SELAMAT DATANG DIBLOG BEJOSENTOSO

Kamis, 05 Januari 2012

Mualaf Clay Saat Ingin Pengaruhi Teman Muslimnya, Ia Justru Tercerahkan

Nikmat Islam dan Iman akan diberikan Allah kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Clay, termasuk salah satunya. Tak pernah ia menyangka, selama 20 tahun memeluk Kristen evangelis, ternyata ia hanya membutuhkan waktu kurang dari dua tahun sebelum menyatakan beriman kepada Allah. Kini, sudah 4,5 tahun mantan mahasiswa Universitas Arizona ini memeluk agama Islam. Ia mengaku tak pernah tahu apa-apa tentang Islam. “Kecuali apa yang mereka katakan kepadaku saat masih di kelas lima. Yang mereka ajarkan kepadaku adalah Alquran itu hal besar,” ujar dia. Saat masih berkuliah (18-20 tahun), ia sering berlajar bersama teman di ruang bawah tanah perpustakaan. Kelompok belajarnya berasal dari campuran beberapa agama. Saat belajar, mereka tak hanya mendiskusikan pelajaran. Topik lain seperti politik dan agama juga menjadi santapan. Di antara teman kelompoknya itu, ada satu orang muslim. Kepada kawan muslimnya, ia pernah menyimpan niat untuk ‘mengkristenkan’ orang itu. Dalam hati, ia berujar, “Aku akan membawa orang ini menuju Kristus,” katanya. Ia pernah beberapa kali memberi masukan tentang Kristen. Sebagai orang Kristen, ia merujuk pada perjanjian baru Alkitab. Temannya mendengarkan dengan saksama. Sampai kemudian mereka berpisah, Clay mendoakan agar si muslim bisa masuk Kristen. Melihat ada gelagat aneh untuk mengkristenkan temannya, sang kawan yang Muslim lantas menanyakan apa yang sebenarnya diinginkan Clay. "Dengar, aku akan melakukan apa pun yang Anda inginkan. Jika anda ingin saya untuk membelikan anda mobil, aku akan membelikanmu mobil,” ujar Clay menirukan kawannya. Lalu Clay hanya menjawab bahwa ia tak menginginkan apapun dari teman muslimnya kecuali ia menjadi Kristen. Siapa sangka, pengalaman sang teman muslim justru memberikan pencerahan pada Clay. Sambil mengobrol, Clay baru tahu latar belakang si Muslim yang ternyata seorang atheis. Sebelum menjadi Muslim, dari atheis ia memeluk Kristen, kemudian ke Katolik, baru akhirnya memeluk Islam. Meski informasi itu sempat mengusiknya, Clay tetap pergi ke gereja hingga usianya 20 tahun. Menjelang usia 30-an, ia merasakan sesuatu terjadi dalam dirinya. Ia penasaran tentang Islam. Saat panggilan itu muncul, timbul pula rasa ragu antara ‘ya dan tidak’ untuk mempelajarinya lebih lanjut. Butuh waktu sembilan bulan baginya untuk memutuskan akan mencari tahu tentang Islam. “Jadi aku pergi ke toko buku dan membeli terjemahan bahasa Inggris dari ALquran dan mulai membacanya,” ujar dia. Ia hanya membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk menyadari ada gambaran yang berbeda tentang Tuhan dari kitab suci yang belum lama ia baca itu. Saat ia membaca terjemahan Alquran, ia menyadari Islam adalah agama yang sangat terfokus dan bahwa Tuhan adalah sumber dari segala kekuatan yang ada. “Tak satu pun dari kekuasaan diperuntukkan bagi orang lain. Semua takdir yang baik, buruk, jelek, indah dan yang akan terjadi, hanya Allah yang punya kuasa,” kata dia. Entah karena apa, ia merasa keinginan untuk memuji Allah seperti tumbuh saja pada dirinya. Awalnya Clay tak yakin bahwa Alquran sebagai satu-satunya sebab yang membuatnya masuk Islam, ia berpikir Islamnya ia hari ini terjadi pada kehendak Allah. "Saya tidak pernah tahu bagaimana pikiran saya bisa berubah. Allah yang mengendaki saya suatu hari akan masuk Islam. Alhamdulillah, setelah 18 bulan, aku tiba-tiba terbangun dengan rasa iman di dada dan (tiba-tiba) mengenali-Nya, "kata dia. Clay mulai memeluk Islam setelah 18 bulan mempelajari Islam. Keislamannya seperti sesuatu yang spontan. Ia tiba-tiba terbangun di tengah malam dan berujar, "Hei, subhannallah, saya muslim!". Mengutip hadis, ia mengatakan bahwa siapa yang diberi hidayah oleh Allah maka tidak seorangpun yang bisa menyesatkannya. Sebaliknya, siapa yang disesatkan oleh Allah maka tida seorangpun yang bisa memberinya petunjuk (HR. Ahmad, Abu Dawud, at Tirmidzi). Ketika menjadi muslim ia bahagia mengetahui Islam menghormati Nabi Isa. Clay tidak memungkiri hak-hak ilahiah yang diberikan kepada Yesus (Isa). "Ketika saya tahu bagaimana Islam menggambarkan tentang Yesus, aku senang melihat bahwa Yesus digambarkan sebagai seorang nabi (Isa / Yesus juga disebut Mesias)," kata dia. Salah seorang Muslim pertama yang ia temui selama 18-bulan masa belajar Islam pernah melontarkan satu hal . "Yesus adalah seorang nabi Allah yang harus dihormati. Meninggal dengan cara disalib bukanlah cara yang baik untuk mati. Dan ini tidak cocok untuk seorang nabi Allah," ujar dia. Saat itu ia baru menydari bahwa umat Islam begitu menghormati Yesus. Setelah memeluk Islam, ia berharap semua umat Islam di dunia mendapatkan hidayah agar ibadah yang dilakukan semakin baik dan sempurna. Ia merasa sedih dengan pemberitaan tentang Islam yang beredar di media, misalnya tentang teroris. "Sangat menyedihkan bahwa orang tidak mendapatkan gambaran yang jelas tentang Islam dalam berita dan media , "ujar dia. Jika ada sesuatu yang salah tentang Islam, media langsung memberitakannya. Menurutnya, media pintar sekali membisniskan berita." Padahal seorang muslim sejati tidak akan pernah menjadi teroris. Dan teroris itu bukanlah muslim sejati, "katanya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar