SELAMAT DATANG DIBLOG BEJOSENTOSO

Minggu, 01 Januari 2012

Jangan Beberkan Rahasia Rumah Tangga Anda!

Kita sering menyaksikan ada sekelompok ibu-ibu yang berkumpul, lalu 'nyerempet-nyerempet' bercerita tentang hal-hal yang amat sensitif dan pribadi dari rahasia rumah tangganya, seperti menbeberkan masalah hubungan seksualnya dengan sang suami tanpa sedikitpun rasa malu apalagi canggung. Atau membeberkan 'aib sang suami yang tidak bisa diketahui orang lain. Demikian pula sebaliknya, terkadang ada sekelompok bapak-bapak yang membeberkan hal seperti itu. Apakah hal seperti dibolehkan? atau apakah kondisi yang memungkinkannya? Naskah Hadits عن أبي سعيد الخدري يقول: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "إن من أشر الناس عند الله منزلة يوم القيامة, الرجل يفضي إلى امرأته, وتفضي إليه, ثم ينشر سرها". أخرجه مسلم Dari Abu Sa'id al-Khudri, dia berkata, Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukanna di Hari Kiamat, adalah seorang laki-laki (suami) yang bercampur (bersetubuh) dengan istrinya, kemudian membeberkan rahasia (istri)-nya tersebut. "(HR.Muslim) Kosa Kata a. Secara bahasa kata إفضاء (ism mashdar [kata benda] dari kata kerja أفضى يفضي menurut Imam al-Qurthubiy artinya المخالطة (percampuran). Al-Hirawiy, al-Kalbiy dan selain keduanya berkata, maknanya adalah perbuatan seorang laki-laki (suami) menyendiri (berduaan) dengan isterinya sekalipun tidak menyetubuhinya. Ibn 'Abbas, Mujahid dan as-Suddiy berkata, maknanya adalah jima' (bersetubuh). b. Kata سر (rahasia), maksudnya adalah hubungan seksual dan hal-hal yang bertahan antara keduanya ketika melakukan itu. Intisari Hadits Ada beberap poin yang dapat ditarik dari hadits diatas, diantaranya: * Masing-masing dari kedua pasangan suami-istri memiliki rahasia yang berkenaan dengan hubungan seksual. Rahasia ini biasanya berupa masalah 'pemanasan' yang terjadi antara keduanya ketika akan memulai hubungan seksual atau berkenaan dengan 'aib yang ada pada anggota-anggota badan yang terkait dengan hubungan seksual. Hal ini semua merupakan hal yang paling rahasia diantara keduanya dan keduanya tentu tidak akan menyukai seorangpun mengetahuinya. * Oleh karena itu, Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam memberikan label sebagai manusia yang paling jelek di sisi Allah dan paling rendah martabatnya terhadap salah seorang dari kedua pasangan suami-istri yang mengkhianati amanah yang seharusnya dipegangnya. Yaitu tindakan membeberkan kepada orang-orang hubungan seksual yang terjadi antara keduanya atau membeberkan a'ib dari salah seorang diantara mereka. * Hadits diatas menunjukkan hukum HARAM terhadap tindakan membeberkan rahasia suami-istri yang sangat khusus, yaitu hubungan seksual yang terjadi diantara keduanya sebab orang yang membeberkannya adalah tipe manusia yang paling jelek di sisi Allah. * Islam menganggap hubungan seksual antara suami-istri sebagai hal yang terhormat dan memiliki tempatnya tersendiri. Oleh karena itu, wajib menjaganya dan hendaknya salah seorang diantara keduanya tidak melampaui batas terhadap hal tersebut dengan membeberkan rahasia salah seorang diantara mereka karena masing-masing sudah saling membebankan amanah agar menjaganya. * Dari sisi yang lain, 'pemanasan' antara suami-istri ketika akan melakukan hubungan badan merupakan sesuatu yang bebas dilakukan karena hal itu dapat membuat masing-masing saling merespon dan dapat membangkitkan gairah. Karena itu pula, di dalam hal ini dibolehkan berdusta. Namun bilamana salah seorang dari keduanya mengetahui bahwa rahasia-rahasia tersebut akan disebarluaskan dan mengapung di hadapan orang sehingga menjadi ajang ejekan atau kecaman, maka sebaiknya menahan hal itu dan merahasiakannya. Akibat dari hal seperti ini (tidak ada rasa saling percaya antara satu dengan yang lain karena takut dibocorkan rahasianya), jadilah hubungan seksual tersebut dingin dan kurang bergairah bahkan bisa berujung pada kegagalan sebuah rumah tangga atau kegagalan di dalam menyelesaikan hubungan seksual tersebut. * Para ulama berkata, "Hanya sekedar menyinggung perihal jima 'hukumnya makruh bila tidak ada kebutuhannya dan dibolehkan bila ada perlunya seperti si suami menyebutkan isterinya sudah berpaling darinya atau sang isteri mengklaim bahwa si suami tidak mampu melakukan hubungan seksual, dan semisalnya." * Di dalam hasil keputusan yang dikeluarkan oleh al-Mujamma 'al-Fiqh al-Islamiy (Lembaga Pengkajian Fiqih Islam) yang diadakan di Bandar Sri Begawan, Brunei, pada muktamar ke-8, tanggal 1-7 Muharram 1414 H bertepatan dengan 21 - 27 Juni 1993, disebutkan beberapa poin, diantaranya: - Bahwa hukum asal dalam rumah tangga itu adalah gelar - Menjaga rahasia itu lebih ditegaskan terhadap pekerjaan / profesi yang justru membeberkannya akan menyebabkannya cacat hukum, yaitu profesi kedokteran. - Ada beberapa kondisi yang dikecualikan di dalam menyimpan rahasia tersebut, yaitu bilamana menyimpan rahasia tersebut akan berakibat fatal dan berbahaya untuk orang yang bersangkutan melebihi bahaya bilamana hal itu dibeberkan. Atau ada mashlahat yang lebih kuat di dalam membeberkannya ketimbang bahaya menyimpannya. Dua kondisi ini adalah: Pertama, Kondisi wajib dibeberkan. Yaitu bertolak dari kaidah "Melakukan salah satu yang paling ringan dari dua bahaya sehingga dapat menghindarkan yang paling berat bahayanya dari keduanya" dan kaidah "Merealisasikan mashlahat umum yang konsekuensinya harus melakukan bahaya yang berskala khusus guna mencegah adanya bahaya yang berskala umum bila memang menjadi keharusan mencegahnya" Kondisi ini ada dua macam: a. Mencegah suatu kerusakan terhadap masyarakat b. Mencegah suatu kerusakan terhadap individu Kedua, Kondisi bisa dibeberkan, karena: a. Mengandung mashlahat untuk masyarakat b. Dapat mencegah kerusakan yang berskala umum Di dalam kondisi-kondisi tersebut, wajib berkomitmen dengan prinsip-prinsip syari'at dan prioritasnya dari sisi menjaga dien, jiwa, akal, harta dan keturunan. Pengecualian-pengecualian terkait dengan kondisi wajib atau bisa dibeberkan tersebut harus dibuat secara tertulis dan legal di dalam kode etik menjalankan profesi terkait, baik kedokteran atau lainnya secara jelas dan transparan serta rinci. Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar