit Dan Gelap .. Mereka Pergi Meninggalkanmu .. Seorang Diri Padahal, Karena Mereka Kau Pernah Langgar Perintahku Hari Ini ,.... Akan Kutunjukan Kepadamu Kasih Sayang-Ku Yang Akan Takjub Seisi Alam Aku Akan Menyayangimu Lebih Dari Kasih Sayang Seorang Ibu Pada Anaknya. Kepada Jiwa-Jiwa Yang Tenang Allah Berfirman, "Wahai Jiwa Yang Tenang Kembalilah Kepada Tuhanmu Dengan Hati Yang Puas Lagi diridhai-Nya Maka Masuklah Ke Dalam Jamaah Hamba-Hamba-Ku Dan Masuklah Ke Dalam Jannah-Ku Anda Ingin Beramal Shaleh ...? Tolong Kirimkan Kepada Rekan-Rekan Muslim Lainnya Yang Anda Kenal ...


Salju Telah Turun Di Dataran Arab Sebagai Salah Satu Tanda Datangnya Hari Kiamat di Arab Saudi yang merupakan daerah gurun pasir yang sangat panas dimana matahari bersinar sepanjang hari, telah terjadi suatu fenomena alam yang langka, yaitu dengan turunnya salju dengan lebatnya. Tepatnya di darah Tabuk 1500 km dari Riyad (Ibukota Arab Saudi) ketebalan salju mencapai 20 cm, dan di Yordania suhu mencapi titik beku (0 derajat celcius). Ternyata tahun-tahun terakhir ini di Jazirah Arab yang notabenenya gurus pasir panas, turunnya salju ini telah sering terjadi, tetapi hal ini ditutup-tutupi atau tidak dipublikasikan secara luas. Ada apa gerangan dengan terjadinya fenomena alam tersebut ?....... Bagi umat Islam yang telah memahami ajaran Islam, turunnya salju di arab saudi ini bukan merupakan hal yang aneh, karena hal ini telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW 1400 tahun yang lalu . Ketika para sahabat menanyakan kepada Rasulallah SAW mengenai kapan datangnya hari kiamat. Rasulallah SAW menjawab, bahwa pengetahuan tentang hari kiamat hanya ada pada sisi Allah SWT. Tetapi Allah SWT telah memberitahukan tanda-tandanya kepada Rasulallah SAW, antara lain sebagaimana diterangkan dalam salah satu Hadist Rasulallh SAW: "Hari Akhir tidak akan datang kepada kita sampai dataran Arab sekali lagi menjadi dataran berpadang rumput dan dipenuhi dengan sungai-sungai (HR Muslim) " Dari Hadist Rasulallah SAW di atas ada beberapa informasi yang didapat: 1. Informasi datangnya hari akhir / kiamat; 2. Dahulu kala dataran / jazirah Arab pernah menjadi padang rumpur yang subur dan dipenuhi dengan sungai-sungai; dan 3. Nanti, dataran Arab sekalai lagi akan menjadi padang rumput dan dipenuhi dengan sungai-sungai, sebagai salah satu tanda datangnya hari kiamat. Jauh-jauh hari sebelum terjadinya turun salju di Arab Saudi dewasa ini sebagaimana diberitakan di atas, para ilmuan dari King Abdul Aziz University (Arab Saudi) bekerja sama dengan para ilmuan barat dan manca negara telah melakukan penelitian ilmiah mengenai fenomena-fenomena alam yang diterangkan dalam Al-Quran dan Al-Hadist. Salah satunya mempelajari tentang Hadist Rasulallah SAW di atas. Penelitian ini antara lain dilakukan bersama dengan seorang orientalis, Profesor Alfred Kroner, seorang ahli ilmu bumi (geologi) terkemuka dunia, dari Department Ilmu Bumi Institut Geosciences, Johannes Gutenburg University, Mainz, Germany. Ketika ditanyakan kepada Prof. Korner oleh para Ilmuan King Abdul Aziz sebagaimana diterangkan dalam Islam dan Sains hal. 25-26: * Bagaimana Nabi Muhammad SAW bisa mengetahui bahwa dahulu kala jazirah / tadaran Arab merupakan padang rumput yang subur dan dipenuhi oleh sungai-sungai yang mengalir ?..... Karena Prof Korner tidak beriman kepada Al-Quran dan Al-Hadist, ia menjawab dengan tuduhan bahwa bisa saja Nabi Muhammad SAW mengetahui hal tersebut dari kitab-kitab lama seperti Jabur, Tauret dan Injil yang sering menceritakan bahwa dulu di dataran Arab merupakan padang rumput yang subur dengan banyaknya cerita tentak para pengembala ternak, cerita-cerita tentang kebun anggur dan cerita-cerita tentang pemilik perkebunan yang subur yang sering diceritakan dalam kitab-kitab tersebut. Atau bisa jadi Nabi Muhammad SAW menconteknya dari ilmuan-ilmuan dari Roma pada saat itu; * Menanggapi tuduhan Prof. Korner tersebut, Ilmuan King Abdul Aziz, menjawab OK, anda bisa saja menuduh seperti itu, tapi apakah kondisi dataran Arab yang subur dahulu kala itu bisa dibuktikan secara ilmiah pada masa Nabi Muhammad SAW hidup 1400 tahun yang lalu ?.... Prof. Korner menjawab pada masa itu belum dapat ibuktikan, karena sains dan teknologinya tidak memungkinkan. * Apakah hal itu benar-benar terjadi dan dapat dibuktikan secara ilmiah dengan teknologi canggih dewasa ini? ... Prof. Korner menjawab ya! .. dahulu dataran Arab dipenuhi dengan kebun-kebun yang subur dan sunga-sungai yang mengalir, dan secara ilmiah keadaan tersebut dapat dibuktikan. Prof Korner menjelaskan bahwa dahulu selama Era Salju (Snow Age), kemudian Kutub Utara Icebergs perlahan-lahan bergerang ke arah selatan sehingga relatif terdekat dengan Jazirah Arab, pada saat itu iklim dataran Arab berubah dan menjadi salah satu daerah yang paling subur dan hijau di muka bumi. Ini merupakan akta sains yang tidak bisa dibantah. * Pertanyaan selanjutnya, bagaimana Nabi Muhammad SAW dapat mengetahui juga bahwa sekali lagi dataran Arab itu akan menjadi daerah yang subur dipenuhi kebun-kebun dan sungai-sungai sebagai tanda datangnya hari kiamat, padahal pada waktu itu 1400 tahun yang lalu teknologinya belum memungkinkan untuk mengetahui hal tersebut dan informasi tersebut satupun tidak diterangkan baik dalam kitab-kitab terdahulu maupun dalam penelitian ilmuan-ilmuan Roma ?....... Prof. Korner enjawab dengn malu-malu, bahwa Nabi Muhammad SAW dapat mengetahui informasi itu asti dari sesutu yang mengetahui betul tentang alam ini (cuma Prof. Korner menghindari ntuk mengatakan secara terus terang bahwa sebenarnya informasi itu datangnya dari Tuhan, Allah SWT yang paling tahu tentang alam ini, karena Dia-lah yang telah enciptakan dan mengaturnya). * Dan apakah informasi yang dikabarkan Nabi Muhammad SAW 1400 yang lalu bahwa sekali lagi dataran Arab itu akan menjadi daerah yang subur dipenuhi kebun-kebun dan sungai-sungai benar-benar akan terjadi? ..... Prof Korner menjawab dengan tegas ya! ... karena sebenarnya proses itu sekarang sedang terjadi. Era Salju Baru (New Snow Age) sebenarnya telah dimulai, sekali lagi sekarang salju di kutub Utara sedang merangkak / bergeser perlahan-lahan ke arah elatan mendekati Semenanjung Arab. Hal ini dapat dibuktikan dengan fakta dan sains, dimana tanda-tanda itu nampak dengan jelas di dalam badai salju yang menghujani bagian utara Eropa dan Amerika setiap musim salju tiba. Dan sekarang terbukti bahwa salju telah beberapa kali turun di dataran Arab sebagaimana diberitakan TV Arab Saudi dan RCTI di atas. Kejadian di atas merupakan salah satu bukti yang telah dijanjikan Allah SWT bahwa firman-Nya yang disampaikan melalui Nabi Muhammad SAW dalam Al-Quran dan Al -Hadist adalah benar datang dari Tuhan pencipta alam semesta ini, yaitu Allah SWT. Sebagaiman firman Allah SWT: "Al-Quran ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Al-Quran setelah beberapa waktu lagi" (QS. Shad :87-88) Hai manusia di dunia, apalagi yang yang menghalagi kita untuk beriman bahwa: "Tidak ada Tuhan selaian Allah, dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah "....... padahal kebenarannya telah terbukti ?........ dan hari kiamat telah di depan mata ???...... Masih banyak lagi kebenaran tentang fenomena alam yang diterangkan dalam Al-Quran dan Al-Hadist yang dikabarkan 1400 tahun yang lalu yang baru terbukti secara ilmiah melalui penelitian sains dan teknologi canggih selama bertahuan-tahun sampai sekarang ini. Seperti kejadian manusia yang diterangkan secara rinci dalam A-Quran yang baru terbukti secara ilmiah oleh ilmu kedokteran yang canggih dewasa ini, keterangan tentang tata surya, kejadian gunung-gunung, kejadian laut dan keberadaan mata air tawar di dasar laut asin yang dalam, keterangan tentang saraf manusia, dan masih banyak lagi. Al-Quran merupakan mu'jizat terbesar yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dibandingkan dengan mu'jizat-mu'jizat lain yang diberikan Allah kepada para nabi Allah SWT yang lain. Mu'jizat merupakan salah satu bukti yang diberikan Allah untuk membuktikan kepada umat manusia bahwa seseorang yang diutus itu benar-benar merupakan nabi dan untusan Allah SWT. Mu'jizat diberikan Allah SWT sesuai dengan tarap berpikir masyarakat di masa seorang nabi diutus Allah SWT kepada masyarakat terebut. Seperti mu'jizat nabi-nabi beriktu ini: Dengan kekuasaan Allah SWT Nabi Ibrahim AS tidak mempu dibakar api, Nabi Musa AS dapat membelah laut merah dengan tongkatnya, Nabi Isa AS dapat menghidupkan orang mati dan menyembuhkan orang buta dll. Mu'jizat-mu'jizat tersebut dapat dengan mudah dilihat dan diketahu oleh masyarakat pada masa itu tanpa harus melakukan penelitian dan pengetahuan yang canggih, karena dapat disaksikan dengan mata telanjang oleh orang-orang yang menyaksikannya. Tetapi mu'jizat tersebut hanya bisa disaksikan pada masa itu saja dan tidak dapat dibuktikan kembali oleh masyarakat masa sekarang, masyarakat sekarang hanya bisa mengetahui informasi tersebut dari firman-friman Allah SWT dalam Kitab-kita-Nya. Karena memang nabi-nabi sebelumnya diutus Allah terbatas hanya untuk masyarakatnya saja yang hidup pada masa itu saja. Sementara Nabi Muhammad SAW merupakan nabi terakhir yang diuntus Allah SWT untuk semua umat manusia di dunia sampai akhir zaman, sehingga mu'jizatnya yang terbesar berupa Al- Quran dapat dibuktikan oleh siapa saja kapan saja dan dimana saja sampai hari akhir, asalkan manusia mau mempelajari, mengkaji dan menelitinya. Wallahu a'lam bish shawab.


Ajab KUBUR Berikut kisah tentang seorang pemuda yang meninggal di RS di Oman, Pria berumur 18 tahun ini adalah seorang muslim dan diapun di kuburkan secara Islam setelah di mandikan. Setelah proses penguburan sang ayah pemuda ini, begitu ragu dengan kematian anaknya, dan dia minta untuk di check ulang perihal kematian anaknya, Atas desakan ayahnya, kuburan yang baru ditutup tanah selama 3 jam itu pun di bongkar kembali. Betapa shock sang ayah dan teman-teman dekat pemuda itu, Pria yang berumur 18 tahun setelah di kubur 3 jam cepat berubah menjadi seperti itu, Mayat pemuda itu menjadi Biru dan terlihat menjadi jauh lebih tua dari usianya, wajahnya hancur dan tulang belulangnya patah terlihat benda tumpul telah menghujam tubuhnya. Matanya memancarkan keputus asaan dan ketakutan yang luar biasa, keluarga pemuda itupun mengantarnya ke keseorang guru yang mengerti agama Islam dan mengatakan dengan sebenarnya bahwa itulah siksa kubur yang Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW telah peringatkan. Sang ayah mengatakan selama hidup anaknya telah melalaikan sholat, Hidup bebas dan berbuat banyak dosa. Di dalam Hadis Nabi Muhammad (saw) jelaskan. Setelah kematian, roh orang yang meninggal akan kembali ke tubuh, kemudian dua malaikat akan datang, Yaitu Malaikat Munkar dan Nakir, yang akan menayakan kepada KITA semua setelah mati: "Siapa Tuhanmu?" ia akan menjawab: "Tuhanku - Allah". Kemudian Malaikat akan bertanya: "Apa agama Anda?" ia akan menjawab: "agama saya - Islam." Kemudian malaikat akan bertanya: "Siapa orang yang telah dikirim kepada Anda?" ia akan menjawab: "Dia adalah seorang nabi Allah." Kemudian mereka akan bertanya: "Bagaimana kau tahu?" Dia akan menjawab: "Aku membaca Kitab Allah dan mepercayai Nya. Dan kemudian dari langit suara itu akan datang: "hamba-Ku telah berbicara kebenaran, berbaring ke tempat tidur dari surga dan membuka pintu surga" - kemudian akan penuh dengan kesenangan dan ia mulai merasakan kenikmatan surga dan makamnya menjadi luas, seluas mata memandang .. Nabi Muhammad (SAW) berkata tentang orang-orang yang berdosa. Setelah kematian roh orang mati akan kembali ke tubuh, kemudian dua malaikat akan datang dan bertanya, "Siapa Tuhanmu?" ia akan menjawab: "Saya tidak tahu." Kemudian malaikat akan bertanya: "Siapa orang yang telah dikirim kepada Anda?" ia kembali akan menjawab: Aku "tidak tahu" - Dan kemudian dari langit suara itu akan datang: "Dia berbohong, Masukkan dia ke dalam api neraka, dan makamnya menjadi sempit dan tepinya akan menghimpit. Dalam Hadis itu juga dikatakan bahwa malaikat sangat keras menyiksa orang-orang yang berdosa selama interogasi di alam kubur dan penyiksaan ini akan sangat mengerikan. Hal ini juga diberitahukan, bahwa Rasul kami (Nabi Besar Muhammad SAW) berdoa kepada Allah untuk melindungi umatnya dari siksa kubur dan orang lain untuk melakukannya juga. Cerita tentang anak muda 18 - tahun adalah tanda untuk orang yang beriman, Akan kah kita mampu menjawab pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir saat di alam kubur? Hanya yang tertutup mata hatinya oleh Allah yang tidak akan merasakan takutnya ajab kubur, mereka punya mata tapi tidak melihat, mereka punya telinga tapi tidak mendengar? Apakah mereka adalah kita ..? Sebarkan pada orang terdekat sehingga mereka terbuka mata hatinya dan terhindar dari ajab yang sangat pedih ... Cerita ini di terjemahkan dari bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia, Saya mohon maaf bila ada kesalahan ...


Tidak bisa dipungkiri, makhluk yang namanya manusia pasti pernah mengeluh. Disadari atau tidak, mengeluh seperti sudah menjadi bagian dari hidup. Hanya saja, frekuensi dan kualitas keluhannya yang membedakan antara satu personal dengan personal lainnya. Biasanya perbedaan ini terkait dengan tingkat pemahaman dan cara pandang seseorang tentang suatu masalah yang sedang ia hadapi. Sabar, ikhlas dan seberapa besar keinginan untuk merubah sebuah kondisi menjadi lebih baik, biasanya akan meminimalisir keluhan. Sebaliknya, sikap apriori, pesimis dan berburuk sangka terhadap kejadian yang sedang menimpa secara otomatis akan memunculkan keluhan-keluhan yang alih-alih mendapatkan solusi, malah akan menambah ruwet dan bisa jadi menambah masalah baru. Mengeluh sejatinya perwujudan dari rasa tidak puas, tidak ikhlas menerima sebuah ketentuan yang terjadi, baik dari segi materi dan non materi. Ketika sakit berkeluh kesah, macet mengumpat, banjir atau kekeringan mengkambing hitamkan orang lain. Atau ketika ditimpa musibah menghardik Tuhan tidak adil, gaji kecil, belum punya rumah dan kendaraan pribadi acap menyalahkan suami (untuk para istri) atau anak-anak nakal dan bermasalah tidak jarang meyalahkan istri (untuk para suami). Ya, sebagian contoh kecil tersebut adalah manifestasi dari rasa tidak puas. Belum lagi kita saksikan fenomena di negeri yang kita cintai ini. Berita di televisi mayoritas menyuguhkan tentang aksi demo dan kekerasan, kerusuhan dimana-mana, tindak kriminal, penyalahgunaan kekuasaan, korupsi-kolusi dan nepotisme dan banyak lagi yang kesemuanya menunjukkan pada satu hal: ketidakpuasan! Sebuah potret masyarakat yang diwarnai dengan berbagai keluhan. Lalu, sebagai seorang yang mengaku muslim dan punya tuntunan yang jelas tentu saja kita tidak akan membiarkan diri kita terperosok lebih jauh ke dalam perbuatan yang sesungguhnya dibenci oleh Allah SWT. Kenapa dibenci oleh Allah SWT? Karena sesunggunya Allah menyukai hamba yang senantiasa bersyukur dengan segala ketentuan dan bersabar ketika ditimpa sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan. Melihat fakta yang mayoritas bahwa manusia tidak pernah lepas dari keluh kesah maka sangat penting untuk setiap muslim / muslimah memiliki manajemen yang tepat agar tidak terpeleset dalam keluh kesah yang tidak diperbolehkan dan pandai menyikapi setiap kejadian yang dihadapi dengan mengacu kepada teladan kita Rasulullah SAW. Mengeluh adalah indikasi tidak bersyukur atas nikmat Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam QS An-Nahl: 18, artinya: "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya ". Ketika seseorang hanyut dalam keluhan, panca inderanya pun tak mampu lagi memainkan perannya untuk melihat, mendengar, mencium dan merasakan nikmat yang bertebaran diberikan oleh allah SWT tak henti-hentinya. Hatinya segera buta dari mengingat dan bersyukur atas nikmat Allah yang tidak terbatas. Itulah sifat manusia yang selalu memiliki keinginan yang tidak terbatas dan tidak pernah puas atas pemberian Allah kecuali hamba-hamba yang bersyukur dan itu hanya sedikit. Pada zaman Sayyidina Umar, ada seorang pemuda yang sering berdoa di sisi Baitullah yang artinya: "Ya Allah! Masukkanlah aku dalam golongan yang sedikit. " Doa beliau didengar oleh Sayyidina Umar ketika beliau (Umar) sedang melakukan tawaf di Ka'bah. Umar heran dengan permintaan pemuda tersebut. Setelah melakukan tawaf, Sayyidina Umar memanggil pemuda tersebut dan bertanya: "Mengapa engkau berdoa sedemikian rupa (Ya Allah! Masukkanlah aku dalam golongan yang sedikit), apakah tidak ada permohonan lain yang engkau mohonkan kepada Allah?" Pemuda itu menjawab: "Ya Amirul Mukminin ! Aku membaca doa itu karena aku takut dengan penjelasan Allah dalam surah al-A'raaf ayat 10, yang artinya: "Sesungguhnya Kami (Allah) telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber / jalan) penghidupan. (Tetapi) amat sedikitlah kamu bersyukur "Aku memohon agar Allah memasukkan aku dalam golongan yang sedikit, (lantaran) terlalu sedikit orang yang tahu bersyukur kepada Allah," jelas pemuda tersebut. Semoga kita menjadi hamba-hamba yang dikategorikan sedikit oleh Allah dalam ayat tersebut . Dengan selalu menjaga ikhlas dan sabar terhadap segala kejadian atau ketentuan yang diberikan oleh Allah. Dan berprasangka positif bahwa apa yang telah terjadi adalah yang terbaik menurut Allah, sehingga hanya rasa syukur saja yang terlintas di benak, terucap di bibir dan terlihat dari tindakan karena sesungguhnya jika kita bersyukur maka Allah akan menambahkan nikmat-Nya dan jika kita ingkar, sesunggunya azab Allah sangat pedih (QS Ibrahim: 7). Mengeluhlah hanya kepada Allah SWT Ketika sebuah kejadian yang tidak diinginkan menimpa seseorang, katakanlah ditimpa sebuah masalah yang berdampak menitikkan air mata, menyakitkan hati, membuat kepala berdenyut-denyut dan membuat seseorang itu merasa diberi tes yang sangat berat dan tidak sanggup mengatasinya sendiri, sebuah tindakan manusiawi jika ia membutuhkan orang lain dalam solusi masalahnya. Lalu, benarkah tindakannya jika ia mengeluhkan masalahnya kepada orang lain??? Rasulullah SAW pernah mengalami sebuah kondisi yang jauh dari yang ia inginkan. Para kaum musyrikin mengabaikan seruannya dan juga melemparkan Al-Quran. Mereka telah mengacuhkan Al-Qur'an dalam beberapa bentuk diantaranya: mereka tidak mau mengimani Al-Quran, mereka tidak mau mendengarkan Al-Quran, bahkan mereka menolaknya dan mengatakan bahwa Al-Quran adalah ucapan dan bualan Muhammad si tukang syair dan sihir. Kaum musyrikin juga berusaha untuk mencegah orang-orang yang berusaha mendengarkan Al-Quran dan dakwah Rasulullah SAW. Dalam kondisi tertekan tersebut Rasulullah mengeluh dan mengaduh hanya kepada Allah SWT seperti yang tercantum dalam QS Al-Furqon: 30, yang artinya: "Dan berkatalah Rasul: Ya Tuhanku! Kaumku ini sesung ¬ guhnya telah meninggalkan jauh al-Quran ". Begitu pula dengan nabi Ya'qub dan Nabi ayub, sebagaimana firman Allah dimana Nabi Ya'qup berkata, yang artinya, "Sesungguhnya aku mengeluhkan keadaanku dan kesedihanku hanya kepada Allah" (Qs . Yusuf: 86). Dan Nabi Ayyub as, yang disebutkan Allah dalam firman-Nya, bahwa Ayyub berkata, yang artinya: "Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau (Allah) adalah Yang Maha Penyayang diantara semua penyayang" (Qs Al-Anbiyaa ': 83). Sebaiknya, mengeluhlah hanya kepada Allah SWT, karena sesungguhnya semua kejadian sudah menjadi sebuah ketentuan-Nya dan hanya Dia-lah sebaik-baik pemberi solusi. Tetapi dalam kondisi-kondisi dimana seseorang mengeluh (sharing) tentang masalahnya kepada orang yang ia yakini amanah dan dengan catatan untuk mendapatkan solusi, maka dalam hal ini sebagian ulama memperbolehkan. Sebagaimana Ibnul Qayyim, dalam 'Uddatu Ash Shabirin, menyatakan bahwa adapun menceritakan kepada orang lain tentang perihal kondisi, dengan maksud meminta bantuan petunjuknya atau pertolongan agar kesulitannya hilang, maka itu tidak merusak sikap sabar; seperti orang sakit yang memberitahukannya kepada dokter tentang keluhannya, orang teraniaya yang bercerita kepada orang yang diharapkannya dapat membelanya, dan orang yang tertimpa musibah yang menceritakan musibahnya kepada orang yang diharapkannya dapat membantunya. Membiasakan diri dengan mengeluh positif Mengeluh positif??? Spontan pasti muncul pertanyaan ketika membaca sub judul berikut. Iya, ternyata mengeluh tidak selalu berkonotasi negatif. Tidak sabar menghadapi tes, kurang ikhlas menerima ketentuan dan hasad / iri pada orang lain acap kali membuat diri menjadi tidak berdaya sehingga mengeluarkan kata-kata yang berarti tidak puas yang merupakan perwujudan dari mengeluh. Tetapi, jika seseorang hasad / iri terhadap kebaikan dan amal sholeh orang lain yang membuat dirinya termotivasi untuk berbuat hal yang sama bahkan lebih tanpa mengurangi / menghilangkan kebaikan orang lain tersebut maka hasad model ini dikategorikan sebagian ulama sebagai hasad yang positif. An Nawawi rahimahullah menjelaskan, "Para ulama membagi hasad menjadi dua macam, yaitu hasad hakiki dan hasad majazi. Hasad hakiki adalah seseorang berharap nikmat orang lain hilang. Hasad seperti ini diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama (baca: ijma ') dan adanya dalil tegas yang menjelaskan hal ini. Adapun hasad majazi, yang dimaksud adalah ghibthoh. Ghibthoh adalah berangan-angan agar mendapatkan nikmat seperti yang ada pada orang lain tanpa mengharapkan nikmat tersebut hilang. Jika ghibthoh ini dalam hal dunia, maka itu dibolehkan. Jika ghibthoh ini dalam hal ketaatan, maka itu dianjurkan. Jadi, marilah kita sama-sama membekali diri dengan ketaatan hanya kepada Allah SWT dengan cara senantiasa mendekatkan diri pada-Nya. Tidak pernah puas untuk mempelajari ilmu-ilmu-Nya agar dalam setiap desahan nafas selalu mengkaitkan dengan hukum-hukum-Nya. Jika ada niat dan tekad dengan sungguh-sungguh, insya allah ikhlas dan sabar akan menjadi perhiasan yang akan mewarnai akhlak kita sehari-hari dan kita dihindarkan dari lisan dan sikap yang sering berkeluh kesah. Cukuplah mengeluh positif dalam genggaman, yaitu mengeluh dalam rangka bermuhasabah dan berlomba-lomba dalam kebaikan sehingga dapat meraih derajat taqwa yang sesungguhnya. Wallahu'alam


Bicara tentang investasi tentunya sangat menarik. Siapa sih yang tidak mau uangnya bertambah dengan tidak perlu banyak bekerja? Tentunya, kita semua tergiur untuk mendapatkannya. Namun yang namanya investasi, tentu saja ada risikonya, wajar saja. Malah menjadi tidak wajar dan perlu dicurigai jika ada investasi yang tidak ada risikonya sama sekali. Itulah salah satu hikmah mengapa Islam melarang riba, yaitu investasi dengan keuntungan pasti dan risiko yang sangat kecil. Akibatnya, akan tercipta ketidakadilan dalam transaksi yang mengandung riba. Contohnya saja, jika kita mendepositokan uang di bank konvensional dan dijanjikan mendapatkan bunga pasti delapan persen per tahun. Maka, akan ada dua kemungkinan. Jika bank-nya untung besar dalam setahun, maka kita sebagai investor akan rugi dan bank untung, karena dengan uang kita maka bank untung besar, sementara kita hanya diberikan delapan persen saja. Tapi sebaliknya, jika bank untungnya kecil atau malah rugi, tetap saja bank harus memberikan bunga delapan persen pada investor. Otomatis bank rugi, investor untung. Dan lama-lama bank tersebut bangkrut, lalu uang investor pun hangus. Inilah ketidakadilan dari sistem riba yang dilarang oleh Islam. Nah, sekarang kembali ke pertanyaan Anda tentang penawaran investasi di internet yang menjanjikan keuntungan besar. Kita akan bahas dari dua sisi ya. Kita bahas bagaimana dari hukum syariahnya, dan kita akan bahas bagaimana risikonya secara keuangan untuk investor. Kita bahas dulu dari sisi keuangannya. Harus jelas apakah yang ditawarkan itu deposito atau usaha? Kalau deposito, maka jelas ini tidak sah, karena deposito hanya boleh dilakukan oleh bank. Kalau ini usaha, usaha apa? Lalu, siapa yang menjalankan usaha tersebut? Ini harus jelas juga. Dari pengalaman selama ini, saya sih melihat, penawaran di internet tidak lebih dari upaya penipuan, arisan berantai, atau investasi yang tidak sah. Walaupun mungkin ada juga yang benar. Penawarannya lewat internet, namun investasinya memang benar dan sah secara hukum. Penipuan misalnya, Anda diminta untuk menyetorkan uang dan tidak jelas nasib uang Anda selanjutnya. Arisan berantai misalnya, Anda diminta menyetorkan uang kepada sejumlah orang, lalu Anda mencari lagi orang lain untuk menyetorkan uang juga, dan seterusnya. Jika mendapatkan sekian orang, maka mendapatkan sekian rupiah. Sedangkan investasi yang tidak sah adalah investasi pada usaha yang tidak memiliki perlindungan hukum sama sekali. Tidak jelas siapa penyelenggaranya, tidak jelas investasinya ke mana, dan biasanya berada di luar negeri sehingga tidak jelas menggunakan hukum apa jika ada perselisihan. Apalagi transaksinya dilakukan lewat internet di mana sulit dibuktikan secara hukum. Kalau dari sudut pandang syariah, penipuan harus Anda hindari, arisan berantai juga sudah jelas tidak halal hukumnya. Sedangkan kalau itu berupa investasi, coba cek kembali bagaimana pengembalian dana dan keuntungannya. Jika dijanjikan keuntungan yang pasti atas investasi usaha, sudah jelas ini melanggar hukum syariah karena sama saja dengan riba. Tidak peduli seberapa besar hasil yang dijanjikan, dan berapa orang yang sudah memberikan kesaksian, jika Anda mencurigai hal itu sebagai penipuan, arisan berantai, atau investasi yang tidak sah secara hukum, sebaiknya tidak usah ditanggapi . Masih banyak alternatif investasi lain yang halal dan baik.


TRIK BERKEBUN EMAS - Harga asumsi emas 25 gram = Rp 9.000.000 - Pada saat ini Anda punya tambahan uang Rp 3.750.000 - Nilai gadai sebesar 80% dari harga taksir emas - Harga Taksir Bank Rp.300.000 pergram - Biaya penitipan emas Rp 2500/gram/bulan Perlu Anda ketahui, taksiran nilai taksir dan kondisi sebenarnya di bank mungkin berbeda-beda, tapi yang terbaik Anda memilih bank yang memberikan: Nilai gadai tinggi, Biaya rendah dan Waktu singkat. Mari kita mulai saja perhitungannya: Misalkan Anda Beli emas batangan Antam 25 gram, lalu Anda gadaikan dan Anda akan mendapatkan dana segar sebesar Rp 6.000.000 Perhitungannya sebagai berikut: Rp 300.000 x