SELAMAT DATANG DIBLOG BEJOSENTOSO

Minggu, 01 Januari 2012

DIMANA ALLAH??

sebuah pertanyaan penting yang cukup mendasar untuk setiap kaum muslimin yang telah mengakui dirinya sebagai seorang muslim. Setiap muslim selayaknya bisa memberikan jawaban dengan jelas dan tegas atas pertanyaan ini, karena bahkan seorang budak wanita yang bukan berasal dari kalangan orang terpelajar pun bisa menjawabnya. Bahkan pertanyaan ini dijadikan oleh Rasulullah sebagai tolak ukur keimanan seseorang. Pertanyaan tersebut adalah "Dimana Allah?". Jika selama ini kita mengaku muslim, jika selama ini kita yakin bahwa Allah satu-satunya yang berhak disembah, jika selama ini kita merasa sudah beribadah kepada Allah, maka sungguh mengherankan bukan jika kita tidak memiliki pengetahuan tentang dimanakah dzat yang kita sembah dan kita ibadahi selama ini. Atau dengan kata lain, ternyata kita belum mengenal Allah dengan baik, belum benar-benar mencintai Allah dan jika demikian bisa jadi selama ini kita juga belum menyembah Allah dengan benar. Sebagaimana kata seorang ulama besar Saudi Arabia, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin: "Seseorang tidak dapat beribadah kepada Allah secara sempurna dan dengan keyakinan yang benar sebelum mengetahui nama dan sifat Allah Ta'ala" (Muqoddimah Qowa'idul Mutsla). Sebagian orang juga mengalami kebingungan atas pertanyaan ini. Ketika ditanya "dimanakah Allah?" Ada yang menjawab 'Allah ada dimana-mana', ada juga yang menjawab 'Allah ada di hati kita semua', ada juga yang menjawab dengan marah sambil berkata 'Jangan tanya Allah dimana, karena Allah tidak berada dimana -mana '. Semua ini, tidak ragu lagi, karena kurangnya perhatian kaum muslimin terhadap ilmu agama, terhadap ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasulullah yang telah jelas secara gamblang menjelaskan jawaban atas pertanyaan ini, bak mentari di siang hari. Allah bersemayam di atas Arsy "Dimanakah Allah?" Maka jawaban yang benar adalah Allah bersemayam di atas Arsy, dan Arsy berada di atas langit. Hal ini sebagaimana diyakini oleh Imam Asy Syafi'I, ia berkata: "Berbicara tentang sunnah yang menjadi pegangan saya, murid-murid saya, dan para ahli hadits yang saya lihat dan yang saya ambil ilmunya, seperti Sufyan, Malik, dan yang lain, adalah iqrar seraya bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq selain Allah, dan bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah, serta bersaksi bahwa Allah itu diatas 'Arsy di langit, dan dekat dengan makhluk-Nya "(Kitab I'tiqad Al Imamil Arba'ah, bab 4). Demikian juga diyakini oleh para imam mazhab, yaitu Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi) dan Imam Ahmad Ibnu Hambal (Imam Hambali), tentang hal ini silakan merujuk pada kitab I'tiqad Al Imamil Arba'ah karya Muhammad bin Abdirrahman Al Khumais. Keyakinan para imam tersebut tentunya bukan tanpa dalil, bahkan pernyataan bahwa Allah berada di langit didasari oleh dalil Al Qur'an, hadits, akal, fitrah dan 'ijma. 1. Dalil Al Qur'an Allah Ta'ala dalam Al Qur'anul Karim banyak sekali mensifati diri-Nya berada di atas Arsy yaitu di atas langit. Allah Ta'ala berfirman yang artinya: "Allah Yang Maha Pemurah bersemayam di atas Arsy" (QS. Thaha: 5) Ayat ini jelas dan tegas menjelaskan bahwa Allah bersemayam di atas Arsy. Allah Ta'ala juga berfirman yang artinya: "Apakah kamu merasa aman terhadap Dzat yang di langit (yaitu Allah) kalau Dia hendak menjungkir-balikkan bumi beserta kamu sekalian sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang" (QS. Al Mulk: 16) Juga ayat lain yang artinya: "Malaikat-malaikat dan Jibril naik kepada Rabb-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun" (QS. Al-Ma'arij: 4). Ayat pun yang menunjukkan ketinggian Allah. 2. Dalil hadits Dalam hadits Mu'awiyah bin Hakam, bahwa ia berniat membebaskan seorang budak wanita sebagai kafarah. Lalu ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu' alaihi wa sallam menguji budak wanita tersebut. Beliau bertanya: "Dimanakah Allah?", Maka ia menjawab: "Di atas langit", beliau bertanya lagi: "Siapa aku?", Maka ia menjawab: "Anda utusan Allah". Lalu beliau bersabda: "Bebaskanlah ia karena ia seorang yang beriman" (HR. Muslim). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah bersabda yang artinya: "Setelah selesai menciptakan makhluk-Nya, di atas Arsy Allah menulis, 'Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku'" (HR. Bukhari-Muslim) 3. Dalil akal Syaikh Muhammad Al Utsaimin berkata: "Akal seorang muslim yang jernih akan mengakui bahwa Allah memiliki sifat sempurna dan maha suci dari segala kekurangan. Dan 'Uluw (Maha Tinggi) adalah sifat sempurna dari Suflun (rendah). Maka jelaslah bahwa Allah pasti memiliki sifat sempurna tersebut yaitu sifat 'Uluw (Maha Tinggi) ". (Qowaaidul Mutslaa, Bab Syubuhaat Wa Jawaabu 'anha) 4. Dalil fitrah Perhatikanlah orang yang berdoa, atau orang yang berada dalam ketakutan, kemana ia akan menengadahkan tangannya untuk berdoa dan memohon pertolongan? Bahkan seseorang yang tidak belajar agama pun, karena fitrohnya, akan menengadahkan tangan dan pandangan ke atas langit untuk meminta kepada Allah Ta'ala, bukan ke kiri, ke kanan, ke bawah atau yang lain. Namun perlu digaris bawahi bahwa pemahaman yang benar adalah meyakini bahwa Allah bersemayam di atas Arsy tanpa mendeskripsikan cara Allah bersemayam. Tidak bisa kita membayangkan Allah bersemayam di atas Arsy dengan duduk bersila atau dengan bersandar atau semacamnya. Karena Allah tidak serupa dengan makhluknya. Allah Ta'ala berfirman yang artinya: "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah" (QS. Asy Syura: 11) Maka kewajiban kita adalah meyakini bahwa Allah berada di atas Arsy yang berada di atas langit sesuai yang dijelaskan Qur'an dan Sunnah tanpa mendeskripsikan atau mempertanyakan kaifiyah (tata cara)-nya. Imam Malik pernah ditanya dalam majelisnya tentang bagaimana caranya Allah bersemayam? Maka beliau menjawab: "Bagaimana caranya itu tidak pernah disebutkan (dalam Qur'an dan Sunnah), sedangkan istawa (bersemayam) itu sudah jelas maknanya, menanyakan tentang bagaimananya adalah bid'ah, dan saya memandang kamu (penanya) sebagai orang yang menyimpang, kemudian memerintahkan si penanya keluar dari majelis ". (Dinukil dari terjemah Aqidah Salaf Ashabil Hadits). Wallahualam .. Wonk Publik maaf Ustadzah, saya msh blm mengerti, ada artikel2 yg sependapat dg Ustadzah dan ada pula yg tdk sependapat. Artikel yg tdk sependapat: http://salafytobat.wordpress.com/2008/06/16/allah-ada-tanpa-tempat-dan-arah-lengkap-dengan-dalil-dalil/ http://salafytobat.wordpress.com/2009/11/17/ibnu-katsir-membungkam-wahhaby-2-tafsir-ayat-istiwa/ http://catatankecilsantri.blogspot.com/2011/06/allah-ada-tanpa-tempat.html mana yg benar, mhn penjelasannya. 22 Juli jam 17:46 · Suka Seruan Islam Sifat istiwa 'adalah salah satu sifat Allah yang telah Allah Ta'ala tetapkan untuk diriNya dalam tujuh ayat Al-Quran, yaitu Surat Al-A'raf: 54, Yunus: 3, Ar-Ra'd: 2, Al- Furqan: 59, As-Sajdah: 4 dan Al-Hadid: 4, semuanya dengan lafazh: ثم استوى على العرش Artinya: "Kemudian Dia berada di atas 'Arsy (singgasana)." Dan dalam Surat Thaha 5 dengan lafazh: الرحمن على العرش استوى Artinya: "Yang Maha Penyayang di atas 'Arsy (singgasana) berada." Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam juga telah mengatur sifat ini untuk Allah dalam beberapa hadits, diantaranya: 1. Hadits Abu Hurairah rodiallahu'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda: لما قضى الله الخلق كتب في كتابه - فهو عنده فوق العرش - إن رحمتي غلبت غضبي "Ketika Allah menciptakan makhluk (maksudnya menciptakan jenis makhluk), Dia menuliskan di kitab-Nya (Al-Lauh Al-Mahfuzh) - dan kitab itu bersama-Nya di atas 'Arsy (singgasana) -:" Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemarahan- ku. "(HR. Al-Bukhari dan Muslim) B. Arti Istiwa ' Lafazh istawa 'ala (استوى على) dalam bahasa Arab - yang dengannya Allah menurunkan wahyu - berarti (علا وارتفع), yaitu berada pada (tinggi / di ketinggian). Hal ini adalah kesepakatan salaf dan ahli bahasa. Tidak ada yang memahaminya dengan arti lain di kalangan salaf dan ahli bahasa. Adapun 'Arsy, secara bahasa artinya Singgasana kekuasaan. 'Arsy adalah makhluk tertinggi. Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam bersabda: فإذا سألتم الله فاسألوه الفردوس فإنه أوسط الجنة وأعلى الجنة وفوقه عرش الرحمن ومنه تفجر أنهار الجنة "Maka jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Al-Firdaus, karena sungguh ia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya singgasana Sang Maha Pengasih, dan darinya sungai-sungai surga mengalir. "(HR. Al-Bukhari) 'Arsy juga termasuk makhluk paling besar. Allah menyifatinya dengan 'adhim (besar) dalam Surat An-Nahl: 26. Ibnu Abbas rodiallahu'anhu berkata: الكرسي موضع القدمين, والعرش لا يقدر قدره إلا الله تعالى. "Kursi adalah tempat kedua kaki (Allah), dan 'Arsy (singgasana) tidak ada yang mengetahui ukurannya selain Allah Ta'ala." (Hadits mauquf riwayat Al-Hakim dan dishahihkan Adz-Dzahabi dan Al-Albani). Saya berkeyakinan bahwa Allah SWT berada di atas Arsy (singgasananya), Bentuk dan besarnya Allah yang maha tahu kita tidak diberi ilmu tentang hal itu, bahwa ada yang mengatakan Allah ada dimana-mana itu juga merupakan kekuasaan sebagai Maha Pencipta, adalah hal yang tidak mustahil kalau Allah SWT sebagai pencipta Allam tidak bisa memantau dan mengetahui apa-apa yang terjadi bahkan selembar daun yang jatuh di pengamatannya, jadi Allah itu berkuasa melakukan sesuatu sesuai kehendaknya, jadi kalau ada yang berpendapat bahwa Allah tidak bertempat itu menandakan bahwa Allah SWT itu bisa berada dimanapun yang dikehendakinya sesuai dengan derajat KeTuhannya, Allah bahkan lebih dekat dengan setiap urat leher yat Qur'an yang Artinya: "Dan Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya, ( yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. "(QS. Qoff: 16 - 17) Artinya:" Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar- benar memeliharanya. "(QS. Al Hijr: 85) yaitu malaikat turun dengan membawa Al Qur'an dengan izin Allah. Begitu pula dengan malaikat lebih dekat kepada manusia dari pada urat lehernya dengan kekuasaan Allah terhadap mereka. (Tafsir al Qur'an al Azhim juz VII hal 398) Tentang ayat pertama, bahwa maknanya adalah kedekatan Allah, diriwayatkan ketika para sahabat bertanya pada nabi saw: "dimanakah Tuhan kita?", maka turunlah ayat: "Bila hamba Ku bertanya tentang aku katakanlah aku dekat .. dst "(Tafsir Imam Attabari Juz 2 hal 158, Tafsir Imam Ibn Katsir Juz 1 hal 219), tentang ayat Allah lebih dekat dari urat leher bahwa Allah itu membatasi setiap celah dalam diri kita, antara leher dan jantung terdapat pembatas, antara hati dan tubuh terdapat pembatas, antara hati dan ruh terdapat pembatas, dan Allah menguasai setiap batasan batasan itu, sampai bisa saja yg diinginkan hati tidak mampu dilaksanakan akal, atau yg diinginkan akal tak mampu dilaksanakan tubuh, atau yg diinginkan hati tak mampu dilakukan ruh, karena kekuasan Allah ada diantara batas batas itu, Allah mampu menghalangi atau merubahnya dg takdir Nya swt, saat hati berniat jahat bisa saja Allah memurnikan akal tuk menolaknya, saat akal jahat bisa saja Allah melumpuhkan tubuh tuk melakukannya, demikian pula firman Nya swt: Allah membatasi antara manusia dan hatinya. (Tafsir Imam Attabari Juz 9 ha 217) Kapan kaum salafi menafsirkan kalimat Aku menjadi malaikat dan pengabulan doa?, Maka mereka mendapat sumber Darimanakah? Allah dekat tanpa sentuhan dan jauh tanpa jarak, Allah tak bisa dikiaskan bagaikan manusia, bila jauh jaraknya maka jauh pula wujudnya, bila dekat maka dekat pula wujudnya, Allah berbeda dengan makhluk yg terikat dengan jarak dan tempat, Allah tak terikat dg jarak dan tempat, Allah menguasai seluruh Hamba Nya swt dan menguasai seluruh Alam semesta tanpa membutuhkan jarak dan tempat.Bahkan "Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam pada sepertiga malam yang terakhir, kemudian berfirman:" Barang siapa berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan, barang siapa meminta kepada-Ku akan Aku beri, barangsiapa meminta ampun kepadaku akan Aku ampuni "(HR. Bukhari: 1145 dan Muslim: 758.). Hadist ini secara jelas dan gamblang menunjukkan penetapan sifat nuzul (turunnya) Allah ke langit dunia.Bahwa Allah turun ke langit dunia pun merupakan kekuasaanya kitapun tidak diberi ilmu apakah Allah itu turun ke dengan Dzat (adanya) ataukah hanya kiasan itu semua hanya Allah yang tahu yang jelas Allah berkuasa atas segala suatu dan Allah berkendak sesuai dengan kehendaknya. wallahualam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar