SELAMAT DATANG DIBLOG BEJOSENTOSO

Rabu, 23 November 2011

Sibuk Memikirkan Aib Sendiri .. Segala puji bagi Allah, Rabb yang telah menunjuki jalan di bersihnya hati. Sungguh beruntung orang yang mau mensucikan hatinya. Sungguh merugi orang yang mengotori hatinya. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Mengapa diri ini selalu menyibukkan diri dengan membicarakan aib orang lain, sedangkan 'aib besar yang ada di depan mata tidak diperhatikan. Akhirnya diri ini pun sibuk menggunjing, membicarakan 'aib saudaranya padahal ia tidak suka dibicarakan. Jika dibanding-bandingkan diri kita dan orang yang digunjing, bisa jadi dia lebih mulia di sisi Allah. Demikianlah hati ini seringkali tersibukkan dengan hal yang sia-sia. Semut di seberang lautan seakan nampak, namun gajah di pelupuk mata seakan-akan tak tampak, artinya aib yang ada di diri kita sendiri jarang kita perhatikan. 'Aibmu Sendiri yang Lebih Seharusnya Engkau Perhatikan Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya. " [Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak, pen]. [1] Wejangan Abu Hurairah ini sangat bagus. Yang seharusnya kita pikirkan adalah 'aib kita sendiri yang begitu banyak. Tidak perlu kita bercapek-capek memikirkan 'aib orang lain, atau bahkan menceritakan' aib saudara kita di depan orang lain. 'Aib kita, kitalah yang lebih tahu. Adapun 'aib orang lain, sungguh kita tidak mengetahui seluk beluk hati mereka. Anggap Diri Kita Lebih Rendah Dari Orang Lain 'Abdullah Al Muzani mengatakan, "Jika iblis memberikan was-was kepadamu bahwa engkau lebih mulia dari muslim lainnya, maka perhatikanlah. Jika ada orang lain yang lebih tua darimu, maka seharusnya engkau katakan, "Orang tersebut telah lebih dahulu beriman dan beramal sholih dariku, maka ia lebih baik dariku." Jika ada orang lainnya yang lebih muda darimu, maka seharusnya engkau katakan, "Aku telah lebih dulu bermaksiat dan berlumuran dosa dan lebih cepat mendapatkan siksa dibanding dirinya, maka ia sebenarnya lebih baik dariku. "Demikianlah sikap yang seharusnya engkau perhatikan ketika engkau melihat yang lebih tua atau yang lebih muda darimu." [2] Mengapa Sibuk Membicarakan 'Aib Orang Lain? Jika kita memperhatikan nasehat-nasehat di atas, maka sungguh kita pasti tak akan ingin menggunjing orang lain karena 'aib kita sendiri terlalu banyak. Itulah yang kita tahu. Menceritakan 'aib orang lain tanpa ada hajat sama sekali, inilah yang disebut dengan ghibah. Karena ghibah artinya membicarakan 'aib orang lain sedangkan ia tidak ada di saat pembicaraan. 'Aib yang dibicarakan tersebut, ia tidak suka diketahui oleh orang lain. Keterangan tentang ghibah dijelaskan dalam hadits berikut, Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bertanya, "Tahukah kamu, apa itu ghibah?" Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu tentang sesuatu yang tidak ia sukai." Seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah menurut kamu saat orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan?" Rasulullah shallallahu' alaihi wa sallam berkata, "Kapan benar apa yang kamu bicarakan itu pada dirinya, maka berarti kamu telah menggibahnya (menggunjingnya). Namun ketika yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah menfitnahnya (menuduh tanpa bukti)." [3] ghibah dan memfitnah (menuduh tanpa bukti) sama dua keharaman. Namun untuk ghibah dibolehkan jika ada tujuan yang syar'i yaitu dibolehkan dalam enam kondisi sebagaimana dijelaskan oleh Yahya bin Syarf An Nawawi rahimahullah. Enam kondisi yang dibolehkan menyebutkan 'aib orang lain adalah sebagai berikut: 1. Mengadu tindak kezholiman kepada penguasa atau pada pihak yang berwenang. Semisal mengatakan, "Si Ahmad telah menzholimiku." 2. Meminta tolong agar dihilangkan dari suatu perbuatan mungkar dan untuk membuat orang yang berbuat mungkar tersebut kembali pada jalan yang benar. Semisal meminta pada orang yang mampu menghilangkan suatu kemungkaran, "Si Rahmat telah melakukan tindakan kemungkaran seperti ini, tolonglah kami agar lepas dari tindakannya." 3. Meminta fatwa pada seorang mufti seperti seorang bertanya mufti, "Saudara kandungku telah menzholimiku demikian dan demikian. Bagaimana caranya aku lepas dari kezholiman yang ia lakukan." 4. Mengingatkan kaum muslimin terhadap suatu kejelekan seperti mengungkap jeleknya hafalan seorang perowi hadits. 5. Membicarakan orang yang terang-terangan berbuat maksiat dan bid'ah terhadap maksiat atau bid'ah yang ia lakukan, bukan pada masalah lainnya. 6. Menyebut orang lain dengan sebutan yang ia sudah ma'ruf dengannya seperti menyebutnya si buta. Namun jika ada ucapan yang bagus, itu lebih baik. [4] Adapun dosa ghibah dijelaskan dalam firman Allah Ta'ala, "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Apakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. "(QS. Al Hujurat: 12) Kata Ibnu Katsir rahimahullah, "Ghibah diharamkan berdasarkan ijma '(kesepakatan para ulama). Dan tidak ada pengecualian dalam hal ini kecuali jika benar-benar jelas maslahatnya. "[5] Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, "Allah Ta'ala memisalkan ghibah (menggunjing orang lain) dengan bangkai seseorang. Karena bangkai sama sekali tidak tahu siapa yang memakan dagingnya. Ini sama halnya dengan orang yang hidup juga tidak mengetahui siapa yang menggunjing dirinya. Demikianlah keterangan dari Az Zujaj. "[6] Asy Syaukani rahimahullah kembali menjelaskan, "Dalam ayat di atas terkandung sinyal bahwa kehormatan manusia itu sebagaimana dagingnya. Jika daging manusia saja diharamkan untuk dimakan, begitu pula dengan kehormatannya dilarang untuk dilanggar. Ayat ini menjelaskan agar seseorang menjauhi perbuatan ghibah. Ayat ini menjelaskan bahwa ghibah adalah perbuatan yang teramat jelek. Begitu tercelanya pula orang yang melakukan ghibah. "[7] Jika kita sudah tahu demikian tercelanya membicarakan 'aib saudara kita-tanpa ada maslahat-, maka sudah semestinya kita menjauhkan diri dari perbuatan tersebut. 'Aib kita sebenarnya lebih banyak karena itulah yang kita ketahui. Dibanding 'aib orang lain, sungguh kita tidak mengetahui seluk beluk dirinya. Nasehat ini adalah nasehat untuk diri sendiri karena asalnya nasehat adalah memang demikian. Ya Allah, tunjukkanlah pada kami jalan untuk selalu memperbaiki jiwa ini. Amin Yaa Samii'um Mujiib. Wallahu alam bishawab.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar