SELAMAT DATANG DIBLOG BEJOSENTOSO
Minggu, 01 Januari 2012
Ingatlah Siksa Allah Maha Pedih
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. "[At-Tahrim 6]
Dari Nu `man bin Basyir ra: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: "Sesungguhnya seringan-ringan siksaan penghuni neraka pada hari kiamat adalah seseorang yang ditempatkan di bawah dua telapak kakinya dua bara api neraka sehingga mendidih otak yang ada di kepalanya. (dari sebab panasnya kedua bara api neraka tersebut) Dia mengira bahwa tidak ada orang lain yang lebih dashyat siksaan dari, padahal dialah orang yang paling ringan siksaannya ". (HR. Bukhari & Muslim).
Begitulah hukuman paling ringan di neraka. Otak di kepala mendidih, sementara dia merasa tidak ada orang lain yang lebih dahsyat siksanya dari dirinya. Oleh karena itu alangkah celakanya orang yang tidak takut kepada siksa Allah sehingga dia berani melakukan berbagai kejahatan.
Yang lebih parah lagi dari siksa neraka adalah orang-orang kafir / musyrik disiksa di sana selamanya. Ada pun orang Islam, jika berbuat kejahatan seperti zina, mencuri, mabok, korupsi, dll maka harus mampir dulu di neraka.
Jangan anggap ringan. Sebab meski disiksa sehari di neraka, kita harus paham bahwa 1 hari di akhirat itu kadarnya sama dengan 50.000 tahun di bumi!
"Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun." [Al Ma'aarij 4]
Hadist Nabi SAW: Barangsiapa yang memiliki tabungan (harta yang berlimpah) lalu tidak mengeluarkan kewajibanya maka Allah akan menjadi pada hari kiamat dibakar di neraka jahanam lalu disetrika punggungnya, pinggirnya, depannya sampai menghukum semua hamba-Nya yang bila dihitung per harinya di akhirat sama dengan hitungan kalian di dunia 50.000 tahun ... (HR Abu Daud, Ahmad, AtTirmidzi, Annasai)
Divonis penjara 20 tahun saja orang banyak yang pingsan, bagaimana jika disiksa dengan api neraka selama 50.000 tahun di dunia?
Ada yang tidak malu dan segan berbuat kejahatan dan kedurhakaan terhadap Allah. Ada yang berbohong, menipu, mabuk, berjudi, makan minuman dan makanan yang haram, membuka aurat, berzinah, mencuri, merampok, korupsi, membunuh, dan sebagainya. Kadang yang berbuat dosa itu berdalih: Dosa kan tidak bejendol / terlihat.
Banyak penjahat lari karena takut dipenjara kebijakan. Padahal penjara kebijakan itu tidak ada artinya sama sekali dibanding siksa Allah. Siksa Allah terdiri dari Siksa Kubur dan Siksa Neraka.
Jika di penjara Anda bisa menikmati sel yang lapang dan terang beserta makan dan minum, maka di dalam kubur tidak seperti itu. Jasad Anda dihimpit bumi sementara kondisi gelap gulita. Semakin jahat seseorang, semakin parah kondisinya. Belum lagi siksa yang diberikan oleh para malaikat.
Jika di penjara paling-paling seseorang hanya mendekam 70 tahun. Di kuburan, orang yang dikubur 7.000 tahun yang lalu sampai saat ini masih merasakan siksa kubur sampai hari kiamat nanti. Bahkan siksa di neraka itu abadi.
"Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan." [An Nisaa '14]
Allah SWT memang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Berbagai kenikmatan telah Dia berikan kepada kita tanpa kita membayarnya. Namun kadang kita jadi default sehingga menganggap enteng kemurahan Allah.
Ada pula yang menganggap bahwa segala dosa itu tidak masalah toh kalau taubat nanti Allah akan mengampuni.
Allah memang Maha Penyayang. Namun yang disayangi Allah adalah hamba yang taat kepada. Dan taubat itu adalah rasa yang sangat menyesal dan segera berhenti melakukan kejahatan yang dia perbuat. Jika dosanya menyangkut orang lain, misalnya menipu atau mencuri harta orang lain, Persyaratan Taubat itu adalah dia harus minta maaf dan mengembalikan harta yang telah diambilnya. Jika tidak mau, niscaya di akhirat ada balasannya.
"Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertobat) kepada Engkau. Allah berfirman: "Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. "[Al A'raaf 156]
Pada dasarnya, siksa Allah berupa gempa, banjir, longsor, tsunami, dan sebagainya dikarenakan ulah manusia sendiri. Bukan Allah.
"Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. "[Al 'Ankabuut 40]
Bila perzinahan dan riba telah melanda suatu negeri maka mereka (penghuninya) sudah menghalalkan atas mereka sendiri siksaan Allah. (HR. Ath-Thabrani dan Al Hakim)
Orang-orang yang disiksa Allah adalah orang yang memang selalu mengingkari ayat-ayat Allah seperti Al Qur'an dan memperolokan siksa Allah:
"... Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit djuapun untuk mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya. "[Al 'Ahqaaf 26]
Allah telah mengutus Nabi dan juga para ulama yang benar untuk menyampaikan kebenaran. Terhadap orang-orang yang kafir, Allah memberi siksa yang pedih:
"Agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka dan Dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih." [Al Ahzab 8]
Terhadap orang yang mendustakan ayat seperti Al Qur'an, mereka akan ditimpa kehinaan dan siksa yang keras:
"Bila datang suatu ayat kepada mereka, mereka berkata:" Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah. "Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya. "[Al An'aam 124]
Ada juga orang yang mengaku sebagai Nabi atau membuat Kitab Suci palsu atau Kitab Hukum yang bertentangan dengan Al Qur'an:
"Dan siapakah yang lebih lalim dari orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata:" Telah diwahyukan kepada saya ", padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata:" Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah. "Celakalah jika kamu melihat di waktu orang-orang yang lalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan ) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya. "[Al An'aam 93]
"Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat lalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). "[Al Baqarah 165]
Sesungguhnya siksa Allah amat berat. Hendaknya kita selalu ingat hal ini agar kita hati-hati jika ingin mengerjakan perbuatan yang kita tahu salah / dosa:
"Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan untuk mereka siksa yang amat berat. "[Al Baqarah 7]
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan untuk mereka siksa yang amat pedih. "[Al Baqarah 174]
"Tanyakanlah kepada Bani Israel:" Berapa banyaknya tanda-tanda (kebenaran) yang nyata, yang telah Kami berikan kepada mereka. "Dan barangsiapa yang mengganti nikmat Allah setelah datang nikmat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya." [Al Baqarah 211]
"Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksa-Nya" [Al Fajr 25]
"... Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." [Al Maa'idah 2]
Kalau di dunia mungkin ada saudara atau teman yang bisa menolong kita dari hukuman dunia. Tapi di akhirat nanti, tidak ada seorang pun yang dapat menolong orang-orang yang kafir atau pendosa dari siksa Allah yang pedih di neraka:
"Katakanlah:" Terangkanlah kepadaku jika Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersama dengan aku atau memberi rahmat kepada kami, (maka kami akan masuk surga), tetapi siapakah yang dapat melindungi orang-orang yang kafir dari siksa yang pedih? "[Al Mulk 28]
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka, "[Ali 'Imran 10]
Bahkan Nuh dan Nabi Luth pun tidak mampu menolong istrinya yang kafir dari siksa neraka:
"Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya, maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari siksa Allah; dan dikatakan kepada keduanya: "Masuklah ke dalam jahannam bersama orang- orang yang masuk jahannam. "[At Tahrim 10]
"Dan jika orang-orang yang lalim memiliki apa yang ada di bumi semuanya dan (ada pula) sebanyak itu besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu dari siksa yang buruk pada hari kiamat. Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. "[Az Zumar 47]
Lihatlah betapa pedihnya siksa neraka:
"Sesungguhnya pohon zaqqum itu makanan orang yang banyak berdosa. Sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang sangat panas.
Peganglah dia kemudian seretlah dia ke tengah-tengah neraka.
Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya siksaan (dari) air yang sangat panas. "[Ad Dukhaan 43-48]
"Apakah perumpamaan penghuni surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya? "[Muhammad 15]
Neraka, inilah seburuk-buruk tempat kembali untuk orang yang durhaka kepada Allah.
"... Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang lalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. "[Al Kahfi 29]
"... Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka ingin ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan), "Rasailah azab yang membakar ini." [Al Hajj 19-22]
Di dunia, saat orang sudah meninggal, berakhirlah hukumannya. Namun di akhirat tidak begitu. Setiap kulit mereka hangus, diganti Allah dengan kulit yang lain agar tetap merasakan pedihnya siksa:
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. "[An Nisaa '56]
Begitu keras siksa Allah sehingga orang itu tidak hidup, tidak pula mati:
"Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak pula hidup "[Thaahaa 74]
"Dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya. Yaitu orang yang akan memasuki api neraka yang besar. Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak pula hidup. "[Al A'laa 11-13]
"Dan mereka meminta kemenangan atas musuh-musuh mereka dan binasalah semua orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala, di hadapannya ada Jahanam dan dia akan diberi minuman dengan air nanah, diminumnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya ) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati, dan dihadapannya masih ada azab yang berat. "[Ibrahim 15-17]
"Mereka tidak memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar." [Al Ghaasiyah 6-7]
Orang yang masuk neraka niscaya sangat menyesal. Namun sesal itu sudah tidak berguna:
"Dan mereka berkata:" Jika kami mendengarkan atau memikirkan peringatan itu niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. "[Al Mulk 10]
"Maka jika kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia) niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman." [Asy Syu'araa '102]
"Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata:" Alangkah baiknya jika aku dahulu adalah tanah. "[An Naba '40]
Orang-orang yang beriman senantiasa takut dengan siksa Allah. Rasulullah saw sendiri pernah bersabda kepada para sahabatnya, bila kamu melihat apa yang aku lihat niscaya kamu akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Karena pemahaman mereka akan ngerinya siksa neraka para sahabat yang mendengarpun kontan menangis di depan Rasulullah saw.
Abu Bakar ash Shiddiq seorang sahabat yang sangat dekat dengan Rasulullah saw sendiri pernah berharap menjadi seekor burung, sehingga tidak perlu bertanggung-jawab atas perbuatannya di dunia. Padahal beliau termasuk orang yang banyak beramal shaleh.
Begitu pula Umar bin Khathab yang Rasulullah saw sendiri pernah bersabda bahwa Allah telah menjadikan kebenaran pada lidah dan hatinya, pernah berharap untuk menjadi seonggok jerami agar tidak perlu bertanggung-jawab atas perbuatan-nya. Dia merasa cukup bahagia bila amal shalehnya yang banyak itu dibalas impas, kembali pokok tanpa untung sama sekali asal terbebas dari siksa api neraka.
Selain mencintai Allah, kita juga harus takut kepada Allah. Karena orang yang takut kepada Allah itulah yang mendapat ampunan dan pahala yang besar:
"Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar." [Al Mulk 12]
Begitu dahsyat siksa Allah di neraka. Karena itu harus kita senantiasa berdoa agar terhindar dari siksa Allah di neraka:
"Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata:" Ya Tuhan kami, tiadalah "Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. "[Ali 'Imran 191]
Maka beramal & berdo'alah untuk mendapat surga Allahumma innii as aluka ridhooka wal jannah wa a'udzubika min saqaatika wan naar. (Ya Allah sesungguhnya kami mengharap Ridhomu dan surga, kami berlindung kepada-Mu dari kemurkaan-Mu dan neraka)
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. "[At-Tahrim 6]
Dari Nu `man bin Basyir ra: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: "Sesungguhnya seringan-ringan siksaan penghuni neraka pada hari kiamat adalah seseorang yang ditempatkan di bawah dua telapak kakinya dua bara api neraka sehingga mendidih otak yang ada di kepalanya. (dari sebab panasnya kedua bara api neraka tersebut) Dia mengira bahwa tidak ada orang lain yang lebih dashyat siksaan dari, padahal dialah orang yang paling ringan siksaannya ". (HR. Bukhari & Muslim).
Begitulah hukuman paling ringan di neraka. Otak di kepala mendidih, sementara dia merasa tidak ada orang lain yang lebih dahsyat siksanya dari dirinya. Oleh karena itu alangkah celakanya orang yang tidak takut kepada siksa Allah sehingga dia berani melakukan berbagai kejahatan.
Yang lebih parah lagi dari siksa neraka adalah orang-orang kafir / musyrik disiksa di sana selamanya. Ada pun orang Islam, jika berbuat kejahatan seperti zina, mencuri, mabok, korupsi, dll maka harus mampir dulu di neraka.
Jangan anggap ringan. Sebab meski disiksa sehari di neraka, kita harus paham bahwa 1 hari di akhirat itu kadarnya sama dengan 50.000 tahun di bumi!
"Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun." [Al Ma'aarij 4]
Hadist Nabi SAW: Barangsiapa yang memiliki tabungan (harta yang berlimpah) lalu tidak mengeluarkan kewajibanya maka Allah akan menjadi pada hari kiamat dibakar di neraka jahanam lalu disetrika punggungnya, pinggirnya, depannya sampai menghukum semua hamba-Nya yang bila dihitung per harinya di akhirat sama dengan hitungan kalian di dunia 50.000 tahun ... (HR Abu Daud, Ahmad, AtTirmidzi, Annasai)
Divonis penjara 20 tahun saja orang banyak yang pingsan, bagaimana jika disiksa dengan api neraka selama 50.000 tahun di dunia?
Ada yang tidak malu dan segan berbuat kejahatan dan kedurhakaan terhadap Allah. Ada yang berbohong, menipu, mabuk, berjudi, makan minuman dan makanan yang haram, membuka aurat, berzinah, mencuri, merampok, korupsi, membunuh, dan sebagainya. Kadang yang berbuat dosa itu berdalih: Dosa kan tidak bejendol / terlihat.
Banyak penjahat lari karena takut dipenjara kebijakan. Padahal penjara kebijakan itu tidak ada artinya sama sekali dibanding siksa Allah. Siksa Allah terdiri dari Siksa Kubur dan Siksa Neraka.
Jika di penjara Anda bisa menikmati sel yang lapang dan terang beserta makan dan minum, maka di dalam kubur tidak seperti itu. Jasad Anda dihimpit bumi sementara kondisi gelap gulita. Semakin jahat seseorang, semakin parah kondisinya. Belum lagi siksa yang diberikan oleh para malaikat.
Jika di penjara paling-paling seseorang hanya mendekam 70 tahun. Di kuburan, orang yang dikubur 7.000 tahun yang lalu sampai saat ini masih merasakan siksa kubur sampai hari kiamat nanti. Bahkan siksa di neraka itu abadi.
"Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan." [An Nisaa '14]
Allah SWT memang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Berbagai kenikmatan telah Dia berikan kepada kita tanpa kita membayarnya. Namun kadang kita jadi default sehingga menganggap enteng kemurahan Allah.
Ada pula yang menganggap bahwa segala dosa itu tidak masalah toh kalau taubat nanti Allah akan mengampuni.
Allah memang Maha Penyayang. Namun yang disayangi Allah adalah hamba yang taat kepada. Dan taubat itu adalah rasa yang sangat menyesal dan segera berhenti melakukan kejahatan yang dia perbuat. Jika dosanya menyangkut orang lain, misalnya menipu atau mencuri harta orang lain, Persyaratan Taubat itu adalah dia harus minta maaf dan mengembalikan harta yang telah diambilnya. Jika tidak mau, niscaya di akhirat ada balasannya.
"Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertobat) kepada Engkau. Allah berfirman: "Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. "[Al A'raaf 156]
Pada dasarnya, siksa Allah berupa gempa, banjir, longsor, tsunami, dan sebagainya dikarenakan ulah manusia sendiri. Bukan Allah.
"Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. "[Al 'Ankabuut 40]
Bila perzinahan dan riba telah melanda suatu negeri maka mereka (penghuninya) sudah menghalalkan atas mereka sendiri siksaan Allah. (HR. Ath-Thabrani dan Al Hakim)
Orang-orang yang disiksa Allah adalah orang yang memang selalu mengingkari ayat-ayat Allah seperti Al Qur'an dan memperolokan siksa Allah:
"... Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit djuapun untuk mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya. "[Al 'Ahqaaf 26]
Allah telah mengutus Nabi dan juga para ulama yang benar untuk menyampaikan kebenaran. Terhadap orang-orang yang kafir, Allah memberi siksa yang pedih:
"Agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka dan Dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih." [Al Ahzab 8]
Terhadap orang yang mendustakan ayat seperti Al Qur'an, mereka akan ditimpa kehinaan dan siksa yang keras:
"Bila datang suatu ayat kepada mereka, mereka berkata:" Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah. "Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya. "[Al An'aam 124]
Ada juga orang yang mengaku sebagai Nabi atau membuat Kitab Suci palsu atau Kitab Hukum yang bertentangan dengan Al Qur'an:
"Dan siapakah yang lebih lalim dari orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata:" Telah diwahyukan kepada saya ", padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata:" Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah. "Celakalah jika kamu melihat di waktu orang-orang yang lalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan ) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya. "[Al An'aam 93]
"Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat lalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). "[Al Baqarah 165]
Sesungguhnya siksa Allah amat berat. Hendaknya kita selalu ingat hal ini agar kita hati-hati jika ingin mengerjakan perbuatan yang kita tahu salah / dosa:
"Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan untuk mereka siksa yang amat berat. "[Al Baqarah 7]
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan untuk mereka siksa yang amat pedih. "[Al Baqarah 174]
"Tanyakanlah kepada Bani Israel:" Berapa banyaknya tanda-tanda (kebenaran) yang nyata, yang telah Kami berikan kepada mereka. "Dan barangsiapa yang mengganti nikmat Allah setelah datang nikmat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya." [Al Baqarah 211]
"Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksa-Nya" [Al Fajr 25]
"... Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." [Al Maa'idah 2]
Kalau di dunia mungkin ada saudara atau teman yang bisa menolong kita dari hukuman dunia. Tapi di akhirat nanti, tidak ada seorang pun yang dapat menolong orang-orang yang kafir atau pendosa dari siksa Allah yang pedih di neraka:
"Katakanlah:" Terangkanlah kepadaku jika Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersama dengan aku atau memberi rahmat kepada kami, (maka kami akan masuk surga), tetapi siapakah yang dapat melindungi orang-orang yang kafir dari siksa yang pedih? "[Al Mulk 28]
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka, "[Ali 'Imran 10]
Bahkan Nuh dan Nabi Luth pun tidak mampu menolong istrinya yang kafir dari siksa neraka:
"Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya, maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari siksa Allah; dan dikatakan kepada keduanya: "Masuklah ke dalam jahannam bersama orang- orang yang masuk jahannam. "[At Tahrim 10]
"Dan jika orang-orang yang lalim memiliki apa yang ada di bumi semuanya dan (ada pula) sebanyak itu besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu dari siksa yang buruk pada hari kiamat. Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. "[Az Zumar 47]
Lihatlah betapa pedihnya siksa neraka:
"Sesungguhnya pohon zaqqum itu makanan orang yang banyak berdosa. Sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang sangat panas.
Peganglah dia kemudian seretlah dia ke tengah-tengah neraka.
Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya siksaan (dari) air yang sangat panas. "[Ad Dukhaan 43-48]
"Apakah perumpamaan penghuni surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya? "[Muhammad 15]
Neraka, inilah seburuk-buruk tempat kembali untuk orang yang durhaka kepada Allah.
"... Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang lalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. "[Al Kahfi 29]
"... Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka ingin ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan), "Rasailah azab yang membakar ini." [Al Hajj 19-22]
Di dunia, saat orang sudah meninggal, berakhirlah hukumannya. Namun di akhirat tidak begitu. Setiap kulit mereka hangus, diganti Allah dengan kulit yang lain agar tetap merasakan pedihnya siksa:
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. "[An Nisaa '56]
Begitu keras siksa Allah sehingga orang itu tidak hidup, tidak pula mati:
"Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak pula hidup "[Thaahaa 74]
"Dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya. Yaitu orang yang akan memasuki api neraka yang besar. Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak pula hidup. "[Al A'laa 11-13]
"Dan mereka meminta kemenangan atas musuh-musuh mereka dan binasalah semua orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala, di hadapannya ada Jahanam dan dia akan diberi minuman dengan air nanah, diminumnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya ) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati, dan dihadapannya masih ada azab yang berat. "[Ibrahim 15-17]
"Mereka tidak memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar." [Al Ghaasiyah 6-7]
Orang yang masuk neraka niscaya sangat menyesal. Namun sesal itu sudah tidak berguna:
"Dan mereka berkata:" Jika kami mendengarkan atau memikirkan peringatan itu niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. "[Al Mulk 10]
"Maka jika kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia) niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman." [Asy Syu'araa '102]
"Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata:" Alangkah baiknya jika aku dahulu adalah tanah. "[An Naba '40]
Orang-orang yang beriman senantiasa takut dengan siksa Allah. Rasulullah saw sendiri pernah bersabda kepada para sahabatnya, bila kamu melihat apa yang aku lihat niscaya kamu akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Karena pemahaman mereka akan ngerinya siksa neraka para sahabat yang mendengarpun kontan menangis di depan Rasulullah saw.
Abu Bakar ash Shiddiq seorang sahabat yang sangat dekat dengan Rasulullah saw sendiri pernah berharap menjadi seekor burung, sehingga tidak perlu bertanggung-jawab atas perbuatannya di dunia. Padahal beliau termasuk orang yang banyak beramal shaleh.
Begitu pula Umar bin Khathab yang Rasulullah saw sendiri pernah bersabda bahwa Allah telah menjadikan kebenaran pada lidah dan hatinya, pernah berharap untuk menjadi seonggok jerami agar tidak perlu bertanggung-jawab atas perbuatan-nya. Dia merasa cukup bahagia bila amal shalehnya yang banyak itu dibalas impas, kembali pokok tanpa untung sama sekali asal terbebas dari siksa api neraka.
Selain mencintai Allah, kita juga harus takut kepada Allah. Karena orang yang takut kepada Allah itulah yang mendapat ampunan dan pahala yang besar:
"Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar." [Al Mulk 12]
Begitu dahsyat siksa Allah di neraka. Karena itu harus kita senantiasa berdoa agar terhindar dari siksa Allah di neraka:
"Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata:" Ya Tuhan kami, tiadalah "Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. "[Ali 'Imran 191]
Maka beramal & berdo'alah untuk mendapat surga Allahumma innii as aluka ridhooka wal jannah wa a'udzubika min saqaatika wan naar. (Ya Allah sesungguhnya kami mengharap Ridhomu dan surga, kami berlindung kepada-Mu dari kemurkaan-Mu dan neraka)
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. "[Al Baqarah 286]
GAMBARAN SURGA MENURUT AL-QURAN
Para ulama bersepakat syurga itu terletak pada dari langit yang ketujuh. Dalam surat An-Majm ayat 13-15 Allah berfirman: Sesungguhnya ia (Muhammad) telah melihat Jibril sekali lagi, yaitu di Sidratul Muntaha, dan di dekatnya ada surga tempat kembali.
Ketika Rasulullah dalam perjalanan Mi'raj, Ia telah berhenti di Sidratul Muntaha. Menurut Rasulullah saw, Sidratul Muntaha itu berada jauh di luar alam langit (di luar ruang angkasa). Di situlah Rasulullah saw mendapati terletak surga.
Kemudian dikatakan surga itu luasnya seluas langit dan bumi sebagaimana difirmankan Allah dalam surat Ali Imran ayat 133:
Kejarlah oleh kamu ampunan Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.
Di surga juga udaranya nyaman tidak panas dan tidak pula dingin menggigit. Allah berfirman:
Mereka beristirahat didalam surga dengan bertelekan pada pelamin-pelamin (yang berhias), mereka tidak nampak di situ adanya matahari (dan tidak panas), dan tidak juga merasakan suasana yang bersangatan sejuknya. (Al-Insan: 13)
Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah bersabda: "Bahwa dinding-dinding surga itu batu-bata dari perak dan emas. Tanahnya pohon kimkuma (Za'faran) dan buminya kasturi. "(HR. Al-Bazzar).
Dalam sebuah hadis lain diceritakan bahwa Rasulullah bersabda: "Tanah surga itu licin putih, kasturi murni." (HR. Muslim).
Harumnya bau surga ini dapat dicium dari jarak perjalanan 100 tahun.
Sungai-Sungai di surga
Sungai-sungai surga pula memancar dari bawah-bawah bukit. Di dalam Al-Quran, Allah banyak menyebut tentang macam-macam sungai di surga ini antara lain firman dalam Surah Muhammad ayat 15 yang artinya:
Sifat surga yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa (adalah seperti berikut): Ada padanya beberapa sungai dari air yang tidak berubah (rasa dan baunya), dan beberapa sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, dan beberapa sungai dari arak yang lezat untuk orang-orang yang meminumnya, dan juga beberapa sungai dari madu yang disucikan. Dan ada pula untuk mereka di sana segala jenis buah-buahan, serta keridhoan yang tinggal permanen di dalam surga yang sedemikian itu keadaannya) sama seperti orang-orang yang tinggal permanen di dalam neraka dan diberi minum dan air yang menggeledak sehingga membuat isi perut mereka hancur ? (Sudah tentu tidak sama!).
Ayat di atas memberi pengertian bahwa sungai-sungai di surga bukanlah mengandung air-air biasa seperti di dunia ini, sebaliknya ada sungai yang berair susu, ada yang berair anggur (arak) yang tidak memabukkan, ada yang dari madu dan sebagainya. Sungai-sungai ini semuanya mengalir dengan tenang melalui rumah-rumah di surga, di kebun-kebun dan di celah-celah pohon. Bahkan ada juga mata-mata air yang mengalir.
Jadi Allah telah menjanjikan untuk orang yang bertakwa itu sungai yang airnya memiliki fitur-fitur sebagai berikut:
= Airnya tidak berubah rasa dan baunya.
= Air susu yang tidak berubah rasa dan warnanya
= Air anggur (arak) yang lezat dan tidak memabukkan untuk peminumnya.
= Madu yang disaring
Saat Isra dan Mi'raj, Rasulullah saw pernah melihat sungai yang dinamakan Al-Kausar. Sungai ini dilingkari oleh bukit-bukit yang terdiri dari permata-permata dan tanahnya dari wewangian yang paling harum. Tepian sungai ini terdiri dari emas sedangkan anak-anak batunya dari mutiara.
Barangsiapa meminum air dari Al-Kausar ini walau hanya satu kali saja, dia tidak merasa haus untuk selamanya.
Tentang nama-nama sungai di surga, tidak ada disebut dengan jelas di dalam al-Quran. Tetapi dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi bersabda:
Bahwasanya di surga ada suatu sungai yang disebut sungai rajab, airnya lebih putih dari air susu dan rasanya lebih manis dari madu. Siapa yang puasa satu hari dari bulan Rajab, maka Allah memberikan minuman dari sungai itu.
Yang jelas sungai yang bersama Rajab dengan sifat-sifatnya yang luar biasa ini belum pernah dilihat dan dirasakan airnya oleh manusia di dunia ini. Namun di dalam keterangan-keterangan lain disebutkan bahwa di surga ada sungai-sungai seperti Al-Kausar dan Al-Firdaus.
Tentang Al-Kausar, Anas ada bercerita bahwa Rasulullah saw tidur di atas tikar jerami, tiba-tiba sambil mengangkat kepalanya beliau tersenyum. Anas bertanya: "Mengapa engkau tertawa ya Rasulullah?" Rasulullah saw menjawab: "Ayat yang diturunkan kepadaku tadi (yang berarti):
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak (Al-Kausar), maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. (Al-Kausar: 1-2-3).
Kemudian Rasulullah bertanya: "Apakah engkau tahu apa itu Al-Kausar?" Anas menjawab: "Allah dan RasulNya yang lebih tahu." Lalu Rasul menjelaskan: "Al-Kausar itu satu sungai yang dijamin kepadaku oleh Allah, di sungai itu banyak kebajikan. Di atasnya sebuah kolam (Al-Haudi) yang akan datang umatku kepadanya. Bejananya banyak sebanyak bintang-bintang di langit. "(Riwayat Muslim).
Selanjutnya Imam At-Termizi meriwayatkan, Nabi bersabda: "Bahwa masing-masing nabi itu memiliki kolam. Mereka ini bangga membanggakan manakah yang lebih banyak orang datang. Dan aku mengharap, bahwa adalah aku yang terbanyak orang datang. "
Mendengar tentang banyaknya kenikmatan yang terdapat pada Al-Kausar ini, tentu banyak di antara kita yang berharap untuk dapat menjadi golongan orang-orang yang dapat datang ke tempat tersebut. Agar harapan ini menjadi nyata, harus kita berusaha mencari keridhoan Allah dalam kehidupan ini dari segala segi.
Surga itu Bertingkat-Tingkat
Surga itu bertingkat-tingkat dan setiap tingkat berbeda-beda pula. Jarak antara satu tingkat dengan tingkat yang lain adalah seperti jarak antara bumi dan langit. Adapun tingkatan surga yang paling tinggi derajatnya disebut "Al-Firdaus". Pada Al-Firdaus inilah terletak "Arsy Rahman (Mahligai Tuhan).
Selain itu, keistimewaan surga Al-Firdaus adalah para penghuninya akan dapat melihat wajah Allah dua kali dalam sehari yaitu pada waktu pagi dan petang. Sedangkan nikmat yang tertinggi di dalam surga adalah ketika manusia dapat menatap wajah Allah.
Adapun cara melihat Allah bukanlah seperti halnya kita melihat dengan mata biasa seperti yang lazim terjadi, tetapi caranya adalah dengan penglihatan mata yang telah ditentukan Allah buat para penduduk surga.
Segala yang ada di surga itu indah-indah belaka jauh lebih indah dari apa yang ada di atas bumi ini. Tetapi yang terindah di surga adalah pandangan terhadap Allah, tidak sesuatu kenikmatan lain yang dapat melebihi keistimewaannya.
Coba kita bayangkan di dunia ini saja, jika kita diberikan kesempatan bertemu dan bersenda gurau dengan salah seorang pemimpin negara, tentu kita akan sangat senang dan bahagia dengan pengalaman tersebut. Inikan pula akan bertemu dengan Allah yang menciptakan dunia ini.
Firman Allah dalam surah Al-Qiyamah ayat 22-23 yang artinya:
Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.
Rasulullah pernah bertanya kepada Jibril: "Hai Jibril pernahkah kau melihat Allah?"? "Jawab Jibril:" Bahwa di antara saya dan Tuhan ada 79 tutup yang terdiri dari lapisan-lapisan cahaya. Kapan terbuka tutup yang paling luar, maka akan terbakarlah aku memandangnya. Sedangkan antara engkau dan Tuhan ada 71 lapisan tutup dari cahaya. Kapan terbuka tutup yang paling luar, engkau akan terbakar pula memandangnya. "
Dalam hal ini pernah Musa meminta kepada Allah untuk melihatNya. Tetapi baru saja Allah menunjukkan diri kepada gunung, gunung itu bergegar dan hancur sehingga Musa jatuh pingsan. Ini membuktikan gunung yang bagaimana juga kukuhnya akan hancur bila Tuhan menunjukkan diriNya, apalagi manusia yang lemah.
Kemudian dalam satu riwayat lain digambarkan surga itu sebagai berikut:
Tingkatan surga pertama yang dibuat dari bahan perak baik kampung, rumah, pintu dan kuncinya.
Tingkatan surga kedua yang dibuat dari bahan emas baik kampung, rumah, pintu dan kuncinya.
Tingkatan surga ketiga yang kampung, rumah, pintu dan kuncinya dibuat dari bahan yakut dan lukluk (mutiara).
Taman-Taman Di Surga
Allah menciptakan hal-hal yang luar biasa indah dan nikmatnya kepada orang-orang yang bertakwa sehingga menurut Nabi Muhammad saw di surga itu ada apa-apa yang belum pernah dilihat oleh mata dan didengar oleh telinga serta tidak pernah pula terlintas di hati manusia.
Kalau di dunia ini kita selalu melihat macam-macam taman yang dihiasi indah dengan aneka macam tumbuhan dan bermacam-macam bunga, di situ kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam sambil menikmati keindahannya juga mencari ketenangan. Maka begitu juga di surga, Allah menciptakan taman-taman untuk penghuninya.
Ada dua bentuk taman di surga: (1) Dua taman yang dibuat Allah dari perak dengan segala apa yang ada padanya. (2) Dua taman yang dibuat Allah dari emas dengan segala apa yang ada padanya. (Riwayat Bukhari Muslim).
Pada taman-taman ini ada bermacam-macam buah-buahan apakah kurma atau delima, air mata air dan sungai yang terus-menerus mengalir airnya dengan tenang.
At-Tabrani meriwayatkan bahwa di taman-taman tersebut ada pohon-pohon yang
rindang, besar, tinggi dan luas. Kapan bidadari-bidadari bernyanyi di bawahnya, daun-daun dan ranting-ranting pohon-pohon itu bergerak-gerak sambil mengeluarkan bunyi-bunyian yang amat merdu pula.
Bila angin berhembus lalu menyentuh daun dan ranting, maka akan terdengar desiran yang sangat merdu pula. Sehingga tidak dapat dibanding manakah yang lebih merdu antara suara bidadari-bidadari atau bunyi desiran pohon-pohon tersebut.
Pintu-pintu surga
Sebelum masuk ke surga, penghuni-penghuninya akan melalui pintu-pintu surga terlebih dahulu. Pintu-pintu ini ada bermacam-macam pula jenisnya. Hal ini disebutkan di dalam al-Qur'an Surah Shaad ayat 49-50 yang artinya:
Ini adalah kehormatan bagi mereka dan sesungguhnya untuk orang-orang yang bertakwadengan sebenarnya-benar takwa (tersedia) tempat kembali yang baik, (yaitu) surga dan yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka.
Kemudian Abu Hurairah ada meriwayatkan sebuah Hadis Rasulullah saw bersabda:
Dan untuk surga itu delapan pintu. Maka siapa yang termasuk dari orang yang menegakkan ibadah shalat, dia akan dipanggil dari pintu shalat. Untuk orang berpuasa ia akan dipanggil dari pintu puasa. Orang yang brsedekah akan dipanggil dari pintu sedekah. Dan yang berjihad akan dipanggil dari pintu jihad. (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu kalau seorang saat hidupnya benar-benar melaksanakan segala hal yang disebut tadi, maka ia akan dipanggil untuk masuk melalui ke semua pintu-pintu tersebut.
Adapun pintu surga untuk orang yang melakukan ibadah puasa dinamakan Ar-Rayyan. Sedangkan setiap Muslim yang pernah kematian tiga orang anak-anaknya yang masih kecil diberi kebebasan untuk masuk ke surga melalui pintu mana saja yang disukainya.
Penghuni-penghuni surga setiap orang memiliki pintu-pintu tersendiri. Satu pintu untuk tempat masuknya sendiri. Satu untuk istrinya. Satu untuk tamu-tamu (malaikat dan teman-temannya). Satu menuju ke neraka untuk rasa nikmat Allah atas dirinya, dan satu pintu ke Arsy (Mahligai Allah untuk melihat wajah Allah).
Dalam buku "Anggota surga dan kenikmatannya" dijelaskan, selain yang tersebut di atas ada lagi pintu-pintu yang diberi nama:
= Pintu para rasul dan nabi
= Pintu zakat
= Pintu haji
= Pintu syahadat dan selawat
= Pintu syuhada
= Pintu salihin
= Pintu Siddiqin
= Pintu ilmu dan iman
= Pintu rahmat
= Pintu taubat
Dalam hadits riwayat Bukhari-Muslim, Rasulullah bersabda:
Demi Allah, demi antara dua pintu surga itu bagaikan jarak antara Makkah dan Basrah.
Jelaskan pada kita betapa luasnya pintu-pintu yang ada di dalam surga.
Kamar-Kamar, Rumah dan Istana di Surga
Untuk lebih jelasnya lagi, maka pada penghuni-penghuni surga diberikan kamar-kamar khusus, rumah dan istana yang terbuat dari permata-permata yang tembus dipandang mata seperti kaca. Di dalamnya penuh dengan kenikmatan dan kelezatan yang tidak pernah dilihat mata dan didengar telinga.
Pernah pada suatu hari para sahabat bertanya kepada Rasulullah: "Untuk siapakah Allah menyediakan kamar-kamar seperti itu ya Rasulullah?"
Rasulullah menjawab: "Bagi mereka yang menyebarkan salam, menyumbangkan makanan, terus berpuasa dan berjaga malam salat sedangkan orang lain tidur nyenyak."
Lalu sahabat-sahabat bertanya lagi: "Siapakah yang tahan dan sanggup berbuat demikian ya Rasulullah?"
Jawab beliau lagi: "Umatku! Dengarlah ... siapa yang bertemu sesama Muslim lalu ia memberi salam, itu berarti telah menyebarkan salam. Barang siapa yang memberi makan anak-anak dan istrinya sampai kenyang, berarti ia telah menyumbangkan makanan. Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadan dan ditambahkan dengan tiga hari pada setiap bulan, itu berarti ia terus menerus berpuasa. Dan siapa yang menunaikan shalat Isya 'terakhir dengan berjamaah, berrti dia telah shalat malam sedang manusia tidur. "(Riwayat Abu Naim dari Jabir).
Untuk penghuni surga ini, tersedia kamar-kamar sebagaimana yang dijanjikan Allah dalam Surah Az-Zumar ayat 20:
Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya mereka mendapat tempat-tempat yang tinggi, di atasnya dibangun pula tempat-tempat yang tinggi yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Allah telah berjanji dengan sebenar-benarnya. Allah tidak akan memungkiri janjinya.
Kemudian di dalam firmanNya Surah Muhammad ayat 6 yang artinya: Dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenankannya kepada mereka.
Selain menjelaskan kondisi kamar-kamar di surga, ayat di atas juga menjelaskan bahwa setiap orang yang masuk ke surga itu mengetahui tempat mereka masing-masing tanpa harus ditunjukkan seolah (kamar rumah dan istana-istana itu) sudah lama dikenalnya.
Kemudian dalam surat Al-Furqan ayat 10, Allah berfirman:
Maha suci (Allah) yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikan bagimu yang lebih baik dari yang demikian, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan dijadikan (pula) untukmu istana-istana.
Ayat ini mengisyaratkan bahwa di dalam surga ada istana tetapi tidak dijelaskan bagaimana bentuk rupa istana tersebut, apakah bertingkat-tingkat menjulang atau sebaliknya. Di samping kamar dan istana dan pula rumah-rumah. Nabi Muhammad saw bersabda:
Siapa yang membaca Surah Al-Ikhlas sebanyak 10 kali, maka Allah tersebut membangunkan baginya rumah di surga. (Riwayat Muslim).
Pohon-Pohon dan Buah-Buahan di surga
Keindahan alam dengan pohon-pohon yang rimbun menghijau serta aneka macam jenis bunga-bunga yang menawan dapat memberikan kedamaian jiwa untuk siapa yang memandangnya.
Bayangkanlah kalau kita berada di tengah-tengah kebun bunga yang seperti itu ditambah pula dengan pohon-pohon yang mengeluarkan bermacam-macam jenis buah-buahan, tentu kita akan asyik dan enggan pergi atau meninggalkan tempat tersebut.
Di surga, Allah memberikan kepada penghuni-penghuninya lebih dari itu sebagaimana firmanNya:
Dan kaum kanan, alangkah bahagianya kaum kanan itu, berada di antara pohon bidara yang tidak berduri dan pohon pisang yang bersusun-susun buahnya dan naungan yang terbentang luas; dan air yang tercurah; dan buah-buahan yang banyak tidak berhenti (buah yang banyak tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya. (Al-Waqiah: 27-33).
Kedua surga itu memiliki pohon-pohonan dan buah-buahan. (Ar-Rahman: 48).
Di dalam keduanya ada (macam-macam) buah-buahan dan kurma serta delima. (Ar-Rahman: 68)
Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya. (Al-Insan: 14).
Di surga juga ada sejenis pohon yang dinamakan tuba. Abu Hurairah berkata:
Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat sebatang pohon yang disebut "tuba" dan Allah berfirman kepadanya: "Keluarkanlah untuk hambaKu apa
Ibnu Hibban meriwayatkan Hadis dari Abu Said yang menceritakan seorang pria datang kepada Rasulullah dan bertanya:
"Wahai Rasulullah, apakah tuba itu?" Beliau menjawab: "Ialah pohon yang sangat rindang. Rindangnya sejauh 100 tahun perjalanan, (sedangkan) pakaian-pakaian penghuni surga adalah dari kelopak-kelopaknya. "
Keistimewaan pohon-pohon di surga ini semua umbi-umbinya diciptakan Allah dari emas. Adapun pohon bidara di surga itu bercabang-cabang. Setiap cabangnya mengeluarkan sebuah biji, kemudian dari buah ini keluar pula 72 jenis makanan yang berbeda.
Sedangkan pohon-pohon kurma pula diciptakan Allah dalam bentuk yang sangat luar biasa sebagaimana Abdullah bin Al-Mubarak, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Abid Dunya dan Al-Hakaim meriwayatkan kata Ibnu Abbas ra:
"Pohon kurma surga itu batangnya dari permata Zamrud yang hijau, pangkal-pangkal pelepahnya dari emas yang merah dan setiap pelepahnya menjadi pakaian penghuni surga, daripadanyalah pakaian dan perhiasan-perhiasan mereka dipotong dan dijahit. Sedangkan buahnya seperti tempayan, lebih putih dari susu, lebih manis dari madu dan lebih lembut dari buih dan tidak memiliki benih. "
Berkata Abu Darda ra bahwasanya Nabi saw telah bersabda:
Allah telah berfirman:
"Sesungguhnya Aku dengan jin dan manusia dalam suatu berita besar (Hari Kiamat). Aku yang menciptakan, tetapi mengapa orang lain yang disembah? Aku yang memberi rezeki, mengapa pula orang lain yang disyukuri. "(Riwayat Baihaqi)
MENGENANG UMUR MANUSIA.
Firman Allah Surat Al-An'aam ayat 2:
Yang artinya:
"Dia Tuhanlah yang menjadikan kamu dari tanah, kemudia Dia pulalah yang menentukan ajalnya, dan satu ajal lain lagi pun Dia pulalah yang menentukannya, tetapi kamu tetap ragu - ragu.
Sudah terang sekali untuk kita manusia bahwa ajal itu Allah sajalah yang menentukan nya, saban hari kita melihat manusia lahir dan mati, sekalipun begitu masih ada manusia yang ragu, masih kabur tentang masalah mati, masih ragu apa dan bagaimana sesudah mati itu. Ragu, ragu dan ragu sekalipun sudah ratusan Nabi dan Rasul, sudah ribuan Kiayi dan Ulama yang menerangkannya, mereka tetap ragu tentang hidup sesudah mati, tentang kehidupan di Akhirat. Dimanakah sumber keraguan itu, sedang bukti begitu banyak dan besar? Bukanlah karena kurang bukti alasan, tetapi karena hidup mereka sudah terlalu tebal di selubungi oleh dosa demi dosa. Kekufuran ini bukan soal akal atau bukti, tetapi adalah soal dosa. Orang hidupnya diliputi oleh dosa, tidak akan sanggup melihat kebenaran. Kebenaran untuk orang berdosa tertutup setebal tebalnya.
Ayat Qur'an menyebut kan bahwa Allah mengunci jiwa manusia yang membelakangi Allah. Swt.
Bukan hanya panjang dan pendek nya umur manusia yang harus kita renung kan, tetapi semua pertanda dari tingkat ke tingkat dari umur manusia adalah masalah-masalah besar yang menarik hati, yang dapat menebalkan iman di dada kita.
umur manusia yang pendek itu dapat kita bagi kepada beberapa waktu. Bisa di bagi 3, yaitu masa anak-anak, masa dewasa dan masa tua. Tetapi dapat pula kita untuk menjadi 4,5, atau 6 waktu atau lebih, menurut tujuan dan maksud kita membaginya, Ada orang yang membagi manusia ke dalam 10 waktu, seperti tersebut di bawah ini:
1. MASA KANAK KANAK.
Yaitu sejak hari kelahiran sampai usia 7 Tahun. Sesudah berumur 40 hari. disamping memiliki kepandaian menangis, bayi mulai pandai melihat dan bersenyum, Sesudah umur 6 bulan, dapat memberikan sinyal - sinyal yang membayangkan kemauan, dari umur 7 bulan dan setahun ada pertumbuhan gigi. Dalam pertengahan tahun ke dua dia mulai berlatih berdiri dan merangkak lalu berjalan. Dalam tahun ke tiga timbul keinginan dan kehendak, dan dalam tahun ke empat mulai tumbuh memori. Dalam tahun ke lima mulai bisa menilai sesuatu yang dia lihat dan dengar. Ada yang dia sukai dan dia benci. ada yang dia dekati dan dia jauhi, Tahun ke enam dan ke tujuh dia lebih maju dalam segala hal, baik tentang akal atau pertumbuhan jasmaninya, dan semangkin kuat dan gagah tampak nya. Diakhir waktu satu ini, mulailah gigi satu berguguran satu persatu, dan diganti dengan gigi yang tetap, hal ini juga menunjukan bahwa perkembangan akal dan pikiran nya mulai memperlihatkan pola tertentu.
Setiap pertumbuhan dan perkembangan jasmaniyah dan spiritual di masa anak-anak itu seratus persen menurut sunnah atau ketentuan Illahi semata, dan tak seorang manusia atau orang anggota yang dapat merubah, menghalangi atau mempercepatnya.semuanya menunjukan bahwa Allah yang menciptakan manusia, sungguh Maha Halus dan Maha bijaksana.
Firman Allah Surat Luqman 16:
"Hai anakku, kata (Luqman kepada anaknya), apapun juga seberat biji sawi di dalam perut bumi atau di angkasa, Allah lah yang menciptakan nya. Sungguh Allah itu Maha halus dan Maha Bijaksana. "
2. MASA REMAJA.
Yaitu antara 8 dan 14 tahun, Masa dimana anak tak pernah tinggal diam, selalu bergerak, berdiri berjalan dan berlari. Bermain dengan serba macam permainan. Melompat, berteriak, memanjat, kadang-kadang berkelahi dan bertengkaran dengan tak putus-putusnya. pertumbuhan jasmani dan rohani yang luar biasa pula.Timbul semangat berlomba dalam segala hal, semangat ingin menang, ingin lebih dari orang lain. kalau kebiasaan yang begini mendapat pimpinan yang baik dari kedua orang tua atau Guru, maka baiklah nanak itu. Dan kebalikan nya kalau tabiat yang begini mendapat pimpinan yang tidak baik, maka akan menjafi manusia yang tidak baiklah anak itu di kemudian hari.
3.MASA akil balig.
Yaitu antara umur 15 dan 21 tahun. Masa akil balig artinya waktu sempurnanya pertumbuhan jasmani dan rohani (akal) anak. yaitu waktu yang penuh dengan angan-angan fantasi dan cita-cita, masa yang penuh dengan khayalan dan perdayaan (tipuan). Masa yang penuh dengan banyak cacad rohania: terlalu egois, tak mau bersungguh sungguh dan terlalu banyak main, kurang pemikiran dan perhitungan, suka bebas dalam segala hal, sulit di atur.
Masa ini anak gampang tertarik kepada hal-hal yang baik dan kepada hal-hal yang tidak baik, suka meniru-niru tingkah laku dan perbuatan yang baik dan yang tidak baik. Dimasa ini tiap anak harus dijaga benar oleh ibu dan bapak nya dan Guru dalam gerak dan geriknya.Perlu selalu mendapat didikan dan nasehat, Jangan sekali-kali Ibu dan bapak nya dan Guru nya bosan memberikan naesat dan teguran terhadap anak yang berada dalam ini, agar mereka terhindar dari tiruan yang tak baik, terhindar dari adat kebiasaan dorongan syahwat (rasa birahi) yang sering membawa mereka jatuh ke lembah kehinaan dalam hidup, atau kebinasaan terhadap kesehatan tubuh dan jiwa mereka. yang paling penting dalam hal ini tertanamnya kepercayaan keagamaan, nasehat-nasehat yang berdasarkan Al-Qur'an dan hadits nabi Muhammad.Saw.
4 MASA DEWASA.
yaitu umur 21 sampai 26 tahun. yaitu satu waktu yang lebih banyak celanya.Dimana manusia di ombang ambing kan oleh syahwat yang bergelora. masa ini banyak orang di rundung cinta asmara. rindu dendam asyik masyuk dan lain lain. Semangat berkobar dan mernyala. Di saat inilah sempurna nya pertumbuhan jasmani dan rohani. Karena itu disamping nafsu dan semangat yang berkobar itu, ada pula di antara pemuda di masa ini yang tetap dapat menjaga kemanusiaannya, menjaga nama orang tuanya, begitupun kesehatan tubuh dan pikiran nya.
Disaat inilah seorang baik melalukan perkawinan dalam hidup nya.agar nafsu dan semangatnya bisa di salurkan ke arah yang baik dan tidak merusak diri dan kesehatannya. Dan pula agar dia di beri pertanggung jawaban terhadap istrinya, sehingga berkuranglah kecerobohan dalam hidupnya.
mengudurkan kawin atau nikah dari waktu ini akan berakibat tidak baik terhadap jasmani dan rohani manusia, untuk pria dan wanita dan tak jarang manusia yang menjadi cacat karena mengundur-ngundur pernikahan, dengan tidak ada alasan yang wajar, sedang akal dan pikirannya menjadi lemah, dan sering berakhir dengan kelemahan pada urat syarafnya.
bahaya yang terbesar dan paling terkutuk dalam hal ini ia lah mengerjakan perzinaan.perzinaan merusak akhlak, merusak kesehatan badan dan kesehatan pikiran manusia.
Sabda Rasulullah saw.:
yang artinya:
"Jauhilah zina, sebab ia menimbulkan empat bahaya: perzinaan itu melenyapkan kecantikan diri, menimbulkan kemeralatan menyebabkan kemarahan Allah, dan mempertahankan seorang dalam api neraka."
sesugguh besar nikmat Tuhan yang telah memberikan rasa birahi antara laki dan wanita, dan besar penggunaan dan pegaruh rasa birahi ini dalam kagembiraan hidup manusia dan kelangsugan hidup itu tetapi bila dia disenbronokan, maka besar pula kerusakan yang akan ditimbulkan.
siksaan Allah sering muncul di permukaan bumi ini karena 2 alasan, yaitu karena perzinahan dan riba
Sabda Rasulullah saw.:
"Kapan nyata perzinaan dan riba menguasai satu negeri, maka berarti mereka sudah meghalalkan diri untuk menarima siksaan Allah,:
5.MASA DEWASA SEMPURNA
yaitu umur 27 sampai 35 tahun. masa dimana pertumbuhan jasmani menccapai tingkat tersempurna dan terkuat dan begitu juga pertumbuhan rohani tiba di puncak kegiatannya. Akal dan pikiran seakan-akan terbuka dari segala tutup.sehingga dia menjadi terang dan jelas, tegas dan tidak ragu.Dia mengatur rencana untuk diri dan keluarga, begitu juga terhadap bangsa dan tanah air nya.Untuk itu orang tak jemu-jemu nya membaca, mendengarkan segala hal yang menabah pengetahuan nya dan pengalaman hidupnya.
6.MASA PERTENGAHAN UMUR.
yaitu umur 36 tahun sampai 40 tahun.Dimasa inilah manusia menjadi tetap.Dimasa inilah kebanyakan Nabi dan Rasul-rasul di angkat Allah menjadi Nabi.Dimasa inilah seorang sarjana menjadi anggota dan menciptakan pendapat baru.Disaat ini manusia ingin menjadi orang terkemuka, ingin menjadi orang yang berjasa terhadap masyarakat dan negara.Dimasa ini orang banyak berkorban untuk manusia, bangsa, negara dan tanah air, jadi mulai tidak egois.
7.MASA SETENGAH TUA.
yaitu umur 41 tahun sampai 50 tahun, dimana orang biasanya tidak mau lagi menyebutkan dirinya pemuda, sekali pun masih segan disebut sebagai orang tua.Tetapi ditinjau bahwa kebanyakan umur manusia adalah antara 60 tahun dan70 tahun, maka umur ini bisa disebut manusia tua, yaitu lebih dari setengah umur.
Dimasa ini orang seakan-akan sudah bosan terhadap benda, tak begitu lagi doyan membicarakan benda.Orang mulai tak menyukai beberapa makanan dan minuman yang biasa nya sangat dia sukai.Mulai tak suka menonton bioskop sekalipun sebelumnya adalah menjadi kesukaan hidupnya.
Pengalaman hidup selama 40tahun lebih, pengetahuan - pengetahuan yang telah dapat dikumpulkan selama 40 tahun lebih, membuat orang ini mulai mengarahkan akal dan pikirannya ke alam di luar alam benda. Perhatiannya terhadap soal mati, hidup sesudah mati, terhadap Allah dan agama mulai timbul.
Kalau dimasa dewasa banyak orang berubah dari seorang anak yang baik, menjadi anak tidak baik, maka di masa sekarang ini, banyak orang yang tak baik berubah menjadi orang yang baik. Dulunya anti Allah dan agama, sekarng cinta Allah dan agama. Sebab itu di pandang dari segi keagamaan, adalah sangat beruntung manusia, yang dapat mencapai umur masa tua ini dalam hidupnya.
Kalau sesudah umur 40 tahun manusia masih ugal-ugalan, masih berkecimpung dalam samudera maksiat (dosa), ini tanda nya bahwa orang itu akan menjadi ISI NERAKA, Kata IMAM Gazali ra
Inilah masa dimana manusia menjadi tenang, kalm, sabar dan tabah. Orang-orang yang tak ada dasar pengetahuan agama, banyak di masa ini terperosok ke aliran kebatinan yang mistik, yang membawa kearah kesesatan dan syirik.
Ini waktu keinsyafan dan kesadaran, Orang menginsyafi akan kesalahan yang dilakukan nya sebelum waktu ini. Dan orang mulai merasa menyesali semua perbuatanya yang jahat.
Dimasa ini orang banyak bertobat dan minta ampun kepada Allah atas segala dosa yang di perbuatnya. Di saat ini orang mulai mendekatan diri kepada Allah dan mencoba hidup suci. Orang Islam secara Islam dan orang agama lain secara agama lain, begitu juga aliran kebatinan menurut alirannya masing-masing.
8 MASA MENURUN.
Yaitu waktu umur 51 tahun sampai 65 tahun.Masa segala kekuatan mulai menurun. Rambut menjadi putih, gigi berguguran, tulang belulang menjadi lemas, nafas dan paru sering sesak, darah atau jantung sering terganggu. Terasa oleh setiap orang yang mencapai umur ini, yang dia sudah mendekati liang kubur.Pikirannya hampir seratus persen di tujukan ke arah persiapan untuk mati itu.
Orang yang kosong dari keyakinan agama dalam hidupnya, akan mengalami kegelisahan hidup yang tak terkirakan hebatnya. Gelisah menghadapi maut karena tidak ada pengertian tentang maut dan apa yang terjadi sesudah maut itu.
Tetapi orang yang ada kepercayaan agama dalam hidupnya, dia tampaknya tenang dan adem ayem saja mengalami el maut itu, sebab dia yakin akan ada hidup lagi sesudah mati itu.
Orang yang Iman sungguh-sungguh, bahkan tidak takut menghadapi mati itu. Sebab mati hanya perpisahan sementara dengan anak istri dan semua orang yang dia cintai dan kasihi. Hanya yang paling banyak kesedihan hatinya, kalau dia masih banyak membawa dosa dalam menghadapi elmaut itu.
Ya, amatlah beruntung manusia yang dapat mencapai umur ini, bila ditingkatkan ini dia benar sadar dan tobat. yang paling celaka, adalah manusia yang mencapai ini tapi tak ada kesadaran dan tobat ini, malah dia berlagak dalam hidup seperti anak-anak muda belaka.
Sabda Rasulullah.saw.:
"Sebaik-baik manusia, adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya, sejelek-jelek manusia adalah orang panjang umurnya tetapi jelek amalannya."
9. MASA TUA.
yaitu umur 65 sampai 75 tahun. yaitu umur yang penuh dengan penderitaan dan keluhan, sebab seluruh bahagia badan sudah lemah dan merasa sakit.Orang yang kurang tabah, akan lebih menderita batin dalam ini.
yang paling beruntung adalah orang yang mencapai umur ini, dan memiliki anak cucu yang pandai membalas guna.
10. MASA TUA BANGKA.
yaitu umur 75 tahun ke atas, yang lebuh hebat penderitaannya. Bukan saja semua anggota badan lemah dan sakit, tetepi mata tak dapat melihat dan telinga tak mendengar lagi.Badan terhampar di tempat tidur menunggu belas kasihan anak dan cucu.
tak dapat dibayang kan penderitaan seorang yang mencapai umur ini, apalagi tidak memiliki anak atau cucu yang akan megurusinya.Rasulullah saw, sering berdo'a agar beliau jangan sampai mencapai umur tua bangka itu.
Untungnya, bila perasaan dan akal atau pikiran dapat bekerja baik, maka orang itu masih dapat merasakan enaknya hidup di dunia ini.Dan untung nya pula, orang yang mencapai umur ini biasanya, tidak takut menghadapi maut, bahkan saban saat dia bersiap menghadapi mati itu dengan segala ketenangan dan keberanian.
Sebagai penutup kita cantumkan beberapa Hadis Rasulullah saw.
Telah bersabda Rasulullah saw:
"Barang siap yang kami panjangkan umurnya dapat mencapai 40 tahun di dalam agama islam, akan di jauhkan Allah dari pada berbagai bala, yaitu gila, kusta dan sopak.Dan apa bila dia mencapai umur 50 tahun, Allah akan mengenteng kan perhisaban baginya, dan apa bila dia mencapai 60 tahun, Allah akan memberi rezeki yang berupakan pendekatan diri pada Allah, dan ketika dia mencapai 70 tahun, diampuni Allah dosa nya yang dahilu dan yang sekarang, dan diberi gelar "ASIRULLAH" yaitu, "tawanan ALLAH", dan akan mencintainya seluruh penduduk langit (malaikat) ".
Firman Allah Surah an-Nahl 70:
Yang artinya:
"Allah-lah yang telah menciptakan kamu, kemudian ia mewafatkan kamu. Diantara kamu ada yang di panjangkan umur nya sampai tua bangka, sehingga menjadi tak tahu apa-apa sesudah dia mengetahui segalanya. Sesungguh nya Allah Maha Mengetahui dan Kuasa. "
Firman Allah Surat Yasien ayat 68:
yang artinya:
"Dan siapa-siapa yang kami panjangkan umurnya, Kami kembalikan kejadiannnya (sebagai anak kecil kembali), apakah kamu tidak pikirkan?."
Begitulah kekuasaan Allah, karena Allah lah yang memendekan umur dan Allah pulalah yang memperpanjang umur seseorang. Manusia tidak dapat campur tangan sedikit juga dalam hal ini, sekalipun bagaimana juga tinggi pengetahuan di kuasainya.
Dan cobalah pikirkan, bila seorang yang bagaimana juga tinggi pengetahuan nya, bila di panjangkan Allah umurnya sampai menjadi Tua bangka, orang anggota itu kembali seperti anak kecil perangainya, dan tak tahu apa-apa (pikun).
Semua ini harus kita pikirkan dan renungkan, untuk melihat kebesaran Allah dan kelemahan diri kita manusia, agar kita sudi dan sanggup menyembah Allah. jangan membusungkan dada selalu terhadap Allah yang menciptakan diri kita dan umat.
sejahat-jahat manusia adalah sombong dalam hidupnya, sombong terhadap sesama manusia, dan sombong terhadap Allah ... ... .... !
Wallohu 'alam bis showab.
3 Jam Malaikat Menunggu
"Siapa Saja dari Orang muslim yang melakukan satu dosa. Malaikat yang bertugas mencatat dosa-dosanya Distop menuliskan dosa itu 3 jam lamanya. Kapan orang muslim itu minta ampun pada dosa tersebut di dalam waktu 3 jam, maka dosa tersebut tidak akan dituliskan lagi, dan karenanya dia bebas dari siksa di hari kiamat nanti pada dosanya itu "
(Hadits Riwayat An-Nasai dari Kitab At-Tafsiir al-Kabiir - Imam Fakhrur Raazy)
Saya tertegun sejenak membaca hadits ini. Tak habis-habisnya saya memuji kebesaran Allah dan Keagungan Allah. Sungguh, betapa cinta Allah pada diri seorang hamba Nya.
Siapa orang yang bersih dari dosa? kita semua pasti pernah melakukannya.
(Terkecuali Rasulullah dan para Nabiullah yang sudah pasti dimaafkan)
Inti dari hadits ini adalah:
Ketika kita bermaksiat, yang pasti hati kita sedang lalai, sedang lupa pada Allah Subhana wata'ala. Karena hanya ada 2 kondisi manusia setiap saat. Pertama, ia sedang lupa pada Allah. Kedua, ia sedang ingat pada Allah.
Kondisi lupa pada Allah inilah yang membuat kita senang melakukan pekerjaan yang dilarang Allah. Nikmat sesaat. Dan tanpa sadar, kita sudah memenuhi langit dan bumi ini dengan dosa-dosa kita.
What should we do?
Apakah sekedar mengucap Astaghfirullah seluruh beres? ooh .. no.no. Tidaklah masuk akal, bahwa banyaknya dosa memenuhi antara langit dan bumi akan lenyap begitu saja dengan ucapan Astaghfirullah yang keluar dari mulut sedang default dan tak bersungguh-sungguh.
Permohonan ampunan harus dari hati paling dalam, disesali lahir batin, ditandai menitiknya air mata, bergetar seluruh jiwa raganya. Jangankan Tuhan Maha Pengasih, manusia biasa saja rasanya tidak sampai hati untuk tidak memaafkannya. Dengan kehendak Allah juga, maka seluruh dosa yang memenuhi langit bumi akan sirna jadi angin dan debu.
SAMUDERA AL FATIHA 4
Tafsir Iyyaka na'budu wa Iyyaka Nasta'iin (ayat ke 4 dalam surat Al Fatihah)
Engkaulah yang kami sembah dan Engkaulah yang kami minta pertolongan
Dijelaskan dalam buku ini bahwa Al Fatihah terdiri dari 7 ayat. Ayat ini terletak persis ditengah. Tiga ayat sebelumnya untuk Allah, sedangkan tiga ayat sesudahnya untuk manusia (Hamba Allah).
Iyyaka na'budu artinya: Engkaulah yang kami sembah. Hanya untuk engkau sajalah kami beribadah. Tidak ada selain Engkau yang kami sembah, yang kami puja.
Iyyaka Nasta'iin artinya: Engkaulah yang kami mintai pertolongan. Hanya kepada Engkau sajalah kami minta bantuan, perlindungan, mohon rejeki, mohon keselamatan dll.
Ayat ini mengandung 2 persoalan pokok yaitu Ibadah dan Do'a.
Ibadah terhimpun dalam 2 hal yaitu Cinta (hubb) dan Tunduk (Khudhu). Dan cinta serta tunduk ditujukan hanya kepada satu zat yaitu Allah semata. Ini yang dinamakan Tauhid.
"Kapan kamu tanyakan kepada mereka: Siapakah yang menciptakan mereka? Mereka akan menjawab: Allah "(ad Dukhan: 87)
Berdoa (isti'anah) terhimpun dalam 2 hal yaitu: berserah diri (tsiqah) dan menggantungkan harapan (i'timad). Dan 2 hal ini tercakup dalam satu kata yaitu Tawakal. Tawakal inilah yang menjadi pengertian yang sedalam-dalamnya dari ayat "iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'iin". Dijelaskan tentang hal ini dalam Al Qur'an surat: Huud: 88, 123 dan al Mumtahanah: 4 dan 8-9
Ketentuan beribadah dan berdoa kepada Allah juga dijelaskan dalam buku ini, akan dikutip pada bagian lain.
Tafsir Ihdinash-shiraathal-mustaqiim (ayat ke 5 dalam surat Al Fatihah)
Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus.
Shiraathal-mustaqiim artinya jalan yang lurus, jalan yang benar, jalan yang membawa kepada kebahagiaan dan keberuntungan, di dalam hidup di dunia dan lebih-lebih di dalam hidup di akhirat nanti.
Rasulullah menasehatkan kepada ummat beliau, agar sebanyak-banyaknya minta pertolongan atau berdoa kepada Allah. Mintalah kepada Allah segala hal dari yang besar sampai yang sekecil-kecilnya.
Diantara jutaan hal besar dan kecil yang kita butuhkan maka Shiraathal mustaqiim adalah yang paling penting, paling besar dan paling mahal harganya dalam hidup manusia di dunia ini
Allah berfirman dalam surat terakhir an Naba: "Kami memperingatkan kamu akan kesengsaraan yang sudah dekat waktunya, di hari manusia akan melihat segala kesalahan yang pernah dilakukan dan orang kafir akan mengeluh: mengapa aku dulu menjadi tanah saja."
Sebab itu hal yang pertama kita mohon dan minta kepada Allah adalah agar kita ditunjuki jalan yang lurus, benar, kepercayaan dan agama yang benar.
Tafsir Shiraathal-ladzina An'amta 'alaihim (ayat ke 6 dalam surat Al Fatihah)
Yaitu jalan orang-orang yang engkau beri nikmat atas mereka
Ditegaskan dalam ayat ini, yang dimaksud Allah jalan yang lurus adalah jalan yang ditempuh, dijalani atau digariskan oleh orang-orang yang telah mendapat nikmat dari Allah.
Orang-orang yang mendapat nikmat yang dimaksud adalah Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul, atau orang yang bukan Nabi dan Rasul, tetapi memiliki kepercayaan yang sama dengan pendapat atau kepercayaan Nabi dan Rasul.
Firman Allah: "Dan sesungguhnya Kami sudah mengutus pada tiap-tiap ummat seorang Rasul (yang memerintahkan / mengajarkan): Hendaklah kamu sembah Allah dan jauhi berhala-berhala. Tetapi di antara mereka manusia ada yang mengikuti petunjuk Allah dan adapula yang tetap pada kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi, lihatlah bagaimana akibatnya orang-orang yang mendustakan itu. "(An Nahl: 36)
Manusia yang menerima dan beriman dengan risalah yang dibawa Nabi-Nabi dan Rasul adalah manusia yang paling beruntung dan paling baik. Sedangkan mereka yang tidak percaya adalah manusia yang paling celaka.
Firman Allah: "Sesungguhnya orang-orang Kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tempatnya di neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya, mereka adalah sejahat-jahatnya makhluk." (Al Bayyinah 6). "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan pekerjaan yang baik, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk." (Al Bayyinah 7).
Dalam bab ini, diuraikan tentang perjuangan dan keistimewaan Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad saw dan menegaskan bahwa Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasul penutup dan syariat dan ajarannya meliputi ajaran seluruh Nabi-Nabi dan Rasul. Kitab suci Al Quran adalah kesimpulan dari seluruh kitab-kitab suci yang diturunkan kepada Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad saw
Firman Allah: "Tidaklah Muhammad itu bapak seorang dari laki-laki kamu, tetapi ia adalah utusan Allah dan penutup segala Nabi." (Al Ahzab: 40)
Dan pada akhir Bab ini diulas kembali, sabda Rasulullah saw: "Beruntung orang yang telah melihat akan Aku dan beriman dengan Aku, dan beruntung, beruntung, beruntung orang yang tidak melihat akan Aku tetapi beriman kepada Aku."
Tafsir ghairil-maghdhuubi 'alaihim wa ladh-Dhaalliin (ayat ke 7 dalam surat Al Fatihah)
Bukan mereka yang dimurkai atas mereka dan bukan pula mereka yang sesat
Dalam bab ini banyak sekali mengulas ayat-ayat Al Quran tentang kaum orang-orang yang dimurkai Allah dan kaum orang-orang yang sesat.
Salah satunya. Surah Al Maidah ayat 60: "Katakan: Akan kuberitahukan hal yang lebih buruk dari pembalasannya di sisi Allah? Yaitu orang-orang yang dikutuk dan dimurkai Allah: diantaranya yang dijadikan kera, babi dan penyembah berhala. Mereka itu sangat buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. "
Dalam buku ini dikatakan, yang dimaksud kaum yang dimurkai oleh Allah (mahdhuubi 'Aalaihim) menurut adalah siapa saja yang berbuat keliru, salah dan dusta terhadap Allah dan Kitab-kitab Suci Nya.
Dan kaum sesat (Dhaalliin) adalah siapa saja yang berbuat salah dan keliru dengan tak sadar.
Amin
Menurut sebagian besar ahli tafsir, surat al Fatihah adalah mengandung do'a. Sebab itu Allah mengajarkan kepada Nabi Muhammad saw setiap selesai membacanya agar menyebut amin yang berarti perkenankanlah
Diriwayatkan oleh Imam al Bafhawy dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw mengatakan "Kapan Imam selesai menyebut ayat terakhir dalam surat al Fatihah, hendaklah kamu (ma'mum) menyebut amin *, maka sesungguhnya para malaikat juga menyebut amin. Maka barangsiapa yang tepat aminnya dengan amin para malaikat itu, maka Allah akan mengampuni dosanya yang terdahulu dan yang terbelakang. "
*) Ma'mum diperingatkan tidak mendahului Imam dalam meng amin kan bacaan al Fatihah dalam shalat berjamaah.
END
Semoga kutipan buku "Samudra Al Fatihah oleh Bey Arifin" menambahkan kekhusukan kita dalam beribadah pada Allah dan shalat kita dapat mencegah dari segala kekejian dan kemungkaran. Amin ...
SAMUDERA AL FATIHA 3
Tafsir ar Rahmaan ar Rahiim (ayat ke 2 dalam surat Al Fatihah)
Rahim atau Rahmat memiliki arti yang sama yaitu: pemberi Rahmat atau Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Rahmat Dunia
Rahmat Alam
Diterangkan oleh banyak surat-surat dalam Al Quran, beberapanya antara lain:
Firman Allah: "Dan kami jadikan dari segala sesuatu yang hidup, apakah kamu tetap tidak mau beriman?" (Al Anbiya: 30)
"Engkau lihat bumi itu kering tetapi apabila Kami turunkan atasnya air, lalu ia menjadi mekar dan segar (lunak dan subur), dan dapat menumbuhkan bermacam-macam tanaman yang menarik hati." (Al Haj: 5).
Segala sesuatu tentang alam yang luas ini, kita akan kagum memikirkan kebesaran dan kebijaksanaan Allah yang menciptakan dan mengaturnya. (Dalam surat al A'raf: 53, al Mu'minun: 14)
Rahmat Kesehatan Jasmani dan Rohani
Selain nikmat alam semesta, rahmat Allah yang sangat berharga adalah kesehatan jasmani dan rohani. Sabda Rasulullah saw: "Siapa yang sehat badannya, senang hatinya (sehat rohaninya), dirumahnya ada makanan buat sehari, maka seakan-akan seluruh dunia ini berada dalam genggamannya." Mintalah kepada Allah akan keyakinan (agama yang benar) dan kesehatan, karena sesungungnya tidak ada sesuatu sesudah keyakinan yang lebih berharga dari kesehatan ".
Rahmat Islam dan Iman
Rahmat terbesar yang tidak dapat dinilai dengan apapun. Sungguh beruntung sekali orang yang telah menerima dan merasa memiliki Islam dan Iman itu di dadanya.
Sabda Rasulullah saw: "Beruntung orang yang telah meilhat akan Aku dan beriman dengan Aku, dan beruntung, beruntung, beruntung orang yang tidak melihat akan Aku tetapi beriman kepada Aku."
Dijelaskan pula dalam surat al Baqarah 132-136 dan 140, tentang hal ini.
Rahmat Akhirat
Seluruh rahmat dan nikmat yang dituangkan Allah di permukaan bumi ini adalah sebagian kecil dari rahmat Allah yang amat besar. "
Firman Allah: "Katakanlah (hai Muhammad): Harta benda (kesenangan) dunia ini sedikit dan akhirat itu lebih baik untuk orang yang taqwa, dimana mereka tidak akan dianiaya (dirugikan) sekalipun sedikit." (An Nisa: 77)
Sabda Rasulullah saw: "Sejelek-jelek kedudukan manusia di sisi Allah di hari kiamat adalah seorang yang mengorbankan akhiratnya untuk dunia lainnya".
Ar Rahmaan berarti Allah Pemegang Kunci Rahmat Dunia, Ar Rahiim berarti Allah Pemegang Kunci Rahmat Akhirat. Menurut Hadis, Rasulullah saw saat berdoa paling sering menyerukan dengan seruan: Ya Rahmaan Ya Rahiim.
Tafsir Maaliki Yawmiddin (ayat ke 3 dalam surat Al Fatihah)
Yang memiliki Hari Pembalasan ".
Dalam banyak ayat Al Quran dan Hadis, Allah dan RasulNya menegaskan bahwa kehidupan di dunia ini adalah kehidupan yang sangat kecil artinya, sangat terbatas waktunya. Penghidupan di dunia ini adalah ibarat setetes air, sedang penghidupan Akhirat adalah ibarat samudra luas.
Dalam buku Samudra Al Fatihah (Bey Arifin), bab ini menjelaskan bahwa hal yang paling menakjubkan di manusia, bukanlah jasmani atau tubuhnya tetapi rohaninya. Namun segala sesuatu yang gaib yang diciptakan oleh Allah hanya Allah sajalah yang mengetahuinya. "Mereka bertanya kepada engkau tentang Roh. Katakanlah: Roh itu adalah rahasia Tuhanku. Dan tidaklah diberikan ilmu pengetahuan kepadamu kecuali sedikit saja. "(Al Isra: 85)
Tetapi kita sebagai orang yang ber Iman, harus percaya bahwa ada kehidupan sesudah mati, kehidupan kekal dan abadi roh manusia di alam barzakh dan alam akhirat.
Pesan yang disampaikan adalah: Hindarkan dirimu dari sesal kemudian yang tak berguna.
Dijelaskan dalam Kitab suci al Quran dan Hadis Nabi Muhammad saw Diantaranya: Surat as Sajdah 11-12 dan Surat Az Zumar 58-59.
Untuk menghindari dari sesalan yang berkepanjangan, dalam surat az Zumar 54-55 dijelaskan: Dan kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada Nya sebelum datang kepadamu azab itu, kemudian kamu tidak dapat ditolong lagi (54). Ikutilah sebaik-baiknya (agama) yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, sebelum datang kepadamu azab dengan tiba-tiba, sedangkan kamu tidak sadar (55).
Dalam bab ini (Buku Samudra Al Fatihah oleh Bey Arifin), Penulis juga menjelaskan secara detail, tentang tahapan-tahapan kehidupan setelah mati disertai penelitian yang tertuang dalam Al Quran dan Hadis.
Dan dalam kesimpulan bab ini, diuraikan tentang surat Al Waqi'ah pada kejadian besar yaitu Kejadian Kiamat. Dijelaskan pula dalam hadits, bahwa untuk siapa yang sering membaca surat ini akan mengakibatkan ketenangan hati dan jiwa menghadapi segala kemungkinan dalam hidup dan mati.
SAMUDERA AL FATIHA 2
Didalamnya ada 3 Nama yang terbesar dari Nama-Nama Allah yaitu:
Allah, Ar Rahmaan dan Ar Rahiim, karena itu Rasulullah saw menamakan al Ismul a'zham yaitu Nama Teragung dari Allah
Dalam buku ini banyak sekali riwayat Nabi yang membahas keutamaan membaca Basmalah, diataranya:
Diriwayatkan oleh Imam Abdur Rahman bin Abu Hatim, berasal dari Ibnu Abbas, bahwa Usman bin Affan bertanya kepada Rasulullah tentang kalimat basmalah, lalu Rasulullah saw menjawab: "Ia adalah salah satu dari nama-nama Allah. Begitu dekatnya Bismillah ini dengan Nama Allah yang Teragung seperti dekatnya biji mata hitam dengan biji mata yang putih. "
Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih yang berasal dari Abu Buraidah bahwa Rasulullah saw bersabda: "Diturunkan kepadaku satu ayat yang tak pernah diturunkan kepada salah seorang Nabi, selain Sulaiman bin Dawud dan saya sendiri, yaitu ayat Bismillahir Rahmaanir Rahiim"
Dirawayatkan oleh Ibnu Hibbaan, sabda Rasulullah saw:
"Setiap pekerjaan (urusan) yang penting yang tidak dimulai dengan menyebut: Bismillaahir Rahmaanir-Rahiim, maka pekerjaan (urusan) itu akan pincang"
Tafsir Alhamdulillahir Rabbil Al Amiin (ayat ke 1 dalam surat Al Fatihah)
Al'aalamiin (Alam Semesta)
Sehebat apapun ilmu pengetahuan yang telah dicapai manusia saat ini, namun masih sedikit sekali dibandingkan dengan besar dan luasnya alam semesta raya.
Firman Allah: "Dan tidaklah diberikan pengetahuan kepadamu kecuali sedikit." (Al Isra: 85).
"Katakanlah (hai Muhammad), bahwa sesungguhnya pengetahuan (yang sempurna) hanya pada Allah, sedang aku ini hanya pemberi peringatan yang nyata." (Al Mulk: 26)
Begitu sedikit pengetahuan manusia tentang alam semesta ini, lebih sedikit lagi pengetahuan manusia tentang akhira. Nabi Muhammad saw berkata kepada salah seorang sahabat: "Kapan engkau masukkan sebelah tanganmu ke dalam laut, lalu engkau angkatlah tangan itu kembali, maka ari yang melekat pada tangan itulah pengetahuan dunia, dan air laut yang tertinggal di samudera adalah pengetahuan tentang akhirat".
Didalam buku ini banyak diceritakan bagaimana indah dan luasnya alam semesta alam raya ini, terlebih keindahan alam di malam yang terang dan cerah. Dijelaskan dalam surat Al Quran tentang hal ini, seperti Al Mulk :1-5, al Waqi'ah :75-76, al Mu'min: 57 dan masih banyak lagi.
Kekaguman kita terhadap kehebatan dan kebesaran alam semesta, dan kemudian akan lebih kagum lagi terhadap kehebatan dan kebesaran Allah yang menciptakannya. Dalam surat al Kahfi: 109: "Jika laut menjadi tinta untuk menuliskan kalimat-kalimat Allah, sungguh akan keringlah lautan sebelum habis kalimat-kalimat Allah, sekalipun ditambahkan sebanyak itu lagi."
Rabbil'Aalamiin
Firman Allah: "Sesungguhnya di dalam pergiliran malam dan siang, dan kapal-kapal yang berlayar pada samudera membawa apa-apa yang berguna untuk manusia dan apa-apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, sehingga dengan air itu menjadi hiduplah bumi yang awalnya mati, lalu hidup berkeliaran di atasnya segala macam binatang, berhembusnya angin dan awan antara langit dan bumi, semua itu adalah menjadi ayat-ayat atau tanda-tanda untuk orang yang berakal (berpikir). "(Al Baqarah: 164).
Jadi seluruh kejadian dibumi ini, disamping diambil manfaatnya untuk hidup, dapat pula dijadikan bukti dan tanda pada wujud kekuasaan dan kemurahan Allah, untuk pendorong agar kita selamanya hidup di dalam mengingat Allah, mensyukuri nikmat Allah dan mentaati segala perintah Allah.
Alhamdulillah
Ucapan atau kalimat yang menunjukkan rasa syukur terimakasih, kasih sayang, cinta, hormat, layanan, lega dan bangga terhadap Allah. . Dari segala macam bentuk susunan kalimat yang berisi pujaan dan pujian yang dihadapkan manusia kepada Allah, Allah memilih satu yang paling Allah senangi, nyaitu Alhamdulillahi Rabbil 'aalamiin.
Sabda Rasulullah saw:
"Dzikir paling utama adalah kalimat laa Ilaaha Illallaah, dan doa paling utama adalah kalimat Alhamdulillaahi"
Kalimat hamdalah berarti berdoa. Syaratnya adalah agar hati setiap orang yang menyebutnya harus ingat dan yakin bahwa Allah akan mengabulkan dan mendengarkannya.
Diriwayatkan oleh Imam al Qurthuby di dalam interpretasi dan di dalam kitab Nawadirul Ushul, dari Anas ra bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: "Jika dunia dan seluruh harta kekayaan yang berada di atasnya diserahkan ke tangan seorang dari umatku, lalu orang itu berkata:" Alhamdulillah " , sungguh ucapan "Alhamdulillah" itu lebih berharga dari seluruh harta kekayaan itu. "
SAMUDERA AL FATIHA 1
Mengapa Al Fatihah? Kita mengetahui bahwa belum sah sholat seseorang jika belum membaca surat Al Fatihah. Tentunya hal ini menyiratkan betapa agung dan hebatnya isi dari surat al Fatihah.
Dijelaskan dalam buku ini bahwa Al Fatehah merupakan kesimpulan dari seluruh isi Al Quran atau kesimpulan dari seluruh kitab-kitab suci atau kesimpulan dari ajaran semua agama yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad saw. Sebab itu pula, Surah ini dinamakan Al Fatihah (pembuka), atau ummul kitab (Induk Kitab).
Keistimewaan surat Al Fatihah
Paling Besar (a'zham)
"Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw.: Ya Rasulullah, Engkau mengatakan akan mengajarkan kepadaku sebesar-besarnya surah dalam Al Quran?". Berkata Rasulullah saw: ya, Alhamdulillahi Rabbil Aalamin (dan seterusnya), 7 ayat yang berulang-ulang, dan itulah al Quran al Azhiim yang telah disampaikan kepadaku. "(Dirawayatkan leh Al Bukhari, Abu Dawud, an Nasa'i, Ibnu Majah dan al Waqidi dari berbagai sumber)
Tak ada samanya dalam Taurat, Injil, Zabur dan Al Quran.
Hadits dari Ali Bin Abu Thalib ra bahwa Rasulullah saw berkata
"Siapa yang membaca Faithatul-Kitab (al Fatihah), maka seakan-akan dia telah membaca Taurat, Injil, Zabur dan al Furqan (Al Quran)"
Hanya kepada Muhammad saw diturunkan
Diriwayatkan oleh Muslim dan an Nasa'i, dari Ibnu Abbas ra "Jibril berkata kepada Muhammad, pada saat beliau mendengar suatu suara dari atas:" Bahwa telah terbuka sebuah pintu di langit dan tak pernah pintu itu terbuka sebelum ini, dari pintu itu turunlah seorang Malaikat dan langsung menuju ke Rasulullah dan berkata "Bergembiralah engkau Muhammad mendapat 2 cahaya yang tak pernah kedua cahaya itu diberikan kepada Nabi yang manapun sebelum engkau, kedua cahaya itu adalah Fatihatul Kitab dan beberapa ayat di akhir Surah Al Baqarah, setiap huruf engkau baca dari keduanya pasti engkau mendapatkannya "
Langsung mendapat jawaban dari Allah.
"Siapa yang membaca Surah Al Fatihah, setiap ayat yang dibaca itu langsung dijawab oleh Allah" (diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah ra)
Aman dari Segala Bahaya
Diriwayatkan oleh al Buzar dari Anas ra: Berkata Rasulullah saw: "Bila engkau baca al Fatihah dan Qul Huwwallahu Minggu maka amanlah engkau dari segala sesuatu, kecuali dari maut"
Langsung dari Arasy
Dirawayatkan oleh al Hakim di dalam al Mustadrak dari Ma'qal bin Yasaar ra: Telah berkata Rasulullah saw: "Amalkanlah segala apa yang tersebut di dalam Al Quran, halalkanlah apa yang dihalalkannya, haramkanlah apa yang diharamkannya, dan patuhilah ia, jangan sekali-kali engkau ingkari dan ragukan, ... sesungguhnya al Qur'an itu Pemberi Syafaat, sesuatu yang tak pandai bicara tetapi membawa kebenaran dan kepadaku diberikan Allah surat Al Baqarah dari Zikir Pertama .... dan diberikan kepadaku Al Fatihah langsung dari Arasy "
arti kata Arasy menurut istilah bahasa adalah singgasana raja. (Yakni Allah Yang Maha Penyayang).
Sebagai obat
"Hai Manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, dan obat obat untuk penyakit yang ada di dalam dada, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (Yunus: 57)
"Dan kami turunkan dari Al Quran sesuatu yang jadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan untuk orang-orang yang zhalim tetap merugi" (Al Isra: 82)
"Katakanlah al Quran itu sebagai petunjuk dan penawar (obat) untuk orang-orang yang beriman (Fusshilat: 44)
Khaulah Binti Tsa'labah (Wanita Yang Aduannya Dengar Allah Dari Langit Ketujuh)
Pada suatu hari, Khalifah Umar bin Khathab sedang mengadakan kunjungan resmi kenegaraan. Kebetulan di tengah jalan rombangan Khalifah itu bertemu dengan seorang wanita tua yang miskin bernama Khawalah binti Tsa'labah.
Di depan wanita itu Khalifah Umar bin Khathab langsung berlutut, dan berjam-jam Khalifah berbicara dengannya. Sehinga para pengawal dibuatnya bosan menungu.
"Wahai Amirul Mukminin, ayo kita lekas pergi. Untuk apa berbincang-bincang dengan wanita tua itu? "Seru para pengawal dengan nada menghina Khawalah, si perempuan tua itu.
Ucapan para pengawal itu membuat Khalifah Umar bin Khathab menjadi murka. Dengan kemarahan yang meluap-luap, Khalifah melawan para pengawal itu berkelahi, jika mereka tidak mau menarik kembali kata-katana dan meminta maaf kepada perempuan tua itu.
"Ketahuilah wahai para pengawal. Rasulullah saja selalu datang kepada perempuan ini untuk bermusyawarah, mengapa seorang Umar bin Khathab dan anak buahnya yang hina tidak mau tawadlu, dan hormat kepadanya. Ia merupakan seorang sahabat Rasulullah yang besar sekali jasa dan perjuangannya, "kata Khalifah Umar setelah meninggalkan Khawalah dan para pengawal itu sudah meminta maaf kepadanya.
Khawalah binti Tsa'labah adalah seorang sahabat Rasulullah yang telah berhasil mengajukan gugatan kepada Allah. Ketika suami Khawalah bersumpah dhiharI, maka terjadilah permasalahan antara keduanya.
Beliau adalah Khaulah binti Tsa `labah bin Ashram bin Fahar bin Tsa` labah Ghanam bin 'Auf. Ia tumbuh sebagai wanita yang fasih dan pandai. Ia dinikahi oleh Aus bin Shamit bin Qais, saudara dari Ubadah bin Shamit ra yang beliau bergabung perang Badar dan perang Uhud dan mengikuti seluruh perperangan yang disertai Rasulullah saw. Dengan Aus inilah beliau melahirkan anak laki-laki yang bernama Rabi `.
Khaulah binti Tsa `labah menemukan suaminya Aus bin Shamit dalam masalah yang membuat Aus marah, dia berkata," Bagiku engkau ini seperti punggung ibuku. " Kemudian Aus keluar setelah mengatakan kalimat tersebut dan duduk bersama orang-orang beberapa lama lalu dia masuk dan menginginkan Khaulah. Akan tetapi kesadaran hati dan kehalusan perasaan Khaulah membuatnya menolak hingga jelas hukum Allah terhadap kejadian yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah Islam. Khaulah berkata, "Tidak ... jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak bisa menjamahku karena engkau telah mengatakan sesuatu yang telah engkau ucapkankan terhadapku sehingga Allah dan Rasul-Nya lah yang memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa kita.
Kemudian Khaulah keluar menemui Rasulullah saw, lalu dia duduk di depan beliau dan menceritakan peristiwa yang menimpa dirinya dengan suaminya. Kebutuhannya adalah untuk meminta fatwa dan berdialog dengan nabi tentang urusan tersebut. Bersabda, "Kami belum pernah mendapatkan perintah berkenaan urusanmu tersebut ... aku tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya."
Wanita mukminah ini mengulangi perkatannya dan menjelaskan kepada Rasulullah saw apa yang menimpa dirinya dan anaknya jika dia harus cerai dengan suaminya, namun rasulullah saw tetap menjawab, "Aku tidak melihat melainkan engkau telah haram baginya".
Sesudah itu wanita mukminah ini senantiasa mengangkat kedua tangannya ke langit sedangkan di hatinya tersimpan kesedihan dan kesusahan. Pada kedua matanya nampak meneteskan air mata dan semacam ada penyesalan, maka beliau menghadap kepada Yang tiada akan rugi siapapun yang berdoa kepada-Nya. Beliau berdo'a, "Ya Allah sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu tentang peristiwa yang menimpa diriku".
Alangkah bagusnya seorang wanita mukminah semacam Khaulah, beliau berdiri di hadapan Rasulullah saw dan berdialog untuk meminta fatwa, adapun istighatsah dan mengadu tidak ditujukan melainkan untuk Allah Ta `ala. Ini adalah bukti kejernihan iman dan tauhidnya yang telah dipelajari oleh para sahabat kepada Rasulullah saw.
Tiada henti-hentinya wanita ini berdo `a sehingga suatu ketika Rasulullah saw pingsan sebagaimana biasanya beliau pingsan tatkala menerima wahyu. Kemudian setelah Rasulullah saw sadar kembali, beliau bersabda, "Wahai Khaulah, sungguh Allah telah menurunkan al-Qur` an tentang driimu dan suamimu kemudian beliau membaca firman-Nya (artinya), "Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan [halnya] kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat, ... sampai firman Allah: "dan untuk orang-orang kafir ada siksaan yang pedih." (Al-Mujadalah :1-4)
Kemudian Rasulullah saw menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarat (tebusan) Zhihar:
Nabi: Perintahkan kepadanya (suami Khansa `) untuk memerdekan seorang budak
Khaulah: Ya Rasulullah dia tidak memiliki seorang budak yang bisa dia merdekakan.
Nabi: Jika demikian perintahkan kepadanya untuk shaum dua bulan berturut-turut
Khaulah: Demi Allah dia adalah laki-laki yang tidak kuat melakukan shaum.
Nabi: Perintahkan kepadanya memberi makan dari kurma sebanyak 60 orang miskin
Khaulah: Demi Allah ya Rasulullah dia tidak memilikinya.
Nabi: Aku bantu dengan separuhnya
Khaulah: Aku bantu separuhnya yang lain wahai Rasulullah.
Nabi: Engkau benar dan baik maka pergilah dan sedekahkanlah kurma itu sebagai kafarat baginya, kemudian bergaulah dengan anak pamanmu itu secara baik. "Maka Khaulah pun melaksanakannya.
Inilah kisah seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada pemimpin anak Adam as yang mengandung banyak pelajaran di dalamnya dan banyak hal yang menjadikan seorang wanita yang mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dengan bangga dan perasaan mulia dan besar perhatian Islam terhadapnya.
Ummul mukminin Aisyah ra berkata tentang hal ini, "Segala puji bagi Allah yang Maha luas pendengaran-Nya terhadap semua suara, telah datang seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada Rasulullah saw, dia berbincang-bincang dengan Rasulullah saw sementara aku berada di samping rumah dan tidak mendengar apa yang dia katakan, maka kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, "Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah ..." (Al-Mujadalah: 1)
Inilah wanita mukminah yang dididik oleh Islam yang menghentikan Khalifah Umar bin Khaththab ra saat berjalan untuk memberikan wejangan dan nasehat kepadanya. Beliau berkata, "Wahai Umar aku telah mengenalmu sejak namamu dahulu masih Umair (Umar kecil) tatkala engkau berada di pasar Ukazh engkau mengembala kambing dengan tongkatmu, kemudian berlalulah hari demi hari sehingga memiliki nama Amirul Mukminin, maka bertakwalah kepada Allah perihal rakyatmu, ketahuilah barangsiapa yang takut akan siksa Allah maka yang jauh akan menjadi dekat dengannya dan barangsiapa yang takut mati maka dia kan takut kehilangan dan barangsiapa yang yakin akan adanya hisab maka dia takut terhadap Adzab Allah. " Beliau katakan hal itu sementara Umar Amirul Mukminin berdiri sambil menundukkan kepalanya dan mendengarkan perkataannya.
Akan tetapi al-Jarud al-Abdi yang bergabung Umar bin Khaththab tidak tahan mengatakan kepada Khaulah, "Engkau telah berbicara banyak kepada Amirul Mukminin wahai wanita.!" Umar kemudian menegurnya, "Biarkan dia ... tahukah kamu siapakah dia? Ia adalah Khaulah yang Allah mendengarkan perkataannya dari langit yang ketujuh, maka Umar lebih berhak untuk mendengarkan perkataannya."
Dalam riwayat lain Umar bin Khaththab berkata, "Demi Allah seandainya ia tidak menyudahi nasehatnya kepadaku hingga malam hari maka aku tidak akan menyudahinya sehingga beliau selesaikan apa yang dia inginkan, kecuali jika telah datang waktu shalat maka aku akan mengerjakan shalat kemudian kembali mendengarkannya sehingga selesai keperluannya . "
Sejak saat itulah islah memiliki garis ketentuan masalah Dhihar yang pada dasarnya dibolehkan ruju 'kembali, dengan ketentuan membayar kafarat yang telah ditentukan oleh Islam.
Demikian perjuangan Khawalah binti Tsa'labah dan keistimewaannya. Seorang wanita yang berani mengajukan tuntutan atas haknya kepada Allah, dan itu pun diterima dengan baik, yang sekaligus merubah adat Jahiliyah menuju syare'at Islam yang lebih sempurna.
Oleh karena yang demilian Rasulullah sering bermusyawarah dengan Khawalah binti Tsa'labah. Dan Khalifah Umar bin Khathab pun sangat tawadlu 'dan hormat kepadanya, demikian juga sahabat yang lain.
Pahala Bersolek Bagi Istri Shalihah
Barangkali para istri muslimah terpesona dengan tema ini, sebab ini bukan perkara yang aneh. Mereka semua pasti setuju. Ya, memang benar bahwa bersoleknya seorang istri untuk suaminya adalah merupakan proses ibadah yang bernilai pahala. Istri yang muslimah diseru untuk selalu memperhatikan kecantikan, keindahan, dan kemolekannya, meski usia pernikahannya telah melewati puluhan tahun lamanya.
Ini mengingat, meskipun suaminya sudah tua, dia tetap akan merasakan kedamaian dari kata-kata manis sang istri. Dia senantiasa menikmati pemandangan indah istrinya. Dengan demikian, minimal sang istri bisa menjaga suaminya, untuk tidak melirik wanita lain.
Sebagian muslimah yang sudah beristri terkadang menganggap bahwa berdandan merupakan hak para model, artis, penyiar televisi, dan wanita-wanita yang tidak agamis lainnya. Pandangan tersebut jelas sangat keliru dan tertolak kebenarannya. Sebab, bersolek dan berdandan merupakan faktor terpenting untuk memantapkan cinta dan menaklukkan hati suami. Selain itu, berdandan juga bisa diakses untuk merekonstruksi kokohnya bangunan rumah tangga suami-istri.
Dalam bukunya Az-Zaujah Al-Mubdi’ah wa Asrar Al-Jamal, Shabah Sa’id menegaskan, di antara kesalahan-kesalahan fatal yang dilakukan oleh para istri adalah mengabaikan aktivitas berdandan dan berhias, serta tidak menampakkan sisi femininnya kepada suaminya. Penampilan apa adanya sang istri di hadapan suaminya, atau bahkan mengabaikan penampilan dirinya, merupakan faktor potensial yang dapat merusak kehidupan rumah tangga.
…di antara kesalahan-kesalahan fatal yang dilakukan oleh para istri adalah mengabaikan aktivitas berdandan dan berhias, serta tidak menampakkan sisi femininnya kepada suaminya…
Shabah Sa’id melanjutkan, yang lebih menakjubkan lagi tentunya jika kita melihat sebagian muslimah mengabaikan atau menganggap remeh dandanan mereka di hadapan suaminya. Sangat ironis jika kita menyaksikan para muslimah tampil seadanya di hadapan suami mereka, dan aroma dapur atau bau masakan tercium dari mulut dan badan mereka, namun di luar rumah kita bisa mencium aroma wangi semerbak dari mulut dan pakaian mereka.
Islam benar-benar mendorong kaum muslimah agar merawat kecantikan dan kelembutannya. Rasulullah SAW bersabda kepada Umar, “Maukah kuberitahukan sebaik-baik simpanan seseorang? Dia adalah wanita shalihah, yaitu jika suami memandangnya, dia menyenangkannya.”
Dari hadits Abdullah bin Salam, bahwa Rasulullah bersabda ”Sebaik-baik istri ialah istri yang menyenangkan kamu bila engkau memandang (nya), dan taat kepadamu bila engkau menyuruh (nya), serta menjaga dirinya dan harta bendamu di waktu engkau tidak berada bersamanya.”
Oleh karena itu, berdandan untuk suami merupakan bagian dari ibadah. Sehingga istri kelak akan mendapatkan balasan dan pahala dari Allah di akhirat kelak. Selain itu, dia akan mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan dalam hidupnya bersama suaminya.
…Istri wajib tampil cantik dan semenarik mungkin di depan suami. Dan semua itu akan melahirkan pahala yang besar dari Allah…
Betapa tidak, barangsiapa yang menemui istrinya, lalu dia mendapati istrinya dalam keadaan cantik dan menarik, itu berarti sang istri telah menyenangkan suaminya. Pun demikian, dia harus bisa menarik hati suami dengan segenap kecantikan dan sikap manjanya.
Berhias atau berdandan adalah sifat fitrah seorang wanita, di mana secara naluri para wanita umumnya punya kecenderungan untuk tampil cantik dan menarik. Ini barangkali berhubungan dengan jiwa wanita yang suka pada keindahan dan kebersihan ketimbang laki-laki. Naluri ini adalah karunia Allah yang harus disyukuri.
Dalam pelaksanaannya, naluri untuk tampil cantik dan berhias ini telah Allah berikan petunjuk-Nya, sehingga tidak salah jalan yang hanya akan mengakibatkan kerugian dan kerusakan bagi pelakunya.
Ini mirip dengan naluri untuk makan yang merupakan karunia yang harus disyukuri. Namun naluri itu perlu dibuatkan koridornya agar tidak mencelakakan diri sendiri. Misalnya Allah melarang untuk memakan makanan yang merusak diri sendiri dan juga yang menghilangkan akal pikiran. Semua itu diberlakukan agar nikmat ini terjaga dan berfaedah, bukan merusak dan menghancurkan sang hamba.
Dalam persoalan berhias, maka batasan yang Allah tetapkan adalah:
1. Kepada suami
Istri wajib tampil cantik dan semenarik mungkin di depan suami. Dan semua itu akan melahirkan pahala yang besar dari Allah.
2. Kepada laki-laki yang mahram dan sesama wanita muslimah
Seorang wanita boleh menampakkan sebagian tubuhhya seperti kepala, leher, tangan, kaki dan bagian lain yang memang dibolehkan secara syar‘i di depan keluarganya yang masih mahram. Namun tidak boleh menampakkan bagian seperti aurat-aurat ‘besar’ dan lainnya. Berdandan di depan mereka pun tidak menjadi masalah asal masih dalam batas yang wajar dan tidak vulgar.
…Selain itu, Islam menentang sikap berlebih-lebihan dalam berhias sampai pada tahapan menjurus pengubahan ciptaan Allah…
3. Tidak berdandan untuk laki-laki non-mahram dan wanita kafir
Keduanya punya kedudukan yang sama yaitu diharamkan menampakkan bagian tubuh dan berhias di depan mereka. Apalagi melenggak-lenggokkan tubuh untuk menarik syahwat laki-laki asing atau non-mahram.
Selain itu, Islam menentang sikap berlebih-lebihan dalam berhias sampai pada tahapan menjurus pengubahan ciptaan Allah yang oleh Al-Qur‘an dinilai bahwa mengubah ciptaan Allah adalah ajakan setan kepada pengikut-pengikutnya. Pasalnya, setan akan berkata, “Sungguh akan kami pengaruhi mereka itu, sehingga mereka mau mengubah ciptaan Allah.” (An-Nisa’ 119)
Berdandan tidak harus dengan memakai make up dan perhiasan yang mahal. Rajin membersihkan diri dengan mandi, bersiwak, memakai parfum dan berpakaian rapi dan serasi, sudah termasuk bagian dari berdandan.
…Dandanan yang memikat dan aroma parfum yang harum akan menjaga dan memagari suami dari maksiat…
Demikian pula menyisir rambut, mencabuti bulu ketiak dan memotong rambut kemaluan, juga termasuk berdandan. Jika suka dan memang punya, bolehlah memoleskan sedikit bedak ke wajah, dan lipstik tipis di bibirmu. Itu akan menambah cantik penampilan. Kalau ada, tak ada salahnya pula memakai perhiasan, atau berpakaian menarik di hadapan suami. Tentu, semua itu harus diikuti dengan keindahan akhlakmu.
Berpakaian model apapun yang diinginkan dan disenangi suami, maka itu dibolehkan dalam syariat Islam, karena tidak ada batasan aurat antara istri dan suaminya. Dandanan yang memikat dan aroma parfum yang harum akan menjaga dan memagari suami dari maksiat. Mata suami akan tertutup dari melihat pemandangan haram di luar rumah, bila mata itu dipuaskan oleh istrinya dalam rumah. Jika istri tidak dapat memuaskan atau menyenangkan suami sehingga suaminya sampai jatuh dalam kemaksiatan (tertarik melihat pemandangan haram di luar rumah) maka berarti si istri turut berperan membantu suaminya bermaksiat kepada Allah.
…Mata suami akan tertutup dari melihat pemandangan haram di luar rumah, bila mata itu dipuaskan oleh istrinya dalam rumah…
Benar, bahwa dunia ini hanya sekedar jembatan, dan tujuan hidup seorang mukmin tidak hanya untuk melahap kenikmatan. tetapi menikmati yang mubah juga dianjurkan, sebagaimana melakukan yang haram juga dilarang. Maka telah disebutkan di dalam hadits, bahwa Nabi Muhammad bersabda, “Di dalam diri di antara kalian terdapat sedekah.” (HR. Muslim).
Maka ‘bersedekahlah’ kepada para suami dengan berdandan semenarik mungkin, demi keridhaan Allah dan pahala-Nya.
Hadist tentang Perzinaan
Perzinaan
1. Apabila perzinaan dan riba telah melanda suatu negeri maka mereka (penghuninya) sudah menghalalkan atas mereka sendiri siksaan Allah. (HR. Ath-Thabrani dan Al Hakim)
2. Ada dua golongan dari penghuni neraka yang Aku tidak sampai melihat mereka yaitu suatu kaum yang menyandang pecut seperti ekor sapi (yang) dipakai untuk memukuli orang-orang dan wanita-wanita berpakaian mini, telanjang. Mereka melenggang bergoyang. Rambutnya ibarat punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga atau mencium harumnya surga yang sebenarnya dapat dirasakan dari jarak sekian sekian. (HR. Muslim)
3. Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua telinga zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhasrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisir atau diwujudkan) oleh kelamin atau digagalkannya. (HR. Bukhari)
4. Perzinaan mengakibatkan kemiskinan. (HR. Al-Baihaqi dan Asysyihaab)
5. Perbuatan lesbian di antara kaum wanita adalah perzinaan. (HR. Ath-Thabrani)
MENITI JALAN PARA SAHABAT Sa'ad bin Muadz
Sa'ad bin Muadz
"Kebahagiaan Bagimu, Wahai ABU AMR...!"
Pada usia 31 tahun ia masuk Islam. Dan dalam usia 31 tahun ia pergi menemui syahidnya. Dan antara hari keislamannya sampai saat wafatnya, telah diisi oleh Sa'ad bin Muadz dengan karya-karya gemilang dalam berhakti kepada Allah dan Rasul-Nya... .
Lihatlah, Gambarkanlah dalam ingatan kalian laki-laki yang anggun berwajah tampan berseri-seri, dengan tubuh tinggi jangkung dan badan gemuk gempal ...? Nab, itulah dia ... !
Bagai hendak dilipatnya bumi dengan melompat dan berlari menuju rumah As'ad bin Zurarah, untuk melihat seorang pria dari Mekah bernama Mush'ab bin Umeir yang dikirim oleh Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai utusan guna menyebarkan tauhid dan Agama Islam di Madinah ....
Memang, ia pergi ke sana dengan tujuan hendak mengusir perantau ini ke luar perbatasan Madinah, agar ia membawa kembali Agamanya dan membiarkan penduduk Madinah dengan agama mereka
Tetapi baru saja ia bersama Useid bin Zurarah sampai ke dekat majlis Mush'ab di rumah sepupunya, tiba-tiba dadanya telah terhirup udara segar yang meniupkan rasa nyaman. Dan belum lagi ia sampai kepada hadirin dan duduk di antara mereka memasang telinga terhadap uraian-uraian Mush'ab, maka petunjuk Allah telah menerangi jiwa dan ruhnya.
Demikianlah, dalam ketentuan taqdir yang mengagumkan, mempesona dan tidak terduga, pemimpin golongan Anshar itu melemparkan lembingnya jauh-jauh, lain mengulurkan tangan kanannya mengangkat bai'at kepada utusan Rasulullah saw.....
Dan dengan masuk Islamnya Sa'ad, bersinarlah pula di Madinah mata hari baru, Yang pada garis edarnya akan berputar dan beriringan qalbu yang tidak sedikit jumlahnya, dan bersama Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam menyerahkan diri mereka kepada Allah Robbul'alamin . . . !
Sa'ad telah memeluk Islam, memikul tanggung jawab itu dengan keberanian dan kebesaran ... Dan tatkala Rasulullah hijrah ke Madinah, maka rumah-rumah kediaman Bani Abdil Asyhal, yakni kabilah Sa'ad, pintunya terbuka lebar bagi golongan Muhajirin, begitu pula semua harta kekayaan mereka dapat dimanfa'atkan tanpa batas, pemakainya tidak perlu rendah diri dan jangan takut akan disodori bon perhitungan.
Dan datanglah saat perang Badar ....Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengumpulkan shahabat-shahabatnya dari golongan Muhajirin dan Anshar untuk bermusyawarah dengan mereka tentang urusan perang itu dihadapkannya wajahnya yang mulia ke arah orang-orang Anshar, seraya katanya: "Kemukakanlah buah fikiran kalian, wahai shahabat ... !"
Maka bangkitlah Sa'ad bin Mu'adz tak ubah bagi bendera di atas tiangnya, katanva: -
"Wahai Rasulullah ! Kami telah beriman kepada anda, kami percaya dan mengakui bahwa apa yang anda bawa itu adalah hal yang benar, dan telah kami berikan pula ikrar dan janji-janji kami. Maka laksanakanlah terus, ya Rasulallah apa yang anda inginkan, dan kami akan selalu bersama anda ... ! Dan demi Allah yang telah mengutus anda membawa kebenaran! Seandainya anda menghadapkan kami ke lautan ini lalu anda menceburkan diri ke dalamnya, pastilah kami akan ikut mencebur, tak seorang pun yang akan mundur, dan kami tidak keberatan untuk menghadapi musuh esok pagi! Sungguh, kami tabah dalam pertempuran dan teguh menghadapi perjuangan ... ! Dan semoga Allah akan memperlihatkan kepada anda tindakan kami yang menyenangkan hati ... ! Maka maulailah kita berangkat dengan berkah Allah Ta'ala... !"
Kata-kata Sa'ad itu muncul tak ubah bagai berita gembira, dan wajah Rasul pun bersinar-sinar dipenuhi rasa ridla dan bangga serta bahagia, lalu katanya kepada Kaum Muslimin: -
"Marilah hita berangkat dan besarkan hati halian karena Allah telah menjanjihan kepadahu salah satu di antara dua golongan! ... Demi Allah,... sungguh seolah-olah tampak olehhu hehancuran orang-orang itu ... !" (al-Hadits)
Dan di waktu perang Uhud, yakni ketika Kaum Muslimin telah cerai-berai disebabkan serangan mendadak dari tentara musyrikin, maka takkan sulit bagi penglihatan mata untuk menemukan kedudukan Sa'ad bin Mu'adz ....
Kedua kakinya seolah-olah telah dipakukannya ke bumi di dekat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mempertahankan dan membelanya mati-matian, suatu hal yang agung, terpancar dari sikap hidupnya ....
Kemudian datanglah pula saat perang Khandak, yang dengan jelas membuktikan kejantanan Sa'ad dan kepahlawanannya ....
Perang Khandak ini merupakan bukti nyata atas persekongkolan dan siasat licik yang dilancarkan kepada Kaum Muslimin tanpa ampun, yaitu dari orang-orang yang dalam pertentangan mereka, tidak kenal perjanjian atau keadilan.
Maka tatkala Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersama para shahabat hidup dengan sejahtera di Madinah mengabdikan diri kepada Allah saling nasihat-menasihati agar mentaati-Nya serta mengharap agar orang-orang Quraisy menghentikan serangan dan peperangan, kiranya segolongan pemimpin Yahudi secara diam-diam pergi ke Mekah lalu menghasut orang-orang Quraisy terhadap Rasulullah sambil memberikan janji dan ikrar akan berdiri di samping Quraisy bila terjadi peperangan dengan orang-orang Islam nanti.
Pendeknya mereka telah membuat perjanjian dengan orang-orang musyrik itu, dan bersama-sama telah mengatur rencana dan siasat peperangan. Di samping itu dalam perjalanan pulang mereka ke Madinah, mereka berhasil pula menghasut suatu suku terbesar di antara suku-suku Arab yaitu kabilah Gathfan dan mencapai persetujuan untuk menggabungkan diri dengan tentara Quraisy.
Siasat peperangan telah diatur dan tugas serta peranan telah dibagi-bagi. Quraisy dan Gathfan akan menyerang Madinah dengan tentara besar, sementara orang-orang Yahudi, di waktu Kaum Muslimin mendapat serangan secara mendadak itu, akan melakukan penghancuran di dalam kota dan sekelilingnya!
Maka tatkala Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengetahui permufakatan jahat ini, beliau mengambil langkah-langkah pengamanan. Dititahkannyalah menggali khandak atau parit perlindungan sekeliling Madinah untuk membendung seubuan musuh. Di samping itu diutusnya pula Sa'ad bin Mu'adz dan Sa'ad bin Ubadah kepada Ka'ab bin Asad pemimpin Yahudi suku Quraidha untuk menyelidiki sikap mereka yang sesungguhnya terhadap orang yang akan datang, walaupun antara mereka dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sebenamya sudah ada beberapa perjanjian dan persetujuan damai.
Dan alangkah terkejutnya kedua utusan Nabi, karena ketika bertemu dengan pemimpin Bani Quraidha itu, jawabnya ialah: -"Tak ada persetujuan atau perjanjian antara Kami dengan Muhammad... !"
Menghadapkan penduduk Madinah kepada pertempuran sengit dan pengepungan ketat ini, terasa amat beuat bagi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. OLeh sebab itulah beliau memikirkan sesuatu siasat untuk memisahkan suku Gathfan dari Quraisy, hingga musuh yang akan menyerang, bilangan dan kekuatan mereka akan tinggal separoh.
Siasat itu segera beliau laksanakan yaitu dengan mengadakan perundingan dengan para pemimpin Gathfan dan menawarkan agar mereka mengundurkan diri dari peperangan dengan imbalan akan beroleh sepertiga dari hasil pertanian Madinah. Tawaran itu disetujui oleh pemimpin Gathfan, dan tinggal lagi mencatat persetujuan itu hitam di atas putih ....
Sewaktu usaha Nabi sampai sejauh ini, beliau tertegun, karena menyadari tiadaiah sewajarnya ia memutuskan sendiri masalah tersebut. Maka dipanggilnyalah para shahabatnya untuk merundingkannya. Terutama Sa'ad bin Mu'adz dan Sa'ad bin Ubadah, buah fikiran mereka amat diperhatikannya, karena kedua mereka adalah pemuka Madinah, dan yang pertama kali berhak untuk membicarakan seal tersebut dan memilih langkah mana yang akan diambil
Rasulullah menceritakan kepada kedua mereka peristiwa perundingan yang berlangsung antaranya dengan pemimpin-pemimpin Gathfan. Tak lupa ia menyatakan bahwa langkah itu diambilnya ialah karena ingin menghindarkan kota dan penduduk Madinah dari serangan dan pengepungan dahsyat.
Kedua pemimpin itu tampil mengajukan pertanyaan:
"Wahai Rasulullah, apakah ini pendapat anda sendiri, ataukah wahyu yang dititahkan Allah ... ?" Ujar Rasulullah: "Bukan, tetapi ia adalah pendapatku yang kurasa baik untuk tuan-tuan! Demi Allah, saya tidak hendak melakukannya kecuali karena melihat orang-orang Arab hendak memanah tuan-tuan secara serentak dan mendesak tuan-tuan dari segenap jurusan.
Maka saya bermaksud hendak membatasi kejahatan mereka sekecil mungkin.. !"
Sa'ad bin Mu'adz merasa bahwa nilai mereka sebagai laki-laki dan orang-orang beriman, mendapat ujian betapa juga coraknya.
Maka katanya: -
'Wahai Rasulullah! Dahulu kami dan orang-orang itu berada dalam kemusyrikan dan pemujaan berhala, tiada mengabdikan diri pada Allah dan tidak kenal kepada-Nya, sedang mereka tak mengharapkan akan dapat makan sehutir kurma pun dari hasil bumi kami kecuali bila disuguhkan atau dengan cara jual beli .... Sekarang, apakah setelah kami beroleh kehormatan dari Allah dengan memeluk Islam dan mendapat bimbingan untuk menerimanya, dan setelah kami dimuliakan-Nya dengan anda dan dengan Agama itu, lain kami harus menyerahkan harta kekayaan kami ...? Demi Allah, kami tidak memerlukan itu, dan demi Allah, kami tak hendak memberi kepada mereka kecuali pedang ... hingga Allah menjatuhkan putusan-Nya dalam mengadili kami dengan mereka... !"
Tanpa bertangguh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam merubah pendiriannya dan menyampaikan kepada para pemimpin suku Gathfan bahwa sahabat-sahabatnya menolak rencana perundingan, dan bahwa beliau menyetujui dan berpegang kepada putusan shahabatnya....
Berselang beberapa hari, kota Madinah mengalami pengepungan ketat. Sebenarnya pengepungan itu lebih merupakan pilihannya sendiri daripada dipaksa orang, disebabkan adanya parit yang digali sekelilingnya untuk menjadi benteng perlindungan bagi dirinya. Kaum Muslimin pun memasuki suasana perang. Dan Sa'ad bin Mu'adz keluar membawa pedang dan tombaknya sambil berpantun:
"Berhentilah sejenak, nantikan berkecamuknya perang Maut berkejaran menyambut ajal datang menjelang ... !"
Dalam salah satu perjalanan kelilingnya nadi lengannya disambar anak panah yang dilepaskan oleh salah seorang musyrik.
Darah menyembur dari pembuluhnya dan segera ia dirawat secara darurat untuk menghentikan keluamya darah. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruh membawanya ke mesjid, dan agar didirikan kemah untuknya agar ia berada di dekatnya selama perawatan.
Sa'ad, tokoh muda mereka itu dibawa oleh Kaum Muslimin ke tempatnya di mesjid Rasul. Ia menunjukkan pandangan matanya ke arah langit, lain mohonnya: -
"Ya Allah, jika dari peperangan dengan Quuaisy ini masih ada yang Engkau sisakan, maka panjangkanlah umurku untuk menghadapinya! Karena tak ada golongan yang diinginkan untuk menghadapi mereka daripada kaum yang telah menganiaya Rasul-Mu,telah mendustakan dan mengusirnya... !
Dan seandainya Engkau telah mengakhiri perang antara kami dengan mereka, jadikanlah kiranya musibah yang telah menimpa diriku sekarang ini sebagai jalan untuk menemui syahid ... ! Dan janganlah aku dimatikan sebelum tercapainya yang memuaskan hatiku dengan Bani Quraidha ... !"
Allah-lah yang menjadi pembimbingmu, wahai Sa'ad bin Mu'adz ... ! Karena siapakah yang mampu mengeluarkan ucapan seperti itu dalam suasana demikian, selain dirimu ...?
Dan permohonannya dikabulkan oleh Allah. Luka yang dideritanya menjadi penyebab yang mengantarkannya ke pintu syahid, karena sebulan setelah itu, akibat luka tersebut ia kembali menemui Tuhannya. Tetapi peristiwa itu terjadi setelah hatinya terobatil terhadap Bani Quraidha.
Kisahnya ialah setelah orang-orang Quraisy merasa putus asa untuk dapat menyerbu kota Madinah dan ke dalam barisan mereka menyelinap rasa gelisah, maka mereka sama mengemasi barang perlengkapan dan alat senjata, lalu kembali ke Mekah dengan hampa tangan.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berpendapat, mendiamkan perbuatan orang-orang Quraidha, berarti membuka kesempatan bagi kecurangan dan pengkhianatan mereka terhadap kota Madinah bilamana saja mereka menghendaki, suatu hal yang tak dapat dibiarkan berlalu! Oleh sebab itulah beliau mengerahkan shahabat-shahabatnya kepada Bani Quraidha itu. Mereka mengepung orang-orang Yahudi itu selama 25 hari. Dan tatkala dilihat oleh Bani Quraidha bahwa mereka tak dapat melepaskan diri dari Kaum Muslimin, mereka pun menyerahlah dan mengajukan permohonan kepada Rasulullah yang beroleh jawaban bahwa nasib mereka akan tergantung kepada putusan Sa'ad bin Mu'adz. Di masa jahiliyah dahulu, Sa'ad adalah sekutu Bani Quraidha ....
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengirim beberapa shahabat untuk membawa Saad bin Mu'adz dari kemah perawatannya di mesjid. Ia dinaikkan ke atas kendaraan, sementara badannya kelihatan lemah dan menderita sakit.
Kata Rasulullah kepadanya: "Wahai Sa'ad! Berilah keputusanmu terhadap Bani Quraidha ... !" Dalam fikiran Sa'ad terbayang kembali kecurangan Bani Quraidha yang berakhir dengan perang Khandak dan nyaris menghancurkan kota Madinah serta penduduknya. Maka ujar Sa'ad: -- "Menurut pertimbanganku, orang-orang yang ikut berperang di antara mereka hendaklah dihukum bunuh. Perempuan dan anak mereka diambil jadi tawanan, sedang harta kekayaan mereka dibagi-bagi ... !" Demikianlah, sebelum meninggal, hati Sa'ad telah terobat terhadap Bani Quraidha....
Luka yang diderita Sa'ad setiap hari bahkan setiap jam kian bertambah parah .... Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam datang menjenguknya. Kiranya didapatinya ia dalam saat terakhir dari hayatnya. Maka Rasulullah meraih kepalanya dan menaruhnya di atas pangkuannya, lain berdu'a kepada Allah, katanya: "Ya Allah, Sa'ad telah berjihad di jalan-mu ia telah membenarkan Rasul-Mu dan telah memenuhi kewajibannya. Maka terimalah ruhnya dengan sebaik-baiknya cara Engkau menerima ruh... !"
Kata-kata yang dipanjatkan Nabi itu rupanya telah memberikan kesejukan dan perasaan tenteram kepada ruh yang hendak pergi. Dengan susah payah dicobanya membuka kedua matanya dengan harapan kiranya wajah Rasulullah adalah yang terakhir dilihatnya selagi hidup ini, katanya: "Salam atasmu, wahai Rasulullah... ! Ketahuilah bahwa aku mengakui bahwa anda adalah Rasulullah!"
Rasulullah pun memandangi wajah Sa'ad lalu katanya: "Kebahaggaan bagimu wahai Abu Amr ... !"
Berkata Abu Sa'id al-Khudri: -- "Saya adalah salah seorang yang menggali makam untuk Sa'ad · ... Dan setiap kami menggali satu lapisan tanah, tercium oleh kami wangi kesturi, hingga sampai ke liang lahat".
Musibah dengan kematian Sa'ad yang menimpa Kaum Muslimin terasa berat sekali. Tetapi hiburan mereka juga tinggi "Nilainya, karena mereka dengar Rasul mereka yang mulia bersabda: "Sungguh, 'Arasy Tuhan Yang Rahman bergetar dengan berpulangnya Sa'ad bin Mu'adz ... !
Cara Syaitan Menipu Orang Yang Bertaubat
Sesungguhnya syetan tidak suka jika manusia mendapat cinta dan ridla Rabb-nya. Dia berusaha menjerumuskan mereka ke dalam kemaksiatan, tindakan keji, dan berkata tentang Allah tanpa ilmu. Harapannya, agar mereka menjadi temannya di neraka yang menyala-nyala.
Begitu juga terhadap orang yang sudah terjerumus ke dalam lembah kemaksiatan dan ingin keluar darinya, Syetan tidak pernah tinggal diam. Dia menggunakan berbagai cara tipu muslihat dan talbis agar mereka tetap dalam lembah maksiat. Terkadang syetan menggoda dengan menanamkan perasaan bahwa dirinya sangat kotor, dosanya bertumpuk-tumpuk dan tak terampuni. Sesekali juga dengan membisikkan tipuan bahwa Allah Mahapenerima taubat dan Mahapengampun, kapan saja bertaubat Allah senantiasa membuka pintu-Nya. Akhirnya ia memandang mudah masalah taubat, menggampangkannya, dan menunda-nundanya sehinga ia tak pernah bertaubat karena ajal dahulu menjemput. Berikut ini rincian godaan syetan agar menusia jauh dari taubat:
1. Tazyin, yaitu syetan menghiasi (menjadikan indah) perbuatan maksiat yang dilakukannya, menjadikannya cinta kepada maksiat itu, menjauhkannya dari ketaatan dan menampakkan susah dan beratnya taubat.
2. Talbis, yaitu syetan menipu manusia dengan menjadikan yang haram seperti halal, yang mungkar terlihat ma'ruf, batil seolah hak sehingga ia tidak akan keluar dari perbuatan tersebut.
3. Taswif, yaitu menunda-nunda taubat sehingga maut menjemput. Cara mengobatinya dengan banyak mengingat kematian dan bencana. Misalnya: banyak anak-anak yang lebih dulu mati sebelum yang tua, yang sehat sebelum yang sakit.
Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam :
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اَللَّذَّاتِ: اَلْمَوْتِ
"Perbanyaklah mengingat sesuatu yang menghilangkan kenikmatan, yaitu kematian." (HR. At-Tirmidzi no. 2307; an Nasai 4/4; dan dishahihkan oleh Ibnu hibban)
. . syetan menghiasi (menjadikan indah) perbuatan maksiat yang dilakukannya, menjadikannya cinta kepada maksiat itu, . .
4. Meremehkan maksiat. Syetan menggodanya dengan mengatakan; "dosa-dosamu masih sedikit dibandingkan dosa orang lain. Allah Maha Pengampun dan Penyanyang. Dia tidak akan menyiksamu dengan dosa ini."
Ibnu Mas'ud radliyallah 'anhu berkata:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ فِي أَصْلِ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ وَقَعَ عَلَى أَنْفِهِ قَالَ بِهِ هَكَذَا فَطَارَ
"Sesungguhnya seorang mukmin dalam melihat dosanya, seolah-olah ia berada di bawah gunung, yang takut akan menimpanya. Dan sungguh seorang fajir melihat dosanya seperti lalt yang hinggap di hidungnya, lalu ia berkata seperti ini, maka lalat itupun terbang." (HR. Al-Bukhari no. 5833; al Tirmidzi no. 2421; Ahmad no. 3446)
Maknanya, dia menganggap remeh dosanya. Ia yakin dosanya tidak akan mendatangkan bahaya yang besar, sebagaimana ia meremehkan lalat. Sehingga ia merasa mudah menghilangkannya.
"Dosa-dosamu masih sedikit dibandingkan dosa orang lain. Allah Maha Pengampun dan Penyanyang. Dia tidak akan menyiksamu dengan dosa ini,"
godaan syetan.
5. Merasa sulit istiqamah dalam ketaatan setelah taubat. Sesungguhnya taubat menuntut keistiqamahan terhadap ketaatan, sedangkan istiqamah terasa amat berat bagi jiwa. Ketika rasa berat muncul, syetan membisikkan agar dia berputus asa, lalu meninggalkan ketaatan dan kembali melakukan kemaksiatan-kemaksiatan.
6. Berputus asa, yaitu dengan menanamkan perasaan dosanya sudah terlalu banyak, sehingga rasa takutnya menutupi rasa raja' (harap)-nya kepada ampunan dan rahmat Allah. Lalu syetan masuk dari pintu ini dan membisikkan bahwa dosanya tidak akan diampuni, taubatnya tidak akan diterima karena banyaknya dosa yang telah ia lakukan. Pada akhirnya, ia berputus asa dari Rahmat Allah. Dan rasa putus asa ini adalah dosa tersendiri yang menambah dosa yang telah lalu.
Cara mengatasinya, harus selalu mengingat luasnya rahmat Allah dan besar ampunan-Nya. Allah Ta'ala berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
"Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, Allah Ta'ala berfirman:
يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
"Hai anak Adam, sungguh selama engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampunimu sebanyak apapun dosamu dan aku tidak perduli. Hai anak Adam, kalau seandainya dosamu mencapai setinggi langit, kemudian engkau beristighfar kepada-Ku, akan aku ampuni dosamu dan aku tidak perduli. Hai anak Adam, sungguh kalau kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam kondisi tidak melakkan syirik, pasti aku akan mendatangkan ampunan sebanyak itu juga." (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
Lalu syetan masuk dari pintu ini dan membisikkan bahwa dosanya tidak akan diampuni, taubatnya tidak akan diterima karena banyaknya dosa yang telah ia lakukan.
7. Tertipu dengan banyaknya pelaku maksiat (berserikat dengan pelaku kemaksiatan). Seperti orang yang bersama-sama melakukan perampokan, pencurian atau pembunuhan, lalu dihukum bersama-sama juga. Ia merasa dosa perbuatan itu akan dibagi dengan kelompoknya sehingga masing-masing mendapatkan bagian dosa yang sedikit.
Terkadang karena dosa ini dilakukan bersama-sama sehingga menimbulkan rasa bangga dengan dosa tersebut. Seperti korupsi bareng, mencuri bareng, menjarah bareng atau berzina bareng. Orang yang berbangga dengan perbuatan dosa sulit diharapkan bertaubat dan kesalahnnya tidak akan diampuni.
Orang yang berbangga dengan perbuatan dosa sulit diharapkan bertaubat dan kesalahnnya tidak akan diampuni.
Tanda taubat yang benar
1. Setelah bertaubat ia menjadi lebih baik.
2. Senantiasa merasa takut terhadap adzab atas maksiatnya. Sehingga diharapkan ketika ia wafat, datanglah Malaikat dan mengatakan:
أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
"Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu." (QS. Fushilat: 30)
3. Sangat menyesali perbuatan maksiat yang dilakukannya dan takut terhadap akibat buruk yang ditimbulkannya.
Hal-hal yang memotifasi taubat
1. Adanya perintah taubat dan anjuran menyegerakannya.
Firman Allah Ta'ala:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali Imran: 133)
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (QS. An-Nuur : 31)
Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Allah Ta'ala membuka tangan-Nya pada malam hari untuk memberi taubat bagi pelaku dosa di siang hari, dan membuka tangan-Nya pada malam hari untuk memberi taubat bagi pelaku dosa di malam hari, sehingga matahari terbit dari arah barat." (HR. Ahmad)
2. Mengetahui hubungannya dengan zaman
a. Waktu adalah kehidupan
Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata :
يَا ابْنَ آدَمَ ، إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ مَجْمُوْعَةٌ ، كُلَّمَا مَضَى يَوْمٌ مَضَى بَعْضُكَ إِنَّمَا أَنْتَ بَيْنَ رَاحِلَتَيْنِ تُنْقِلاَنِكَ ، يُنْقِلُكَ اللَّيْلُ إِلَى النَّهَارِ وَيُنْقِلُكَ النَّهَارُ إِلَى اللَّيْلِ، حَتَّى يُسْلِمَانِكَ إِلَى الآخِرَةِ
"Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau bagaikan kumpulan hari. Setiap berlalu satu hari berarti berlalu (hilang) pula sebagian (umur)-mu. Sesungguhnya kamu berada di antara dua tunggangan yang selalu memindahkanmu. Malam memindahkanmu ke siang dan siang memindahkanmu ke malam sehingga menyerahkanmu kepada akhirat." (al Hilyah: 2/148)
Daud Ath Tha’i rahimahullah mengatakan, "Sesungguhnya malam dan siang adalah tempat persinggahan manusia, yang disinggahinya bergantian sampai dia berada pada akhir perjalanannya. Jika engkau mampu menyediakan bekal di setiap tempat persinggahanmu, maka lakukanlah. Berakhirnya safar boleh jadi dalam waktu dekat. Namun, perkara akhirat lebih segera daripada itu. Persiapkanlah perjalananmu (menuju negeri akhirat). Tunaikanlah kewajiban yang patut engkau tunaikan. Karena mungkin saja, perjalananmu akan berakhir dengan tiba-tiba." (al Hilyah: 7/348)
b. Pentingnya memanfaatkan waktu
Dari Ibnu Abbas radliyallah 'anhu, bahwa Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberi nasehat kepada seseorang:
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْل خَمْس ، شَبَابك قَبْل هَرَمك ، وَصِحَّتك قَبْل سَقَمك ، وَغِنَاك قَبْل فَقْرك ، وَفَرَاغك قَبْل شُغْلك ، وَحَيَاتك قَبْل مَوْتك
"Perhatikan lima perkara sebelum datang lima perkara: waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sempit (sibuk)mu, kayamu sebelum datang waktu miskinmu dan hidupmu sebelum datang waktu wafatmu." (HR. Al Hakim dalam shahih-nya secara marfu' dan diriwayatkan juga oleh Abdullah bin al Mubarak dalam al Zuhd dengan sanad shahih)
c. Waktu yang berlalu tidak akan kembali
Yaitu dengan melakukan muhasabah diri dari waktu yang sudah dihabiskannya. Caranya dengan mengingat kesalahan dan dosa-dosanya yang telah lalu, supaya menimbulkan rasa tunduk dan hina di hadapan Allah 'Azza wa Jalla. Sehingga waktunya yang akan datang tidak seperti waktunya yang lalu.
Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau bagaikan kumpulan hari. Setiap berlalu satu hari berarti berlalu (hilang) pula sebagian (umur)-mu. . .
3. Malu kepada Allah.
Yaitu dengan menyadari bahwa Allah telah melimpahkan kepadanya nikmat yang banyak, yang dengan itu ia malah bermaksiat dan tidak memenuhi hak-hak-Nya. Inilah yang terkandung dalam doa sayyidul istighfar.
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
"Ya Allah, Engkau adalah Tuhan-ku, tiada sesembahan yang hak kecuali Engkau, Yang telah menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas ikatan dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan buruk yang kuperbuat. Aku mengakui akan nikmat-Mu kepadaku, dan aku mengakui (banyaknya) dosaku terhadap-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang bisa mengampuni dosa kecuali Engkau." (HR. Al-Bukhari no. 6306)
4. Mengingat kematian dan masa akan datang yang belum tentu kita menemuinya
Ibnu Umar rahimahullah berkata:
إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ اَلصَّبَاحَ, وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ اَلْمَسَاءَ, وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِسَقَمِك, وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ.
"Jika engkau berada di sore hari janganlah menunggu (berharap) pagi hari, dan jika engkau berada di pagi hari janganlah menunggu (berharap) sore hari." (HR. Al-Bukhari no. 6416)
5. Mengingat kondisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Beliau adalah manusia yang telah diampuni dosa-dosanya, baik yang lalu maupun yang akan datang. Tapi, beliau senantiasa beristighfar kepada Allah Ta'ala. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ
"Wahai manusia bertaubatlah kepada Allah dan meminta ampun kepada-Nya, sungguh aku sehari bertaubat / meminta ampun kepada-Nya sebanyak seratus kali." (HR. Muslim, no. 2702)
Dalam sabdanya yang lain:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
"Demi Allah, sungguh aku bertaubat dan beristighfar (meminta ampun) kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali." (HR. Al-Bukhari, no. 6307)
6. Berkawan atau bergaul dengan orang-orang baik / shalih.
Sesungguhnya seseorang berada di atas agama kawan dekatnya. Umar ibnul Khaththab rahimahullah menasehatkan: "Duduklah (bergaullah) bersama orang-orang yang suka taubat, sungguh mereka adalah orang yang lembut hatinya."
Muhammad bin Ka'ab Al-Quradli berkata:
اَلتَّوْبَةُ يَجْمَعُهَا أَرْبَعَةُ أَشْيَاءٍ : الاِسْتِغْفَارُ بِاللِّسَانِ، وَالإِقْلاَعُ بِالأَبْدَانِ، وَإِضْمَارُ تَرْكِ الْعُوْدِ بِالْجِنَانِ، وَمُهَاجَرَةُ سَيِّءِ الْإِخْوَانِ
"Taubat terkumpul dalam empat perkara: istighfar dengan lisan, meninggalkan (perbuatan itu) dengan badannya, dan bertekad tidak akan mengulanginya dengan hati serta menjauhi kawan yang buruk."
7. Meniti jalan salafush shalih, seperti jalan taubatnya Maiz bin Malik dan wanita Ghamidiyah serta yang lainnya.
Langganan:
Postingan (Atom)