SELAMAT DATANG DIBLOG BEJOSENTOSO

Loading...

Rabu, 16 Mei 2012

belajar dari perang bubat

Alkisah, Majapahit adalah negara kerajaan yang besar di masa lampau, sekitar abad 14. Sang Patih, Gajahmada adalah otak kejayaan Majapahit. Namun, wilayah pasundan adalah satu-satunya daerah di Jawa-bahkan di bumi nusantara yang belum berhasil disatukan (dikuasai) oleh Majapahit. Kekuasaan yang luas membentang dari semenanjung Malaka, Filipina hingga ujung timur tak lengkap tanpa masuknya tatar Sunda, wilayah belakang pekarangan Majapahit sendiri. Dikisahkan dalam keduanya, Hayam Wuruk adalah raja kerajaan besar yang sudah waktunya beristri, namun belum memiliki calon. Hal itu menimbulkan kegelisahan Tribuanatunggadewi, sang ibu yang sekaligus raja sebelum Hayam Wuruk. Diadakanlah seleksi wanita-wanita tercantik Majapahit dengan cara mengirim para pelukis kerajaan ke seluruh wilayah nusantara. Tapi, tak satupun hasil lukisan tersebut yang menggetarkan sang prabu. Kemudian, datanglah ide untuk "mengikutkan" putri raja Sunda Galuh yang terkenal ayu, Dyah Pitaloka Citaresmi. Raja Linggabuana terbuka, namun pelukis majapahit yang dikirimkan kesulitan untuk melukis keelokan wajah sang putri. Dalam keseharian, Dyah Pitaloka Citraresmi adalah putri sunda yang lembut, peduli dengan perempuan sunda, cerdas, banyak membaca (juga kitab-kitab Majapahit), menjaga diri, dan berperangai sopan. Dan juga da cerita lain, sebagai putri sunda yang tangkas, mandiri, memberontak orang tua, dan pandai berkuda. Dyah Pitaloka Citraresmi sudah jatuh hati kepada orang lain sebelum lamaran majapahit datang, Dyah Pitaloka Citraresmi juga sebagai putri yang bisa menjaga karakter karena tidak pernah berbuat lebih jauh. Tapi ada cerita lain, yang mengatakan Dyah Pitaloka Citraresmi sampai menyerahkan 'tubuh'nya sebelum HW berhasil menikahinya. Seperti apa Dyah Pitaloka Citraresmi sebenarnya, kita tak pernah tahu. Satu yang pasti, garis paras Dyah Pitaloka Citraresmi mampu membuat Hayam Wuruk tak bisa berpaling dari lukisan sang putri tatar sunda itu, dan sebuah upacara pernikahan besar pun disiapkan. Namun Gajah Mada tetap keukeh menjadikan pernikahan tersebut sebagai bentuk 'penyatuan' Sunda ke dalam Majapahit. Lalu sampailah pada setting tema cerita, Dyah Pitaloka Citraresmi dan ayahnya berangkat bersama beberapa pengawal ke Majapahit hingga tiba di Bubat, sebuah desa di perbatasan kotaraja. Dan disini, ada yang mengatakan (Hermawan) bahwa Gajah Mada sebagai tokoh dibalik sejarah kelam perang Bubat. Gajahmada menahan Hayam Wuruk untuk menjemput ke Bubat padahal hal tersebut yang dijanjikan bersama sebelumnya. Gajah Mada dan pasukan besarnya lah yang menjemput dan mengatakan pernikahan ini sebuah pertunjukan penyatuan wilayah. Namun, Langit Kresna-yang sangat mengidolakan Gajahmada tampaknya-memutihkan nama Gajah Mada dengan menjadikan kisah pilu tersebut sebagai hasil kerja anak-anak buahnya yang sengaja 'salah' mengartikan keinginannya, sehingga anak buahnya lah yang menjadi sebab onar perang Bubat. Akhirnya sejarah menuliskan peristiwa Bubat, perang tak seimbang antara kujang dan keris sampai raja dan semua pengawal sunda tewas. Sang Putri punya harga diri, maka dihujamkannya kujang kecil ke jantungnya, nyawanya pun meregang. Akhir cerita Perang Bubat. Sebuah kisah dramatis saat menjelang Dyah Pitaloka Citraresmi meninggal, bersamaan dengan datangnya Hayam Wuruk ke tanah Bubat dan Dyah Pitaloka Citraresmi pun sempat melihat ketampanan Hayam Wuruk. Hayam Wuruk memegang tubuh Dyah Pitaloka dan didekapnya sang putri untuk menghembuskan nafas terakhir. Sekedar memetik hikmah dari Perang Bubat: Bukan berarti membuka luka lama orang jawa dengan orang sunda, ada beberapa hal yang bisa dilihat dari peristiwa tersebut: (1) Nabi bersabda, Nikahilah perempuan dari 4 hal: karena hartanya, keturunannya, paras wajah cantiknya dan agamanya. Maka pilihlah engkau yang faham agamanya. Hayam wuruk telah mendapatkan semuanya, kecuali agamanya (karena dulukan agamanya hindu ...!!!) tapi kepribadian Dyah Pitaloka sebagian telah sesuai dengan perempuan muslimah. Penilaian Hayam wuruk yang hanya akan mengambil permaisuri mojang priangan, ternyata hampir sama dengan penilaian saya dan Anda semua, bahwa mojang priangan cantik-cantik. Kecantikan adalah hanya suatu "cassing" tampak luar, yang lebih penting adalah isi dalamnya cassing. Jika isi dalamnya cassing adalah Quran dan Hadist maka tobiat dan kepribadiannya adalah Quran dan Hadist, sehingga mudah dibentuk untuk menjadi wanita shlolihah yang selalu tunduk dan patuh pada perintah Alloh, rosul dan suaminya. Maka, nasehat buat sedang mencari jodoh, lihatlah dulu agamanya, jangan melihat dia dari suku sunda, jawa, padang, dll yang penting faham Quran dan Hadist meskipun Cantik ngga masalah kan ...! (2) Konon ceritanya, kedua orangtua Hayam wuruk, Cakradara dan Tribuawanatunggadewi, tidak merestui pernikahan dengan putri tatar sunda tersebut. karena sudah punya calon permaisuri lain dari sepupunya sendiri yaitu anaknya kudamerta. Konon Kudamerta yang pertama menyerang rombongan temanten sunda, sebelum Gajah Mada datang. Kalau mengacu pada sabda Nabi Muhammad, ternyata inilah yang membuat kerusakan. Nabi SAW bersabda: Ketika melamar pada kamu sekalian orang yang senang karena agama dan budi pekertinya maka segeralah menikahkan, jika tidak menikahkan maka terjadi kerusakan di bumi yang terus-menerus (makin luas) . Hal ini, menjadikan nasehat pada orangtua untuk bersikap arif dan bijaksana terhadap anaknya dalam memilih jodoh, agar tidak terjadi kerusakan di muka bumi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar