SELAMAT DATANG DIBLOG BEJOSENTOSO

Rabu, 23 November 2011

Tidak Sama Pria dengan Wanita Secara fitrah, wanita jelas berbeda dengan pria. Namun dengan mengatasnamakan "hak wanita", sejumlah pihak bersuara nyaring mengampanyekan kesetaraan pria dan wanita. Mereka dan orang-orang tak berilmu menyangka bahwa mereka sedang memperbaiki tata kehidupan, padahal yang mereka lakukan tak lain adalah merusak fitrah dan kehormatan wanita. Sungguh ini bahaya besar, karena rusaknya akhlak seorang wanita merupakan awal kerusakan tatanan kehidupan keluarga dan masyarakat. (Lihat Hadits pada catatan kaki) Al-Qur'anul Karim sebagai pedoman hidup kita telah menegaskan: "Dan tidaklah pria itu sama dengan wanita ...." (Ali 'Imran: 36) Allah SWT berfirman: "Hai manusia , bertakwalah kalian kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan dari jiwa yang satu itu Dia ciptakan pasangannya. Dan dari keduanya, Allah mengembangbiakkan pria dan wanita yang banyak. Bertakwalah kalian kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian. "(An-Nisa ': 1) Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Terimalah wasiat untuk berbuat baik terhadap para wanita." (HR. At-Tirmidzi no. 1173, dihasankan Al-Imam Al-Albani, dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi). Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda: "Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah (ujian) yang lebih berbahaya bagi kaum pria dari fitnah (ujian) wanita." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Menjadi tugas pria untuk menjaga wanita karena Allah SWT telah menjadikan pria sebagai pemimpin atas mereka. Wanita itu kurang dari sisi fisiknya dibanding pria dan secara tabiat mereka lemah, sehingga mereka butuh pemimpin yang dapat membimbing mereka. Akal yang lurus yang bisa mengetahui hikmah dan rahasia-rahasia akan memutuskan bahwa makhluk yang kurang fisiknya lagi lemah tabiatnya harus berada di bawah pengaturan makhluk yang sempurna fisiknya dan kuat dalam tabiat. Dengan begitu, yang kurang lagi lemah tadi dapat memperoleh manfaat yang kembali tak dapat diperolehnya dengan sendirinya dan mudarat pun dapat terhindarkan. Pria diharuskan memberikan infak kepada para wanitanya, disamping mengurusi kebutuhan mereka dalam kehidupan ini. Sehingga si wanita dapat terjaga dalam rumahnya, mencurahkan waktunya untuk mendidik anak-anaknya dan mengatur urusan rumahnya. Masing-masing dari pria dan wanita memiliki lingkup pekerjaan yang sesuai dengan fisik mereka. Pria bekerja di luar rumah sementara wanita memiliki tugas di dalam rumah. Dengan seperti ini, akan sempurnalah kerjasama di antara mereka dalam kehidupan ini. Karena Allah SWT telah membedakan fisik pria dan wanita, di mana masing-masingnya memiliki fisik yang sesuai dan cocok dengan tanggung jawabnya dalam kehidupan ini, maka datang larangan yang tegas dari perbuatan tasyabbuh (meniru / menyerupai) salah satunya terhadap yang lain. Dalam Shahih Al-Bukhari dari Ibnu 'Abbas, ia berkata: "Rasulullah Shallallahu' alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki." Oleh karena itu, tidak bisa pria menyerupai wanita dalam hal yang merupakan kekhususan wanita. Demikian pula sebaliknya. Pria yang meniru wanita dalam sifat dan kelembutannya, dan wanita yang menyerupai pria dalam pekerjaannya, berarti masing-masingnya telah berupaya mengubah ciptaan Allah SWT, dan masing-masingnya terlaknat lewat lisan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan dilaknat dalam Kitabullah. "Siapa yang dilaknat oleh Allah maka kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan penolong baginya." (An-Nisa ': 52) Pada hari ini, sering kita saksikan seruan orang-orang tak berilmu atau kaum munafik yang menuntut persamaan wanita dengan pria. Sungguh suara-suara yang jelek dan propaganda yang beracun itu menginginkan agar wanita muslimah sama dengan wanita kafir, yang biasa keluar untuk bekerja bersisian bersama pria ajnabi (non-mahram) dalam kondisi si wanita terbuka kepala dan wajahnya, tersingkap dua betisnya, dan dua lengan bawahnya. Bahkan lebih jauh dari itu, terbuka dua pahanya dan lengan atasnya. Mereka ini meneriakkan ucapan, "Separuh dari masyarakat ini menganggur. Kami menginginkan agar semua individu masyarakat ini bekerja. " Dengan ucapan pada seakan-akan mereka memberikan gambaran bahwa wanita dalam masyarakat Islam terhitung barang yang tidak bernilai atau kayu yang disandarkan tanpa ada manfaatnya. Mata mereka buta untuk memandang bahwa tugas yang diemban wanita dalam rumahnya adalah pekerjaan yang mulia, sesuai dengan fisiknya serta sesuai dengan tabiatnya. Karena, Allah SWT dengan hikmah-Nya menjadikan wanita dengan sifatnya yang khusus cepat atau sesuai untuk ikut andil dalam membangun masyarakat manusia dengan menunaikan suatu pekerjaan / tugas yang tidak dapat diemban oleh selain wanita, seperti mengandung, melahirkan dan menyusui, mendidik anak, mengurusi rumah dan menunaikan tugas-tugas rumah tangga berupa memasak, menyapu, dan sebagainya. Pengabdian wanita di dalam rumahnya ini dilakukan dalam kondisi si wanita tertutup dari pandangan yang tidak halal untuk memandangnya. Ia terjaga dan memiliki iffah (kehormatan diri). Ia terjaga pada kemuliaan, keutamaan, dan nilai kemanusiaan. Pengabdian ini tidak bisa dianggap kecil bila dibandingkan dengan pengabdiaan kaum pria dalam mencari penghidupan. Seandainya seorang wanita sampai keluar dari rumahnya guna berserikat dengan kaum pria dalam pekerjaan-sebagaimana klaim mereka itu-niscaya akan telantarlah tugas-tugasnya di rumah. Akibatnya, masyarakat manusia pun menuai kerugian yang sangat besar. bergabungnya wanita di bidang pria akan berdampak kerusakan, karena wanita akan menjadi pajangan untuk mata-mata khianat dan tangan-tangan yang merusak. Jadilah ia sebagai hidangan yang terbuka di hadapan para pengkhianat yang memiliki hati berpenyakit. Allah SWT menyebutkan mata yang suka memandang apa yang tidak halal baginya sebagai mata yang khianat, sebagaimana dalam ayat: "Dia (Allah) mengetahui pandangan mata-mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh dada-dada." (Ghafir: 19). ... Apakah mungkin seorang pria yang memiliki sedikit saja dari sifat kejantanan-terlebih lagi bila memiliki iman-akan ridha membiarkan putrinya, istrinya, atau saudara perempuannya, menjadi santapan lezat untuk mata-mata orang fasik dan barang jamahan untuk tangan-tangan pengkhianat ? .... Apakah tidak cukup sebagai peringatan, musibah yang telah menimpa masyarakat-masyarakat yang melepaskan diri dari bimbingan Islam, di mana mereka terjerembab dalam lembah kehinaan? Ketika mereka membiarkan wanita mereka yang kembali terjaga di dalam rumah untuk keluar dari 'istana' nya dalam kondisi ber-tabarruj, mempertontonkan tubuh yang 'telanjang' (sedangkan orang-orang masa kini menganggap pakaiannya hanya terbuka sedikit, red). Ingatlah bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: "Ada dua golongan penduduk neraka yang saat ini aku belum melihat mereka, (yang pertama) suatu kaum yang memiliki cambuk-cambuk seperti ekor-ekor sapi, dengan cambuk tersebut mereka memukul manusia. (Yang kedua) para wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang ... "(HR. Muslim). .... Allah SWT pun mencabut dari kaum lelakinya sifat rujulah / kejantanan dan ghirah / kecemburuan terhadap wanita-wanita mereka. Akibatnya, jadilah masyarakat tersebut tak beda dengan masyarakat binatang, yang membiarkan dan menganggap wajar bila istri atau putrinya bergaul bebas dengan pria-pria lain di kantor atau di tempat-tempat umum lainnya, bahkan di tempat-tempat sepi. .... Allah Subhanahu wa Ta 'ala, Dialah yang menciptakan alam ini dan mengatur segenap urusannya. Dia mengetahui hal-hal yang samar / tersembunyi, dan mengetahui apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi. Allah SWT telah menempatkan pagar-pagar yang kokoh dalam kitab-Nya yang mulia untuk melindungi kaum muslimin dan menjaga wanita-wanita mereka. Sudah seharusnya manusia mentaati bila Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk menundukkan pandangan dari melihat apa yang tidak halal dilihat. Allah SWT berfirman: "Katakanlah kepada kaum mukminin," Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. "Katakanlah kepada kaum mukminat," Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka ... "(An-Nur: 30-31) .... Allah SWT melarang wanita menghentakkan kakinya yang memakai gelang kaki untuk memperdengarkan suara gelang kakinya ke para pria. Allah SWT berirman: "Dan janganlah mereka (para wanita beriman) menghentakkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan ..." (An-Nur: 31) .... Allah SWT melarang kaum wanita melembutkan suaranya ketika berbicara dengan pria ajnabi, agar jangan sampai orang-orang jahat berkeinginan jelek terhadap mereka. Allah SWT berfirman: "Maka janganlah kalian melembutkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik." (Al-Ahzab: 32) .... Allah SWT melarang wanita melakukan safar kecuali bila ditemani mahramnya. Allah SWT juga melarang pria berdua-duaan dengan wanita ajnabiyah. Allah SWT melarang para wanita mempertontonkan perhiasannya kepada pria yang tidak berhak melihatnya. Allah SWT menjadikan shalat wanita di rumahnya lebih utama dibanding shalatnya di masjid. Semua ini dalam rangka menjaga dan memelihara wanita dan membersihkan masyarakat Islam dari akhlak yang rusak. Bila umat ini berpegang dengan pengajaran dan bimbingan ilahiyah, niscaya mereka akan sukses dalam membangun masyarakat yang kuat, berpegang dengan perintah agama sekaligus bersih dari hal yang tidak pantas. Sebaliknya, bila umat ini melepaskan diri / tidak peduli dengan pengajaran dan bimbingan ilahiyah, niscaya mereka akan jatuh dalam lembah kehinaan, hilang kehormatan / kemuliaan mereka, dan hilang pula posisi mereka di kalangan umat-umat yang lain. Orang-orang bodoh yang menyerukan propaganda kesetaraan gender yang didasari kebodohan atau kemunafikan harus dicekal tangannya, dibungkam suaranya, dan dipatahkan penanya. Karena, kita-alhamdulillah-pada bashirah (ilmu yang jelas) dari hal kita dan pada ketsiqahan (keteguhan) terhadap agama kita. Tidak samar bagi kita propaganda orang-orang yang sesat dan hawa nafsu orang-orang yang punya ambisi tertentu. Sungguh, orang-orang bodoh yang menulis makalah-makalah beracun yang menyerukan agar wanita melepaskan diri dari posisi yang diberikan Islam, berarti telah mengupayakan penghancuran masyarakat mereka. Telah mendahului mereka dengan seruan busuk ini, suatu kaum yang akhir kesudahannya adalah penyesalan. Kelak, mereka yang belakangan ini akan menemukan kebaikan sama. "Dan orang-orang yang lalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali." (Asy-Syu'ara: 227) Dengan pertolongan Allah SWT, akan terus ada kaum muslimin yang berpegang dengan pengajaran agama mereka. Orang-orang yang menghinakan dan menyelisihi mereka tidak akan membahayakan mereka, sampai kelak datang hal Allah SWT sementara mereka dalam kondisi demikian. Kita mohon kepada Allah SWT agar menolong agama-Nya dan meninggikan kalimat-Nya, agar Dia menjaga pemimpin kaum muslimin dan membantu agama-Nya dengan pimpinan tersebut. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian dia mengutus bala tentaranya. Yang paling dekat posisinya dengan Iblis adalah yang paling besar fitnahnya. Datang kepadanya seorang tentaranya lalu berkata: 'Aku telah melakukannya-demikian.' Iblis berkata: 'Engkau belum berbuat sesuatu.' Dan kemudian salah seorang dari mereka datang lalu berkata: 'Aku tidak meninggalkan orang tersebut bersama istrinya melainkan aku pecah belah keduanya.' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata:' Lalu iblis mendekatkan prajurit itu kepadanya dan berkata: 'Sebaik-baik pasukan adalah kamu.' Al-A'masy berkata: 'Aku kira, (Nabi Shallallahu' alaihi wa sallam) berkata: 'Lalu iblis memeluknya. "(HR. Muslim no. 5302). Hadits ini menggambarkan betapa pentingnya posisi sebuah keluarga dalam membentuk anggota keluarga yang saleh dan bertaqwa. Karena besarnya peranan keluarga maka iblis memprioritaskan program penghancuran keluarga dibanding program kejahatan iblis lainnya dalam mengajak umat manusia ke neraka bersamanya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar