SELAMAT DATANG DIBLOG BEJOSENTOSO

Rabu, 23 November 2011

Menagislah. . . Bismillaahirrahmaanirrahiim Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh "Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis." (HR. Bukhari dan Muslim) Indahnya hidup dengan celupan iman. Saat itulah terasa bahwa dunia bukan segala-galanya. Ada yang jauh lebih besar dari yang ada di depan mata. Semuanya teramat kecil dibanding dengan balasan dan siksa Allah Subhaanahu wa ta'ala. 1. Menyadari bahwa Dosa Diri tak akan terpikul di pundak orang Lain Siapa pun kita, jangan pernah berpikir bahwa dosa-dosa yang telah dilakukan akan terpikul di pundak orang lain. Siapa pun ..!! Pemimpinkah, tokoh yang punya banyak pengikutkah, orang kayakah ,..??! Semua kebaikan dan keburukan akan kembali ke pelakunya. Maha Benar ALLAH dengan firman-NYA dalam surat Al-An'am [6] ayat 164: "..... DIA adalah Tuhan untuk segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-NYA kepadamu apa yang kamu perselisihkan. " Lalu, pernahkah kita menghitung-hitung dosa yang telah kita lakukan ,..?? ? Seberapa banyak dan besar dosa-dosa itu ,..??? Jangan-jangan, hitungannya tak beda dengan jumlah nikmat Allah yang kita terima. Atau bahkan, jauh lebih banyak lagi (dosa kita). Masihkah kita merasa aman dengan mutu diri seperti itu ,..??? Belumkah tersadar kalau tak seorang pun mampu menjamin bahwa esok kita belum berpisah dengan dunia ,..??? Belumkah tersadar kalau tak seorang pun bisa yakin bahwa esok ia masih bisa beramal ,..??? Belumkah tersadar kalau kelak masing-masing kita sibuk mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan ,..??? 2. Menyadari bahwa diri teramat hina di hadapan yang Maha Agung Di antara keindahan iman adalah anugerah pemahaman bahwa kita begitu hina di hadapan ALLAH yang Maha Perkasa. Saat itulah, seorang hamba menemukan jati diri yang sebenarnya. Ia datang ke dunia ini tanpa membawa apa-apa. Dan akan kembali dengan selembar kain putih. Itu pun karena jasa baik orang lain. Apa yang kita dapatkan pun tak lebih dari anugerah Allah yang tersalur lewat lingkungan. Kita pandai karena orang tua menyekolahkan kita. Seperi itulah sunnatullah yang menjadi kelaziman bagi setiap orang tua. Kekayaan yang kita peroleh bisa berasal dari warisan orang tua atau karena berkah lingkungan yang lagi-lagi ALLAH titipkan buat kita. Kita begitu faqir di hadapan Allah Subhaanahu wa ta'ala. Seperti itulah ALLAH nyatakan dalam surat Faathir [35] ayat 15 sampai 17: "Hai manusia, kamulah yang memerlukan Allah; dan ALLAH DIA lah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika DIA menghendaki, niscaya DIA musnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi ALLAH. " 3. Menyadari bahwa Surga tak akan termasuki hanya dengan amal yang sedikit Mungkin, pernah terangan-angan dalam benak kita bahwa sudah menjadi kemestian kalau Allah akan memasukkan kita kedalam surga. Pikiran itu mengalir lantaran merasa diri telah begitu banyak beramal. Siang malam, tak henti-hentinya kita menunaikan ibadah. "Pasti, pasti saya akan masuk surga," begitulah keyakinan diri itu muncul karena melihat amal diri sudah lebih dari cukup. Namun, ketika perbandingan nilai dilayangkan jauh ke generasi sahabat Rasulullah, kita akan melihat pemandangan lain. Bahwa, para generasi sekaliber sahabat pun tidak pernah aman kalau mereka pasti masuk surga. Dan seperti itulah dasar pijakan mereka ketika ada order-order baru yang diperintahkan Rasulullah. Begitulah ketika turun perintah hijrah. Mereka menatap segala bayang-bayang suram soal sanak keluarga yang ditinggal, harta yang pasti akan disita, dengan satu harapan: 'ALLAH pasti akan memberikan balasan yang terbaik'. Dan itu adalah pilihan yang tak boleh disia-siakan. Begitu pun ketika secara tidak disengaja, Allah mempertemukan mereka dengan tim yang 3 kali lebih banyak dalam daerah yang bernama Badar. Dan taruhan saat itu bukan hal sepele: 'nyawa'. Lagi-lagi, semua itu mereka tempuh demi menyongsong investasi besar, meraih surga. Begitulah ALLAH menggambarkan mereka dalam surah Albaqarah ayat 214: "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: 'Bilakah datangnya pertolongan Allah?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. " 4. Menyadari bahwa Adzab ALLAH Teramat Pedih Apa yang bisa kita bayangkan ketika suatu ketika semua manusia berkumpul dalam tempat luas yang tak seorang pun punya hak istimewa kecuali dengan izin ALLAH ,..??? Jangankan hak istimewa, pakaian pun tak ada. Yang jelas dalam benak manusia saat itu cuma pada 2 pilihan: 'surga atau neraka'. Di dua tempat itulah pilihan akhir nasib seorang anak manusia. "Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu memiliki urusan yang cukup menyibukkannya." (QS. ' Abasa [80]: 34-37). Mulailah bayang-bayang pedihnya siksa neraka tergambar jelas. Kematian di dunia cuma sekali. Sementara, di neraka orang tidak pernah mati. Selamanya merasakan pedihnya siksa. Terus, dan selamanya. Seperti apa siksa neraka ,..??? Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menggambarkan sebuah contoh siksa yang paling ringan. "Sesungguhnya seringan-ringan siksa penghuni neraka pada hari kiamat adalah seseorang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Sedangkan ia berpendapat bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berat siksaannya dari itu, padahal itu adalah siksaan yang paling ringan untuk penghuni neraka. " (HR. Bukhari dan Muslim). Belum saatnyakah kita menangis di hadapan ALLAH, ..??? Atau jangan-jangan, hati kita sudah teramat keras untuk tersentuh dengan kekuasaan Allah yang teramat jelas di hadapan kita. Imam Ghazali pernah memberi nasihat, "Jika seorang hamba ALLAH tidak lagi mudah menangis karena takut dengan kekuasaan Allah, justru menangislah karena ketidakmampuan itu. "


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar