SELAMAT DATANG DIBLOG BEJOSENTOSO

Minggu, 01 Januari 2012

Kaya dan Miskin merupakan Ujian dari Allah SWT

Ketika kita diberi kesusahan maka kita bersabar dan ketika kita diberi kekayaan maka kita bersyukur. Dari surat Al-Fajr ayat 15-16, bahwa pola pikir orang kafir adalah mengukur kemuliaan dan kehinaan berdasarkan materi yang dimilikinya. Manusia sering berpikir kalau hartanya banyak, berarti Tuhan memuliakannya, dan jika hartanya sedikit, berarti Tuhan menghinakannya. Padahal kekayaan, kemiskinan, kesulitan dan kemudahan, semuanya adalah tes dari Allah Swt. Tes apakah kita akan menghadapinya dengan sabar dan syukur, atau bahkan dengan sikap-sikap yang akan merugikan kita sendiri? Berikut tafsir surat Al Fajr ayat 14-16 dari tafsir Fi Zhilalil Qur'an oleh Sayyid Quthb. Pola pikir kafir: Mengukur Kemuliaan dan Kehinaan dengan materi "Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi". (Al Fajr: 14) Dia melihat, menghitung, memperhitungkan dan akan memberi balasan, sesuai timbangan yang cermat dan tak pernah salah. Dia tidak pernah dan tidak akan berbuat aniaya. Dia tidak menghukumi sesuatu berdasarkan lahiriahnya, melainkan menurut hakikatnya. Sedangkan manusia, maka pertimbangannya sering keliru, dan ukurannya sering melenceng. Mereka hanya melihat fenomena lahiriah saja, tidak berhubungan dengan timbangan Allah, "Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata:" Tuhanku telah memuliakanku ". Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku". "(Al-Fajr: 15-16) Demikianlah pandangan manusia terhadap tes-tes yang diberikan Allah yang berupa kelapangan dan kesempitan, kekayaan dan kemiskinan. Manusia diuji-Nya dengan kenikmatan dan kemuliaan, dengan harta kekayaan dan atau posisi. Akan tetapi, ia tidak mengerti kalau itu tes, yang kelak akan dipertanggung jawabkan. Ia mengira bahwa rezeki dan posisi ini sebagai indikasi yang menunjukkan bahwa ia berhak mendapatkan kemuliaan di sisi Allah, dan sebagai pertanda bahwa Allah telah memilihnya. Lalu, ia beranggapan bahwa tes itu sebagai balasan, dan ia mengukur kemuliaan di sisi Allah itu dengan diberikan-Nya kehidupan seperti ini. Ada kalanya Allah menguji manusia dengan mempersempit rezekinya. Lantas, ia mengira bahwa tes semacam ini sebagai balasan dan dianggapnya sebagai hukuman. Ia memandang kesempitan rezeki itu sebagai indikasi kehinaan di sisi Allah. Karena, pikirnya, kalau Allah tidak menghinanya, tentu Dia tidak akan mempersempit rezekinya. Ternyata pola pikir dan pengukuran semacam ini adalah salah. Karena, kelapangan atau kesempitan rezeki itu hanyalah tes dari Allah kepada hamba-hamba-Nya. Apakah ia mensyukuri nikmat itu atau menyombongkan diri, bersabar atas ujian itu atau berkeluh kesah? Adapun balasannya nanti tergantung pada sikap yang dimunculkannya. Namun, diberikannya kekayaan dunia atau dihalanginya untuk mendapatkannya itu bukan balasan. Nilai seseorang di sisi Allah tidak berhubungan dengan kekayaan dunia yang dimilikinya. Keridhaan atau kebencian Allah tidak ditunjuki oleh perolehan kekayaan atau keterhalangan mendapatkannya di dunia ini. Karena Dia memberi rezeki kepada orang yang saleh atau durhaka. Dia juga menghalanginya dari orang shaleh dan durhaka. Akan tetapi, di belakang semua itu, ada hal yang harus diperhatikan. Yaitu, bahwa Dia memberi rezeki adalah untuk menguji dan menghalangi (tidak memberi) itupun untuk menguji. Adapun yang perlu mendapatkan perhatian di sini adalah hasil tes tersebut. Hanya saja, ketika hati manusia kosong dari iman, maka ia tidak mengerti hikmah penghalangan dan pemberian itu, dan tidak mengerti hakikat nilai dalam timbangan Allah. Bila hatinya penuh dengan iman, maka ia akan selalu berhubungan dengan Allah dan mengerti apa yang ada di sana. Sehingga, kekayaan dunia yang tak berharga ini terasa rendah nilainya menurut ukuran. Ia sadar bahwa di belakang tes ini akan ada balasan. Sehingga, ia akan tetap beramal saleh baik ketika mendapat kelapangan rezeki maupun ketika rezekinya sedang sempit. Hatinya merasa mantap terhadap qadar Allah dalam kedua kondisi itu. Tahu pulalah ia bahwa harga dirinya dalam timbangan Allah bukan dengan nilai-nilai lahiriah yang hampa ini.Wallahu A'lam ..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar