SELAMAT DATANG DIBLOG BEJOSENTOSO

Rabu, 23 November 2011

Dengarkan suara hati! Apakah yang lebih bening dari suara hati, kala ia menegur kita tanpa suara. Apakah yang lebih jujur ​​dari nurani, saat ia menyadarkan kita tanpa kata-kata. Apakah yang lebih tajam dari mata hati, ketika ia menghentak kita dari beragam kesalahan dan alpa. Ya, sebenarnya saat yang paling indah dari seluruh putaran kehidupan ini adalah saat kita mampu secara jujur ​​dan tulus mendengar suara hati. Sebab, dari sanalah banyak tindakan dan perilaku kita menemukan arahnya yang benar. Dari sana amal-amal dan segala proses kehidupan kita memiliki pijakannya yang kokoh: niat dan orientasi yang lurus. Begitulah Rasulullah menggambarkan, bahwa hati adalah panglima. Kapan ia benar dan sehat, sehat pula seluruh aktifitas fisik pemiliknya. Sebaliknya, bila ia rusak, rusak pula segala tingkah laku fisiknya. Di dalam hati kita, di dasar sanubari kita yang paling dalam, ada kekuatan yang sangat perkasa, sekaligus sumber kedamaian yang tiada tara. Di sanalah bersemayam fitrah dan jati diri ketundukan kita - juga setiap manusia - kepada Allah. Setiap manusia sejak kali pertama ditakdirkan ada, telah diikat dengan kepatuhan kepada tauhid, mengesakan Allah yang Maha Esa. Allah berfirman, "Dan (ingat-lah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):" Bukankah Aku ini Tuhanmu? "Mereka menjawab:" Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. "(Qs. Al-A'raf: 172). Fitrah kemusliman atau ketundukan itu merupakan warna asli dari keseluruhan tabiat fisik dan psikis kita. Fitrah, yang dengannya rnanusia dititahkan, memberi kita sensor diri dan pelita penerang jalan. Dalam batasan kemanusiaan, petunjuk itu diberikan oleh suara hati nurani yang jujur. Dalam suatu kesempatan, Rasulullah pernah mengajarkan kepada seorang sahabat bagaimana cara sederhana menentukan sesuatu itu baik atau buruk; "istafti qalbaka", mintalah fatwa pada hatimu. Atau dalam kesempatan yang lain ia mengatakan, bahwa barangsiapa yang amal baiknya membuat hatinya suka, dan amal buruknya membuat ia gelisah maka dia itu muslim. Artinya, dalam banyak hal, semestinya orang bisa bertanya kepada hati nuraninya apakah sesuatu itu baik atau buruk. Manusia diberi kemampuan untuk mengetahui secara standar apa saja yang layak atau tidak untuk dijalani. Manusia punya ukuran kepatutan kemanusiaan-nya. "Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya." (Qs. Asy-Syams:, Karenanya, manusia bila pun tidak mengerti banyak tentang ajaran wahyu Allah, semestinya ia masih bisa mendengar secara tulus apa suara hati nuraninya. Tetapi kebesaran dan sekaligus kesulitan manusia terletak pada haknya untuk memilih antara benar dan salah, berdasarkan ilham itu. Maka Allah tidak saja mencukupkan kita dengan hati nurani. Pada saat yang sama Ia menurunkan wahyu serta mengutus para Rasul untuk mengajari manusia bagaimana mengelola insting-insting dasarnya, sekaligus mempertajam hati nuraninya. Di sanalah berpadu antara kelurusan tujuan, dengan dasar-dasar tabiat kemanusiaan. Melalui Al-Qur'an, Islam membimbing manusia bagaimana menitik-beratkan pada hasrat hidup bermakna (the will to meaning) sebagai motif dasar. Dengan kata lain, kita harus menjalani hidup ini dengan makna yang jelas, dengan rasa berarti yang sebenarnya. Teori ini amat berlawanan arab dengan teori "hasrat untuk hidup senang" (the will to pleasure) model Freudian, maupun teori "hasrat hidup berkuasa" (the will to power) yang digaungkan Alfred Adler. Konsistensi, stabilitas, ketenangan, kedamaian, juga kebahagiaan manusia, berbanding lurus dengan sejauh mana ia mengkoordinasikan diri dengan fitrahnya dan menghadapkan wajahnya ke jalan Islam. Kapan manusia menyalahinya, akan menjadikan banyak unsur dalam kehidupan ini tidak bisa berfungsi dengan baik. Akan ada banyak ketimpangan dan kejanggalan. Kehidupan tidak berjalan di atas rel yang semestinya. Allah berfirman, "Dan barang-siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada Buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. "(Qs. Luqman: 22). Fitrah yang telah ditetapkan pada diri manusia itu tidak akan berubah. Apapun peradaban dan kemajuan yang telah dicapai manusia. "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah Allah itu. Tidak ada penambahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. "(Qs. Ar-Ruum; 30) . Seringkali suara hati nyaris tak terdengar, lantaran tersumbat oleh daki-daki hawa nafsu. Atau terselimuti dosa-dosa dan kemaksiatan. Mungkin, di antara kita pernah menemukan hari-hari yang terasa gersang, kering, dan tak ada setetes pun kesegaran. Hidup seperti tak berdenyut dan nyaris tanpa gairah. Begitulah hati menjadi air muka kita, pahit atau manisnya. Ia juga menjadi ruh kehidupan kita, redup atau terangnya. Dalam makna ini, barangkali, kita menghayati penjelasan Rasulullah, bahwa Allah tidak melihat kepada tampilan lahiriah manusia, tetapi melihat ke isi hati mereka. Maka, mengotori hati dengan dosa, sama artinya dengan menghapus cahayanya, mengacaukan jernih suaranya, dan memandulkan ketajamannya. Seperti ditegaskan Rasulullah saw, "Sesungguhnya, dosa-dosa itu bila terus menerus menimpa hati, maka ia akan menutupinya. dan bila hati telah tertutup, akan datang kunci dan cap dari Allah. Kapan sudah demikian, tak ada lagi baginya jalan, tidak ada jalan keimanan untuk masuk ke dalamnya, tidak juga jalan kekafiran untuk keluar darinya. " Tidak semua orang bisa mendengar suara hatinya . Banyak orang silau dengan kehidupan yang kian berwarna. Padahal, kebersihan hati tidak saja pelita di dunia, tapi juga bekal menghadap Allah. Kelak, ketika manusia diadili di hadapan Allah, pada hari ketika anak dan harta tidak berguna, hanya hati yang bersihlah yang bisa mengantarkan manusia menghadap Allah, "Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (Qs. Asy-Syu'ara: 89). Saatnya kita sesering mungkin mendengarkan suara hati, dengan tulus, jujur ​​dan penuh kelapangan. Suara hati kita, nurani kita, kata hati kita, adalah jati diri keaslian kita. Akankah kita mengkhianatinya?-wallahu 'alam-


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar