SELAMAT DATANG DIBLOG BEJOSENTOSO

Rabu, 23 November 2011

koleksi bunga




























Jika seorang manusia sudah memiliki dua lembah yang penuh berisi dengan harta, maka pasti ia akan menemukan lembah yang ketiga. Dan tidak akan pernah manusia merasa kenyang hingga tanah sudah kena pada perutnya. " - Al-Hadits - Dalam kehidupan di era teknologi digital yang serba canggih dewasa ini, kecenderungan yang merasuki banyak manusia adalah hidup mengejar kesuksessan dalam karier, hidup dan bisnis setinggi-tingginya . Menjadi sukses dalam karier, hidup dan bisnis telah menjadi tujuan utama banyak manusia, apapun paradigma kesuksesan itu baginya. Kebanyakan manusia - apa pun suku bangsa, posisi, jabatan, maupun agamanya-menempatkan ukuran kesuksesan hidupnya melalui ukuran penguasaan materi atau harta benda. Keinginan kuat setiap individu untuk menjadi sukses dan berhasil meraih kekayaan materi atau harta adalah sesuatu yang penting. Begitu pentingnya memiliki kekayaan harta atau materi ini, maka Imam Al-Ghazali mengibaratkan, "orang yang mencari kebaikan tanpa harta ibarat orang pergi ke hutan tanpa membawa senjata atau ibarat burung elang tak bersayap". Karena materi merupakan sarana penting dalam mencapai berbagai tujuan kebaikan. Materi ini memiliki peranan penting pula dalam upaya manusia meningkatkan kualitas hidup maupun dalam upaya manusia meningkatkan amalan ibadahnya. Yang menjadi masalah adalah, begitu sibuknya manusia mengejar kekekayaan materi duniawi ini, seringkali menjadikan mereka melupakan hakekat kehidupan dan hakekat kekayaan sejati yang abadi. Mereka menempatkan pusat orientasi hidupnya pada kesuksesan penguasaan materi, bahkan sampai mendewakan materi. Mereka mengejar keberhasilan materi dengan tidak memperdulikan hukum alam dan cenderung memutarbalikan hukum alam. Kecenderungan seperti inilah yang salah dan harus diluruskan kembali. Manusia yang hanya menempatkan orientasi hidup pada nilai-nilai duniawi semata, mereka akan menjadi manusia yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang dikuasainya. Mereka ingin menambah dan menambah terus. Ini sama halnya dengan jabatan atau kekuasaan yang telah mereka dapatkan. Ketika mereka memiliki kekuasaan atau jabatan maka cenderung selalu ingin dipertahankan, meskipun, misalnya, sudah tidak memiliki kemampuan melaksanakannya atau sudah terlalu banyak kesalahan yang pernah dilakukannya. Lantas bagaimana agar kita tidak terjebak dalam jeratan orientasi salah dalam hidup yang hanya berbasis pada materi duniawi? Bagaimana kita menyikapi kehidupan yang penuh persaingan tanpa terjebak dalam kesalahan paradigma tentang kekayaan materi? Berikut ini beberapa tips yang dapat membantu kita agar tidak tergelincir dalam kesalahan melawan aturan hukum alam. 1. Hakekat Hidup Sejati Begitu sibuknya manusia modern mengejar kekayaan materi duniawi seringkali salah dalam memahami hakekat hidup sejati. Ada hukum alam yang mengatur tentang hakekat "hidup sejati" dengan "akibat yang diterima" dari hidup sejati. Apa itu hakekat hidup sejati dan akibat yang diterima dari kehidupan? Hidup sejati adalah inti, yang seharusnya dikerjar lebih dulu oleh manusia. Sedangkan akibat yang diterima adalah hasil yang akan datang dengan sendirinya. Ilustrasi sederhananya adalah, kalau Anda seorang karyawan maka berusahalah menjadi "karyawan sejati" yang menjunjung tinggi profesionalisme dan nilai-nilai spiritual kebenaran lebih dulu. Kekayaan uang atau materi adalah "akibat" dari hasil menjadi karyawan sejati. Kalau Anda menjalankan usaha, maka berusahalah menjadi pengusaha sejati yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran lebih dulu. Sedangkan profit atau keuntungan materi berlimpah adalah akibat yang akan didapatkan dengan menjadi pengusaha sejati. Demikian juga dengan profesi lainnya. Dahulukan menjalani hakekat hidup sejati. Janganlah lebih dulu mengejar kekayaan uang, lebih dulu menginginkan gaji yang tinggi, tanpa berusaha menjalani hidup sejati. Ini namanya memutarbalikan aturan hukum alam yang berarti hukum Allah. Inilah yang menyebabkan banyak orang melakukan berbagai penyimpangan, penyelewengan, korupsi, penipuan demi mendapatkan tujuannya untuk keberhasilan materi dan kekayaan, yang harusnya adalah akibat yang diperoleh kemudian dari hidup sejati. Akibatnya tatanan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa menjadi rusak dan dilanggar begitu saja, seperti apa yang kita rasakan sekarang ini. 2. Imbangi Dengan kekayaan Spiritual Dalam mengejar kekayaan materi, keberhasilan duniawi sebaiknya selalu mengimbangi dengan kekayaan spiritual. Berusahalah terus meningkatkan diri dalam mengisi kekayaan spiritual diri kita. Karena kekayaan spiritual ini akan mampu menangani dan mengisi setiap kehidupan manusia dengan sifat senantiasa bersyukur dan merasa puas. Dalam pengertian sederhana, bisa mensyukuri terhadap apa yang sudah diperolehnya. Sifat syukur ini merupakan manifestasi dari suara hati spiritual, sehingga dapat menjadikan terminimalisasinya keserakahan, tamak, rakus dan merusakan tatatan hukum kehidupan. Hakikat kekayaan itu bukanlah semata-mata banyak harta yang dikuasai, akan tetapi terletak pada kekayaan spiritual yang dimiliki. Orang yang memiliki kekayaan spiritual tidak akan pernah dikendalikan dan dikuasai oleh materi, jabatan, dan posisi, akan tetapi justru hal-hal tersebutlah yang dikendalikan dan dikuasainya. Semuanya itu hanyalah merupakan alat untuk mengaktualisasikan fungsi kekhalifahannya yang memberikan kebaikan dan kemanfaatan untuk masyarakat banyak. 3. Berdamai Dengan Ketentuan Allah Berdamai dengan ketentuan Allah artinya, dalam mengejar keberhasilan hidup dunia dan kekayaan materi senantiasa mengikuti hukum Allah. Tidak melanggar ketentuan-ketentuan Allah yang sudah dituangkan dalam kitab suci-NYA serta dapat berdamai menerima segala ketentuan-Nya. Kemampuan berdamai dengan ketentuan Allah dapat mengarahkan manusia untuk merasa puas atas rahmat Allah. Ini adalah sikap spiritual dan perilaku rohaniah yang menjadi kekayaan sejati yang tidak akan pernah habis. Manusia yang mampu memiliki sifat mampu menerima ketentuan Allah, dapat berpuas diri dengan hasil perjuangannya, dapat melahirkan pribadi yang tenang, memiliki sikap yang cerdas dan tentu saja pandai bersyukur terhadap segala nikmat Allah SWT yang diberikan kepadanya. Alangkah indahnya kalau hidup dapat mengikuti aturan hukum alam , memiliki kekayaan materi yang disertai dengan kekayaan spiritual, serta dapat menerima ketentuan Allah yang menjadikannya memiliki kekayaan sejati yang abadi.


Masing-masing dari diri kita memiliki kehendak dan peran dalam kehidupan menjadi manusia yang hebat dan penuh keagungan. Karena manusia diciptakan dengan potensi keistimewaan memiliki kecerdasan, bakat, ketrampilan dan hati nurani, yang dapat membawa manusia pada keberhasilan dan keagungan. Namun manusia juga dilengkapi dengan nafsu atau ego pribadi. Yaitu, nafsu pada kehidupan dunia. Oleh karena itu, untuk memenuhi keinginan ego dan nafsunya pribadinya, ssungguhnya Allah telah menyediakan aturan "rules" atau ketentuan-ketentuan melalui kitab suci-Nya. Ketentuan inilah yang harus ditaati oleh manusia. Kebanyakan manusia sadar atau tidak sadar seringkali terjebak memperturutkan nafsu dan ego pribadi untuk dunia semata, dengan mengabaikan "rules" atau aturan Tuhan. Mereka sibuk memenuhi keinginan memiliki harta kekayaan berlimpah, rumah megah dengan perabotan yang serba wah, kendaraan model terbaru yang mewah, wanita-wanita cantik di sekelilingnya, kursi jabatan atau posisi yang tinggi, dan lain sebagainya. Semua yang diinginkannya berusaha untuk dia dapatkan. Mereka merasa hebat dan berhasil dalam kehidupannya kalau sudah memiliki itu semua. Itulah ego manusia yang dikendalikan nafsunya. Inilah yang mengakibatkan terjadinya banyak penyelewengan, penyimpangan, korupsi, penyalah gunaan kekuasaan dan lain sebagainya. Karena pada hakikatnya nafsu itu tidak akan pernah merasa puas. Ego pribadi dalam tataran yang wajar sebenarnya akan menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri "self-esteem" dan memiliki kepercayaan diri "self-confidence '. Keduanya merupakan faktor positif dalam meningkatkan kualitas pribadi setiap individu menjadi lebih tinggi. Namun, kalau keduanya berlebihan dalam diri kita, itu akan berubah menjadi kebanggaan "pride" yang sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara kebanggan dan kesombongan ini sangat tipis sekali. Ketika berubah menjadi kesombongan, maka akan melahirkan ego pribadi yang merugikan. Akan melahirkan nafsu dunia yang dapayt menyesatkan. Disinilah manusia perlu hati-hati dalam menyikapi ego dan nafsu dirinya. Kesalahan dalam mengelola hati nurani seringkali mengakibatkan manusia terjebak dalam kehidupan dengan hati yang buta dan mati. Sungguh sengsara mereka yang hidupnya tanpa diterangi cahaya hati nurani ini. Bagaikan orang yang buta mata indranya, sehingga tidak dapat melihat apa yang ada di depannya. Memiliki hati nurani yang buta tertutup oleh ego pribadi, berarti mereka yang tidak dapat melihat arah kehidupannya kedepan dengan jernih dan tajam. Mereka menjalani kehidupan dengan dikendalikan nafsu dan ego pribadinya kepada dunia yang berlebihan. Mereka yang nuraninya tertutup, hidupnya menjadi penuh prasangka negatif, merasakan kehidupan begitu berat dan merasakan serba kekurangan. Hati nurani yang dikalahkan oleh nafsu dan ego pribadi mengendalikan pikiran seseorang menjadi buta. Hari-harinya menjadi tidak nyaman, pikirannya menjadi keruh, penuh dengan prasangka negatif. Waktu demi waktu yang dilalui sering kali diwarnai kondisi kegelisahan hati. Hati dan pikirannya sangat dikendalikan oleh nafsu duniawi, sehingga hidup menjadi sangat melelahkan. Mengejar sesuatu yang seolah-olah tidak ada hentinya, tidak ada habisnya dan merasa serba kekurangan. Sahabat, marilah kita bertanya kembali kedalam diri pribadi masing-masing, apakah selama ini tanpa sadar atau dengan kesadaran kita telah dikendalikan oleh nafsu dan ego pribadi untuk kepentingan dunia semata? Apakah selama ini sadar atau tanpa kita sadari kita telah terjebak dalam rutinitas kehidupan yang membutakan hati nurani? Apakah selama ini kita sudah mendengarkan suara hati kita, ataukah kita cenderung mengabaikan suara hati demi meraih tujuan kehidupan dunia? Bagaimana agar diri kita dapat menghidupkan hati nurani sehingga mampu mengendalikan nafsu dan ego pribadi? Berikut ini beberapa cara yang perlu dipertimbangkan untuk kita lakukan: 1. Tanamankan kembali kesadaran akan kembali kepada jati diri nan Fitri. Kesadaran akan jati diri akan mengantarkan kita memahamai siapa diri kita sebenarnya, mamahami hakekat kehidupan kita, siapa Tuhan kita sebenarnya dan kemana tujuan akhir kehidupan kita. Hal ini diharapkan akan menjadi semacam pengawasan yang melekat dan bahkan spirit dari dalam diri yang kuat untuk menjaganya dan menjauhkannya dari hal yang mengotori hati nurani. 2. Memandang kehidupan dunia secara seimbang. Tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, melainkan menempatkan dunia sebagai sarana dan dimanfaatkan secara terbatas dan terkendali untuk tujuan kehidupan selanjutnya. Paradigma seperti ini akan mengantarkan kita pada pemahaman bahwa kebahagiaan bukan hanya terletak pada hal-hal material, tetapi juga pada dataran spiritual. Janganlah sampai kesibukan mencari harta benda, kesibukan mengejar kekuasaan, popularitas dan semua aksesories dunia membuat kita lalai untuk beribadah kepada-Nya. Karena kita sesungguhnya hanyalah abdi atau hamba dari Allah. 3. Dzikir atau mengagungkan asma Allah merupakan makanan rohani yang paling bergizi serta membangkitkan selera ibadah dan akhlak mulia. Dzikir juga menjadi benteng dari gangguan nafsu dan ego pribadi yang berlebihan. Dengan berdzikir, peluang kita untuk mendapatkan kebersihan hati semakin terbuka. Dengan hati yang bersih, kita akan mudah untuk mengakses hidayah Allah SWT, sehingga dapat mengendalikan nafsu dan ego pribadi.


Berinvestasi Kebaikan Ada sebuah nasehat bijak dari almarhumah Ibu saya dan selalu tertanam dalam hati saya sampai kini adalah, agar selalu "menanamkan kebaikan" dalam hidup ini. Saya yakin, sebagian besar manusia sudah menerima nasehat bijak seperti ini dari para orang tua atau ibu mereka. Inti dari nasehat itu adalah agar kita menempatkan cita-cita paling penting dalam hidup adalah selalu "menanamkan kebaikan." Kalau kita menelaah dari nilai-nilai kehidupan keagamaan, nasehat ini sangat relevan dengan apa yang secara tegas disampaikan oleh Allah Tuhan Yang Maha Esa dalam kitab suci-Nya yang menyatakan, "Tidak ada yang dapat diunggulkan untuk manusia, kecuali apa yang dia usahakan untuk kebaikan secara individu". Kebaikan secara individu menjadi panjatan dalam menata diri untuk menjadi pribadi yang berkualitas dalam meraih kehidupan yang penuh potensi dan keagungan. Kebaikan secara individu menjadi landasan penting dalam pembangun kualitas pribadi kita. Apakah dalam keluarga, dalam organisasi, dalam pekerjaan maupun dalam bisnis, hubungan antar manusia akan semakin meningkat dan semakin mendalam, bila senantiasa dilandasi kebaikan individu dan kesedian berbagi kebaikan dengan orang lain. Kebaikan dari masing-masing individu ini dapat menjadikan kebaikan dalam masyarakat, sehingga terbangun kehidupan yang damai dan bahagia. Dimata seorang ibu, "menanamkan kebaikan" dalam hidup merupakan nasehat paling penting. Menaburkan kebaikan hendaknya menjadi cita-cita terpenting dalam hidup ini. Karena menaburkan kebaikan berarti menghidupkan sumber energi positif dari dalam diri untuk orang lain dan alam semesta. Energi ini akan kembali kepada kita dan memberikan berbagai fasilitas dalam kehidupan. Menjadi apapun kita saat ini, apakah presiden, menteri, konglomerat, direktur utama, manager atau pegawai biasa, memiliki pangkat apapun kita, apakah jenderal, kolonel, kapten atau prajurit biasa, memiliki gelar apapun diri kita, apakah profesor, doktor, master, sarjana atau lainnya, yang terpenting adalah "menanamkan kebaikan" kepada orang lain. Semua pangkat, gelar dan jabatan itu, tidak akan memberikan makna bagi kualitas pribadi seseorang bahkan hanya akan berakhir dengan kesia-siaan kalau tidak digunakannya untuk menanamkan kebaikan. Banyak pintu-pintu kebaikan yang dapat dilakukan dan menjadi sumber energi positif keberhasilan, seperti: Kalau memiliki ilmu, gunakanlah untuk mencerdaskan orang lain Kalau memiliki harta, gunakan untuk kebaikan banyak orang Kalau memiliki kekuasaan, gunakanlah untuk mensejahterakan banyak orang Kalau memiliki tenaga, gunakan untuk membantu banyak orang Kalau menjadi penegak hukum, berikanlah perlindungan dan keadilan kepada banyak orang Kalau menjadi pengusaha, jalankan usaha untuk memberiakn manfaat dan kebaikan banyak orang dan lainnya Intinya mulailah dengan hal-hal sederhana dan mudah dilakukan sesuai dengan kemampuan diri kita. Mulailah dari lingkungan terdekat, seperti orang-orang yang Anda temui setiap hari, lingkungan rumah sekitar Anda, lingkungan kerja. Dan yang penting sekecil apapun kebaikan itu, mulailah sekarang ini juga. Semakin banyak menaburkan benih-benih kebaikan berarti semakin banyak melepaskan energi positif dari dalam diri. Orang yang pertama merasakan manfaat dari berbuat kebaikan adalah mereka yang melakukannya. Mereka akan merasakan "buah" nya seketika itu dalam jiwa, akhlak, dan hati nuraninya. Sehingga hatinya akan terjaga kejernihannya. Hidup akan terasa lebih mudah, merasakan lapang dada, tenang, tenteram dan damai. Mereka yang dapat menggunakan potensi dirinya untuk menaburkan benih-benih kebaikan, maka akan memberikan fasilitas dalam hidup. Inilah prinsip menjadikan setiap kehadiran kita adalah rahmat untuk orang lain dan alam semesta atau "rahmatan lil alamin


Pandai Memilih Hubungan Dikisahkan tentang seseorang yang ingin bertobat, padahal ia sudah membunuh 99 kali dan belum pernah melakukan kebaikan. Ketika bertanya kepada seorang rahib tentang peluang tobatnya, sang rahib mengatakan tidak ada lagi peluang untuk tobat, maka kemudian dibunuhlah rahib itu dan genaplah 100 nyawa yang melayang melalui tangannya. Lalu, dia mendatangi seorang alim, kemudian orang alim itu memberikan kabar gembira bahwa Allah akan menerima tobat hamba yang bersungguh-sungguh. Hingga akhirnya, orang alim itu menyuruh laki-laki tersebut untuk meninggalkan kampung halaman dan lingkungan pergaulannya yang dahulu, lalu berhijrah menuju perkampungan orang-orang saleh. Tetapi, Allah berkehendak lain. Di tengah-tengah perjalanan malaikat maut mencabut nyawanya. Akhirnya malaikat rahmat dan malaikat azab saling berebut tentang urusan laki-laki tersebut. Kemudian, malaikat rahmat diperkenankan membawanya. Karena, setelah diukur, ternyata jasad laki-laki itu lebih dekat jaraknya dengan perkampungan orang-orang yang saleh dibanding dengan lingkungannya yang dulu. Apa makna yang dapat kita ambil dari kisah diatas ? Kisah di atas hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi kita bahwa lingkungan yang baik dan bergaul dengan orang-orang positif, berakhlak mulia dan saleh sangat mutlak kita butuhkan untuk menjaga eksistensi kualitas kehidupan dan keimanan kita. Ketika manusia hidup menjadi bagian dari koloni yang sangat besar di dunia ini, pasti akan dihadapkan pada beragam hubungan dengan sesama kehidupan lainnya. Kemanapun kaki melangkah, pasti sudah menunggu hubungan dengan manusia lainnya. Bahkan seberapapun kerasnya Anda berusaha untuk mengasingkan diri misalnya, pasti akan berhubungan dengan orang lain. Setiap individu pasti berhubungan dengan berbagai ragam manusia, mulai dari bentuk rupa, warna kulit dan lidah yang berbeda-beda. Perbedaan dan keragaman manusia tidak terbatas pada hal-hal tersebut, tetapi juga karakter dan budayanya. Bahkan perbedaan dalam tingkatan kehidupan, dari mulai yang elit sampai yang alit, dari mulai jendral sampai kopral, dari yang kelas atas sampai kelas bawah, dari orang sukses sampai orang gagal, demikianlah biasanya kita menyebutnya. Semuanya lengkap dengan pemikiran, budaya, dan tradisi masing-masing. Perbedaan dan kebergaman ini seringkali menjadikan terasa sangat sulit untuk mencari pergaulan yang baik, lingkungan yang sejuk, dan tempat yang aman dan damai. Padahal, lingkungan hidup mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam membentuk kepribadian seseorang. Persaingan kehidupan yang semakin ketat, gemerlapnya kehidupan dunia, pengaruh lingkungan kehidupan, juga banyak menjadikan manusia keliru dalam memilih lingkungan persahatan dan pergaulannya. Padahal, keliru dalam hal ini bisa berakibat fatal. Salah satu contoh misalnya, sebagian orang ada yang membatasi pergaulannya hanya dengan orang-orang tertentu yang dianggap selevel dengan mereka, atau memilih orang-orang tertentu yang cocok untuk mereka. Sayangnya, seringnya pertimbangan mereka dalam menentukan siapa yang cocok untuk persahabatan dan pergaulan adalah keliru. Yakni biasanya, pertimbangan mereka itu hanya berdasarkan kepentingan dan kesenangan dunia. Hanya berdarkan orientasi keuntungan dunia semata, yang notabene seringkali sangat dipengaruhi oleh nafsu dan ego pribadi. Memilih Hubungan Sejati Lantas bagaimana memilih persahabatan yang benar ? Bagaimana memilih hubungan yang baik, ditengah banyaknya kepentingan dan ego pribadi ? Apa saja yang menjadi pertimbangan dalam memilih hubungan yang baik ? Berikut ini berapa tips, yang dapat menjadi pertimbangan bagi kita dalam mengembangkan persahabatan dan pergaulan yang baik, yakni: 1. Perbedaan Adalah Hikmah. Setiap individu dari manusia haruslah menyadari dirinya, menyadari posisinya dan peka terhadap apa yang ada di sekelilingnya, sehingga dia tampil sebagai sosok yang professional dan proporsional, dan mampu mengambil langkah yang tepat dalam menjalani kehidupannya. Sesungguhnya banyak sekali Hikmah dari adanya berbagai perbedaan manusia, di antaranya adalah agar manusia mengetahui sebagian tanda-tanda kebesaran Allah. Dengan kata lain, perbedaan tersebut tidak perlu menjadi penghalang dalam membina hubungan dengan orang lain. 2. Mengedepankan nilai-nilai kebaikan. Ibnu Katsir mengatakan mengenai persahabatan, “Janganlah mengikuti orang yang mengabaikan agama dan ibadah karena sibuk dengan urusan dunia. Sedang amal dan perbuatannya sebagai bentuk kebodohan, tindakan melampaui batas, dan sia-sia. Dan janganlah kamu taat kepadanya, jangan menyukai jalannya, dan jangan iri dengan keadaannya.” Hal ini menganjurkan kita untuk duduk bergaul dengan orang-orang yang memiliki semangat positif, berakhlak mulia, mengedepankan nilai-nilai spiritual, agama dan ibadah, tanpa pandang bulu, baik itu dari kalangan atas, kalangan menengah, ataupun arus bawah yang miskin, yang kedudukannya tidak dihiraukan oleh masyarakat sekalipun. Orang yang mengedepankan nilai-nilai spiritual sesuai suara hatinya, pada umumnya adalah orang-orang yang baik. Maka dari itu, hendaknya kita hanya membatasi pergaulannya dengan orang-orang yang baik, siapa pun dia. Jika kita bergaul dengan orang-orang yang baik, banyak sekali manfaat dan faedah yang didapatkan. 3. Kemuliaan Akhlak Adalah Yang Utama Banyak orang, hanya karena mengejar kesenangan di dunia, mereka rela mengorbankan kesenangan yang hakiki, yaitu ketika mereka salah dalam memilih teman dan lingkungan pergaulan. Kebanyakan manusia lebih memilih teman yang bisa diajak bersenang-senang, hura-hura, dan menyia-nyiakan usia mereka, ketimbang berhubungan dengan orang yang berpikiran positif, memiliki kekayaan emosional dan spiritual, perilaku baik dan orang-orang yang takut kepada Allah. Karena, memang orang yang berpikiran positif, orang-orang saleh, orang-orang berakhlak mulia, di mata masyarakat umum kurang disenangi, atau bahkan dianggap asing. Pandangan ini timbul karena masyarakat sudah mengalami krisis multidimensi, dan terutama adalah dekadensi moral yang sangat parah. Sehingga, orang yang seharusnya dijadikan teman justru dijauhi. Padahal, syarat untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan hakiki adalah selalu memiliki sikap positif, mengedepankan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran, mempertahankan keimanan dan memiliki motivasi yang tinggi dalam kehidupan. Dengan selalu bergaul dengan orang-orang yang bersikap positif, memiliki motivasi untuk berprestasi, memiliki akhklak mulia, akan mendorong kita untuk memiliki kualitas kehidupan yang baik. Disinilah pentingnya setiap individu pandai dalam memilih teman dan lingkungan. Kita harus selektif, yaitu memilih orang-orang yang berpikiran positif, memiliki motivasi berprestasi dan memebrikan manfaat bagi kehidupan, mengedepankan nilai-nilai spiritual seperti kejujuran, kebersamaan, kasih saying, kebaikan, keadilan, dll. Memiliki motivasi tinggi dalam meraih prestasi kehidupan. Mereka yang dapat menjaga keseimbangan dalam kehidupan dunia tanpa mengabaikan nilai-nilai spiritual dan keimanan. Mereka itulah yang hendaknya kita jadikan teman sejati. Agar efek samping yang kita dapatkan adalah kebaikan, kesuksesan dan kebahagiaan sejati. Jangan sampai kita memilih teman dan lingkungan yang tidak baik, karena lambat laun dikhawatirkan kita akan tertular atau paling tidak ikut terkena getahnya. Ada pepatah Arab yang mengatakan, “Akhlak yang buruk itu akan menular.” “Sesungguhnya, perumpamaan teman duduk yang baik dengan teman duduk yang jahat adalah bagaikan penjual (pembawa) minyak wangi dan tukang (peniup) pandai besi. Penjual minyak wangi, mungkin akan memberimu, atau engkau bisa membeli darinya, atau paling tidak engkau akan mendapat aroma yang enak. Sedangkan tukang pandai besi, kalau tidak membakar bajumu, paling tidak engkau akan mendapatkan bau busuk (tak sedap) darinya.” - Al-Hadits -.


KELUARKAN POTENSI SPIRITUALMU Kalau waktu hidup ibarat modal uang yang dipinjamkan Tuhan kepada kita, bagaimana pilihan kita? Apakah menghabiskan modal waktu kehidupan yang diberikan tanpa hasil, ataukah menginvestasikan modal waktu hidup untuk memberikan hasil yang maksimal?. Saya yakin banyak diantara Anda akan memilih menginvestasikannya waktu hidup untuk memberikan hasil yang maksimal. Namun dalam realitas kehidupan, banyak kita saksikan orang-orang yang dengan sadar atau tanpa disadarinya telah memboroskan waktu hidupnya dengan sia-sia. Membuang-buang waktu hidupnya untuk kegiatan yang tidak memberikan makna bagi kehidupannya yang panjang kedepan. Mereka adalah orang-orang yang menggunakan waktu hidupnya tanpa memahami kemana sesungguhnya arah kehidupanya. Tanpa memahami kemana sesungguhnya tujuan tertinggi kehidupannya. Mungkin mereka terlihat sangat sibuk, penuh aktivitas, tetapi sesungguhnya aktivitasnya tidak memberikan arti bagi makna kehidupan yang jauh kedepan. Mereka ini adalah manusia yang berorientasi pada "kekinian" semata, dengan mengabaikan tujuan dasar spiritualnya (core purposes) dalam kehidupannya. Yang lahir kemudian adalah manusia yang menyenangi hal-hal yang serba instan, serba mudah dan cepat dalam menggapai tujuan kekinian hidupnya, dengan mengabaikan nilai-nilai dasar spiritual (core values). Inilah penyakit kronis manusia modern di abad digital dewasa ini, yang menghabiskan waktu hidupnya hanya untuk tujuan harta, kekuasaan, uang, jabatan, popularitas, yang bersifat asesories dunia semata, dengan mengabaikan nilai-nilai spiritual yang menjadi tujuan dasar hidupnya. Tujuan dasar spiritual ( core purposes) manusia adalah pengabdian hidup hanya kepada Allah Tuhan Yang Memiliki Kehidupan. Semua yang berhubungan dengan tujuan kepada jabatan, uang, harta, popularitas, kekayaan, dan berbagai prestasi kehidupan dunia lainnya, bukanlah tujuan utama, melainkan merupakan bagian dari pengabdian kepada Allah. Dengan demikian dalam usaha mencapai hal itu semua, harus dilandasi oleh nilai-nilai dasar spiritual (core values) yang sudah ada dalam hati manusia. Nilai-nilai dasar spiritual manusia yang sudah "built in" dalam hati itu diantaranya adalah, kasih sayang, kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kebersamaan, keadilan, dll. Marilah bertanya kedalam hati kita terdalam, sudahkah waktu hidup kita gunakan untuk investasi yang dilandasi nilai -nilai spiritual ini? Kalau belum, marilah memulai meng-investasikan setiap waktu hidup yang dipinjamkan Tuhan untuk mengeluarkan nilai-nilai dasar spiritual itu dalam setiap langkah kehidupan kita. Marilah melandasi setiap keputusan waktu hidup dengan nilai-nilai dasar spiritual yang bersumber dari suara hati Illahiah dalam diri manusia. Keluarkan nilai-nilai dasar spiritual ini dalam langkah-langkah nyata kehidupan, bukan hanya dalam nilai yang dianut, namun dalam tindakan. Hal ini yang akan dapat mengarahkan waktu hidup kita menjadi investasi yang berlipatganda bagi tujuan kehidupan selanjutnya yang abadi. Jadi substansinya, mulailah mengenali seluruh potensi spiritual dalam hati, kemudian mengeluarkannya dalam langkah-langkah nyata kehidupan melalui tindakan dengan tujuan hanya pengabdian kepada Allah. Kalau Anda seorang karyawan, pertajam potensi dirimu dan lindungi diri dengan integritas dan kejujuran Kalau Anda seorang pengusaha, keluarkan potensi usahamu dilandasi azas manfaat bagi kebaikan banyak manusia Kalau Anda seorang guru, keluarkan potensi ilmumu untuk mencerdasakan banyak orang Kalau Anda seorang insinyur, keluarkan kreativitasmu untuk kesejahteraan kehidupan banyak orang Kalau Anda seorang dokter, keluarkan pengobatanmu dilandasi kasih sayang Kalau Anda seorang hakim, keluarkan keadilanmu untuk mereka yang membutuhkan Kalau Anda seorang kebijakan, keluarkan perlindunganmu dilandasi keadilan Dll ... ... Intinya, gunakan waktu hidup yang kita miliki untuk berbagai bidang kehidupan seperti kesehatan, keluarga, finansial, pekerjaan / bisnis, sosial senantiasa dilandasi nilai-nilai dasar spiritual dalam hati. Semua bidang ini penting dan harus seimbang, dengan tujuan untuk pengabdian tertinggi kepada Allah Tuhan Yang Maha Memiliki Kehidupan. Inilah makna tertinggi dalam kehidupan.


pernahkan Anda menyadari apa sesungguhnya salah satu kebodohan paling besar dalam hidup ini? Jawabanya adalah memelihara kebencian. Ya, kebenciaan adalah sebuah kebodohan hidup yang paling besar di dunia. Karena kebencian hanya akan membunuh waktu kehidupan dan mengorbankan benih cinta, sehingga tidak bisa berkembang dalam kehidupan. Orang yang menanam dan memelihara kebenciaan dalam hatinya, ia hanya akan menuai hasil ketidaknyamanan, sakit hati dan permusuhan. Sehingga harumnya wangi bunga cinta yang ada dalam dirinya tidak dirasakan dalam kehidupan. Namun masih banyak orang yang tidak menyadarinya kalau hatinya dikuasai oleh benih kebenciaan. Manusia yang hatinya penuh kebenciaan pada hakekatnya adalah manusia yang gagal dalam hidup, karena tidak mampu mencintai dirinya sendiri. Maka ucapkan selamat tinggal kepada benci mulai saat ini juga. Tinggalkan jauh-jauh benih kebenciaan yang akan merusak benih cinta dan Kalau ada yang membenci diri Anda, berusahalah untuk tidak membalas kebencian itu dengan kebenciaan. Kalau Anda membalas kebencian itu dengan kebencian, maka Andapun akan termasuk kedalam golongan orang yang membenci. Kalaupun Anda harus membalas kebencian itu, berusahalan membalasnya dengan cinta, kasih saying dan kebaikan. Mungkin Anda akan mengatakan bahwa ini adalah hal yang mudah dituliskan, tetapi sangat sulit untuk dilakukan. Benar dan memang demikian adanya. Tetapi yakinlah kalau Anda mampu mengendalikan emosi kemarahan yang ada dalam diri Anda, maka ini bukanlah hal yang tidak mungkin untuk dilakukan. Bahkan akan menjadi hal yang mudal dilakukan. Anda akan mampu membalas kebencian dengan cinta, kasih saying dan kebaikan. Bagaimana cara meninggalkan kebencian? Salah satu cara meninggalkan kebencian adalah dengan berusaha bertindak dengan tindakan orang-orang yang berjiwa besar dan agung. Mereka yang memiliki keagungan jiwa mampu mengendalikan emosi amarah dan sakit hati atas kebenciaan orang lain. Bagaimana cara memulainya? Kita bisa memulainya dengan membiasakan diri selalu memuji keagungan dan kebesaran Allah SWT yang telah memberikan keagungan jiwa bagi kita. Dengan sering memuji kebesaran Allah SWT, kita akan memiliki semangat jiwa yang luhur, tinggi dan mulia. Semangat jiwa yang agung dan mulia inilah yang akan mampu mengendalikan emosi dari dalam diri Anda, sehingga tidak membiarkan kebenciaan hidup dalam diri Anda. Dengan tidak membiarkan benih kebencian tumbuh dalam diri Anda, maka benih ketulusan cinta akan semakin tumbuh subur dalam diri Anda.


MENGHIDUPKAN CAHAYA HATI Pernahkah Anda merasakan kegelisahan hati dan jiwa? Seperti, Anda tidak tahu apa yang harus Anda kerjakan, sedangkan pekerjaan sebenarnya menumpuk dihadapan Anda?. Pernahkah Anda merasakan beban hidup yang terasa berat dan menumpuk dipundak Anda, sedangkan Anda merasakan tidak tahu harus dari mana menguranginya? Pernahkah Anda merasakan tekanan dan himpitan ekonomi yang menghadang setiap langkah kehidupan Anda, tubuh Anda terasa gontai dan lunglai, tidak tahu harus melangkah kemana? Pernahkan Anda merasakan kegelisahan hati yang mendalam, tubuh bergetar dan semuanya menjadi serba tak berarturan dan serba salah? Kalau hal itu menimpa Anda, berarti Anda dalam kegelapan cahaya hati. Sekarang bayangkan orang yang hidup dalam kegelapan tanpa disinari cahaya, tentu saja semuanya serba gelap, Anda hanya berputar-putar dan menyibukan diri sendiri, tetapi sebenarnya tidak melangkah kemanapun. Anda merasakan setiap langkah terantuk sandungan dan serba tidak beraturan. Inilah Perumpaan untuk manusia yang sedang dalam kegelapan hidup. Hal yang sama kalau Anda tidak menemukan cahaya hati dalam diri Anda. Mereka yang hidup dalam kegelapan cahaya hati bagaikan berada dalam gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya masih dipenuhi ombak-ombak lautan, di atasnya lagi awan gelap gulita yang bertindih-tindih an. Bagaimana caranya menemukan cahaya hati? . Cahaya hati sesungguhnya bersumber dari cahaya Illahi yang akan menerangi hati kita. Menemukan cahaya hati berarti kembali kepada jati diri kita sebagai manusia yang jernih dan bersih. Kembali ke hati yang tanpa tertutupi berbagai belenggu yang menutup cahaya hati. Karena sesungguhnya dalam hati ini sudah ditiupkan sifat-sifat mulia Allah pada saat proses penciptaannya. Cobalah bercermin danb lihatlahi kita ke dalam cermin, berapa banyak pakaian kesombongan, pakaian riya ', pakaian dengki, pakaian takabur, yang kita kenakan?. Berapa banyak pengalaman masa lalu yang negatif, pakaian ego pribadi, pakain pengaruh sudut pandang yang salah yang menyesatkan dalam diri?. Mari kita tanggalkan pakaian-pakain itu yang menyelimuti hati kita dari cahaya hati yang jenrih dan tajam. Lepaskan pakaian kesombongan hati dengan sikap rendah hati. Tidak ada yang cepat disomboingkan manusia dalam hidup ini. Lepaskan pakaian dengki dan gantikan dengan cinta dan kasih sayang. Lepaskan pakaian takabur dan gantikan dengan kesadaran diri sebagai hamba dan abdi Allah semata. Buanglah pakain prasangka negatif dengan mengembangkan sikap positif dalam setiap langkah kaki kedepan. Kendalikan ego pribadi dengan menumbuhkan sikap empti kepada orang lain Buanglah pengaruh sudut pandang negative maupun pengalaman negative Hindarilah prinsip hidup yang salah dengan kembali dalam kejernihan jati diri yang bersumberd ari hati. Kesuksesan dan keagungan dalam hidup tidak akan dapat dirah hanya dari potensi fisik dan kecerdasan akal pikiran. Lebih dari itu diperlukan kecerdasan hati dan kemampuan menemukan cahaya hatio yang bersumber dari cahaya Illahi. Berbahagialah mereka yang dapat menghidupkan cahaya hatinya, mereka yang dapat mengenali cahaya hatinya akan dapat menggapai kehidupan yang penuh keagungan yang memandang kehidupan jauh kedepan dengan hati jernih. Hidupnya akan dipenuhi cahaya terang dengan berbagai fasilitas-fasilitas.


Perenungan akan arti sebuah 'kehilangan' Baru merasa kehilangan ketika sesuatu sudah tidak berada dalam genggaman Banyak hal yang tidak kita sadari begitu berharga dalam hidup ini, sampai saat dia sudah tidak mungkin diraih, atau pada saat hanya sedikit sekali kemungkinan itu ada. Barulah penyesalan begitu terasa berat ...... Sebagai contoh, ada seorang bapak yang sangat tidak peduli dengan anaknya ketika anak itu masih dalam naungannya. Ketika terjadi perceraian dengan sang istri, yang menyebabkan anaknya 'dibawa pergi' istri. Barulah perasaan kehilangan, cinta kasih dan tangis penyesalan mengharu biru. Dan baru disadarinya bahwa dia begitu mencintai anaknya. Atau, ketika kita kehilangan sedikit saja waktu yang ternyata sangat penting dan pada saat itu kita berharap waktu bisa di tambah sedikit saja. Tapi semua hanya sia-sia saja ... karna dia telah berlalu. Atau ketika kita sering bersiteru dengan saudara sendiri untuk hal sangat sepele dan menjadi sangat besar karna sudah melibatkan ego dan kepentingan pribadi. Ketika dia (saudara kita itu) sudah pergi menjauh dari kita, barulah hal yang kita lalui dulu menjadi kenangan pahit yang sangat ingin kita lupakan.


Hedonisme Masyarakat Modern Hedonisme adalah istilah yang menunjukkan faham mementingkan kesenangan dan kemewahan fisik. Dalam kamus Collins Gem dinyatakan bahwa hedonisme adalah doktrin yang menyatakan bahwa kesenangan adalah hal yang paling penting dalam hidup. Atau hedonisme adalah paham yang dianut oleh orang-orang yang mencari kesenangan hidup semata-mata. Budaya modern saat ini memang cenderung hedonis, perkembangan teknologi selalu disajikan dengan fasilitas dan kemegahan. Keinginan punya harta melimpah, rumah mewah, mobil banyak, deposito di bank, punya tanah kebun dan sawah di mana-mana, mengejar semua itu memang tidak dilarang. Dalam Surat al-Qassash ayat 77 disebutkan, "Carilah negeri akhirat tapi jangan lupakan bagian duniawi . "Karena menemukan kehidupan dunia merupakan bagian dari kebutuhan hidup dan sisanya untuk membuat amal kebaikan menemukan pahala akhirat. Tapi harus diakui dengan jujur ​​bahwa banyak di antara kita yang sehari-hari pikirannya hanya pada dunia. Setiap bertemu orang yang dibicarakan hanya materi, pekerjaan, rumah, mobil, tabungan, atau kekuasaan. Berita-berita yang disiarkan setiap hari hanya menyediakan sajian yang penuh dengan gemerlap materi dunia. Hal demikian tidak dapat ditolak, dan diakui memang ada, tetapi dunia materi itu tidak ada artinya sama sekali. Allah berfirman: Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanya kemenangan yang menipu (al-Hadid: 20). Rasulullah menambahkan, alangkah mengherankan untuk orang yang mengizinkan rumah akhirat tetapi berusaha dengan sekuat tenaga untuk mendapatkan rumah tipuan (dunia). gemerlapnya dunia akan menimbulkan penyakit -penyakit hati yang kronis seperti timbul penyakit munafik, sombong, pelit, senang dengan pujian, suka berfoya-foya dan sebagainya. Rasulullah beserta para sahabatnya hidup sangat sederhana, meskipun mereka menguasai wilayah yang luas. Umar bin Khattab pernah melihat Rasulullah berbaring di atas tikar dan melihat bekas tikar di pinggang Rasulullah, dan Umar pun menangis melihat kondisi itu. Kemudian Rasulullah bertanya, mengapa engkau menangis wahai Umar? Umar menjawab: saya teringat pada raja dan pemimpin dengan kemegahan dunia, sedangkan engkau seorang utusan Allah tidur dengan seadanya dan terlihat bekas tikar di badan. Maka Rasulullah berkata: mereka adalah orang-orang yang langsung diberi kesenangan dunia tapi kita adalah orang-orang yang ditunda kesenangannya di akhirat. Isa As pernah berkata, perumpamaan dunia seperti orang yang minum air laut, ketika banyak minum maka dia bertambah haus sehingga mematikan dirinya. Orang yang mencintai dunia tidak berpikir panjang dan akalnya tidak sampai kepada hakikat kehidupan, orientasinya jangka pendek karena tidak memikirkan kehidupan setelah mati. Rasulullah mengatakan bahwa suatu saat ummatku akan terkena penyakit al-wahn, al-wahn itu adalah cinta dunia dan takut kematian, tentu hal ini sudah kita lihat pada masa sekarang. Apakah Hedonisme terkait dengan gangguan kejiwaan? Gangguan jiwa siap memangsa para hedonis, karena jiwa yang stabil adalah jiwa yang mengenal dirinya sendiri, mengenal orang lain, mengenal lingkungan dan mengenal kehidupan. Tanpa sebuah konsep yang benar tentang kehidupan maka kehidupan akan dimaknai secara berbeda, kehidupan akan menjadi sebuah ajang perlombaan, kehidupan menjadi sebuah kompetisi untuk mengungguli orang lain dalam berbagai hal. Sehat jiwa adalah sebuah perjalanan panjang kedewasaan psikologis untuk mencapai tataran nyaman secara psikologis. Semua masalah berawal dari pikiran, jika merasa memiliki masalah maka lepaskan masalah dari genggaman. Lepaskan keserakahan, lepaskan artikel untuk menyakiti orang lain, lepaskan semua keinginan jahat untuk melanggar hak orang lain, lepaskan diri dari keinginan korupsi, menipu orang lain, merusak alam lingkungan, kembali ke jalan yang benar, kembali ke fitrah manusia sebagai hamba Allah. Sehat jiwa adalah kombinasi fisik, psikologis, sosial dan spiritual, mencapai kesehatan jiwa adalah kunci menggapai kebahagiaan. Jika kita menggabungkan kombinasi tersebut maka semua hal dalam kehidupan akan membawa kita ke sebuah muara , yang wajib disadari 'dari mana kita berasal dan kemana kita akan kembali'. Apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Menghilangkan sama sekali dorongan ke arah pemuasan kebutuhan jasmani adalah tidak mungkin. Karena jasmani merupakan landasan untuk kesempurnaan hidup manusia. Hanya segelintir orang yang bahagia tanpa dipenuhi dengan kepuasan materi, dan segelintir orang yang sadar bahwa kesenangan jasmani tidak punya arti jika tidak diiringi kebahagian ruhani. Dalam Islam harta yang kita miliki hanya titipan dari Allah, ada amanah dan ada sebagian hak orang lain yang harus kita berikan. Dan yang tidak kalah penting harta adalah tes untuk yang memilikinya digunakan untuk apa saja harta tersebut. Harta ini adalah hiasan hidup yang harus diwaspadai agar tidak menyilaukan sampai membutakan hati dan membuat manusia lupa kepada Allah. Dan harta adalah bekal beribadah kepada Allah, sebab itu semua perangkat duniawi, baik meteril maupun nonmateril, tercipta sebagai sarana yang bisa digunakan manusia untuk beribadah. kekayaan adalah salah satu sarana ibadah. Ia bukan hanya menjadi ibadah ketika dinafkahkan di jalan Allah, ia bahkan sudah bernilai ibadah kala manusia dengan ikhlas mencari nafkah untuk keluarganya dan selebihnya untuk kemaslahatan umat, membantu masyarakat miskin. Harta bukan untuk disimpan saja dan dinikmati sendiri dan dihambur-hamburkan untuk memenuhi nafsu jasmani , jika harta dipergunakan sebaik-baiknya, pahala yang amat besar menanti. Namun jika tidak, siksa Allah amatlah pedih.


Ketika Allah bilang tidak ..! Ketika manusia berdoa, "Ya Allah ambillah kesombonganku dariku." Allah berkata, "Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya. " Ketika manusia berdoa, "Ya Allah sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat." Allah berkata, "Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara. " Ketika manusia berdoa, "Ya Allah beri aku kesabaran." Allah berkata, "Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan, tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri. " Ketika manusia berdoa, "Ya Allah beri aku kebahagiaan." Allah berkata, "Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri untuk menghargai keberkahan itu. " Ketika manusia berdoa, "Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan." Allah berkata, "Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada-Ku. " Ketika manusia berdoa, "Ya Allah beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat." Allah berkata, "Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal. " Ketika manusia berdoa, "Ya Allah bantu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cinta-Mu padaku. Allah berkata ... "Akhirnya kau mengerti ..!!" Kadang kala kita berpikir bahwa Allah tidak adil , kita telah susah payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak ada hasilnya. Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan-bahkan ratusan lamaran telah kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali, sementara orang lain dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan. kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya tanpa susah payah. Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir dengan penolakan dan kegagalan. orang lain dengan mudah berganti pasangan. Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun kebutuhanlah yang terus meningkat. Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang demam dan pilek lalu kita melihat tukang es. Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat mengobati rasa demam (maklum anak kecil). Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti kita berdoa memohon pada Allah) dan merengek agar dibelikan es. Orangtua kita tentu lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit kita. Tentu dengan segala dalih kita tidak dibelikan es. Orangtua kita tentu ingin kita sembuh dulu baru bisa minum es yang lezat itu. Begitu pula dengan Allah, segala yang kita minta Allah tahu apa yang paling baik untuk kita. Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini Allah mengabulkannya. Karena Allah tahu yang terbaik yang kita tidak tahu. Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari "pilek" dan "demam" .... dan terus berdoa.


Golongan yang selamat: Menjauhi Perdukunan قل لا يعلم من في السموات والأرض الغيب إلا الله وما يشعرون أيان يبعثون Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (QS An Naml 27: 65) Istilah dukun yang kita pakai di Indonesia sering dipergunakan untuk menerjemahkan arraf dan kahin dari bahasa Arab. Arraf adalah orang yang dianggap mengetahui secara ghoib sesuatu yang sedang terjadi, sehingga dia sering dimintai pertolongan untuk mencarikan barang ata orang yang hilang. Sedang kahin mirip dengan arraf tetapi dianggap pula mampu mengetahui secara ghoib apa yang akan terjadi di masa mendatang. Orang yang mempercayainya, menganggap kemampuan itu diperoleh karena kerja sama antara dukun tersebut dengan setan. Rasulullah saw melarang umatnya mendatangi arraf dan menanyakan sesuatu kepadanya. Beliau memberitahukan bahwa bila seseorang datang kepada arraf dan menanyakan sesuatu kepadanya maka sholatnya tidak akan diterima selama 40 hari (HR Muslim). Beliau sangat berhati-hati dalam membentengi umatnya agar tidak tertipu dan terjatuh ke dalam jurang syirik. Arraf yang mengaku mengetahui secara ghoib apa yang sedang terjadi di tempat lain itu jelas berbohong, karena Allah sendiri berfirman bahwa tidak ada seorangpun di langit dan di bumi ini yang mengetahui yang ghoib kecuali Allah (QS An Naml 27: 65). Maka orang yang yang mengaku mengetahui yang ghoib, pasti dia telah bohong. Orang beriman tidak layak menjadi bulan-bulanan para pembohong, maka mereka yang datang kepada arraf diancam sholatnya tidak akan diterima selama 40 hari. Terhadap orang yang mendatangi kahin ancamannya lebih berat lagi. Mereka yang datang ke kahin dan membenarkan ucapannya, maka dia dianggap telah kafir terhadap Al Qur'an (HR Ahmad). Kahin membohongi orang yang mempercayainya dengan memberikan kesan bahwa dirinya mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang. Dia mengeluarkan banyak ramalan-ramalan dan kalau ada satu saja ramalannya yang benar lalu dia blow up di media masa. Juga dengan menggunakan antek-anteknya yang banyak dia menyebarkan berita bohong tentang kehebatannya. Padahal semua itu bohong dan palsu. Rasulullah saw sebagai kekasih Allahpun tidak mengetahui yang ghoib. Kalau aku mengetahui yang ghoib niscaya aku akan berbuat kebajikan yang banyak dan tidak akan ditimpa kemadlorotan (QS Al An'am 6: 188). Padahal beliau pernah terluka cukup parah dalam perang Uhud. Lebih berbahaya lagi selain mengandung resiko tertipu oleh para dukun maka orang yang mendatangi dukun juga menanggung resiko berbuat syirik. Allah sendiri berfirman bahwa yang mengetahui yang ghoib itu hanya Allah (QS An Naml 27: 65) dan tidak akan memperlihatkan yang ghoib kepada seorangpun kecuali kepada rasul yang diridloinya (QS Al Jin 72: 26-27). Maka kalau kita percaya ada orang yang mengetahui yang ghoib padahal dia bukan rasulullah, berarti dia telah berbuat syirik. Padahal dosa syirik itu termasuk dosa besar dan dosa ini tidak akan diampuni (QS An Nisa 4: 48), bahkan dosa itu menghapus semua amal sholeh yang telah kita lakukan (QS Al An'am 6: 88). Selain itu di negeri kita berkembang adanya orang yang mengaku sebagai dukun tenung, dukun santet dan sejenisnya. Mereka dianggap dapat mengirimkan tenung atau santet yang dapat mencelakakan fisik orang lain. Bahkan dipercaya dapat membunuh jarak jauh. Semua pengakuan dan anggapan itu tidak ada benarnya sama sekali. Al Qur'an dan As Sunnah tidak pernah memberitakan adanya santet dan tenung seperti itu. Memang Allah memberitakan adanya sihir, tetapi yang dimaksud sihir itu tidak seperti tenung dan santet. Namun lebih dekat kepada sulap. Sahara yasharu artinya membelokkan. Segala sesuatu yang membelokkan dengan konotasi negatif termasuk sihir. Dalam konteks sulap ketrampilan tangan pesulap menjadikan kita memandang sesuatu yang di luar perkiraan. Begitu pula kata-kata fitnah yang dilemparkan kepada seorang suami pada istrinya yang dituduh serong dapat menghancurkan rumah tangga. Kata-kata fitnah itu termasuk sihir. Disamping arraf, kahin, dan penyihir Rasulullah saw juga menentang munajim atau ahli sihir yang menghubungkan antara gerakan benda-benda angkasa seperti bulan, bintang, dan matahari dengan perintiwa yang terjadi di bumi. Padahal anak-anak muda saat ini sangat getol dengan ramalan bintang (astrologi / kosmologi) yang dikaitkan dengan perjodohan, keberuntungan dan sejenisnya. Semua itu tidak ada benarnya sama sekali. Ketika nabi Isa as lahir menurut keyakinan orang-orang nasrani kelahirannya ditandai oleh munculnya bintang timur. Tentu saja keyakinan yang demikian itu tidak bisa diterima oleh ajaran Islam. Suatu saat putra Rasulullah yang bernama Ibrahim meninggal dunia. Saat itu terjadi gerhana matahari. Maka para sahabat menghubung-hubungkan antara ke dua peristiwa itu dan Rasulullah saw mendengarnya. Segera beliau berpidato di atas mimbar. Setelah memuji dan menyanjung Allah beliau mengatakan bahwa: "Sesungguhnya matahari dan bulan itu termasuk tanda-tanda kebesaran Allah. Tidak akan terjadi gerhana pada keduanya karena hidup dan matinya seseorang "(HR Bukhori - Muslim). Betapa modern dan logisnya pernyataan beliau. Padahal pernyataan ini pernyataan kuno yang dikeluarkan sekitar 1400 tahun yang lalu. Mengapa kita yang hidup di jaman ultra modern ini banyak yang masih berpikiran kuno? Masih percaya kepada ahli sihir? Na'udzubillah


Alkisah di zaman saat islam masih merintis sayapnya, suatu malam yang telah larut, ketika seorang pemuda bernama Sa'ad bin Abi Waqqash terbangun dari tidurnya. Baru saja ia bermimpi yang sangat mencemaskan. Ia merasa terbenam dalam kegelapan, kerongkongannya terasa sesak, nafasnya terengah-engah, keringatnya bercucuran, keadaan sekelilingnya gelap-gulita. Dalam kondisi yang demikian dahsyat itu, tiba-tiba dia melihat seberkas cahaya dari langit yang terang-benderang.Maka dalam sekejap, berubahlah dunia yang gelap-gulita menjadi terang benderang dengan cahaya tadi. Cahaya itu menyinari seluruh rumah penjuru bumi. Bersaman dengan sinar yang cemerlang itu, Sa'ad bin Abi Waqqash melihat tiga orang pria, yang setelah diamati tidak lain adalah Ali bin Abi Thalib ra, Abu Bakar bin Abi Quhafah dan Zaid bin Haritsh. Sejak ia bermimpi yang demikian itu, mata Sa ' ad bin Abi Waqqash tidak mau terpejam lagi. Kini Sa'ad bin Abi Waqqash duduk merenung untuk memikirkan arti mimpi yang baginya sangat aneh. Sampai sinar matahari mulai meninggi, rahasia mimpi yang aneh tersebut masih belum terjawab. Hatinya kini bertanya-tanya, berita apakah gerangan yang hendak saya peroleh. Seperti biasa, di waktu pagi, Sa'ad dan ibunya selalu makan bersama-sama. Dalam menghadapi hidangan pagi ini, Sa'ad lebih banyak berdiam diri. Sa'ad adalah seorang pemuda yang sangat patuh dan taat kepada ibunya. Namun, mimpi dashyat semalam dirahasiakannya, tidak diceritakan kepada ibu yang sangat dicintai dan dihormatinya. Sedemikian dalam sayangnya Sa'ad pada ibunya, sehingga seolah-olah cinta Sa'ad hanya untuk ibunya yang telah memelihara dirinya sejak kecil sampai dewasa dengan penuh kelembutan dan berbagai pengorbanan. Pekerjan Sa'ad adalah membuat tombak dan lembing yang diruncingkan untuk dijual kepada pemuda-pemuda Makkah yang senang berburu, meskipun ibunya terkadang melarangnya melakukan usaha ini. Ibu Sa'ad yang bernama Hamnah binti Suyan bin Abu Umayyah adalah seorang wanita hartawan keturunan bangsawan Quraisy, yang memiliki wajah cantik dan anggun. Disamping itu, Hamnah juga seorang wanita yang terkenal cerdik dan memiliki pandangan yang jauh. Hamnah sangat setia kepada agama nenek moyangnya, yaitu penyembah berhala. Pada suatu hari tabir mimpi Sa'ad mulai terbuka, ketika Abu Bakar mendatangi Sa'ad di tempat pekerjaannya dengan membawa berita dari langit tentang diutusnya Muhammad Saw, sebagai Rasul Allah. Ketika Sa'ad bertanya, siapakah orang-orang yang telah beriman kepada Muhammad Saw, dijawab oleh Abu Bakar: dirinya sendiri, Ali bin Abi Thalib ra, dan Zaid bin Haritsh. II.Antara Iman dan Ibu Muhammad Saw, mengajak manusia menyembah Allah Yang Esa, Pencipta langit dan bumi. Seruan ini telah mengetuk pintu hati Sa'ad untuk menemui Rasul Allah Saw, untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Kalbu Sa'ad telah disinari cahaya iman, meskipun usianya waktu itu baru menginjak tujuh belas tahun. Sa'ad termasuk dalam deretan pria pertama yang memeluk Islam selain Ali bin Abi Thalib ra, Abu Bakar dan Zaid bin Haritsh. Cahaya agama Allah yang memancar ke dalam kalbu Sa'ad, sudah demikian kuat, meskipun ia mengalami tes yang tidak ringan dalam memeluk agama Allah ini. Diantara tes yang dirasa paling berat adalah, karena ibunya yang paling dikasihi dan disayanginya itu tidak rela ketika mengetahui Sa'ad memeluk Islam. Sejak memeluk Islam, Sa'ad telah melaksanakan shalat dengan sembunyi-sembunyi di kamarnya. Sampai pada suatu saat, ketika ia sedang bersujud kepada Allah, secara tidak sengaja, ibu yang belum mendapat hidayah dari Allah ini melihatnya. Dengan nada sedikit marah, Hamnah bertanya: "Sa'ad, apakah yang sedang kau lakukan?" Rupanya Sa'ad sedang berdialog dengan Tuhannya; ia tampak tenang dan khusyu 'sekali. Setelah selesai menunaikan Shalat, ia berbalik menghadap ibunya seraya berkata lembut. "Ibuku sayang, anakmu tadi bersujud kepada Allah Yang Esa, Pencipta langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya." Mendengar jawaban anaknya, sang ibu mulai naik darah dan berkata: "Rupanya engkau telah meninggalkan agama nenek moyang kita, Tuhan Lata, Manata dan Uzza. Ibu tidak rela wahai anakku. Tinggalkanlah agama Oleh karena itu, Hamnah berjanji tak akan makan dan minum sampai Sa'ad kembali taat memeluk agamanya semula. Sehari telah berlalu, ibu ini tetap tidak mau makan dan minum. Hati Sa'ad merintih melihat ibunya, tetapi keyakinannya terlalu mahal untuk dikorbankan. Sa'ad datang membujuk ibunya dengan mengajaknya makan dan minum bersama, tapi ibunya menolak dengan harapan agar Sa'ad kembali kepada agama nenek moyangnya. Kini Sa'ad makan sendirian tanpa ditemani ibunya. Hari keduapun telah berlalu, ibunya tampak letih, wajahnya pucat-pasi dan matanya cekung, ia terlihat lemah sekali. Tidak ada sedikitpun makanan dan minuman yang dijamahnya. Sa'ad sebagai seorang anak yang mencintai ibunya bertambah sedih dan terharu sekali melihat kondisi Hamnah yang demikian. Malam berikutnya, Sa'ad kembali membujuk ibunya, agar mau makan dan minum. Namun ibunya adalah seorang wanita yang berpendirian keras, ia tetap menolak ajakan Sa'ad untuk makan, bahkan ia kembali merayu Sa'ad agar menuruti perintahnya semula. Tetapi Sa'ad tetap pada pendiriannya, ia tak ingin menjual agama dan keimanannya kepada Allah dengan sesuatu, sekalipun dengan nyawa ibu yang dicintainya. Imannya telah membara, cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya telah sedemikian dalam. Di depan matanya ia menyaksikan keadaan ibunya yang meluluhkan hatinya, namun dari lidahnya keluar kata-kata pasti yang membingungkan lbunya; Demi Allah, ketahuilah wahai ibunda sayang, seandainya ibunda memiliki seratus nyawa lalu ia keluar satu persatu, tidaklah nanda akan meninggalkan agama ini walau ditebus dengan apa pun juga. Maka sekarang, terserah kepada ibunda, apakah ibunda akan makan atau tidak ". Kata kepastian yang diucapkan anaknya dengan tegas membuat ibu Sa'ad bin Abi Waqqash tertegun sesaat. Akhirnya ia mulai mengerti dan sadar, bahwa anaknya telah memegang teguh keyakinannya. Untuk menghormati ibunya , Sa'ad kembali mengajaknya untuk makan dengannya, karena ibu ini telah merasakan kelaparan yang amat sangat dan ia telah memaklumi pula bahwa anak yang dicintainya tidak akan mundur setapakpun dari agama yang dianutnya, maka ibu Sa'ad mundur dari pendiriannya dan memenuhi ajakan anaknya untuk makan bersama. Alangkah gembiranya hati Sa'ad bin Abi Waqqash. Ujian iman ternyata dapat diatasinya dengan ketabahan dan memohon pertolongan Allah. Keesokan paginya, Sa'ad pergi menuju ke rumah Nabi Saw. Sewaktu ia berada di tengah majelis Nabi Saw, turunlah firman Allah yang mendukung pendirian Sa'ad bin Abi Waqqash: "Dan Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu-bapakmu; hanya kepada-Ku-lah tempat kamu kembali. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu turuti keduanya, dan bergaullah dengan keduanya didunia dengan baik dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku , kemudian hanya kepada-kulah tempat kembalimu. Maka Kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan ". (QS Luqman: 14-15) III.Singa yang menyembunyikan kukunya dan Anggota surga Demikianlah, keimanan Sa'ad bin Abi Waqqash kepada Allah dan Rasul-Nya telah mendapat keridhaan Ilahi. Al-Qur'an telah mengabadikan peristiwa itu menjadi pedoman buat kaum Muslimin. Terkadang Sa'ad mencucurkan air matanya apabila ia sedang berada di dekat Nabi Saw. Ia adalah seorang sahabat Rasul Allah Saw, yang diterima amal ibadahnya dan diberi nikmat dengan doa Rasul Allah Saw, agar doanya kepada Allah dikabulkan. Bila Sa'ad bermohon diberi kemenangan oleh Allah pastilah Allah akan mengabulkan doanya. Pada suatu hari, ketika Rasul Allah Saw, sedang duduk bersama para sahabat, tiba-tiba ia menatap ke langit seolah mendengar bisikan malaikat. Kemudian Rasul kembali menatap kepada sahabatnya dengan berkata: "Sekarang akan ada di depan kalian seorang laki-laki dari penduduk surga". Mendengar ucapan Rasul Allah Saw, para sahabat menengok ke kanan dan ke kiri pada setiap arah, untuk melihat siapakah gerangan lelaki berbahagia yang menjadi penduduk surga. Tidak lama berselang datanglah laki-laki yang ditunggu itu, dialah Sa'ad bin Abi Waqqash. Disamping terkenal sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, Sa'ad bin Abi Waqash juga terkenal karena keberaniannya dalam perang membela agama Allah. Ketika tentara muslimin lari kocar-kacir dalam perang Uhud, Rasulullah saw. tinggal di medan tempur dengan kelompok kecil tentara muslimin tidak lebih dari sepuluh orang. Satu diantaranya adalah Sa'ad bin Abi Waqqash. Sa'ad berdiri melindungi Rasulullah saw. dengan panahnya. Tidak satupun panah yang dilepaskan Sa'ad dari busur melainkan mengenai sasaran dengan jitu, dan orang musyrik yang terkena, langsung tewas seketika. Tatkala Rasulullah saw. melihat Sa'ad seorang pemanah jitu, beliau berkata memberinya semangat, "Panahlah hai Sa'ad! Ayah-ibuku menjadi jaminan bagimu ". Sa'ad bin Abi Waqqash, hampir selalu bergabung Nabi Saw dalam setiap pertempuran. IV.Doa saad selalu dikabulkan Hadits dari Qais, bahwa Sa'ad menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, "Ya Allah, kabulkanlah Sa'ad jika dia berdoa. " Setelah didoakan seperti itu, maka setiap doanya senantiasa dikabulkan oleh Allah. Hadits dari Jabir bin Samurah, dia berkata, "Suatu ketika penduduk Mekkah mengadukan Sa'ad bin Abi Waqqash kepada Umar bin Khattab, mereka mengatakan bahwa shalatnya tidak baik. Sa'ad kemudian membantah, 'Aku mengerjakan shalat sesuai dengan shalatnya Rasulullah saw. Shalatku pada waktu isya, aku lakukan dengan lama pada dua rakaat pertama sedangkan pada dua rakaat terakhir aku lakukan dengan singkat. ' Mendengar itu Umar bin Khattab berkata, "Berarti itu hanya prasangka terhadapmu wahai Abu Ishaq. ' Dia kemudian mengutus beberapa orang untuk bertanya tentang dirinya di Kufah, ternyata ketika mereka mendatangi masjid-masjid di Kuffah, mereka mendapat informasi yang baik, sampai ketika mereka datang ke masjid Bani Isa, seorang pria bernama Abu Sa'dah berkata, 'Demi Allah, dia tidak adil dalam menetapkan hukum, tidak membagi secara adil dan tidak berjalan (untuk melakukan pemeriksaan) di waktu malam. Setelah itu Sa'ad bin Abi Waqqash berkata, 'Ya Allah, jika dia bohong maka butakanlah matanya, panjangkanlah usianya dan timpakanlah fitnah kepadanya.' " Abdul Malik berkata, "Pada saat itu aku melihat Abu Sa'dah menderita penyakit tuli dan jika ditanya bagaimana keadaanmu, dia menjawab, 'Orang tua yang terkena fitnah, aku terkutuk oleh doa Sa'ad. "(HR. Muttafaq' Alaihi). Hadits dari Ibnu Al Musayyib, bahwa suatu ketika seorang pria mencela Ali bin Abu Thalib, Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam. Mendengar itu, Sa'ad menegurnya, "Janganlah kamu mencela sahabat-sahabatku. ' Tetapi pria itu tidak mau menerima. Setelah itu Sa'ad berdiri, lalu mengerjakan shalat dua rakaat dan berdoa. Tiba-tiba seekor unta bukhti (peranakan unta Arab dan Dakhil) muncul menyeruduk pria tersebut sampai jatuh tersungkur di atas tanah, lantas meletakkannya di antara dada dan lantai sampai akhirnya ia terbunuh. Aku melihat orang-orang mengikuti Sa'ad dan berkata, 'Selamat kamu wahai Abu Ishaq, doamu terkabulkan.' " Sejarah mencatat, hari-hari terakhir Panglima Sa'ad bin Abi Waqqash adalah ketika ia memasuki usia delapan puluh tahun. Dalam kondisi sakit Sa'ad bin Abi Waqqash berpesan kepada para sahabatnya, agar ia dikafani dengan Jubah yang digunakannya dalam perang Badr, sebagai perang kemenangan pertama untuk kaum muslimin. Pahlawan perkasa yang telah menghembuskan nafas yang terakhir dengan meningalkan kenangan indah dan nama yang harum. Ada dua hal penting yang dikenang orang tentang kesatriaannya. Pertama, Sa'ad adalah orang yang pertama melepaskan anak panah dalam membela agama Allah dan juga orang yang pertama terkena panah. Dan yang kedua, Sa'ad adalah satu-satunya orang yang dijamin oleh Rasul Saw dengan jaminan kedua orang tua Nabi Saw. Ia dimakamkan di pemakaman Baqi ', makamnya para Syuhada.


Rakyat Korban Kenduri Kapitalis Asing Meski Indonesia telah merdeka dari penjajah, namun perampokan terhadap kekayaan Indonesia hingga kini masih terjadi. Bentuk penjajah model baru ini dilakukan oleh VOC baru yang berwujud korporasi asing, terutama penjajahan secara ekonomi, pelayaran, telekomunikasi, dan pertambangan, tetapi juga menjamah ke dunia pendidikan dan kesehatan. Pengamat ekonomi dari Econit Advisory Group Hendri Saparini menengarai pihak asing berusaha menguasai perekonomian Indonesia dengan cara membelokkan arah kebijakan ekonomi nasional agar penguasaan asing dapat menguras kekayaan alam di Indonesia lebih mudah. Menurut Hendri salah satu modusnya adalah dengan menyuap para pejabat dan politisi agar membuat aturan perundangan yang pro-asing. Hendri Saparini menjelaskan dengan diberlakukannya undang-undang yang pro-asing maka terjadi pembelokan arah kebijakan ekonomi di Indonesia. Menurutnya banyak UU pro-asing yang merugikan bangsa Indonesia untuk jangka panjang. Hendri menyontohkan UU No 30 tahun 2007 tentang Energi yang di dalamnya menyebutkan sektor pertambangan boleh dikuasai asing hingga 95 persen. Menurut dia, klausul tersebut harus diubah karena merugikan bangsa Indonesia untuk jangka panjang. Hendri juga menambahkan, pengusaha juga sering menyuap pejabat untuk mendapatkan izin usaha pertambangan. Hal yang menyedihkan, parahnya izin yang sudah diperoleh dengan cara menyuap, dijual lagi kepada pengusaha lain dengan harga lebih mahal. Oleh karena itu, ketika dilakukan evaluasi terhadap usaha pertambangan, ada sekitar 6.000 izin usaha pertambangan yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Senada dengan Hendri, Guru Besar Universitas Indonesia, Prof. Sri Edi Swasono mengaku prihatin atas perampokan kekayaan alam Indonesia yang hingga saat ini masih berlangsung. Justru, perampokan itu dilakukan oleh pihak-pihak yang mestinya bertanggung jawab untuk memakmurkan negeri yang kaya raya ini. Menurutnya, bagaimana mungkin sebuah lembaga wakil rakyat bisa menggolkan delapan undang-undang yang isinya menjual kekayaan negara. Pembangunan selama ini hanya pembangunan di Indonesia, bukan pembangunan Indonesia. Itu artinya, pembangunan yang terlihat gemerlap tak lebih dari pembangunan properti milik asing yang numpang di Indonesia. Dengan kata lain, Indonesia tidak menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Ia menambahkan betapa kekayaan alam negeri ini dikuras habis oleh asing. Ia mencontohkan, dalam satu tahun, 250 juta ton batubara digali dari perut bumi Indonesia. Dan hanya 65 juta ton saja yang diperuntukkan buat dalam negeri. Sisanya, dijual ke asing. Anehnya, dari sekian banyak kekayaan alam yang dikeruk, pemerintah Indonesia akan menurunkan royalti dari 13,5 persen menjadi hanya 9 persen dengan alasan memberikan daya tarik untuk datangnya investor baru. Dari tahun ke tahun, menurutnya, kebijakan pemerintah tidak pernah berubah, dan selalu anti domestik. Bagaimana mungkin Pertamina yang merupakan perusahaan milik negara bisa dikalahkan dengan Exxon di Blok Cepu. Belum lagi selama ini banyak korporasi asing yang sudah menjadi “negara di atas negara”, yang memiliki kekuasaan terhadap pemimpin, sementara rakyat tidak berhak mengetahui tentang pengelolaan Sumber Daya Indonesia yang dimiliki. Misalnya, tanpa sepengetahuan kita, Exxon mobil di Natuna membangun pipa gas di laut yang berujung di Singapura dan menjual hasil alam kita langsung ke sana. Rakyat Korban Kenduri Kapitalis Asing Asing untung, rakyat buntung bahkan hiduppun mutung. Inilah penderitaan sejadi-jadinya, realitas yang dihadapi rakyat kecil. Sementara korporasi dan pembuat kebijakan berpesta pora rakyat menjadi bancakan atau kenduri kapitalis asing, artinya rakyat hanya menjadi pesakitan disaat korporasi asing berpesta besar menguras semua kekayaan rakyat Indonesia. Bagaimana tidak, sebuah ironi terjadi di negeri yang subur dan sejatinya kaya sumber daya: Indonesia. Krisis pangan merenggut enam warga Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, sebulan terakhir ini. Enam warga yang tewas antara lain berasal dari Amanuban Timur dan Amanuban Selatan. Anggota DPRD TTS, Arifin Betty membenarkan sejumlah daerah di wilayah itu mengalami kelaparan. Di beberapa desa, stok makanan tidak ada sama sekali. Saat saya berkunjung ke desa-desa, warga mengatakan bahwa stok pangan lokal seperti pisang, kacang-kacangan maupun umbi-umbian sudah habis, kata Arifin saat dihubungi oleh media, Kamis 13 Oktober 2011. Karena putus asa, sejumlah warga bahkan mengaku berniat mencuri untuk membeli bahan makanan. Tapi tidak ada yang bisa dicuri karena hampir semua aset warga sudah dijual untuk membeli bahan makanan. Sejak Agustus 2011 lalu, sebanyak 150 desa yang tersebar di 32 kecamatan di daerah itu dilaporkan terancam rawan pangan serius. Lain halnya dengan penderitaan yang dialami oleh Munadi (60), buruh tani yang tinggal di Blok Cikuya RT 001 RW 09, tepatnya di belakang kawasan kompleks perkantoran Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, di Desa Sumber, Kecamatan Sumber, semakin lengkap. Ayah tujuh putra tersebut nyaris kehilangan semua miliknya. Munadi telah kehilangan dua anaknya beberapa tahun lalu setelah mereka sakit keras. Sepetak tanah di depan rumahnya pun digadaikan untuk pengobatan. Sayangnya, utang tak terbayar dan tanah pun telah dijual. Kini, anaknya yang lain, Mulyadi (35), menderita stres. ”Anak saya tertekan batinnya karena sembilan tahun bekerja di Pemkab Cirebon tak diangkat-angkat. Akhirnya, ia stres. Apalagi, ia pernah jatuh dari motor,” ungkap Munadi, yang juga pernah jadi pegawai honorer di kantor yang sama. Akibat stresnya itu, Mulyadi sering menyerang sang ayah sampai Munadi harus mengungsi. ”Kalau melihat saya, Mulyadi seperti memendam kebencian,” ucap Munadi dengan getir. Kegetiran hidup petani juga dirasakan Adun (40), warga Kampung Pintu Air, Desa Wadas, Kecamatan Teluk Jambe Timur, Karawang, Jawa Barat. Meskipun ia harus bekerja keras dari subuh hingga sore selama satu musim tanam atau 115 hari, sejak mulai tandur (tanam) hingga memotong, hasilnya rata-rata per hari Rp 2.000. Itulah hasil bersih setelah dikurangi biaya sebelum tanam hingga panen. Menuju Negara Pariah? Ada pepatah yang berasal dari satu negara di Eropa: “Pada saat hari mulai senja, orang kecil jadi terlihat panjang.” Peribahasa ini menggambarkan keadaan suatu masyarakat yang mengalami penurunan standar nilai dan norma, ketrampilan, dan praktik-praktik pengaturan publik yang berjalan secara berkepanjangan, sehingga apa yang sesungguhnya buruk, korup, dan tidak bermutu bisa terpakai. Anggota masyarakat mulai terbiasa dengan kemandegan, ketidakpedulian akibat dari ketidakterurusan terus-menerus (ignorance). Peribahasa tersebut rasanya tepat untuk memecut kesadaran kita atas apa yang terjadi di Indonesia. Adalah ketidakmampuan institusi negara – pemerintah, DPR, penegak hukum – tidak berfungsi sebagaimana seharusnya untuk mensejahterakan rakyat, alih-alih menjadi fasilitator menjual asset dan kekayaan negara. Pemerintah selalu mengatakan telah berhasil memperbaiki kondisi Indonesia dengan menunjuk pada angka-angka pertumbuhan. Namun, tumbuh dari apa dan apa artinya buat rakyat? Mengapa kenyataannya rakyat masih hidup dalam keadaan yang semakin sulit? Kenapa negeri ini menjadi sangat miskin, mempunyai hutang sampai Juli 2011 sebesar Rp 1.733,64 triliun? Konon utang tersebut apabila dibayarkan bunganya saja tidak akan lunas sampai pada tahun 2040. Betapa tragis nasib bangsa ini, tenggelam di antara kekayaan alam dan baru menyadari saat maut utang membelenggu.


Negeri Maling Digarong Asing Indonesia bangkrut karena korupsi dan kolonialisme. Pergantian rezim harus dilakukan secepatnya untuk menyelamatkan negeri ini. Yang tidak kalah pentingnya adalah menyiapkan sistem penggantinya. Pada akhir Mei 2009, Gerakan Pro SBY (GPS) menggelar pesta makan tempe massal di Parkir Timur Senayan, Jakarta. Acara diikuti beberapa ribu orang yang antreannya mengular sepanjang 700 meter. GPS ogah dibilang bahwa acara itu merupakan bentuk kampanye calon presiden, melainkan gerakan cinta produk dalam negeri. Ironisnya, tempe Indonesia ternyata bukan lagi 100% buatan dalam negeri. Menurut temuan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), 50% lebih tempe dan tahu yang beredar di Tanah Air merupakan hasil rekayasa genetik. "Kalau sudah rekayasa genetik, sudah pasti bahannya impor. Makanya rasa tempe dan tahu tidak seperti rasa yang dibuat dari kedelai," ungkap Ketua Umum YLKI, Sudaryatmo, dalam rapat dengar pendapat umum dengan Komisi IV DPR RI, 26 Januari 2011. Benny Kusbini, Ketua Dewan Kedelai Indonesia, mengungkapkan, produksi kedelai tahun 2010 diperkirakan hanya mencapai 700.000 ton. Padahal, kebutuhan konsumsi kedelai nasional 2,4 juta ton. Itu artinya, lebih 70% kebutuhan kedelai nasional dipasok dari luar negeri terutama Amerika. Belakangan pemerintah bahkan membebaskan bea masuk impor kedelai. Selain itu, kebangsaan tempe ternyata bukan hanya Indonesia. Amerika misalnya, sudah mematenkan tempe anti kolesterol. Sedang Jepang mematenkan tempe yang diperkaya senyawa antioksidan. Menurut praktisi bisnis Forum Umat Islam (FUI), Sudadi, fenomena tempe tersebut mencerminkan ironisme tata kelola pemerintah Indonesia. Dengan ‘’semangat 45’’, Pemerintah Indonesia menggeber jargon “100% Cinta Produk Indonesia”. Konyolnya, kata Sudadi, semboyan ini diserukan setelah Indonesia menjerumuskan diri dalam pusaran liberalisme perdagangan yang diatur kaum kapitalis dunia. Selain turut meratifikasi WTO (World Trade Organization), pemerintah juga menandatangani perjanjian perdagangan bebas antara negara-negara ASEAN dengan Korea (ASEAN Korea Free Trade Agreement/AKFTA), Australia (ASEAN Australia New Zeland FTA), ASEAN China (ACFTA), serta negara Uni Eropa dan Amerika Serikat. Akibatnya, kini pasar Indonesia telah dibanjiri produk impor baik barang maupun jasa. Asset Indonesia pun dicaploki asing. Sudadi menyebut contoh lain misalnya air mineral Aqua. ‘’Bahan baku utama Aqua adalah mata air pegunungan di Indonesia. Tapi 100 persen kepemilikan saham produsennya adalah perusahaan Prancis Danone,’’ bebernya. Demikian juga rokok Djisamsoe. Produsen rokok ini, PT HM Sampoerna, memang berada di Sidoarjo, Jawa Timur. Tapi, seluruh saham PT HM Sampoerna dimiliki PT Philip Morris Internasional, Amerika Serikat. Produk-produk legendaris nasional juga sudah milik asing, seperti Kecap ABC yang 65% sahamnya dikuasai HJ Henz dari Amerika, lalu teh Sari Wangi dan Kecap Bango yang 100% dikuasai Unilever, Inggris. Semen Tiga Roda bikinan Indocement maupun Semen Gresik, semuanya sudah dikuasai asing. Indocement dipegang Heidelberg Jerman, sedangkan Semen Gresik oleh Cemex Meksiko. Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Hadi Soesastro (Globalization: Challenge for Indonesia) pernah mengatakan, kebijakan pemerintah Indonesia menghadapi globalisasi tidak didasarkan pada pertimbangan ideologis, tapi pragmatis. Akibatnya, Indonesia tergilas arus globalisasi, hanya menjadi tukang jahit dan buruh. Sedang penguasa Indonesia, lebih suka menjadi pemburu rente atau komisi. Sumberdaya Alam Nusantara yang kaya raya, dipasrahkan pada asing. Sebuah harian nasional membeberkan, pada sektor pertambangan, penguasaan asing mencapai 75%. Pada industri minyak, 75% pengelolaannya adalah modal asing, melibatkan 16 perusahaan asing sebagai operator. Pada industri batu bara, ada perusahaan pengelola yang sahamnya antara 55% dan 100%. Pada sektor perbankan, konsentrasi kepemilikan asing juga makin meningkat, dari 47,02% pada 2008 menjadi 50,06% pada 2010. Di sektor jasa telekomunikasi, penguasaan asing juga besar. Yang ”terendah” adalah pada Smart Fren Telecom yakni 23,9%, kemudian Telkomsel 35%, Hutchinson 60 %, Indosat 70,14%, XL Axiata 80 %, dan Natrindo 95 %. Pada sektor agroindustri terdapat beberapa perusahaan yang menguasai produk yang familiar bagi konsumen nasional. Amien Rais dalam bukunya yang berjudul ‘’Agenda Mendesak Bangsa, Selamatkan Indonesia!’’, menyebut keputusan politik dan undang-undang selama ini lebih menguntungkan kepentingan luar dan merugikan kepentingan bangsa sendiri. Sampai sekarang, setidaknya berlaku 118 undang-undang yang tak berpihak pada kepentingan rakyat banyak. Hal ini diungkap anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi PDI Perjuangan, Eva Kusuma Sundari, tahun 2010. ‘’Kita bodoh-bodoh saja membuat undang-undang yang merugikan,” ujar Eva waktu itu. Bahkan, 76 dari UU itu langsung diintervensi oleh asing. "Pasca reformasi, berdasarkan hasil laporan BIN, 76 UU kita dikonsep oleh konsultan asing," beber Eva. Ke-76 legislasi usulan pemerintah yang akhirnya diundangkan itu misalnya UU Migas, Kelistrikan, Perbankan dan Keuangan, Pertanian, Penanaman Modal, UU Sumber Daya Air, UU Pendidikan Nasional, UU BUMN, serta UU Pemilu. Mantan Presiden BJ Habibie, dalam pidatonya pada peringatan Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni di Gedung MPR, menyatakan, pengalihan kekayaan alam Indonesia ke pihak asing di era globalisasi ini merupakan bentuk kolonialisme VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) gaya baru. Hasilnya, “Indonesia kini dikuasai oleh asing, kekuasaan ekonomi apalagi. Saham saham penting milik negara dan sumber daya alam sudah lebih dari setengah telah beralih kepemilikan oleh koorporasi asing,” simpul Kwik Kian Gie. Menurut perhitungannya, kekuatan ekonomi Indonesia saat ini tak lebih dari 2 hingga 8 persen saja. Itu pun banyak yang dicaploki koruptor lokal. Menurut Indonesia Corruption Watch (ICW), birokrasi kementrian memang salah satu ‘’trio macan’’ korupsi. “Menurut kajian kami yang menjadi sumber pokok korupsi politik ada pada politikus, pengusaha, dan birokrat. Mereka menjadi trio macan korupsi,” papar Kepala Divisi Monitoring Pelayanan Publik ICW, Ade Irawan, dalam diskusi bertajuk ‘Indonesiaku Dibelenggu Koruptor’ di Jakarta Selatan, Sabtu (4/6/2011). ‘’Demokrasi ternyata gagal menghasilkan kepala daerah yang jujur, bersih, dan tahu malu,” demikian kutipan editorial Media Indonesia edisi 10/1/2011. Sepanjang 2010, tercatat 148 dari 244 kepala daerah menjadi tersangka, umumnya terlibat kasus korupsi. Bahkan sebagian dari pemenang Pilkada 2010 berstatus tersangka dan meringkuk di penjara. Misalnya, Jefferson Soleiman Montesqiu Rumajar, yang terpilih menjadi Walikota Tomohon-Sulut periode 2010-2015 dan dilantik oleh Gubernur Sulawesi Utara, Sinyo Harry Sarundajang, pada rapat paripurna istimewa DPRD Tomohon, di Jakarta, Jumat (7/1). Padahal, Jefferson berstatus pesakitan. Ia dijadikan tersangka oleh KPK karena tindak pidana korupsi. Toh, tanpa urat malu, Jeferson melantik sejumlah pejabat Kota Tomohon di LP Cipinang. Di jajaran elite birokrasi pemerintahan, Koordinator Divisi Hukum dan Monitoring Peradilan ICW, Febri Diansyah, menyebut, sedikitnya 16 kementrian diduga tersangkut kasus korupsi. “Ada 16 kementerian yang patut diduga terlibat korupsi. Sebagian kementerian itu berada di era pemerintahan SBY karena SBY menjabat sejak 2004,” kata Febri dalam diskusi bertema ‘Kementerian Sarang Koruptor’ di gedung DPD RI, Jakarta, Jumat (16/9). Mengutip pejabat KPK, Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Amanat Nasional Teguh Juwarno menyatakan, kalau KPK menangkap semua koruptor, maka 60 persen pejabat eksekutif, legislatif dan yudikatif harus masuk penjara. Padahal, birokrasi pemerintahan sudah menghabiskan sebagian besar anggaran belanja negara. Menurut Deputi Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah, Max Pohan di Kantor Bappenas, 19 Juli 2010, APBN yang berjumlah Rp219 triliun (tahun 1999) sampai Rp1,200 triliun (tahun 2011) strukturnya tidak banyak berubah: sekitar 60% habis untuk anggaran rutin biaya/gaji pegawai/ pejabat,belanja barang, dan ongkos-ongkos kegiatan birokrasi lainnya; 15%-19% untuk mencicil hutang; dan 20% untuk pembangunan. Pembangunan inipun sebagian besar gedung-gedung untuk birokrasi dan lembaga negara. Sedang Badan Perencanaan Pembangunan Nasional menyebut total anggaran pemerintah daerah yang dikeluarkan untuk biaya birokrasi mencapai 70 persen dari total anggaran. Berdasarkan catatan Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Belanja pegawai pada APBN 2011 membengkak hingga 233% atau Rp 126,5 trilyun dibandingkan 2005. Peningkatan belanja ini tak berdampak positif pada layanan birokrasi. “Kita mencatat ada sekitar 10 penyebab borosnya ongkos birokrasi. Ini sekaligus menunjukkan indikasi kegagalan reformasi birokrasi. Karena itu guna memaksimalkan efisiensi anggaran, maka tak cukup hanya dengan moratorium PNS,” kata Koordinator Advokasi dan Investigasi Fitra, Uchok Sky Khadafi. Untuk menutupi tekor APBN, pemerintah getol berutang pada asing. Total utang pemerintah Indonesia hingga April 2011 mencapai Rp 1.697,44 triliun. Rincian pinjaman yang diperoleh pemerintah pusat hingga akhir April 2011 adalah: Bilateral: US$ 42,98 miliar, Multilateral: US$ 23,18 miliar; Komersial: US$ 3,21 miliar; Supplier: US$ 60 juta dan Pinjaman dalam negeri US$ 60 juta (detikfinance.com, 12/5/2011). Pemerintah juga menggadaikan negara melalu penjualan Surat Utang Negara (SUN). Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, per 5 Oktober 2011, nilai kepemilikan asing di SUN sebesar Rp 214,10 triliun atau 34%. Dalam diskusi “Mengapa Perlu Pergantian Rezim Secepatnya” di Rumah Perubahan, di Jakarta, Kamis (29/9), para tokoh kritis yang menjadi peserta sepakat, mengganti rezim pemerintahan SBY secepatnya memang harus dilakukan untuk menyelamatkan negeri ini. Para pembicara juga sepakat, perombakan kabinet sama sekali bukanlah jawaban atas masalah yang dialami Indonesia. Isu reshuffle hanyalah strategi SBY untuk menaikkan citra dirinya. Namun, Herdi Sahrasad dan kawan-kawan juga mengingatkan, yang tidak kalah pentingnya adalah menyiapkan sistem penggantinya. ‘’Demokrasi kriminal harus dihentikan secepatnya,’’ ujar pengamat politik Universitas Paramadina itu. Di bidang ekonomi, menurut Jeffrey Winters, yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah tim ekonomi yang tidak hanya bersikap ‘’go to hell’’ dengan IMF dan Bank Dunia. Tetapi juga punya rencana yang nyata dan independen agar Indonesia bisa segera loncat dari kategori negara miskin. Secara fundamental Prof Hassan Hanafi, guru besar filsafat Universitas Kairo, Mesir, pernah menyatakan, ‘’Indonesia memerlukan revolusi pemikiran. Minal 'aqidah ilal tsaurah’’ (Gatra.com, 05-06-2001). Yakni, bagaimana iman pada Allah, pada penciptaan alam, pada penciptaan manusia, pada kenabian, dan pada alam akhirat, mampu men-drive kekuatan revolusi. Lebih dari sekadar sikap nrimo pada keterbelakangan dan kezaliman. Bagaimanapun, generasi kiwari yang sudah ‘’karatan’’ dimabuk dunia, pasti akan berlalu. Seperti disebut Al Qur’an, setiap kaum atau bangsa punya umurnya sendiri (QS 7:34). Mereka akan menemui ajalnya secara sunatullah, atau bila kelakuannya sudah kelewatan Allah langsung ‘’turun tangan’’ memusnahkannya, digantikan oleh kaum yang lebih baik (QS 5:54). Seperti dialami kaum Nabi Nuh, Luth, Bangsa ‘Ad, dan Tsamud. ‘’Sungguh, kebatilan pasti musnah’’ (QS 17: 81). Menurut Profesor Quraish Shihab, kehancuran satu masyarakat tidak secara otomatis mengakibatkan kematian seluruh penduduknya. Bahkan boleh jadi mereka semua secara individual tetap hidup. Namun, kekuasaan, pandangan, dan kebijaksanaan masyarakat berubah total, digantikan oleh kekuasaan, pandangan, dan kebijakan yang berbeda dengan sebelumnya. Apa itu? Hasil survey Pusat Kajian Strategis Universitas Yordania tahun 2005 yang bertajuk “Revisiting the Arab Street”, melaporkan: dua pertiga dari responden di negara-negara Arab menyatakan bahwa Syari’at islam harus menjadi sumber legislasi tunggal, dan sepertiga sisanya merasa bahwa Syari’at Islam harus menjadi sumber hukum. Hasil senada diperoleh dari jajak pendapat Universitas Maryland di 4 negara: Maroko, Pakistan, Mesir, dan Indonesia pada April 2007. Dalam laporan berjudul ‘’Muslim Public Opinion on US Policy, Attacks on Civilians and al-Qaeda’’ tersebut dipaparkan: “Mayoritas (70%) responden mendukung penerapan Syari’at dengan ketat, menolak nilai-nilai Barat, dan bahkan menyatukan seluruh negeri Islam.”


Jaman Edan di Negeri Bedebah Berbagai kasus korupsi terjadi dari tingkat RT hingga ke pusat pemerintahan. Kalaupun diproses hukum, vonisnya teramat ringan. Negeri ini tinggal menunggu keruntuhan? “Jaman edan,” kata pujangga terakhir Mataram, Raden Ngabehi Ronggowarsito, saat menggambarkan akan datangnya massa yang penuh kerusakan, kejahatan, korupsi dan fitnah di negeri ini. Meski telah diprediksi pujangga sekaligus santri utama Kiai Haji Kasan Besari dari Pesantren Tegalsari sejak abad ke-18, kini dua abad kemudian, gambaran tentang zaman edan seolah menjadi kenyataan di negeri ini. Betapa tidak, jika kini kejahatan, kecurangan, kerusakan tatanan dan fitnah merebak di segenap penjuru negeri. Diantara berbagai kejahatan, kecurangan dan kerusakan tata nilai yang paling parah terjadi di negeri ini adalah korupsi. Maklumlah, penyakit ini telah menjangkiti seluruh lapisan masyarakat, mulai dari tingkat RT RW, kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga pemerintah pusat. Bahkan lembaga perwakilan rakyat, hamba hukum, aparat pemerintah dan pusat kekuasaan telah terjangkiti penyakit masyarakat ini dalam taraf akut. Tak heran jika dalam laporan Political and Economic Risk Consultancy 2010, Indonesia dinobatkan sebagai negara terkorup dari 16 negara Asia Pasifik. Besarnya angka korupsi memang terkait dengan strata masyarakat. Di tingkat paling rendah, korupsi berkisar pada penyelewengan iuran kampung, penyalahgunaan bantuan pedesaan, hingga kutipan atas bantuan dan sumbangan. Angkanya memang baru mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Misalnya dalam penjatahan raskin, rekayasa penerima bantuan langsung tunai (BLT) hingga penyalahgunaan bantuan desa dan kelurahan. Pada strata pemerintahan yang lebih atas, angka semakin membengkak. Menurut catatan Indonesia Corruption Watch (ICW), sampai paruh pertama 2010, sedikitnya 1.800 kasus korupsi terungkap dan melibatkan 1.243 anggota DPRD pada 2004-2009. Menurut catatan Pusat Kajian Antikorupsi Universitas Gadjah Mada, 1.891 kasus korupsi terjadi di daerah hasil pemekaran. Padahal, dalam 10 tahun terakhir telah lahir 205 daerah baru, terdiri dari 7 provinsi, 164 kabupaten, dan 34 kota. Angkanya berkisar sampai milyaran rupiah. Angka yang lebih mencengangkan tentu saja berada di ibu kota. Korupsi aparat legislatif, yudikatif, dan eksekutif konon mencapai angka ratusan milyar hingga trilyunan rupiah. Tak hanya memotong anggaran negara, mereka bahkan tega merekayasa anggaran dan menjajakannya kepada daerah agar mereka mendapat keuntungan dari proyek makelar mereka. “Rata-rata mereka meminta imbalan tujuh persen dari proyek daerah yang mereka golkan,” kata seorang fungsionaris Partai Golkar kepada Suara Islam. Praktek mafia anggaran ini juga diungkap oleh anggota Badan Anggaran DPR La Ode Nurhayati. Bahkan ia sempat mengungkapkan bahwa para pimpinan DPR terlibat dalam praktek makelar anggaran ini. Maka Ketua DPR Marzuki Alie pun sempat tersinggung. Akibatnya, La Ode Nurhayati dikucilkan dan diserang balik para sejawat anggota DPR lainnya, bahwa sebenarnya La Ode Nurhayati adalah seorang makelar anggaran. Atas permintaan Badan Kehormatan DPR, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) lalu menyidik 21 transaksi mencurigakan yang konon melibatkan La Ode Nurhayati. Ketua PPATK Yunus Husein mengaku sudah menyampaikan temuan itu ke DPR. “Ada permintaan pimpinan DPR,” kata Yunus pekan lalu. Meski permintaan ini berbau balas dendam, namun berbagai pihak sebenarnya juga telah melaporkan praktek makelar anggaran itu ke kotak pengaduan yang dibuka anggota DPD Zainal Bintang dan La Ode Ida. Kasus korupsi yang melibatkan Badan Anggaran DPR dan pihak legislatif tak sedikit. Dalam kasus terakhir seperti korupsi di Kementrian Negara Pemuda dan Olah Raga yang melibatkan Sekretaris Menteri Wafid Muharram serta korupsi di Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang melibatkan staf khusus Menteri Ali Mudhori dan Jazilul Fawaid, juga didalangi beberapa anggota Badan Anggaran, terutama bekas Bendahara Partai Demokrat M Nazaruddin. “Tidak mungkin Menteri tidak tahu sepak terjang Sekretaris Menteri dan orang dekatnya,” kata seorang mantan Sekretaris Menteri Pemuda dan Olah Raga. Seorang mantan aktifis mahasiswa dari Kelompok Cipayung bahkan mengungkapkan kenyataan bahwa sebenarnya Nazaruddin menguasai pengelolaan APBN hingga Rp 42 trilyun. “Sepuluh persen, atau 4,2 trilyun fee untuk Nazar. Sisanya dibagi-bagi secara merata ke semua fraksi, tapi Demokrat sendiri dapat 1,3 trilyun,” kata mantan aktifis mahasiswa yang kini menjadi staf khusus seorang Menteri itu. Pusat kekuasaan tentu saja tak tak kebal penyakit. Mantan Ketua MPR Amien Rais bahkan menilai pusat korupsi justru berada di Istana. “Namun tidak pernah tersentuh, mana mungkin KPK dan Kejaksaan Agung berani,” ujarnya dalam sebuah diskusi tentang evaluasi pemerintahan SBY beberapa waktu lalu. Sinyalemen Amien bukan tanpa bukti. Beberapa kasus yang melibatkan orang istana, seperti kasus penyelewengan dana pembangunan Kedubes RI di Korea Selatan, penyelewengan dana perjalanan dinas luar negeri Sekretariat Negara dan sebagainya hingga kini tak jelas juntrungannya. Belum lagi file Wikileaks yang dibongkar Koran Australia The Ages dan The Sydney Morning Herald, Maret lalu. The Age mengungkap bahwa Kristiani Herrawati dan keluarga besarnya sangat mempengaruhi SBY. TSMH bahkan menulis, karena pengaruh sang first lady di belakang layar, Kedubes Amerika Serikat menggambarkan bahwa Ani adalah “salah satu anggota kabinet” dan “penasehat utama Presiden yang tak terbantahkan.” “Dialah yang menentukan siapa yang bakal diangkat menjadi pejabat, setelah koper-koper upeti diterima,” kata seorang perwira tinggi Polri. Repotnya, para mantan aktifis pun kini ikut-ikut ketularan penyakit korupsi. Tak hanya para mantan anggota HMI seperti M Nazaruddin dan Anas Urbaningrum yang diduga bermain di tempat kotor itu, beberapa mantan aktifis PRD, aktifis mahasiswa dan buruh yang dulu getol berdemo dan anti korupsi, juga terlibat dalam skandal-skandal besar di negeri ini. “Lihat saja tongkrongan mereka sekarang, ada yang ke mana-mana pakai mobil mewah,” kata seorang mantan aktifis PRD kepada Suara Islam. Tak pelak, korupsi kian merajalela. Salah satu penyebabnya karena hukuman yang sangat ringan. Menurut catatan ICW, perkara korupsi rata-rata divonis di bawah dua tahun. Menurut laporan tahunan Mahkamah Agung pada 2010, dari total kasus yang diputus MA, 269 kasus (60,68 persen) hanya dijatuhi hukuman 1 dan 2 tahun. Sisanya, 87 kasus (19,68 persen) divonis 3-5 tahun. Hanya 13 kasus (2,94 persen) divonis 6-10 tahun. Adapun yang dihukum lebih dari 10 tahun hanya dua kasus atau 0,45 persen. Kenyataan ini sangat bertolak belakang dengan vonis yang dijatuhkan kepada para tersangka teroris. Mereka umumnya dijatuhi hukuman maksimal sampai 10 tahun lebih. Padahal kerusakan yang ditimbulkan korupsi bisa lebih buruk dari sekadar ledakan bom low eksplosif. "Tersangka teroris tidak mungkin 'bermain' membeli hukum. Sementara tersangka koruptor dari mulai penyusunan dakwaan atau tuntutan sudah bermain," kata Anggota Komisi III Bambang Soesatyo. Karena vonis yang ringan itulah para koruptor tak pernah jera. Penjara justru jadi tempat untuk belajar korupsi yang lebih canggih. Apalagi mereka ditahan di penjara yang penuh fasilitas. Di rutan koruptor di Cipinang, Jakarta Timur misalnya ada ratusan anggota DPR, Bupati dan Gubernur, Menteri dan Eselon 1 dan 2. Namun mereka justru mendapat kemudahan mulai dari menggelar rapat perusahaan mingguan, menu makanan dari restoran mewah, hingga urusan cewek. “Tentu saja mereka harus bayar ke LP, rata-rata 25 sampai 100 juta,” kata seorang sumber Suara Islam. Korupsi bukan uruan besar kecilnya angka yang dirampok. Sebab, dampak korupsi jauh lebih parah dibandingkan sekadar pencurian uang. Apalagi korupsi di tingkat struktural, kelembagaan, dan individual sering kali mengabaikan keselamatan manusia, dan ruang hidupnya dari kepengurusan publik. “Kalau koruptor hanya mendapat hukuman ringan, korupsi bakal terus menggila dari lingkaran istana sampai ke desa-desa,” kata Ray Rangkuti, aktivis antikorupsi. Nah, jika hukum positif bikinan Barat tak bisa menyelesaikan masalah korupsi, Insya Allah hukum Islam akan mengikis penyakit akut Indonesia di jaman edan ini.


CENTURY CONECTION: KISRUH KPK-POLRI-KEJAKSAAN Kotak Pandora itu akhirnya terbuka sudah. Rekayasa dalam proses pembuatan BAP yang selama ini tertutup rapat akhirnya terang benderang menjadi konsumsi publik. Selama ini masyarakat hanya mendengar rumor semata perihal proses pembuatan BAP yang penuh rekayasa. Bagi orang awam, prosedur hukum dan proses hukum yang terjadi di kantor polisi dan kejaksaan adalah misteri dan hantu yang menakutkan. Bahkan seorang perwira menengah kepolisian dan pernah menjabat sebagai Kepala Polres, bisa dengan mudahnya ditelikung oleh korpsnya sendiri dalam proses pembuatan BAP. Dalam persidangan yang dilaksanakan di PN Jaksel, Selasa (10/11), Williardi mengatakan ia didatangi Direktur Reskrim, Wadir Reskrim serta beberapa Kepala Satuan Polda Metro Jaya yang menyatakan bahwa Antasari Azhar adalah sasaran pihak kepolisian. Rekayasa itu bermula saat ia dijemput pada satu hari dari rumahnya ke kantor polisi pukul 00.30. Pada dini hari itu Williardi didatangi dan diperiksa Direktur Reserse Kepolisian Daerah Metro Jaya, Wakil Direktur Reserse, dan tiga orang kepala satuan. Menurut Williardi, para petinggi polri memintanya membuat BAP yang harus menjerat Antasari sebagai pelaku utama pembunuhan Nasrudin. “Waktu itu dikondisikan sasaran kita cuman Antasari. (Lalu BAP saya) disamakan dengan BAP Sigid (Haryo Wibisono), dibacakan kepada saya,” ujar Williardi tanpa wajah takut. Dalam kesaksian berikutnya, Williardi pun menyebut nama Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Irjen Adiatmoko. Menurut dia, Adiatmoko juga memintanya membuat BAP demi kepentingan menjebloskan Antasari. BAP yang dibuat Williardi pada tanggal 29-30 April ditolak penyidik karena Antasari tidak tersangkut. “Udah bikin apa saja yang terbaik untuk menjerat Pak Antasari. Dijamin besok pulang. Kami dijamin oleh pimpinan Polri tidak akan ditahan. Paling sanksi indisipliner,” kata Williardi mengulang perkataan Adiatmoko. Karena jaminan itu, lanjut Williardi, ia bersedia menandatangani BAP yang sudah dibuat penyidik. Namun, yang terjadi keesokan harinya dalam berita televisi, Williardi diplot polisi sebagai salah satu pelaku pembunuhan Nasrudin. Ia pun protes kepada Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Muhammad Iriawan yang turut memeriksanya. “Janji mana? Tolong diklarifikasi. Kami tidak sejahat itu,” ujar Williardi. Protes Willardi ini menuai reaksi dari teman sejawatnya. Kembali ia dijemput Brigjen (Pol) Irawan Dahlan dan langsung dibawa ke kantor Adiatmoko. Sambil minum kopi, ia ditanya apakah kenal dengan Edo, Jerry Hermawan Lo, Antasari Azhar, dan Sigid Haryo Wibisono. Ia juga ditanya apakah pernah menyerahkan uang Rp 500 juta kepada Edo dari Sigid. Williardi mengiyakan semua pertanyaan, tanpa tahu ia sedang disidik. Mendengar pengakuan Williardi, Adiatmoko meminta bawahannya untuk langsung menahan Williardi. “Lho kok cuma nyerahin uang ditahan?” ujar Williardi kepada Adiatmoko. Sejak saat itu sampai sekarang Williardi mendekam dalam tahanan. Ia memutuskan mencabut keterangannya di BAP karena apa yang ia katakan telah dibuat oleh penyidik, dan ia tinggal tanda tangan. Alasan lain, pihak penyidik tidak memenuhi janjinya untuk tidak menahannya jika menurut pada penyidik. Penahanan terhadap Wiliiardi ini kemudian berlanjut ke penahanan terhadap Ketua KPK Antasari Azhar dalam kasus pembunuhan. Bermula dari proses hukum terhadap Antasari inilah, kemudian muncul kasus Bibit-Chandra yang dituduh melakukan penyalahgunaan wewenang, menerima suap dan memeras. Lagi-lagi, BAP yang dijadikan dasar untuk melakukan proses hukum terhadap Bibit-Chandra adalah Bap yang dihasilkan dari proses yang direkayasa. Informasi berupa pengakuan Anggoro kepada Antasari di Singapura kemudian dijadikan laporan awal bagi Polisi untuk menjerumuskan Bibit-Chandra ke sel tahanan. Untuk memuluskan rekayasa dalam menjerumuskan Bibit-Chandra ini, Polisi kemudian meminta Ary Muladi, seorang makelar kasus, membuat Bap seolah-olah ia menyerahkan uang kepada Bibit-Chandra. Sungguh diluar perkiraan Polisi, belakangan hari Ary Muladi mencabut keterangan dalam BAP tersebut dan mengungkapkan bahwa dirinya diancam bila mencabut BAP tersebut. Benang kusut yang terjadi dalam kasus KPK versus Polri perlu dilihat secara menyeluruh. Konstruksi konflik antara dua lembaga ini, bukan semata persoalan yang bersifat yuridis, akan tetapi lebih merupakan skandal politik. Pendekatan komprehensif dalam melihat konflik yang terjadi antara KPK dan Polri plus Kejaksaan akan sangat membantu kita memahami persoalan tersebut dengan lebih utuh. Dan yang penting diingat, kita jangan terjebak untuk melakukan penilaian yang bersifat personal atas karakter individu yang ditempatkan sebagai victim dalam konflik ini. Dari kacamata yuridis, fakta hukum dan dasar hukum yang dijadikan alasan oleh Polri untuk memproses kasus Bibit-Chandra masih banyak kelemahan dan kekurangan. Dari segi fakta hukum, rangkaian peristiwa yang dijadikan fakta oleh Polri banyak missing link. Bila kita lihat secara kronologi, peristiwa pokok yang dijadikan Polri sebagai fakta untuk memproses kasus ini ada 2 peristiwa, yaitu : (1) Pencekalan yang dilakukan oleh KPK terhadap Anggoro dan Joko Chandra, ini yang disebut Polri sebagai penyalahgunaan wewenang, dan (2) Aliran uang dari pihak Anggodo kepada Bibit dan Chandra. Terhadap peristiwa pertama, yaitu tuduhan penyalahgunaan wewenang, maka Polri tidak punya kewenangan untuk mempersoalkan hal tersebut. Karena Polri bukanlah lembaga yang diberikan wewenang oleh Undang-Undang untuk mengawasi KPK, justru sebaliknya, KPK adalah lembaga yang diberi mandat oleh UU untuk mensupervisi Polri dan Kejaksaan dalam menjalankan kewenangannya. Terhadap peristiwa kedua, mengenai tuduhan adanya aliran uang dari pihak Anggodo kepada Bibit-Chandra, maka sebagaimana kita saksikan berdasarkan pengakuan Ary Muladi sebagai pihak yang menyalurkan dana, dia tidak pernah memberikan uang tersebut secara langsung kepada Bibit ataupun Chandra. Bahkan menurut pengakuan Ary Muladi, uang tersebut diserahkan kepada orang yang bernama Yulianto dan menurut keterangan Yulianto kepada Ary Muladi, uang tersebut diserahkan kepada M Jassin. Bila berdasarkan keterangan Yulianto tersebut, maka menjadi keanehan besar bila Polri justru menjadikan Bibit-Chandra sebagai tersangka. Oleh karenanya dari segi yuridis formil maka sesungguhnya tidak ada kasus yang perlu diusut dan diproses oleh Polri terkait KPK dan personilnya. Lebih lanjut, kita perlu melihat dari pendekatan politis. Bila kita lihat secara kronologis politis, kasus KPK terkuak, bermula dari testemony Antasari. Dalam testemony tersebut ternyata belakangan Antasari menyatakan bahwa informasi yang didapatkannya tersebut baru merupakan pengakuan sepihak dari Anggoro. Akan tetapi pihak Polri memaksakan informasi tersebut untuk dijadikan dasar laporan polisi untuk memproses kasus KPK. Dari segi strategi penanganan perkara, maka posisi Antasari membuat testemony tersebut dalam keadaan tertekan, karena Antasari berstatus sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan. Yang menarik adalah, kasus pembunuhan yang melibatkan Antasari ini bermula dari jebakan terhadap diri Antasari melalui seorang perempuan yang diumpankan oleh suaminya sendiri. Belakangan, berdasarkan pengakuan saksi Williardi, ternyata Antasari memang sejak awal dijadikan target oleh Polri untuk dijadikan tersangka dalam kasus pembunuhan. Yang menarik adalah, simpul dari benang kusut perseteruan KPK – Polri dan rekayasa kasus Antasari ini adalah sebuah mega skandal yang tengah diusut oleh KPK yaitu Skandal Bank Century. Perlu diketahui bersama bahwa Skandal Bank Century ini adalah skandal yang melibatkan secara langsung RI-2 pada saat dia menjadi Gubuernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan, dimana peran mereka berdua dalam persetujuan untuk memberikan bailout kepada Bank Century sangat vital. Berdasarkan hasil audit sementara BPK, bahwa rapat Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) yang diketuai oleh Menteri Keuangan, berlangsung semalam suntuk, yaitu dimulai dari pukul 23.00 wib 20 November 2008 hingga 04.00 wib keesokan harinya dengan rekomendasi untuk menutup Bank Century, akan tetapi ketika Gubernur BI dan Menkeu datang ketempat rapat pada pukul 04.30 wib 21 November 2008 dan melanjutkan rapat KSSK, maka akhirnya KSSK setuju memberikan dana bailout kepada Bank Century. Dan secara teknis keperluan dana untuk memulihkan neraca Bank Century dari minus 3,5% menjadi positif 8% hanya diperlukan dana sebesar Rp.600-an milyar, akan tetapi dalam proses berikutnya dana bailout ini membengkak menjadi Rp.6,7 Triliyun. Diduga kuat dana bailout ini digunakan untuk mengganti dana nasabah kakap Bank Century yang merupakan lingkaran dekat penguasa dan juga diduga digunakan untuk kegiatan politik yang melibatkan penguasa. Oleh karena KPK terus menyelidiki skandal Bank Century ini, maka membuat penguasa republik ini khawatir akan terungkapnya skandal ini. Untuk menutup mulut KPK agar tidak menyelidiki Skandal Bank Century, maka secara politik dibuat skenario untuk melumpuhkan KPK dengan kriminalisasi pimpinan KPK. Tentu kita masih ingat bahwa sebelum proses Pilpres, Presiden mengeluarkan statemen yang dikutip semua media, bahwa "di republik ini tidak boleh ada lembaga yang bersifat super body dan memiliki kewenangan tanpa batas". Pernyataan Presiden yang dikeluarkan menjelang Pilpres ini terkait dengan dimulainya proses hukum terhadap Antasari yang mengungkap juga rekaman pembicaraan yang dilakukan oleh KPK terhadap Rhani dan Nasrudin. Merespon pernyataan Presiden ini, maka dengan sigap BPKP langsung bertindak melakukan audit terhadap KPK. Akan tetapi karena KPK telah diaudit oleh BPK, dan BPKP tidak memiliki kewenangan untuk melakukan audit terhadap KPK, maka rencana ini gagal. Maka dibuatlah sebuah skenario baru, yaitu dengan memunculkan kasus penyalahgunaan wewenang, penyuapan dan pemerasan terhadap personil pimpinan KPK. Ceritanya berawal dari pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat bertemu dengan pimpinan Harian Kompas (24/6). Saat itu, SBY ditanya tentang penegakan hukum dan pemberantasan korupsi dan bagaimana jika UU Tipikor tidak hadir sebelum 19 Desember dan masa depan KPK. Dari sekian banyak jawabannya itu, SBY menyatakan, "Terkait KPK, saya wanti-wanti benar `power must not go unchecked`. KPK ini sudah `powerholder` yang luar biasa. Pertanggungjawabannya hanya kepada Allah. Hati-hati". Pernyataan ini kemudian dimuat Harian Kompas pada terbitan 25 Juni. Sehari setelah pernyataan SBY ini, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) menyatakan akan mengaudit kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dari penggunaan keuangan yang bersumber dari negara yang meliputi penggunaan keuangan langsung dan manfaat peralatan kerja yang dibeli. "Apalagi saat ini sedang ramai kontroversi soal penyadapan telepon yang dilakukan oleh KPK. Jangan sampai lembaga yang seharusnya bekerja secara profesional ini juga masuk ke wilayah politik," kata Ketua BPKP Didi Widayadi di Jakarta (25/6). Menurut dia, audit BPKP terhahap KPK ini adalah perintah tak tertulis dari Presiden. Apalagi Presiden sudah mewanti-wanti keberadaan lembaga KPK yang dinilai sebagai lembaga yang tidak terkontrol dan bisa berbahaya. Pernyataan SBY dan niat BPKP mengaudit KPK itu kemudian menjadi polemik dan menuai kecaman dari banyak kalangan. Pasalnya, BPKP tak mempunyai kewenangan untuk melakukan audit terhadap KPK. Lembaga tersebut adalah pengawas internal yang berada di bawah eksekutif, tetapi dalam melakukan tugasnya atas permintaan kepala instansi di bawah eksekutif. Melihat hal ini, pengamat Hukum Tata Negara yang juga aktivis antikorupsi, Saldi Isra, mengatakan, Didi harus membuka, dari mana mendapatkan perintah tersebut. "Didi Widayadi harus terbuka, siapa yang memerintahkan dia. BPKP itu lembaga tinggi negara yang tidak mungkin bekerja kalau tidak ada yang mengorder. Yang harus dicari, siapa yang mengorder?" ujar Saldi, pada sebuah diskusi mingguan, di Jakarta, Sabtu (27/6). Tindakan BPKP, menurutnya, sangat janggal dan patut diusut latar belakangnya. KPK, sudah berdiri sejak 2003. Selama ini, audit sudah dilakukan lembaga yang berwenang, yaitu BPK. "Lalu, kenapa BPKP baru muncul saat ini dan mau melakukan audit, apalagi katanya ada perintah presiden, meski kemudian dibantah. Didi harus menjelaskan, kalau bukan presiden, siapa yang menyampaikan perintah itu. Kalau tidak, berarti dia punya skenario sendiri dan itu bahaya sekali," ujarnya. Sekadar informasi, sebelumnya, BPKP sudah meminta untuk menarik orang-orang BPKP yang ada di KPK. Namun, permintaan ini tidak begitu saja diloloskan karena harus memenuhi sejumlah syarat. Sedangkan penasihat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abdullah Hehamahua menilai, KPK tidak sepenuhnya memiliki kekuasaan yang sangat besar. Abdullah mencontohkan, untuk melakukan penggeledahan, KPK juga tak bisa bertindak semaunya dan harus mengantongi izin. Ia juga menyatakan keheranannya atas pernyataan Didi Widayadi, yang mengaku mendapatkan perintah dari Presiden untuk mengaudit KPK. Padahal, BPKP tidak memiliki wewenang untuk mengaudit lembaga pemberantasan korupsi tersebut. Pendapat senada diungkapkan Guru Besar Hukum UI Hikmahanto Juwana. Menurutnya masih ada lembaga yang lebih superbody yaitu Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Dalam lembaga itu semua fungsi polisi, penuntutan dan pengadilan ada di sana. KPK hanya menggabungkan fungsi polisi dan kejaksaan saja sedangkan fungsi peradilan ada di Tipikor. Sehingga KPK tidak super secara struktural. Ia juga menambahkan kalau kontrol terhadap KPK itu tetap ada, bisa dilakukan DPR, pers dan masyarakat. Sedangkan Koordinator Badan Pekerja Indonesian Corruption Watch (ICW) Danang Widoyoko, Minggu (28/6), mengatakan, bila memang audit ini dilakukan BPKP terhadap KPK setelah pernyataan kontroversial Presiden, ini menunjukkan SBY tak mendukung upaya pemberantasan korupsi di negeri ini. "Audit yang akan dilakukan oleh BPKP tidak lepas dari kebijakan Presiden untuk mengontrol dan mengurangi kewenangan KPK sebagai lembaga independen yang tidak berada di bawah eksekutif," katanya. Bila kita perhatikan secara cermat, jelas terlihat rangkaian antara kasus Antasari, kasus Bibit-Chandra dan kasus bank Century yang melibatkan sang mastermind. Tidaklah mungkin Kapolri, Kejaksaan, Kepala BPKP yang notabene birokrat semata, berani menggunakan kekuasaan secara sembrono tanpa ada back up dari kekuasaan yang ada diatasnya. Dan terbukti sekarang ini, bahwa baik kasus penyalahgunaan wewenang, penyuapan maupun pemerasan, tidak memiliki bukti yang kuat untuk dijadikan dasar bagi proses hukum terhadap pimpinan KPK. Bahkan kasus pembunuhan yang dituduhkan kepada Antasari juga merupakan skenario yang telah disiapkan oleh pimpinan Polri, sebagaimana pengakuan Williardi Wizard. Dari kacamata Islam, apa yang terjadi sekarang ini adalah akibat dari kebohongan yang terus menerus diproduksi oleh kekuasaan. Pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh pelaku terorisme dan berbagai rekayasa dalam kasus terorisme menggunakan cara kerja yang sama persis dengan apa yang terjadi dalam kasus Bibit-Chandra dan Antasari. Akan tetapi rekayasa dan sandiwara yang terjadi dalam drama kasus terorisme tenggelam dalam puja dan puji terhadap Polisi dan Presiden. Begitu juga dengan citra sebagai presiden yang memberantas korupsi, dalam kenyataanya, indeks pemberantasan korupsi di Indonesia justru menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Maka aroma busuk dari skandal Bank Century, Kriminalisasi KPK, dan rekayasa kasus pembunuhan terhadap Antasari ini melibatkan sang mastermind yang berlindung dibalik citra dan image, demi memperoleh kekuaasaan mutlak. Masihkah umat Islam percaya pada sistem zholim yang ada...?


ANDA INGIN SEMBUH? Bersedekahlah! Pada zaman ini berbagai penyakit semakin menyebar dan banyak macamnya. Bahkan beberapa penyakit tidak bisa ditangani oleh dokter dan belum ditemukan obatnya, seperti Aids (HIV) dan semisalnya, meskipun sebenarnya obat penyakit tersebut ada. Allah Ta'ala tidak menciptakan suatu penyakit, melainkan ada obatnya. Namun obat tersebut belum diketahui, karena suatu hikmah tertentu yang dikehendaki oleh Allah Ta'ala. Salah satu penyebab utama banyaknya penyakit adalah merebaknya kemaksiatan yang dilakukan dengan terang-terangan tanpa malu. Kemaksiatan yang menyebar di tengah masyarakat dapat membinasakan mereka. Allah Ta'ala berfirman yang artinya, "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri". (QS. asy-Syura: 30). Di antara hikmah penyakit yang diderita seorang hamba adalah sebagai ujian dari Allah SWT kepadanya. Dunia merupakan tempat berseminya berbagai musibah, kesedihan, kepedihan, dan penyakit. Ketika saya melihat orang sakit bergulat dengan rasa sakitnya dan menyaksikan orang yang membutuhkan pertolongan dengan menahan rasa perihnya, mereka telah melakukan berbagai macam ikhtiar namun mereka melewatkan sebab penyembuhan yang hakekatnya dari Allah ' Azza wa Jalla, maka saya tergerak menulis risalah ini untuk semua orang yang sedang sakit, agar rasa duka dan sedihnya lenyap, dan penyakitnya dapat terobati (insya Allah). Ya Anda yang sedang sakit menahan lara, yang sedang gelisah menanggung duka, yang tertimpa musibah dan bala, semoga keselamatan selalu tercurah kepadamu, sebanyak kesedihan yang menimpamu, sebanyak duka nestapa yang kau rasakan. penyakitmu telah memutuskan hubunganmu dengan manusia, menggantikan kesehatanmu dengan penderitaan. Orang lain bisa tertawa sedang engkau menangis. Sakitmu tidak kunjung reda, tidurmu tidak nyenyak, engkau berharap kesembuhan walau harus membayar dengan semua yang engkau punya. Saudaraku yang sedang sakit! Saya tidak ingin memperparah lukamu, namun saya akan memberimu obat mujarab dan membuatmu terlepas dari derita yang menahun. Obat ini didapat dari sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, "Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah". (HR. Abu Dawud, dihasankan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami '). Benar saudaraku, obatnya adalah sedekah dengan niat mencari kesembuhan. Mungkin engkau telah banyak sedekah, namun tidak engkau niatkan agar Allah Ta'ala menyembuhkanmu dari penyakit. Cobalah sekarang dan hendaknya engkau yakin bahwasanya Allah Ta'ala akan menyembuhkanmu. Berilah makan orang fakir, atau tanggunglah beban anak yatim, atau wakafkanlah hartamu, atau keluarkanlah sedekah jariahmu. Sungguh sedekah dapat menghilangkan penyakit dan kesulitan, musibah atau cobaan. Mereka yang diberi taufik oleh Allah Ta'ala telah mencoba resep ini. Akhirnya mereka mendapatkan obat ruhiyah yang lebih mujarab dari obat jasmani. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga mengobati dengan obat ruhiyah sekaligus obat ilahiyah. Para salafush shalih juga mengeluarkan sedekah yang sepadan dengan penyakit dan musibah yang menimpa mereka. Mereka mengeluarkan harta mereka yang paling mereka cintai. Jangan kikir untuk dirimu sendiri, jika engkau memang memiliki harta dan fasilitas. Inilah kesempatannya telah datang! Dikisahkan bahwa Abdullah bin Mubarak pernah ditanya oleh seorang laki-laki pada penyakit yang menimpa lututnya semenjak tujuh tahun. Ia telah mengobati lututnya dengan berbagai macam obat. Ia telah bertanya kepada para dokter, namun tidak menghasilkan apa-apa. Ibnu al-Mubarak pun berkata kepadanya, "Pergi dan Galilah sumur, karena manusia sedang membutuhkan air. Saya harap akan ada mata air dalam sumur yang engkau gali dan dapat menyembuhkan sakit di lututmu. Laki-laki itu lalu menggali sumur dan ia pun sembuh ". (Kisah ini terdapat dalam "Shahih at-Targhib"). Kisah lain, orang yang mengalami peristiwa ini menceritakan kepadaku, "Anak perempuan saya yang masih kecil menderita penyakit di tenggorokan. Saya membawanya ke beberapa rumah sakit. Saya menceritakan panyakitnya ke banyak dokter, namun tidak ada hasilnya. Dia belum juga sembuh, bahkan sakitnya bertambah parah. Hampir saja saya ikut jatuh sakit karena sakit anak perempuan saya yang mengundang iba semua keluarga. Akhirnya dokter memberinya suntikan untuk mengurangi rasa sakit, sampai kami putus asa dari semuanya kecuali dari rahmat Allah Ta'ala. Hal itu bertahan sampai datangnya sebuah harapan dan dibukanya pintu kelapangan. Seorang shalih menghubungi saya dan menyampaikan sebuah hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, "Obatilah orang sakit di antara kalian dengan sedekah". (HR. Abu Dawud, dihasankan oleh al-Albani). Saya berkata, "Saya telah banyak bersedekah". Ia pun menjawab, "Bersedekahlah kali ini dengan niat untuk kesembuhan anak perempuanmu". Saya pun mengeluarkan sedekah sekedarnya untuk seorang fakir, namun tidak ada perubahan. Saya kemudian mengabarinya dan ia berkata, "Engkau adalah orang yang banyak mendapatkan nikmat dan karunia Allah Ta'ala, bersedekahlah sebanding dengan banyaknya hartamu". Saya pun pergi pada kesempatan kedua, saya penuhi isi mobil saya dengan beras, ayam dan bahan-bahan sembako dan makanan lainnya dengan menghabiskan uang yang cukup banyak. Saya lalu membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan dan mereka senang dengan sedekah saya. Demi Allah saya tidak pernah menyangka bahwa setelah saya mengeluarkan sedekah itu, anak saya tidak perlu disuntik lagi, anak saya sembuh total, walhamdulillah. Saya yakin bahwa faktor (yang menjadi seba paling besar yang dapat menyembuhkan penyakit adalah sedekah. Sekarang sudah berlalu tiga tahun, ia tidak merasakan penyakit apapun. Sejak itu saya banyak mengeluarkan sedekah khususnya berupa wakaf. Setiap saat saya merasakan hidup penuh kenikmatan, keberkahan, dan sehat sejahtera baik pada diri pribadi maupun keluarga saya. Saya mewasiatkan kepada semua orang sakit agar bersedekah dengan harta mereka yang paling mereka cintai, dan mengeluarkan sedekah terus menerus, niscaya Allah Ta'ala akan menyembuhkannya walaupun hanya sebagian penyakit. Saya yakin kepada Allah Ta ' ala dengan apa yang saya ceritakan. Sungguh Allah Ta'ala tidak melalaikan balasan untuk orang yang berbuat baik. Marilah saudaraku, pintu telah terbuka, tanda kesembuhan telah tampak di depanmu, bersedekahlah dengan sungguh-sungguh dan percayalah kepada Allah Ta'ala. Jangan seperti orang yang melalaikan resep yang mujarab ini, hingga ia tidak mengeluarkan sebagian hartanya untuk bersedekah lagi. Padahal bertahun-tahun ia menderita sakit dan mondar-mandir ke dokter untuk mengobati panyakitnya, dengan merogoh banyak uang dari sakunya. Jika kamu telah mencoba resep ini dan engkau sembuh, jadilah orang yang selalu menolong orang lain dengan harta dan usahamu. Jangan engkau membatasi diri dengan sedekah untuk dirimu sendiri, namun obatilah penyakit orang-orang yang sakit dari keluargamu dengan sedekah. Jika engkau tidak sembuh total, maka ketahuilah bahwa engkau sebenarnya telah disembuhkan meskipun sedikit. Keluarkan sedekah lagi, perbanyak sedekah semampumu. Jika engkau masih belum sembuh, mungkin Allah Ta'ala memperpanjang sakitmu untuk sebuah hikmah yang dikehendaki-Nya atau karena kemaksiatan yang menghalangi kesembuhanmu. Jika demikian cepatlah bertaubat dan perbanyak doa di sepertiga malam terakhir. Sedangkan untuk Anda yang diberikan nikmat sehat oleh Allah Ta'ala, jangan tinggalkan sedekah dengan alasan engkau sehat. Seperti halnya orang yang sakit bisa sembuh maka orang yang sehat pun bisa sakit. Sebuah pepatah mengatakan, "Mencegah lebih baik dari mengobati". Apakah engkau akan menunggu penyakit sampai engkau berobat dengan sedekah? Jawablah ..! kalau begitu bersegeralah bersedekah ..!