SELAMAT DATANG DIBLOG BEJOSENTOSO

Jumat, 13 Januari 2012

Mencari kebahagian

Pernahkah kita mencermati sesungguhnya apa yang dicari oleh seorang pelancong ketika dia mengelana menembus semua belahan dunia? ataukah kita pernah sedikit merenung sebenarnya apa yang ingin didapatkan oleh seorang pendaki gunung ketika harus bersusah payah mencapai puncak mount everst? Pada hakikatnya mereka mencari kedamaian. Menelisik titik tertinggi dari sebuah pencapaian dalam hidup mereka, lalu dengan itu semua mereka akan merasa puas dan tenang karena berhasil mencapai apa yang mereka impikan. Tapi, apakah semua pencapaian itu membuat mereka bahagia? kalau ia, kenapa mereka masih saja terus mendaki ganasnya pegunungan atau masih saja menghabiskan uang mereka untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut berulang-ulang kali?. Bahkan demi sebuah kualitas hidup sebagai seorang pendaki, mereka rela meninggal di dinginnya pegunungan sebagai bentuk kecintaan mereka dengan apa yang mereka geluti selama ini. Jika kita memahami, sesungguhnya kebahagiaan itu takkan pernah terpuaskan jika kita hanya menjadikan DUNIA sebagai PATOKAN KEBAHAGIAAN. Seberapa berhasilpun engkau meraih mimpimu, niscaya kedamaian dan ketenangan itu takkan pernah engkau temukan jika dunia masih saja menjadi alasan untuk bekerja. Dia justru akan melemahkan, dia akan mengguncangkan, dan dia akan melahirkan keserakahan untuk terus-menerus diupayakan. Lalu di manakah letak kebahagiaan itu? Saudaraku… tak perlu kita jauh-jauh mencari dimana sumber kedamaian. Tak perlu kita menghabiskan uang hanya untuk mengejar dimana kepuasan itu berada. Sesungguhnya, ia begitu dekat dengan kita. Kita hanya butuh sedikit waktu untuk mengingat Allah, agar tenteram mengelana dalam hangatnya rasa. “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah sajalah hati akan menjadi tenteram” (Ar-Rad : 28) Bagi orang-orang beriman, mengingat Allah adalah bagian yang tak terpisahkan dari mereka. Ia menjadi pengobat hati yang gundah gulana, ia menjadi penguat tatkala resah mulai menggelayut, bahkan ia menjadi penyalur rasa cinta kepada Allah tatkala rindu itu meletup-letup di dalam diri. “Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah dengan menyebut nama Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang” (Al-Ahzab : 41-42) Saudaraku… Terkadang kerasnya dunia membuat kita lupa untuk bersujud di pekatnya malam, kesibukan untuk mencari sesuap nasi membuat puasa menjadi sesuatu yang “mahal” harganya, bahkan shalat yang menjadi kewajiban kita hanyalah sebuah aktivitas tanpa ruh yang tidak memberikan energi bagi jiwa. Ia malah menjadi beban dan begitu berat untuk dikerjakan. Orang-orang yang lalai telah diingatkan oleh Allah dalam firman-Nya : “Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (Al-A’raf : 179) Duniakah yang membuat kita lupa pada-Nya? dengan alasan mencari kedamaian kah sampai banyak pekerjaan dakwah yang terlupakan? Sejatinya, semua kerja-kerja kita seharusnya selalu membawa Allah di hati kita. Ruang dimana kita mampu merenungi sekerdil apa jiwa kita. Dia Zat yang seharusnya kita letakkan sepenuhnya di dalam jiwa kita bahkan Dialah Zat yang seharusnya kita ingat dan kita syukuri nikmat-Nya. “Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku niscaya AKU ingat kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku” (Al-Baqarah : 152) Adakah kebahagiaan yang paling menghangatkan sebahagia mengingat Allah? adakah rasa yang paling berharga selain kecintaan yang berlimpah kepada-Nya? Saudaraku.. Sumber kenikmatan, kedamaian, serta kebahagiaan yang selama ini kita kejar. Sesungguhnya begitu dekat dengan kita. Kita hanya butuh sedikit muhasabah terhadap diri-diri kita yang begitu hina, menisbahkan segala cinta dan rasa kita hanya untuk-Nya. Allah akan membersamai kita tatkala kita ingat kepada-Nya, Allah akan mengingat kita dalam diri-Nya tatkala kita mengingat-Nya dalam Jiwa kita dan Allah akan mengingat kita dalam suasana yang lebih baik tatkala kita mengingat-Nya pada suasana apapun. Rasulullah SAW, bersabda : “Allah SWT. Telah berfirman , “Aku menurut prasangka hamba-Ku tentang Aku; Aku bersama nya bila ia mengingat-Ku. Bila ia mengingat-Ku dalam jiwanya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Bila ia mengingat-Ku di tengah khalayak, maka Aku mengingatnya di tengah khalayak yang lebih baik” (Mutafaq’alaih)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar