SELAMAT DATANG DIBLOG BEJOSENTOSO

Rabu, 23 November 2011

Jangan Terlalu Membenci Istri Suami yang bijak adalah orang yang mau menerima segala kekurangan yang ada pada istrinya. Ia menyadari bahwa tidak ada wanita yang sempurna, yang bisa memenuhi semua harapannya. Inilah salah satu kunci terciptanya keharmonisan rumah tangga, yang selayaknya dimiliki oleh setiap suami. Pepatah mengatakan "tak ada gading yang tak retak", tak ada manusia yang sempurna. Kenyataannya memang demikian, siapapun dia selama dia disebut anak manusia, entah wanita atau pria, harus ada kekurangannya, tidak ada yang sempurna dalam segala sisi. Memang ada manusia yang memiliki banyak kelebihan namun jumlah mereka pun sedikit. Rasulullah r bersabda: "Manusia itu hanyalah seperti seratus ekor unta, yakni hampir-hampir dari seratus unta tersebut engkau tidak dapatkan satu unta pun yang bagus untuk ditunggangi." (HR. Al-Bukhari no. 6498 dan Muslim no. 2547) Al-Khaththabi t berkata: "Mereka menafsirkan hadits di atas dengan dua sisi." Ia lalu menyebutkan sisi pertama. Setelahnya ia berkata: "Sisi kedua: mayoritas manusia itu memiliki kekurangan. Adapun orang yang memiliki keutamaan dan kelebihan jumlahnya sedikit sekali. Maka mereka seperti posisi unta yang bagus untuk ditunggangi dari sekian unta pengangkut beban." (Fathul Bari, 11/343) Al -Imam An-Nawawi t menyatakan: "Orang yang diridhai keadaannya dari kalangan manusia, yang sempurna sifat-sifatnya, indah dipandang mata, kuat menanggung beban (itu sedikit jumlahnya)." (Syarah Shahih Muslim, 16/101) Ibnu Baththal t juga menyatakan yang serupa tentang makna hadits di atas: "Manusia itu jumlahnya banyak, namun yang disenangi dari mereka jumlahnya sedikit." (Fathul Bari, 11/343) Dalam kaitannya dengan kehidupan keluarga juga tidak bisa dipisahkan dengan pembicaraan tentang kekurangan dan ketidaksempurnaan manusia ini. Kesiapan menerima pasangan hidup dengan segala kekurangan yang ada padanya menjadi satu keharusan. Karena kita adalah anak manusia yang tidak sempurna, menikah dengan manusia yang tidak sempurna pula. Namun kenyataannya, dalam perjalanan rumah tangga terkadang muncul kekecewaan yang berbuah kebencian terhadap pasangan hidupnya karena kekurangan dimilikinya, meskipun tetap menyadari "tak ada gading yang tak retak". Perasaan tidak suka ini bila muncul dari pihak istri maka biasanya ia lebih bisa menekan dan "memaksakan" dirinya untuk tetap menerima suaminya. Beda halnya bila ketidaksukaan itu dirasakan oleh pihak suami, mungkin pada akhirnya kebencian tumbuh di hatinya dan ujungnya vonis talak pun dijatuhkan. Dari hadits Rasulullah r pada, kita pahami bahwa jarang ditemukan orang yang terkumpul padanya segala kebaikan dan kelebihan. Demikian pula pada diri wanita yang memang diciptakan dari tulang yang bengkok, lebih jarang lagi didapatkan pada mereka segala kebaikan. Terkadang ada wanita yang parasnya cantik namun jelek lisannya. Terkadang ada yang ucapan dan tutur katanya manis memikat namun tidak pandai bergaul dengan suami. Ada yang pandai bergaul dengan suami namun tidak bisa mengelola rumahnya. Adapula wanita yang jelita, bagus perangainya, pandai bergaul dengan suami, bisa mengatur rumah akan tetapi ia sangat pencemburu atau tidak giat dalam ibadah. Kondisi-kondisi semisal ini harusnya dipahami oleh seorang suami agar ia tidak larut dalam ketidaksukaan kepada istrinya, sebaliknya ia sabarkan dirinya dengan kekurangan yang ada. Bersabar terhadap istri Allah I berfirman: "Dan bergaullah kalian dengan mereka (para istri) secara patut. Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan di dirinya kebaikan yang banyak." (An- Nisa: 19) Dalam tafsir Al-Jami 'li Ahkamil Qur'an (5 / 65), Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi t berkata: "Firman Allah I: (" Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka "), dikarenakan parasnya yang buruk atau perangainya yang jelek, namun bukan karena si istri berbuat keji dan nusyuz, maka dianjurkan (bagi si suami) untuk bersabar menanggung kekurangan tersebut, mudah-mudahan hal itu mendatangkan rizki berupa anak-anak yang shalih yang diperoleh dari istri tersebut. "Al-Hafidz Ibnu Katsir t berkata dalam Tafsir-nya terhadap ayat di di:" Yakni mudah-mudahan kesabaran kalian dengan tetap menahan mereka (para istri dalam ikatan pernikahan), sementara kalian tidak menyukai mereka, akan menjadi kebaikan yang banyak untuk kalian di dunia dan di akhirat sebagaimana kata Ibnu Abbas c pada ayat ini: "Si suami mengasihani (menaruh iba) istri (yang tidak disukainya) sampai Allah berikan rizki padanya berupa anak dari istri tersebut dan pada anak itu ada kebaikan yang banyak . "(Tafsir Ibnu Katsir, 1 / 173) Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa 'di t berkata:" sepantasnya untuk kalian - wahai para suami-untuk tetap menahan istri (dalam ikatan pernikahan) meskipun kalian tidak suka pada mereka. Karena di balik yang demikian itu ada kebaikan yang besar. Di antaranya adalah berpegang dengan perintah Allah dan menerima wasiat-Nya yang di dalamnya ada kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Kebaikan lainnya adalah dengan ia memaksa dirinya untuk tetap bersama istrinya, dalam kondisi dia tidak mencintainya, ada mujahadatun nafs (perjuangan jiwa) dan berakhlak dengan akhlak yang indah. Bisa jadi ketidaksukaan itu akan hilang dan berganti dengan kecintaan sebagaimana (disaksikan dari) kenyataan yang ada. Dan bisa jadi dia mendapat rizki berupa seorang anak yang shalih dari istri tersebut, yang memberi manfaat kepada kedua orang tuanya di dunia maupun di akhirat. Tentunya semua ini dilakukan bila memungkinkan untuk tetap menahan istri dalam pernikahan tersebut dan tidak timbul hal yang dikhawatirkan. Kapan memang harus berpisah dan tidak mungkin untuk tetap mengikuti, maka si suami tidak dapat dipaksakan untuk tetap menahan istrinya (dalam pernikahan). "(Taisir Al-Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan, hal. 173) Sehubungan dengan permasalahan ini, Abu Hurairah z mengabarkan:" Rasulullah r pernah bersabda: "Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak suka satu tabiat / perangainya maka ( bisa jadi) ia ridha (senang) dengan tabiat / perangainya yang lain. "(HR. Muslim no. 1469) Al-Imam An-Nawawi t berkata:" Hadits ini menunjukkan larangan (untuk membenci), yakni sepantasnya seorang suami tidak membenci istrinya , karena bila ia mendapatkan pada istrinya satu perangai yang tidak ia sukai namun di sisi lain ia bisa dapatkan perangai yang disenanginya pada si istri. Misal, istrinya tidak baik perilakunya akan tetapi ia seorang yang beragama atau berparas cantik atau menjaga kehormatan diri atau bersikap lemah lembut dan halus padanya atau yang semisalnya. "(Syarah Shahih Muslim, 10/58) Dengan demikian tidak sepantasnya seorang suami membenci istrinya dengan penuh kebencian sampai membawa dia untuk menceraikannya. Bahkan harus dia memaafkan kejelekan istrinya dengan melihat kebaikannya dan menutup mata dari apa yang tidak disukainya dengan melihat apa yang disenanginya dari istrinya. Ibnul 'Arabi t berkata: Abul Qasim bin Hubaib telah mengabarkan padaku di Al-Mahdiyyah, dari Abul Qasim As-Sayuri dari Abu Bakar bin Abdirrahman, ia berkata: Adalah Asy-Syaikh Abu Muhammad bin Zaid memiliki pengetahuan yang mendalam dalam hal ilmu dan posisi yang tinggi dalam agama. Ia memiliki seorang istri yang buruk pergaulannya dengan suami. Istrinya ini tidak sepenuhnya memenuhi haknya bahkan mengurang-ngurangi dan menyakiti beliau dengan ucapannya. Maka ada yang berbicara pada beliau tentang keberadaan istrinya namun ia memilih untuk tetap bersabar hidup bersama istrinya. Beliau pernah berkata: "Aku adalah orang yang dianugerahi kesempurnaan nikmat oleh Allah I dalam kesehatan tubuhku, pengetahuanku dan budak yang kumiliki. Mungkin istriku ini diutus sebagai hukuman atas dosaku, maka aku khawatir bila aku menceraikannya akan turun padaku hukuman yang lebih keras dari apa yang selama ini aku dapatkan darinya. "(Al-Jami 'li Ahkamil Qur'an, 5 / 65) Sulitnya meluruskan kebengkokan istri Seorang suami tentunya tidak bisa berdiam diri membiarkan begitu saja kekurangan yang ada pada istrinya. Bahkan dia harus berupaya meluruskannya dengan lembut dan perlahan agar tidak mematahkannya. Tentunya lurusnya istri tidak bisa sempurna karena akan tetap ada kebengkokan padanya sebagaimana sabda Nabi r: "Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok.2 Dia tidak akan lurus untukmu di atas satu jalan. Jika engkau bersenang-senang dengannya, maka engkau bisa melakukannya namun padanya ada kebengkokan. Kapan engkau paksakan untuk meluruskannya maka engkau akan mematahkannya, dan patahnya itu adalah menceraikannya.3 "(HR. Al-Bukhari no. 5184 Muslim no. 1468)" Mintalah wasiat dari diri-diri kalian dalam masalah hak-hak para wanita4, karena sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan yang paling bengkok dari tulang rusuk itu adalah bagian paling atasnya. Bila engkau paksakan untuk meluruskannya maka engkau akan mematahkannya. Namun bila engkau biarkan, ia akan terus menerus bengkok. Maka mintalah wasiat dari diri -diri kalian dalam masalah hak-hak para wanita. "(HR. Al-Bukhari no. 3331, 5186) Al-Imam An-Nawawi t berkata:" Dalam hadits ini (ada anjuran untuk) bersikap lembut kepada para istri, berbuat baik kepada mereka, bersabar pada kebengkokan akhlak / perangai mereka serta bersabar dengan kelemahan akal mereka. Hadits ini juga menunjukkan tidak disukainya menceraikan mereka tanpa sebab dan tidak bisa terlalu bersemangat / berlebihan untuk meluruskan mereka, wallahu a'lam. "(Syarah Shahih Muslim, 10 / 57) Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani t berkata: "Dipahami dari hadits ini bahwasanya tidak bisa membiarkan istri pada kebengkokannya, ketika ia melampaui kekurangan yang merupakan tabiatnya dengan melakukan maksiat atau meninggalkan kewajiban. Adapun dalam hal-hal mubah, ia dibiarkan apa adanya. dalam hadits ini menunjukkan disenanginya penyesuaian diri untuk menarik jiwa, mengambil dan mendekatkan hati, sebagaimana hadits ini menunjukkan pengaturan terhadap para istri dengan memaafkan mereka dan bersabar atas kebengkokan mereka. Siapa yang hendak meluruskan mereka, maka akan luput darinya kemanfaatan yang diperoleh dari mereka, sementara tidak ada seorang pria pun yang tidak merasa butuh terhadap wanita guna memperoleh ketenangan (sakinah) dengannya dan untuk menolongnya dalam kehidupannya. Sehingga seakan-akan bisa dikatakan: bernikmat-nikmat dengan wanita (istri) tidak akan sempurna kecuali dengan bersabar terhadap mereka . "(Fathul Bari, 9 / 306) Wallahu ta'ala a'lam bish-shawab.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar