SELAMAT DATANG DIBLOG BEJOSENTOSO

Sabtu, 10 Maret 2012

pacaran


Berhati-hatilah pada akal yg ada pada dirimu ... karena sesungguhnya iya slalu mencari sesuatu yang tidak bertentangan dgn diri kita, dan selalu menggelak dgn dalih apapun tuk membenarkan diri sendiri. dan hanya hati yg bersih yang mampu menerimanya.
Pacaran yang sudah merupakan fenomena mengejala dan bahkan sudah seperti jamur dimusim hujan menjadi sebuah ajang idola bagi remaja. Cinta memang sebuah anugerah, cinta hadir untuk memaniskan hidup di dunia apalagi rasa cinta kepada lawan jenis, sang pujaan hati atau sang kekeasih hati menjadikan cinta itu begitu terasa manis bahkan kalo orang bilang bila orang udah cita maka empedu pun terasa seperti gula. Begitulah cinta, sungguh hal yang telah banyak menjerumuskan kaum muslimin ke dalam jurang kenistaan ​​sedangkan tidak berada dalam jalur rel yang benar. Mereka sudah tidak tahu lagi mana cinta yang dibolehkan dan mana yang dilarang.
Kehidupan seorang muslim atau muslimah tanpa pacaran adalah hambar, begitulah kata mereka. Kalau dikatakan nggak usah kamu pacaran maka serentak ia akan mengatakan "Lha kalo nggak pacaran, gimana kita bisa ngenal calon pendamping kita?". kalo dikatakan pacaran itu haram akan dikatakan, "pacaran yang gimana dulu.".Beginilah kondisi kaum muda sekarang, racun syubhat, dan racun membela hawa nafsu sudah menjadi sebuah hakim akan hukum halal-haram, bisa dan tidak.
Dikatakan beliau bahwa pacaran dikategorikan sebagai nafsu syahwat yang tidak dirahmati oleh Allah, karena ketiga rukun yang menumbuhkan rasa cinta menyatu di luar perkawinan. Hal ini dilakukan dengan dalih sebagai suatu penjajakan guna mencari partner yang ideal dan serasi bagi masing-masing pihak. Tapi dalam kenyataannya masa penjajakan ini tidak lebiih dimanfaatkan sebagai pengumbaran nafsu syahwat semata-mata, bukan bertujuan secepatnya untuk melaksanakan perkawinan
Hal ini tercermin dari anggapan mereka bahwa merasakan ideal dalam memilih partner jika ada sifat-sifat sebagai berikut:
Mereka merasa beruntung sekali jika selalu dapat berduaan, dan berpisah dalam waktu pendek saja tidak tahan rasanya. Dan keduanya merasa satu sama lain saling membutuhkan. 
Mereka merasa cocok satu sama lainnya. Karena segala permasalahan yang sedang dihadapi dan dirasakan menjadi masalah yang perlu dicari pemecahannya bersama. Hal ini dimungkinkan karena mereka satu dengan lainnya merasa dapat mencapai saling pengertian dalam seluruh aspek kehidupannya.
Mereka satu sama lain senantiasa berusaha sekuat tenaga untuk menuruti kemauan sang kekasih. Hal ini dimungkinkan karena perasaan cinta yang telah tumbuh secra sempurna dengan pertautan yang kuat.
Tapi tanpa disadari, pacaran itu sendiri telah melambungkan perasaan cinta maki tinggi. Di sisi lain pacaran menjurus pada hubungan intim yang merusak cinta, melemahkan dan meruntuhkannya. Karena pada hakekatnya hubungan intim dalam pacaran adalah tujuan yang hendak dicapai dalam pacaran. Oleh karena itu orang yang pacaran selalu mendambakan kesyahduan. Dengan tercapainya tujuan tersebut kemungkinan tuntutannya pun mereda dan gejolak cintanya melemah.Hingga kebencian menghantui si bunga yang telah layu, karena si kumbang belang telah menghisap kehormatan secara ilegal.
Tak ubahnya seperti apa yang dinginkan oleh seorang pemuda untuk memadu cinta dengan dara jelita kembang desanya. dalam pandangannya sang dara tampak begitu sempurna. Higga kala itu pikiran pun hanyut, malam terkenang, siang terbayang, maka tak enak, tidur pun tak nyenyak, selalu terbayang si dia yang tersayang. Sampai tunas kerinduan menjamur menggapai tangan, menggelitik sambil berbisik. Bisikan nan gemulai, tawa-tawa kecil kian membelai, canda-canda hingga terkulai, karena asyik, cinta pun telah menggulai. Menggulai awan yang mengawang, merobek cinta yang tinggi membintang, hingga luka mengubur cinta .....
Bagaimana pandangan Ibnu Qoyyim tentang hal ini? Kata Ibnu Qoyyim, "Hubungan intim tanpa pernikahan adalah haram dan merusak cinta. Malah, cinta diantara keduanya akan berakhir dengan sikap saling membenci dan bermusuhan. Karena bila keduanya telah merasakan kenikmatan dan cita rasa cinta, tidak bisa tidak akan timbul keinginan lain yang tidak diperoleh sebelumnya. 
"Bohong!" Itulah pandangan mereka guna membela hawa nafsunya yang dimurkai Allah, yakni berpacaran. Karena mereka telah tersosialisasi dengan keadaan seperti ini, seolah-olah mengharuskan adanya pacaran dengan bercintaan secara haram. Bahkan lebih dari itu mereka berani mengikrarkan, bahwa cinta yang dilahirkan bersama dengan sang pacar adalah cinta suci dan bukan cinta birahi. Hal ini didengung-dengungkan, dipublikasikan dalam segala bentuk media, entah cetak maupun elektronika. Entah yang legal maupun ilegal. Padahal yang diistilahkan kesucian dalam islam adalah bukanlah semata-mata kepemudaan, kegadisan dan selaput dara saja. Lebih dari itu, kesucian mata, telinga, hidung, tangan dan sekujur anggota tubuh, bahkan kesucian hati wajib dijaga. Zinanya mata adalah berpandangan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya, zinanya hati adalah membayangkan dan menghayal, zinannya tangan adalah menyentuh tubuh wanita yang bukan muhrim. Dan pacaran adalah refleksi hubungan intim, dan merupakan ring empuk untuk memberi kesempatan terjadinya segala macam zina ini.
Bagaimana dengan pacaran Islami??
Pacaran Islami ituu:
1. Tidak pegang-pegangan 
2. Tidak
3. Saling nasehat-menasehati 
4. Cuma sekedar SMS-an/telpon-telponan 
5. Pokoknya ga sampe emut-emutan atau gitu-gituan deh!!!
Rasulullah bersabda, "Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua teling zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhazrat dan berharap.Semua itu dibenarkan (direalisasi) oleh kelamin atau digagalkannya. "(HR Bukhari).
Zina Mata = Memandang 
Zina Telinga = Mendengar 
Zina Lidah = Berkata 
Zina Tangan = Memegang 
Zina Kaki = Melangkah 
Zina Hati = Ingin yang aneh-aneh, kangen, dll ..
Seorang muslim yang yakin akan hari akhirat yang abadi, mereka pasti akan takut dengan hari penghitungan amal. Allah swt berfirman: Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? (Qs. Al-Qiyaamah: 36)
Jika kita sejenak mau introspeksi diri dan mengkaji hadist dan ayat Al-Qur'an di atas dengan kepala dingin maka semuanya sangat jelas. Allah berfirman: "Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati". (Qs. Al-Hadid: 6)
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Qs. Al-Israa: 36)
Sebenarnya sangat banyak lagi ayat-ayat dan hadits yang menyatakan tentang keharaman pacaran, "secara historis" pun jelas bahwa pacaran bukan dari Islam.Lalu untuk apa kita mengadopsi budaya-budaya kaum kuffar?? Rasulullah saw.bersabda, "Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia adalah bagian dari mereka". (HR. Ibnu Majah)
Apakah kita lupa bahwa Islam itu mengajarkan untuk menundukan pandangan terhadap lawan jenis.
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan skeptisnya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. (Qs. An-Nuur: 30-31)
Sudah naturalnya saat kaum pria dengan kaum wanita bertemu itu ibarat kutub positif bertemu dengan kutub negatif, begitulah metode magnet yaitu akan saling tarik menarik.
Sebenarnya kalo akal kita sehat dan cerdas melihat fakta, sesungguhnya pacaran Islami adalah pintu gerbang dari pacaran kafir-in. (Kalo ada pacaran Islami.mungkin ada juga pacaran kafir-in) Awalnya sih cuma biasa-biasa aja, tapi akhirnya luar binasa!! 
Jangan sampai kita di termasuk dalam firman Allah yang mengatakan:
Mereka itulah orang-orang yang dila'nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci? Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, setan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. (Qs. Muhammad: 23-25)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar