SELAMAT DATANG DIBLOG BEJOSENTOSO

Selasa, 22 November 2011

Kepada Siapa Hati Kita Bergantung? "Mbah, permisi ya!" Kata-kata ini atau yang semakna ini acap kali terdengar ketika seseorang menginjakkan kakinya di wilayah yang kelihatannya jarang dikunjungi oleh makhluk yang bernama manusia. Atau sebagai kata-kata yang sering dilontarkan ketika melewati sebuah jalan tertentu yang diyakini seandainya mereka yang lewat tidak mengucapkannya maka sangat dikhawatirkan malapetaka akan menimpanya. Ritual penyembelihan ayam hitam juga sering dilakukan dalam rangka menolak bala. Tempat yang sering terjadi musibah di situ mesti dicucuri darah ayam hitam ini. Tentu saja dengan keyakinan dan harapan angka kecelakaan bisa hilang atau diminimalisir. Begitu juga upacara-upacara yang mempersembahkan sesajen-sesajen lengkap dengan kepala kerbaunya kepada para "penguasa" alam ini. Mulai dari "penguasa" hutan, gunung, laut, kampung, dusun, kota, sampai ke "penguasa" jalan. Hemat-hemat, diagram-diagram dan berbagai macam bentuk simbol keberuntungan juga banyak menghiasai rumah, toko, pabrik, kantor, tubuh, dan lain sebagainya, seraya berharap keberuntungan selalu mendampingi usaha mereka. Tak bisa diingkari lagi bahwa fenomena ini memang terjadi di tengah- tengah kita. Bahkan dengan jumlah yang tidak sedikit. Seseorang yang paling berpendidikan sekalipun kadang tak luput dari hal-hal yang demikian. Mereka yang terdidik untuk berpikir secara rasional ternyata kerasionalan itu hilang begitu saja ketika berhadapan dengan hal yang demikian. Kenapa ini bisa terjadi? Berikut terjadi karena adanya ketergantungan dan keterkaitan hati terhadap hal-hal yang diyakini tersebut. Ketika seseorang permisi-untuk melalui suatu jalan atau mendatangi suatu tempat asing-kepada yang dianggap berkuasa di tempat itu maka sesungguhnya itu terjadi karena adanya ketergantungan dan keterkaitan hati orang tersebut dengan sesuatu tadi. Dengan adanya ketergantungan dan keterkaitan hati ini dia berkeyakinan bahwa sesuatu itu akan melindungi dia. Dia sandarkan nasibnya kepada sesuatu tersebut. Inilah yang terjadi. Lalu bagaimana Islam menghukumi terhadap hal-hal yang demikian? Islam mengajarkan agar seseorang hanya menggantungkan dan menghubungkan hatinya kepada Allah semata. Allah-lah yang telah menciptakannya. Allah jua yang mengarunainya rezeki. Allah yang mengatur alam ini. Allah yang menguasai jagat raya ini. Allah yang berkuasa atas segala sesuatu. Allah yang melakukan apa saja yang diinginkan-Nya. Allah Dzat yang Maha Mendengar. Allah Dzat yang Maha Melihat. Allah Dzat yang Maha Mengetahui. Allah yang mengabulkan permintaan dan permohonan hamba-Nya. Allah yang memberi manfa'at dan madhorot. Allah dengan segala kesempurnaan dzat dan sifat-sifat-Nya. Sungguh sangat cepat dan memang sudah semestinyalah untuk seseorang untuk menggantungkan dan menghubungkan hatinya hanya kepada Allah semata, Dzat yang Maha Sempurna. Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: من تعلق شيئا وكل إليه "Barang siapa yang bergantung pada sesuatu maka dia serahkan kepadanya" (HR . Tirmidzi dihasankan oleh Asy Syaikh Al Albany rahimahullah) Yaitu barang siapa yang tergantung pada sesuatu dan menjadikannya sebagai tujuan, sehingga dia menggantungkan harapan kepadanya dan menjadikannya sebagai penghilang rasa takutnya, maka dia akan menyerahkan dirinya kepada sesuatu tersebut dan akan bersandar kepadanya. Begitu pula, ketika seseorang hanya tergantung pada Allah, maka dia akan menjadikan Allah sebagai tujuannya, dia gantungkan harapannya kepada-Nya, dan Allah-lah yang menghilangkan rasa takut yang ada pada dirinya. Dia serahkan dan sandarkan dirinya, hanya kepada Allah Ta'ala. Sebaliknya, saat dia tergantung pada sesuatu selain Allah, maka dia akan menyerahkan diri dan menyandarkan dirinya kepada sesuatu tersebut. Dan ini adalah salah satu bentuk kesyirikan. Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: من علق تميمة فقد أشرك "Barang siapa yang menggantungkan jimat maka dia telah berbuat syirik" (HR. Imam Ahmad) Seseorang yang menggantungkan jimat dalam rangka mengangkat malapetaka atau melindungi diri dari musibah berarti dia telah menggantungkan hatinya kepada jimat tersebut. Berarti pula dia telah menyandarkan dirinya dan hatinya kepada jimat tersebut. Dia berkeyakinan bahwa jimat itu bisa melindungi dia dari mara bahaya. Padahal tidak ada yang bisa melindungi dia dari mara bahaya kecuali Allah Ta'ala. Karena itu, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam menghukumi bahwa orang yang demikian telah berbuat syirik. Kenapa? Karena hatinya sudah tergantung dan bersandar kepada selain Allah, dan ini sangat bahaya. Bahaya? Ya, karena syirik adalah dosa besar yang tidak terampuni. Selain itu, orang yang menyandarkan hatinya tidak ke Allah, maka hatinya akan menjadi lemah. Coba orang yang seperti ini dijauhkan dari jimatnya. Atau larang dia untuk mengucapkan kata "permisi" kepada "penunggu" daerah. Atau cegah dia dari penyembelihan ayam hitam. Atau larang dia untuk mempersembahkan sesajen. Apa yang akan terjadi? Hatinya akan gelisah, resah, takut bahwa mara bahaya akan menimpanya. Khawatir keberuntungan tidak akan menyapanya. Cemas, harapannya tidak bisa terwujud. Apakah hati yang seperti ini bisa dikatakan sebagai hati yang kuat? Atau sebagai hati yang sehat? Bahkan sebaliknya, yang seperti ini adalah hati yang lemah dan sakit. Hati yang sehat dan kuat adalah hati yang bertawakal hanya kepada Allah. ومن يتوكل على الله فهو حسبه Artinya: "Barang siapa yang bertawakkal hanya kepada Allah, maka AllahH cukup baginya." ( Ath Tholaq: ​​3) Hati yang sehat dan kuat adalah hati yang bersandar hanya kepada Allah. حسبنا الله ونعم الوكيل Artinya: "Cukup untuk kami Allah dan sebaik-baik tempat penyerahan diri." (Ali Imran: 173) Hati yang sehat dan kuat adalah hati yang meminta pertolongan hanya kepada Allah. إياك نعبد وإياك نستعين Artinya: "Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan." (Al Fatihah: 5) Hati yang sehat dan kuat adalah hati yang berlindung hanya kepada Allah. قل أعوذ برب الناس Artinya: "Katakanlah (-wahai Muhammad-):" Aku berlindung kepada Rabbnya Manusia. "(An-Naas: 1) Hati yang sehat dan kuat adalah hati yang takut hanya kepada Allah. فلا تخافوهم وخافون إن كنتم مؤمنين Artinya: " maka janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah hanya kepada-Ku, jika kalian orang-orang yang beriman. "(Ali Imran: 175) Hati yang sehat dan kuat adalah hati yang bergantung hanya kepada Allah saja. Ketahuilah, ketergantungan hati kepada selain Allah Ta 'ala ada beberapa macam: 1. Ketergantungan hati yang menyebabkan sirnanya nilai tauhid secara keseluruhan, yaitu dia tergantung pada sesuatu yang sebenarnya tidak memiliki pengaruh sama sekali, dan bersandar kepadanya, yang menyebabkan dia berpaling dari Allah Ta'ala. Seperti; ketergantungan para penyembah kuburan terhadap para penghuninya-untuk melepaskannya dari musibah-musibah yang menimpanya-. Oleh karena itu, jika mereka menemukan mara bahaya yang dahsyat, mereka akan mengatakan, "Wahai fulan, selamatkanlah kami!" Yang demikian ini-tidak diragukan lagi adalah kesyirikan yang besar , yang mengeluarkan seseorang dari Islam. 2. Ketergantungan hati yang melenyapkan kesempurnaan tauhid. Yaitu, ketika seseorang bersandar kepada sebab-sebab yang dibolehkan oleh syari'at ini, akan tetapi dia lalai terhadap yang menciptakan sebab-sebab tersebut, yaitu Allah 'Azza wa Jalla, dan dia tidak memalingkan hatinya kepada-Nya. Dan ini adalah salah satu bentuk kesyirikan. Tetapi tidak dikatakan syirik besar, karena sebab-sebab ini memang telah Allah jadikan sebagai sebab. 3. Dia tergantung dengan sebab semata-semata hanya karena itu sebagai sebab saja. Sementara penyandaran aslinya masih hanya kepada Allah Ta'ala. Maka dia berkeyakinan bahwa sebab ini adalah dari Allah Ta'ala, dan bahwasanya Allah-kalau Dia menghendaki akan menghilangkan pengaruhnya atau membiarkannya-. Dan dia berkeyakinan, bahwasanya sebab tersebut tidak akan memiliki pengaruh kecuali dengan kehendak Allah Ta'ala. Yang demikian itu tidaklah mengurangi sama sekali kesempurnaan tauhidnya. Lihatlah akhir dari kondisi seseorang yang menggantungkan hatinya kepada selain Allah. Akhir yang menakutkan dan mengerikan. Akhir yang penuh dengan resiko dan mara bahaya. Siapakah kiranya - orang berakal-yang menginginkan hatinya menjadi lemah. Siapa juga yang sudi hatinya menjadi sakit. Bahkan akhirnya terjatuh ke dalam jurang kesyirikan yang sangat berbahaya. Jika seseorang terjatuh ke dalamnya, hanya dengan rahmat Allah dan taufiq-Nya sajalah dia biasa bangkit dan selamat dari jurang tersebut. Tanpa itu, mustahil seseorang akan selamat. Sudah saatnya untuk kita untuk bercermin, kemudian berkata; Kepada siapa selama ini hati ini aku gantungkan? Kepada siapa selama ini hati ini aku sandarkan? Kepada siapa selama ini jiwa ini aku serahkan? Kepada-Mu kah ya Allah, atau kepada jimat-jimat yang tergantung indah? Atau ke para "penguasa" alam tersebut yang katanya bisa melindungi? Atau ke secuil pekerjaan yang menjanjikan? Atau mereka yang katanya akan menjamin kebahagiaan hidupku? Atau, kepada siapakah? Ya Allah , jadikanlah kami orang-orang yang hanya bertawakal kepada-Mu. Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang selalu bersandar kepada-Mu. Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang berserah diri kepada-Mu. Ya Allah, jadikanlah kami orang- orang yang menggantungkan hatinya hanya kepada-Mu.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar