SELAMAT DATANG DIBLOG BEJOSENTOSO

Minggu, 01 Januari 2012

Mutiara Hadist Jadilah Seperti Lebah

Rasulullah saw. bersabda, "Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya). " (Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Bazzar) Seorang mukmin adalah manusia yang memiliki sifat-sifat unggul. Sifat-sifat itu membuatnya memiliki keistimewaan dibandingkan dengan manusia lain. Sehingga di mana pun dia berada, kemana pun dia pergi, apa yang dia lakukan, peran dan tugas apa pun yang dia emban akan selalu membawa manfaat dan maslahat bagi manusia lain. Maka jadilah dia orang yang seperti dijelaskan Rasulullah saw., "Manusia paling baik adalah yang paling banyak memberikan manfaat untuk manusia lainnya." Kehidupan ini agar menjadi indah, menyenangkan, dan sejahtera membutuhkan manusia-manusia seperti itu. Menjadi apa pun, ia akan menjadi yang terbaik; apa pun peran dan fungsinya maka segala yang ia lakukan adalah hal-hal yang membuat orang lain, lingkungannya menjadi bahagia dan sejahtera. Nah, sifat-sifat yang baik itu antara lain terdapat pada lebah. Rasulullah saw. dengan pernyataanya dalam hadits di atas mengisyaratkan agar kita meniru sifat-sifat positif yang dimiliki oleh lebah. Tentu saja, sifat-sifat itu sendiri memang merupakan ilham dari Allah. seperti yang Dia firmankan, "Dan Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah: 'Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu). ' Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan. " (An-Nahl: 68-69) Sekarang, bandingkanlah apa yang dilakukan lebah dengan apa yang seharusnya dilakukan seorang mukmin, seperti berikut ini: Hinggap di tempat yang bersih dan menyerap hanya yang bersih. Lebah hanya hinggap di tempat-tempat pilihan. Dia sangat jauh berbeda dengan lalat. Serangga yang terakhir sangat mudah ditemukan di tempat sampah, kotoran, dan tempat-tempat yang berbau busuk. Tapi lebah, ia hanya akan mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat-tempat bersih lainnya yang mengandung bahan madu atau nektar. Seperti itulah sifat seorang mukmin. Allah. berfirman: Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang ada di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagimu. (Al-Baqarah: 168) (Yaitu) orang-orang yang menurut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan untuk mereka semua yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al-A'raf: 157) Karenanya, jika ia mendapatkan amanah dia akan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Ia tidak akan melakukan korupsi, pencurian, penyalahgunaan wewenang, manipulasi, penipuan, dan dusta. Sebab, segala kekayaan hasil perbuatan-perbuatan tadi adalah merupakan khabaits (kebusukan). Mengeluarkan yang bersih. Siapa yang tidak kenal madu lebah. Semuanya tahu bahwa madu memiliki khasiat untuk kesehatan manusia. Tapi dari organ tubuh manakah keluarnya madu itu? Itulah salah satu keistimewaan lebah. Dia produktif dengan kebaikan, bahkan dari organ tubuh yang pada binatang lain hanya melahirkan sesuatu yang menjijikan. Belakangan, ditemukan pula produk lebah selain madu yang juga diyakini memiliki khasiat tertentu untuk kesehatan: liurnya! Seorang mukmin adalah orang yang produktif dengan kebajikan. "Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan." (Al-Hajj: 77) Al-khair adalah kebaikan atau kebajikan. Akan tetapi al-khair dalam ayat di atas bukan merujuk pada kebaikan dalam bentuk ibadah ritual. Sebab, perintah ke arah ibadah ritual sudah terwakili dengan kalimat "rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu" ( irka'u, wasjudu, wa'budu rabbakum ). Al-khair di dalam ayat itu justru bermakna kebaikan atau kebajikan yang buahnya dirasakan oleh manusia dan makhluk lainnya. Segala yang keluar dari dirinya adalah kebaikan. Hatinya jauh dari prasangka buruk, iri, dengki; lidahnya tidak mengeluarkan kata-kata kecuali yang baik; perilakunya tidak menyengsarakan orang lain melainkan justru membahagiakan; hartanya bermanfaat bagi banyak manusia; kalau dia berkuasa atau memegang amanah tertentu, dimanfaatkannya untuk sebesar-besar kemanfaat manusia . Tidak pernah merusak Seperti yang disebutkan dalam hadits yang sedang kita bahas ini, lebah tidak pernah merusak atau mematahkan ranting yang dia hinggapi. Begitulah seorang mukmin. Dia tidak pernah melakukan perusakan dalam hal apa pun: baik material maupun nonmaterial. Bahkan dia selalu melakukan perbaikan-perbaikan terhadap yang dilakukan orang lain dengan cara-cara yang tepat. Dia melakukan perbaikan akidah, akhlak, dan ibadah dengan cara berdakwah. Mengubah kezaliman apa pun bentuknya dengan cara berusaha menghentikan kezaliman itu. Jika kerusakan terjadi akibat korupsi, ia memberantasnya dengan menjauhi perilaku buruk itu dan mengajukan koruptor ke pengadilan. Bekerja keras Lebah adalah pekerja keras. Ketika muncul pertama kali dari kamarnya (saat "menetas"), lebah pekerja membersihkan kamar sarangnya untuk telur baru dan setelah berumur tiga hari ia memberi makan larva, dengan membawakan serbuk sari madu. Dan begitulah, hari-harinya penuh semangat berkarya dan beramal. Bukankah Allah pun memerintahkan umat mukmin untuk bekerja keras? "Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain." (Alam Nasyrah: 7) Kerja keras dan semangat pantang kendur itu lebih dituntut lagi dalam upaya menegakkan keadilan. Karena, meskipun memang banyak yang cinta keadilan, namun kebanyakan manusia-kecuali yang mendapat rahmat Allah-tidak suka jika dirinya "dirugikan" dalam upaya penegakkan keadilan. Bekerja secara jama'i dan tunduk pada satu pimpinan Lebah selalu hidup dalam koloni besar, tidak pernah menyendiri. Mereka pun bekerja secara kolektif, dan masing-masing memiliki tugas sendiri-sendiri. Ketika mereka mendapatkan sumber sari madu, mereka akan memanggil teman-temannya untuk menghisapnya. Demikian pula ketika ada bahaya, seekor lebah akan mengeluarkan feromon (suatu zat kimia yang dikeluarkan oleh binatang tertentu untuk memberi isyarat tertentu) untuk mengudang teman-temannya agar membantu dirinya. Itulah seharusnya sikap orang-orang beriman. "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (Ash-Shaff: 4) Tidak pernah melukai kecuali kalau diganggu Lebah tidak pernah memulai menyerang. Ia akan menyerang hanya sementara merasa terganggu atau terancam. Dan untuk mempertahankan "kehormatan" umat lebah itu, mereka rela mati dengan melepas sengatnya di tubuh pihak yang diserang. Sikap seorang mukmin: musuh tidak dicari. Tapi jika ada, tidak lari. Itulah beberapa karakter lebah yang patut ditiru oleh orang-orang beriman. Bukanlah sia-sia Allah menyebut-nyebut dan mengabadikan binatang kecil itu dalam Al-Quran sebagai salah satu nama surat: An-Nahl. Allahu a'lam. [] Sumber: www.dakwatuna.com Hadist tentang Tobat 1. Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa dirinya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Demi Allah, sesungguhnya saya membaca istighfar (memohon ampunan) dan bertobat pada Allah lebih dari tujuh puluh kali setiap harinya." (HR Bukhari) 2. Anas bin Malik ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah lebih suka menerima tobat hambaNYA melebihi kesenangan seseorang yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di tengah hutan." (HR Bukhari dan Muslim) 3. Abu Musa Al-Asy'ary ra. meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah membentangkan rahmatNYA pada waktu malam untuk memberi kesempatan bertobat pada seseorang yang telah bermaksiat di siang harinya, juga membentangkan karunia pada waktu siang untuk memberi kesempatan bertobat pada seseorang yang telah berdosa di waktu malamnya. Hal ini tetap dilakukan (Allah SWT) sampai matahari terbit dari barat. "(HR Muslim) 4. Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah menerima tobat dan memaafkannya." (HR Muslim) 5. Abdullah bin 'Umar ra. meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah senantiasa menerima tobat setiap hambaNYA selama ruh (nyawanya) belum sampai di tenggorokkannya." (HR Tirmidzi) 6. Abu Said (Sa'ad bin Malik bin Sinan) Al-Khudry ra. meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, "Dahulu, di waktu umat yang terdahulu, ada seseorang yang telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa. Kemudian ia ingin bertobat, sehingga menemukan seorang alim. Ia lalu ditampilkan untuk mendatangi seorang alim. Lalu ia menceritakan bahwa dirinya telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, apakah masih ada jalan untuk bertobat? Sang alim itu menjawab, "Tidak ada". Mendengar jawaban seperti itu, si pembunuh tadi langsung membunuh orang alim itu, sehingga genap seratus orang yang telah dibunuhnya. Kemudian ia menemukan lagi orang alim lainnya. Ketika telah ditampilkan padanya, ia pun pergi menemuinya dan menceritakan bahwa dirinya telah membunuh seratus orang, apakah masih ada jalan untuk bertobat? Sang alim menjawab, "Masih ada pintu tobat, dan siapakah yang dapat menghalangi seseorang untuk bertobat? Pergilah kamu ke daerah itu, karena di sana banyak orang-orang yang taat kepada Allah. Dan berbuatlah sebagaimana perbuatan mereka, dan jangan kembali ke negerimu itu yang merupakan desa para penjahat ". Sang pembunuh itu lalu pergi ke daerah atau desa tobat itu. Ketika masih di tengah perjalanan, mendadak sang pembunuh itu meninggal. Melihat peristiwa itu, Malaikat Rahmat dan Malaikat Siksa berselisih paham. Malaikat Rahmat berkata, "Ia telah menempuh jalan untuk bertobat kepada Allah dengan sepenuh hatinya". Sedang malaikat Siksa berkata, "Ia belum pernah berbuat kebaikan sama sekali". Maka datanglah satu Malaikat berupa manusia untuk dijadikan penengah (hakim) diantara kedua malaikat tersebut. Malaikat yang menengahi itu berkata, "Ukur saja antara dua daerah yang ditinggalkan dan yang dituju, ke daerah mana ia lebih dekat, kampung pertobatan atau kampung maksiat?" Setelah diukur, ternyata sang pembunuh lebih dekat ke desa tobat ketika meninggal, kira-kira sejengkal saja. Seketika itu juga, Malaikat Rahmat membawa ruh sang pembunuh. (HR Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat lain disebutkan, "Allah memerintahkan kepada bumi yang dituju untuk mendekat, dan menyuruh bumi yang ditinggalkan agar menjauh". 7. Abdullah bin Abbas ra. dan Anas bin Malik ra., keduanya meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW brsabda, "Andaikan seorang anak Adam (manusia) memiliki suatu lembah emas, pasti ingin memiliki dua lembah. Dan tidak yang dapat menutup mulutnya (tidak ada yang dapat menghentikan kerakusannya pada dunia) kecuali tanah (kematian). Dan Allah berkenan memberi tobat pada siapa saja yang bertobat. (HR Bukhari dan Muslim)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar