SELAMAT DATANG DIBLOG BEJOSENTOSO

Minggu, 01 Januari 2012

TAKDIR DAN sunnatullah

Pengertian Takdir dan Sunnatullah. 1. Pengetian Takdir Kata Takdir terambil dari kata Qaddara berasal dari akar kata "qadara" yang antara lain berarti; mengukur, memberi penilaian atau ukuran, sehingga jika Anda berkata "Allah telah menakdirkan demikian", maka itu berarti, "Allah telah memberi penilaian / ukuran / batas tertentu dalam diri, sifat, atau kemampuan maksimal makhluk-Nya. [3] Dari sekian banyak ayat Alqur'an dipahami bahwa semua makhluk telah ditetapkan takdirnya oleh Allah. Mereka tidak dapat melampaui batas ketetapan itu, dan Allah Swt. menuntun dan menunjukkan mereka mereka arah yang seharusnya mereka tuju. Begitu dipahami antara lain dari ayat-ayat awal Surat Al-A'la ayat 1 - 3: Terjemahnya; Sucikanlah Nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan (semua mahluk) dan menyempurnakannya, yang memberi takdir kemudian mengarahkanya. Kata qadar dan takdir memiliki perbedaan makna. Kata qadar menurut M. Quraish Shihab, memiliki beberapa makna, diantaranya ketetapan, mulia dan sempit. [4] Ia mengartikan kata qadar dengan ketetapan dan mulia, karena ia berdasar pada (Malam ketetapan takdir manusia atau malam mulia karena pada malam itu Allah menetapkan takdir seseorang). Sedangkan kata qadar yang berarti sempit, beliau berdasar pada firman Allah Swt, يبسط الرزق لمن يشاء (Allah melapangkan rezeki seseorang yang ia inginkan dan mempersempit). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata qadr dimaknakan kekuatan, kekuasaan, kodrat dan ukuran [5]. Kata قدير dan قادر yang akar katanya dari kata qadar lebih banyak diartikan kekuasaan, seperti dalam firman Allah إن الله على كل شئ قدير (Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas sesuatu), dan QS. al-An'am (6): 37, yakni; Terjemahnya: Dan mereka (orang-orang musyrik Mekah) berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu mu` jizat dari Tuhannya? "Katakanlah:" Sesungguhnya Allah kuasa menurunkan suatu mu `jizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui". Juga dalam QS. al-Qamar (54): 42 Terjemahnya: Mereka mendustakan mu'jizat-mu'jizat Kami semua, lalu Kami siksa mereka sebagai azab dari yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa. Dengan demikian, M. Quraish Shihab menyimpulkan bahwa قادر dan مقتدر adalah sifat-sifat Allah Yang Maha Kuasa itu, tetapi kodrat dan kekuasaan yang ditunjuk oleh sifat ini lebih banyak ditujukan kepada para pembangkang dan yang tidak beriman, sebagai ancaman atau siksa kepada mereka. [6] Setelah menelusuri makna atau pengertian qadar, maka dapat disimpulkan bahwa qadr adalah salah satu sifat Allah Swt, yang berarti kekuasaan atas mengatur sesuatu, apakah ketetapan itu mulia, sempit dan lapang. Dapat pula disimpulkan bahwa qadar Tuhan mengatur dalam bentuk berpasangan yakni ada yang lapang ada pula yang sempit, ada yang mulia dan ada yang terhina, dan ada yang baik ada pula yang buruk. Olehnya itu, M. Quraish Shihab mengatakan, "Manusia tidak dapat luput dari takdir, yang baik maupun buruk". [7] Muncul pertanyaan, mengapa pengertian istilah qadar dan takdir berbeda?. Pertanyaan ini dijawab oleh Bahasa bahwa semua kata yang memiliki tambahan, apakah itu huruf atau tanda-tanda maknanya juga bertambah. Oleh karena itu, selain M. Quraish Shihab yang memberikan pengertian takdir seperti pada, Wahbah Zuhaili pun menambahkan pengertiannya: التقدير هو جعل الاشياء على مقادر مخصوصة [8] (Takdir adalah segala sesuatu itu telah diberikan kepadanya oleh Allah Swt, takdir, qadar, ukuran dan batas yang spesial). Al-Raqib al-Asfahani (w. 425 H), mengatakan bahwa takdir Allah memiliki dua konten makna, hukum dan memberikan kuadrat. Ketika Allah Swt, berfirman "قد جعل الله لكل شيئ قدر" (Allah telah menjadikan ukuran atau batas ke sesuatu, maka itu dimaksudkan adalah hukum). Setelah ditelusuri dan diklasifikasikan makna qadar dan takdir, akhirnya dapat diartikan pengertian sebagai berikut: Kata qadar melahirkan kata qaddara yang keduanya mempunyaimakna di satu sisi adalah makna yang sama dan disisi lain makna yang berbeda, namun makna tersebut saling terkait dan melengkapi. Kata qadar yang berbentuk isim mashdar menunjukkan sebuah makna konteks yang konten artinya adalah aturan-aturan atau hukum. Allah Swt, berfirman: قد جعل لكل شيئ قدر (Allah telah menjadikan kepada setiap sesuatu aturan). Kata qadar dan takdir di atas telah dimaknakan qadar, ukuran, batas, sehingga penulis berkesimpulan bahwa semua itu adalah aturan dan hukum Allah Swt. Bila qadar yang telah ditetapkan berani melampaui batas, ukuran dan qadar yang telah ditetapkan oleh Allah, maka akan mendapatkan tambahan dan sanksi dari Allah yang juga merupakan takdir Allah Swt. Kata takdir yang akar katanya kaddara menunjukkan sebuah makna konteks yang konten maknanya mengatur dan menentukan. Allah Swt, misalnya menyatakan dalam QS. Yunus 10: 5; Terjemahnya: Dia yang membuat matahari bercahaya dan bulan bersinar lalu Dia mengatur manazil-manazil ... .. Kata قدير dalam al-Qur'an berulang sebanyak 45 kali. Hal ini menunjukkan sebuah arti yang sangat dalam, yakni Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sementara kata قدر berulang sebanyak 11 kali dan kata مقدار berulang sebanyak 3 kali, yang kedua kata tersebut mengartikan ukuran. Jika kata pada diurut maka yang didahulukan dari urutan tersebut adalah kata قدر, تقدير, قدير dan قدر / مقدار maksudnya adalah Allah kekuasaan mengatur / menetapkan memberi qadar tertentu untuk aturan dan ukuran, batas-batas pada makhlukNya. [9] 2. Pengertian Sunnatullah Sunnatullah dapat berarti sebagai hukum-hukum Allah, Hukum keagamaan yang ditetapkan oleh Allah yang termaktub di dalam Alqur'an, dan hukum kejadian alam yang berjalan secara tetap dan otomatis. Dalam pengertian inilah sehingga fenomena-fenomena alam yang terjadi pada dasarnya adalah sunnatullah, agar alam semesta ini tetap stabil. Gempa bumi, letusan gunung merapi dan lain-lain. Hanya saja mungkin pada saat itu Allah benar-benar turun tangan agar mausia tidak sombong dan lalai. Contoh pada kasus kejadian di Aceh, mungkin yang terjadi pada saat itu bukan hanya semata-mata fenomena alam biasa, akan tetapi mungkin Allah memberikan teguran secara langsung. Dalam kehidupan di dunia ini tidak bisa lepas dari aturan-aturan (ketentuan) tersebut. Namun upaya dan jalan yang akan dilalui, tidak bertindak semena-mena dan sesuai keinginan kita, karena hal itu melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan ketentuan. Namun terkadang dalam beberapa hal, Allah benar-benar mengambil alih dan menyentil kehidupan kita dengan caranya yang tidak diketahui. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam raya ini, dan sisi kejadiaannya dalam penilaian atau ukuran tertentu, di tempat dan waktu tertentu, itulah yang disebut takdir. Tidak ada sesuatu yang terjadi tampa takdir, termasuk menusia. Peristiwa-peristiwa tersebut berada dalam pengetahuan dan ketentuan Tuhan, yang keduanya menurut sementara ulama dapat disimpulkan dalam istilah sunnatullah, atau yang sering secara salah kaprah disebut hukum-hukum alam. Dalam konteks inilah dapat dimaknai bahwa Sunnatullah pada satu sisi mengandung pengertian sama dengan takdir yaitu suatu ketentuan dan ketetapan Allah Swt. Namun Penulis tidak sepenuhnya cenderung mempersamakan Sunnatullah dengan takdir. Karena Sunnatullah yang digunakan oleh Alqur'an adalah untuk hukum-hukum kemasyarakatan dan hukum-hukum alam. Dalam Alqur'an "Sunnatullah" terulang sebanyak 8 (delapan) kali, "sunnatina" sekali, "Sunnatul Awwalin", terualng tiga kali, semuanya mengacu kepada hukum-hukum Tuhan yang terjadi pada masyarakat. Lihat mislanya dalam Alqur'an Surat Al-Ahzab ayat 38 dan 62, Terjemahannya: Allah telah mengatur yang demikian sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti terjadi, Terjemahnya: Sebagai sunnah Allah yang terjadi pada orang-orang yang telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada sunnah Allah. atau Surat Fathir ayat 43, Terjemahnya: Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah terjadi) pada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu. dan Ghafir ayat 40 dan 85. Terjemahnya: Itulah sunnah Allah yang telah terjadi terhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir. Manusia memiliki kemampuan terbatas sesuai dengan ukuran yang diberikan oleh Allah kepadanya. Makhluk ini misalnya, tidak dapat terbang. Ini merupakan salah satu ukuran atau batas kemampuan yang dianugerahkan Allah kepadanya. Ia tidak mampu melampuinya kecuali jika ia menggunakan akalnya untuk menciptakan satu alat, namun akalnya pun memiliki ukuran yang tidak mampu melampaui. Disisi lain manusia berada dibawah hukum-hukum Allah sehingga segala yang dilakukan pun tidak terlepas dari hukum-hukum yang telah memiliki nilai dan ukuran tertentu. Hanya saja karena hukum-hukum tersebut cukup banyak, dan kita diberi kemampuan memilih tidak sebagaimana matahari dan bulan misalnya, maka kita dapat memilih yang mana di antara takdir yang ditetapkan Tuhan terhadap alam yang kita pilih. Api diatur Tuhan panas dan membakar, angin dapat menimbulkan kesejukan atau dingin, itu takdir atau sunnatullah, manusia bisa memilih api yang membakar atau angin yang dingin. Disinilah pentingnya pengetahuan dan perlunya ilham atau petunjuk Ilahi. 9 B. Qadr / Takdir Tidak Berubah dan Berubah Untuk mengetahui sebuah qadar / takdir yang tidak berubah dan yang berubah, maka dalam makalah ini dikaji dua term dalam al-Qur'an yaitu, قدر ber-tasydid dan قدر dan tidak ber-tasydid. Term قدر, يقدر, تقدير dalam al-Qur'an berulang sebanyak 13 kali, yang pengertiannya adalah memberi qadar, ukuran dan batas-batas tertentu atau mengatur dan menentukan. Konteks term قدر ditujukan kepada alam raya, seperti matahari, bulan dan gunung, serta ditujukan pula kepada alam manusia. Itulah sebabnya, Al-Raqib al-Asfahani berpendapat bahwa takdir Allah Swt, itu ada dua macam,: (1.) Takdir Allah kepada sesuatu (alam raya / kosmos) yang sejak awal penciptaannya tidak pernah berubah dan tertunda kecuali yang menciptakannya berkehendak atau merubah, menunda atau menggantinya. (2). takdir Tuhan, yang maksudnya adalah memberi qadar, ukuran, batas-batas dan kekuatan. Takdir irasional. Takdir Allah yang satu adalah takdir yang irasional (tidak dapat berubah) oleh siapa pun kecuali Allah Swt. Bagaimana pun usaha manusia, baik usaha fisik maupun usaha doa, tidak akan berubah sedikit pun. Lihat, misalnya QS. al-Muzammil (73): 20 Terjemahnya: ... .. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang, Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu .... Juga dalam QS. Yunus (10): 5 Terjemahnya: Dia lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkannya tempat-tempat poros perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Kedua ayat di atas tidak menggunakan إسم الضمير "نا" (kata ganti "na"), yang menandakan bahwa perputaran takdirnya tidak ada intervensi manusia, semata-mata Allah yang menentukannya. Lain halnya takdir rasional, Tuhan menggunakan kata ganti نحن atau نا yang menunjukkan adanya partisipasi manusia. Takdir Rasional Takdir Allah yang kedua ini adalah takdir yang rasional. Takdir tersebut adalah takdir yang ditujukan kepada alam manusia, termasuk takdir kematian dan rezeki. Term takdir yang rasional adalah ditujukan pada takdir kematian. Lihat, misalnya QS. al-Waqi'ah (56): 60 Terjemahnya: Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan. Kalimat نحن قدرنا merupakan kalimat yang tersusun dari subjek dan predikat. Di dalam ilmu Balaghah dikatakan bahwa kalimat yang terdiri dari subyek dan predikat mengandung beri Kata نحن adalah isim dhamir (kata ganti) yang mengandung arti jama '(banyak). Muncul pertanyaan, apakah ada selain Allah Swt, yang dapat memberikan batas, qadar kehidupan makhluk, khususnya manusia?. Sebelum di jawab pertanyaan tersebut, terlebih dahulu penulis menguraikan kalimat yang ada sebelum kalimat نحن قدرنا, yaitu kalimat نحن خلقناكم. Dalam kalimat tersebut, Tuhan menggunakan pula isim dhamir نحن yang menunjukkan jama '(banyak). Dalam Tafsir fi Zilalil Qur'an, pengarangnya berpendapat bahwa hal itu tidak terlepas dari intervensi manusia. [10] Karena sebelum diproses penciptaan manusia dalam rahim, terdapat proses pertama yaitu mempertemukan air mani dengan ovum. Itu proses yang dilakukan oleh manusia. Maka dhamir نجن pada kalimat نحن قدرنا menunjukkan adanya pula partisipasi manusia dalam mempercepat dan menunda tiba di "terminal mati" atau takdir mati. Kata قدرنا adalah kata kerja lampau. Kata tersebut ditafsirkan oleh Ibnu Katsir صرفنا (Kami telah merubah), [11] maksudnya adalah ada dipercepat dan ada ditunda, yang sesuai dengan proses sikap manusia. Atas dasar itu, Tuhan mengatur dan mentakdirkan sesuai dengan sikap tersebut Tuhan menggunakan kata kerja yang menunjukkan pengertian dinamis, sehingga kendati Tuhan mengatakan, "Kami telah mengatur", akan tetapi tidak menutup kemungkinan Tuhan akan melonggarkan atau mengatur suatu ketetapan yang lain selain ketetapan awal. Sama halnya kalau dikatakan قد اكلنا (kami telah makan), pasti (cepat atau lambat) akan makan lagi. Kata الموت posisinya dalam I'rab sebagai maf'ulumbih. Di dalam al-Qur'an ternyata hidup dan mati itu adalah makhluk. Lihat, misalnya, QS al-Mulk (67): 2 الذي خلق الموت والحياة (Dia yang menciptakan mati dan hidup ... ..). Berdasarkan ayat tersebut, penulis berkesimpulan bahwa kematian ini ibaratnya sebuah terminal, yang setiap makhluk khususnya manusia, dari perjalanan hidupnya yang panjang harus mendatanginya dan singgah. Oleh karena itu, Allah mengisyaratkan tentang hal itu, كل نفس ذائقة الموت (setiap yang bernyawa akan singgah di terminal tersebut untuk merasakannya). Kata قدر, يقدر (tanpa tasydid), menurut M. Quraish Shihab, mempunyai tiga makna, yaitu mulia, sempit dan mengatur. [12] Makna yang cocok digunakan dalam konteks ayat يبسط الرزق لمن يشاء ويقدر ... (Allah melapangkan rezeki kepada orang berkeinginan dan menyempit-kannya) adalah sempit. Di dalam ayat di atas, disamping Tuhan menyebutkan kata يقدر juga menyebutkan kata يبسط sehingga penulis berkesimpulan bahwa terminal-terminal terakhir untuk makhluk yang diciptakan oleh Allah itu berpasang-pasangan, seperti lapang dan sempit, hidup dan mati, kaya dan miskin, dan sebagainya. Itulah hikmahnya Tuhan menciptakan "komputer canggih" dalam diri manusia, yakni otak untuk berpikir dalam segala hal, diantaranya seseorang ingin hidup sejahtera atau mati, ia harus menempuh koridor yang dapat membuat hidup sejahtera dan menempuh koridor yang dapat mematikan. Serta ingin kaya atau miskin, ia sebaiknya bekerja keras atau menempuh rel-rel yang dapat membuat dan mengantar sampai di menempu jalan yang menjadikan miskin, pasti Tuhan memberikan karena ada ayat yang mengisyaratkan manusia harus menentukan sikap lebih awal kemudian Tuhan akan membalas sikap tersebut. Lihat, misalnya QS. al-Baqarah (2): 152 فاذكروني أذكركم واشكروا لي ولا تكفرون (ingatlah Aku yakin Aku mengingat kalian) juga dalam firman-Nya dalam QS. Al-Raad (13): 11 إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم Allah tidak akan merubah suatu kaum sehingga mereka merubah dirinya sendiri) C. Urgensi al-qadr dalam al-Qur'an. Takdir merupakan suatu kajian yang sering diperdebatkan, baik oleh cemdikiawan maupun oleh masyarakat biasa. Permasalahan yang sering diperbincangkan adalah apakah takdir dapat dipercepat atau ditunda, bahkan ada yang menanyakan apakah dapat dirubah oleh makhluk, khususnya makhluk manusia. Ketika di syam (Syria, Palestina, dan sekitarnya) terjadi wabah, Umar ibn Al-Khatthab yang ketika itu berarti berkunjung ke sana membatalkan rencana beliau, dan ketika itu tampil seorang bertanya: "Apakah Anda lari / menghindar dari Takdir Tuhan"?. Umar, ra. Menjawab: "Saya lari / menghindar dari Takdir Tuhan kepada takdir-Nya yang lain". Demikian juga ketika Imam Ali ra sedang duduk bersandar di suatu tembok yang ternyata rapuh. Beliau pindah ke tempat lain. Beberapa orang disekelilingnya bertanya seperti pertanyaan di atas. Jawaban Ali bin Thalib, sama intinya dengan jawaban Khalifah Umar, ra Rubuhnya tembol, berjangkitnya penyakit adalah berdasarkan hokum-hukum yang telah ditetapkan-Nya, dan bila seseorang tidak menghindar ia akan menerima akibatnya. Akibat yang menimpahnya itu juga adalah takdir, tetapi bila ia menghindar dan luput dari marabahaya maka itu pun takdir. Bukankah Tuhan telah menganugerahkan manusia kemampuan memilah dan memilih?. Kemampuan ini pun antara lain merupakan ketetapan atau takdir yang di anugerahkan-Nya. Jika demikian, manusia tidak dapat luput dari takdir, yang baik maupun yang buruk. Tidak bijaksana jika hanya yang merugikan saja yang disebut Takdir, karena yang positif pun juga adalah takdir [13]. Namun di antara ulama ada yang mengatakan bahwa hal itu tidak perlu diperbincangkan, karena takdir itu bukan rukun iman. Yang mengatakan demikian itu berpatokan pada ayat yang menyebutkan rentetan rukun iman. Di dalam string tersebut, iman kepada qadr atau takdir tidak disebutkan. Nah, untuk apa diperbincangkan. Permasalahan ini menurut penulis tetap urgen meskipun tidak disebut sebagai rukun iman, karena di ayat lain ada pembahasan tentang qadr atau takdir. Pembahasan takdir dalam ayat al-Qur'an ada pada konteks alam kosmos dan alam manusia seperti kematian dan rezeki. Takdir masih ada pada konteks-konteks lain, namun penulis hanya menyebutkan dua, sebab itulah yang lumrah diperbincangkan. Takdir kematian memiliki peran yang sangat besar dalam memantapkan akidah dan menumbuh kembangkan semangat pengabdian. Dalam masalah akidah, Tuhan mengatakan وما نحن بمسبقين (Tidak ada yang dapat mendahului atau menandingi dalam penetapan waktu tibanya), yang mendorong manusia memiliki keyakinan yang mantap, sehingga dalam proses menuju ke "terminal terakhir" itu merupakan suatu wujud pengabdian kepada Allah Swt. Demikian pula dalam konteks takdir rezeki, Tuhan menggunakan dua istilah yaitu يقدر dan يبسط, yang menandakan bahwa ada dua terminal yang ditetapkan atau dibuatkan oleh Allah untuk kedatangan manusia, yakni lapang dan sempit. Hanya manusia yang memilih mana yang akan didatangi. Namun fakta menunjukkan bahwa masa lalu dan masa depan sudah tercipta dalam pandangan Allah dan bahwa segalanya telah terjadi dan hadir dalam pandangan Allah, setiap manusia sepenuhnya tunduk pada takdirnya. Manusia tidak dapat mengubah masa lalunya dan masa depannya. Meskipun demikian Allah memberikan kepada setiap manusia satu perasaan bahwa dia dapat mengubah hal-hal dan membuat pilihan dan keputusannya sendiri. Sebagai konsekwensinya, manusia berserah diri dengan sukarela kepada Allah SWT, ia hanya berusaha dan berharap untuk mendapatkan keridhaan dan rahmat-Nya Setelah penulis menguraikan masalah al-qadr atau takdir dan Sunnatullah maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Pengertian Takdir dan sunnatullah dapat dimaknakan dengan arti yang sama, yakni ketentuan dan ketetapan. Selain makna tersebut diartikan sesuai konteks kata tersebut (al-qadr dan takdir), seperti qadr diartikan sempit, mulia dan takdir diartikan الصرف (bervariasi), terbagi-bagi dan sebagainya. Takdir mati dan rezeki ibaratnya sebuah terminal yang harus didatangi oleh makhluk. Untuk sampai ke terminal tersebut, manusia yang berperan penting dalam proses apakah mau lambat atau cepat tiba. Takdir kematian atau rezeki memiliki peranan penting dalam memantapkan akidah dan menumbuhkembangkan semangat pengabdian. Meski bagaimana pun manusia harus yakin terhadap adanya ketetapan Allah Swt, sebelum sampai pada ketetapan tersebut manusia harus aktif dan berpartisipasi. Keaktifan dan partisipasi merupakan wujud ibadah kepada Allah Swt. Tunduk kepada takdirnya yang diciptakan Allah, merupakan hal yang terbaik untuk memahami tujuan dari kejadian-kejadian sehingga dapat mengambil langkah-langkah penjagaan dan berusaha untuk menjadi lebih baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar