SELAMAT DATANG DIBLOG BEJOSENTOSO

Rabu, 23 November 2011

Buta Cinta: Sesat Di Dunia, Merana Di Akhirat Di Sebuah Taman Kota Kosmopolitan 2001 ... Para karyawan yang sibuk membersihkan kawasan taman rekreasi gempar. Raungan suara ambulan begitu mengejutkan ketika pagi yang masih terlalu awal ini. Terlihat beberapa petugas paramedis begitu sibuk memberi pertolongan kepada sepasang muda-mudi yang terperangkap di dalam sebuah mobil di taman tersebut. Nahas bagi pasangan merpati dua sejoli itu, malaikat maut telah mencabut nyawa mereka dalam keadaan yang sungguh tragis. Apa yang terjadi sebenarnya? Ternyata sepasang muda-mudi itu nekad bunuh diri dengan menutup saluran pembuangan mobil dengan kondisi mesin mobil masih terpasang. Akibatnya mereka mati dalam keadaan berpelukan dan saling berciuman sehingga begitu sulit pihak bertanggung jawab memisahkan antara dua jasad tersebut. Begitu 'mengharukan'!. Didalam mobil tersebut ditemukan selembar kertas yang telah mereka tanda tangani. Antara isinya; tolong jangan pisahkan mayat kami dan terus dikebumikan untuk membuktikan cinta abadi kami sehidup semati. Dan di bagian akhir surat tersebut tercatat bahwa mereka melakukan ini demi menyelamatkan cinta 'sejati' yang 'suci' ini karena orang tua tidak merestui hubungan cinta mereka. Astaghfirullah ...! Di sebuah rumah di Jazirah Arab 1400 tahun yang lampau ... Abdullah bin Abubakar RA baru saja melangsungkan pernikahan dengan Atikah binti Zaid, seorang wanita cantik rupawan dan berbudi luhur. Dia seorang wanita berakhlak mulia, berpikiran cemerlang dan berkedudukan tinggi. Sudah tentu Abdullah amat mencintai istri yang sebegitu sempurna menurut pandangan manusia. Pada suatu hari, ayahnya Abu Bakar RA lalu di rumah Abdullah untuk pergi bersama-sama untuk shalat berjamaah di masjid. Namun ketika ia menemukan anaknya sedang berbicara dengan Atikah dengan lembut dan ramah, ia membatalkan niatnya dan melanjutkan perjalanan ke masjid. Setelah selesai menunaikan shalat Abu Bakar RA sekali lagi melalui jalan di rumah anaknya. Alangkah kesalnya Abubakar RA saat ia menemukan anaknya masih bersenda gurau dengan istrinya sebagaimana sebelum ia menunaikan shalat di masjid. Lantas Abu Bakar RA segera memanggil Abdullah, lalu bertanya: "Wahai Abdullah, apakah kamu shalat berjamaah?" Tanpa berpikir panjang Abu Bakar berkata: "" Wahai Abdullah, Atikah telah melalaikan kamu dari kehidupan dan pandangan hidup malah dia juga telah melengahkan kamu dari shalat fardlu, ceraikanlah dia! "Demikianlah perintah Abu Bakar kepada Abdullah. Suatu perintah ketika Abu bakar mendapati anaknya mulai melalaikan hak Allah. Ketika ia menemukan Abdullah mulai sibuk dengan istrinya yang cantik. Ketika ia menemukan Abdullah terpesona keindahan dunia sehingga menyebabkan semangat juangnya semakin luntur. Lalu bagaimana tanggapan Abdullah? tanpa berdolak dalih apatah lagi mencoba membunuh diri, Abdullah terus menyahut perintah ayahandanya dan menceraikan istri yang cantik dan amat dicintainya. Subhanallah!!! Dari dua kutipan kisah pada, marilah kita sama-sama merenung tentang hakikat dan bagaimana cinta sejati, tulus dan suci itu sebenarnya. Sesungguhnya perjalanan hidup manusia akan selalu dipenuhi dengan warna-warna cinta. Bahkan bisa kita ungkapkan bahwa kehadiran manusia di muka bumi ini disebabkan Allah SWT melemparkan suatu perasaan di dalam jiwa manusia, itulah CINTA. Membicarakan tentang cinta ibarat menuras air lautan dalam yang kaya dengan berbagai khazanah alam. Tak kan pernah habis dan kita akan selalu menemukan berjuta macam benda. Dari sekecil-kecil ikan hingga ikan paus yang terbesar. Dari kerang sampai mutiara malah jika diizinkan Allah, kita mungkin menemukan bangkai kapal dan bangkai manusia!!! Usia sejarah cinta seumur dengan sejarah manusia itu sendiri. Jika di suatu tempat ada 1000 manusia maka di situ ada 1000 kisah cinta. Dan jika di muka bumi ini ada lebih 5 million manusia, maka sejumlah itu pulalah kisah cinta akan digelar. Walau berapa banyak pun nuansa cinta yang menjelma menjadi sebuah syair, drama, film, lagu dan berbagai bentuk hasil seni lain, namun pada hakikatnya cinta itu hanya ada dua buah versi saja. Versi cinta nafsu (syahwat) dan cinta Rabbani. Yang menjadi persoalan sekarang adalah mampukah kita membedakan yang mana cinta syahwat dan mana cinta Rabbani? Derasnya arus ghazwul fikr (serangan pemikiran) dalam kesenian terutama, telah mampu membungkus cinta syahwat sehingga ia tampil sebagai cinta "suci" yang harus diperjuangkan, dimenangkan dan diraih berikutnya untuk dinikmati. Manusia seakan lupa pada sejarah. lupa pada kisah-kisah tragis yang berakhir di ujung pisau atau dalam segelas 'penawar' rumput. Mereka semua rela diseret dan dijeremuskan ke dalam lubang 'neraka' hanya untuk mengejar salah satu rasa dari sekian banyak rasa yang ada disudut hati manusia, itulah cinta. Cinta memiliki kekuatan luar biasa. Dan kekuatan cinta (the power of love) mampu menjadikan manusia pribadi yang sangat nekad atau sangat taat. Nekad dalam konteks sangat berani dalam melanggar peraturan-peraturan Allah seperti berkhalwat (berduaan dengan bukan mahram), berkasih-kasihan pria dan perempuan, berpegangan tangan, mempertontonkan adegan berahi gratis di khalayak ramai apalagi dalam sembunyi. Atau jika cinta tak mendapat restu dari orang tua, pasangan akan nekad, terus lari dari rumah atau berzina (na'udzubillah min dzalik). Dan tidak sedikit pula yang begitu nekad sanggup melakukan perbuatan yang dilaknat Allah yaitu membunuh diri demi cinta. Pribadi-pribadi nekad seperti ini menjadikan cinta sebagai tujuan bukan sebagai sarana mencapai tujuan. Karena itu tidak heran jika kita menemukan berbagai perilaku aneh para pencari cinta yang tak masuk akal. Sebab apa yang mereka tuju adalah suatu yang abstrak, tidak jelas dan bukan hal yang pokok. Mereka sibuk mencari dan mengartikan makna cinta sementara lalai terhadap Dzat yang menganugerahkan cinta. Dzat yang menumbuh suburkan rasa cinta. Dzat yang memberikan kekuatan cinta. Dzat yang paling layak dicintai , karena Dia juga Empunya nikmat cinta. Allah Rabbul 'Alamin. Kisah tragis di awal tulisan ini memberikan gambaran jelas sikap manusia yang rela mengorbankan diri demi sepotong cinta. Muda-mudi yang nekad bunuh diri dengan berbagai cara ini pada dasarnya belum mengenali hakikat cinta. Cinta yang mereka kenal selama ini adalah cinta yang ditunggangi oleh nafsu syahwat. Dan joki penunggangnya adalah setan laknatulllah. Pada momen ini setan berteriak keriangan sambil mengibar-ngibarkan bendera kemenangan karena berhasil menjerumuskan anak cucu Adam dalam neraka jahannan dengan dalih cinta yang begitu murah nilainya . Sebuah kisah lain tentang tragedi cinta dan kebodohan manusia yang sangat memalukan terjadi di Dhaka. Menurut laporan berita salah satu koran ibu kota di negeri tersebut, seorang ayah dan anaknya mati saling tikam menikam hanya karena merebut cinta seorang gadis. Tragedi dimulai ketika si gadis tidak tahu bahwa dua pria yang sering menjadi teman asmaranya pada waktu yang berbeda adalah ayah dan anak. Sampailah pada suatu saat mereka terserempak pada waktu yang sama. Maka tragedi pun dimulai. Keduanya sangat marah sehingga menyebabkan pertengkaran dan akhirnya pergulatan dan perkelahian yang berakhir dengan si ayah mati akibat tertusuk di perutnya. Namun sebelum rebah ia berhasil menancapkan belati di jantung anaknya. Matilah keduanya. Dan pastilah neraka tempat kembalinya. Itulah tragedi cinta. Cinta memang tak kenal warna. Cinta tak kenal baik-buruk. Cinta tak kenal rupa dan hubungan darah. Memang begitulah adanya. Karena yang mampu mengenal warna dan baik-buruk adalah pelaku-pelaku cinta yang menggunakan akal pikirannya. Sebaliknya cinta juga mampu melahirkan pribadi-pribadi yang mengagumkan. Pribadi yang tak takut kehilangan suatu apa pun walau ia amat cinta pada sesuatu . Namun karena cinta yang hadir dipenuhi dengan nuansa keimanan, maka mereka rela mengorbankan apa saja yang mereka amat cintai demi memperolehi keridhaan Dzat Pemberi cinta. Jiwa mereka tidak gundah gulana karena kehilangan cinta duniawi karena Allah sebagai Dzat pemberi ketenteraman Pribadi-pribadi taat ini amat menyadari bahwa cinta hanyalah sebagai sarana mencapai tujuan. Mereka yakin kenikmatan cinta tak ada artinya tanpa ada restu Allah sebagai Pemberi cinta. Maka yang mereka cari adalah ridha dan cinta Allah, bukan cinta yang bersifat sementara. Kisah Abdullah putera Abu Bakar RA menjadi contoh kematangan pemuda yang mengenal arti cinta. Bayangkan!! Dia memiliki istri yang sangat cantik, berakhlak mulia, berkedudukan tinggi dan berharta. Namun ketika ayahnya memerintahkan untuk menceraikan istrinya, dengan alasan istrinya telah melalaikan Abdullah dalam menunaikan hak Allah berikutnya akan melengahkan Abdullah berjihad di jalan Allah. Maka apa reaksi Abdullah? Tidak!! Abdullah tidak marah langsung pada ayahnya. Atau berusaha mengambil pedang dan ingin memenggal kepala si ayah yang berusaha memisahkan jalinan cinta yang memang sudah sah itu. Sekali lagi tidak!! Pemuda yang bernama Abdullah melihat perintah itu dengan kacamata cinta yang diberikan Allah. Ia rela menceraikan istri yang dicintainya demi mempererat hubungan cinta dengan Allah. Subhanallah ... Masih adakah pemuda-pemuda seperti pribadi Abdullah di zaman globalisasi sekarang? Begitulah cinta. Ia mampu melambungkan manusia pada derajat kemuliaan yang tak terhingga. Sedangkan frekuensi atau gelombang cintanya juga sudah selaras dengan frekuensi atau gelombang cinta yang Allah kehendaki. Semuanya akan senada seirama. Tak ada dengung sumbang, tak ada nada ternoda. Demikian indah dan asli irama cinta sejati.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar