SELAMAT DATANG DIBLOG BEJOSENTOSO

Selasa, 22 November 2011

DUKUN dan TUKANG SIHIR, Penciduk Agama dan Harta Perdukunan ada di mana-mana. Dalam tumbuh kembangnya, dunia perdukunan (termasuk paranormal) hadir tak hanya di tingkat akar rumput yang rata-rata berpendidikan rendah. Pun tak semata di area yang dihuni rakyat yang miskin, papa dan hidup terbelakang. Dunia perdukunan menyentuh juga manusia yang hidup dalam kawasan elite, prestisius bahkan borjuis. Perdukunan merambah kemana pun. Menyeruak, masuk ke alam kehidupan semua strata dan latar belakang manusia, kecuali orang-orang yang dirahmati-Nya. (Artikel mendasar tentang ini yakni tentang asal-usul dan hakekat sihir, dapat dibaca disini) Adapun pembahasan disini meliputi: Pengertian dukun secara bahasa (di Indonesia dan luar negeri) dan secara istilah syar'i, dan fitur-fitur, serta hakekat kebenaran dari mereka Dukun adalah penciduk agama dan harta Perdukunan adalah haram, sangat dekat ke kesyirikan dan kekufuran Islam melarang keras mendatangi perdukunan, dan rincian hukuman mendatangi mereka Hukuman untuk dukun dan tukang sihir, dan hukum membantu mereka PENGERTIAN DUKUN ↑ PENGERTIAN DUKUN SECARA Bahasa: Dukun adalah orang yang menyatakan kepada manusia (bahwa dia mengetahui) hal-hal gaib yang belum terjadi dan hal yang tersembunyi (rahasia) untuk manusia. Budaya Makassar: Hasil penelitian ilmiah pada masyarakat Bugis-Makasar, diperoleh beragam keahlian sanro (sebuah istilah paling populer untuk dukun) . Kelompok sanro pappamole, sanro pabballe, atau sanro tomalasa, yaitu dukun yang ahli mengobati orang sakit atau yang berusaha menyembuhkan penyakit. Sanro puru, dukun yang biasa mengobati orang yang sakit puru atau sarampa (cacar). Sanro pattiro-tiro atau sanro paccini-cini atau sanro patontong, yaitu dukun peramal. Misal, menentukan letak barang yang hilang atau dicuri, menyebutkan pelaku atau fitur-fitur pencurinya, dan sebagainya. Dukun ini suka meramal nasib atau masa depan orang, melihat sifat dan tabiat seseorang meski sang dukun hanya tahu nama orangnya, meramal hari atau waktu yang baik seperti hendak bepergian atau melakukan hajat tertentu. Sanro sehere (dukun sihir) yang memelihara jin yang bisa disuruh membawa guna-guna dan memasukkannya ke tubuh seseorang. Budaya Aceh: Di Aceh, terkait masalah kekuatan gaib ini disebut eleumee. Cara untuk memperoleh eleumee disebut dengan praktek eleumee. Beberapa macam eleumee yang tersebar di sebagian masyarakat Aceh seperti eleumee keubay, yaitu ilmu kebal yang membuat kebal terhadap tusukan senjata tajam. Termasuk dalam ilmu kebal ini antara lain eleumee ma'rifat beusoe (ilmu ma'rifat besi), eleumee rante but (ilmu rantai perbuatan). Ada juga eleumee tuba yaitu ilmu untuk membuat racun dan penawarnya. Jenisnya banyak, seperti eleumee jamur yang terkenal berasal dari Lam Teuba, untuk membuat racun dari jamur tertentu. Juga ada yang disebut eleumee burung, ilmu bersahabat dengan makhluk halus. Eleumee pari, di mana burung (burung) yang dipelihara digunakan untuk menjaga tuannya dari serangan gaib. Adapun eleumee sandrung yaitu ilmu untuk memanggil makhluk halus dan memasukkannya ke dalam tubuh manusia. Ada pula yang disebut eleumee akhirat atau lebih dikenal dengan kramat. Kekuatan kramat bersifat umum, seperti mengobati yang sakit, mengusir setan, meluncurkan usaha mencari rezeki, dan pergi shalat Jumat ke Makkah. Kisah tentang ureueng kramat (orang kramat) selalu berkisar di dayah (pesantren) dan alim ulama, karena eleumee ini senantiasa disandingkan dengan nilai-nilai agama. Namun, dalam batas tertentu hal itu menjadi kabur. Karena, seseorang yang menginginkan posisi kramat nyatanya menghendaki menjadi orang yang memiliki kesaktian, melakukan praktek yang tidak bersumber pada nilai-nilai agama yang benar, bahkan justru melakukan perbuatan bid'ah. Praktik yang sering dilakukan ureueng kramat maupun yang memiliki eleumee, yaitu dengan memberi ajemmat. Ajemmat adalah secarik kertas yang ditulisi atau digambari huruf Arab. Isinya beragam, ada berupa tulisan kutipan ayat suci, ada pula hanya huruf yang tidak dipahami maknanya. Secarik kertas tersebut lantas disimpan dalam saku, ikat pinggang atau dibakar lantas abunya digosokkan pada tubuh atau dimasukkan ke air di gelas lalu diminum airnya. Mirip ajemmat, dikenal pula tangkay. Yaitu sebuah benda yang dianggap memiliki kekuatan yang bersifat melindungi pemiliknya. Benda-benda yang dipakai sebagai tangkay seperti batu akik, daun-daunan, benang warna-warni, dan lain-lain. (Dukun, Mantra dan Kepercayaan Masyarakat, T. Sianipar, Al-Wisol, Munawir Yusuf, hal. 17-19 dan 147-149) Budaya Jawa: Dalam kehidupan masyarakat Jawa juga tumbuh pemahaman tentang perdukunan. Dukun perewangan, yaitu dukun yang bertindak sebagai mediator dalam masalah mistik. Dukun wiwit, yaitu yang melakukan upacara panen. Dukun temanten, yang mengatur prosesi upacara pengantin agar tidak terganggu. Dukun ramal. Dukun sihir. Dukun susuk, dukun yang menangani peristiwa-peristiwa alam, seperti menahan hujan atau membantu agar barang-barang yang ada tidak hilang dicuri. Masih banyak lagi ragam dukun yang ada dalam kehidupan masyarakat Jawa. Maka, dari beberapa bentuk aktivitas dukun pada, ada beberapa kategori yang menjadikan sebagian masyarakat meminta bantuan kepada dukun. Di antaranya, masyarakat datang ke seorang dukun lantaran terkait masalah kesehatan, penyakit, masalah karir jabatan, masalah ekonomi, bisnis atau sejenisnya, masalah jodoh, hubungan suami istri, dan masalah keamanan secara umum. Kemajuan peradaban manusia, seringkali diukur dengan kemajuan teknologi dan semakin lepasnya masyarakat dari praktik-praktik berbau takhayul. Namun, di zaman sekarang ini praktek perdukunan justru marak bak jamur di musim penghujan. Penting diketahui, sebenarnya praktik perdukunan bukanlah khusus masyarakat tribal (kesukuan) dan tradisional yang melambangkan keterbelakangan. Bangsa maju dan modern di Eropa dan Amerika yang mengagungkan rasionalitas juga punya sejarah perdukunan, berwujud santet (witchcraft). Di Indonesia, praktik perdukunan memiliki akar kuat dalam sejarah bangsa, bahkan dukun dan politik merupakan gejala sosial yang lazim. Kontestasi politik untuk merebut kekuasaan pada zaman kerajaan di Indonesia pramodern selalu ditopang kekuatan magis. Semuanya ini memberikan gambaran yang nyata, bahwa perdukunan memang sudah dikenal lama oleh masyarakat kita. Dan ilmu ini pun turun-menurun saling diwariskan oleh anak-anak bangsa, sampai saat ini para dukun masih mendapatkan tempat bukan saja di sisi masyarakat tradisional, tetapi juga di tengah lingkungan modern. Walhasil kini mereka yang pergi ke dukun kemudian percaya pada kekuatan magis dan menjalankan praktik perdukunan tak mengenal status sosial: kelas bawah, menengah bahkan atas. Sensasi para dukun itu mampu melampaui semua tingkat pendidikan. Banyak di antara mereka yang datang ke dukun merupakan representasi orang-orang terpelajar yang berpikiran rasional. Sebenarnya, dukun atau paranormal tidak ada bedanya, karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu mengemukakan, bahwa paranormal adalah nama lain dari dukun dan ahli nujum (Fathul Majid, hal. 338). Maka, dukun atau paranormal adalah dua nama yang saling terkait, kadang salah satunya menjadi tanda untuk yang lainnya. Belakangan, di tanah air kita, fenomena perdukunan dan ramalan semakin menggeliat seiring dengan suasana yang kondusif untuk para pelakunya untuk tampil berani tanpa ada beban. Berapa banyak iklan-iklan yang menawarkan jasa meramal cukup via SMS, yang dalam istilah mereka berarti Supranatural Messages Service. Atau juga, praktik pengobatan alternatif yang sudah menjadi suguhan iklan harian di koran-koran dan tabloid. Berapa banyak sekarang ini penderita penyakit yang tidak terdeteksi penyakitnya sekalipun telah memanfaatkan kemajuan teknologi kedokteran. Usut punya usut, salah satu penyebabnya adalah karena penyakit tersebut merupakan penyakit "pesanan" yang dikirim oleh para dukun dengan menggunakan kekuatan gaib bernama setan. Praktik sihir, prediksi, dan perdukunan sendiri telah dikenal di masyarakat Arab dengan beberapa istilah. Para dukun dan peramal itu terkadang disebut: 1. Kahin: Al-Baghawi rahimahullahu mengatakan bahwa Al-Kahin adalah seseorang yang mengabarkan sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Ada pula yang mengatakan, al-kahin adalah yang mengabarkan apa yang tersembunyi dalam qalbu. (Lihat Majmu 'Fatawa, 35/173) 2. 'Arraf: 'Arraf merupakan bentuk mubalaghah (penyangatan) dari kata' arif (yang tahu-admin). Ada sebagian ulama mengatakan bahwa 'arraf itu sama dengan kahin (dukun) yaitu orang yang memberitahukan tentang sesuatu yang akan datang. Sebagian yang lain mengatakan 'arraf adalah nama umum dari kata kahin, dukun, munajjim, rammal, dan lainnya, yaitu orang yang berbicara tentang sesuatu yang gaib dengan tanda-tanda yang dia pergunakan. Di antara alat yang dipergunakan untuk mengetahui hal yang gaib adalah: pertama, melalui kasyf (baca: terawangan); dan kedua, melalui setan. Al-Imam Al-Baghawi rahimahullahu mengatakan: "Arraf adalah orang yang mengaku mengerti suatu benda atau barang yang dicuri, tempat hilangnya, atau selainnya, dengan tanda-tanda tertentu . " Disebutkan pula bahwa 'arraf adalah juga dukun. Dua nama namun menunjukkan sesuatu yang satu. Dinyatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu bahwa al-'arraf adalah nama untuk dukun, tukang sihir, dan rammal. (Syarhu Kitabit Tauhid, hal. 255-256) Walhasil, 'arraf dan kahin adalah orang yang mengambil ilmu dari mustariqus sama' (para pencuri berita dari langit) yaitu para setan. 3. Rammal: Raml dalam bahasa Arab berarti pasir yang lembut. Rammal adalah seorang tukang ramal yang menggarisbawahi-garis di pasir untuk meramal sesuatu. Ilmu ini telah dikenal di masyarakat Arab dengan sebutan ilmu raml. 4. Munajjim, ahli ilmu nujum: Nujum artinya bintang-bintang. Akhir-akhir ini populer dengan nama astrologi (ilmu perbintangan) yang dipakai untuk meramal nasib. 5. Sahir, tukang sihir: Ini lebih jahat dari yang sebelumnya, karena dia tidak hanya terkait dengan prediksi bahkan dengan ilmu sihir yang identik dengan kejahatan. Dan masih ada lagi tentunya istilah lain. Namun hakikatnya semuanya bermuara pada satu titik kesamaan yaitu meramal, mengaku mengetahui hal ghaib (sesuatu yang belum diketahui) yang akan datang, baik itu terkait dengan nasib seseorang, suatu peristiwa, mujur dan celaka, atau sejenisnya. Perbedaannya hanyalah dalam penggunaan alat yang dipakai untuk meramal. Ada yang memakai kerikil, bintang, atau yang lain. Dengan demikian, apapun nama dan julukannya, baik disebut dukun, tukang sihir, paranormal, 'orang pintar', 'orang tua', spiritualis, ahli metafisika, atau bahkan mencatut nama kyai dan gurutta (sebutan untuk tokoh agama di Sulawesi Selatan), atau nama-nama lain, jika dia bicara dalam hal prediksi-prediksi dengan cara-cara seperti di atas maka itu hukumnya sama: haram dan syirik, menyekutukan Allah SWT. Demikian pula istilah-istilah ilmu yang mereka gunakan, baik disebut horoskop, zodiak, astrologi, ilmu nujum, ilmu spiritual, metafisika, supranatural, ilmu hitam, ilmu putih, sihir, hipnotis dan ilmu sugesti, feng shui, geomanci, berkedok pengobatan alternatif atau bahkan pengobatan Islami, serta apapun namanya, maka hukumnya juga sama, haram. (Lihat pembahasan selanjutnya di bawah) PENGERTIAN DUKUN SECARA SYARIAT: Sebenarnya dukun dan perdukunan bukanlah sesuatu yang baru atau asing dalam sejarah kehidupan manusia. Keberadaannya sudah sangat lama, bahkan sebelum datangnya Islam dan diutusnya Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah SWT berfirman: ألم تر إلى الذين أوتوا نصيبا من الكتاب يؤمنون بالجبت والطاغوت ويقولون للذين كفروا هؤلاء أهدى من الذين ءامنوا سبيلا "Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al-Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. "(An-Nisa ': 51) Ath-Thabari rahimahullahu menyebutkan dalam Tafsirnya (2 / 7726), dengan sanadnya sendiri dari Sa'id bin Jubair, bahwa-tentang ayat ini-ia mengatakan, yang dinamakan jibt dalam bahasa Habasyah adalah Sahir (penyihir) sedangkan yang dimaksud dengan thaghut adalah kahin (dukun). Kala itu, perdukunan benar-benar mendapat tempat di hati banyak orang. Karena mereka meyakini, para dukun memiliki pengetahuan tentang ilmu gaib. Orang-orang pun berduyun-duyun mendatanginya, mengadukan segala permasalahan yang dihadapinya untuk kemudian menjalankan petuah-petuahnya. Al-Imam Muslim rahimahullahu di dalam kitab Shahihnya, bab Tahrimul Kahanah wa Ityanul Kahin, meriwayatkan dari Mu'awiyah bin Al-Hakam As-Sulami radhiyallahu 'anhu, bahwa ia menceritakan: Aku sampaikan kepada Rasulullah Shallallahu' alaihi wa sallam beberapa hal yang pernah kami lakukan di masa jahiliyah, yaitu bahwa kami biasa mendatangi para dukun. Beliau bersabda: فلا تأتوا الكهان. قال: قلت: كنا نتطير. قال: ذاك شيء يجده أحدكم في نفسه فلا يصدنكم "Jangan sekali-kali kalian mendatangi dukun-dukun itu." Aku ceritakan lagi kepada beliau, "Kami biasa ber-tathayyur." Beliau bersabda: "Itu hanyalah sesuatu yang dirasakan oleh seseorang di dalam dirinya. Maka, janganlah sampai hal itu menghalangi kalian. " Ibnul Atsir rahimahullah mengatakan: "Dukun adalah seseorang yang selalu memberikan berita tentang hal-hal yang belum terjadi pada waktu mendatang dan mengaku mengetahui segala bentuk rahasia. Memang dulu di negeri Arab banyak terdapat dukun seperti syiqq, sathih dan selainnya. Di antara mereka (orang Arab) ada yang menyangka bahwa dukun itu adalah para pemilik jin yang akan menyampaikan berita-berita kepada mereka. Di antara mereka ada pula yang menyangka bahwa dukun adalah orang yang mengetahui yang akan terjadi dengan melihat kepada tanda-tandanya. Tanda-tanda itulah yang akan dipakai untuk menghukumi kejadian-kejadian seperti melalui pembicaraan orang yang diajak bicara atau perbuatannya atau keadaannya, dan ini mereka khususkan istilahnya dengan tukang ramal, Seperti seseorang mengetahui sesuatu yang dicuri dan tempat barang yang hilang dan sebagainya. "(An -Nihayah fii Gharibil Hadits, 4 / 214) Al-Lajnah Ad-Da `imah (Lembaga Fatwa Kerajaan Arab Saudi) mengatakan:" Dukun adalah orang yang mengaku mengetahui hal-hal gaib atau mengetahui segala bentuk rahasia batin. Mayoritas dukun adalah orang-orang yang mempelajari bintang-bintang untuk mengetahui kejadian-kejadian (yang akan terjadi) atau mereka mempergunakan bantuan jin-jin untuk mencuri berita-berita. Dan yang semisal mereka adalah orang-orang yang mempergunakan garis di tanah, melihat di cangkir, atau di telapak tangan atau melihat buku untuk mengetahui ghaib tersebut. "(Fatawa Al-Lajnah Ad-Da` imah, 1/393-394 ) Mayoritas yang terjadi di tengah umat ini adalah pemberitaan yang dilakukan oleh jin-jin terhadap para wali mereka dari kalangan manusia yaitu berita-berita tentang hal gaib yang akan terjadi di muka bumi. Orang-orang jahil menyangka bahwa itu adalah sebuah kasyaf (ilmu membuka tabir) dan sebuah karamah. Dengan itu banyak orang tertipu dan mengira bahwa yang memberitahukan hal tadi adalah seorang wali Allah subhanahu wata'ala padahal dia adalah wali setan. Dukun menurut Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah, adalah seseorang yang mengaku mengetahui hal-hal gaib. Seperti, dirinya mengaku mengetahui peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di muka bumi ini. Mengaku mengetahui pula tempat barang-barang yang raib. Ini semua bisa dilakukan lantaran sang dukun meminta bantuan para setan yang mencuri dengar (menyadap) berita dari langit. Allah SWT berfirman: هل أنبئكم على من تنزل الشياطين. تنزل على كل أفاك أثيم. يلقون السمع وأكثرهم كاذبون "Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun ke tiap-tiap orang lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada setan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta. "(Asy-Syu'ara: 221-223) Setan mencuri dengar dari pernyataan-pernyataan malaikat , lantas oleh setan kata tersebut disampaikan ke telinga dukun. Kemudian sang dukun pun menambah dengan seratus kedustaan ​​bersama kalimat tersebut. Maka manusia pun mengizinkan apa yang dikatakan sang dukun karena kata yang telah didengar setan dari langit. ('Aqidatut Tauhid, hal. 126) Adapun menurut Asy-Syaikh Shalih bin Abdul 'Aziz Alu Asy-Syaikh, hakikat perbuatan dukun adalah dia meminta bantuan kepada jin untuk (mengetahui) berita-berita yang terkait hal-hal gaib di masa lalu atau waktu yang akan datang. Yang tentu saja, hal yang akan datang ini tidak ada yang mengetahui kecuali hanya Allah Jalla wa 'Ala. (Syarhu Kitab At-Tauhid, hal. 250) Nampak keterkaitan antara dukun dengan jin. Praktik dukun yang menggunakan cara-cara magis tidak lepas dari bantuan jin. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya perihal dukun. Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: عن عائشة رضي الله عنها قالت: سأل أناس رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الكهان, فقال لهم رسول الله صلى الله عليه وسلم: إنهم ليسوا بشيئ. فقالوا: يا رسول الله, إنهم يحدثون أحيانا بالشيئ فيكون حقا. فقال رسول الله: تلك الكلمة من الحق يخطفها الجني فيقرقرها في أذن وليه كقرقرة الدجاجة فيخلطون فيها أكثر من مائة كذبة Dari 'Aisyah radhiyallahu' anha ia berkata: Beberapa orang bertanya kepada Rasulullah tentang dukun-dukun. Rasulullah berkata kepada mereka: "Mereka tidak (memiliki) kebenaran sedikitpun." Mereka (para shahabat) berkata: "Terkadang para dukun itu menyampaikan sesuatu dan benar terjadi." Rasulullah menjawab: "Kalimat yang mereka sampaikan itu datang dari Allah yang telah disambar ( dicuri, red) oleh para jin, lalu para jin itu membisikkan ke telinga wali-walinya sebagaimana berkoteknya ayam dan mereka mencampurnya dengan seratus kedustaan. "(HR. Al-Bukhari no. 5429, 5859, 7122 dan Muslim no. 2228) Sungguh para dukun mendapat tempat yang leluasa sebelum Islam ada. Akan tetapi, setelah kedatangan Islam penjagaan langit makin diperketat. Jadilah ruang gerak dukun semakin kecil. Allah SWT mengabarkan terkait keberadaan setan: وأنا لمسنا السماء فوجدناها ملئت حرسا شديدا وشهبا. وأنا كنا نقعد منها مقاعد للسمع فمن يستمع الآن يجد له شهابا رصدا "Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). "(Al-Jin: 8-9) Allah SWT berfirman: إلا من استرق السمع فأتبعه شهاب مبين "Kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang." (Al-Hijr: 18) Asy-Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam hafizhahullah memasukkan dukun dalam kategori tukang sihir. Kata beliau, penyihir meliputi tukang ramal, dukun, 'arraf (orang yang mengaku bisa mengetahui keberadaan barang yang hilang). Kebanyakan dari keempat golongan ini, yaitu penyihir, tukang ramal, dukun, dan 'arraf adalah orang-orang yang menghamba kepada jin dan para setan mereka. Allah SWT berfirman: ولكن الشياطين كفروا "Hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir)." (Al-Baqarah: 102) Firman-Nya: هل أنبئكم على من تنزل الشياطين. تنزل على كل أفاك أثيم. يلقون السمع وأكثرهم كاذبون "Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun ke tiap-tiap orang lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada setan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta. "(Asy-Syu'ara: 221-223) Juga firman Allah SWT : وإن الشياطين ليوحون إلى أوليائهم ليجادلوكم "Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu." (Al-An'am: 121) Barangsiapa, dari keempat macam orang tersebut, yang (mengatakan) tidak mendapat berita dari para setan dan jin, maka dia itu dajjal, pendusta yang melakukan praktik sihir dengan cara menyampaikan kata dusta, menipu demi meraup harta duniawi. (Irsyadun Nazhir ila Ma'rifati 'Alamat As-Sahir, hal. 10) Al-Qadhi Iyadh rahimahullahu berkata: "Perdukunan yang dikenal di dunia Arab terbagi menjadi tiga jenis: Pertama: Seseorang memiliki teman dari kalangan jin, yang memberi tahu kepadanya dari usaha mencuri-curi dengar berita langit. Jenis ini sudah lenyap sejak Allah SWT mengutus Nabi kita Shallallahu 'alaihi wa sallam. (Catatan: Dalam hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang berpendapat sudah lenyap, tidak ada lagi. Ada juga yang berpendapat masih terjadi akan tetapi jarang terjadi dan bukan dalam hal wahyu Allah subhanahu wata'ala. Di antara yang memperkuat pendapat kedua dari ulama masa kini adalah Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan Asy-Syaikh Shalih Alu Syaikh-ed) Kedua: Setan mengabarkan kepadanya sesuatu yang terjadi di tempat-tempat lain yang tidak bisa diketahui secara langsung, baik dekat maupun jauh. Yang demikian tidaklah mustahil keberadaannya. Ketiga: Anggota nujum. Untuk jenis ini, Allah SWT menciptakan kekuatan tertentu pada diri sebagian manusia. Akan tetapi, kebohongan di dalamnya biasanya lebih dominan. Di antara jenis ilmu seperti itu, adalah ilmu ramal, pelakunya disebut peramal atau paranormal. Biasanya orangnya mengambil petunjuk dari premis-premis dan sebab-sebab tertentu untuk mengetahui persoalan-persoalan tertentu, serta didukung dengan perdukunan, perbintangan, atau sebab-sebab lain. Jenis-jenis seperti inilah yang disebut dengan perdukunan. Semuanya itu, dianggap dusta oleh syariat. Syariat juga melarang mendatangi dan membenarkan kata mereka. "(Syarh Shahih Muslim, 7 / 333) Hal-ihwal kondisi satu yakni pencurian berita langit, diperinci menjadi tiga kondisi: Pertama: Sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, jumlah mereka banyak sekali . Kedua: Setelah diutusnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dalam kondisi ini, tidak pernah terjadi pencurian berita dari langit. Kalaupun terjadi, itu jarang dan bukan dalam hal wahyu Allah SWT. Ketiga: Setelah beliau meninggal. Kondisinya kembali ke kondisi pertama, namun lebih sedikit dari kondisi sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. (Tamhid Syarah Kitab At-Tauhid, 1 / 447) CIRI-CIRI DUKUN / TUKANG SIHIR Berikut ini beberapa fitur dukun, sehingga dengan mengetahui fitur-fitur tersebut, hendaknya kita berhati-hati bila kita dapati fitur-fitur tersebut ada pada seseorang meskipun dia mengaku hanya sebagai tukang pijat bahkan kyai. Di antara fitur tersebut: 1. Bertanya kepada yang sakit pada namanya, nama ibunya, atau semacamnya. 2. Meminta bekas-bekas si sakit baik pakaian, sorban, sapu tangan, kaos, celana, atau sejenisnya dari sesuatu yang biasa dipakai si sakit. Atau bisa juga meminta fotonya. 3. Terkadang meminta hewan dengan sifat tertentu untuk disembelih tanpa menyebut nama Allah SWT, atau dalam rangka diambil darahnya untuk kemudian dilumurkan pada tempat yang sakit pada pasiennya, atau untuk dibuang di tempat kosong. 4. Menulis jampi-jampi dan mantra-mantra yang mengambil kesyirikan. 5. Membaca mantra atau jampi-jampi yang tidak jelas. 6. Memberikan kepada si sakit kain, kertas, atau sejenisnya, dan bergariskan kotak. Di dalamnya ada pula huruf-huruf dan nomor-nomor. 7. Memerintahkan si sakit untuk menjauh dari manusia beberapa saat tertentu di sebuah tempat yang gelap yang tidak dimasuki sinar matahari. 8. Meminta si sakit untuk tidak menyentuh air sebatas waktu tertentu, biasanya selama 40 hari. 9. Memberikan kepada si sakit sesuatu untuk ditanam dalam tanah. 10. Memberikan kepada si sakit sesuatu untuk dibakar dan mengasapi dirinya dengannya. 11. Terkadang mengabarkan kepada si sakit tentang namanya, asal daerahnya, dan problem yang menyebabkan dia datang, padahal belum diberitahu oleh si sakit. 12. Menuliskan untuk si sakit huruf-huruf yang terputus-putus baik di kertas atau mangkok putih, lalu menyuruh si sakit untuk meleburnya dengan air lantas meminumnya. 13. Terkadang menampakkan suatu penghinaan kepada agama misal menyobek tulisan-tulisan ayat Al-Qur'an atau menggunakannya pada sesuatu yang hina. 14. Mayoritas waktunya untuk menyendiri dan menjauh dari orang-orang, karena dia lebih sering bersepi bersama setannya yang membantunya dalam praktik perdukunan. (Kaifa Tatakhallas minas Sihr) Berikut sekedar beberapa fitur dan bukan terbatas pada ini saja. Dengannya, seseorang dapat mengetahui bahwa orang tersebut adalah dukun atau penyihir, apapun nama dan julukannya meskipun terkadang berbalut label-label keagamaan seperti kyai atau ustadz. JARINGAN DUKUN DAN TUKANG RAMAL DAN SILSILAH ILMU MEREKA Telah lewat bahwa perdukunan dan peramalan itu sebuah kekufuran. Untuk mengerti berita tentang orang yang datang bertanya dan pada barangnya yang dicuri, siapa yang mencurinya, barangnya yang hilang dan di mana tempat hilangnya, di sinilah letaknya kerja sama yang baik antara setan di satu pihak dengan dukun atau tukang ramal di pihak yang lain. Muhammad Hamid Al-Faqi berkata dalam komentarnya dalam kitab Fathul Majid (hal. 353): "Adanya hubungan intim antara qarin dari jin dengan qarin dari manusia, keduanya saling menyampaikan dan menemukan berita yang disukai. Qarin dukun dan tukang ramal ini menemukan berita dari qarin orang yang datang bertanya, karena setiap manusia memiliki qarin dari kalangan setan, sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Lalu qarin orang yang bertanya itu memberitahukan kepada qarin dukun atau tukang ramal tersebut segala sesuatu yang merupakan perihal kebiasaan orang yang datang bertanya, dan perihal di rumahnya. " Orang-orang jahil menduga bahwa ini terjadi dari buah keshalihan atau ketakwaan dan karamah. Dengan kebaikannya, dia telah membuka tabir tentang semuanya. Ini termasuk kesesatan yang paling tinggi dan kehinaan yang paling rendah, meskipun banyak orang telah tertipu bahkan orang yang dikatakan berilmu dan baik. " DUKUN PENCIDUK AGAMA DAN HARTA ↑ Setelah pembahasan di atas tidak ada lagi sesuatu yang tersembunyi untuk mereka pada kejahatan para dukun dan tukang prediksi. Mereka adalah para penciduk agama dan juga harta. Penciduk Agama Penciduk agama artinya mereka telah merusak keyakinan kaum muslimin khususnya dalam masalah ilmu gaib. Bahkan dengan sebab mereka, seseorang bisa menjadi kafir keluar dari agama. Mereka adalah perusak salah satu prinsip agama bahkan pondasi keimanan yaitu beriman dengan hal yang gaib, karena hal gaib ilmunya hanya milik Allah subhanahu wata'ala. Allah ta'ala berfirman: ذلك الكتاب لا ريب فيه هدى للمتقين. الذين يؤمنون بالغيب "Itulah Al-Kitab yang tidak ada keraguan padanya petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa yaitu orang-orang yang beriman dengan hal yang gaib." (Al-Baqarah: 201) قل لا يعلم من في السموات والأرض الغيب إلا الله وما يشعرون أيان يبعثون "Katakan: Tidak ada siapapun yang ada di langit dan di bumi mengetahui perkara ghaib selain Allah dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan." (An-Naml: 65) وما كان الله ليطلعكم على الغيب "Allah tidak memperlihatkan kepada kalian hal-hal yang gaib. "(Ali 'Imran: 179) وعنده مفاتح الغيب لا يعلمها إلا هو "Di sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri." (Al-An'am : 59) فقل إنما الغيب لله "Maka katakanlah: Sesungguhnya yang gaib itu hanya milik Allah." (Yunus: 30) قل لا أملك لنفسي نفعا ولا ضرا إلا ما شآء الله ولو كنت أعلم الغيب لاستكثرت من الخير وما مسني السوء إن أنا إلا نذير وبشير لقوم يؤمنون "Katakanlah: Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Jika aku mengetahui yang ghaib, tentunya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman. "(Al-A'raf: 177) Dari Abdullah bin 'Umar radhiyallahu' anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: dunia perdukunan (termasuk paranormal) hadir tak hanya di tingkat akar rumput yang rata-rata berpendidikan rendah. Pun tak semata di area yang dihuni rakyat yang miskin, papa dan hidup terbelakang. Dunia perdukunan menyentuh juga manusia yang hidup dalam kawasan elite, prestisius bahkan borjuis. Perdukunan merambah kemana pun. Menyeruak, masuk ke alam kehidupan semua strata dan latar belakang manusia, kecuali orang-orang yang dirahmati-Nya. (Artikel mendasar tentang ini yakni tentang asal-usul dan hakekat sihir, dapat dibaca disini) Adapun pembahasan disini meliputi: Pengertian dukun secara bahasa (di Indonesia dan luar negeri) dan secara istilah syar'i, dan fitur-fitur, serta hakekat kebenaran dari mereka Dukun adalah penciduk agama dan harta Perdukunan adalah haram, sangat dekat ke kesyirikan dan kekufuran Islam melarang keras mendatangi perdukunan, dan rincian hukuman mendatangi mereka Hukuman untuk dukun dan tukang sihir, dan hukum membantu mereka PENGERTIAN DUKUN ↑ PENGERTIAN DUKUN SECARA Bahasa: Dukun adalah orang yang menyatakan kepada manusia (bahwa dia mengetahui) hal-hal gaib yang belum terjadi dan hal yang tersembunyi (rahasia) untuk manusia. Budaya Makassar: Hasil penelitian ilmiah pada masyarakat Bugis-Makasar, diperoleh beragam keahlian sanro (sebuah istilah paling populer untuk dukun) . Kelompok sanro pappamole, sanro pabballe, atau sanro tomalasa, yaitu dukun yang ahli mengobati orang sakit atau yang berusaha menyembuhkan penyakit. Sanro puru, dukun yang biasa mengobati orang yang sakit puru atau sarampa (cacar). Sanro pattiro-tiro atau sanro paccini-cini atau sanro patontong, yaitu dukun peramal. Misal, menentukan letak barang yang hilang atau dicuri, menyebutkan pelaku atau fitur-fitur pencurinya, dan sebagainya. Dukun ini suka meramal nasib atau masa depan orang, melihat sifat dan tabiat seseorang meski sang dukun hanya tahu nama orangnya, meramal hari atau waktu yang baik seperti hendak bepergian atau melakukan hajat tertentu. Sanro sehere (dukun sihir) yang memelihara jin yang bisa disuruh membawa guna-guna dan memasukkannya ke tubuh seseorang. Budaya Aceh: Di Aceh, terkait masalah kekuatan gaib ini disebut eleumee. Cara untuk memperoleh eleumee disebut dengan praktek eleumee. Beberapa macam eleumee yang tersebar di sebagian masyarakat Aceh seperti eleumee keubay, yaitu ilmu kebal yang membuat kebal terhadap tusukan senjata tajam. Termasuk dalam ilmu kebal ini antara lain eleumee ma'rifat beusoe (ilmu ma'rifat besi), eleumee rante but (ilmu rantai perbuatan). Ada juga eleumee tuba yaitu ilmu untuk membuat racun dan penawarnya. Jenisnya banyak, seperti eleumee jamur yang terkenal berasal dari Lam Teuba, untuk membuat racun dari jamur tertentu. Juga ada yang disebut eleumee burung, ilmu bersahabat dengan makhluk halus. Eleumee pari, di mana burung (burung) yang dipelihara digunakan untuk menjaga tuannya dari serangan gaib. Adapun eleumee sandrung yaitu ilmu untuk memanggil makhluk halus dan memasukkannya ke dalam tubuh manusia. Ada pula yang disebut eleumee akhirat atau lebih dikenal dengan kramat. Kekuatan kramat bersifat umum, seperti mengobati yang sakit, mengusir setan, meluncurkan usaha mencari rezeki, dan pergi shalat Jumat ke Makkah. Kisah tentang ureueng kramat (orang kramat) selalu berkisar di dayah (pesantren) dan alim ulama, karena eleumee ini senantiasa disandingkan dengan nilai-nilai agama. Namun, dalam batas tertentu hal itu menjadi kabur. Karena, seseorang yang menginginkan posisi kramat nyatanya menghendaki menjadi orang yang memiliki kesaktian, melakukan praktek yang tidak bersumber pada nilai-nilai agama yang benar, bahkan justru melakukan perbuatan bid'ah. Praktik yang sering dilakukan ureueng kramat maupun yang memiliki eleumee, yaitu dengan memberi ajemmat. Ajemmat adalah secarik kertas yang ditulisi atau digambari huruf Arab. Isinya beragam, ada berupa tulisan kutipan ayat suci, ada pula hanya huruf yang tidak dipahami maknanya. Secarik kertas tersebut lantas disimpan dalam saku, ikat pinggang atau dibakar lantas abunya digosokkan pada tubuh atau dimasukkan ke air di gelas lalu diminum airnya. Mirip ajemmat, dikenal pula tangkay. Yaitu sebuah benda yang dianggap memiliki kekuatan yang bersifat melindungi pemiliknya. Benda-benda yang dipakai sebagai tangkay seperti batu akik, daun-daunan, benang warna-warni, dan lain-lain. (Dukun, Mantra dan Kepercayaan Masyarakat, T. Sianipar, Al-Wisol, Munawir Yusuf, hal. 17-19 dan 147-149) Budaya Jawa: Dalam kehidupan masyarakat Jawa juga tumbuh pemahaman tentang perdukunan. Dukun perewangan, yaitu dukun yang bertindak sebagai mediator dalam masalah mistik. Dukun wiwit, yaitu yang melakukan upacara panen. Dukun temanten, yang mengatur prosesi upacara pengantin agar tidak terganggu. Dukun ramal. Dukun sihir. Dukun susuk, dukun yang menangani peristiwa-peristiwa alam, seperti menahan hujan atau membantu agar barang-barang yang ada tidak hilang dicuri. Masih banyak lagi ragam dukun yang ada dalam kehidupan masyarakat Jawa. Maka, dari beberapa bentuk aktivitas dukun pada, ada beberapa kategori yang menjadikan sebagian masyarakat meminta bantuan kepada dukun. Di antaranya, masyarakat datang ke seorang dukun lantaran terkait masalah kesehatan, penyakit, masalah karir jabatan, masalah ekonomi, bisnis atau sejenisnya, masalah jodoh, hubungan suami istri, dan masalah keamanan secara umum. Kemajuan peradaban manusia, seringkali diukur dengan kemajuan teknologi dan semakin lepasnya masyarakat dari praktik-praktik berbau takhayul. Namun, di zaman sekarang ini praktek perdukunan justru marak bak jamur di musim penghujan. Penting diketahui, sebenarnya praktik perdukunan bukanlah khusus masyarakat tribal (kesukuan) dan tradisional yang melambangkan keterbelakangan. Bangsa maju dan modern di Eropa dan Amerika yang mengagungkan rasionalitas juga punya sejarah perdukunan, berwujud santet (witchcraft). Di Indonesia, praktik perdukunan memiliki akar kuat dalam sejarah bangsa, bahkan dukun dan politik merupakan gejala sosial yang lazim. Kontestasi politik untuk merebut kekuasaan pada zaman kerajaan di Indonesia pramodern selalu ditopang kekuatan magis. Semuanya ini memberikan gambaran yang nyata, bahwa perdukunan memang sudah dikenal lama oleh masyarakat kita. Dan ilmu ini pun turun-menurun saling diwariskan oleh anak-anak bangsa, sampai saat ini para dukun masih mendapatkan tempat bukan saja di sisi masyarakat tradisional, tetapi juga di tengah lingkungan modern. Walhasil kini mereka yang pergi ke dukun kemudian percaya pada kekuatan magis dan menjalankan praktik perdukunan tak mengenal status sosial: kelas bawah, menengah bahkan atas. Sensasi para dukun itu mampu melampaui semua tingkat pendidikan. Banyak di antara mereka yang datang ke dukun merupakan representasi orang-orang terpelajar yang berpikiran rasional. Sebenarnya, dukun atau paranormal tidak ada bedanya, karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu mengemukakan, bahwa paranormal adalah nama lain dari dukun dan ahli nujum (Fathul Majid, hal. 338). Maka, dukun atau paranormal adalah dua nama yang saling terkait, kadang salah satunya menjadi tanda untuk yang lainnya. Belakangan, di tanah air kita, fenomena perdukunan dan ramalan semakin menggeliat seiring dengan suasana yang kondusif untuk para pelakunya untuk tampil berani tanpa ada beban. Berapa banyak iklan-iklan yang menawarkan jasa meramal cukup via SMS, yang dalam istilah mereka berarti Supranatural Messages Service. Atau juga, praktik pengobatan alternatif yang sudah menjadi suguhan iklan harian di koran-koran dan tabloid. Berapa banyak sekarang ini penderita penyakit yang tidak terdeteksi penyakitnya sekalipun telah memanfaatkan kemajuan teknologi kedokteran. Usut punya usut, salah satu penyebabnya adalah karena penyakit tersebut merupakan penyakit "pesanan" yang dikirim oleh para dukun dengan menggunakan kekuatan gaib bernama setan. Praktik sihir, prediksi, dan perdukunan sendiri telah dikenal di masyarakat Arab dengan beberapa istilah. Para dukun dan peramal itu terkadang disebut: 1. Kahin: Al-Baghawi rahimahullahu mengatakan bahwa Al-Kahin adalah seseorang yang mengabarkan sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Ada pula yang mengatakan, al-kahin adalah yang mengabarkan apa yang tersembunyi dalam qalbu. (Lihat Majmu 'Fatawa, 35/173) 2. 'Arraf: 'Arraf merupakan bentuk mubalaghah (penyangatan) dari kata' arif (yang tahu-admin). Ada sebagian ulama mengatakan bahwa 'arraf itu sama dengan kahin (dukun) yaitu orang yang memberitahukan tentang sesuatu yang akan datang. Sebagian yang lain mengatakan 'arraf adalah nama umum dari kata kahin, dukun, munajjim, rammal, dan lainnya, yaitu orang yang berbicara tentang sesuatu yang gaib dengan tanda-tanda yang dia pergunakan. Di antara alat yang dipergunakan untuk mengetahui hal yang gaib adalah: pertama, melalui kasyf (baca: terawangan); dan kedua, melalui setan. Al-Imam Al-Baghawi rahimahullahu mengatakan: "Arraf adalah orang yang mengaku mengerti suatu benda atau barang yang dicuri, tempat hilangnya, atau selainnya, dengan tanda-tanda tertentu . " Disebutkan pula bahwa 'arraf adalah juga dukun. Dua nama namun menunjukkan sesuatu yang satu. Dinyatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu bahwa al-'arraf adalah nama untuk dukun, tukang sihir, dan rammal. (Syarhu Kitabit Tauhid, hal. 255-256) Walhasil, 'arraf dan kahin adalah orang yang mengambil ilmu dari mustariqus sama' (para pencuri berita dari langit) yaitu para setan. 3. Rammal: Raml dalam bahasa Arab berarti pasir yang lembut. Rammal adalah seorang tukang ramal yang menggarisbawahi-garis di pasir untuk meramal sesuatu. Ilmu ini telah dikenal di masyarakat Arab dengan sebutan ilmu raml. 4. Munajjim, ahli ilmu nujum: Nujum artinya bintang-bintang. Akhir-akhir ini populer dengan nama astrologi (ilmu perbintangan) yang dipakai untuk meramal nasib. 5. Sahir, tukang sihir: Ini lebih jahat dari yang sebelumnya, karena dia tidak hanya terkait dengan prediksi bahkan dengan ilmu sihir yang identik dengan kejahatan. Dan masih ada lagi tentunya istilah lain. Namun hakikatnya semuanya bermuara pada satu titik kesamaan yaitu meramal, mengaku mengetahui hal ghaib (sesuatu yang belum diketahui) yang akan datang, baik itu terkait dengan nasib seseorang, suatu peristiwa, mujur dan celaka, atau sejenisnya. Perbedaannya hanyalah dalam penggunaan alat yang dipakai untuk meramal. Ada yang memakai kerikil, bintang, atau yang lain. Dengan demikian, apapun nama dan julukannya, baik disebut dukun, tukang sihir, paranormal, 'orang pintar', 'orang tua', spiritualis, ahli metafisika, atau bahkan mencatut nama kyai dan gurutta (sebutan untuk tokoh agama di Sulawesi Selatan), atau nama-nama lain, jika dia bicara dalam hal prediksi-prediksi dengan cara-cara seperti di atas maka itu hukumnya sama: haram dan syirik, menyekutukan Allah SWT. Demikian pula istilah-istilah ilmu yang mereka gunakan, baik disebut horoskop, zodiak, astrologi, ilmu nujum, ilmu spiritual, metafisika, supranatural, ilmu hitam, ilmu putih, sihir, hipnotis dan ilmu sugesti, feng shui, geomanci, berkedok pengobatan alternatif atau bahkan pengobatan Islami, serta apapun namanya, maka hukumnya juga sama, haram. (Lihat pembahasan selanjutnya di bawah) PENGERTIAN DUKUN SECARA SYARIAT: Sebenarnya dukun dan perdukunan bukanlah sesuatu yang baru atau asing dalam sejarah kehidupan manusia. Keberadaannya sudah sangat lama, bahkan sebelum datangnya Islam dan diutusnya Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah SWT berfirman: ألم تر إلى الذين أوتوا نصيبا من الكتاب يؤمنون بالجبت والطاغوت ويقولون للذين كفروا هؤلاء أهدى من الذين ءامنوا سبيلا "Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al-Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. "(An-Nisa ': 51) Ath-Thabari rahimahullahu menyebutkan dalam Tafsirnya (2 / 7726), dengan sanadnya sendiri dari Sa'id bin Jubair, bahwa-tentang ayat ini-ia mengatakan, yang dinamakan jibt dalam bahasa Habasyah adalah Sahir (penyihir) sedangkan yang dimaksud dengan thaghut adalah kahin (dukun). Kala itu, perdukunan benar-benar mendapat tempat di hati banyak orang. Karena mereka meyakini, para dukun memiliki pengetahuan tentang ilmu gaib. Orang-orang pun berduyun-duyun mendatanginya, mengadukan segala permasalahan yang dihadapinya untuk kemudian menjalankan petuah-petuahnya. Al-Imam Muslim rahimahullahu di dalam kitab Shahihnya, bab Tahrimul Kahanah wa Ityanul Kahin, meriwayatkan dari Mu'awiyah bin Al-Hakam As-Sulami radhiyallahu 'anhu, bahwa ia menceritakan: Aku sampaikan kepada Rasulullah Shallallahu' alaihi wa sallam beberapa hal yang pernah kami lakukan di masa jahiliyah, yaitu bahwa kami biasa mendatangi para dukun. Beliau bersabda: فلا تأتوا الكهان. قال: قلت: كنا نتطير. قال: ذاك شيء يجده أحدكم في نفسه فلا يصدنكم "Jangan sekali-kali kalian mendatangi dukun-dukun itu." Aku ceritakan lagi kepada beliau, "Kami biasa ber-tathayyur." Beliau bersabda: "Itu hanyalah sesuatu yang dirasakan oleh seseorang di dalam dirinya. Maka, janganlah sampai hal itu menghalangi kalian. " Ibnul Atsir rahimahullah mengatakan: "Dukun adalah seseorang yang selalu memberikan berita tentang hal-hal yang belum terjadi pada waktu mendatang dan mengaku mengetahui segala bentuk rahasia. Memang dulu di negeri Arab banyak terdapat dukun seperti syiqq, sathih dan selainnya. Di antara mereka (orang Arab) ada yang menyangka bahwa dukun itu adalah para pemilik jin yang akan menyampaikan berita-berita kepada mereka. Di antara mereka ada pula yang menyangka bahwa dukun adalah orang yang mengetahui yang akan terjadi dengan melihat kepada tanda-tandanya. Tanda-tanda itulah yang akan dipakai untuk menghukumi kejadian-kejadian seperti melalui pembicaraan orang yang diajak bicara atau perbuatannya atau keadaannya, dan ini mereka khususkan istilahnya dengan tukang ramal, Seperti seseorang mengetahui sesuatu yang dicuri dan tempat barang yang hilang dan sebagainya. "(An -Nihayah fii Gharibil Hadits, 4 / 214) Al-Lajnah Ad-Da `imah (Lembaga Fatwa Kerajaan Arab Saudi) mengatakan:" Dukun adalah orang yang mengaku mengetahui hal-hal gaib atau mengetahui segala bentuk rahasia batin. Mayoritas dukun adalah orang-orang yang mempelajari bintang-bintang untuk mengetahui kejadian-kejadian (yang akan terjadi) atau mereka mempergunakan bantuan jin-jin untuk mencuri berita-berita. Dan yang semisal mereka adalah orang-orang yang mempergunakan garis di tanah, melihat di cangkir, atau di telapak tangan atau melihat buku untuk mengetahui ghaib tersebut. "(Fatawa Al-Lajnah Ad-Da` imah, 1/393-394 ) Mayoritas yang terjadi di tengah umat ini adalah pemberitaan yang dilakukan oleh jin-jin terhadap para wali mereka dari kalangan manusia yaitu berita-berita tentang hal gaib yang akan terjadi di muka bumi. Orang-orang jahil menyangka bahwa itu adalah sebuah kasyaf (ilmu membuka tabir) dan sebuah karamah. Dengan itu banyak orang tertipu dan mengira bahwa yang memberitahukan hal tadi adalah seorang wali Allah subhanahu wata'ala padahal dia adalah wali setan. Dukun menurut Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah, adalah seseorang yang mengaku mengetahui hal-hal gaib. Seperti, dirinya mengaku mengetahui peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di muka bumi ini. Mengaku mengetahui pula tempat barang-barang yang raib. Ini semua bisa dilakukan lantaran sang dukun meminta bantuan para setan yang mencuri dengar (menyadap) berita dari langit. Allah SWT berfirman: هل أنبئكم على من تنزل الشياطين. تنزل على كل أفاك أثيم. يلقون السمع وأكثرهم كاذبون "Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun ke tiap-tiap orang lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada setan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta. "(Asy-Syu'ara: 221-223) Setan mencuri dengar dari pernyataan-pernyataan malaikat , lantas oleh setan kata tersebut disampaikan ke telinga dukun. Kemudian sang dukun pun menambah dengan seratus kedustaan ​​bersama kalimat tersebut. Maka manusia pun mengizinkan apa yang dikatakan sang dukun karena kata yang telah didengar setan dari langit. ('Aqidatut Tauhid, hal. 126) Adapun menurut Asy-Syaikh Shalih bin Abdul 'Aziz Alu Asy-Syaikh, hakikat perbuatan dukun adalah dia meminta bantuan kepada jin untuk (mengetahui) berita-berita yang terkait hal-hal gaib di masa lalu atau waktu yang akan datang. Yang tentu saja, hal yang akan datang ini tidak ada yang mengetahui kecuali hanya Allah Jalla wa 'Ala. (Syarhu Kitab At-Tauhid, hal. 250) Nampak keterkaitan antara dukun dengan jin. Praktik dukun yang menggunakan cara-cara magis tidak lepas dari bantuan jin. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya perihal dukun. Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: عن عائشة رضي الله عنها قالت: سأل أناس رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الكهان, فقال لهم رسول الله صلى الله عليه وسلم: إنهم ليسوا بشيئ. فقالوا: يا رسول الله, إنهم يحدثون أحيانا بالشيئ فيكون حقا. فقال رسول الله: تلك الكلمة من الحق يخطفها الجني فيقرقرها في أذن وليه كقرقرة الدجاجة فيخلطون فيها أكثر من مائة كذبة Dari 'Aisyah radhiyallahu' anha ia berkata: Beberapa orang bertanya kepada Rasulullah tentang dukun-dukun. Rasulullah berkata kepada mereka: "Mereka tidak (memiliki) kebenaran sedikitpun." Mereka (para shahabat) berkata: "Terkadang para dukun itu menyampaikan sesuatu dan benar terjadi." Rasulullah menjawab: "Kalimat yang mereka sampaikan itu datang dari Allah yang telah disambar ( dicuri, red) oleh para jin, lalu para jin itu membisikkan ke telinga wali-walinya sebagaimana berkoteknya ayam dan mereka mencampurnya dengan seratus kedustaan. "(HR. Al-Bukhari no. 5429, 5859, 7122 dan Muslim no. 2228) Sungguh para dukun mendapat tempat yang leluasa sebelum Islam ada. Akan tetapi, setelah kedatangan Islam penjagaan langit makin diperketat. Jadilah ruang gerak dukun semakin kecil. Allah SWT mengabarkan terkait keberadaan setan: وأنا لمسنا السماء فوجدناها ملئت حرسا شديدا وشهبا. وأنا كنا نقعد منها مقاعد للسمع فمن يستمع الآن يجد له شهابا رصدا "Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). "(Al-Jin: 8-9) Allah SWT berfirman: إلا من استرق السمع فأتبعه شهاب مبين "Kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang." (Al-Hijr: 18) Asy-Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam hafizhahullah memasukkan dukun dalam kategori tukang sihir. Kata beliau, penyihir meliputi tukang ramal, dukun, 'arraf (orang yang mengaku bisa mengetahui keberadaan barang yang hilang). Kebanyakan dari keempat golongan ini, yaitu penyihir, tukang ramal, dukun, dan 'arraf adalah orang-orang yang menghamba kepada jin dan para setan mereka. Allah SWT berfirman: ولكن الشياطين كفروا "Hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir)." (Al-Baqarah: 102) Firman-Nya: هل أنبئكم على من تنزل الشياطين. تنزل على كل أفاك أثيم. يلقون السمع وأكثرهم كاذبون "Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun ke tiap-tiap orang lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada setan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta. "(Asy-Syu'ara: 221-223) Juga firman Allah SWT : وإن الشياطين ليوحون إلى أوليائهم ليجادلوكم "Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu." (Al-An'am: 121) Barangsiapa, dari keempat macam orang tersebut, yang (mengatakan) tidak mendapat berita dari para setan dan jin, maka dia itu dajjal, pendusta yang melakukan praktik sihir dengan cara menyampaikan kata dusta, menipu demi meraup harta duniawi. (Irsyadun Nazhir ila Ma'rifati 'Alamat As-Sahir, hal. 10) Al-Qadhi Iyadh rahimahullahu berkata: "Perdukunan yang dikenal di dunia Arab terbagi menjadi tiga jenis: Pertama: Seseorang memiliki teman dari kalangan jin, yang memberi tahu kepadanya dari usaha mencuri-curi dengar berita langit. Jenis ini sudah lenyap sejak Allah SWT mengutus Nabi kita Shallallahu 'alaihi wa sallam. (Catatan: Dalam hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang berpendapat sudah lenyap, tidak ada lagi. Ada juga yang berpendapat masih terjadi akan tetapi jarang terjadi dan bukan dalam hal wahyu Allah subhanahu wata'ala. Di antara yang memperkuat pendapat kedua dari ulama masa kini adalah Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan Asy-Syaikh Shalih Alu Syaikh-ed) Kedua: Setan mengabarkan kepadanya sesuatu yang terjadi di tempat-tempat lain yang tidak bisa diketahui secara langsung, baik dekat maupun jauh. Yang demikian tidaklah mustahil keberadaannya. Ketiga: Anggota nujum. Untuk jenis ini, Allah SWT menciptakan kekuatan tertentu pada diri sebagian manusia. Akan tetapi, kebohongan di dalamnya biasanya lebih dominan. Di antara jenis ilmu seperti itu, adalah ilmu ramal, pelakunya disebut peramal atau paranormal. Biasanya orangnya mengambil petunjuk dari premis-premis dan sebab-sebab tertentu untuk mengetahui persoalan-persoalan tertentu, serta didukung dengan perdukunan, perbintangan, atau sebab-sebab lain. Jenis-jenis seperti inilah yang disebut dengan perdukunan. Semuanya itu, dianggap dusta oleh syariat. Syariat juga melarang mendatangi dan membenarkan kata mereka. "(Syarh Shahih Muslim, 7 / 333) Hal-ihwal kondisi satu yakni pencurian berita langit, diperinci menjadi tiga kondisi: Pertama: Sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, jumlah mereka banyak sekali . Kedua: Setelah diutusnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dalam kondisi ini, tidak pernah terjadi pencurian berita dari langit. Kalaupun terjadi, itu jarang dan bukan dalam hal wahyu Allah SWT. Ketiga: Setelah beliau meninggal. Kondisinya kembali ke kondisi pertama, namun lebih sedikit dari kondisi sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. (Tamhid Syarah Kitab At-Tauhid, 1 / 447) CIRI-CIRI DUKUN / TUKANG SIHIR Berikut ini beberapa fitur dukun, sehingga dengan mengetahui fitur-fitur tersebut, hendaknya kita berhati-hati bila kita dapati fitur-fitur tersebut ada pada seseorang meskipun dia mengaku hanya sebagai tukang pijat bahkan kyai. Di antara fitur tersebut: 1. Bertanya kepada yang sakit pada namanya, nama ibunya, atau semacamnya. 2. Meminta bekas-bekas si sakit baik pakaian, sorban, sapu tangan, kaos, celana, atau sejenisnya dari sesuatu yang biasa dipakai si sakit. Atau bisa juga meminta fotonya. 3. Terkadang meminta hewan dengan sifat tertentu untuk disembelih tanpa menyebut nama Allah SWT, atau dalam rangka diambil darahnya untuk kemudian dilumurkan pada tempat yang sakit pada pasiennya, atau untuk dibuang di tempat kosong. 4. Menulis jampi-jampi dan mantra-mantra yang mengambil kesyirikan. 5. Membaca mantra atau jampi-jampi yang tidak jelas. 6. Memberikan kepada si sakit kain, kertas, atau sejenisnya, dan bergariskan kotak. Di dalamnya ada pula huruf-huruf dan nomor-nomor. 7. Memerintahkan si sakit untuk menjauh dari manusia beberapa saat tertentu di sebuah tempat yang gelap yang tidak dimasuki sinar matahari. 8. Meminta si sakit untuk tidak menyentuh air sebatas waktu tertentu, biasanya selama 40 hari. 9. Memberikan kepada si sakit sesuatu untuk ditanam dalam tanah. 10. Memberikan kepada si sakit sesuatu untuk dibakar dan mengasapi dirinya dengannya. 11. Terkadang mengabarkan kepada si sakit tentang namanya, asal daerahnya, dan problem yang menyebabkan dia datang, padahal belum diberitahu oleh si sakit. 12. Menuliskan untuk si sakit huruf-huruf yang terputus-putus baik di kertas atau mangkok putih, lalu menyuruh si sakit untuk meleburnya dengan air lantas meminumnya. 13. Terkadang menampakkan suatu penghinaan kepada agama misal menyobek tulisan-tulisan ayat Al-Qur'an atau menggunakannya pada sesuatu yang hina. 14. Mayoritas waktunya untuk menyendiri dan menjauh dari orang-orang, karena dia lebih sering bersepi bersama setannya yang membantunya dalam praktik perdukunan. (Kaifa Tatakhallas minas Sihr) Berikut sekedar beberapa fitur dan bukan terbatas pada ini saja. Dengannya, seseorang dapat mengetahui bahwa orang tersebut adalah dukun atau penyihir, apapun nama dan julukannya meskipun terkadang berbalut label-label keagamaan seperti kyai atau ustadz. JARINGAN DUKUN DAN TUKANG RAMAL DAN SILSILAH ILMU MEREKA Telah lewat bahwa perdukunan dan peramalan itu sebuah kekufuran. Untuk mengerti berita tentang orang yang datang bertanya dan pada barangnya yang dicuri, siapa yang mencurinya, barangnya yang hilang dan di mana tempat hilangnya, di sinilah letaknya kerja sama yang baik antara setan di satu pihak dengan dukun atau tukang ramal di pihak yang lain. Muhammad Hamid Al-Faqi berkata dalam komentarnya dalam kitab Fathul Majid (hal. 353): "Adanya hubungan intim antara qarin dari jin dengan qarin dari manusia, keduanya saling menyampaikan dan menemukan berita yang disukai. Qarin dukun dan tukang ramal ini menemukan berita dari qarin orang yang datang bertanya, karena setiap manusia memiliki qarin dari kalangan setan, sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Lalu qarin orang yang bertanya itu memberitahukan kepada qarin dukun atau tukang ramal tersebut segala sesuatu yang merupakan perihal kebiasaan orang yang datang bertanya, dan perihal di rumahnya. " Orang-orang jahil menduga bahwa ini terjadi dari buah keshalihan atau ketakwaan dan karamah. Dengan kebaikannya, dia telah membuka tabir tentang semuanya. Ini termasuk kesesatan yang paling tinggi dan kehinaan yang paling rendah, meskipun banyak orang telah tertipu bahkan orang yang dikatakan berilmu dan baik. " DUKUN PENCIDUK AGAMA DAN HARTA ↑ Setelah pembahasan di atas tidak ada lagi sesuatu yang tersembunyi untuk mereka pada kejahatan para dukun dan tukang prediksi. Mereka adalah para penciduk agama dan juga harta. Penciduk Agama Penciduk agama artinya mereka telah merusak keyakinan kaum muslimin khususnya dalam masalah ilmu gaib. Bahkan dengan sebab mereka, seseorang bisa menjadi kafir keluar dari agama. Mereka adalah perusak salah satu prinsip agama bahkan pondasi keimanan yaitu beriman dengan hal yang gaib, karena hal gaib ilmunya hanya milik Allah subhanahu wata'ala. Allah ta'ala berfirman: ذلك الكتاب لا ريب فيه هدى للمتقين. الذين يؤمنون بالغيب "Itulah Al-Kitab yang tidak ada keraguan padanya petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa yaitu orang-orang yang beriman dengan hal yang gaib." (Al-Baqarah: 201) قل لا يعلم من في السموات والأرض الغيب إلا الله وما يشعرون أيان يبعثون "Katakan: Tidak ada siapapun yang ada di langit dan di bumi mengetahui perkara ghaib selain Allah dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan." (An-Naml: 65) وما كان الله ليطلعكم على الغيب "Allah tidak memperlihatkan kepada kalian hal-hal yang gaib. "(Ali 'Imran: 179) وعنده مفاتح الغيب لا يعلمها إلا هو "Di sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri." (Al-An'am : 59) فقل إنما الغيب لله "Maka katakanlah: Sesungguhnya yang gaib itu hanya milik Allah." (Yunus: 30) قل لا أملك لنفسي نفعا ولا ضرا إلا ما شآء الله ولو كنت أعلم الغيب لاستكثرت من الخير وما مسني السوء إن أنا إلا نذير وبشير لقوم يؤمنون "Katakanlah: Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Jika aku mengetahui yang ghaib, tentunya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman. "(Al-A'raf: 177) Dari Abdullah bin 'Umar radhiyallahu' anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: dunia perdukunan (termasuk paranormal) hadir tak hanya di tingkat akar rumput yang rata-rata berpendidikan rendah. Pun tak semata di area yang dihuni rakyat yang miskin, papa dan hidup terbelakang. Dunia perdukunan menyentuh juga manusia yang hidup dalam kawasan elite, prestisius bahkan borjuis. Perdukunan merambah kemana pun. Menyeruak, masuk ke alam kehidupan semua strata dan latar belakang manusia, kecuali orang-orang yang dirahmati-Nya. (Artikel mendasar tentang ini yakni tentang asal-usul dan hakekat sihir, dapat dibaca disini) Adapun pembahasan disini meliputi: Pengertian dukun secara bahasa (di Indonesia dan luar negeri) dan secara istilah syar'i, dan fitur-fitur, serta hakekat kebenaran dari mereka Dukun adalah penciduk agama dan harta Perdukunan adalah haram, sangat dekat ke kesyirikan dan kekufuran Islam melarang keras mendatangi perdukunan, dan rincian hukuman mendatangi mereka Hukuman untuk dukun dan tukang sihir, dan hukum membantu mereka PENGERTIAN DUKUN ↑ PENGERTIAN DUKUN SECARA Bahasa: Dukun adalah orang yang menyatakan kepada manusia (bahwa dia mengetahui) hal-hal gaib yang belum terjadi dan hal yang tersembunyi (rahasia) untuk manusia. Budaya Makassar: Hasil penelitian ilmiah pada masyarakat Bugis-Makasar, diperoleh beragam keahlian sanro (sebuah istilah paling populer untuk dukun) . Kelompok sanro pappamole, sanro pabballe, atau sanro tomalasa, yaitu dukun yang ahli mengobati orang sakit atau yang berusaha menyembuhkan penyakit. Sanro puru, dukun yang biasa mengobati orang yang sakit puru atau sarampa (cacar). Sanro pattiro-tiro atau sanro paccini-cini atau sanro patontong, yaitu dukun peramal. Misal, menentukan letak barang yang hilang atau dicuri, menyebutkan pelaku atau fitur-fitur pencurinya, dan sebagainya. Dukun ini suka meramal nasib atau masa depan orang, melihat sifat dan tabiat seseorang meski sang dukun hanya tahu nama orangnya, meramal hari atau waktu yang baik seperti hendak bepergian atau melakukan hajat tertentu. Sanro sehere (dukun sihir) yang memelihara jin yang bisa disuruh membawa guna-guna dan memasukkannya ke tubuh seseorang. Budaya Aceh: Di Aceh, terkait masalah kekuatan gaib ini disebut eleumee. Cara untuk memperoleh eleumee disebut dengan praktek eleumee. Beberapa macam eleumee yang tersebar di sebagian masyarakat Aceh seperti eleumee keubay, yaitu ilmu kebal yang membuat kebal terhadap tusukan senjata tajam. Termasuk dalam ilmu kebal ini antara lain eleumee ma'rifat beusoe (ilmu ma'rifat besi), eleumee rante but (ilmu rantai perbuatan). Ada juga eleumee tuba yaitu ilmu untuk membuat racun dan penawarnya. Jenisnya banyak, seperti eleumee jamur yang terkenal berasal dari Lam Teuba, untuk membuat racun dari jamur tertentu. Juga ada yang disebut eleumee burung, ilmu bersahabat dengan makhluk halus. Eleumee pari, di mana burung (burung) yang dipelihara digunakan untuk menjaga tuannya dari serangan gaib. Adapun eleumee sandrung yaitu ilmu untuk memanggil makhluk halus dan memasukkannya ke dalam tubuh manusia. Ada pula yang disebut eleumee akhirat atau lebih dikenal dengan kramat. Kekuatan kramat bersifat umum, seperti mengobati yang sakit, mengusir setan, meluncurkan usaha mencari rezeki, dan pergi shalat Jumat ke Makkah. Kisah tentang ureueng kramat (orang kramat) selalu berkisar di dayah (pesantren) dan alim ulama, karena eleumee ini senantiasa disandingkan dengan nilai-nilai agama. Namun, dalam batas tertentu hal itu menjadi kabur. Karena, seseorang yang menginginkan posisi kramat nyatanya menghendaki menjadi orang yang memiliki kesaktian, melakukan praktek yang tidak bersumber pada nilai-nilai agama yang benar, bahkan justru melakukan perbuatan bid'ah. Praktik yang sering dilakukan ureueng kramat maupun yang memiliki eleumee, yaitu dengan memberi ajemmat. Ajemmat adalah secarik kertas yang ditulisi atau digambari huruf Arab. Isinya beragam, ada berupa tulisan kutipan ayat suci, ada pula hanya huruf yang tidak dipahami maknanya. Secarik kertas tersebut lantas disimpan dalam saku, ikat pinggang atau dibakar lantas abunya digosokkan pada tubuh atau dimasukkan ke air di gelas lalu diminum airnya. Mirip ajemmat, dikenal pula tangkay. Yaitu sebuah benda yang dianggap memiliki kekuatan yang bersifat melindungi pemiliknya. Benda-benda yang dipakai sebagai tangkay seperti batu akik, daun-daunan, benang warna-warni, dan lain-lain. (Dukun, Mantra dan Kepercayaan Masyarakat, T. Sianipar, Al-Wisol, Munawir Yusuf, hal. 17-19 dan 147-149) Budaya Jawa: Dalam kehidupan masyarakat Jawa juga tumbuh pemahaman tentang perdukunan. Dukun perewangan, yaitu dukun yang bertindak sebagai mediator dalam masalah mistik. Dukun wiwit, yaitu yang melakukan upacara panen. Dukun temanten, yang mengatur prosesi upacara pengantin agar tidak terganggu. Dukun ramal. Dukun sihir. Dukun susuk, dukun yang menangani peristiwa-peristiwa alam, seperti menahan hujan atau membantu agar barang-barang yang ada tidak hilang dicuri. Masih banyak lagi ragam dukun yang ada dalam kehidupan masyarakat Jawa. Maka, dari beberapa bentuk aktivitas dukun pada, ada beberapa kategori yang menjadikan sebagian masyarakat meminta bantuan kepada dukun. Di antaranya, masyarakat datang ke seorang dukun lantaran terkait masalah kesehatan, penyakit, masalah karir jabatan, masalah ekonomi, bisnis atau sejenisnya, masalah jodoh, hubungan suami istri, dan masalah keamanan secara umum. Kemajuan peradaban manusia, seringkali diukur dengan kemajuan teknologi dan semakin lepasnya masyarakat dari praktik-praktik berbau takhayul. Namun, di zaman sekarang ini praktek perdukunan justru marak bak jamur di musim penghujan. Penting diketahui, sebenarnya praktik perdukunan bukanlah khusus masyarakat tribal (kesukuan) dan tradisional yang melambangkan keterbelakangan. Bangsa maju dan modern di Eropa dan Amerika yang mengagungkan rasionalitas juga punya sejarah perdukunan, berwujud santet (witchcraft). Di Indonesia, praktik perdukunan memiliki akar kuat dalam sejarah bangsa, bahkan dukun dan politik merupakan gejala sosial yang lazim. Kontestasi politik untuk merebut kekuasaan pada zaman kerajaan di Indonesia pramodern selalu ditopang kekuatan magis. Semuanya ini memberikan gambaran yang nyata, bahwa perdukunan memang sudah dikenal lama oleh masyarakat kita. Dan ilmu ini pun turun-menurun saling diwariskan oleh anak-anak bangsa, sampai saat ini para dukun masih mendapatkan tempat bukan saja di sisi masyarakat tradisional, tetapi juga di tengah lingkungan modern. Walhasil kini mereka yang pergi ke dukun kemudian percaya pada kekuatan magis dan menjalankan praktik perdukunan tak mengenal status sosial: kelas bawah, menengah bahkan atas. Sensasi para dukun itu mampu melampaui semua tingkat pendidikan. Banyak di antara mereka yang datang ke dukun merupakan representasi orang-orang terpelajar yang berpikiran rasional. Sebenarnya, dukun atau paranormal tidak ada bedanya, karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu mengemukakan, bahwa paranormal adalah nama lain dari dukun dan ahli nujum (Fathul Majid, hal. 338). Maka, dukun atau paranormal adalah dua nama yang saling terkait, kadang salah satunya menjadi tanda untuk yang lainnya. Belakangan, di tanah air kita, fenomena perdukunan dan ramalan semakin menggeliat seiring dengan suasana yang kondusif untuk para pelakunya untuk tampil berani tanpa ada beban. Berapa banyak iklan-iklan yang menawarkan jasa meramal cukup via SMS, yang dalam istilah mereka berarti Supranatural Messages Service. Atau juga, praktik pengobatan alternatif yang sudah menjadi suguhan iklan harian di koran-koran dan tabloid. Berapa banyak sekarang ini penderita penyakit yang tidak terdeteksi penyakitnya sekalipun telah memanfaatkan kemajuan teknologi kedokteran. Usut punya usut, salah satu penyebabnya adalah karena penyakit tersebut merupakan penyakit "pesanan" yang dikirim oleh para dukun dengan menggunakan kekuatan gaib bernama setan. Praktik sihir, prediksi, dan perdukunan sendiri telah dikenal di masyarakat Arab dengan beberapa istilah. Para dukun dan peramal itu terkadang disebut: 1. Kahin: Al-Baghawi rahimahullahu mengatakan bahwa Al-Kahin adalah seseorang yang mengabarkan sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Ada pula yang mengatakan, al-kahin adalah yang mengabarkan apa yang tersembunyi dalam qalbu. (Lihat Majmu 'Fatawa, 35/173) 2. 'Arraf: 'Arraf merupakan bentuk mubalaghah (penyangatan) dari kata' arif (yang tahu-admin). Ada sebagian ulama mengatakan bahwa 'arraf itu sama dengan kahin (dukun) yaitu orang yang memberitahukan tentang sesuatu yang akan datang. Sebagian yang lain mengatakan 'arraf adalah nama umum dari kata kahin, dukun, munajjim, rammal, dan lainnya, yaitu orang yang berbicara tentang sesuatu yang gaib dengan tanda-tanda yang dia pergunakan. Di antara alat yang dipergunakan untuk mengetahui hal yang gaib adalah: pertama, melalui kasyf (baca: terawangan); dan kedua, melalui setan. Al-Imam Al-Baghawi rahimahullahu mengatakan: "Arraf adalah orang yang mengaku mengerti suatu benda atau barang yang dicuri, tempat hilangnya, atau selainnya, dengan tanda-tanda tertentu . " Disebutkan pula bahwa 'arraf adalah juga dukun. Dua nama namun menunjukkan sesuatu yang satu. Dinyatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu bahwa al-'arraf adalah nama untuk dukun, tukang sihir, dan rammal. (Syarhu Kitabit Tauhid, hal. 255-256) Walhasil, 'arraf dan kahin adalah orang yang mengambil ilmu dari mustariqus sama' (para pencuri berita dari langit) yaitu para setan. 3. Rammal: Raml dalam bahasa Arab berarti pasir yang lembut. Rammal adalah seorang tukang ramal yang menggarisbawahi-garis di pasir untuk meramal sesuatu. Ilmu ini telah dikenal di masyarakat Arab dengan sebutan ilmu raml. 4. Munajjim, ahli ilmu nujum: Nujum artinya bintang-bintang. Akhir-akhir ini populer dengan nama astrologi (ilmu perbintangan) yang dipakai untuk meramal nasib. 5. Sahir, tukang sihir: Ini lebih jahat dari yang sebelumnya, karena dia tidak hanya terkait dengan prediksi bahkan dengan ilmu sihir yang identik dengan kejahatan. Dan masih ada lagi tentunya istilah lain. Namun hakikatnya semuanya bermuara pada satu titik kesamaan yaitu meramal, mengaku mengetahui hal ghaib (sesuatu yang belum diketahui) yang akan datang, baik itu terkait dengan nasib seseorang, suatu peristiwa, mujur dan celaka, atau sejenisnya. Perbedaannya hanyalah dalam penggunaan alat yang dipakai untuk meramal. Ada yang memakai kerikil, bintang, atau yang lain. Dengan demikian, apapun nama dan julukannya, baik disebut dukun, tukang sihir, paranormal, 'orang pintar', 'orang tua', spiritualis, ahli metafisika, atau bahkan mencatut nama kyai dan gurutta (sebutan untuk tokoh agama di Sulawesi Selatan), atau nama-nama lain, jika dia bicara dalam hal prediksi-prediksi dengan cara-cara seperti di atas maka itu hukumnya sama: haram dan syirik, menyekutukan Allah SWT. Demikian pula istilah-istilah ilmu yang mereka gunakan, baik disebut horoskop, zodiak, astrologi, ilmu nujum, ilmu spiritual, metafisika, supranatural, ilmu hitam, ilmu putih, sihir, hipnotis dan ilmu sugesti, feng shui, geomanci, berkedok pengobatan alternatif atau bahkan pengobatan Islami, serta apapun namanya, maka hukumnya juga sama, haram. (Lihat pembahasan selanjutnya di bawah) PENGERTIAN DUKUN SECARA SYARIAT: Sebenarnya dukun dan perdukunan bukanlah sesuatu yang baru atau asing dalam sejarah kehidupan manusia. Keberadaannya sudah sangat lama, bahkan sebelum datangnya Islam dan diutusnya Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah SWT berfirman: ألم تر إلى الذين أوتوا نصيبا من الكتاب يؤمنون بالجبت والطاغوت ويقولون للذين كفروا هؤلاء أهدى من الذين ءامنوا سبيلا "Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al-Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. "(An-Nisa ': 51) Ath-Thabari rahimahullahu menyebutkan dalam Tafsirnya (2 / 7726), dengan sanadnya sendiri dari Sa'id bin Jubair, bahwa-tentang ayat ini-ia mengatakan, yang dinamakan jibt dalam bahasa Habasyah adalah Sahir (penyihir) sedangkan yang dimaksud dengan thaghut adalah kahin (dukun). Kala itu, perdukunan benar-benar mendapat tempat di hati banyak orang. Karena mereka meyakini, para dukun memiliki pengetahuan tentang ilmu gaib. Orang-orang pun berduyun-duyun mendatanginya, mengadukan segala permasalahan yang dihadapinya untuk kemudian menjalankan petuah-petuahnya. Al-Imam Muslim rahimahullahu di dalam kitab Shahihnya, bab Tahrimul Kahanah wa Ityanul Kahin, meriwayatkan dari Mu'awiyah bin Al-Hakam As-Sulami radhiyallahu 'anhu, bahwa ia menceritakan: Aku sampaikan kepada Rasulullah Shallallahu' alaihi wa sallam beberapa hal yang pernah kami lakukan di masa jahiliyah, yaitu bahwa kami biasa mendatangi para dukun. Beliau bersabda: فلا تأتوا الكهان. قال: قلت: كنا نتطير. قال: ذاك شيء يجده أحدكم في نفسه فلا يصدنكم "Jangan sekali-kali kalian mendatangi dukun-dukun itu." Aku ceritakan lagi kepada beliau, "Kami biasa ber-tathayyur." Beliau bersabda: "Itu hanyalah sesuatu yang dirasakan oleh seseorang di dalam dirinya. Maka, janganlah sampai hal itu menghalangi kalian. " Ibnul Atsir rahimahullah mengatakan: "Dukun adalah seseorang yang selalu memberikan berita tentang hal-hal yang belum terjadi pada waktu mendatang dan mengaku mengetahui segala bentuk rahasia. Memang dulu di negeri Arab banyak terdapat dukun seperti syiqq, sathih dan selainnya. Di antara mereka (orang Arab) ada yang menyangka bahwa dukun itu adalah para pemilik jin yang akan menyampaikan berita-berita kepada mereka. Di antara mereka ada pula yang menyangka bahwa dukun adalah orang yang mengetahui yang akan terjadi dengan melihat kepada tanda-tandanya. Tanda-tanda itulah yang akan dipakai untuk menghukumi kejadian-kejadian seperti melalui pembicaraan orang yang diajak bicara atau perbuatannya atau keadaannya, dan ini mereka khususkan istilahnya dengan tukang ramal, Seperti seseorang mengetahui sesuatu yang dicuri dan tempat barang yang hilang dan sebagainya. "(An -Nihayah fii Gharibil Hadits, 4 / 214) Al-Lajnah Ad-Da `imah (Lembaga Fatwa Kerajaan Arab Saudi) mengatakan:" Dukun adalah orang yang mengaku mengetahui hal-hal gaib atau mengetahui segala bentuk rahasia batin. Mayoritas dukun adalah orang-orang yang mempelajari bintang-bintang untuk mengetahui kejadian-kejadian (yang akan terjadi) atau mereka mempergunakan bantuan jin-jin untuk mencuri berita-berita. Dan yang semisal mereka adalah orang-orang yang mempergunakan garis di tanah, melihat di cangkir, atau di telapak tangan atau melihat buku untuk mengetahui ghaib tersebut. "(Fatawa Al-Lajnah Ad-Da` imah, 1/393-394 ) Mayoritas yang terjadi di tengah umat ini adalah pemberitaan yang dilakukan oleh jin-jin terhadap para wali mereka dari kalangan manusia yaitu berita-berita tentang hal gaib yang akan terjadi di muka bumi. Orang-orang jahil menyangka bahwa itu adalah sebuah kasyaf (ilmu membuka tabir) dan sebuah karamah. Dengan itu banyak orang tertipu dan mengira bahwa yang memberitahukan hal tadi adalah seorang wali Allah subhanahu wata'ala padahal dia adalah wali setan. Dukun menurut Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah, adalah seseorang yang mengaku mengetahui hal-hal gaib. Seperti, dirinya mengaku mengetahui peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di muka bumi ini. Mengaku mengetahui pula tempat barang-barang yang raib. Ini semua bisa dilakukan lantaran sang dukun meminta bantuan para setan yang mencuri dengar (menyadap) berita dari langit. Allah SWT berfirman: هل أنبئكم على من تنزل الشياطين. تنزل على كل أفاك أثيم. يلقون السمع وأكثرهم كاذبون "Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun ke tiap-tiap orang lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada setan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta. "(Asy-Syu'ara: 221-223) Setan mencuri dengar dari pernyataan-pernyataan malaikat , lantas oleh setan kata tersebut disampaikan ke telinga dukun. Kemudian sang dukun pun menambah dengan seratus kedustaan ​​bersama kalimat tersebut. Maka manusia pun mengizinkan apa yang dikatakan sang dukun karena kata yang telah didengar setan dari langit. ('Aqidatut Tauhid, hal. 126) Adapun menurut Asy-Syaikh Shalih bin Abdul 'Aziz Alu Asy-Syaikh, hakikat perbuatan dukun adalah dia meminta bantuan kepada jin untuk (mengetahui) berita-berita yang terkait hal-hal gaib di masa lalu atau waktu yang akan datang. Yang tentu saja, hal yang akan datang ini tidak ada yang mengetahui kecuali hanya Allah Jalla wa 'Ala. (Syarhu Kitab At-Tauhid, hal. 250) Nampak keterkaitan antara dukun dengan jin. Praktik dukun yang menggunakan cara-cara magis tidak lepas dari bantuan jin. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya perihal dukun. Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: عن عائشة رضي الله عنها قالت: سأل أناس رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الكهان, فقال لهم رسول الله صلى الله عليه وسلم: إنهم ليسوا بشيئ. فقالوا: يا رسول الله, إنهم يحدثون أحيانا بالشيئ فيكون حقا. فقال رسول الله: تلك الكلمة من الحق يخطفها الجني فيقرقرها في أذن وليه كقرقرة الدجاجة فيخلطون فيها أكثر من مائة كذبة Dari 'Aisyah radhiyallahu' anha ia berkata: Beberapa orang bertanya kepada Rasulullah tentang dukun-dukun. Rasulullah berkata kepada mereka: "Mereka tidak (memiliki) kebenaran sedikitpun." Mereka (para shahabat) berkata: "Terkadang para dukun itu menyampaikan sesuatu dan benar terjadi." Rasulullah menjawab: "Kalimat yang mereka sampaikan itu datang dari Allah yang telah disambar ( dicuri, red) oleh para jin, lalu para jin itu membisikkan ke telinga wali-walinya sebagaimana berkoteknya ayam dan mereka mencampurnya dengan seratus kedustaan. "(HR. Al-Bukhari no. 5429, 5859, 7122 dan Muslim no. 2228) Sungguh para dukun mendapat tempat yang leluasa sebelum Islam ada. Akan tetapi, setelah kedatangan Islam penjagaan langit makin diperketat. Jadilah ruang gerak dukun semakin kecil. Allah SWT mengabarkan terkait keberadaan setan: وأنا لمسنا السماء فوجدناها ملئت حرسا شديدا وشهبا. وأنا كنا نقعد منها مقاعد للسمع فمن يستمع الآن يجد له شهابا رصدا "Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). "(Al-Jin: 8-9) Allah SWT berfirman: إلا من استرق السمع فأتبعه شهاب مبين "Kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang." (Al-Hijr: 18) Asy-Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam hafizhahullah memasukkan dukun dalam kategori tukang sihir. Kata beliau, penyihir meliputi tukang ramal, dukun, 'arraf (orang yang mengaku bisa mengetahui keberadaan barang yang hilang). Kebanyakan dari keempat golongan ini, yaitu penyihir, tukang ramal, dukun, dan 'arraf adalah orang-orang yang menghamba kepada jin dan para setan mereka. Allah SWT berfirman: ولكن الشياطين كفروا "Hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir)." (Al-Baqarah: 102) Firman-Nya: هل أنبئكم على من تنزل الشياطين. تنزل على كل أفاك أثيم. يلقون السمع وأكثرهم كاذبون "Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun ke tiap-tiap orang lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada setan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta. "(Asy-Syu'ara: 221-223) Juga firman Allah SWT : وإن الشياطين ليوحون إلى أوليائهم ليجادلوكم "Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu." (Al-An'am: 121) Barangsiapa, dari keempat macam orang tersebut, yang (mengatakan) tidak mendapat berita dari para setan dan jin, maka dia itu dajjal, pendusta yang melakukan praktik sihir dengan cara menyampaikan kata dusta, menipu demi meraup harta duniawi. (Irsyadun Nazhir ila Ma'rifati 'Alamat As-Sahir, hal. 10) Al-Qadhi Iyadh rahimahullahu berkata: "Perdukunan yang dikenal di dunia Arab terbagi menjadi tiga jenis: Pertama: Seseorang memiliki teman dari kalangan jin, yang memberi tahu kepadanya dari usaha mencuri-curi dengar berita langit. Jenis ini sudah lenyap sejak Allah SWT mengutus Nabi kita Shallallahu 'alaihi wa sallam. (Catatan: Dalam hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang berpendapat sudah lenyap, tidak ada lagi. Ada juga yang berpendapat masih terjadi akan tetapi jarang terjadi dan bukan dalam hal wahyu Allah subhanahu wata'ala. Di antara yang memperkuat pendapat kedua dari ulama masa kini adalah Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan Asy-Syaikh Shalih Alu Syaikh-ed) Kedua: Setan mengabarkan kepadanya sesuatu yang terjadi di tempat-tempat lain yang tidak bisa diketahui secara langsung, baik dekat maupun jauh. Yang demikian tidaklah mustahil keberadaannya. Ketiga: Anggota nujum. Untuk jenis ini, Allah SWT menciptakan kekuatan tertentu pada diri sebagian manusia. Akan tetapi, kebohongan di dalamnya biasanya lebih dominan. Di antara jenis ilmu seperti itu, adalah ilmu ramal, pelakunya disebut peramal atau paranormal. Biasanya orangnya mengambil petunjuk dari premis-premis dan sebab-sebab tertentu untuk mengetahui persoalan-persoalan tertentu, serta didukung dengan perdukunan, perbintangan, atau sebab-sebab lain. Jenis-jenis seperti inilah yang disebut dengan perdukunan. Semuanya itu, dianggap dusta oleh syariat. Syariat juga melarang mendatangi dan membenarkan kata mereka. "(Syarh Shahih Muslim, 7 / 333) Hal-ihwal kondisi satu yakni pencurian berita langit, diperinci menjadi tiga kondisi: Pertama: Sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, jumlah mereka banyak sekali . Kedua: Setelah diutusnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dalam kondisi ini, tidak pernah terjadi pencurian berita dari langit. Kalaupun terjadi, itu jarang dan bukan dalam hal wahyu Allah SWT. Ketiga: Setelah beliau meninggal. Kondisinya kembali ke kondisi pertama, namun lebih sedikit dari kondisi sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. (Tamhid Syarah Kitab At-Tauhid, 1 / 447) CIRI-CIRI DUKUN / TUKANG SIHIR Berikut ini beberapa fitur dukun, sehingga dengan mengetahui fitur-fitur tersebut, hendaknya kita berhati-hati bila kita dapati fitur-fitur tersebut ada pada seseorang meskipun dia mengaku hanya sebagai tukang pijat bahkan kyai. Di antara fitur tersebut: 1. Bertanya kepada yang sakit pada namanya, nama ibunya, atau semacamnya. 2. Meminta bekas-bekas si sakit baik pakaian, sorban, sapu tangan, kaos, celana, atau sejenisnya dari sesuatu yang biasa dipakai si sakit. Atau bisa juga meminta fotonya. 3. Terkadang meminta hewan dengan sifat tertentu untuk disembelih tanpa menyebut nama Allah SWT, atau dalam rangka diambil darahnya untuk kemudian dilumurkan pada tempat yang sakit pada pasiennya, atau untuk dibuang di tempat kosong. 4. Menulis jampi-jampi dan mantra-mantra yang mengambil kesyirikan. 5. Membaca mantra atau jampi-jampi yang tidak jelas. 6. Memberikan kepada si sakit kain, kertas, atau sejenisnya, dan bergariskan kotak. Di dalamnya ada pula huruf-huruf dan nomor-nomor. 7. Memerintahkan si sakit untuk menjauh dari manusia beberapa saat tertentu di sebuah tempat yang gelap yang tidak dimasuki sinar matahari. 8. Meminta si sakit untuk tidak menyentuh air sebatas waktu tertentu, biasanya selama 40 hari. 9. Memberikan kepada si sakit sesuatu untuk ditanam dalam tanah. 10. Memberikan kepada si sakit sesuatu untuk dibakar dan mengasapi dirinya dengannya. 11. Terkadang mengabarkan kepada si sakit tentang namanya, asal daerahnya, dan problem yang menyebabkan dia datang, padahal belum diberitahu oleh si sakit. 12. Menuliskan untuk si sakit huruf-huruf yang terputus-putus baik di kertas atau mangkok putih, lalu menyuruh si sakit untuk meleburnya dengan air lantas meminumnya. 13. Terkadang menampakkan suatu penghinaan kepada agama misal menyobek tulisan-tulisan ayat Al-Qur'an atau menggunakannya pada sesuatu yang hina. 14. Mayoritas waktunya untuk menyendiri dan menjauh dari orang-orang, karena dia lebih sering bersepi bersama setannya yang membantunya dalam praktik perdukunan. (Kaifa Tatakhallas minas Sihr) Berikut sekedar beberapa fitur dan bukan terbatas pada ini saja. Dengannya, seseorang dapat mengetahui bahwa orang tersebut adalah dukun atau penyihir, apapun nama dan julukannya meskipun terkadang berbalut label-label keagamaan seperti kyai atau ustadz. JARINGAN DUKUN DAN TUKANG RAMAL DAN SILSILAH ILMU MEREKA Telah lewat bahwa perdukunan dan peramalan itu sebuah kekufuran. Untuk mengerti berita tentang orang yang datang bertanya dan pada barangnya yang dicuri, siapa yang mencurinya, barangnya yang hilang dan di mana tempat hilangnya, di sinilah letaknya kerja sama yang baik antara setan di satu pihak dengan dukun atau tukang ramal di pihak yang lain. Muhammad Hamid Al-Faqi berkata dalam komentarnya dalam kitab Fathul Majid (hal. 353): "Adanya hubungan intim antara qarin dari jin dengan qarin dari manusia, keduanya saling menyampaikan dan menemukan berita yang disukai. Qarin dukun dan tukang ramal ini menemukan berita dari qarin orang yang datang bertanya, karena setiap manusia memiliki qarin dari kalangan setan, sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Lalu qarin orang yang bertanya itu memberitahukan kepada qarin dukun atau tukang ramal tersebut segala sesuatu yang merupakan perihal kebiasaan orang yang datang bertanya, dan perihal di rumahnya. " Orang-orang jahil menduga bahwa ini terjadi dari buah keshalihan atau ketakwaan dan karamah. Dengan kebaikannya, dia telah membuka tabir tentang semuanya. Ini termasuk kesesatan yang paling tinggi dan kehinaan yang paling rendah, meskipun banyak orang telah tertipu bahkan orang yang dikatakan berilmu dan baik. " DUKUN PENCIDUK AGAMA DAN HARTA ↑ Setelah pembahasan di atas tidak ada lagi sesuatu yang tersembunyi untuk mereka pada kejahatan para dukun dan tukang prediksi. Mereka adalah para penciduk agama dan juga harta. Penciduk Agama Penciduk agama artinya mereka telah merusak keyakinan kaum muslimin khususnya dalam masalah ilmu gaib. Bahkan dengan sebab mereka, seseorang bisa menjadi kafir keluar dari agama. Mereka adalah perusak salah satu prinsip agama bahkan pondasi keimanan yaitu beriman dengan hal yang gaib, karena hal gaib ilmunya hanya milik Allah subhanahu wata'ala. Allah ta'ala berfirman: ذلك الكتاب لا ريب فيه هدى للمتقين. الذين يؤمنون بالغيب "Itulah Al-Kitab yang tidak ada keraguan padanya petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa yaitu orang-orang yang beriman dengan hal yang gaib." (Al-Baqarah: 201) قل لا يعلم من في السموات والأرض الغيب إلا الله وما يشعرون أيان يبعثون "Katakan: Tidak ada siapapun yang ada di langit dan di bumi mengetahui perkara ghaib selain Allah dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan." (An-Naml: 65) وما كان الله ليطلعكم على الغيب "Allah tidak memperlihatkan kepada kalian hal-hal yang gaib. "(Ali 'Imran: 179) وعنده مفاتح الغيب لا يعلمها إلا هو "Di sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri." (Al-An'am : 59) فقل إنما الغيب لله "Maka katakanlah: Sesungguhnya yang gaib itu hanya milik Allah." (Yunus: 30) قل لا أملك لنفسي نفعا ولا ضرا إلا ما شآء الله ولو كنت أعلم الغيب لاستكثرت من الخير وما مسني السوء إن أنا إلا نذير وبشير لقوم يؤمنون "Katakanlah: Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Jika aku mengetahui yang ghaib, tentunya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman. "(Al-A'raf: 177) Dari Abdullah bin 'Umar radhiyallahu' anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Dunia perdukunan menyentuh juga manusia yang hidup dalam kawasan elite, prestisius bahkan borjuis. Perdukunan merambah kemana pun. Menyeruak, masuk ke alam kehidupan semua strata dan latar belakang manusia, kecuali orang-orang yang dirahmati-Nya. (Artikel mendasar tentang ini yakni tentang asal-usul dan hakekat sihir, dapat dibaca disini) Adapun pembahasan disini meliputi: Pengertian dukun secara bahasa (di Indonesia dan luar negeri) dan secara istilah syar'i, dan fitur-fitur, serta hakekat kebenaran dari mereka Dukun adalah penciduk agama dan harta Perdukunan adalah haram, sangat dekat ke kesyirikan dan kekufuran Islam melarang keras mendatangi perdukunan, dan rincian hukuman mendatangi mereka Hukuman untuk dukun dan tukang sihir, dan hukum membantu mereka PENGERTIAN DUKUN ↑ PENGERTIAN DUKUN SECARA Bahasa: Dukun adalah orang yang menyatakan kepada manusia (bahwa dia mengetahui) hal-hal gaib yang belum terjadi dan hal yang tersembunyi (rahasia) untuk manusia. Budaya Makassar: Hasil penelitian ilmiah pada masyarakat Bugis-Makasar, diperoleh beragam keahlian sanro (sebuah istilah paling populer untuk dukun) . Kelompok sanro pappamole, sanro pabballe, atau sanro tomalasa, yaitu dukun yang ahli mengobati orang sakit atau yang berusaha menyembuhkan penyakit. Sanro puru, dukun yang biasa mengobati orang yang sakit puru atau sarampa (cacar). Sanro pattiro-tiro atau sanro paccini-cini atau sanro patontong, yaitu dukun peramal. Misal, menentukan letak barang yang hilang atau dicuri, menyebutkan pelaku atau fitur-fitur pencurinya, dan sebagainya. Dukun ini suka meramal nasib atau masa depan orang, melihat sifat dan tabiat seseorang meski sang dukun hanya tahu nama orangnya, meramal hari atau waktu yang baik seperti hendak bepergian atau melakukan hajat tertentu. Sanro sehere (dukun sihir) yang memelihara jin yang bisa disuruh membawa guna-guna dan memasukkannya ke tubuh seseorang. Budaya Aceh: Di Aceh, terkait masalah kekuatan gaib ini disebut eleumee. Cara untuk memperoleh eleumee disebut dengan praktek eleumee. Beberapa macam eleumee yang tersebar di sebagian masyarakat Aceh seperti eleumee keubay, yaitu ilmu kebal yang membuat kebal terhadap tusukan senjata tajam. Termasuk dalam ilmu kebal ini antara lain eleumee ma'rifat beusoe (ilmu ma'rifat besi), eleumee rante but (ilmu rantai perbuatan). Ada juga eleumee tuba yaitu ilmu untuk membuat racun dan penawarnya. Jenisnya banyak, seperti eleumee jamur yang terkenal berasal dari Lam Teuba, untuk membuat racun dari jamur tertentu. Juga ada yang disebut eleumee burung, ilmu bersahabat dengan makhluk halus. Eleumee pari, di mana burung (burung) yang dipelihara digunakan untuk menjaga tuannya dari serangan gaib. Adapun eleumee sandrung yaitu ilmu untuk memanggil makhluk halus dan memasukkannya ke dalam tubuh manusia. Ada pula yang disebut eleumee akhirat atau lebih dikenal dengan kramat. Kekuatan kramat bersifat umum, seperti mengobati yang sakit, mengusir setan, meluncurkan usaha mencari rezeki, dan pergi shalat Jumat ke Makkah. Kisah tentang ureueng kramat (orang kramat) selalu berkisar di dayah (pesantren) dan alim ulama, karena eleumee ini senantiasa disandingkan dengan nilai-nilai agama. Namun, dalam batas tertentu hal itu menjadi kabur. Karena, seseorang yang menginginkan posisi kramat nyatanya menghendaki menjadi orang yang memiliki kesaktian, melakukan praktek yang tidak bersumber pada nilai-nilai agama yang benar, bahkan justru melakukan perbuatan bid'ah. Praktik yang sering dilakukan ureueng kramat maupun yang memiliki eleumee, yaitu dengan memberi ajemmat. Ajemmat adalah secarik kertas yang ditulisi atau digambari huruf Arab. Isinya beragam, ada berupa tulisan kutipan ayat suci, ada pula hanya huruf yang tidak dipahami maknanya. Secarik kertas tersebut lantas disimpan dalam saku, ikat pinggang atau dibakar lantas abunya digosokkan pada tubuh atau dimasukkan ke air di gelas lalu diminum airnya. Mirip ajemmat, dikenal pula tangkay. Yaitu sebuah benda yang dianggap memiliki kekuatan yang bersifat melindungi pemiliknya. Benda-benda yang dipakai sebagai tangkay seperti batu akik, daun-daunan, benang warna-warni, dan lain-lain. (Dukun, Mantra dan Kepercayaan Masyarakat, T. Sianipar, Al-Wisol, Munawir Yusuf, hal. 17-19 dan 147-149) Budaya Jawa: Dalam kehidupan masyarakat Jawa juga tumbuh pemahaman tentang perdukunan. Dukun perewangan, yaitu dukun yang bertindak sebagai mediator dalam masalah mistik. Dukun wiwit, yaitu yang melakukan upacara panen. Dukun temanten, yang mengatur prosesi upacara pengantin agar tidak terganggu. Dukun ramal. Dukun sihir. Dukun susuk, dukun yang menangani peristiwa-peristiwa alam, seperti menahan hujan atau membantu agar barang-barang yang ada tidak hilang dicuri. Masih banyak lagi ragam dukun yang ada dalam kehidupan masyarakat Jawa. Maka, dari beberapa bentuk aktivitas dukun pada, ada beberapa kategori yang menjadikan sebagian masyarakat meminta bantuan kepada dukun. Di antaranya, masyarakat datang ke seorang dukun lantaran terkait masalah kesehatan, penyakit, masalah karir jabatan, masalah ekonomi, bisnis atau sejenisnya, masalah jodoh, hubungan suami istri, dan masalah keamanan secara umum. Kemajuan peradaban manusia, seringkali diukur dengan kemajuan teknologi dan semakin lepasnya masyarakat dari praktik-praktik berbau takhayul. Namun, di zaman sekarang ini praktek perdukunan justru marak bak jamur di musim penghujan. Penting diketahui, sebenarnya praktik perdukunan bukanlah khusus masyarakat tribal (kesukuan) dan tradisional yang melambangkan keterbelakangan. Bangsa maju dan modern di Eropa dan Amerika yang mengagungkan rasionalitas juga punya sejarah perdukunan, berwujud santet (witchcraft). Di Indonesia, praktik perdukunan memiliki akar kuat dalam sejarah bangsa, bahkan dukun dan politik merupakan gejala sosial yang lazim. Kontestasi politik untuk merebut kekuasaan pada zaman kerajaan di Indonesia pramodern selalu ditopang kekuatan magis. Semuanya ini memberikan gambaran yang nyata, bahwa perdukunan memang sudah dikenal lama oleh masyarakat kita. Dan ilmu ini pun turun-menurun saling diwariskan oleh anak-anak bangsa, sampai saat ini para dukun masih mendapatkan tempat bukan saja di sisi masyarakat tradisional, tetapi juga di tengah lingkungan modern. Walhasil kini mereka yang pergi ke dukun kemudian percaya pada kekuatan magis dan menjalankan praktik perdukunan tak mengenal status sosial: kelas bawah, menengah bahkan atas. Sensasi para dukun itu mampu melampaui semua tingkat pendidikan. Banyak di antara mereka yang datang ke dukun merupakan representasi orang-orang terpelajar yang berpikiran rasional. Sebenarnya, dukun atau paranormal tidak ada bedanya, karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu mengemukakan, bahwa paranormal adalah nama lain dari dukun dan ahli nujum (Fathul Majid, hal. 338). Maka, dukun atau paranormal adalah dua nama yang saling terkait, kadang salah satunya menjadi tanda untuk yang lainnya. Belakangan, di tanah air kita, fenomena perdukunan dan ramalan semakin menggeliat seiring dengan suasana yang kondusif untuk para pelakunya untuk tampil berani tanpa ada beban. Berapa banyak iklan-iklan yang menawarkan jasa meramal cukup via SMS, yang dalam istilah mereka berarti Supranatural Messages Service. Atau juga, praktik pengobatan alternatif yang sudah menjadi suguhan iklan harian di koran-koran dan tabloid. Berapa banyak sekarang ini penderita penyakit yang tidak terdeteksi penyakitnya sekalipun telah memanfaatkan kemajuan teknologi kedokteran. Usut punya usut, salah satu penyebabnya adalah karena penyakit tersebut merupakan penyakit "pesanan" yang dikirim oleh para dukun dengan menggunakan kekuatan gaib bernama setan. Praktik sihir, prediksi, dan perdukunan sendiri telah dikenal di masyarakat Arab dengan beberapa istilah. Para dukun dan peramal itu terkadang disebut: 1. Kahin: Al-Baghawi rahimahullahu mengatakan bahwa Al-Kahin adalah seseorang yang mengabarkan sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Ada pula yang mengatakan, al-kahin adalah yang mengabarkan apa yang tersembunyi dalam qalbu. (Lihat Majmu 'Fatawa, 35/173) 2. 'Arraf: 'Arraf merupakan bentuk mubalaghah (penyangatan) dari kata' arif (yang tahu-admin). Ada sebagian ulama mengatakan bahwa 'arraf itu sama dengan kahin (dukun) yaitu orang yang memberitahukan tentang sesuatu yang akan datang. Sebagian yang lain mengatakan 'arraf adalah nama umum dari kata kahin, dukun, munajjim, rammal, dan lainnya, yaitu orang yang berbicara tentang sesuatu yang gaib dengan tanda-tanda yang dia pergunakan. Di antara alat yang dipergunakan untuk mengetahui hal yang gaib adalah: pertama, melalui kasyf (baca: terawangan); dan kedua, melalui setan. Al-Imam Al-Baghawi rahimahullahu mengatakan: "Arraf adalah orang yang mengaku mengerti suatu benda atau barang yang dicuri, tempat hilangnya, atau selainnya, dengan tanda-tanda tertentu . " Disebutkan pula bahwa 'arraf adalah juga dukun. Dua nama namun menunjukkan sesuatu yang satu. Dinyatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu bahwa al-'arraf adalah nama untuk dukun, tukang sihir, dan rammal. (Syarhu Kitabit Tauhid, hal. 255-256) Walhasil, 'arraf dan kahin adalah orang yang mengambil ilmu dari mustariqus sama' (para pencuri berita dari langit) yaitu para setan. 3. Rammal: Raml dalam bahasa Arab berarti pasir yang lembut. Rammal adalah seorang tukang ramal yang menggarisbawahi-garis di pasir untuk meramal sesuatu. Ilmu ini telah dikenal di masyarakat Arab dengan sebutan ilmu raml. 4. Munajjim, ahli ilmu nujum: Nujum artinya bintang-bintang. Akhir-akhir ini populer dengan nama astrologi (ilmu perbintangan) yang dipakai untuk meramal nasib. 5. Sahir, tukang sihir: Ini lebih jahat dari yang sebelumnya, karena dia tidak hanya terkait dengan prediksi bahkan dengan ilmu sihir yang identik dengan kejahatan. Dan masih ada lagi tentunya istilah lain. Namun hakikatnya semuanya bermuara pada satu titik kesamaan yaitu meramal, mengaku mengetahui hal ghaib (sesuatu yang belum diketahui) yang akan datang, baik itu terkait dengan nasib seseorang, suatu peristiwa, mujur dan celaka, atau sejenisnya. Perbedaannya hanyalah dalam penggunaan alat yang dipakai untuk meramal. Ada yang memakai kerikil, bintang, atau yang lain. Dengan demikian, apapun nama dan julukannya, baik disebut dukun, tukang sihir, paranormal, 'orang pintar', 'orang tua', spiritualis, ahli metafisika, atau bahkan mencatut nama kyai dan gurutta (sebutan untuk tokoh agama di Sulawesi Selatan), atau nama-nama lain, jika dia bicara dalam hal prediksi-prediksi dengan cara-cara seperti di atas maka itu hukumnya sama: haram dan syirik, menyekutukan Allah SWT. Demikian pula istilah-istilah ilmu yang mereka gunakan, baik disebut horoskop, zodiak, astrologi, ilmu nujum, ilmu spiritual, metafisika, supranatural, ilmu hitam, ilmu putih, sihir, hipnotis dan ilmu sugesti, feng shui, geomanci, berkedok pengobatan alternatif atau bahkan pengobatan Islami, serta apapun namanya, maka hukumnya juga sama, haram. (Lihat pembahasan selanjutnya di bawah) PENGERTIAN DUKUN SECARA SYARIAT: Sebenarnya dukun dan perdukunan bukanlah sesuatu yang baru atau asing dalam sejarah kehidupan manusia. Keberadaannya sudah sangat lama, bahkan sebelum datangnya Islam dan diutusnya Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah SWT berfirman: ألم تر إلى الذين أوتوا نصيبا من الكتاب يؤمنون بالجبت والطاغوت ويقولون للذين كفروا هؤلاء أهدى من الذين ءامنوا سبيلا "Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al-Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. "(An-Nisa ': 51) Ath-Thabari rahimahullahu menyebutkan dalam Tafsirnya (2 / 7726), dengan sanadnya sendiri dari Sa'id bin Jubair, bahwa-tentang ayat ini-ia mengatakan, yang dinamakan jibt dalam bahasa Habasyah adalah Sahir (penyihir) sedangkan yang dimaksud dengan thaghut adalah kahin (dukun). Kala itu, perdukunan benar-benar mendapat tempat di hati banyak orang. Karena mereka meyakini, para dukun memiliki pengetahuan tentang ilmu gaib. Orang-orang pun berduyun-duyun mendatanginya, mengadukan segala permasalahan yang dihadapinya untuk kemudian menjalankan petuah-petuahnya. Al-Imam Muslim rahimahullahu di dalam kitab Shahihnya, bab Tahrimul Kahanah wa Ityanul Kahin, meriwayatkan dari Mu'awiyah bin Al-Hakam As-Sulami radhiyallahu 'anhu, bahwa ia menceritakan: Aku sampaikan kepada Rasulullah Shallallahu' alaihi wa sallam beberapa hal yang pernah kami lakukan di masa jahiliyah, yaitu bahwa kami biasa mendatangi para dukun. Beliau bersabda: فلا تأتوا الكهان. قال: قلت: كنا نتطير. قال: ذاك شيء يجده أحدكم في نفسه فلا يصدنكم "Jangan sekali-kali kalian mendatangi dukun-dukun itu." Aku ceritakan lagi kepada beliau, "Kami biasa ber-tathayyur." Beliau bersabda: "Itu hanyalah sesuatu yang dirasakan oleh seseorang di dalam dirinya. Maka, janganlah sampai hal itu menghalangi kalian. " Ibnul Atsir rahimahullah mengatakan: "Dukun adalah seseorang yang selalu memberikan berita tentang hal-hal yang belum terjadi pada waktu mendatang dan mengaku mengetahui segala bentuk rahasia. Memang dulu di negeri Arab banyak terdapat dukun seperti syiqq, sathih dan selainnya. Di antara mereka (orang Arab) ada yang menyangka bahwa dukun itu adalah para pemilik jin yang akan menyampaikan berita-berita kepada mereka. Di antara mereka ada pula yang menyangka bahwa dukun adalah orang yang mengetahui yang akan terjadi dengan melihat kepada tanda-tandanya. Tanda-tanda itulah yang akan dipakai untuk menghukumi kejadian-kejadian seperti melalui pembicaraan orang yang diajak bicara atau perbuatannya atau keadaannya, dan ini mereka khususkan istilahnya dengan tukang ramal, Seperti seseorang mengetahui sesuatu yang dicuri dan tempat barang yang hilang dan sebagainya. "(An -Nihayah fii Gharibil Hadits, 4 / 214) Al-Lajnah Ad-Da `imah (Lembaga Fatwa Kerajaan Arab Saudi) mengatakan:" Dukun adalah orang yang mengaku mengetahui hal-hal gaib atau mengetahui segala bentuk rahasia batin. Mayoritas dukun adalah orang-orang yang mempelajari bintang-bintang untuk mengetahui kejadian-kejadian (yang akan terjadi) atau mereka mempergunakan bantuan jin-jin untuk mencuri berita-berita. Dan yang semisal mereka adalah orang-orang yang mempergunakan garis di tanah, melihat di cangkir, atau di telapak tangan atau melihat buku untuk mengetahui ghaib tersebut. "(Fatawa Al-Lajnah Ad-Da` imah, 1/393-394 ) Mayoritas yang terjadi di tengah umat ini adalah pemberitaan yang dilakukan oleh jin-jin terhadap para wali mereka dari kalangan manusia yaitu berita-berita tentang hal gaib yang akan terjadi di muka bumi. Orang-orang jahil menyangka bahwa itu adalah sebuah kasyaf (ilmu membuka tabir) dan sebuah karamah. Dengan itu banyak orang tertipu dan mengira bahwa yang memberitahukan hal tadi adalah seorang wali Allah subhanahu wata'ala padahal dia adalah wali setan. Dukun menurut Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah, adalah seseorang yang mengaku mengetahui hal-hal gaib. Seperti, dirinya mengaku mengetahui peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di muka bumi ini. Mengaku mengetahui pula tempat barang-barang yang raib. Ini semua bisa dilakukan lantaran sang dukun meminta bantuan para setan yang mencuri dengar (menyadap) berita dari langit. Allah SWT berfirman: هل أنبئكم على من تنزل الشياطين. تنزل على كل أفاك أثيم. يلقون السمع وأكثرهم كاذبون "Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun ke tiap-tiap orang lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada setan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta. "(Asy-Syu'ara: 221-223) Setan mencuri dengar dari pernyataan-pernyataan malaikat , lantas oleh setan kata tersebut disampaikan ke telinga dukun. Kemudian sang dukun pun menambah dengan seratus kedustaan ​​bersama kalimat tersebut. Maka manusia pun mengizinkan apa yang dikatakan sang dukun karena kata yang telah didengar setan dari langit. ('Aqidatut Tauhid, hal. 126) Adapun menurut Asy-Syaikh Shalih bin Abdul 'Aziz Alu Asy-Syaikh, hakikat perbuatan dukun adalah dia meminta bantuan kepada jin untuk (mengetahui) berita-berita yang terkait hal-hal gaib di masa lalu atau waktu yang akan datang. Yang tentu saja, hal yang akan datang ini tidak ada yang mengetahui kecuali hanya Allah Jalla wa 'Ala. (Syarhu Kitab At-Tauhid, hal. 250) Nampak keterkaitan antara dukun dengan jin. Praktik dukun yang menggunakan cara-cara magis tidak lepas dari bantuan jin. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya perihal dukun. Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: عن عائشة رضي الله عنها قالت: سأل أناس رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الكهان, فقال لهم رسول الله صلى الله عليه وسلم: إنهم ليسوا بشيئ. فقالوا: يا رسول الله, إنهم يحدثون أحيانا بالشيئ فيكون حقا. فقال رسول الله: تلك الكلمة من الحق يخطفها الجني فيقرقرها في أذن وليه كقرقرة الدجاجة فيخلطون فيها أكثر من مائة كذبة Dari 'Aisyah radhiyallahu' anha ia berkata: Beberapa orang bertanya kepada Rasulullah tentang dukun-dukun. Rasulullah berkata kepada mereka: "Mereka tidak (memiliki) kebenaran sedikitpun." Mereka (para shahabat) berkata: "Terkadang para dukun itu menyampaikan sesuatu dan benar terjadi." Rasulullah menjawab: "Kalimat yang mereka sampaikan itu datang dari Allah yang telah disambar ( dicuri, red) oleh para jin, lalu para jin itu membisikkan ke telinga wali-walinya sebagaimana berkoteknya ayam dan mereka mencampurnya dengan seratus kedustaan. "(HR. Al-Bukhari no. 5429, 5859, 7122 dan Muslim no. 2228) Sungguh para dukun mendapat tempat yang leluasa sebelum Islam ada. Akan tetapi, setelah kedatangan Islam penjagaan langit makin diperketat. Jadilah ruang gerak dukun semakin kecil. Allah SWT mengabarkan terkait keberadaan setan: وأنا لمسنا السماء فوجدناها ملئت حرسا شديدا وشهبا. وأنا كنا نقعد منها مقاعد للسمع فمن يستمع الآن يجد له شهابا رصدا "Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). "(Al-Jin: 8-9) Allah SWT berfirman: إلا من استرق السمع فأتبعه شهاب مبين "Kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang." (Al-Hijr: 18) Asy-Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam hafizhahullah memasukkan dukun dalam kategori tukang sihir. Kata beliau, penyihir meliputi tukang ramal, dukun, 'arraf (orang yang mengaku bisa mengetahui keberadaan barang yang hilang). Kebanyakan dari keempat golongan ini, yaitu penyihir, tukang ramal, dukun, dan 'arraf adalah orang-orang yang menghamba kepada jin dan para setan mereka. Allah SWT berfirman: ولكن الشياطين كفروا "Hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir)." (Al-Baqarah: 102) Firman-Nya: هل أنبئكم على من تنزل الشياطين. تنزل على كل أفاك أثيم. يلقون السمع وأكثرهم كاذبون "Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun ke tiap-tiap orang lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada setan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta. "(Asy-Syu'ara: 221-223) Juga firman Allah SWT : وإن الشياطين ليوحون إلى أوليائهم ليجادلوكم "Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu." (Al-An'am: 121) Barangsiapa, dari keempat macam orang tersebut, yang (mengatakan) tidak mendapat berita dari para setan dan jin, maka dia itu dajjal, pendusta yang melakukan praktik sihir dengan cara menyampaikan kata dusta, menipu demi meraup harta duniawi. (Irsyadun Nazhir ila Ma'rifati 'Alamat As-Sahir, hal. 10) Al-Qadhi Iyadh rahimahullahu berkata: "Perdukunan yang dikenal di dunia Arab terbagi menjadi tiga jenis: Pertama: Seseorang memiliki teman dari kalangan jin, yang memberi tahu kepadanya dari usaha mencuri-curi dengar berita langit. Jenis ini sudah lenyap sejak Allah SWT mengutus Nabi kita Shallallahu 'alaihi wa sallam. (Catatan: Dalam hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang berpendapat sudah lenyap, tidak ada lagi. Ada juga yang berpendapat masih terjadi akan tetapi jarang terjadi dan bukan dalam hal wahyu Allah subhanahu wata'ala. Di antara yang memperkuat pendapat kedua dari ulama masa kini adalah Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan Asy-Syaikh Shalih Alu Syaikh-ed) Kedua: Setan mengabarkan kepadanya sesuatu yang terjadi di tempat-tempat lain yang tidak bisa diketahui secara langsung, baik dekat maupun jauh. Yang demikian tidaklah mustahil keberadaannya. Ketiga: Anggota nujum. Untuk jenis ini, Allah SWT menciptakan kekuatan tertentu pada diri sebagian manusia. Akan tetapi, kebohongan di dalamnya biasanya lebih dominan. Di antara jenis ilmu seperti itu, adalah ilmu ramal, pelakunya disebut peramal atau paranormal. Biasanya orangnya mengambil petunjuk dari premis-premis dan sebab-sebab tertentu untuk mengetahui persoalan-persoalan tertentu, serta didukung dengan perdukunan, perbintangan, atau sebab-sebab lain. Jenis-jenis seperti inilah yang disebut dengan perdukunan. Semuanya itu, dianggap dusta oleh syariat. Syariat juga melarang mendatangi dan membenarkan kata mereka. "(Syarh Shahih Muslim, 7 / 333) Hal-ihwal kondisi satu yakni pencurian berita langit, diperinci menjadi tiga kondisi: Pertama: Sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, jumlah mereka banyak sekali . Kedua: Setelah diutusnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dalam kondisi ini, tidak pernah terjadi pencurian berita dari langit. Kalaupun terjadi, itu jarang dan bukan dalam hal wahyu Allah SWT. Ketiga: Setelah beliau meninggal. Kondisinya kembali ke kondisi pertama, namun lebih sedikit dari kondisi sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. (Tamhid Syarah Kitab At-Tauhid, 1 / 447) CIRI-CIRI DUKUN / TUKANG SIHIR Berikut ini beberapa fitur dukun, sehingga dengan mengetahui fitur-fitur tersebut, hendaknya kita berhati-hati bila kita dapati fitur-fitur tersebut ada pada seseorang meskipun dia mengaku hanya sebagai tukang pijat bahkan kyai. Di antara fitur tersebut: 1. Bertanya kepada yang sakit pada namanya, nama ibunya, atau semacamnya. 2. Meminta bekas-bekas si sakit baik pakaian, sorban, sapu tangan, kaos, celana, atau sejenisnya dari sesuatu yang biasa dipakai si sakit. Atau bisa juga meminta fotonya. 3. Terkadang meminta hewan dengan sifat tertentu untuk disembelih tanpa menyebut nama Allah SWT, atau dalam rangka diambil darahnya untuk kemudian dilumurkan pada tempat yang sakit pada pasiennya, atau untuk dibuang di tempat kosong. 4. Menulis jampi-jampi dan mantra-mantra yang mengambil kesyirikan. 5. Membaca mantra atau jampi-jampi yang tidak jelas. 6. Memberikan kepada si sakit kain, kertas, atau sejenisnya, dan bergariskan kotak. Di dalamnya ada pula huruf-huruf dan nomor-nomor. 7. Memerintahkan si sakit untuk menjauh dari manusia beberapa saat tertentu di sebuah tempat yang gelap yang tidak dimasuki sinar matahari. 8. Meminta si sakit untuk tidak menyentuh air sebatas waktu tertentu, biasanya selama 40 hari. 9. Memberikan kepada si sakit sesuatu untuk ditanam dalam tanah. 10. Memberikan kepada si sakit sesuatu untuk dibakar dan mengasapi dirinya dengannya. 11. Terkadang mengabarkan kepada si sakit tentang namanya, asal daerahnya, dan problem yang menyebabkan dia datang, padahal belum diberitahu oleh si sakit. 12. Menuliskan untuk si sakit huruf-huruf yang terputus-putus baik di kertas atau mangkok putih, lalu menyuruh si sakit untuk meleburnya dengan air lantas meminumnya. 13. Terkadang menampakkan suatu penghinaan kepada agama misal menyobek tulisan-tulisan ayat Al-Qur'an atau menggunakannya pada sesuatu yang hina. 14. Mayoritas waktunya untuk menyendiri dan menjauh dari orang-orang, karena dia lebih sering bersepi bersama setannya yang membantunya dalam praktik perdukunan. (Kaifa Tatakhallas minas Sihr) Berikut sekedar beberapa fitur dan bukan terbatas pada ini saja. Dengannya, seseorang dapat mengetahui bahwa orang tersebut adalah dukun atau penyihir, apapun nama dan julukannya meskipun terkadang berbalut label-label keagamaan seperti kyai atau ustadz. JARINGAN DUKUN DAN TUKANG RAMAL DAN SILSILAH ILMU MEREKA Telah lewat bahwa perdukunan dan peramalan itu sebuah kekufuran. Untuk mengerti berita tentang orang yang datang bertanya dan pada barangnya yang dicuri, siapa yang mencurinya, barangnya yang hilang dan di mana tempat hilangnya, di sinilah letaknya kerja sama yang baik antara setan di satu pihak dengan dukun atau tukang ramal di pihak yang lain. Muhammad Hamid Al-Faqi berkata dalam komentarnya dalam kitab Fathul Majid (hal. 353): "Adanya hubungan intim antara qarin dari jin dengan qarin dari manusia, keduanya saling menyampaikan dan menemukan berita yang disukai. Qarin dukun dan tukang ramal ini menemukan berita dari qarin orang yang datang bertanya, karena setiap manusia memiliki qarin dari kalangan setan, sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Lalu qarin orang yang bertanya itu memberitahukan kepada qarin dukun atau tukang ramal tersebut segala sesuatu yang merupakan perihal kebiasaan orang yang datang bertanya, dan perihal di rumahnya. " Orang-orang jahil menduga bahwa ini terjadi dari buah keshalihan atau ketakwaan dan karamah. Dengan kebaikannya, dia telah membuka tabir tentang semuanya. Ini termasuk kesesatan yang paling tinggi dan kehinaan yang paling rendah, meskipun banyak orang telah tertipu bahkan orang yang dikatakan berilmu dan baik. " DUKUN PENCIDUK AGAMA DAN HARTA ↑ Setelah pembahasan di atas tidak ada lagi sesuatu yang tersembunyi untuk mereka pada kejahatan para dukun dan tukang prediksi. Mereka adalah para penciduk agama dan juga harta. Penciduk Agama Penciduk agama artinya mereka telah merusak keyakinan kaum muslimin khususnya dalam masalah ilmu gaib. Bahkan dengan sebab mereka, seseorang bisa menjadi kafir keluar dari agama. Mereka adalah perusak salah satu prinsip agama bahkan pondasi keimanan yaitu beriman dengan hal yang gaib, karena hal gaib ilmunya hanya milik Allah subhanahu wata'ala. Allah ta'ala berfirman: ذلك الكتاب لا ريب فيه هدى للمتقين. الذين يؤمنون بالغيب "Itulah Al-Kitab yang tidak ada keraguan padanya petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa yaitu orang-orang yang beriman dengan hal yang gaib." (Al-Baqarah: 201) قل لا يعلم من في السموات والأرض الغيب إلا الله وما يشعرون أيان يبعثون "Katakan: Tidak ada siapapun yang ada di langit dan di bumi mengetahui perkara ghaib selain Allah dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan." (An-Naml: 65) وما كان الله ليطلعكم على الغيب "Allah tidak memperlihatkan kepada kalian hal-hal yang gaib. "(Ali 'Imran: 179) وعنده مفاتح الغيب لا يعلمها إلا هو "Di sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri." (Al-An'am : 59) فقل إنما الغيب لله "Maka katakanlah: Sesungguhnya yang gaib itu hanya milik Allah." (Yunus: 30) قل لا أملك لنفسي نفعا ولا ضرا إلا ما شآء الله ولو كنت أعلم الغيب لاستكثرت من الخير وما مسني السوء إن أنا إلا نذير وبشير لقوم يؤمنون "Katakanlah: Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Jika aku mengetahui yang ghaib, tentunya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman. "(Al-A'raf: 177) Dari Abdullah bin 'Umar radhiyallahu' anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Dunia perdukunan menyentuh juga manusia yang hidup dalam kawasan elite, prestisius bahkan borjuis. Perdukunan merambah kemana pun. Menyeruak, masuk ke alam kehidupan semua strata dan latar belakang manusia, kecuali orang-orang yang dirahmati-Nya. (Artikel mendasar tentang ini yakni tentang asal-usul dan hakekat sihir,


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar